Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM FORMULASI & TEKNOLOGI SEDIIAN STERIL

PERCOBAAN V :
PEMBUATAN SEDIAAN TETES MATA NEOMISIN

disusun oleh :

kelompok K-5

Ratih Wirdia Ningsih (1041411123)


Ruru Awana Nurasadi (1041411133)
Sema Rachmawati (1041411139)
Dewi Sukma Sari (1041411163)
Risna Novita (1041511151)

PROGRAM S1
SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI
YAYASAN PHARMASI
SEMARANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Mata merupakan organ yang peka dan penting dalam kehidupan, terletak dalam
lingkaran bertulang berfungsi untuk memberi perlindungan maksimal dan sebagai pertahanan
yang baik dan kokoh. Penyakit mata dapat dibagi menjadi 4 yaitu, infeksi mata, iritasi mata,
mata memar danglaucoma. Mata mempunyai pertahanan terhadap infeksi karena secret mata
mengandung enzim lisozim yang menyebabkan lisis pada bakteri dandapat membantu
mengeleminasi organism dari mata. Obat mata dikenal terdiri atas beberapa bentuk sediaan
dan mempunyai mekanisme kerja tertentu. Obat mata dibuat khusus. Salah satu sediaan mata
adalah obat tetes mata.
Obat tetes mata ini merupakan obat yang berupa larutan atau suspensi steril yang
digunakan secara local pada mata.Yang dimaksudkan sebagai obat tetes mata (opthalmika)
adalah tetes mata (oculoguttae), salep mata (oculenta), pencuci mata (collyria) dan beberapa
bentuk pemakaian khusus (lamela dan penyemprot mata) serta insertese bagai bentuk depo,
yang ditentukan untuk digunakan padamata utuh atau terluka. Obat mata digunakan untuk
menghasilkan efek diagnostik dan terapetik lokal, dan yang lain untuk merealisasikan kerja
farmakologis, yang terjadi setelah berlangsungnya penetrasi bahan obat, dalam jaringan yang
umumnya disekitar mata. Mata merupakan organ yang paling peka dari manusia, sehingga
sediaan obat mata mensyaratkan kualitas yang lebih tajam. Tetes mata harus efektif dan
tersatukan secara fisiologis (bebas rasa nyeri, tidak merangsang) dan steril. (Voight, 1995).

1.2Tujuan
Tujuan praktikum ini yaitu agar mahasiswa mampu membuat formulasi dan mengetahui
proses pembuatan sediaan tetes mata Neomisin Sulfat serta melakukan evaluasi sediaan tetes
mata Neomisin Sulfat.
BAB 2
DASAR TEORI

Obat tetes mata (Guttae Opthalmicae) adalah sediaan steril berupa larutan atau
suspensi, digunakan untuk mata, dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata
disekitar kelopak mata dan bola mata. Tetes mata berair umumnya dibuat menggunakan
cairan pembawa berair yang mengandung zat pengawet terutama fenilraksa (II) nitrat atau
fenilraksa (II) asetat 0,002% b/v, benzalkonium klorida 0,01% b/v atau klorheksidina asetat
0,01% b/v, yang pemilihannya didasarkan atas ketercampuran zat pengawet terhadap obat
yang terkandung di dalamnya selama watu tetes mata itu dimungkinkan untuk digunakan.
Tetes mata berupa larutan harus jernih, bebas zat asing, serat dan benang. (Depkes RI, 1979).
Obat mata pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu Obat cuci mata
(collyria), Obat tetes mata ( guttae opthalmicae) dan Salep mata. Untuk pembuatan obat mata
ini perlu diperhatikan mengenai kebersihannya, pH yang stabil, dan mempunyai tekanan
osmose yang sama dengan tekanan osmose darah. Pada pembuatan obat cuci mata tak perlu
disterilkan, sedangkan pada pembuatan obat tetes mata harus disterilkan. (Anief, 1999)
Pada dasarnya sebagai obat mata biasanya dipakai :
1. Bahan-bahan yang bersifat antiseptika (dapat memusnahkan kuman-kuman pada selaput
lendir mata), misalnya asam borat, protargol, kloramfenikol, basitrasina, dan sebagainya.
2. Bahan-bahan yang bersifat mengecutkan selaput lendir mata (adstringentia), misalnya
seng sulfat. (Anief,1999)
Neomisin sulfat adalah campuran garam sulfat antimikroba yang dihasilkan oleh
biakan pilihan Streptomyces fradiae. Mengandung neomisin sulfat tidak kurang dari jumlah
yang setara dengan 60,0% neomisin, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemerian
serbuk putih atau putihkekuningan, hampir tidak berbau, higroskopik. Keasaman-kebasaan
pH larutan3,3% b/v adalah 5-7,5. Penyimpanan dalam wadah tertutup baik, terlindung dari
cahaya, pada suhu tidak lebih dari 30oC. Penandaan pada etiket harus tertera jumlah UI per
mg dalam wadah dan waktu daluwarsa. Khasiat dan penggunaan adalah sebagai antibiotikum.
(Depkes RI, 1979).
Sterilisasi yang paling umum dilakukan dapat berupa sterilisasi secarafisik
(pemanasan, penggunaan sinar gelombang pendek yang dapat dilakukan selama senyawa
kimia yang akan disterilkan tidak akan berubah atau terurai akibat temperatur atau tekanan
tinggi). Dengan udara panas, dipergunakan alat bejana/ruang panas (oven dengan
temperatur 170-180oC dan waktu yang digunakan adalah 2 jam yang umumnya untuk
peralatan gelas). Sterilisasi secara kimia (misalnya dengan penggunaan disinfektan, larutan
alkohol, larutan formalin). Sterilisasi secara makanik, digunakan untuk beberapa bahan yang
akibat pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan, misalnya adalah
dengan saringan/filter. Sistem kerja filter, seperti pada saringan adalah melakukan seleksi
terhadap pertikel-partikel yang lewat (dalam hal iniadalah mikroba). (Suriawiria, 2005).
BAB III
PRA FORMULASI

3.1 Tinjauan Farmakologi Zat Aktif Neomisin Sulfat


a. Efek Utama
Neomisin Sulfat merupakan antibiotik aminoglikosida yang digunakan untuk terapi
topikal dalam pengobatan infeksi bakteri pada kulit, telinga dan mata. Penggunaan
sebagai antibiotik pada infeksi mata biasanya 0,35 % dan 0,5 % (Sweetman, 2009).
b. Efek Samping
Sensitisasi alergika, infeksi sekunder, peningkatan tekanan dalam mata dengan
kemungkinan glaukoma, kerusakan syaraf mata tidak sering terjadi, bentuk katarak
subkapsular posterior, memperlambat penyembuhan luka (Medicastore, 2013).
c. Kontra Indikasi
Infeksi mikrobakterial pada mata, penyakit pada struktur mata yang disebabkan oleh
jamur, setelah pengangkatan benda asing pada kornea tanpa disertai komplikasi, penyakit
virus pada kornea dan konjungtiva (Medicastore, 2013)

3.2Tinjauan Sifat Fisika Kimia Zat Aktif Neomisin Sulfat


a. Kelarutan
Mudah larut dalam 3 bagian air, dalam 1 bagian air larut perlahan-lahan, sangat sukar larut
dalam etanol (95%) P, praktis tidak larut dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam aseton P
(Depkes RI, 1979).
b.Stabilitas
Kurang stabil terhadap cahaya dalam penyimpanan, tidak stabil pada suhu lebih dari 30oC,
peka terhadap oksidasi udara, dapat di panaskan pada suhu 110C selama 10 jam tanpa
kehilangan potensinya meskipun terjadi perubahan warna, stabil pada pH 5-7,5 (Depkes RI,
1979).
c. Inkompatibilitas
Tidak bercampur dengan substansi anionik dalam larutan, bisa menimbulkan endapan, juga
pada krim yang mengandung Na laurilsulfat. Tidak bercampur dengan garam cephalotin dan
garam novobiocin (Sweetman, 2009).
d. Cara Sterilisasi
Sterilisasi cara A : Pemanasan dalam otoklaf. Sediaan yang akan disterilkan diisikan ke
dalam wadah yang cocok, kemudian ditutup kedap. Jika volume dalam tiap wadah tidak lebih
dari 100 mL, sterilisasi dilakukan dengan uap air jenuh pada suhu 115-116o C selama 30
menit (Depkes RI, 1979).
e. Cara Penggunaan dan Dosis Sediaan tetes mata :
-Infeksi berat : 1-2 tetes tiap 1 jam
-Infeksi ringan : 1-2 tetes sebanyak 4-6 kali dalam sehari (Sweetman, 2009)

3.3 Tinjauan Sifat Fisika Kimia Zat Tambahan

3.3.1 BenzalkoniumKlorida

(Hand Book of Pharmaceutical Excipient, hal.27)

Pemerian : Serbuk amorf berwarna putih atau putih kekuning-kuningan bisa sebagai gel
yang tebal atau seperti gelatin, bersifat higroskopis dan berbau aromatis dan rasa sangat pahit.

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan etanol 95%, bentuk anhidrat mudah larut
dalam benzen dan agak sukar larut dalam eter.

OTT : aluminium, surfaktananionik, sitrat, kapas, fluoresin, H2O2, HPMC, iodide,


kaolin, lanolin, nitrat.

Stabilitas : bersifat higroskopis dan mungkin dipengaruhi oleh cahaya, udara dan bahan
logam. Larutannya stabil pada rentang pH dan rentang temperatur yang lebar. Larutannya
dapat disimpan pada periode waktu yang lama dalam suhu kamar.

Konsentrasi : dalamsediaanpreparat mata, benzalkonium klorida digunakan sebagai


pengawet dengan konsentrasi 0,01%-0,02%, biasanya dikombinasi dengan 0,1%w/v
disodium edetat.

Kegunaan : pengawet, antimikroba.

Sterilisasi : autoklaf

Ph : 5-8 untuk 10%w/v larutan


Wadah : tertutup rapat dan terhindar dari cahaya.

3.3.2 NatriumEdetat

(Hand Book of Pharmaceutical Excipient hal 178)

Pemerian : Serbuk kristal putih tidak berbau dengan sedikit rasa asam.

Kelarutan : Larut dalam air (1:11), Praktis tidak larut dalam kloroform dan eter, larut
dalam etanol (95%).

pH : 4,3-4,7 dalam larutan 1% air bebas CO2.

Kegunaan : Untuk mencegah kontaminasi dengan logam.

Stabilitas : Sangat higroskopis dan harus dilindungi dari kelembaban.

OTT : dengan pengoksidasi kuat, dan ion logam polifalen seperti tembaga, nikel, Na
EDTA merupakan asam lemah dan bereaksi dengan logam membentuk hidrogen.

Sterilisasi : autoklaf

Penyimpanan : harus disimpan diwadah bebas alkali, tertutup rapat dan ditempat sejuk dan
kering.

Konsentrasi : 0,005-0,1% w/w sebagai chelating agent.

Kegunaan : sebagai chelating agent

3.3.3 Sodium metabisulfit

(Handbook of Pharmaceutical Excipients hal 451)

Pemerian : Tidak berwarna, berbentuk kristal prisma atau serbuk kristal berwarna putih
hingga putih kecoklatan yang berbau sulfur dioksida dan asam.

Kelarutan : Agak mudah larut dalam etanol, mudah larut dalam gliserin, dan sangat
mudah larut dalam air.
Kegunaan : Antioksidan

Konsentrasi : 0,01 1,0 %

pH : 3,5 5,0

Stabilitas : Teroksidasi secara perlahan dalam udara panas dan lembab.

Penyimpanan : Simpan ditempat yang sejuk dan kering.

OTT : derivatalkohol, kloramfenikol, dan fenilmerkuriasetat.

Sterilisasi : Otoklaf

3.3.4 NaCl

(Depkes RI Edisi IV Tahun 1995)

Berat molekul : 58,44

Pemerian : Hablur bentuk kubus, tidak berwarna atau serbuk hablur putih, rasa asin.
Kelarutan : Mudah larut dalam air; sedikit lebih mudah larut dalam air mendidih; larut
dalam gliserin; sukar larut dalam etanol

Wadah : Dalam wadah tertutup baik Penandaan : cantumkan pada etiket, jika
dimaksudkan untuk penggunaan hemodialisa.
BAB IV
FORMULASI

4.1 Permasalahan dan Penyelesaian


a. Sediaan tetes mata harus bebas dari bakteri sehingga ditambahkan bahan pengawet yang
biasa digunakan dalam sediaan tetes mata steril neomisin sulfat yaitu Benzalkonium Klorida,
tidak digunakan Phenil mercuric nitrat karena Phenil mercuric nitrat bersifat slow acting dan
toksik.

b. Sediaan tetes mata tidak boleh mengandung kontaminasi logam yang berasal dari alat-
alat sehingga ditambahkan natrium edetat untuk mencegah kontaminasi.

c. Neomisin sulfat merupakan bahan yang mudah teroksidasi sehingga ditambahkan natrium
metabisulfit sebagai bahan antioksidan.

d. Mata memiliki pH yang samadengan pH darahyaitu 7,4. Rentang pH yang masih dapat
ditoleransi mata menurut FI IV ialah 3,5-8,5 diluar pH tersebut dapat menyebabkan iritasi.
Untuk itu digunakan dapar sitrat pH 6 untuk menstabilkan pH sediaan dan untuk mengurangi
ketidaknyamanan penggunanya.

e. Sediaan digunakan secara topikal untuk mata sehingga perlu dibuat isotonis agar nyaman
digunakan dengan penambahan NaCl dan perhitungan tonisitas.

f. Sediaan tetes mata harus bebas dari partikel asing, maka dalam pembuatannya dilakukan
penyaringan untuk menghilangkan partikel halus. Hal tersebut dapat mengakibatkan
terjadinya kehilangan volume setelah melakukan penyaringan sehingga bahan yang
digunakan dilebihkan 20% untuk mengganti kehilangan volume setelah disaring.

g. Persedian tetes mata syaratnya harus steril sehingga dilakukan sterilisasi sesuai dengan
persyaratan yaitu dengan cara filtrasi secara aseptis di LAF.

4.2 Formula Standar


Dalam Martindle Edisi 28 halaman 1191:
R/ Neomisin sulfat 0,5%
Phospat natrium acid 0,7%
Na fosfat 0,7%
Fenilmerkuri asetat/nitrat 0,002%
Dinatrium edetat 0,01%
API ad 100 ml
Dalam Fornas:
R/ tiap 10 ml mengandung :
Deksamethasoni Natrii Phosphas setara dexamethasoni phosphas 10 mg
Neomycini sulfas setara dengan neomycinum 35 mg
Benzalkonii Chloridum 2 mg
Natrii Bisulfis 32 mg
Aqua destilata hingga 10 ml
4.3 Formula yang Dibuat
Tiap 10 ml mengandung :
R/ Neomisin sulfat 0,5%
Benzalkonium klorida 0,01%
Disodium Edetat 0,1%
Natrium Metabisulfit 0,1%
Dapar Sitrat pH 6 q.s (ad pH 6)
NaCl q.s
Aqua pro injeksi ad 10 mL

Alasan pemilihan formula :


a. Neomisin sulfat sebagai bahan aktif dalam terapi untuk mengobati
infeksi bakteri pada konjungtivitis dan otitis media.
b. Benzalkonium klorida sebagai pengawet atau antimikroba dalam sediaan yang biasa
digunakan dalam sediaan tetes mata steril dengan bahan aktif neomisin sulfat.
c. Disodium Edetat digunakan untuk mencegah kontaminasi dengan logam yang berasal
dari wadah gelas agar dalam sediaan tetes mata yang dibuattidak terdapat cemaran
logam.
d. Natrium Metabisulfit sebagai bahan antioksidan untuk mencegah kemungkinan
terjadinya oksidasi bahan saat proses pembuatan sediaan dan sterilisasi.
e. Dapar Sitrat sebagai bahan yang mempertahankan pH sediaan agar tidak mengiritasi
mata.
f. NaCl sebagai bahan pengisotonis karena sediaan ditujukan untuk pengobatan infeksi
pada mata sehingga sediaan harus isotonis.
g. Aqua pro injeksi digunakan sebagai pelarut dan pembawa karena bahan-
bahan larut dalam air, selain itu aqua pro injection lebih steril dibandingkan dengan
aquadest biasa sehingga adanya kemungkinan kontaminasi lebih kecil.

4.4 Perhitungan
4.4.1. PerhitunganVolume Sediaan

Volume @ sediaan tetes mata = 10 ml


Volum 2 sediaan tetes mata = 2 x 10 ml = 20 ml
Kelebihan volume untuk mengganti kehilangan volum akibat penyaringan =
20 % X 20ml = 4 ml
Jadi, total volu msediaan yang dibuat= 20 ml + 4 ml= 24 ml

4.4.2 Perhitungan Tonisitas


% Neomisin sulfat 0,5%
%Benzalkonium klorida 0,01%
%Disodium Edetat 0,1%
% Natrium Metabisulfit 0,1%

Ptb Neomycin sulfat 0,06


Ptb Benzalkonium Klorida 0,09
Ptb Dinatrium Edetat 0,13
Ptb Natrium Metabisulfit 0,38

% NaCl =
,{(, ,)+(, ,)+(, ,)+(, ,)}
= ,

= 0,76 %
Karena nilai Ptb POSITIF maka larutan bersifat HIPOTONIS sehingga perlu adanya
penambahan NaCl sebesar 0,76%.
4.4.3 Penimbangan Bahan

NAMA BAHAN PERHITUNGAN PENIMBANGAN

Neomisin sulfat 0,5% x 24 ml 0,12 g = 120 mg

Benzalkoniumklorida 0,01% x 24 ml 0,0024 g = 2,4 mg

Dinatrium Edetat 0,1% x 24 ml 0,024 g = 24 mg

Natrium Metabisulfit 0,1% x 24 ml 0,024 g = 24 mg

NaCl 0,76 % x 24 ml 0,1824 g = 182,4 mg

24 -
API ad 23,65 ml
(0,120+0,0024+0,024+0,024+0,1824)g

Tahap Pembuatan larutan buffer sitrat


Larutan A: 0,1 M larutan as sitrat (2,1 g dalam 100 mL)
Larutan B : 0,1 M larutan Na sitrat(2,94 g C6H5O7Na3. 2H2O dalam 100 mL)

(M. Rochman, et al., 2014)


BAB V
METODE KERJA

5.1Alat dan Bahan


a.Alat
Alat-alat yang digunakan adalah batang pengaduk, botol tetes mata,corong kaca, Erlenmeyer,
gelas beker, gelas ukur, kaca arloji, kertassaring, pinset, pipet tetes, spatula, dan tabung
reaksi.
b.Bahan
Bahan-bahan yang digunakan adalahaqua pro injeksi,Neomisin sulfate, benzalkonium
klorida,dinatrium edetat, dapar sitrat, natrium metabisulfit dan NaCl.
c.Sterilisasi Alat

5.2 Cara Kerja


5.2.1 PembuatanSediaan
1. Dilakukan kalibrasi pada bekerglas sebanyak 24 ml
2. Ditimbang semua bahan.
3. Melarutkan bahan aktif dan bahan tambahan yaitu Neomisin Sulfat, dinatrium Edetat, dan
Natrium Metabisulfit dengan Aqua proinjeksi secukupnya sampai larut.
4. Tambahkan NaCl dan pengawet Benzalkonium Klorida kemudian tambahkan dapar sitrat
pH 6, lalu dicek pH-nya.
5. Menyaring larutan tersebut dengan kertas saring yang telah dijenuhkan dengan Aqua pro
injeksi sebelumnya dan kemudian menampungnya dalam gelas ukur.
6. Menambahkan Aqua pro injeksi sampai volume tercapai 10 ml.
7. Dilakukan pengemasan di dalam botol tetes mata dan sediaan disterilisasi.
8. Dilakukan pengujian sediaan.

5.2.2 Evaluasi Sediaan


1.Uji kejernihan
a.Sediaan yang sudah jadi dimasukkan kedalam botol tetes mata.
b.Kemudian diamati dengan meletakan sediaan tersebut pada latar belakang gelap yang
kemudian diberi cahaya
c.Diamati kejernihan pada sediaan tersebut.
d. Dikatakan jernih apabila sediaan tembus terawang (Depkes RI, 1978).

2.Uji pH
a. Disiapkan plat tetes dan kertas indikator universal
b. Sediaan yang ingin dicek pH nya diletakkan di plat tetes kemudian dicek pH sediaan
dengan menggunakan kertas indikator universal. (Depkes RI, 1978).
I. Wadah
a. Etiket
b. Brosur

c. K
e
m
a
s
a
n