Anda di halaman 1dari 41

PROPOSAL PENELITIAN

EFEKTIVITAS PELAKSANAAN AMDAL


SEBAGAI INSTRUMEN PENGELOLAAN LINGKUNGAN
DI PROVINSI SULAWESI SELATAN

OLEH
SAFRI ARIF
P0303212004

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016
BAB I

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dapat

dilihat dengan meningkatnya pendirian Rumah Sakit (RS). Sebagai akibat

kualitas efluen limbah rumah sakit yang tidak memenuhi syarat

menyebabkan limbah rumah sakit dapat mencemari lingkungan penduduk

disekitar rumah sakit dan menimbulkan masalah kesehatan, hal ini

dikarenakan dalam limbah rumah sakit dapat mengandung berbagai jasad

renik penyebab penyakit pada manusia termasuk demam thypoid, cholera,

disentri dan hepatitis sehingga limbah harus diolah sebelum di buang ke

lingkungan (Bapedal, 1999).

Dimulai dengan makin meningkatnya pendirian rumah sakit,

kehidupan masyarakat yang tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya,

serta kurangnya kepedulian manajemen rumah sakit terhadap

pengelolaan lingkungan, mulailah timbul tumpukan sampah ataupun

limbah yang dibuang tidak sebgaimana semestinya. Hal ini berakibat pada

kehidupan manusia dibumi yang menjadi tidak sehat sehingga

menurunkan kualitas kehidupan terutama pada lingkungan sekitarnya.

Limbah rumah sakit adalah semua limbah yang dihasilkan oleh

kegiatan rumah sakit dan kegiatan penunjang lainnya. Mengingat dampak

yang mungkin timbul, maka diperlukan upaya pengelolaan yang baik,


meliputi pengelolaan sumber daya manusia, alat dan sarana, keuangan

dan tatalaksana perorganisasian yang ditetapkan dengan tujuan

memperoleh kondisi rumah sakit yang memenuhi persyaratan kesehatan

lingkungan. Limbah rumah sakit bisa mengandung bermacam-macam

mikroorganisme bergantung pada jenis rumah sakit, tingkat pengolahan

sebelum dibuang.Limbah cair rumah sakit dapat mengandung bahan

organic dan anorganik yang umumnya diukur dan parameter BOD, COD,

TSS dan lain-lain. Sedangkan limbah padat rumah sakit terdiri atas

sampah mudah membusuk, sampah mudah terbakar dan lain-lain.Limbah-

limbah tersebut kemungkinan besar mengandung mikroorganisme

pathogen atau bahan kimia beracun berbahaya yang menyebabkan

penyakit infeksi dan dapat tersebar ke lingkungan rumah sakit yang

disebabkan oleh teknik pelayanan kesehatan yang kurang memadai,

kesalahan penanganan bahan-bahan terkontaminasi dan peralatan, serta

penyediaan dan pemeliharaan sarana sanitasi yang masih buruk (Said,

1999).

Berdasarkan hal-hal di atas, maka untuk melihat bagaimana peran

instansi pemerintah dan pemrakarsa dalam pelaksanaan AMDAL di

Provinsi Sulawesi Selatan, perlu dilakukan penelitian yang akan

menggambarkan tentang EFEKTIFITAS AMDAL SEBAGAI INSTRUMEN

PENGELOLAAN LINGKUNGAN DI PROVINSI SULAWESI SELATAN.


B. Rumusan Masalah

Dalam pelaksanaan penelitian tersebut, telah dirumuskan masalah

pokok yaitu:

1. Bagaimanakah implementasi AMDAL di suatu perusahaan yang telah

memiliki dokumen lingkungan di Sulawesi Selatan?

2. Bagaimanakah keterlibatan masyarakat di sekitar perusahaan dalam

pengelolaan dan pemantauan lingkungan?

3. Bagaimanakah pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah

Sulawesi Selatan dalam pelaksanaan AMDAL di suatu perusahaan?

4. Bagaimanakah efektivitas pelaksanaan AMDAL sebagai instrumen

lingkungan di suatu perusahaan?

C. Tujuan Penelitian

Berkaitan dengan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini

dilakukan dengan tujuan :

1. Mengidentifikasi dan mengevaluasi pelaksanaan AMDAL bagi

perusahaan yang telah memiliki dokumen lingkungan.

2. Mengidentifikasi dan mengevaluai keterlibatan masyarakat dalam

mendukung pengelolaan lingkungan.

3. Mengidentifikasi dan mengevaluasi pelaksanaan pengawasan oleh

pemerintah daerah dalam evaluasi pelaksanaan pengelolaan

lingkungan di perusahaan.
4. Mengetahui efektivitas pelaksanaan AMDAL sebagai instrumen

pengelolaan lingkungan.

5. Mengajukan usulan (rekomendasi) perbaikan pengelolaan dan

pemantauan lingkungan di suatu perusahaan.

D. Kegunaan Penelitian

1. Diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pemerintah

(pusat/propinsi dan kabupaten/kota) sehingga AMDAL dapat

difungsikan dalam mengendalikan pencemaran dan kerusakan

lingkungan akibat pelaksanaan pembangunan.

2. Sebagai bahan/sumber informasi dan umpan balik bagi pihak-pihak

yang berkepentingan terutama pengambil keputusan atau pembuat

kebijakan di lembaga pengelola lingkungan hidup baik yang ada di

pusat, propinsi maupun yang ada di kabupaten/kota).


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kebijakan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 yang dimaksud dengan

Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya,

keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang

mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan

kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.

Permasalahan lingkungan hidup pada dasarnya timbul karena

dinamika penduduk, pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya yang

kurang bijaksana serta kurang terkendalinya pemanfaatan akan ilmu

pengetahuan dan teknologi maju. Dampak negatif yang sering timbul dari

kemajuan ekonomi yang seharusnya positif dan memberikan manfaat

yang besar terhadap manusia seringkali terjadi sebaliknya, manusia

menjadi korban akibat dampak yang ditimbulkan dari aktivitas ekonomi

yang dilakukan. Pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup merupakan

dua permasalahan yang paling banyak timbul. Sebagai dampak dari

kegiatan ekonomi dan pembangunan (Yetti, 2008).

Hubungan timbal balik antara aspek ekonomi dan sumber daya

alam dan lingkungan kemudian menjadi sangat penting. Ekstraksi

terhadap sumberdaya alam yang dilakukan manusia dalam rangka

pemenuhan kebutuhan akan menghasilkan benefit dan limbah. Aktivitas


manusia secara langsung maupun tidak langsung telah dan akan

memberikan dampak terhadap resistensi sumberdaya alam dan

lingkungan.

Agar upaya pelestarian lingkungan berjalan secara efektif dan

efisien serta berkelanjutan, dibutuhkan kebijakan untuk mewujudkan hal

tersebut. Dalam skenario politik ekonomi yang rumit saat ini, amatlah

penting untuk menetapkan kebijakan lingkungan dan sosial yang kuat

disemua tingkatan. Demikian juga penegakan hukum harus berjalan

secara efektif agar pelestarian keanekaragaman hayati dapat berjalan

dengan baik.

Berdasarkan amanat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor

25 tahun 2004 tentang sistem perencanaan pembangunan nasional

mendefinisikan kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh

Pemerintah Pusat/Daerah untuk mencapai tujuan.

Kebijakan dikatakan efektif apabila penerapan kebijakan dan

instrumennya dapat menghasilkan perubahan sesuai dengan tujuan yang

ditetapkan. Sedangkan dikatakan efisien jika kebijakan tersebut

membutuhkan biaya yang rendah. Tahapan kebijakan terdiri dari fase

formulasi kebijakan dan fase implementasi kebijkan, sedangkan analisis

kebijakan aktivitas menciptakan pengetahuan tentang proses pembuatan

kebijakan (Clay dan Shaffer (1984) dalam Sanim (2003), Yetti (2008)).

Salah satu tindakan pemerintah dalam analisis kebijakan

lingkungan adalah dengan menerapkan analisis mengenai dampak


lingkungan dalam setiap pelaksanaan usaha atau kegiatan terhadap

lingkungan hidup.

B. Pembangunan Berkelanjutan dan Berwawasan Lingkungan

Pengkajian pengelolaan sumberdaya alam merupakan suatu hal

yang sangat penting dilakukan dalam rangka pelaksanaan pembangunan

nasional kita. Dengan potensi sumberdaya alam yang berlimpah

sesungguhnya kita dapat melaksanakan proses pembangunan bangsa ini

secara berkelanjutan tanpa harus dibayangi rasa cemas dan takut akan

kekurangan modal bagi pelaksanaan pembangunan tersebut.

Pemanfaatan secara optimal kekayaan sumberdaya alam ini mampu

membawa kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh bangsa indonesia

(Yetti, 2008).

Berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009

Pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang

memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam

strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta

keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa

kini dan generasi masa depan.

Gagasan pembangunan berkelanjutan dikenal juga dengan

pembangunan berwawasan lingkungan, secara bertahap mulai

dimasukkkan dalam kebijakan perencanaan dan pembangunan nasional.

Hal tersebut mulai terdapat dalam Undang Undang Nomor 4 Tahun

1982 tentang Ketentuan Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan


Hidup yang selanjutnya direvisi hingga saat ini yaitu Undang Undang

Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan

Hidup, serta didukung dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan.

Lebih lanjut Tias (2009) menyatakan pembangunan berwawasan

lingkungan mengandung pengertian bahwa upaya peningkatan

kesejahteraan dan mutu hidup rakyat dilakukan sekaligus dengan

melestarikan kemampuan lingkungan agar dapat tetap menunjang

pembangunan secara berkesinambungan. Hal ini berarti bahwa

pelaksanaan suatu kegiatan wajib diikuti dengan upaya mencegah dan

menanggulangi pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup.

Soemarwoto (2007) mendefinisikan pembangunan yang

berwawasan lingkungan pada hakekatnya merupakan permasalahan

ekologi, khususnya ekologi pembangunan, yaitu interaksi antara

pembangunan dan lingkungan.

C. Peraturan Perundangan yang Terkait Mengenai AMDAL

AMDAL di Indonesia diberlakukan berdasarkan Peraturan

Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 1993 (sebelumnya PP

29 tahun 1986) sebagai realisasi pelaksanaan UU Nomor 4 tahun 1982

tentang Lingkungan Hidup yang saat ini telah direvisi menjadi UU Nomor

32 Tahun 2009. AMDAL merupakan instrumen pengelolaan lingkungan

yang diharapkan dapat mencegah kerusakan lingkungan dan menjamin

upaya-upaya konservasi. Hasil studi AMDAL merupakan bagian penting


dari perencanaan pembangunan proyek itu sendiri. Sebagai instrumen

pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif, AMDAL harus dibuat pada

tahap paling dini dalam perencanaan kegiatan pembangunan, dengan

kata lain, proses penyusunan dan pengesahan AMDAL harus merupakan

bagian dari proses perijinan satu proyek. Dengan cara ini proyek-proyek

dapat disaring seberapa jauh dampaknya terhadap lingkungan. Di sisi lain

studi AMDAL juga dapat memberi masukan bagi upaya-upaya untuk

meningkatkan dampak positif dari proyek tersebut.

Adapun peraturan perundangan yang berhubungan dengan

pengelolaan lingkungan hidup yang saat ini diberlakukan di Indonesia

antara lain :

1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan

Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang berisi

Pasal 1 ayat 2 : Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup

adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk

melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya

pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi

perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan,

pengawasan, dan penegakan hukum.

Pasal 1 ayat 11 : Analisis mengenai dampak lingkungan hidup,

yang selanjutnya disebut Amdal, adalah kajian mengenai dampak

penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada


lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan

keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.

2. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan.

Secara garis besar berisi tentang :

Pasal 1 ayat 1 : Izin Lingkungan adalah izin yang diberikan kepada

setiap orang yang melakukan Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib

Amdal atau UKL-UPL dalam rangka perlindungan dan pengelolaan

lingkungan hidup sebagai prasyarat memperoleh izin Usaha

dan/atau Kegiatan.

Pasal 1 ayat 13 : Izin Usaha dan/atau Kegiatan adalah izin yang

diterbitkan oleh instansi teknis untuk melakukan Usaha dan/atau

Kegiatan.

Pasal 2 ayat 1 : Setiap Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib

memiliki Amdal atau UKL-UPL wajib memiliki Izin Lingkungan.

Pasal 42 ayat 1 : Permohonan Izin Lingkungan diajukan secara

tertulis oleh penanggungjawab Usaha dan/atau Kegiatan selaku

Pemrakarsa kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai

dengan kewenangannya.

3. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan

Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran, yang berisi tentang

penetapan baku mutu air pada sumber air berdasarkan peruntukannya

dan memperhatikan kondisi nyata kualitas airnya.


4. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian

Pencemaran Udara, berisi tentang pencegahan dan penanggulangan

pencemaran, serta pemulihan mutu udara dengan melakukan

inventarisasi mutu udara ambien, pencegahan sumber pencemar, baik

dari sumber bergerak maupun sumber tidak bergerak termasuk

sumber gangguan serta penanggulangan keadaan darurat.

5. Peraturan Pemerintah Nomor 85 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas

Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan

Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, yang berisi tentang daftar

limbah B3 berdasarkan karakteristik dan toksisitasnya.

6. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun 2012 tentang

Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Memiliki AMDAL,

antara lain berisi tentang :

Pasal 1 ayat 2 : Usaha dan/atau Kegiatan adalah segala bentuk

aktivitas yang dapat menimbulkan perubahan terhadap rona

lingkungan hidup serta menyebabkan dampak terhadap lingkungan

hidup.

Pasal 2 ayat 1 dan 2 : (1) Setiap Usaha dan/atau Kegiatan yang

berdampak penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki

Amdal. (2) Jenis rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib

memiliki Amdal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum

dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari

Peraturan Menteri ini.


7. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 08 Tahun 2013 Tentang

Tata Laksana Penilaian dan Pemeriksaan Dokumen Lingkungan Hidup

serta Penerbitan Izin Lingkungan

Pasal 1 ayat 11 : Instansi Lingkungan Hidup Provinsi adalah instansi

yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perlindungan

dan pengelolaan lingkungan hidup provinsi.

Pasal 14 ayat 1 : Berdasarkan hasil penilaian Andal dan RKL-RPL

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) huruf d sampai

dengan huruf g, Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai

kewenangannya menerbitkan: a. keputusan kelayakan lingkungan

hidup dan Izin Lingkungan, jika rencana usaha dan/atau kegiatan

dinyatakan layak lingkungan hidup; atau b. keputusan ketidaklayakan

lingkungan hidup, jika rencana usaha dan/atau kegiatan dinyatakan

tidak layak lingkungan hidup.

8. Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 69 Tahun 2010 tentang

Baku Mutu dan Kriteria Kerusakan Lingkungan Hidup. Secara garis

besar berisi tentang standar baku mutu yang ditetapkan berdasarkan

jenis kegiatan dan/atau Usaha.

D. Peraturan tentang AMDAL Berdasarkan Jenis Usaha Kegiatan

Dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No.11 Tahun 2006

tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi

dengan Analisis Dampak Lingkungan Hidup. Ada berbagai sektor usaha

dan/atau kegiatan yang wajib AMDAL, sedangkan sektor usaha dan/atau


kegiatan lain yang tidak termasuk dalam peraturan tersebut cukup

menyusun dokumen upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan

hidup (UKL-UPL) sesuai dengan Surat Edaran Kementerian Lingkungan

Hidup Nomor B-5362/Dep. I-1/LH/07/2010 perihal Penyampaian Daftar

Jenis Rencan Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib dilengkapi dengan

UKL-UPL.

Berbagai bidang usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi

dengan Dokumen AMDAL antara lain :

1. Bidang Pertahanan, jenis kegiatannya seperti pembangunan

pangkalan TNI AL, pangkalan TNI AU dan pembangunan pusat

latihan tempur

2. Bidang Pertanian, jenis kegiatannya seperti budidaya tanaman

pangan dan hortikultura serta budidaya tanaman perkebunan.

3. Bidang Perikanan, jenis kegiatannya seperti usaha budidaya

perikanan yang mengarah pada perubahan ekosistem perairan,

pantai, hidrologi, bentang alam, perubahan kualitas perairan dan

menggangu alur pelayaran.

4. Bidang Kehutanan, jenis kegiatannya seperti usaha pemanfaatan hasil

hutan.

5. Bidang Perhubungan, jenis kegiatannya yang berkaitan dengan

sarana transportasi perhubungan darat, laut dan udara.

6. Bidang Teknologi Satelit, jenis kegiataannya seperti pembangunan

fasilitas peluncuran satelit.


7. Bidang Perindustrian, jenis kegiatannya mulai dari industri semen,

industri pulp, industri petrokimia hulu, kawasan industri yang

terintegrasi, industri galangan kapal, industri amunisi dan bahan

peledak, serta kegiatan industri yang penggunaan arealnya dalam

skala urban ( 5 ha - 20 ha) dan skala pedesaan ( 30 ha).

8. Bidang Pekerjaan Umum, yang mempertimbangkan skala/besaran

kota yang menggunakan ketentuan berdasarkan jumlah populasi

penduduk di lokasi sekitar kegiatan dan/atau usaha.

9. Bidang Sumber Daya Energi dan Mineral, kegiatan dan/atau usaha

yang berkaitan dengan ekploitasi dan eksplorasi sumber daya mineral

bumi, listrik dan pemanfaatan energi.

10. Bidang Pariwisata

11. Bidang Pengembangan Nuklir

12. Bidang Pengelolaan Limbah B3

13. Bidang Rekayasa Genetika

Dalam penelitian ini, kegiatan dan/atau usaha yang akan dikaji yaitu

Bidang Multisektor yang terdiri atas Rumah Sakit Siloam Makassar dan

Rumah Sakit Awal Bros.

E. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL)

1) Definisi AMDAL

Secara formal konsep Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

(AMDAL) berasal dari undang-undang NEPA 1969 di Amerika Serikat.


Dalam undang-undang ini AMDAL dimaksudkan sebagai alat untuk

merencanakan tindakan preventif terhadap kerusakan lingkungan yang

mungkin akan ditimbulkan oleh suatu aktivitas pembangunan yang sedang

direncanakan (Soemarwoto, 2007).

Analisis mengenai dampak lingkungan hidup, yang selanjutnya

disebut Amdal, adalah kajian mengenai dampak penting suatu usaha

dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang

diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan

usaha dan/atau kegiatan (Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009).

AMDAL adalah hasil studi mengenai dampak suatu kegiatan yang

direncanakan terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses

pengambilan keputusan. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau

AMDAL dirumuskan sebagai suatu analisis mengenai dampak lingkungan

suatu proyek yang meliputi pekerjaan evaluasi dan pendugaan dampak

proyek dari pembangunannya (Suratmo, 2007).

Dampak dalam kaitannya dengan pembangunan memiliki dua

batasan yakni: 1) dampak pembangunan terhadap lingkungan yakni

perbedaan antara kondisi lingkungan sebelum ada pembangunan dan

setelah ada pembangunan, 2) Dampak pembangunan terhadap

lingkungan, yakni perbedaan antara kondisi lingkungan yang diperkirakan

terjadi tanpa adanya pembangunan dan diperkirakan terjadi tanpa adanya

pembangunan dan diperkirakan terjadi dengan adanya pembangunan

tersebut (Mun, 1979 dalam Sumarwoto, 2005). Dampak dapat bersifat


biofisik dan atau sosial-ekonomi-budaya yang memiliki pengaruh terhadap

sasaran yang ingin dicapai. Dampak primer dapat menimbulkan dampak

sekunder dan tersier.

Dampak Kegiatan Dampak

Pembangunan

Dampak Sosial- Dampak


Ekonomi- Dampak Biofisik Primer
Budaya

Dampak
Dampak Sosial-
Dampak Biofisik Sekunder
Ekonomi-Budaya

Kenaikan
Kesejahteraan

TUJUAN

Gambar 1. Aktivitas Pembangunan Menimbulkan Dampak


(Clark, 1978 dalam Suratmo (2007), Soemarwoto (2007))

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun

2009 yang dimaksud dengan dampak lingkungan hidup adalah pengaruh

perubahan pada lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu usaha

dan/atau kegiatan.

Untuk mengukur dan menentukan dampak besar dan penting

tersebut, digunakan beberapa kriteria yakni (a) besarnya jumlah manusia

yang akan terkena dampak rencana usaha dan atau kegiatan, (b) luas

wilayah penyebaran dampak, (c) intensitas dan lamanya dampak

berlangsung, (d) banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan


terkena dampak, (e) sifat kumulatif dampak, dan (f) sifat berbalik

(reversible) dan tidak berbalik (reversible) dampak.

2) Tujuan Penyusunan dan manfaat penyusunan

Tujuan umum AMDAL adalah menjaga dan meningkatkan kualitas

lingkungan serta menekan pencemaran sehingga dampak negatifnya

menjadi serendah mungkin. Sementara tujuan studi AMDAL adalah

mengidentifikasi rencana kegiatan yang diperkirakan menimbulkan

dampak penting, mengidentifikasi komponen atau parameter lingkungan

yang akan terkena dampak penting, melakukan perkiraan dan evaliuasi

dampak penting sebagai dasar untuk menilai kelayakan lingkungan,

menyususn strategi pengelolaan dan pemantauan lingkungan (Yetti,

2009). Menurut Mukono (2005) bahwa tujuan dan sasaran AMDAL adalah

untuk menjamin suatu usaha atau kegiatan pembangunan dapat berjalan

secara berkesinambungan taanpa merusak lingkungan hidup. Dengan

Melalui studi AMDAL diharapkan usaha dan/atau kegiatan pembangunan

dapat memanfaatkan dan mengelola sumberdaya alam secara efisien,

meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif

terhadap lingkungan hidup.

3) Kriteria Kegiatan Wajib Amdal

Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Amdal) ditetapkan

berdasarkan:
a. Potensi dampak penting

Potensi dampak penting bagi setiap jenis usaha dan/atau kegiatan

tersebut ditetapkan berdasarkan (1) besarnya jumlah penduduk yang

akan terkena dampak rencana usaha dan/atau kegiatan, (2) luas

wilayah penyebaran dampak, (3) intensitas dan lamanya dampak

berlangsung, (4) banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang

akan terkena dampak (5) sifat kumulatif dampak, (6) berbalik atau

tidak berbaliknya dampak; dan (7) kriteria lain sesuai dengan

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; dan/atau (8) referensi

internasional yang diterapkan oleh beberapa negara sebagai landasan

kebijakan tentang Amdal.

b. Ketidakpastian kemampuan teknologi yang tersedia untuk

menanggulangi dampak penting negatif yang akan timbul.

4) Prosedur Penyusunan

Proses pelaksanaan AMDAL terdiri atas: (a) penapisan (screening)

atau penentuan rencana kegiatan wajib AMDAL atau tidak, (b)

pelingkupan (scoping) adalah proses pemusatan studi pada hal-hal

penting yang berkaitan dengan dampak penting. Pelingkupan dampak

penting yakni identifikasi dampak penting, evaluasi dampak potensial dan

pemusatan dampak penting. Pelingkupan wilayah studi dengan

memperhatikan bats proyek, batas ekologi, batas sosial, dan batas

administratif.
Beberapa prosedur penyusunan dokumen Analisis Mengenai

Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) yaitu :

A. Kerangka Acuan

Kerangka Acuan merupakan ruang lingkup studi ANDAL yang

disepakati bersama antara semua pihak terkait yaitu pemrakarsa,

penyusun AMDAL, masyarakat maupun instansi pemerintah yang

bertanggung jawab mengenai kegiatan tersebut. Kerangka Acuan ini

menjadi pegangan bagi semua pihak, baik dalam penyusunan ANDAL

maupun evaluasi dokumen studi tersebut. Kerangka Acuan merupakan

hasil akhir dari proses pelingkupan yang memuat berbagai kegiatan

penting dari suatu rencana usaha atau kegiatan yang dapat menimbulkan

dampak besar dan penting terhadap lingkungan, berbagai parameter yang

akan terkena dampak tersebut, lingkup wilayah studi maupun lingkup

waktu.

B. Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL)

Dalam proses penyusunan ANDAL langkah-langkah penting yang

harus dilaksanakan oleh penyusun AMDAL yaitu :

a) Pengumpulan data dan informasi tentang rencana kegiatan dan rona

lingkungan awal. Data ini harus sesuai dengan yang tercantum dalam

Kerangka Acuan.

b) Proyeksi perubahan rona lingkungan awal sebagai akibat adanya

rencana kegiatan. Seperti diketahui, bahwa kondisi atau kualitas

lingkungan tanpa adanya proyek akan mengalami perubahan menurut


waktu dan ruang. Demikian juga kondisi atau kualitas lingkungan

tersebut akan mengalami perubahan yang lebih besar dengan adanya

aktivitas suatu kegiatan menurut ruang dan waktu. Perbedaan

besarnya perubahan antara dengan proyek dan tanpa proyek inilah

yang disebut dampak lingkungan.

c) Penentuan dampak penting terhadap lingkungan akibat rencana

kegiatan. Berdasarkan hasil perkiraan dampak yang dilakukan dari

dampak ke dua tersebut diatas, dapat diketahui berbagai dampak

penting yang perlu dievaluasi

d) Evaluasi dampak penting terhadap ingkungan. Dampak pentin

dievaluasi dari segi sebab akibat dampak tersebut terjadi, ciri dan

karakteristik dampaknya, maupun pola dan luas persebaran dampak.

Hasil evaluasi ini yang menjadi dasar penentuan langkah-langkah

pengelolaan dan pemantauan lingkungan nantinya.

C. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)

Pengelolaan lingkungan meliputi upaya pencegahan, pengendalian,

penanggulangan dan pemulihan kerusakan dan/atau pencemaran

lingkungan.

D. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)

Pemantauan lingkungan merupakan upaya sistematis dan

terencana untuk memperoleh data kondisi lingkungan hidup secara

periodik diruang tertentu berikut perubahannya menurut waktu. Dokumen


ini memuat rencana pemantauan terhadap berbagai komponen

lingkungan hidup yang sumber dampaknya telah dikelola.

Menurut Soeryo Adiwibowo (2000), pemantauan lingkungan harus

didesain sedemikian rupa agar memberikan masukan atau informasi

periodik mengenai hal-hal berikut:

a. Efektivitas upaya pencegahan dampak penting negatif

b. Perubahan efeisiensi usaha

c. Antisipasi sejak dini resiko lingkungan yang akan timbul

d. Efektivitas sistem manajemen yang dibangun

e. Mutu lingkungan

Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan yang diajukan


kepada instansi yang bertanggung jawab mengendalikan dampak
lingkungan untuk mendapat persetujuan, selanjutnya kerangka acuan ini
menjadi dasar penyusunan ANDAL dan RKL RPL yang kemudian
dipresentasikan di Komisi AMDAL.

F. Deskripsi Lokasi Kegiatan

1. Rumah Sakit Siloam Makassar


Rumah Sakit Siloam Makassar adalah rumah sakit swasta kelas B

dengan kapasitas 145 tempat tidur. Rumah sakit ini mampu memberikan

pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis terbatas. Rumah sakit ini

juga menampung pelayanan rujukan dari rumah sakit kabupaten.

a) Jumlah Dokter

Jumlah dokter yang bertugas di Rumah Sakit Siloam sebanyak 92

dokter, ketersedian dokter pada rumah sakit ini lebih banyak dibanding
rata-rata rumah sakit di Sulawesi Selatan. Dari 92 dokter di rumah sakit

ini, 69 adalah spesialis. Perincian dokter yang bertugas di Rumah Sakit

Siloam dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Perincian Dokter Rumah Sakit Siloam


Tipe Dokter Jumlah Orang
Dokter Umum 15 orang
Spesialis 69 orang
Spesialis Anak 5 orang
Spesialis Bedah 3 orang
Spesialis Anastesi 5 orang
Spesialis - Jantung & Pembuluh Darah 3 orang
Spesialis - Kesehatan Jiwa 1 orang
Spesialis - Kulit Kelamin 2 orang
Spesialis Mata 2 orang
Spesialis Obsgin 5 orang
Spesialis Ofthalmologi 2 orang
Spesialis Orthopedi 2 orang
Spesialis Paru 4 orang
Spesialis - Patologi Anatomi 1 orang
Spesialis - Penyakit Dalam 4 orang
Spesialis Psikiatri 1 orang
Spesialis Radiologi 5 orang
Spesialis - Rehabilitasi Medik 1 orang
Spesialis Syaraf 5 orang
Spesialis - Telinga Hidung dan 4 orang
Tenggorokan
Spesialis Urologi 2 orang
Dokter Gigi 2 orang
Spesialis Gigi 3 orang
Spesialis Gigi - Bedah Mulut 1 orang
Spesialis Gigi - Gigi Tiruan 1 orang
Spesialis Gigi Konservasi 1 orang
Dokter Bedah 3 orang
Dokter Bedah Orthopedi 2 orang
Dokter Bedah Syaraf 1 orang

Sedangkan tenaga pendukung di Rumah Sakit Siloam dapat dilihat


dengan perincian sebagai berikut.
Tabel 3. Tenaga Pendukung Rumah Sakit Siloam
Tipe Tenaga Dukung Jumlah Orang
Perawat 167 orang
Ners 139 orang
Perawat Gigi 3 orang
Perawat Maternitas 25 orang
Pegawai Khusus Terapi 2 orang
Terapi Okupasi 1 orang
Terapi Wicara 1 orang
Teknisi Medis 30 orang
Radiografer 8 orang
Analis Kesehatan 16 orang
Rekam Medik 3 orang
Teknisi Transfusi Darah 3 orang
Pegawai Khusus Kefarmasian 4 orang
Apoteker 4 orang
Pegawai Non Kesehatan 116 orang
Non-Kesehatan Lain 116 orang

b) Peralatan Rumah Sakit

Peralatan di Rumah Sakit Siloam dapat dinilai dengan 4 bidang, yaitu:

Peralatan Gawat Darurat: Ini termasuk persediaan ambulans, bank

darah, defibrilator dan ventilator

Peralatan Pencitraan Medis: Ini termasuk persediaan CT Scan, EEG,

EKG, X-Ray, dan MRI

Peralatan Bedah: Ini termasuk persediaan autoclave, meja operasi

dan mesin anestesi

Peralatan Bidan: Ini termasuk persidaan inkubator bayi dan USG

2. Rumah Sakit Awal Bros Makassar


RS Awal Bros Makassar adalah rumah sakit swasta kelas B.

Rumah sakit ini mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan

subspesialis terbatas. Rumah sakit ini juga menampung pelayanan


rujukan dari rumah sakit kabupaten. Rincian sarana dan Prasarana yang

tersedia di Rumah Sakit Awal Bros, sebagaiberikut:

Rumah Sakit ini tersedia 172 tempat tidur inap, lebih banyak

dibanding setiap rumah sakit di Sulawesi Selatan yang tersedia

rata-rata 93 tempat tidur inap.

Dengan 96 dokter, rumah sakit ini tersedia lebih banyak dibanding

rata-rata rumah sakit di Sulawesi Selatan.

Perlayanan Inap Termasuk Kelas Tinggi

67 dari 172 tempat tidur di rumah sakit ini berkelas VIP keatas.

Tabel X. Rincian Tipe Dokter Di Rumah Sakit Awal Bros Makassar


Tipe Dokter Jumlah Orang
Dokter Umum 18 orang
- Spesialis 62 orang
Spesialis - Anak 4 orang
Spesialis - Bedah 4 orang
Spesialis - Anastesi 4 orang
Spesialis - Jantung & 2 orang
Pembuluh Darah
Spesialis - Kesehatan Jiwa 1 orang
Spesialis - Kulit Kelamin 2 orang
Spesialis - Mata 2 orang
Spesialis - Obsgin 8 orang
Spesialis - Orthopedi 3 orang
Spesialis - Paru 2 orang
Spesialis - Patologi Anatomi 2 orang
Spesialis - Penyakit Dalam 5 orang
Spesialis - Radiologi 4 orang
Spesialis - Rehabilitasi 1 orang
Medik
Spesialis - Syaraf 5 orang
Spesialis - Telinga Hidung 4 orang
dan Tenggorokan
Spesialis - Urologi 2 orang
Dokter Gigi 11 orang
- Spesialis Gigi 2 orang
Spesialis Gigi - Bedah Mulut 2 orang
- Dokter Bedah 3 orang
Dokter Bedah - Syaraf 3 orang

Sedangkan tenaga pendukung di Rumah Awal Bros dapat dilihat


dengan perincian sebagai berikut.

Tabel x. Perincian Tipe Tenaga Pendukung Di Rumah Sakit Awal Bros


Makassar
Tipe Tenaga Dukung Jumlah Orang
- Perawat 4 orang
Perawat Gigi 4 orang
- Pegawai Khusus Terapi 5 orang
Fisioterapi 5 orang
- Teknisi Medis 19 orang
Radiografer 11 orang
Elektromedis 1 orang
Rekam Medik 7 orang
- Pegawai Khusus Kefarmasian 23 orang
Apoteker 23 orang
- Pegawai Non Kesehatan 93 orang
Non-Kesehatan Lain 93 orang
G. Kerangka Pikir Penelitian

Kegiatan Pembangunan Rumah Sakit

Ekologi Sosekbud & Kesmas

Menimbulkan Dampak Kesehatan

Limbah Rumah Sakit

Pengelolaan Lingkungan

AMDAL

Pemrakarsa Pengawas

Evaluasi

Efektif/Tidak Efektif

Rekomendasi Kebijakan

Gambar 2. Kerangka Pikir Penelitian


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Waktu pelaksanaan penelitian ini pada bulan Februari - Juni 2016.

Penelitian akan dilaksanakan di masing-masing perusahaan dan instansi

pemerintah yaitu :

1. Rumah Sakit Awal Bros Makassar

2. Rumah Sakit Siloam Makassar

B. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada penelitian ini meliputi GPS (Geography

posision System), alat tulis, perangkat keras dan perangkat lunak

komputer, serta kamera.

Bahan yang digunakan pada penelitian ini meliputi kuisioner,

dokumen AMDAL dan hasil pelaksanaan RKL-RPL, serta data-data yang

relevan.

C. Sumber Data

Sumber data pada penelitian ini adalah:

a. Data Primer yaitu data yang langsung dikumpulkan atau diperoleh dari

hasil pengukuran dilapangan. Data primer diperoleh dari responden

yang terdiri dari pemrakarsa dan instansi teknis terkait dengan

pelaksanaan AMDAL.
b. Data sekunder yaitu data yang tidak secara langsung dikumpulkan

namun diperoleh dari studi kepustakaan meliputi dokumen AMDAL

sesuai dengan sampel perusahaan yang terpilih serta laporan rutin

pelaksanaan pengelolaan lingkungan.

D. Desain Penelitian

Jenis desain penelitian pada penelitian mixed methods dibagi

menjadi tiga yaitu sequential explanatory designs, sequential exploratory

designs, dan concurrent triangulation designs. Pertama, sequential

explanatory designs, pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif

dilaksanakan dalam dua tahap, dengan penekanan utama pada metode

kuantitatif. Kedua, sequential exploratory designs yaitu pengumpulan data

kualitatif dilakukan pertama kali dan dianalisis, kemudian data kuantitatif

dikumpulkan dan dianalisis. Jenis sequential exploratory lebih

menekankan pada kualitatif. Ketiga adalah concurrent triangulation

designs (juga disebut desain integrantive atau konvergen) di mana peneliti

secara bersamaan mengumpulkan data kuantitatif dan kualitatif,

menggabungkan dalam analisis metode analisis data kuantitatif dan

kualitatif, dan kemudian menafsirkan hasilnya bersama-sama untuk

memberikan pemahaman yang lebih baik dari fenomena yang menarik.

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah sequential

exploratory, yaitu mengumpulkan dan menganalisis data kualitatif

kemudian mengumpulkan dan menganalisis data kuantitatif. Dalam


penelitian ini lebih menekankan pada metode kualitatif (McMillan, 2010 :

402). Creswell (2010: 317-318) yaitu pada tahap pertama akan diisi

dengan pengumpulan dan analisis data kualitatif, kemudian pengu mpulan

dan menganalisis data kuantitatif. Penggabungan data kuantitatif dengan

data kualitatif ini biasanya didasarkan pada hasil-hasil yang telah

diperoleh sebelumnya dari tahap pertama. Prioritas utama pada tahap ini

lebih ditekankan pada tahap pertama, dan proses penggabungan diantara

keduanya terjadi ketika peneliti menghubungkan antara analisis data

kualitatif dengan pengumpulan data kuantitatif.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini

meliputi kuisioner, observasi lapangan, wawancara dan dokumentasi.

1. Kuesioner

Kuesioner merupakan suatu daftar yang berisikan suatu rangkaian

pertanyaan mengenai suatu hal atau dalam suatu bidang

(Koentjaraningrat, 1994: 173). Isi kuesioner terdiri atas :

a. Identitas responden, yaitu: nama, usia, alamat, jenis kelamin, dan

pendidikan.

b. Pertanyaan mengenai tanggapan responden terhadap variabel:

pengaruh efektivitas pelaksanaan AMDAL sebagai salah satu

instrumen pengelolaan lingkungan di Provinsi Sulawesi Selatan.


Dalam penelitian ini menggunakan skala likert, skala likert digunakan

untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau

sekelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2011).

Peneliti menggunakan skala likert dimana dalam angket terdapat

beberapa pertanyaan dengan masing-masing memiliki lima tingkatan

jawaban yaitu:

a. Sangat setuju (SS)

b. Setuju (S)

c. Netral (N)

d. Tidak setuju (TS)

e. Sangat tidak setuju (STS)

Untuk jenis pertanyaan favourable ( + ) maka jawaban a nilainya adalah 5,

b dengan nilai 4, c dengan nilai 3, d dengan nilai 2 dan e memiliki nilai

paling rendah yaitu 1. Sedangkan untuk pertanyaan unfavourable ( - )

maka jawaban a bernilai 1, b dengan nilai 2, c dengan nilai 3, d dengan

nilai 4 dan e dengan nilai 5. Dengan begitu ini akan dapat memudahkan

peneliti dalam mengukur seberapa besar pengaruh efektivitas AMDAL

sebagai instrumen pengelolaan lingkungan hidup.

2. Observasi

Observasi menurut Sutrisno Hadi (1986) merupakan suatu proses yang

komplek, suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan

psikologis. Observasi digunakan bila, penelitian berkenaan dengan

perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden


yang diamati tidak terlalu besar (Sugiyono, 2013: 196). Penggunaan

teknik observasi digunakan peneliti untuk mengamati secara langsung

efektivitas AMDAL dalam setiap kegiatan dan proses kerja/operasional.

3. Wawancara

Wawancara adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh

informasi secara langsung dengan mengungkapkan pertanyaan-

pertanyaan kepada narasumber secara lisan.(Subagyo, 1991: 39). Teknik

wawancara ini bertujuan untuk mendapatkan informasi sebagai data

pendukung untuk penelitian atau studi pendahuluan untuk mengetahui

gambaran objek penelitian maupun responden yang akan menjadi objek

dalam penelitian ini. Narasumber dalam penelitian ini adalah pimpinan

perusahaan/kepala divisi lingkungan, kepala instansi lingkungan hidup/

kepala bidang pengawasan dan lurah/kepala desa/tokoh masyarakat.

4. Dokumentasi

Metode dokumentasi yaitu pengumpulan data dimana peneliti

menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen,

peraturan-peraturan, dan sebagainya (Arikunto, 2002: 158). Teknik

dokumentasi ini digunakan untuk mendapatkan data-data yang berupa

dokumen-dokumen dari perusahaan yang berupa struktur organisasi, foto-

foto kegiatan dan data-data lainnya.

F. Sampel Penelitian

Teknik pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan cara

purposive sampling. Hadi (2007) purposive sampling adalah teknik


pengambilan sampel dengan menentukan kriteria khusus terhadap

sampel. Dalam hal ini dipilih jenis usaha/kegiatan yang dianggap

mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pengelolaan dan

pemantauan lingkungan dan termasuk usaha/kegiatan yang mempunyai

potensi menimbulkan gangguan terhadap lingkungan karena

menghasilkan limbah cair, padat dan gas serta debu.

G. Analisis Data

Pada penelitian ini, data kuantitatif digunakan untuk menjelaskan data

kualitatif. Data kualitatif ini didapatkan melalui wawancara dengan

partisipan secara mendalam. Kriteria informan untuk teknik wawancara

adalah instansi pemerintah (BLHD dan/atau Dinas terkait di Provinsi

Sulawesi Selatan atau masing-masing Kabupaten), Pemrakarsa dan

Masyarakat sekitar proyek. Sedangkan tehnik analisa data kualitatif

dilakukan dengan model interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan

Huberman secara naratif deskriptif. Faktor-faktor yang berpengaruh

terhadap efektivitas pelaksanaan AMDAL dianalisis dengan causal

explanatory secara naratif dan case analysis. Menurut Maxwell (2004)

causal explanation bisa digunakan dalam metode kualitatif untuk

mengidentifikasi dan menjelaskan hubungan sebab akibat dan

perkembangannya telah diterima para ahli baik kualitatif maupun

kuantitatif.

Pengumpulan data kuantitatif dengan menggunakan angket (Kuesioner),

sedangkan analisis data kuantitatif (data sekunder) hasil studi pustaka


menggunakan kriteria yang diadopsi dan dimodifikasi dari Proper yang

ada dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2011

tentang Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan

Lingkungan Hidup.

1) Kriteria aspek ketaatan pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan LH

terdiri dari:

Pengendalian pencemaran udara dengan sub kriteria baku mutu,

pemantauan, ketentuan teknis dan pelaporan.

Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (PLB3) :

ketentuan teknis penyimpanan, pencatatan jenis dan volume

limbah B3 yang dihasilkan, Pengangkutan oleh pihak ketiga dan

Pelaporan.

Perizinan : Izin Pembuangan Limbah Cair, Izin Tempat

Penyimpanan Sementera Limbah B3, Surat Kerjasama dengan

pihak Ketiga dalam pengumpulan dan pengangkutan LB3.

2) Kriteria aspek kelembagaan pelaksanaan pengelolaan dan

pemantauan LH terdiri dari :Struktur kelembagaan (jumlah personil

pengelola lingkungan, kualifikasi personil dan departemen/lembaga

pengelola) danKoordinasi dan komunikasi : internal dan eksternal

3) Kriteria aspek pengawasan pelaksanaan pengelolaan dan

pemantauan LH terdiri dari : Intensitas dan bentuk pengawasan,

Proses pengawasan, Output pengawasan, SDM pengawasan dan

dana pengawasan.
4) Kriteria aspek penanganan pengaduan masyarakat, pelaksanaan

pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup terdiri dari : Intensitas,

Cara penanganan (mediasi dan pengadilan) dan Penyelesaian konflik

(waktu penyelesaian, bentuk penyelesaian dan kepuasan para pihak).

Sedangkan analisis data kuantitatif dilakukan dengan beberapa tahapan

yang harus dilakukan oleh peneliti yaitu:

1. Pengkodean data (data coding) Data coding merupakan suatu proses

penyusunan secara sistematis data mentah (yang ada di kuesioner)

ke dalam bentuk yang mudah dibaca oleh mesin pengolah yaitu

komputer.

2. Pemindahan data ke komputer (data entering) Data entering

merupakan proses pemindahan data yang telah diubah menjadi kode

ke dalam mesin pengolah data.

3. Pembersihan data (data cleaning) Data cleaning adalah memastikan

bahwa seluruh data yang dimasukan ke dalam mesin pengolah data

sudah sesuai dengan yang sebenarnya.

4. Penyajian data (data display) Data display adalah penyajian data

dalam berbagai macam bentuk seperti grafik tabel dan lain

sebagainya.

5. Penganalisisan data (data analzing) Data analizing merupakan suatu

proses lajutan data proses pengolahan data untuk melihat bagaimana

menginterpretasikan data, kemudian menganalisis data dari hasil yang

sudah ada pada tahap pengolahan data (Prasetyo dan Janah, 2012,
170). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisa data

statistik inferensial. Statistik inferensial (disebut juga statistik induktif

atau statistik probabilitas) adalah teknik statistik yang digunakan untuk

menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi

(Sugiyono, 2011: 148).

Penelitian ini menggunakan dua teknik analisis yaitu analisis statistik

regresi dan analisis t-test. Analisis regresi bermanfaat untuk membuat

keputusan apakah naik atau menurunnya variabel dependen dapat

dilakukan melalui peningkatan variabel independen atau tidak. Dalam

analisis regresi linier sederhana ini didasarkan pada hubungan

fungsional atau pun kausal satu variabel independen dan satu variabel

dependen.

a. Persamaan umum regresi linier sederhana yaitu:

Y= a + bX

Dimana:

Y = Subjek dalam variabel dependen yang diprediksikan

a = Harga Y ketika X = 0 (harga konstan)

B = Angka arah atau koefisien regresi, yang menunjukan angka

peningkatan ataupun penurunan variabel dependen yang

didasarkan pada perubahan variabel independen. Bila (+)

arah garis naik, dan bila (-) maka garis turun.

X = Subjek pada variabel independen yang mempunyai nilai

tertentu
b. Uji Korelasi

Persamaan korelasi yang sekaligus digunakan untuk menghitung

persamaan regresi yaitu (Sugiyono, 2007: 228):

Dimana:

c. Uji F

Untuk menguji hipotesis nol dipakai statistik:

F=

dibandingkan dengan F tabel dengan dk pembilang = 1 dan dk penyebut =

n 2. Untuk menguji hipotesis nol, kriterianya adalah tolak hipotesis nol

apabila koefisien F hitung lebih besar dari harga F tabel berdasarkan taraf

kesalahan yang dipilih dan dk yang bersesuaian (Sugiyono, 2007: 273).

Statististik parametris yang digunakan untuk menguji hipotesis komparatif

rata-rata dua sampel bila datanya berbentuk interval atau ratio

menggunakan t-test. Persamaan t-test yang digunakan untuk menguji

hipotesis komparatif dua sampel tidak berkorelasi (independen) yaitu

(Sugiyono, 2007: 138):


Dimana:

H. Kriteria Efektif

Untuk kriteria efektivitas yang digunakan adalah berdasar pada kriteria di

dimana semua aspek penelitian (aspek ketaatan, kelembagaan,

pengawasan dan penanganan pengaduan masyarakat) nilainya > 60%,

atau secara rinci yaitu:

0 40 % : belum efektif

41 75% : cukup efektif

75 100 % : sudah efektif


I. Diagram Alir Penelitian

Kegiatan/Usaha

Review Kebijakan AMDAL


pada Kegiatan/Usaha

Kebijakan Pengelolaan
Kualitas Dokumen AMDAL Lingkungan Hidup:
Kegiatan/Usaha 1. Kebijakan Nasional
2. Kabijakan Daerah
Evaluasi Kinerja Instansi
Terkait

Fakta:
1. Pembangunan selain memberikan dampak positif juga memberikan
dampak negatif berupa meningkatnya tekanan terhadap lingkunga.
2. Ketaatan Pemrakarsa untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan
masih rendah, sehingga diperlukan kajian untuk mengetahui
efektivitas pelaksanaan AMDAL beberapa kegiatan/usaha dii
Sulawesi Selatan

ANALISIS EFEKTIVITAS

Pemrakarsa: BLHD/Pengawas: Masyarakat

- Alasan menyusun - Kesiapan Instansi - Keterlibatan masyarakat


dokumen AMDAL melakukan - Dampak yang dirasakan
- Ketaatan melaksanakan pengawasan - Manfaat yang diperoleh
RKL - Koordinasi dalam - Peran serta masyarakat
- Kendala pengawasan dalam pemantauan

ANALISIS

Rekomendasi Pengawasan

Gambar 3. Diagram Alir Penelitian


DAFTAR PUSTAKA

Cresswell, J.W. 2013. Research Design, Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif


dan Mixed. Cetakan III. Pustaka Pelajar. Jogjakarta.

Fandeli, Chafid, 2000, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Prinsip


Dasar dan Pemapanannya Dalam Pembangunan, Liberty,
Yogyakarta.

Hadi, A., 2007. Prinsip Pengelolaan Pengambilan Sampel Lingkungan.


Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Kementrian LH RI, (2012). Peraturan Pemerintah RI Nomor 27 tahun 2012


tentang izin lingkungan.

Naskah Akademik Studi Efektivitas Penyelesaian Sengketa Lingkungan


Hidup di Indonesia Rekomendasi Kebijakan. 2011. Kerjasama antara
Van Vollenhoven Institute, Universitas Leiden dan BAPPENAS.
Jakarta.

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun 2012


tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib
Memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 16 Tahun 2012


tentang Pedoman Penyusunan Dokumen Lingkungan.

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 14 tahun 2010 tentang


Dokumen Lingkungan Hidup Bagi Usaha dan /atau Kegiatan Yang
Telah Memiliki Izin Usaha dan / atau Kegiatan Tetapi Belum Memiliki
Dokumen Lingkungan Hidup.

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 27 tentang Izin


Lingkungan.

Soemarwoto, O., 2007. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Gadjah


Mada University Press. Yogyakarta.

Soemarwoto, O., 2004. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan.


Djambaran. Jakarta.

Sugiyono, 2010. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.


Bandung. Alfabeta.
Suratmo, G., 2007. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.

Shoba, A., 2006. Evaluasi Pelaksanaan Pengelolaan dan Pemantauan


Lingkungan pada Beberapa Industri di Kabupaten Tangerang. Tesis.
Pascasarjana Universitas Diponegoro. Semarang.

Tias, Nunung Prihatining, 2009. Efektivitas Pelaksanaan Amdal Dan Ukl


Upl Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup Di Kabupaten Kudus.
Tesis. Diterbitkan. Program Magister Ilmu Lingkungan. Program
Pascasarjana Universitas Diponegoro. Semarang.

Undang Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang


Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Wardhana, Wisnu Arya, 1995, Dampak Pencemaran Lingkungan, Andi


offset.Yogyakarta.

Wahyono, Suntoro, Sutarno. 2012. Efektivitas Pelaksanaan Dokumen


Lingkungan Dalam Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup Di Kabupaten Pacitan Tahun 2012. Jurnal EKOSAINS. Vol. IV.
No. 2

Anda mungkin juga menyukai