Anda di halaman 1dari 12

190 JURNAL PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN, VOLUME 20, NOMOR 2, OKTOBER 2013

Kreativitas Siswa SMP yang Bergaya Kognitif Reektif


atau Impulsif dalam Memecahkan Masalah Geometri

Warli
Universitas PGRI Ronggolawe Tuban
email : warli66@gmail.com

Abstract: This research aim was describing a prole of students creativity with reective or impulsive
cognitive style in solving geometric problems. This research was explorative and qualitative. The
subjects were junior high school students of reective or impulsive cognitive styles measured by
MFFT (Matching Familiar Figures Test). There were 10 subjects which consisted of 5 reective and
5 impulsive students. This research resulted in the following: The creativity prole of students with
reective cognitive style in solving geometric problems tended to be high. The creativity prole of
impulsive students in solving geometric problems tended to be very low.

Keywords: creativity, problem solving, reective, impulsive, and cognitive style.

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan prol kreativitas siswa yang bergaya kognitif
reektif atau impulsif dalam memecahkan masalah geometri. Jenis penelitian ini adalah eksploratif
yang bersifat kualitatif. Subjek penelitian adalah siswa SMP yang bergaya kognitif reektif atau
impulsif yang diukur dengan MFFT (Matching Familiar Figures Test). Subjek penelitian ada 10
siswa, terdiri dari 5 siswa reektif dan 5 siswa impulsif. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: Prol
kreativitas siswa yang bergaya kognitif reektif dalam memecahkan masalah geometri cenderung
tinggi. Dan prol kreativitas siswa impulsif dalam memecahkan masalah geometri cenderung sangat
rendah.

Kata Kunci: kreativitas, pemecahan masalah, reektif, impulsif, dan gaya kognitif.

Penelitian ini memfokuskan pada siswa SMP seperti ini disebut bergaya kognitif impulsif. Anak
yang bergaya kognitif reflektif- impulsif yang yang memiliki karakteristik lambat dalam menjawab
dikemukakan oleh Jerome Kagan tahun 1965. Menurut masalah, tetapi cermat/teliti, sehingga jawaban
Kogan (1973) gaya kognitif didenisikan sebagai cenderung benar, anak seperti ini disebut bergaya
variasi individu dalam cara merasa, mengingat, dan kognitif reektif.
berpikir, atau sebagai cara membedakan, memahami, Perbedaan keakuratan dan kecepatan dalam
menyimpan, menjelmakan, dan memanfaatkan berpikir yang dimiliki masing-masing siswa reektif
informasi. Dimensi reektif dan impulsif menurut maupun impulsif menarik untuk dikaji secara
Kagan (1965) merupakan kecenderungan anak mendalam kreativitasnya, khususnya kreativitas
yang tetap untuk menunjukkan cepat atau lambat dalam memecahkan masalah. Kreativitas merupakan
waktu menjawab terhadap situasi masalah dengan sebuah kemampuan yang memerlukan berpikir
ketidakpastian jawaban yang tinggi. Rozencwajg reektif (dimiliki oleh siswa reektif), tetapi juga
& Corroyer (2005) juga menjelaskan bahwa gaya memerlukan spontanitas (dimiliki siswa impulsif).
kognitif reflektif impulsif didefinisikan sebagai Sternberg (Munandar, 1999) menjelaskan bahwa
sifat sistem kognitif yang mengkombinasi waktu kreativitas merupakan titik pertemuan yang khas
pengambilan keputusan dan kinerja (performance) antara tiga atribut psikologis: intelegensi, gaya
mereka dalam situasi pemecahan masalah yang kognitif, dan kepribadian/motivasi. Jadi, antara
mengandung ketidakpastian (uncertainty) tingkat kreativitas dan gaya kognitif memiliki hubungan
tinggi. Anak yang memiliki karakteristik cepat yang erat.
dalam menjawab masalah, tetapi tidak/kurang Pemecahan masalah merupakan hal yang sulit
cermat, sehingga jawaban cenderung salah, anak dan penting bagi siswa, sehingga harus dikembangkan

190
Warli, Kreativitas Siswa SMP yang Bergaya Kognitif Reektif atau Impulsif ... 191

dalam pembelajaran. Siswono (2005) menjelaskan bergaya kognitif reektif dan siswa yang bergaya
bahwa salah satu penyebab rendahnya kemampuan kognitif impulsif dalam memecahkan masalah
memecahkan masalah adalah dalam merencanakan geometri? Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh
pemecahan masalah tidak dibahas strategi-strategi deskripsi secara terperinci dari hal berikut: a) Prol
yang bervariasi atau yang mendorong keterampilan kreativitas siswa yang bergaya kognitif reektif
berpikir kreatif untuk menemukan jawaban masalah. dalam memecahkan masalah geometri. b) Prol
Untuk itu siswa perlu kreatif dalam memecahkan kreativitas siswa yang bergaya kognitif impulsif
masalah. dalam memecahkan masalah geometri.
Seorang siswa akan berhasil dalam
menyelesaikan masalah, apabila siswa tersebut
kreatif. Pada dasarnya dalam langkah-langkap METODE
pemecahan masalah ada langkah yang memerlukan
Penelitian ini bermaksud memperoleh deskripsi
kreativitas. Polya (1973) mengatakan bahwa
terperinci tentang kreativitas pemecahan masalah
sesungguhnya kemampuan memecahkan masalah ada
geometri yang muncul dari subjek penelitian.
pada ide penyusunan rencana. Demikian juga Orton
Untuk memperoleh deskripsi tersebut, dilakukan
(1992) menyebutkan bahwa tahap-tahap yang sangat
tes pemecahan masalah dan wawancara berbasis tes
sulit dan rumit adalah tahap 2 (menentukan rencana
(tugas), sehingga data utamanya berupa tulisan (hasil
pemecahan masalah), dan tahap 3 (mengerjakan),
tes tertulis) dan kata-kata hasil wawancara. Jadi
terutama tahap kedua di mana kreativitas, dayatemu,
penelitian ini merupakan jenis penelitian eksploratif
dan pengertian mendalam sangat diperlukan.
yang bersifat kualitatif.
Definisi kreativitas dalam penelitian ini
Subjek penelitian dipilih dari siswa Kelas
mengarah pada kreativitas pemecahan masalah dalam
VII SMP yang bergaya kognitif reflektif dan
geometri, sehingga pengertian kreativitas ditekankan
siswa yang bergaya kognitif impulsif. Instrumen
pada aspek produk dan proses pemecahan masalah
untuk mengetahui gaya kognitif reektif-impulsif,
untuk menghasilkan pemecahan yang baru dan
dikembangkan dari tes yang dibuat oleh Jerome
berguna. Silver (1997) memberikan tiga indikator
Kagan, yaitu MFFT (Matching Familiar Figure
untuk menilai berpikir kreatif siswa (yaitu: kefasihan,
Test). Adapun alasannya: 1) tes MFFT adalah
eksibilitas dan kebaruan) dengan menggunakan
instrumen yang khas untuk menilai gaya kognitif
pengajuan masalah dan pemecahan masalah.
reektif impulsif (Rozencwajg & Corroyer, 2005).
Penelitian ini, tentang kreativitas pemecahan masalah,
2) MFFT merupakan instrumen yang secara luas
maka indikator untuk menilai kreativitas akan
banyak digunakan untuk mengukur kecepatan
menggunakan pemecahan masalah. Siswono (2006)
kognitif (Kenny, 2007). Subjek penelitian dipilih
menjelaskan kefasihan dalam pemecahan masalah
10 siswa masing-masing 5 siswa bergaya kognitif
mengacu pada keragaman (bermacam-macam)
reektif dan 5 siswa bergaya kognitif impulsif (4
jawaban masalah yang dibuat siswa dengan benar.
siswa dari SMP Negeri 3 Tuban, 4 siswa dari SMP
Fleksibilitas dalam pemecahan masalah mengacu
Negeri 5 Tuban, dan 2 siswa dari SMP Negeri 6
pada kemampuan siswa memecahkan masalah
Tuban). Adapun kriterianya, 1) Kelompok reektif
dengan berbagai cara yang berbeda. Kebaruan dalam
diambil dari siswa yang memiliki catatan waktu
pemecahan masalah mengacu pada kemampuan
paling lama dan cermat/akurat dalam menjawab
siswa menjawab masalah dengan beberapa jawaban
(frekuensi salah sedikit), dan kelompok impulsif
yang berbeda-beda tetapi bernilai betul atau satu
diambil dari siswa yang memiliki catatan waktu
jawaban yang tidak biasa dilakukan oleh individu
paling cepat dan tidak cermat/akurat (frekuensi salah
(siswa) pada tahap perkembangan mereka atau
banyak) dalam menjawab. Hal ini bertujuan supaya
tingkat pengetahuan saat itu. Berdasarkan uraian
siswa yang terpilih benar-benar siswa reektif atau
tersebut di atas, prol kreativitas pemecahan masalah
siswa impulsif. 2) Mampu mengkomunikasikan
geometri dalam penelitian ini, merujuk pada produk
pendapat/jalan pikiran secara lisan maupun tertulis.
berpikir kreatif siswa yang meliputi 3 indikator, yaitu
Instrumen utama penelitian adalah peneliti
kefasihan, eksibilitas dan kebaruan yang dikaji
sendiri dan instrumen bantu, meliputi: 1) tugas
pada tahap merencanakan dan tahap mengerjakan
pemecahan masalah, 2) pedoman wawancara, dan 3)
pemecahan masalah.
MFFT (penentuan subjek). Instrumen TPM (Tugas
Berdasarkan uraian di atas, masalah penelitian
Pemecahan Masalah) digunakan untuk memperoleh
ini adalah: bagaimana prol kreativitas siswa yang
192 JURNAL PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN, VOLUME 20, NOMOR 2, OKTOBER 2013

data kreativitas pemecahan masalah geometri siswa dilakukan dua kali, yaitu kode pencapaian, dan
reflektif atau siswa impulsif. Instrumen bantu skor berbobot. Kode pencapaian adalah kode
pedoman wawancara untuk menggali kreativitas untuk kemampuan siswa dalam memecahkan tugas
pemecahan masalah geometri yang dilakukan siswa. pemecahan masalah. Kode bobot adalah kode yang
Pedoman wawancara dibuat dengan merujuk pada diperoleh dari perkalian kode pencapaian dengan
tahap-tahap pemecahan masalah yang dikemukakan bobot setiap indikator kreativitas. Kode pencapaian 3,
oleh Polya dan indikator kreativitas, yaitu kefasihan, bila siswa menuliskan/ menyebutkan ide pemecahan
eksibilitas, dan kebaruan. lebih dari 2 dan semua betul. Kode pencapaian 2, bila
Proses pengumpulan data dalam penelitian siswa menuliskan/menyebutkan satu atau dua ide
ini menggunakan triangulasi metode. Pada pemecahan dan semua betul atau siswa menuliskan/
triangulasi metode, menurut Patton (Moleong, menyebutkan lebih dari 2 ide pemecahan, tetapi
2008) terdapat dua strategi, yaitu: (1) pengecekan sebagian jawaban salah. Kode pencapaian 1, bila
derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian siswa menuliskan/ menyebutkan satu atau dua ide
beberapa teknik pengumpulan data dan (2) pemecahan, tetapi sebagian salah. Kode pencapaian
pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber 0, bila siswa tidak dapat menuliskan/menyebutkan
data dengan metode yang sama. Dalam penelitian semua jawaban dengan betul. Untuk kode bobot
ini menggunakan strategi pengecekan derajat ditentukan berdasarkan kualitas masing-masing
kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa indikator kreativitas. Kebaruan diberi bobot 3,
teknik pengumpulan data, yaitu pengecekan data eksibilitas diberi bobot 2, dan kefasihan diberi
hasil jawaban tertulis dan data hasil wawancara. bobot 1.
Data dikatakan memenuhi keabsahan data (data Untuk kreativitas pemecahan masalah
valid), apabila data hasil jawaban tes tertulis sama dalam geometri ditentukan berdasarkan jumlah
dengan data hasil wawancara. Selanjutnya data yang skor berbobot dari setiap indikator.
valid dianalisis untuk memperoleh simpulan hasil
penelitian. Tes pemecahan masalah (TPM) yang
diberikan adalah masalah geometri, terdiri atas 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
masalah, yaitu: 1) masalah luas persegipanjang, Berdasarkan hasil pengukuran gaya kognitif di
2) keliling persegipanjang, 3) luas segitiga, dan 4) tiga sekolah (SMP N 3 Tuban, SMP N 5 Tuban, dan
keliling segitiga. Sebagai contoh berikut instrumen SMP N 6 Tuban) diperoleh jumlah siswa impulsif
tes pemecahan masalah no. 2. 46 siswa (37%), sedang jumlah siswa reektif 45
Diketahui persegipanjang berikut. siswa (36%). Ini menunjukkan bahwa proporsi siswa
yang memiliki karakteristik reektif atau impulsif
(73%) lebih besar dibandingkan dengan siswa yang
6 cm memiliki karakteristik cepat dan tepat/akurat dalam
12 cm menjawab atau lambat dan kurang tepat/kurang
akurat dalam menjawab, yaitu 27%. Hasil ini sesuai
dengan beberapa peneliti sebelumnya, penelitian
Reuchlin (Rozencwajg & Corroyer, 2005) proporsi
1. Buatlah bangun datar yang kelilingnya sama
anak reektif-impulsif 70%, penelitian Rozencwajg
dengan keliling bangun persegipanjang di atas!
& Corroyer (2005) proporsi anak reektif-impulsif
2. Gambarlah sebanyak-banyaknya bangun datar
76,2%.
lain yang kelilingnya sama dengan keliling
Hasil analisis kreativitas pemecahan masalah
bangun persegipanjang itu!
geometri, meliputi: kreativitas pemecahan masalah
3. Pilih satu bangun datar yang telah kamu buat
geometri siswa reektif dan siswa impulsif. Berikut
pada bagian b. Tunjukkan cara lain yang berbeda
dijelaskan prol masing-masing siswa yang berbeda
untuk menemukan atau membuat bangun datar
gaya kognitif dalam memecahkan masalah geometri.
itu!
Analisis dilakukan pada tahap-tahap pemecahan
Masalah yang digunakan ketika wawancara
masalah yang dikemukakan oleh Polya, meliputi:
adalah serupa dengan keliling 32 cm2.
(a) memahami masalah (L.1), (b) merencanakan
Langkah selanjutnya, untuk data yang valid setiap
pemecahan masalah (L.2), (c) mengerjakan
indikator kreativitas dan tahap pemecahan masalah
pemecahan masalah (L.3), dan (d) memeriksa kembali
dilakukan penskoran (pengkodean). Pengkodean
jawaban(L.4). Karakteristik kreativitas setiap tahap
Warli, Kreativitas Siswa SMP yang Bergaya Kognitif Reektif atau Impulsif ... 193

Tabel 1. Pengkodean Tahap Merencanakan dan Mengerjakan Pemecahan Masalah Geometri

Indikator Kefasihan Kualitas


Kode 3 Siswa menunjukkan rencana (pengerjaan) pemecahan masalah yang bermacam-ma- Sangat Fasih
cam dan semuanya betul. (lebih dari dua macam)
Kode 2 : Siswa menunjukkan satu atau dua macam rencana (pengerjaan) pemecahan Fasih
masalah dan semuanya betul atau siswa menunjukkan lebih dari dua macam rencana
(pengerjaan) pemecahan masalah, tetapi ada sebagian rencana yang dituliskan/
disebutkan salah.
Kode 1: Siswa menunjukkan satu atau dua macam rencana (pengerjaan) pemecahan masalah, Kurang Fasih
tetapi hanya sebagian yang dapat dituliskan/disebutkan dengan betul
Kode 0: Siswa tidak menunjukkan rencana (pengerjaan) pemecahan masalah yang bermacam- Tidak Fasih
macam atau menunjukkan satu atau dua rencana (pengerjaan) pemecahan masalah,
tetapi semuanya bernilai salah.

Indikator Fleksibilitas
Kode 3 Siswa dapat mengubah rencana (pengerjaan) pemecahan masalah satu ke rencana Sangat Fleksi-
(pengerjaan) pemecahan lain yang berbeda sebanyak lebih dari dua dan semuanya bel
betul.
Kode 2 Siswa dapat mengubah rencana (pengerjaan) pemecahan masalah satu ke rencana Fleksibel
(pengerjaan) pemecahan lain yang berbeda sebanyak satu atau dua. Atau siswa dapat
mengubah rencana (pengerjaan) pemecahan masalah satu ke rencana (pengerjaan)
pemecahan lain yang berbeda sebanyak lebih dari dua, tetapi ada sebagian rencana
(pengerjaan) yang dituliskan/disebutkan salah.
Kode 1 Siswa dapat mengubah rencana (pengerjaan) pemecahan masalah satu ke rencana Kurang Fleksi-
(pengerjaan) pemecahan lain yang berbeda sebanyak satu atau dua, tetapi hanya bel
sebagian yang dapat dituliskan/disebutkan dengan betul
Kode 0 Siswa tidak dapat mengubah rencana (pengerjaan) pemecahan masalah satu ke Tidak Fleksibel
rencana (pengerjaan) pemecahan lain yang berbeda atau dapat mengubah rencana
(pengerjaan) pemecahan masalah satu ke rencana (pengerjaan) pemecahan lain
yang berbeda, tetapi benilai salah.
Indikator Kebaruan
Kode 3 Siswa menunjukkan rencana (pengerjaan) pemecahan masalah yang berbeda-beda Sangat Baru
(sebanyak lebih dari dua) dan menuliskan/ menyebutkan dengan betul. Atau siswa
menunjukkan satu atau lebih rencana (pengerjaan) pemecahan masalah yang tidak
biasa dilakukan oleh individu (siswa) pada tahap perkembangannya atau tingkat
pengetahuannya.
Kode 2 Siswa menunjukkan rencana (pengerjaan) pemecahan masalah yang berbeda- Baru
beda (sebanyak satu atau dua) dan menuliskan/menyebutkan dengan betul. Atau
siswa menunjukkan rencana (pengerjaan) pemecahan masalah yang berbeda-beda
(sebanyak lebih dari dua), tetapi ada sebagian rencana (pengerjaan) yang dituliskan/
disebutkan salah.
Kode 1 Siswa menunjukkan rencana (pengerjaan) pemecahan masalah yang berbeda-beda Kurang Baru
(sebanyak satu atau dua), tetapi hanya dapat menuliskan/menyebutkan sebagian
yang betul. Atau menunjukkan satu rencana (pengerjaan) pemecahan masalah yang
tidak biasa dilakukan oleh individu (siswa) pada tahap perkembangannya atau tingkat
pengetahuannya, tetapi hanya dapat menuliskan/ menyebutkan sebagian yang betul.
Kode 0 Siswa tidak menunjukkan rencana (pengerjaan) pemecahan masalah yang berbeda- Tidak Baru
beda, atau tidak menunjukkan satu rencana (pengerjaan) pemecahan masalah yang
tidak biasa dilakukan oleh individu (siswa) pada tahap perkembangannya atau tingkat
pengetahuannya. Atau menunjukkan rencana (pengerjaan) pemecahan masalah yang
berbeda-beda, tetapi bernilai salah.
Sumber: Warli (2011; 659-670)

pemecahan masalah dianalisis berdasrkan indikator (b) kebaruan, dan (c) eksibilitas. Namun demikian,
kreativitas yang digunakan, meliputi: (a) kefasihan, penelitian difokuskan pada L.2 dan L.3, walaupun
194 JURNAL PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN, VOLUME 20, NOMOR 2, OKTOBER 2013

mungkin pada L.4 bisa dilakukan, karena menurut


Warli (2010) kreativitas pemecahan masalah hanya b. Indikator Kebaruan. Beberapa gambar
dapat dilakukan pada L.2 dan L.3. yang dibuat Sr.2 pada jawaban bagian (b),
terdapat gambar yang diluar kebiasaan, yaitu
Kreativitas Siswa Reflektif pada Tahap gambar berbentuk T terbalik. Apakah Sr.2
Merencanakan Pemecahan Masalah masih mempunyai ide lain? Berikut petikan
wawancaranya.
Berikut secara garis besar gambaran analisis
P Apakah masih mempunyai ide lain?
yang dilakukan terhadap subjek Sr.2 (Subjek reektif R (diam) Saya coba lagi, Pak! (diam sambil meng-
ke-2) dari SMP N 5 Tuban. gambar) ini, Pak!
Pada langkah merencanakan pemecahan
masalah (L.2) tidak terlihat pada lembar jawaban
untuk itu perlu dilakukan klarikasi kepada subjek.
Hasil analisis terhadap lembar jawaban di atas beserta
hasil klarikasinya dapat dideskripsikan seperti pada
Tabel 2. Selanjutnya dilakukan analisis data hasil
Sr.2 mampu membuat gambarberbentuk +,
wawancara. Pada L.2 diperoleh hasil yang serupa
jadi Sr.2 memenuhi kebaruan.
dengan hasil tes pemecahan masalah, sedang pada
L.3 secara garis besar penulis sajikan sebagai berikut.
c. Indikator Fleksibilitas. Sr.2 memenuhi
fleksibilitas dalam memecahkan masalah,
Tahap Mengerjakan(L.3) karena ia mampu mengubah gambar persegi
menjadi gambar lain yang berbeda dengan cara
a. Indikator Kefasihan. Sr.2 fasih dalam menjawab
memotong bagian pojoknya, dan betul. Berikut
pertanyaan (b), ia mampu menunjukkan 4 buah
petikan wawancara Sr.2
bangun datar yang berlainan dengan keliling P Kemudian Anda mengubah seperti apa untuk
sama dengan masalah 2, yaitu 32 cm. Ini memperoleh gambar lain yang berbeda, tetapi
menunjukkan bahwa Sr.2 memenuhi kefasihan. kelilingnya tetap sama?
R (diam) saya ubah gambarnya dengan cara
Berikut petikan wawancara dengan Sr.2. memotong, bagian salah satu pojok, kelilingnya
akan tetap sama, di situ ada gambarnya?
P Sekarang kita lihat pertanyaan (b) bagaimana kamu (menunjuk lembar jawaban)
mengerjakannya?
R (diam) banyak, Pak! Saya buat persegi, segiti-
ga, jajargenjang, dan (diam) yang itu namanya
tidak tahu.

Penulis mencoba memilih gambar lain yang


berbeda, Sr.2 mampu memenuhi eksibilitas. Seperti
petikan wawancara berikut.

Gambar Lembar Jawaban Tertulis Sr.2 pada Masalah 2 (m.2)


Warli, Kreativitas Siswa SMP yang Bergaya Kognitif Reektif atau Impulsif ... 195

siswa yang lain, sedangkan rencana yang lain adalah


P Sekarang Anda ubah gambar ini menjadi gambar memotong suatu bangun menjadi bagian-bagian,
lain yang berbeda, tetapi kelilingnya sama! kemudian menggabungkan pada sisi yang lain.
R (diam) Saya gambar lagi jajaran genajang, tapi Mengacu pada kenyataan tersebut dapat disimpulkan
saya potong salah satu sudutnya.
bahwa siswa reektif dalam merencanakan masalah
P Bagaimana caranya?
R (diam) saya coba (menggambar) ini! cenderung fasih atau mampu membuat rencana
sebanyak dua macam rencana pemecahan masalah,
yaitu menggambar bangun datar dulu, kemudian
menentukan ukuran sisi, dan sebaliknya dan
semuanya betul.
Profil kebaruan siswa reflektif dalam
Secara keseluruhan hasil analisis dapat merencanakan, terdapat satu subjek memenuhi
penulis deskripsikan pada Tabel 2, dan skor indikator kebaruan dalam merencanakan pemecahan
pencapaian (SP) mengacu pada Tabel 1, sedang skor masalah. Subjek tersebut mampu merencanakan
berbobot (SB) merupakan perkalian SP dengan bobot pemecahan yang tidak biasa dilakukan anak SMP,
setiap indikator. yaitu memotong bangun datar menjadi beberapa
Selanjutnya data yang valid dianalisis untuk bagian (azas kekekalan luas), sedang 4 subjek
menggambarkan profil kreativitas pemecahan yang lain tidak memenuhi indikator kebaruan.
masalah. Deskripsi data yang valid, melalui kode Berdasarkan fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa
(skor) bobot, penulis sajikan dalam sebuah diagram siswa reektif cenderung tidak memenuhi kebaruan
untuk menggambarkan kreativitas dari setiap atau tidak mampu membuat rencana pemecahan
masalah (4 masalah) dan indikator kreativitas yang masalah yang berbeda-beda dan betul atau tidak
digunakan. Analisis ini dilakukan dengan cara menunjukkan satu rencana pemecahan masalah yang
yang sama untuk 5 subjek reektif dan 5 subjek tidak biasa dilakukan oleh siswa pada usianya diluar
impulsif dengan masing-masing 4 masalah. Prol pengetahuannya.
kefasihan, kebaruan, dan eksibilitas siswa reektif Profil fleksibilitas siswa reflektif dalam
dalam merencanakan pemecahan masalah geometri merencanakan, yaitu ada dua subjek reflektif
disajikan pada Gambar 1. yang memenuhi indikator fleksibilitas. Subjek
tersebut mampu mengubah satu rencana yaitu
10 rencana menggambar bangun datar dulu, diubah
menjadi bangun datar yang dipotong menjadi
8 beberapa bagian, sedang tiga subjek lainnya tidak
memenuhi. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa
Kualitas

6
siswa reektif cenderung tidak eksibel atau tidak
4 m.1 mampu mengubah suatu rencana pemecahan masalah
m.2 menjadi rencana lain yang berbeda.
2 Merujuk pada analisis indikator kefasihan,
m.3
0 m.4 kebaruan, dan eksibilitas siswa reektif dalam
Sr.1 Sr.2 Sr.3 Sr.4 Sr.5 Sr.1 Sr.2 Sr.3 Sr.4 Sr.5 Sr.1 Sr.2 Sr.3 Sr.4 Sr.5 merencanakan pemecahan masalah dapat disimpulkan
Keterangan:Kefasihan
Sr.i = Subjek reektif Fleksibilitas
Kebaruan ke-i, dengan i = 1, 2, bahwa kreativitas siswa reektif dalam merencanakan
3, 4, 5 m.i = masalah i, dengan i = 1, 2, 3, 4 pemecahan masalah cenderung rendah. Mencermati
Gambar 1. Prol Kreativitas Siswa Reektif fakta tersebut, tahap merencanakan merupakan tahap
dalam Merencanakan Pemecahan Masalah yang sulit, sehingga kualitas kreativitas merencanakan
rendah. Hal ini sejalan dengan pernyatataan Orton
(1992) yang menyebutkan bahwa tahap kedua
Berdasarkan Gambar 1, pada indikator
(tahap merencanakan pemecahan masalah) sangat
kefasihan semua subjek mampu membuat rencana
diperlukan kreativitas, dayatemu, dan pengertian
sebanyak dua buah dengan betul. Rencana tersebut
mendalam. Hal serupa juga diungkapkan Polya
adalah menggambar bangun datar dulu, kemudian
(1973) yang mengatakan bahwa sesungguhnya
menentukan ukuran sisi, dan sebaliknya. Ada satu
kemampuan memecahkan masalah ada pada ide
subjek, yaitu Sr.1 mampu membuat tiga rencana.
penyusunan rencana.
Dua rencana pertama adalah sama dengan empat
196 JURNAL PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN, VOLUME 20, NOMOR 2, OKTOBER 2013

Tabel 2. Penentuan Data Kreativitas Pemecahan Masalah Sr.2 yang Valid untuk Masalah 2 (m.2)

Data Kreativitas Skor*


Indikator Deskripsi Hasil Analisis Deskripsi Hasil Analisis
PM Pemecahan Masalah
Kreativitas Jawaban Tertulis Jawaban Wawancara SP SB
yang Valid
L.2 Kefasihan Sr.2 menunjukkan dua ma- Sr.2 menunjukkan dua ma- Sr.2 menunjukkan dua 2 2
cam rencana pemecahan cam rencana pemecahan macam rencana pe-
masalah dan semuanya masalah dan semuanya mecahan masalah dan
betul, yaitu menggambar betul, yaitu menggambar semuanya betul, yaitu
dulu kemudian menentukan dulu kemudian menentukan menggambar dulu kemu-
ukurannya atau sebaliknya. ukurannya atau sebaliknya. dian menentukan ukuran-
nya atau sebaliknya.
Kebaruan Sr.2 tidak menunjukkan Sr.2 tidak menunjukkan Sr.2 tidak menunjukkan 0 0
rencana pemecahan mas- rencana pemecahan rencana pemecahan
alah yang berbeda-beda, masalah yang berbeda- masalah yang berbeda-
atau tidak menunjukkan beda, atau tidak beda, atau tidak
satu rencana pemecahan menunjukkan satu rencana menunjukkan satu
masalah yang tidak biasa pemecahan masalah yang rencana pemecahan
dilakukan oleh siswa pada tidak biasa dilakukan masalah yang tidak biasa
tingkat pengetahuannya. oleh siswa pada tingkat dilakukan oleh siswa pada
pengetahuannya. tingkat pengetahuannya.
Fleksibilitas Sr.2 dapat mengubah satu S r. 2 d a p a t m e n g u b a h Sr.2 dapat mengubah 2 4
rencana pemecahan mas- satu rencana pemecahan satu rencana pemecahan
alah menjadi rencana pe- masalah menjadi rencana masalah menjadi rencana
mecahan lain yang berbe- pemecahan lain yang pemecahan lain yang
da, yaitu memotong bagian berbeda, yaitu memotong berbeda, yaitu memotong
pojok. bagian pojok.. bagian pojok..
L.3 Kefasihan Sr.2 menunjukkan 5 ma- Sr.2 menunjukkan 4 ma- Sr.2 menunjukkan 4 ma- 3 3
cam cara mengerjakan cam cara mengerjakan cam cara mengerjakan
pemecahan masalah dan pemecahan masalah dan pemecahan masalah dan
semuanya betul. semuanya betul. semuanya betul.
Kebaruan Sr.2 menunjukkan ber- Sr.2 menunjukkan ber- Sr.2 menunjukkan ber- 3 9
beda-beda gambar (cara beda-beda gambar (cara beda-beda gambar (cara
mengerjakan masalah), mengerjakan masalah), mengerjakan masalah),
yang diluar kebiasaan yang diluar kebiasaan yang diluar kebiasaan
siswa SD atau SMP, yaitu siswa SD atau SMP, yaitu siswa SD atau SMP, yaitu
gambar berbetuk T, L dan gambar berbetuk T, + dan gambar berbetuk T, dan
segi enam dan semuanya semuanya betul. semuanya betul.
betul.
Fleksibilitas Sr.2 mampu mengubah Sr.2 mampu mengubah Sr.2 mampu mengubah 3 6
gambar yang dipilih menja- gambar yang dipilih menja- gambar yang dipilih men-
di gambar lain yang berbe- di gambar lain yang berbe- jadi gambar lain yang
da dengan cara mengubah da dengan cara mengubah berbeda dengan cara
bagian pojoknya. Pada bagian pojoknya. Pada mengubah bagian po-
gambar persegi mampu gambar persegi mampu joknya. Pada gambar
mengubah menjadi 4 ma- mengubah menjadi 4 ma- persegi mampu mengu-
cam gambar yang berbeda. cam gambar yang berbeda. bah menjadi 4 macam
gambar yang berbeda.
L.4 Sr.2 memeriksa pekerjaan- Sr.2 m e m e r i k s a Sr.2 memeriksa peker- 0 0
nya dengan cara melihat p e k e r j a a n n y a d e n g a n jaannya dengan cara me-
ukuran sisi gambar kemu- c a r a m e l i h a t u k u r a n lihat ukuran sisi gambar
dian menghitung kembali. sisi gambar kemudian kemudian menghitung
Dan Sr.2 tidak menunjuk- menghitung kembali. Dan kembali. Dan Sr.2 tidak
kan cara lain dalam memer- Sr.2 tidak menunjukkan menunjukkan cara lain
iksa pemecahan masalah. cara lain dalam memeriksa dalam memeriksa pe-
pemecahan masalah. mecahan masalah.
Keterangan: PM = Pemecahan Masalah, SP = Skor Pencapaian, SB = Skor Berbobot
*) = Skor data yang valid
Warli, Kreativitas Siswa SMP yang Bergaya Kognitif Reektif atau Impulsif ... 197

Kreativitas Siswa Reflektif pada Tahap yang tidak umum bagi siswa SMP. Dua subjek
Mengerjakan Pemecahan Masalah yang lain tidak memenuhi indikator kebaruan.
Berdasarkan fakta tersebut dapat disimpulkan
Profil kefasihan, kebaruan dan fleksibilitas
bahwa siswa reektif cenderung sangat baru atau
siswa reektif dalam mengerjakan disajikan pada
mampu membuat cara pemecahan masalah yang
Gambar 2.
berbeda-beda dan betul atau menunjukkan satu cara
pemecahan masalah yang tidak biasa dilakukan oleh
10
siswa pada usianya.
8 Profil fleksibilitas siswa reflektif dalam
tahap mengerjakan, yaitu terdapat tiga subjek
Kualitas

6 reflektif tidak mampu mengubah suatu gambar


m.1 (gambar yang dipilih) menjadi gambar lain yang
4
m.2 berbeda dan betul. Dua subjek lainnya memenuhi
2 m.3 fleksibilitas. Satu subjek memenuhi fleksibilitas
m.4 pada 3 masalah, satu subjek memenuhi eksibilitas
0
pada 2 masalah. Mereka mampu mengubah gambar
Sr.1 Sr.2 Sr.3 Sr.4 Sr.5 Sr.1 Sr.2 Sr.3 Sr.4 Sr.5 Sr.1 Sr.2 Sr.3 Sr.4 Sr.5
yang dipilih menjadi gambar lain yang berbeda
Kefasihan Kebaruan Fleksibilitas dan betul sebanyak lebih dari dua gambar. Hal
ini menunjukkan bahwa siswa reektif cenderung
Keterangan: Sr.i = Subjek reektif ke-i, dengan i = 1, 2, 3, 4, 5 cukup eksibel atau mampu mengubah suatu cara
m.i = masalah i, dengan i = 1, 2, 3, 4 pemecahan/gambar menjadi gambar lain yang
Gambar 2. Prol Kreativitas Siswa Reektif berbeda dan betul. Merujuk pada analisis indikator
dalam Mengerjakan Pemecahan Masalah kefasihan, kebaruan, dan eksibilitas siswa reektif
dalam mengerjakan pemecahan masalah dapat
Mencermati Gambar 2, diperoleh bahwa prol disimpulkan bahwa kreativitas siswa reektif dalam
kefasihan siswa reektif dalam tahap mengerjakan, mengerjakan pemecahan masalah cenderung tinggi.
terdapat 4 subjek mampu membuat cara mengerjakan/ Hal ini berdampak pada kemampuan siswa reektif
membuat gambar yang bermacam-macam (lebih dalam memecahkan masalah. Temuan McKinney
dari dua macam) dan semua betul. Gambar yang (1975) menunjukkan bahwa anak-anak yang reektif
dihasilkan siswa reektif meliputi, gambar-gambar memproses informasi tugas/masalah lebih esien
segitiga, persegipanjang, jajargenjang, trapesium,
dibanding anak-anak impulsif dan mengerjakan
layang-layang, dan belah ketupat. Namun, ada satu
subjek reektif yang hanya mampu membuat dua lebih sistematis atau mengedepankan strategi.
gambar yang betul atau mampu membuat lebih Sehubungan dengan proses pemecahan masalah
dari dua gambar, tetapi ada sebagian yang bernilai Warli (2009) menemukan bahwa siswa reektif
salah. Hal ini menunjukkan bahwa siswa reektif dalam memproses pemecahan masalah dilakukan
dalam mengerjakan cenderung memenuhi sangat secara analitik. Siswa yang reektif sangat berhati-
fasih atau mampu membuat bermacam-macam cara hati pada tahap mengerjakan (banyak mencoba-coba
mengerjakan atau cara membuat gambar (lebih dari dulu) memperhatikan berbagai aspek, sehingga
dua macam), meliputi: gambar-gambar segitiga, jawaban yang diperoleh cenderung sedikit, tetapi
persegipanjang, jajargenjang, trapesium, layang- bernilai betul.
layang, dan belah ketupat.
Pada tahap memeriksa hasil pekerjaan ada sutu
Profil kebaruan siswa reflektif dalam
subjek yang tidak memeriksa hasil pekerjaannya,
mengerjakan, yaitu terdapat tiga subjek yang
karena sebelum ditulis sudah dikoreksi terlebih
memenuhi indikator kebaruan dalam tahap
dahulu pada lembar jawaban. Ia akan menuliskan
mengerjakan. Satu subjek memenuhi kebaruan
jawaban pada lembar jawaban, apabila sudah
pada 4 masalah, satu subjek memenuhi kebaruan
diyakini kebenarannya. Empat subjek yang lain
pada 2 masalah, dan satu subjek memenuhi kebaruan
semuanya memeriksa hasil pekerjaannya sebelum
pada 1 masalah. Mereka mampu mengerjakan
dikumpulkan, dengan cara melihat kembali gambar
yang tidak biasa dilakukan anak SMP, yaitu seperti
yang telah dibuat atau perhitungan yang telah ditulis,
yang direncanakan dengan cara memotong bangun
kemudian dihitung kembali. Semua siswa reektif
datar menjadi beberapa bagian (azas kekekalan
tidak mempunya cara lain dalam memeriksa hasil
luas), kemudian ia dapat membentuk bangun datar
pemecahan masalah, selain tersebut di atas. Ini
198 JURNAL PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN, VOLUME 20, NOMOR 2, OKTOBER 2013

menunjukkan bahwa siswa reflektif cenderung indikator kebaruan dalam merencanakan pemecahan
memeriksa hasil pemecahan masalah sebelum masalah, karena mereka tidak mampu merencanakan
dikumpulkan, cara yang dilakukan adalah melihat pemecahan yang tidak biasa dilakukan anak SMP.
kembali gambar yang telah dibuat atau perhitungan Hal ini menunjukkan bahwa siswa impulsif tidak
dan ditulis, kemudian dihitung kembali. Tidak memenuhi kebaruan atau tidak mampu membuat
menunjukkan cara lain, serta tidak memenuhi rencana pemecahan masalah yang berbeda-beda
indikator kreativitas. Hal ini sejalan dengan temuan dan betul atau tidak menunjukkan satu rencana
Warli (2010) bahwa kreativitas pemecahan masalah pemecahan masalah yang tidak biasa dilakukan oleh
ditemukan pada tahap merencanakan pemecahan dan siswa pada usianya diluar pengetahuannya.
tahap mengerjakan, sedang pada tahap memeriksa Profil fleksibilitas siswa impulsif dalam
tidak ditemukan. merencanakan, yaitu semua subjek impulsif tidak
memenuhi indikator eksibilitas, karena mereka
tidak mampu mengubah satu rencana menjadi
Kreativitas Siswa Impulsif pada Tahap rencana lain yang berbeda. Jadi, siswa impulsif
Merencanakan Pemecahan Masalah tidak eksibel atau tidak mampu membuat rencana
Profil kefasihan, kebaruan dan fleksibilitas yang berbeda-beda atau tidak mampu mengubah
siswa yang impulsif dalam merencanakan pemecahan suatu rencana pemecahan masalah menjadi rencana
masalah geometri disajikan pada Gambar 3. lain yang berbeda. Merujuk pada analisis indikator
kefasihan, kebaruan, dan eksibilitas siswa impulsif
2,5 dalam merencakan pemecahan masalah dapat
disimpulkan bahwa kreativitas siswa impulsif dalam
2 merencanakan pemecahan masalah cenderung sangat
rendah. Temuan ini sama dengan yang terjadi pada
Kualitas

1,5
siswa reektif, karena pada tahap merencanakan
1 m.1 merupakan tahap yang sulit bagi siswa. Hal ini
m.2 juga sejalan dengan temuan Warli (2009) bahwa
0,5
m.3 anak impulsif apabila dicermati dari coretan (bukan
0 m.4 lembar jawaban) sebelum mengerjakan cenderung
Si.1 Si.2 Si.3 Si.4 Si.5 Si.1 Si.2 Si.3 Si.4 Si.5 Si.1 Si.2 Si.3 Si.4 Si.5 sedikit. Artinya anak impulsif tidak merencanakan
secara matang pada lembar coretan, tetapi langsung
Kefasihan Kebaruan Fleksibilitas
mengerjakan pada lembar jawaban, sehingga
ditemukan banyak kesalahan.
Keterangan: Si.i = Subjek impulsif ke-i, dengan i = 1, 2, 3, 4, 5
m.i = masalah i, dengan i = 1, 2, 3, 4
Gambar 3. Prol Kreativitas Siswa Impulsif
Kreativitas Siswa Impulsif pada Tahap
dalam Merencanakan Pemecahan Masalah Mengerjakan Pemecahan Masalah
Profil kefasihan, kebaruan dan fleksibilitas
Berdasarkan Gambar 3, diperoleh bahwa siswa impulsif dalam mengerjakan, disajikan pada
terdapat 4 subjek mampu membuat rencana Gambar 4.
sebanyak dua buah dengan betul. Rencana tersebut 5
adalah menggambar bangun datar dulu, kemudian 4
menentukan ukuran sisi, dan sebaliknya. Ada satu
Kualitas

3
subjek yang hanya mampu membuat satu rencana. 2 m.1
Mengacu pada kenyataan tersebut dapat disimpulkan 1
m.2

bahwa siswa impulsif dalam merencanakan masalah 0


m.3
m.4
cenderung fasih atau mampu membuat rencana Si.1 Si.2 Si.3 Si.4 Si.5 Si.1 Si.2 Si.3 Si.4 Si.5 Si.1 Si.2 Si.3 Si.4 Si.5

sebanyak dua macam rencana pemecahan masalah, Kefasihan Kebaruan Fleksibilitas

yaitu menggambar bangun datar dulu, kemudian


Keterangan: Si.i = Subjek impulsif ke-i, dengan i = 1, 2, 3, 4, 5
menentukan ukuran sisi, dan sebaliknya dan m.i = masalah i, dengan i = 1, 2, 3, 4
semuanya betul. Gambar 4. Prol Kreativitas Siswa Impulsif
Profil kebaruan siswa impulsif dalam dalam Mengerjakan Pemecahan Masalah
merencanakan, semua subjek tidak memenuhi
Warli, Kreativitas Siswa SMP yang Bergaya Kognitif Reektif atau Impulsif ... 199

Pada Gambar 4, terlihat bahwa prol kefasihan kurang sistematis atau kurang mengedepankan
siswa impulsif dalam tahap mengerjakan, terdapat strategi. Pada proses pemecahan masalah Warli
4 subjek mampu membuat cara mengerjakan/ (2009) menemukan bahwa siswa impulsif dalam
membuat gambar yang bermacam-macam (lebih memproses pemecahan masalah dilakukan secara
dari dua macam) dan semua betul. Gambar yang holistik. Siswa yang impulsif kurang cermat pada
dihasilkan siswa impulsif meliputi, gambar-gambar tahap mengerjakan (sedikit mencoba-coba), langsung
segitiga, persegipanjang, jajargenjang, trapesium, mengerjakan, sehingga jawaban yang diperoleh
layang-layang, dan belah ketupat. Tetapi ada satu banyak, tetapi cenderung salah.
subjek impulsif yang hanya mampu membuat dua Pada tahap memeriksa hasil pekerjaan, siswa
gambar yang betul atau mampu membuat lebih impulsif cenderung tidak mengoreksi/memeriksa
dari dua gambar, tetapi ada sebagian yang bernilai hasil pekerjaannya sebelum dikumpulkan. Siswa
salah. Dengan demikian bahwa siswa impulsif dalam impulsif cenderung memeriksa pekerjaannya ketika
mengerjakan cenderung sangat fasih atau mampu menulis jawaban, apabila ada kesalahan langsung
membuat bermacam-macam cara mengerjakan atau diperbaiki pada lembar jawaban. Berdasarkan
cara membuat gambar (lebih dari dua macam), kenyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa
meliputi: gambar-gambar segitiga, persegipanjang, siswa impulsif cenderung tidak memeriksa hasil
jajargenjang, trapesium, layang-layang, dan belah pemecahan yang telah ditulis sebelum dikumpulkan,
ketupat. karena ia memeriksa pekerjaannya ketika menulis
Profil kebaruan siswa impulsif dalam jawaban, apabila ada kesalahan langsung diperbaiki
mengerjakan, yaitu semua subjek tidak memenuhi pada lembar jawaban. Dan tidak menunjukkan cara
indikator kebaruan dalam tahap mengerjakan. Mereka lain, sehingga tidak memenuhi indikator kreativitas.
tidak mampu membuat cara pemecahan masalah yang Temuan ini sama dengan pada siswa reektif, tidak
berbeda-beda dan betul atau tidak menunjukkan ditemukan indikator kreativitas dan sejalan dengan
cara mengerjakan (menggambar) yang tidak biasa temuan Warli (2010)
dilakukan anak SMP. Hal ini menunjukkan bahwa
siswa impulsif tidak memenuhi kebaruan atau tidak
mampu membuat cara pemecahan masalah yang
SIMPULAN DAN SARAN
berbeda-beda dan betul atau tidak menunjukkan satu Simpulan
cara pemecahan masalah yang tidak biasa dilakukan
Berdasarkan hasil analisis berturut-turut
oleh siswa pada usianya.
dikemukakan simpulan hasil penelitian, sebagai
Prol eksibilitas siswa impulsif dalam tahap
berikut.
mengerjakan, yaitu terdapat empat subjek impulsif
Profil kreativitas siswa SMP yang bergaya
tidak memenuhi fleksibilitas atau mereka tidak
kognitif reektif dalam pemecahan masalah geometri
mampu mengubah suatu gambar (gambar yang
cenderung tinggi.
dipilih) menjadi gambar lain yang berbeda dan betul.
a. Tahap merencanakan, Kreativitas siswa
Terdapat sutu subjek lainnya memenuhi eksibilitas.
SMP yang bergaya kognitif reflektif dalam
Ia mampu mengubah gambar yang dipilih menjadi
merencanakan pemecahan masalah cenderung
gambar lain yang berbeda dan betul sebanyak lebih
rendah. Berdasarkan hasil analisis pada indikator
dari dua gambar. Hal tersebut dapat disimpulkan
kefasihan siswa reektif dalam merencanakan
bahwa siswa impulsif cenderung tidak fleksibel
penyelesaian masalah cenderung fasih atau
atau tidak mampu mengubah suatu cara pemecahan/
mampu membuat rencana sebanyak dua macam
gambar menjadi gambar lain yang berbeda dan
rencana pemecahan masalah, yaitu menggambar
betul. Berdasarkan pada analisis indikator kefasihan,
bangun datar dulu, kemudian menentukan ukuran
kebaruan, dan eksibilitas siswa impulsif dalam
sisi, dan sebaliknya serta semuanya betul. Pada
mengerjakan pemecahan masalah dapat disimpulkan
indikator kebaruan siswa reektif cenderung tidak
bahwa kreativitas siswa impulsif dalam mengerjakan
memenuhi kebaruan atau tidak mampu membuat
pemecahan masalah cenderung rendah. Temuan ini
rencana pemecahan masalah yang berbeda-beda
berdampak pada kemampuan siswa impulsif kurang
dan betul atau tidak menunjukkan satu rencana
baik dalam memecahkan masalah. McKinney (1975)
pemecahan masalah yang tidak biasa dilakukan
menunjukkan bahwa anak-anak yang impulsif
oleh siswa pada usianya diluar pengetahuannya.
memproses informasi tugas/masalah kurang esien
Dan pada indikator eksibilitas siswa reektif
dibanding anak-anak reflektif dan mengerjakan
200 JURNAL PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN, VOLUME 20, NOMOR 2, OKTOBER 2013

juga cenderung tidak eksibel atau tidak mampu macam), meliputi: gambar-gambar segitiga,
mengubah suatu rencana pemecahan masalah persegipanjang, jajargenjang, trapesium, layang-
menjadi rencana lain yang berbeda. layang, dan belah ketupat. Pada indikator
b. Tahap mengerjakan, Kreativitas siswa SMP yang kebaruan siswa impulsif tidak memenuhi
bergaya kognitif reektif dalam mengerjakan kebaruan. Dan pada indikator eksibilitas siswa
impulsif juga cenderung tidak eksibel.
pemecahan masalah cenderung tinggi. Berdasarkan
c. Tahap memeriksa hasil pekerjaan, Siswa SMP
hasil analisis pada indikator kefasihan siswa yang bergaya kognitif impulsif cenderung tidak
reektif dalam mengerjakan cenderung sangat mengoreksi hasil pemecahan yang telah ditulis
fasih atau mampu membuat bermacam-macam sebelum dikumpulkan, karena ia memeriksa
cara mengerjakan atau cara membuat gambar pekerjaannya ketika menulis jawaban, apabila
(lebih dari dua macam), meliputi: gambar-gambar ada kesalahan langsung diperbaiki pada lembar
segitiga, persegipanjang, jajargenjang, trapesium, jawaban. Dan tidak menunjukkan cara lain,
layang-layang, dan belah ketupat. Pada indikator sehingga tidak memenuhi indikator kreativitas.
kebaruan siswa reektif cenderung sangat baru
atau mampu membuat cara pemecahan masalah Saran
yang berbeda-beda dan betul atau menunjukkan
Berdasarkan hasil penelitian, direkomendasikan
satu cara pemecahan masalah yang tidak biasa
kepada guru, calon guru matematika, pendidik
dilakukan oleh siswa pada usianya. Dan pada
matematika dan peneliti pendidikan matematika,
indikator eksibilitas siswa reektif cenderung
sebagai berikut.
cukup eksibel atau mampu mengubah suatu cara
1. Dikembangkan model pembelajaran matematika
pemecahan/gambar menjadi gambar lain yang
yang memperhatikan gaya kognitif siswa,
berbeda dan betul.
serta meningkatkan kreativitas siswa dalam
c. Tahap memeriksa hasil pekerjaan, Siswa SMP
memecahkan masalah matematika.
yang bergaya kognitif reflektif cenderung
2. Diteliti prol kreativitas pemecahan masalah
mengoreksi hasil pemecahan masalah sebelum
matematika siswa yang memiliki karakteristik
dikumpulkan, cara yang dilakukan adalah
cepat dan cermat/akurat (siswa yang cepat dalam
melihat kembali gambar yang telah dibuat atau
menjawab dan jawabannya cenderung betul)
perhitungan yang telah ditulis, kemudian dihitung
atau siswa yang lambat dan tidak cermat/tidak
kembali. Dan tidak menunjukkan cara lain, serta
akurat (siswa yang lambat dalam menjawab dan
tidak memenuhi indikator kreativitas.
jawabannya cenderung salah).
Prol kreativitas siswa SMP yang bergaya
kognitif impulsif dalam pemecahan masalah
geometri cenderung sangat rendah. DAFTAR RUJUKAN
a. Tahap merencanakan, Kreativitas siswa
SMP yang bergaya kognitif impulsif dalam Kagan, Jerome. 1965. Impulsive and Reflective
merencanakan pemecahan masalah cenderung Children: Significance of Conceptual Tempo.
sangat rendah. Berdasarkan hasil analisis Dalam Krumboltz, J.D (Eds.) Learning and the
pada indikator kefasihan siswa impulsif dalam Educational Process. (hlm 133-161), Chicogo.
merencanakan masalah cenderung fasih atau Rand Mc Nally & Company.
mampu membuat rencana sebanyak dua macam Kogan, Nathan. 1973. Creativity and Cognitive Style:
rencana pemecahan masalah, yaitu menggambar A Life-Span Perspective. Dalam Baltes BB. &
bangun datar dulu, kemudian menentukan
Schaie, KW. (Eds.) Life-Span Developmental
ukuran sisi, dan sebaliknya dan semuanya
betul. Pada indikator kebaruan siswa impulsif Psychology. (hlm 145-178), London. Academic
tidak memenuhi kebaruan. Dan pada indikator Press.
eksibilitas siswa impulsif juga tidak eksibel. Kenny, Robert F. 2007. Digital Narrative as a Change
b. Tahap mengerjakan, Kreativitas siswa Agent to Teach Reading to Media-Centric Students.
SMP yang bergaya kognitif impulsif dalam International Jurnal of Social Sciences. Volume 2
mengerjakan pemecahan masalah cenderung Number 3 Tahun 2007.
rendah. Berdasarkan hasil analisis pada McKinney, James D. 1975. Problem Solving Strategies
indikator kefasihan siswa impulsif dalam in Reective and Impulsive Children. Journal of
mengerjakan cenderung sangat fasih atau mampu Educational Psychology. Vol. 67 No.6 807-820
membuat bermacam-macam cara mengerjakan Moleong, J. Lexy. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif.
atau cara membuat gambar (lebih dari dua
Warli, Kreativitas Siswa SMP yang Bergaya Kognitif Reektif atau Impulsif ... 201

Bandung: Remaja Rosdakarya Offset.


Munandar, S.C. Utami. 1999. Pengembangan Kreativitas
Anak Berbakat. Jakarta. Depdikbud dan Rineka
Cipta.
Orton, Anthony. 1992. Learning Mathematics. Issues,
Theory and Classroom Practice. Second Edition.
Printed and bound in Great Britain by Dotesios
Ltd. Trowbrigde, Wilts.
Polya, G. 1973. How to Solve It. Second Edition.
Princeton, New Jersey: Princeton University Press.
Rozencwajg, Paulette & Corroyer, Denis. 2005. Cognitive
Processes in the Reective-Impulsive Cognitive
Style. The Journal of Genetic Psychology, 2005,
166(4), 451 463.
Silver, Edward A. 1997. Fostering Creativity through
Instruction Risch in Mathematical Problem Solving
and Thingking in Problem Posing. http/www.z.
karlsruhe.de/z/publications/zdm ZDM Vol. 29
(June 1997) Number 3 Electronic Edition ISSN
1615-679X.
Siswono, Tatag YE. 2007. Penjenjangan Kemampuan
Berpikir Kreatif dan Identikasi Tahap Berpikir
Kreatif Siswa dalam Memecahkan dan Mengajukan
Masalah Matematika. Disertasi tidak diterbitkan.
Surabaya. PPs UNESA Surabaya.
Warli. 2009. Proses Berpikir Anak Reflektif dan
Anak Impulsif dalam Memecahkan Masalah
Geometri. Paedagogi. Jurnal Pendidikan dan
Ilmu Pengetahuan. Vol. 5 No. 2 Sept. 2009 ISSN
1693-9689 Hal 40 - 56
Warli. 2010. Kreativitas Pemecahan Masalah Siswa
SMP. Jember. Kadikma. Jurnal Matematika dan
Pendidikan Matematika. Vol. 2, No. 1, April 2010.
ISSN 2085-0662. Hal 110 127.
Warli. 2011. Differences in Creativity Qualities Between
Reflective and Impulsive Students in Solving
Mathematics Problems. Proceedings of The
6th SEAM-UGM Conference 2011 Mathematics
Education, pp 569-670.