Anda di halaman 1dari 21

TUGAS KELOMPOK REKLAMASI

REKLAMASI LAHAN BEKAS TAMBANG EMAS


Dosen Pengampu : Ir. Rini Wahyu Sayekti, MS

disusun oleh :
Yulian Sukma Hidayat (135060400111043)
Kelompok : 7
Nomor Absen : 5
Kelas : C

KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PENGAIRAN
MALANG

TAHUN AJARAN 2016/2017


KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan petunjuk serta rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas kelompok
reklamasi ini.

Penyusunan makalah ini merupakan prasyarat yang harus ditempuh dalam penilaian
serta untuk melengkapi tugas-tugas dalam mata kuliah Reklamasi di Fakultas Teknik Jurusan
Pengairan Universitas Brawijaya Malang.

Tugas kelompok reklamasi ini tentu saja banyak pihak yang turut membantu untuk itu
penyusun ingin berterima kasih kepada :

1. Ibu Ir. Rini Wahyu Sayekti, MS selaku dosen mata kuliah reklamasi serta dosen
pembimbing dalam penyempurnaan tugas kelompok reklamasi ini,
2. Bapak Prof. Dr. Ir. Suhardjono, M.pd, Dipl. HE selaku dosen mata kuliah reklamasi
3. Teman-teman kelompok tugas reklamasi, dan
4. Semua pihak yang telah membantu tersusunnya tugas kelompok reklamasi ini.
kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna sehingga kritik dan saran
sangatlah diharapkan dengan tujuan member masukan untuk kedepannya.

Akhir kata semoga penyusunan makalah reklamasi ini dapat memberikan manfaat bagi
kita semua.

Malang, 19 Mei 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................................... i


Lembar Asistensi ................................................................................................................ ii
Lembar Absensi Asistensi .................................................................................................. iii
Daftar Isi ............................................................................................................................ iv
BAB I Pendahuluan ......................................................................................................... 1
1.1. Definisi Reklamasi Bekas Tambang Emas ................................................................. 1
1.2. Tujuan Reklamasi Bekas Tambang Emas.................................................................... 2
BAB II Lingkup Reklamasi ............................................................................................. 3
2.1. Karakteristik Lahan Bekas Tambang Emas ................................................................ 3
2.2.1. Kondisi Fisik Lahan .......................................................................................... 3
2.2.2. Kondisi Kimia Lahan ........................................................................................ 4
2.2.3. Kondisi Biologi Lahan ...................................................................................... 4
2.2. Permasalahan Pasca Tambang .................................................................................... 5
2.3. Permasalahan Reklamasi Lahan Bekas Tambang Emas .............................................. 5
2.4. Teknik Reklamasi Lahan Bekas Tambang Emas ........................................................ 5
2.5. Tanaman Yang Cocok Untuk Reklamasi Lahan Bekas Tambang Emas .................... 8
2.6. Prosedur Reklamasi Lahan Bekas Tambang Emas ..................................................... 9
2.6.1. Revegetasi Lahan Kritis .................................................................................... 10
2.6.2. Rekonstruksi Lahan Kritis ................................................................................ 12
2.6.3. Pemberian Bahan Organik dan Kimia .............................................................. 13
Daftar Pustaka .................................................................................................................... v
BAB I
Pendahuluan

1.1 Definisi Reklamasi Lahan Bekas Tambang Emas


Reklamasi adalah usaha memperbaiki atau memulihkan kembali lahan dan vegetasi
dalam kawasan hutan yang rusak sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan dan energi agar
dapat berfungsi secara optimal sesuai dengan peruntukannya. (Permenhut Nomor: 146-Kpts-
II-1999).
Reklamasi lahan merupakan kegiatan yang bertujuan memperbaiki atau menata
kegunaan lahan yang terganggu sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan, agar dapat
berfungsi dan berdaya guna sesuai peruntukannya. Reklamasi lahan bekas tambang selain
merupakan upaya untuk memperbaiki kondisi lingkungan pasca tambang, agar menghasilkan
lingkungan ekosistem yang baik dan juga diupayakan lebih baik dibandingkan rona awalnya.
Pertambangan dan reklamasi lahan adalah dua hal yang harus berjalan beriringan. Ketika salah
satu aktivitas dilakukan tanpa diikuti dengan aktivitas lainnya, maka ketidakseimbangan
ekosistem akan terjadi. Reklamasi ini sangat penting dalam rangka mengembalikan kondisi
tanah, selain dilakukan penutupan tambang, juga harus dilakukan pemulihan kawasan bekas
pertambangan.
Reklamasi lahan bekas tambang adalah satu operasi yang mempersiapkan lahan
bekas tambang atau lahan terbuka untuk penggunaan selanjutnya setelah pasca tambang.
Reklamasi ini juga meliputi langkah-langkah menstabilkan lahan bekas tambang dalam
pengertian lingkungan. Jadi reklamasi adalah bagian integral dari rencana total penambangan,
yang berarti reklamasi bukan suatu langkah terpisah yang melengkapi penambangan, tetapi
suatu operasi terpadu yang dimulai dengan rencana awal, dilanjutkan dengan tahap ekstrasi
sampai penggunaan lahan baru setelah pasca penambangan. Tujuan akhir dari rencana
reklamasi lahan bekas tambang adalah untuk meyakinkan bahwa lahan bekas tambang
dikembalikan pada penggunaan yang produktif (Kartosudjono, 1994).

1.2 Tujuan Reklamasi Lahan Bekas Tambang Emas

Tujuan dari reklamasi lahan bekas tambang ini adalah terciptanya lahan bekas tambang
yang kondisinya aman, stabil dan tidak mudah tererosi sehingga dapat dimanfaatkan kembali
sesuai dengan peruntukkannya. (Permenhut Nomor: 146-Kpts-II-1999).
Tujuan kegiatan reklamasi lahan tambang bertujuan untuk memperbaiki ekosistem
lahan eks tambang melalui perbaikan kesuburan tanah dan penanaman lahan di permukaan.
Tujuan lainya adalah agar mampu menjaga agar lahan tidak labil, lebih produktif dan
meningkatkan produktivitas lahan eks tambang tersebut. Akhirnya reklamasi dapat
menghasilkan nilai tambah bagi lingkungan dan menciptakan keadaan yang jauh lebih baik
dibandingkan dengan keadaan sebelumnya pertambangan, kerusakan lingkungan hidup, dan
sebagainya.
BAB II
Lingkup Reklamasi

2.1 Karakteristik Tanah Lahan Bekas Tambang Emas


Penambangan emas menghasilkan sisa pengolahan bahan tambang atau sering disebut
tailing, yaitu berupa bubuk batuan yang berasal dari batuan mineral yang telah digerus
sedemikian rupa hasil pemisahan tembaga, emas dan perak di pabrik pengolahan (Boul 1981).
Sifat fisik tailing yang merupakan masalah bagi pertumbuhan tanaman adalah tekstur, agregasi
dan struktur, densitas dan infiltrasi, kompaksi, daya pegang dan stabilitasnya. Menurut USDA
ukuran partikel tailing relatif kecil dan seragam berupa pasir halus berukuran 0,25-0,10 mm.
Selain itu, sifat kimia tailing seperti status hara yang rendah, kandungan logam berat seperti
Cd, Hg, Pb, As yang dapat menyebabkan kerusakan pada lingkungan (Williamson 1982).
Dalam berbagai upaya yang dilakukan untuk mereklamasi lahan bekas tambang,
maka perlu diketahui berbagai kondisi sifat fisik, kimia dan biologi lahan yang mengalami
kerusakan, sehingga usaha rehabilitasi yang dilakukan dapat berhasil sesuai dengan tujuannya.
2.1.1 Kondisi Fisik Lahan
Profil tanah normal terganggu akibat pengerukan, penimbunan dan pemadatan
alat-alat berat. Hal ini mengakibatkan buruknya sistem tata air dan aerasi yang secara
langsung mempengaruhi fase dan perkembangan akar. Tekstur dan struktur tanah
menjadi rusak sehingga mempengaruhi kapasitas tanah untuk menampung air dan
nutrisi. Lapisan tanah tidak berprofil sempurna, sehingga akan berpengaruh dalam
membangun pertumbuhan tanaman yang kondusif. Pengaruh angin cukup serius
pada permukaan tanah yang tidak stabil, dimana tanah dapat diterbangkan, tertutup
oleh tanah, biji-bijian terbang dan dipindahkan ke areal tumbuh yang tidak diinginkan
(Jordan, 1985).
Bahan material yang digunakan selama pertambangan akan membatasi
infiltrasi air sehingga akan mengurangi produksi asam dan erosi. Lugo (1997)
menyatakan bahwa tanah yang ada pada permukaan tanah yang tidak sempurna
sangat tidak stabil. Akibat pemadatan tanah menyebabkan pada musim kering tanah
menjadi padat dan keras. Pada tanah yang bertekstur padat ini, penyerapan air ke dalam
tanah berlangsung lambat karena pori-pori tanah sangat kecil, sehingga akan
dapat meningkatkan laju aliran air permukaan yang berdampak pada peningkatan laju
erosi. Kondisi tanah yang keras dan padat sangat berat untuk diolah langsung
berdampak pada peningkatan kebutuhan tenaga kerja.
Gambar 2.1 Kondisi Fisik Lahan Bekas Tambang Emas
2.1.2 Kondisi Kimia Lahan
Kondisi kimia lahan bekas pertambangan menunjukkan bahwa kesuburan tanah,
pH dan keberadaan nutrisi dalam tanah rendah, sedangkan keberadaan metal logam berat
tinggi. Logam berat termasuk bahan yang beracun. Logam berat yang banyak di dalam
tailing adalah merkuri (Hg), cadmium (Cd), plumbum (Pb), cuprum (Cu) dan mineral lain
seperti chromium (Cr). Logam berat Pb dan Hg termasuk dalam kategori sangat beracun
untuk makhluk hidup maupun lingkungan. Kedua logam ini merupakan racun yang
terakumulasi (UNEP, 2002). Pada industri pertambangan biasanya logam berat berasal dari
mineral yang ditambang atau sebagai bahan yang digunakan untuk memisahkan mineral
yang ditambang. Logam berat seperti Hg dan Cd ada di lingkungan secara alami dalam
jumlah yang tidak berbahaya karena kedua logam ini merupakan elemen penyusun bumi
dalam berbagai bentuk. Merkuri berada di alam biasanya dalam bentuk senyawa dan
garam-garam anorganik. Toksisitas Hg sangat tergantung dari bentuk kimianya, sehingga
gejala dan tanda-tanda keracunan akan berbeda antara bentuk murni, senyawa merkuri
anorganik dan senyawa organik. Salah satu penyebab pencemaran lingkungan oleh Hg
adalah pembuangan tailing, dari pengolahan emas secara amalgamasi.
Keberadaan unsur hara seperti unsur N dan P yang rendah, reaksi tanah asam atau
alkali merupakan masalah utama. pH tanah yang rendah mengakibatkan menurunnya
persediaan zat makanan seperti P, K, Mg dan Ca yang berakibat cukup berbahaya pada
tingginya suhu tanah. Akibat keasaman tanah yang tinggi dapat menyebabkan :
1. Rusaknya sistem penyerapan unsur P, Ca, Mg dan K oleh tanaman. Kekurangan unsur
P menjadi masalah, karena rendahnya unsur P dalam sisa-sisa penambangan.
2. Terciptanya kondisi biotik yang tidak menguntungkan, seperti rusaknya fiksasi atau
penyerapan unsur N, khususnya pH dibawah 6, memperkuat aktifitas Mycorrhiza,
mengakibatkan kurangnya penyerapan unsur P dan K serta meningkatkan
toksisitas tanah (Jordan, 1985).
2.1.3 Kondisi Biologi Lahan
Terkikisnya lapisan topsoil dan serasah sebagai sumber karbon untuk
menyokong kelangsungan hidup mikroba tanah potensial, merupakan salah satu
penyebab utama menurunnya populasi dan aktifitas mikroba tanah yang berfungsi
penting dalam penyediaan unsur-unsur hara dan secara tidak langsung mempengaruhi
kehidupan tanaman. Rendahnya aktifitas mikroba tanah karena pengaruh berbagai
faktor lingkungan mikroba tersebut, seperti penurunan pH tanah, kelembaban tanah,
kandungan bahan organik, daya pegang tanah terhadap air dan struktur tanah
(Kartasapoetra, 1988). Adanya mikroba tanah sangat potensial dalam perkembangan dan
kelangsungan hidup tanaman.
Aktifitas mikroba tidak hanya terbatas pada penyediaan unsur hara, tetapi juga
berperan dalam mendekomposisi serasah dan secara bertahap dapat memperbaiki sifat
struktur tanah.

2.2 Permasalahan Pasca Tambang


Salah satu bentuk pencemaran akibat tambang emas adalah tailling yang menghasilkan
residu logam berat yang bersifat toksik. Tailling dari penambangan emas mengandung
beberapa jenis logam berat, seperti arsenik, cadmium, merkuri dan timbal pada level yang
tinggi (Pearce 2000; Arets et al. 2006). Selain itu, lahan-lahan bekas pertambangan jika tidak
direhabilitasi akan menjadi kubangan raksasa, hamparan tanah yang gersang yang bersifat
asam atau alkali.
Kerusakan lingkungan tersebut terjadi karena sistem operasional yang tidak ramah
lingkungan dan upaya reklamasi yang tidak tepat.
Gambar 2.2 Kondisi Jelang Penutupan Tambang Emas PT Newmont Minahasa Raya

Gambar 2.3 Kondisi Daerah Pabrik Pengolahan Tambang Emas PT Newmont Minahasa Raya

2.3 Permasalahan Reklamasi Lahan Bekas Tambang Emas

Kendala utama dalam melakukan aktivitas revegetasi pada lahan-lahan terbuka pasca
penambangan emas adalah kondisi lahan yang tidak mendukung (marginal) bagi pertumbuhan
tanaman. Kondisi ini secara langsung akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Untuk
mengatasi masalah ini, maka sifat-sifat fisik, kimia dan biologi tanah terlebih dahulu perlu
diketahui, sehingga penanganannya (soil amandement) dapat dengan tepat bisa dilakukan
(Green Earth Trainer 2007). Kondisi tanah yang kompak karena pemadatan dapat
menyebabkan buruknya sistem tata air (water infiltration and percolation) dan aerasi (peredaran
udara) yang secara langsung dapat berdampak negatif terhadap fungsi dan perkembangan akar.
Akar tidak dapat berkembang dengan sempurna dan fungsinya sebagai alat absorpsi unsur hara
akan terganggu. Akibatnya tanaman tidak dapat berkembang dengan normal, tetapi
pertumbuhannya tetap kerdil dan merana (Green Earth Trainer 2007).

2.4 Teknik Reklamasi Lahan Bekas Tambang Emas

Tahap awal yang perlu dilakukan dalam mengelola area tailing adalah menganalisa
tanah (tailing) yang akan diremediasi, untuk mengetahui adatidaknya bahan toksik dan jenis
logam berat yang ada. Sehingga akan dapat dilakukan fitoremediasi. Tahap berikutnya adalah
dengan memberikan pupuk organik (pupuk kandang, biosolid, pupuk hijau) untuk
memperbaiki sifat fisik tanah dan untuk kesuburan tanah serta meningkatkan aktivitas mikroba.
Kebutuhan pupuk organik akan sangat tinggi, untuk memastikan bahwa tanaman akan tumbuh
dengan baik. Pengapuran diperlukan untuk tailing, bila diperlukan dalam usaha meningkatkan
pH, atau sebagai sumber kalsium. Tahap selanjutnya adalah pemilihan jenis tanaman yang akan
ditanam, karena tidak semua tanaman dapat tumbuh pada tailing.
Fitoremediasi adalah salah satu teknologi yang menggunakan tumbuhan untuk
menghilangkan polutan dari tanah dan air yang terkontaminasi (Pivetz 2001; Juhaeti et al.
2005). Keunggulan sistem fitoremediasi adalah ramah lingkungan, murah dan dapat dilakukan
secara in situ (Purwantari 2007). Teknologi fitoremediasi merupakan perbaikan metode
konvensional yang hanya memindahkan polutan dari satu tempat ke tempat lain. Terdapat
beberapa mekanisme fitoremediasi, di antaranya adalah fitoekstraksi, fitotransformasi dan
fitostabilisasi (Vidali 2001). Fitoekstrasi adalah proses tumbuhan dalam mengakumulasi
polutan ke dalam akar dan bagian atas tanaman yang akan terjadi bila kontaminan seperti logam
berat dalam bentuk tersedia. Fitotransformasi adalah proses penghancuran polutan oleh enzim
yang dihasilkan tumbuhan.
PT. Newmont Minahasa Raya (PT. NMR) adalah perusahaan pertambangan emas yang
mulai menjalankan aktivitasnya pada tahun 1984 dan mengakhiri operasi tambang pada tahun
2004. Kawasan eks tambang PT. NMR sekitar 221 Ha yang terletak di Resort Pemangkuan
Hutan Ratatotok Kabupten Minahasa telah direhabilitasi selama tahun 1996-2010 dan kini
dipenuhi oleh beragam jenis tegakan yang membentuk ekosistem hutan sekunder. Upaya
reklamasi PT. NMR dinilai berhasil oleh Kementerian Kehutanan berdasarkan beberapa
kriteria termasuk kondisi tanah dan air yang baik. Pembebasan kondisi kimia tanah dari unsur
logam berat tidak lepas dari teknologi fitoremediasi melalui berbagai jenis tanaman reklamasi
Analisis kandungan unsur logam berat berupa arsenik (As) dan merkuri (Hg) dilakukan
di Laboratorium Kimia Tanah Balai Penelitian Tanah Kementerian Pertanian. Laboratorium
ini telah terakreditasi sebagai laboratorium penguji berdasarkan SNI 19-17025-2000 yang
dikeluarkan oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) Badan Standarisasi Nasional. Unsur As
dan Hg menjadi bahan kimia bersifat toksik yang digunakan dalam operasional tambang PT.
NMR (Kojansow 2014, komunikasi pribadi). Analisis fisik tanah dilakukan pada beberapa
aspek, meliputi kedalaman, warna, dan tekstur. Sedangkan kajian kimia tanah dilakukan
dengan penilaian tingkat kesuburan melalui interpretasi sifat dan karakteristik tanah meliputi
nilai pH, C-organik, Kapasitas Tukar Kation (KTK), dan Kejenuhan Basa (KB). Sedangkan
tingkat kualitas tanah dilakukan dengan analisis kandungan logam berat seperti arsenik (As)
dan merkuri (Hg).

Gambar 2.4 Lokasi Reklamasi Eks Tambang Emas PT NMR

Kondisi lahan Berdasarkan hasil analisis sifat fisiknya, tanah di kedua lokasi penelitian
dapat dikelompokkan menjadi tanah lempung liat berpasir (L>30%) dan warna cokelat/merah
terang (Tabel 1). Sementara analisis kesuburan tanah menunjukkan bahwa kesuburan alami
yang tinggi karena memiliki nilai KTK>16 meq/100g. Pada umumnya, nilai kemasaman (pH)
tanah berada pada nilai sekitar netral. Hasil analisis kandungan logam berat menunjukkan
bahwa kandungan arsenik (As) dan merkuri (Hg) umumnya berada di bawah batas angka baku
mutu (0,5 ppm dan 5 ppb). Blok Lokasi 1 pada kedalaman 39-60 cm memiliki kadar As dalam
tanah di atas ambang baku mutu yakni 1 ppm.
Untuk merubah lahan tailing menjadi lebih produktif banyak teknologi yang tersedia
antara lain penggunaan pupuk kandang, kompos, mulch (serasah), biosolid, pupuk kimia,
penggunaan mikroba seperti rhizobium, mikoriza. Penggunaan biosolid telah dilaporkan
memberikan sumber bahan organik untuk memperbaiki fisik, kimia dan mensuplai nutrien dan
energi untuk kehidupan yang ada di tailing (BROERSMA, 2003). SPRENGER et al. (2003)
melaporkan bahwa biosolid sangat efektif digunakan pada area yang luas dalam reklamasi
tailing yang banyak mengandung mineral Zn, Cu dan logam berat Cd, Sn (timah) dengan
mempercepat pembentukan mikroba dan komunitas tanaman, dengan berkurangnya unsur-
unsur tersebut di atas.
2.5 Tanaman Yang Cocok Untuk Reklamasi Lahan Bekas Tambang Emas
Keberhasilan sistem fitoremediasi ditentuan oleh jenis tumbuhan, iklim, dan kondisi
tailling (Sarma 2011; Purwantari 2007). Setiap suku, marga atau bahkan jenis memiliki
kemampuan yang berbeda dalam menyerap unsur logam berat dalam tanah atau air. Jenis
tanaman sebaiknya tanaman yang cepat tumbuh, mempunyai kemampuan mengikat nitrogen
udara, sehingga diharapkan tanaman mampu menyediakan unsur nitrogen sendiri untuk
pertumbuhannya. Selain itu, kemampuan tumbuhan untuk beradaptasi terhadap kondisi habitat
sangat penting dalam menunjang fungsi remediasi lingkungan yang tercemar. Kondisi tanah
yang relatif subur sangat mendukung pertumbuhan vegetasi di atasnya. Tutupan vegetasi pada
lapisan atas didominasi oleh jenis-jenis tumbuhan reklamasi, yaitu :
1. mahoni (Swietenia macrophylla),
2. gamal (Gliricidia maculata),
3. lamtoro (Leucena leucochepala),
4. sengon buto (Enterolobium cyclocarpum),
5. sirihan (Piper aduncum),
6. tutup (Melanolepis munglandulosa),
7. jati (Tectona grandis),
8. kenari (Canarium hirsutum),
9. nyatoh (Palaquium obovatum),
10. tapen (Mallotus floribundus),
11. kaliandra (Calliandra tortuosa).
Sementara pada lapisan bawah terdiri atas beberapa jenis anakan pohon, jenis pakupakuan
dan rerumputan yang pada mulanya ditanam kemudian dibiarkan tumbuh secara alami.

Jenis fitoremediasi Terdapat 22 jenis tumbuhan bawah yang ditemukan, namun hanya 16 jenis
yang memiliki potensi tinggi sebagai hiperakumulator unsur logam berat As dan Hg. Jenis paku
laut (Acrostichum speciosum) (INP=25,53%), paku sepat (Nephrolepis falcata)
(INP=22,60%), dan paku pedang (Nephrolepis exaltata) (INP=22,09%) merupakan 3 jenis
dominan di lokasi (Tabel 2). Sementara kandungan As dan Hg tertinggi terdapat pada teki badot
(Cyperus kyllingia) (As=1,93ppm; Hg=126ppb), Pteris biaurita (As=1,07ppm; Hg=96ppb),
dan jotang hurna (Spilanthes ocymifolia) (As=0,30; Hg=126ppb). Lebih rinci lagi dapat
dikatakan bahwa Pteris biaurita sebagai fitoremediator untuk As dan Hg, sedangkan
fitoremediator khusus yaitu teki badot untuk As dan jotang hurna untuk Hg. Akan tetapi pada
skala ekosistem setempat ketiga jenis tersebut tidak dapat mengakumulasi logam berat lebih
tinggi dibandingkan paku laut, paku sepat, dan paku pedang.
Tahun 2002 Tahun 2003

Tahun 2005 Tahun 2011

Tahun 2012 Tahun 2015

Gambar 2.5 Tahapan Reklamasi Eks Tambang Emas PT NMR

2.6 Prosedur Reklamasi Lahan Bekas Tambang Emas


Upaya yang dapat dilakukan untuk merestorasi suatu ekosistem yang telah rusak
akibat kegiatan pertambangan emas tergantung pada tingkat kerusakan yang terjadi pada
lahan dan ketersediaan sumberdaya untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Pada lahan
bekas tambang diperkirakan sangat sedikit mengandung bahan-bahan organik dan aktifitas
mikroba tanah. Lahan tersebut dalam kondisi terbuka dan tidak ada vegetasi yang tumbuh
diatasnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa intensitas gangguan yang terjadi tergolong
berat dengan ukuran besar dan gangguan berjangka panjang.
Disinilah peran kaidah ekologi dalam rangka merestorasi ekosistem rusak pasca
tambang. Dalam makalah ini dibahas upaya-upaya dalam rangka pemulihan secara fisik,
kimia dan biologi lahan-lahan kritis pasca tambang.
2.6.1 Revegetasi Lahan Kritis
Dengan memperhatikan berbagi kendala yang ada pada lahan-lahan kritis pasca
tambang, maka perlu dilakukan upaya revegetasi lahan kritis dengan cara :
1. Fitoremediasi
adalah salah satu teknologi yang menggunakan tanaman untuk menghilangkan
(memindahkan) kontaminan dari tanah dan air (U.S. EPA, 1999; PIVETZ, 2001). Dalam
usaha penggunaan cara fitoremediasi untuk meremedi suatu lingkungan yang tercemar
diperlukan pemahaman proses yang terjadi, pemilihan tanaman dan usaha yang harus
dilakukan agar tanaman tumbuh. Fitoremediasi memerlukan komitmen sumber daya dan
waktu, walau begitu memerlukan biaya yang relatif murah, ramah lingkungan dibandingkan
dengan teknologi konvensional (PIVETZ, 2001). Ada beberapa mekanisme fitoremediasi
yaitu :
a. fitoekstraksi
Fitoekstrasi atau fitoakumulasi adalah proses yang digunakan oleh tanaman
untuk mengakumulasikan kontaminan ke dalam akar dan bagian atas tanaman atau
daun. Fitoekstraksi akan terjadi bila kontaminan seperti logam berat dalam bentuk
tersedia. Ketersediaan kontaminan terserap oleh tanaman tergantung dari solubilitas
logam dalam larutan tanah, hanya logam dalam bentuk ion bebas, logam komplek dan
metal yang terserap oleh unsur inorganik tanah pada lokasi pertukaran ion (TESSIER
et al., 1979). Fitoekstraksi terjadi di zona perakaran (root zone) dari tanaman. Tipikal
zona perakaran adalah relatif dangkal, dimana biomasa (bulk) dari akar berada. Kondisi
ini merupakan faktor pembatas dari fitoekstraksi.
b. fitotransformasi (fitodegradasi, rizodegradasi)
Fitotransformasi atau fitodegradasi adalah proses pengrusakan/penghancuran
kontaminan yang ada, mekanismenya adalah pendegradasian kontaminan di dalam
tanah, sedimen, sludge, air tanah atau air permukaan oleh enzim yang diproduksi dan
dilepaskan tanaman. Jenis kontaminan yang dapat dihilangkan melalui mekanisme
fitodegradasi antara lain senyawa organik, seperti Trinitrotoluen (TNT) (THOMPSON
et al., 1998), herbisida (BURKEN dan SCHNOOR, 1997), insektisida, hara anorganik.
Rhizodegradasi adalah teknik dimana kontaminan dipecah oleh aktivitas mikroba di
dalam rhizosphere (daerah di sekitar akar tanaman). Aktivitas ini disebabkan oleh
keberadaan protein dan enzim yang diproduksi oleh tanaman atau mikroba tanah seperti
bakteria, yeast dan fungi. Penggunaan rhizobakteria tertentu telah dimanfaatkan untuk
mengatur terjadinya akumulasi kadmium pada bagian tanaman yang tidak dikonsumsi
(SRI SUMARSIH, 2003).
c. fitostabilisasi dan fitofiltrasi
Fitostabilisasi adalah teknik dimana tanaman mempunyai kemampuan untuk
mengurangi sifat bergerak dan berpindah tempat dari kontaminan yang ada di tanah,
sedimen atau sludge. Logam di daerah perakaran dapat distabilkan dengan merubah
bentuk dari senyawa dapat larut menjadi tidak larut oleh proses oksidasi, melalui
pengendapan di akar tanaman. Sebagai contoh, akar dapat merupakan tempat terjadinya
pengendapan timah dalam bentuk yang tidak larut seperti timah fosfat (SALT et al.,
1995). Pada teknik ini, kontaminan dapat dikurangi melalui penyerapan maupun
pengikatan di akar.
Keunggulan sistem fitoremediasi disamping ramah lingkungan juga murah dan
dapat dilakukan in situ. Kelemahan sistem ini adalah memerlukan waktu yang cukup
lama dan memerlukan pupuk yang banyak untuk menjaga kesuburan tanah sehingga
tanaman dapat tumbuh dengan baik (SALT et al., 1995). Dari uraian di atas, apabila
suatu tanaman tidak mengakumulasi suatu logam berat yang berada di tailing maka
polutan (logam berat) tersebut masih berada dalam lingkungan, dapat dalam bentuk
teroksidasi yang sudah kurang toksis atau dalam bentuk tidak mudah bergerak.
2. Pemilihan jenis tanaman untuk fitoremediasi
Pemilihan jenis tanaman yang tepat sangat krusial untuk keberhasilan fitoremediasi
yang akan dilakukan. Faktor lain adalah iklim, kondisi tailing (tanah) sangat mempengaruhi
pertumbuhan tanaman yang akan digunakan. Jenis tanaman sebaiknya tanaman yang cepat
tumbuh, mempunyai kemampuan mengikat nitrogen udara, sehingga diharapkan tanaman
mampu menyediakan unsur nitrogen sendiri untuk pertumbuhannya. Dalam hal ini,
inokulasi dengan mikroba yang tepat sangat disarankan. Tipe fitoremediasi juga merupakan
faktor yang perlu dipertimbangkan untuk keberhasilan re-vegetasi di area tailing. Di
beberapa lokasi pertambangan terutama di area tailing dapat ditemukan tanaman asli yang
tumbuh liar dan beradaptasi dengan baik pada lingkungannya. Tanaman-tanaman tersebut
dapat merupakan indikasi awal untuk dapat digunakan sebagai usaha re-vegetasi
2.6.2 Rekonstruksi Lahan
Pada tahap ini dilakukan perbaikan kondisi tanah dengan operasi mekanis.
Permukaan tanah dikupas oleh kotak pengikis, kemudian lapisan berikutnya oleh kotak
pengikis lainnya atau oleh ember eksavator dan pengantar lain dengan coveyor belt
(Bradshaw, 1983), kemudian memperbaiki alur-alur tanah yang rusak dengan cara
menimbunnya dan menumbuhkan rumput-rumputan diatasnya. Selanjutnya dibuat lubang
tanam sesuai dengan ukuran yang tepat tergantung kondisi tanah. Pada lubang tanam tersebut
dilakukan pemberian bahan organik, pemberian pupuk dan pengapuran. Dilakukan pula
pengaturan drainase untuk memperbaiki kondisi air tanah, sehingga dapat meningkatkan
kelembaban tanah, menurunkan penguapan dan akan memperbaiki keadaan pertumbuhan
tanaman. Bagi tanah-tanah yang kemiringannya agak besar pengolahan tanah harus
pula mencakup pembuatan terrasering.
Dalam tahapan pengolahan tanah ada beberapa kegiatan yang perlu dilakukan dalam
upaya memulihkan kembali kondisi lahan. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah sebagai
berikut :
1. Pembuatan Terrasering
Pada lahan-lahan kritis pasca tambang yang terdapat pada kelerengan tertentu, Perlu
dibuat terrasering dalam upaya pengelolaannya untuk revegetasi. Teras lapangan
pada tanah-tanah berlereng adalah merupakan tanggul tanah yang dibuat sesuai dengan
keadaan tanah dan kemiringannya untuk mengendalikan aliran air permukaan.
Terutama sekali dirancang untuk pengendalian run off di daerah yang curah hujannya
tinggi dan bagi pengawetan di daerah yang curah hujannya rendah, mengingat kondisi
fisik lahan pasca tambang yang rusak.
Beberapa macam terrasering yang dibuat disesuaikan dengan kemiringan dan
panjang lereng tanah, adalah sebagai berikut :
a. Bench terrace (teras bangku) untuk mengendalikan pengikisan tanah khususnya
pada lapisan tanah topsoil.
b. Graded terrace (teras berlereng) untuk menahan run off agar tidak erosif
c. Level terrace (teras datar) untuk menahan dan mengawetkan air hujan pada
Daerah-daerah dengan curah hujan rendah.
2. Pembuatan Drainase
Saluran drainase yang alami seperti galur-galur, parit dan selokan juga
berperan dalam pembuangan tanah-tanah yang diteras. Disamping itu berperan dalam
mempertahankan kondisi tanah yang telah diperbaiki pada lahan-lahan pasca
tambang.
Apabila tidak terdapat saluran air alami pada lokasi pasca tambang ini, maka perlu
dibuat rorak (silt pit) yang berfungsi untuk menampung aliran air permukaan, sehingga
menghambat laju aliran air. Infiltrasi air memungkinkan pula tersedianya air dalam tanah
bagi kepentingan vegetasi, selain itu dapat pula memperbaiki tata udara tanah. Ukuran
rorak yang baik yaitu panjang 3-5 m, lebar 20-50 cm dan ukuran dalamnya 50 cm.
Rorak tersebut sebaiknya diisi dengan serasah tanaman agar serasah dapat berubah menjadi
humus dan dapat mempertahankan kelembaban tanah (Kartasapoetra, 1988).
2.6.3 Pemberian Bahan Organik dan Kimia
1. Pemupukan
Pemupukan dengan bahan organik maupun bahan anorganik dapat
meningkatkan usaha penanaman kembali pada rehabilitasi lahan-lahan kritis pasca
tambang. Hal ini disebabkan karena kebanyakan sisa penambangan mengandung unsur
nitrogen dan fosfor yang rendah dan proses penanaman kembali umumnya
membutuhkan tambahan zat makanan sesering mungkin sampai terkumpulnya bahan
organik yang cukup.
Pemupukan biasanya dilakukan pada awal penanaman bersamaan dengan
pembuatan lubang tanam sebagi pemupukan dasar, maupun pada tahap pemeliharaan
sebagai pupuk susulan. Pemberian pupuk dasar pada lahan-lahan kritis pasca Tambang
mutlak diperlukan. Pemupukan dasar umumnya terdiri dari pupuk anorganik yang
dikombinasi dengan pupuk organik dengan dosis yang tepat dan diberikan pada setiap
lubang tanam. Guna mendapat hasil yang baik, maka pupuk perlu dicampur secara
merata pada semua isi lubang tanam 1-2 minggu sebelum penanaman dilakukan.
2. Pengapuran
Jika tanah di sekitar lubang tanam masam (pH < 5) maka diperlukan
pengapuran. Dengan dilakukan pengapuran senyawa-senyawa kalsium, maka
2+
kompleks adsorpsi tanah akan terisi dengan kation-kation Ca sehingga pH tanah yang
semula asam akan berubah menjadi lebih tinggi sampai akhirnya mendekati netral,
karena kelebihan ion H+ dalam larutan tanah dinetralisir dengan ion-ion OH-menjadi air
(H2O).
Dosis bahan pengapur untuk menaikkan pH tanah tentunya bervariasi sesuai
dengan sifat dan jenis tanah yang diberi pengapuran.
Tabel 3.Jumlah Bahan Pengapur Yang Diperlukan Untuk Menaikkan pH Tanah
(Martin et al, 1976)
Tipe Tanah Kebutuhan bahan pengapur (ton/acre) 1
Daerah dingin dan sedang 2 Daerah panas dan tropis 3
pH 4,5 5,5 pH 5,5 6,5 pH 4,5 5,5 pH 5,5 6,5
Pasir, pasir 0,5 0,6 0,3 0,4
berlempung
Lempung 0,8 1,3 0,5 0,7
berpasir
Lempung 1,2 1,7 0,8 1,0
Lempung 1,5 2,0 1,2 1,4
berdebu
Liat 1,9 2,3 1,5 2,0
Berlempung

Keterangan : 1). 1 acre = 0,4046 ha


2). Jenis tanah podsol kelabu atau coklat
3). Laterit merah atau kuning
Berdasarkan tabel di atas, tiap-tiap tipe tanah memerlukan jumlah bahan
pengapur yang berbeda untuk menaikan nilai pH. Ketahanan bahan pengapur
dalam memperbaiki pH tanah tergantung pada intensif tidaknya proses pencucian
yang terjadi.
3. Pemakaian Mulsa
Pemakaian mulsa dianjurkan untuk menjaga stabilitas tanah sementara pada saat
sebelum penanaman vegetasi. Hal ini disebabkan karena kandungan bahan organik
tanah pada lahan pasca tambang yang sangat kurang akan mempengaruhi
produktivitas lahan tersebut, khususnya pada lahan-lahan yang miring. Oleh karena itu
pemakaian mulsa sangat dianjurkan selain pemakaian pupuk dan pengapuran, karena
memberikan beberapa keuntungan sebagai berikut :
1. Melindungi agregat tanah
2. Mengurangi kecepatan dan volume aliran permukaan
3. Meningkatkan agregasi dan porositas tanah
4. Meningkatkan kandungan bahan organik tanah
5. Memelihara temperatur dan kelembaban tanah.
Dalam pemilihan pemakaian mulsa disesuaikan dengan kondisi tanah yang ada.
Suwardjo dan Arsjad (1981) telah berhasil membuktikan bahwa pemakaian mulsa
yang agak sukar lapuk (C/N ratio >) seperti jerami padi dan batang jagung akan
memberikan perlindungan yang lebih baik jika dibandingkan dengan pemakaian mulsa
yang mudah lapuk (C/N ratio <).
Cara penempatan bahan mulsa dengan disebar merata dimaksudkan untuk
memperoleh efektivitas penutupan paling tinggi, sehingga dapat melindungi
permukaan tanah dan mengurangi aliran permukaan. Penempatan mulsa dapat
dilakukan pula dalam jalur untuk mengendalikan kelembaban tanah. Cara ini
dimaksud untuk mensuplai air dalam tanah.
DAFTAR PUSTAKA

- Purwantari, N.D. 2007. Reklamasi Area Tailing Di Pertambangan Dengan Tanaman


Pakan Ternak, Mungkinkah?. Bogor : Wartazoa, Volume 17,No. 3. Diambil dari :
peternakan.litbang.pertanian.go.id/fullteks/wartazoa/wazo173-1.pdf
- Purnomo DW, Magandhi M, Helmanto H, Witono JR. 2015. Jenis-jenis Tumbuhan
Reklamasi Potensial Untuk Fitoremediasi Di Kawasan Bekas Tambang Emas. Pros Sem
Nas Masy Biodiv Indon 1: 496-500. Diambil dari :
biodiversitas.mipa.uns.ac.id/M/M0103/M010320.pdf
- Pattimahu, Debby V. 30 Desember 2004. Restorasi Lahan Kritis Pasca Tambang Sesuai
Kaidah Ekologi. Bogor : Institut Pertanian Bogor.
- Fauziah, Atu Badariah. 2009. Pengaruh Asam Humat Dan Kompos Aktif Untuk
Memperbaiki Sifat Tailing Dengan Indikator Pertumbuhan Tinggi Semai. Bogor : Institut
Pertanian Bogor