Anda di halaman 1dari 28

INFEKSI GIGI SULUNG YANG BERAKIBAT PENCABUTAN GIGI

PERMANEN PENGGANTI PADA ANAK

MAKALAH

Oleh :
Gladiola Nadisha
NIM. 121611101005

Instruktur :
drg. Sulistiyani, M.Kes

BAGIAN PEDODONSIA
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS JEMBER
2017
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Kesehatan merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan setiap individu.
Kesehatan yang terganggu dapat berpengaruh pada aktivitas individu. Status
kesehatan individu dipengaruhi oleh empat faktor, yakni lingkungan, perilaku,
pelayanan kesehatan, dan faktor keturunan. faktor perilaku memiliki pengaruh yang
besar terhadap status kesehatan disamping faktor lingkungan yang merupakan faktor
yang memiliki pengaruh terbesar terhadap kesehatan gigi dan mulut.
Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian yang sangat penting dari
kesehatan secara keseluruhan. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
tahun 2013, prevalensi penduduk Indonesia yang mempunyai masalah pada kesehatan
gigi dan mulutnya termasuk karies gigi dan penyakit periodontal yaitu sebesar 25,9%.
Khusus nya pada anak-anak, kelompok anak usia 10-14 tahun lebih sering
bermasalah pada kesehatan gigi dan mullutnya dengan presentase sebesar 25,2%.
Masalah gigi terbesar terjadi pada anak-anak karena kurang mejaga kesehatan gigi
dan mulutnya. Gigi dan mulut anak yang kurang terpelihara kebersihannya kan rentan
terhadap penyakit karies.
Karies pada gigi anak dapat menimbulkan dampak buruk terhadap kualitas
hidup pada masa remaja maupun dewasa (Mashoto, 2019). Penelitian sebelumnya
menunjukkan banyak kasus hipoplasia maupun hipokalsifikasi gigi permanen yang
berkaitan erat dengan karies gigi pada gigi sulung diatasnya (Lo, 2003). Penyebaran
infeksi pada karies yang mengenai gigi sulung dapat menyebabkan berbagai kelainan
perkembangan atau abnormalitas pada gigi permanen penggantinya, seperti
hipoplasia enamel, hipokalsifikasi enamel, kelainan morfologi gigi, kista dentigerous,
terlambatnya pertumbuhan gigi permanen, maupun perubahan folikel gigi yang
menyebabkan abnormalitas erupsi gigi (Cordeiro, 2005). Disamping kelainan
tersebut, ditemukan beberapa kasus kegoyangan parah pada gigi permanen muda
yang diakibatkan oleh infeksi gigi sulung diatasnya yang berakibat pada pencabutan
gigi permanen muda tersebut (Esma, 2017).
Perawatan gigi memiliki tujuan utama mempertahankan keberadaan gigi
selama mungkin di rongga mulut. Tindakan pencabutan gigi merupakan tindakan
yang seharusnya sebisa mungkin dapat dihindari dalam perawatan gigi, namun
terkadang pencabutan gigi diindikasikan sebagai tindakan terbaik untuk mencegah
keadaan yang lebih buruk. Pencabutan yang dilakukan pada gigi permanen muda
perlu dipertimbangkan dengan baik mengingat masa hidup yang masih panjang dari
pasien. Pencabutan pada gigi permanen pada anak perlu dilakukan tindak lanjut untuk
mengisi ruang yang kosong agar tidak menimbulkan migrasi pada gigi gigi
disebelahnya yang dapat menyebabkan maloklusi (Kennedy, 2002). Kehilangan gigi
permanen muda pada anak dapat merubah oklusi, perubahan posisi gigi, dan
pertumbuhan rahang (Nunn, 2003). Pada makalah ini akan dibahas mengenai infeksi
gigi sulung yang berakibat pencabutan gigi permanen pengganti pada anak.

1.2 Rumusan Masalah


a. Apakah dampak infeksi gigi sulung terhadap gigi permanen penggantinya?
b. Bagaimana infeksi gigi sulung dapat berakibat pada pencabutan gigi
permanen penggantinya?
c. Bagaimana akibat dari kehilangan gigi permanen pada anak ?

1.3 Tujuan
a. Mengetahui dampak infeksi gigi sulung terhadap gigi permanen
penggantinya.
b. Mengetahui proses infeksi gigi sulung dapat berakibat pada pencabutan gigi
permanen penggantinya.
c. Mengetahui akibat dari kehilangan gigi permanen pada anak.
1.4 Manfaat
Menginformasikan pengetahuan mengenai infeksi gigi sulung yang berakibat
pencabutan gigi permanen pengganti pada anak.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tahapan Perkembangan Gigi


Perkembangan gigi dimulai sejak dalam kandungan sekitar 28 hari intrauterin
(Holt et al., 2000). Gigi sulung berkembang pada minggu ke-6 dan minggu ke-8
sedangkan gigi permanen berkembang pada minggu ke-20 (Markman, 2010). Tahap
mineralisasi pada gigi sulung dimulai pada minggu ke-14 IU untuk selanjutnya
seluruh gigi sulung akan termineralisasi secara sempurna setelah kelahiran. Gigi
insisivus permanen dan molar pertama permanen termineralisasi pada waktu setelah
kelahiran, setelah itu baru gigi gigi permanen lain akan mengalami mineralisasi
(Holt et al., 2000).
Secara embriologi, gigi berasal dari dua jaringan. Ektoderm yang akan
membentuk enamel dan mesoderm yang akan membentuk dentin, sementum, dan
pulpa (Mokhtar, 2005). Epitel ektoderm yang melapisi kavum oris mengalami
penebalan sepanjang tepi dari bakal rahang atas dan rahang bawah. Hal ini terjadi
pada minggu ke-5 masa embrio. Penebalan ini terdiri atas dua lapisan yang meluas
sampai ke mesenkim, dimana lapisan pertama yang berada di sebelah labial akan
memisahkan diri dan membentuk ruangan di antara bibir dan prosesus alveolaris dari
rahang. Sedangkan lapisan kedua yaitu di sebelah lingual akan membentuk gigi yang
disebut lamina dentalis. Pada lamina dentalis, terjadi penebalan yang berbentuk
kuncup dan masuk ke dalam jaringan pengikat (mesoderm). Kuncup kuncup ini
merupakan benih benih gigi. Terdapat 10 benih benih gigi dalam masing
masing tulang rahang yang akan menjadi gigi sulung. Pada awal minggu ke-10
lamina dentalis yang masih tinggal akan membentuk kuncup kuncup lagi yang
akan menjadi benih benih gigi permanen (Mokhtar, 2005).
Selanjutnya, benih gigi tersebut akan muncul ke dalam rongga mulut atau yang
biasa disebut dengan erupsi gigi. Erupsi gigi adalah suatu proses pergerakan gigi
secara aksial yang dimulai dari tempat perkembangan gigi di dalam tulang alveolar
sampai akhirnya mencapai posisi fungsional di dalam rongga mulut. Erupsi gigi
merupakan suatu proses yang berkesinambungan dimulai dari tahap pembentukkan
gigi sampai gigi muncul ke rongga mulut (Berkovitz et al., 2009). Erupsi gigi terjadi
setelah formasi dan mineralisasi mahkota terbentuk sempurna tetapi sebelum akar
terbentuk sempurna. Gigi tumbuh dari dua tipe sel, yaitu epitel oral dari enamel organ
yang akan membentuk enamel dan sel mesenkim dari papilla dental yang akan
membentuk dentin (Nasution, 2008). Mahkota dan bagian akar dibentuk sebelum gigi
tersebut erupsi. Mahkota dibentuk terlebih dahulu, kemudian baru pembentukkan
akar (Harshanur, 1995).
Perkembangan gigi dibagi dalam 3 tahap, yaitu : tahap pra-erupsi, tahap pra-
fungsional (tahap erupsi), dan tahap fungsional (Berkovitz et al., 2009). Tahap pra-
erupsi, yaitu saat mahkota gigi terbentuk dan posisinya dalam tulang rahang cukup
stabil (intraosseus), ketika akar gigi mulai terbentuk dan gigi mulai bergerak di dalam
tulang rahang ke arah rongga mulut, penetrasi mukosa, dan pada saat akar gigi
terbentuk setengah sampai tiga perempat dari panjang akar (Wahono dan Soenawan,
2009). Menurut Mokhtar (2005), tahapan pra-erupsi terdiri dari :
a. Inisiasi (Bud Stage)
Tahap inisiasi terjadi pada minggu ke-10 IU, merupakan penebalan jaringan
ektodermal dan pembentukkan kuntum gigi yang dikenal sebagai enamel organ.
Perubahan yang paling nyata dan paling dominan adalah proliferasi jaringan
ektodermal dan jaringan mesenkimal yang terus berlanjut.
b. Proliferasi (Cap Stage)
Dimulai pada minggu ke-11 IU, sel-sel organ enamel masih terus
berproliferasi sehingga organ enamel lebih besar sehingga berbentukan cekung
seperti topi. Bagian yang cekung diisi oleh kondensasi jaringan mesenkim dan
berproliferasi membentuk papila dentis yang akan membentuk dentin. Papila
dental yang dikelilingi oleh organ enamel akan berdiferensiasi menjadi pulpa.
Jaringan mesenkim di bawah papila dental membentuk lapisan yang bertambah
padat dan berkembang menjadi lapisan fibrosa yaitu kantong gigi (dental sakus)
primitif.
c. Histodiferensiasi (Bell Stage)
Tahap bel merupakan perubahan bentuk organ enamel dari bentuk topi
menjadi bentuk bel. Perubahan histodiferensiasi mencakup perubahan sel-sel
perifer papila dental menjadi odontoblas (sel-sel pembentuk dentin). Ada empat
lapisan sel y ang dapat dilihat pada tahap bell, yaitu Outer Enamel Epithelium,
Retikulum Stelata, stratum Intermedium, dan Inner Enamel Epithelium.
d. Morfodiferensiasi
Morfodiferensiasi adalah susunan sel-sel dalam perkembangan bentuk
jaringan atau organ. Perubahan morfodiferensiasi mencakup pembentukkan pola
morfologi atau bentuk dasar dan ukuran relatif dari mahkota gigi. Morfologi gigi
ditentukan bila epitel email bagian dalam tersusun sedemikian rupa sehingga
batas antara epitel email dan odontoblas merupakan gambaran dentinoenamel
junction yang akan terbentuk. Dentinoenamel junction mempunyai sifat khas pada
setiap gigi, sebagai suatu pola tertentu pada pembiakan sel.
e. Aposisi
Aposisi adalah pengendapan matriks dari struktur jaringan keras gigi (email,
dentin, dan sementum). Pertumbuhan aposisi ditandai oleh pengendapan yang
teratur dan berirama dari bahan ekstraseluler yang mempunyai kemampuan
sendiri untuk pertumbuhan yang akan datang. Gangguan pada tahap
pengendapan matriks ini dapat menyebabkan kelainan seperti enamel hipoplasia.
f. Kalsifikasi
Kalsifikasi terjadi dengan pengendapan garam-garam kalsium anorganik
selama pengendapan matriks. Kalsifikasi akan dimulai di dalam matriks yang
sebelumnya telah mengalami deposisi dengan jalan presipitasi dari bagian ke
bagian lainnya dengan penambahan lapis demi lapis. Gangguan pada tahap ini
dapat menyebabkan kelainan pada kekerasan gigi seperti hipokalsifikasi.
Selanjutnya, gigi akan mengalami tahap erupsi dan tahap fungsional. Erupsi
gigi adalah suatu proses pergeraka gigi secara aksial yang dimulai dari tempat
perkembangan gigi di dalam tulang alveolar sampai akhirnya mencapai posisi
fungsional di dalam rongga mulut (Berkovitz et al., 2009).

2.2 Fase Pergantian Gigi Geligi


2.2.1 Periode Pre-Dental (Usia 0 - 6 Bulan)
Periode pre-dental merupakan periode setelah kelahiran selama
bayi masih belum memiliki gigi. Periode ini biasanya berlangsung
selama 6 bulan setelah kelahiran. Gigi sangat jarang ditemukan
bererupsi pada saat kelahiran. Gigi yang ada pada saat kelahiran disebut
natal teeth. Kadang-kadang gigi erupsi pada usia sangat dini. Gigi yang
erupsi pada umur satu bulan disebut neonatal teeth. Natal teeth dan
neonatal teeth sering berada pada regio insisivus mandibula dan
menunjukkan faktor keturunan (Heilborn, 2011).
2.2.2 Periode Gigi-Geligi Desidui (Usia 6 Bulan - 6 Tahun)
Gigi geligi desidui mulai erupsi sekitar umur 6 bulan. Erupsi
seluruh gigi desidui selesai pada umur 2 - 3 tahun yaitu ketika
gigi molar dua desidui berada di dalam oklusi. Kronologi pertumbuhan
gigi-geligi desidui tertera pada tabel 1.
Tabel 1. Kronologi erupsi gigi-geligi desidui
Gigi Pembentu Jumlah Pembentu Erupsi Pembentu
kan enamel kan kan akar
jaringan terbentuk enamel
keras saat lahir lengkap
Rahang Atas
Insisivus 4 miu 5/6 1 bulan 7 bulan 1 tahun
sentralis
Insisivus 4 miu 2/3 2 bulan 9 bulan 2 tahun
lateralis
Kaninus 5 miu 1/3 9 bulan 18 bulan 3 tahun
Molar 5 miu Penyatuan 6 bulan 14 bulan 2 tahun
satu cusp
Molar 6 miu Ujung cusp 11 bulan 24 bulan 3 tahun
dua masih
tertutup
Rahang Bawah
Insisivus 4 miu 3/5 2 bulan 6 bulan 1 tahun
sentralis
Insisivus 4 miu 3/5 3 bulan 7 bulan 1 tahun
lateralis
Kaninus 5 miu 1/3 9 bulan 16 bulan 3 tahun
Molar 5 miu Penyatuan 5 bulan 12 bulan 2 tahun
satu cusp
Molar 6 miu Ujung cusp 10 bulan 20 bulan 3 tahun
dua masih
tertutup
Keterangan : miu = month intra uterine
2.2.3 Periode Gigi-Geligi Bercampur (Usia 6 - 12 Tahun)
Periode gigi-geligi bercampur adalah transisi ketika gigi
desidui tanggal secara berurutan dan diikuti dengan erupsi gigi
penggantinya. Fase gigi bercampur terjadi pada umur 6-12 tahun,
dimulai dengan erupsinya gigi permanen pertama, biasanya gigi
insisivus sentralis atau molar satu mandibula. Perubahan signifikan pada
oklusi terlihat pada periode ini dengan tanggalnya 20 gigi desidui dan
erupsinya gigi permanen pengganti. Kebanyakan maloklusi terjadi pada
fase gigi bercampur (Phulari, 2011).
Periode gigi-geligi bercampur dapat digolongkan menjadi tiga fase
yaitu:
1. Periode transisional pertama (usia 6-8 tahun)
Karakteristik periode transisi pertama yaitu munculnya gigi molar
satu permanen dan pergantian gigi insisivus desidui dengan gigi
insisivus permanen.
a. Munculnya gigi molar satu permanen
Gigi molar satu mandibula merupakan gigi permanen pertama
yang erupsi pada umur sekitar 6 tahun. Lokasi dan hubungan gigi
molar satu permanen sangat tergantung pada hubungan permukaan
distal gigi molar dua desidui rahang atas dan rahang bawah. Gigi
molar satu permanen dituntun menuju lengkung gigi oleh permukaan
distal gigi molar dua desidui. Letak dan hubungan gigi molar satu
permanen tergantung hubungan permukaan distal antara molar dua
desidui maksila dan mandibula.
b. Pergantian gigi insisivus
Selama periode transisional pertama, gigi insisivus desidui
digantikan oleh gigi insisivus permanen. Insisivus sentralis
mandibula biasanya adalah yang pertama erupsi. Gigi insisivus
permanen ukurannya lebih besar daripada gigi desidui yang
digantikannya. Perbedaan antara jumlah ruang yang dibutuhkan
untuk mengakomodasi gigi insisivus dan jumlah ruang yang tersedia
disebut incisal liability. Ukuran incisal liability sekitar 7 mm pada
rahang atas dan 5 mm pada rahang bawah.
2. Periode inter-transisional
Setelah gigi molar satu dan gigi insisivus permanen berada dalam
oklusi, terdapat periode sementara sekitar 1-2 tahun sebelum permulaan
periode transisi kedua. Periode ini disebut periode inter-transisional dimana
lengkung rahang maksila dan mandibula terdiri dari gigi desidui dan gigi
permanen. Di antara gigi insisivus permanen dan gigi molar satu permanen
terdapat gigi molar desidui dan gigi kaninus desidui. Periode inter-
transisional relatif stabil dan tidak ada perubahan yang terjadi.
3. Periode transisional kedua (usia 10-13 tahun)
Tanggalnya kaninus mandibula pada umur sekitar 10 tahun biasanya
memulai periode transisional kedua. Karakteristik periode ini yaitu
pergantian gigi molar dan kaninus desidui oleh gigi premolar dan gigi
kaninus permanen.
a. Erupsinya gigi kaninus permanen
Kaninus mandibula bererupsi mengikuti gigi insisivus pada
umur sekitar 10 tahun, sedangkan gigi kaninus maksila biasanya
bererupsi setelah erupsi salah satu premolar yaitu sekitar umur 11-
12 tahun.
b. Ugly Duckling Stage
Maloklusi sementara dengan adanya diastema pada midline
dan ukuran gigi insisivus permanen rahang atas yang lebih lebar
dari gigi insisivus desidui biasanya terjadi pada regio anterior
maksila pada umur 8 sampai 12 tahun. Keadaan tersebut dikenali
sebagai perbaikan alami maloklusi dan Broadbent menyebutnya
dengan istilah ugly duckling stage karena gigi anak terlihat jelek.
Kondisi diastema akan membaik dengan sendirinya ketika gigi
kaninus yang sedang bererupsi menggeser tekanan pada akar gigi
insisivus lateral menuju mahkotanya. Seiring berjalannya waktu,
kaninus bererupsi dengan sempurna sehingga diastema pada
midline akan tertutup dan insisivus lateral disesuaikan dengan
lengkung rahang.
c. Erupsinya Gigi-Gigi Premolar
Fase yang penting pada lengkung gigi dalam perkembangan
oklusi adalah segmen premolar. Hal ini dikarenakan ukuran
mesiodistal gigi premolar yang sedang bererupsi jauh lebih kecil
daripada gigi molar desidui yang digantikannya.
d. Leeway Space of Nance
Lebar mesiodistal gigi kaninus dan premolar permanen
biasanya lebih kecil daripada lebar mesiodistal gigi kaninus dan
molar desidui. Ruang yang berlebih yang dihasilkan perbedaan
pada segmen posterior disebut dengan leeway space of Nance dan
terdapat pada kedua rahang. Ukuran leeway space lebih besar pada
lengkung mandibula daripada maksila. Pada maksila yaitu sekitar
1,8 mm (0,9 mm pada masing-masing sisi rahang) dan pada
mandibula molar dan kaninus desidui digunakan untuk pergeseran
mesial gigi-gigi molar mandibula untuk mendapatkan hubungan
molar klas I. Sekitar 3,4 mm (1,7 mm pada masing-masing sisi
rahang). Kelebihan ruang yang terjadi setelah pergantian gigi molar
dan kaninus desidui digunakan untuk pergeseran mesial gigi-gigi
molar mandibula untuk mendapatkan hubungan mola permanen
klas I.
e. Erupsi gigi molar dua permanen
Munculnya gigi molar dua permanen idealnya mengikuti
erupsinya gigi premolar. Jika gigi molar dua bererupsi sebelum gigi
premolar bererupsi sempurna, pengurangan lengkung rahang yang
signifikan dan maloklusi juga lebih cenderung terjadi (Phulari,
2011). Urutan waktu erupsi gigi dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar1. Pergantian Gigi Geligi

2.2.4 Periode Gigi-Geligi Permanen


Fase gigi-geligi permanen terbentuk pada umur 13 tahun dengan
erupsinya seluruh gigi-gigi permanen kecuali gigi molar tiga. Gigi-geligi
permanen terbentuk pada rahang segera setelah kelahiran, kecuali cusp-
cusp gigi molar satu permanen yang terbentuk sebelum lahir. Insisivus
permanen berkembang pada sisi lingual atau palatal gigi insisivus
desidui dan bergerak ke arah labial pada saat erupsi. Gigi premolar
berkembang di bawah akar-akar gigi molar desidui. Urutan erupsi gigi
permanen lebih bervariasi dibandingkan gigi desidui. Ada beberapa
perbedaan signifikan pada urutan erupsi gigi permanen di maksila dan
mandibula. Pada mandibula, gigi kaninus erupsi sebelum gigi premolar
sedangkan pada maksila gigi kaninus umumnya erupsi setelah gigi
premolar. Urutan erupsi yang paling umum pada maksila yaitu gigi M1-
I1-I2-P1-C-P2-M2-M3 atau M1-I1-I2-P1- P2-C-M2-M3. Urutan erupsi
yang paling umum pada mandibula yaitu gigi M1-I1-I2- C-P1-P2-M2-
M3 atau M1-I1-I2-P1-C-P2-M2-M3 (Singh, 2007).
2.3 Infeksi Pada Gigi Sulung
Infeksi pada gigi sulung sebagian besar terjadi akibat karies. Karies gigi
adalah suatu proses kronis, regresif yang dimulai dengan larutnya mineral email,
sebagai akibat terganggunya keseimbangan antara email dan sekelilingnya yang
disebabkan oleh pembentukan asam mikrobial dari substrat (medium makanan bagi
bakteri) yang dilanjutkan dengan timbulnya destruksi komponen-komponen organik
yang akhirnya terjadi kavitasi (pembentukan lubang) (Kennedy, 2002).
Karies gigi merupakan proses patologis berupa kerusakan yang terbatas di
jaringan gigi mulai dari email kemudian berlanjut ke dentin. Karies gigi ini
merupakan masalah mulut utama pada anak dan remaja, periode karies paling tinggi
adalah pada usia 4-8 tahun pada gigi sulung dan usia 12-13 tahun pada gigi tetap,
sebab pada usia itu email masih mengalami maturasi setelah erupsi, sehingga
kemungkinan terjadi karies besar. Jika tidak mendapatkan perhatian karies dapat
menular menyeluruh dari geligi yang lain (Behrman, 2002).
Proses terjadinya karies gigi dimulai dengan adanya plak di permukaan gigi,
sukrosa (gula) dari sisa makanan dan bakteri berproses menempel pada waktu tertentu
yang berubah menjadi asam laktat yang akan menurunkan pH mulut menjadi kritis
(5,5) yang akan menyebabkan demineralisasi email berlanjut menjadi karies gigi
(Suryawati, 2010).
Secara perlahan-lahan demineralisasi interna berjalan ke arah dentin melalui
lubang fokus tetapi belum sampai kavitasi (pembentukan lubang). Kavitasi baru
timbul bila dentin terlibat dalam proses tersebut. Namun kadang-kadang begitu
banyak mineral hilang dari inti lesi sehingga permukaan mudah rusak secara
mekanis, yang menghasilkan kavitasi yang makroskopis dapat dilihat. Pada karies
dentin yang baru mulai yang terlihat hanya lapisan keempat (lapisan transparan,
terdiri atas tulang dentin sklerotik, kemungkinan membentuk rintangan terhadap
mikroorganisme dan enzimnya) dan lapisan kelima (lapisan opak/ tidak tembus
penglihatan, di dalam tubuli terdapat lemak yang mungkin merupakan gejala
degenerasi cabang-cabang odontoblas). Baru setelah terjadi kavitasi, bakteri akan
menembus tulang gigi. Pada proses karies yang amat dalam, tidak terdapat lapisan-
lapisan tiga (lapisan demineralisasi, suatu daerah sempit, dimana dentin partibular
diserang), lapisan empat dan lapisan lima (Suryawati, 2010).
Karies pada gigi sulung seringkali kurang mendapat perhatian dari orang tua
karena anggapan bahwa gigi anak akan digantikan gigi tetap. Masyarakat kurang
menyadari bahwa dampak yang ditimbulkan sebenarnya akan sangat besar bila tidak
dilakukan perawatan untuk mencegah karies sejak dini pada anak. Dampak yang
terjadi bila sejak awal sudah mengalami karies adalah selain fungsi gigi sebagai
pengunyah yang terganggu, anak juga akan mengalami gangguan dalam
menjalankan aktivitasnya sehari-hari sehingga anak tidak mau makan dan akibat yang
lebih parah bisa terjadi malnutrisi, anak tidak dapat belajar karena kurang
berkonsentrasi sehingga akan mempengaruhi kecerdasan. Akibat lain dari kerusakan
gigi pada anak adalah penyebaran toksin atau bakteri pada mulut melalui aliran
darah, saluran pernapasan, saluran pencemaan apalagi bila anak menderita
malnutrisi, hal tersebut akan menyebabkan daya tahan tubuh anak menurun dan
anak akan mudah terkena penyakit. Bila gigi sulung sudah berlubang dan rusak maka
dapat diramalkan gigi dewasanya tidak akan sehat nantinya (Kuntari, 2007).
Penyebaran infeksi pada karies yang mengenai gigi sulung dapat menyebabkan
berbagai kelainan perkembangan atau abnormalitas pada gigi permanen
penggantinya, seperti hipoplasia enamel, hipokalsifikasi enamel, kelainan morfologi
gigi, kista dentigerous, terlambatnya pertumbuhan gigi permanen, maupun perubahan
folikel gigi yang menyebabkan abnormalitas erupsi gigi (Cordeiro, 2005). Disamping
kelainan tersebut, ditemukan beberapa kasus kegoyangan parah pada gigi permanen
muda yang diakibatkan oleh infeksi gigi sulung diatasnya yang berakibat pada
pencabutan gigi permanen muda tersebut (Esma, 2017).
2.4 Pencabutan Gigi
Pencabutan gigi adalah cabang dari ilmu kedokteran gigi yang menyangkut
pencabutan gigi dari soketnya pada tulang alveolar. Ekstraksi gigi yang ideal yaitu
penghilangan seluruh gigi atau akar gigi dengan minimal trauma atau nyeri yang
seminimal mungkin sehingga jaringan yang terdapat luka dapat sembuh dengan baik
dan masalah prostetik setelahnya yang seminimal mungkin (Hargreaves, 2005).
Hal hal yang perlu diperhatikan selama ekstraksi gigi menurut Gupta (2012)
adalah :
a. Anestesi
b. Elevasi mukogingival flap
c. Penghilangan tulang
d. Bagian tulang yang terlibat
e. Pengangkatan gigi bersama akarnya
f. Kontrol perdarahan
g. Alveoplasty jika dibutuhkan
h. Penutupan soket alveolar
i. Penjahitan flap
Perawatan gigi memiliki tujuan utama mempertahankan keberadaan gigi
selama mungkin di rongga mulut, namun terkadang pencabutan gigi diindikasikan
sebagai tindakan terbaik untuk mencegah keadaan yang lebih buruk.
2.4.1Indikasi dan Kontraindikasi Pencabutan
Indikasi dan kontraindikasi sebaiknya perlu diketahui sebelum tindakan
pencabutan gigi. Di bawah ini adalah beberapa contoh indikasi dari pencabutan gigi.
a. Karies yang parah
Sejauh ini gigi yang karies merupakan alasan yang tepat bagi dokter
gigi dan pasien untuk dilakukan tindakan pencabutan.
b. Nekrosis pulpa
Adanya nekrosis pulpa atau pulpa irreversibel yang tidak diindikasikan
untuk perawatan endodontik, perawatan endodontik yang telah dilakukan
ternyata gagal untuk menghilangkan rasa sakit sehingga diindikasikan
untuk pencabutan.
c. Penyakit periodontal yang parah
Jika periodontitis dewasa yang parah telah ada selama beberapa waktu,
maka akan nampak kehilangan tulang yang berlebihan dan mobilitas gigi
yang irreversible. Dalam situasi seperti ini, gigi yang mengalami mobilitas
yang tinggi harus dicabut.
d. Alasan orthodontik
Pasien yang akan menjalani perawatan ortodonsi sering membutuhkan
pencabutan gigi untuk memberikan ruang untuk keselarasan gigi. Gigi yang
paling sering diekstraksi adalah premolar satu rahang atas dan bawah,
tetapi pre-molar kedua dan gigi insisivus juga kadang kadang
memerlukan pencabutan dengan alasan yang sama.
e. Gigi yang mengalami malposisi
Jika malposisi gigi menyebabkan trauma jaringan lunak dan tidak
dapat ditangani oleh perawatan ortodonsi, gigi tersebut harus diekstraksi.
f. Gigi yang retak
Indikasi ini jelas untuk dilakukan pencabutan gigi, bahkan prosedur
restorative endodontik dan kompleks tidak dapat mengurangi rasa sakit
akibat gigi yang retak tersebut.
g. Pra-prostetik ekstraksi
Terkadang gigi mengganggu desain dan penempatan yang tepat dari
peralatan prostetik seperti gigi tiruan penuh, gigi tiruan sebagian lepasan
atau gigi tiruan cekat sehingga perlu dicabut.
h. Gigi impaksi
Gigi yang impaksi harus dipertimbangkan untuk dilakukan
pencabutan. Jika terdapat sebagian gigi yang impaksi maka oklusi
fungsional tidak akan optimal karena ruang yang tidak memadai, maka
harus dilakukan bedah pengangkatan gigi impaksi tersebut. Namun, jika
dalam mengeluarkan gigi yang impaksi terdapat kontraindikasi seperti pada
kasus kompromi medis, impaksi tulang penuh pada pasien yang berusia
diatas 35 tahun atau pada pasien usia lanjut, maka gigi impaksi tersebut
dapat dibiarkan.
i. Supernumary gigi
Gigi yang mengalami supernumary biasanya merupakan gigi impaksi
yang harus dicabut. Gigi supernumary dapat mengganggu erupsi gigi dan
memiliki potensi untuk menyebabkan resorpsi gigi tersebut.
j. Gigi yang terkait dengan lesi patologis
Gigi yang terkait dengan lesi patologis mungkin memerlukan
pencabutan. Dalam beberapa situasi, gigi dapat dipertahankan dan terapi
endodontik dapat dilakukan. Namun, jika mempertahankan gigi dengan
operasi lengkap pengangkatan lesi, gigi tersebut harus dicabut.
k. Terapi pra-radiasi
Pasien yang menerima terapi radiasi untuk berbagai tumor oral harus
memiliki pertimbangan yang serius terhadap gigi untuk dilakukan
pencabutan.
l. Gigi yang mengalami fraktur rahang
Dalam sebagian besar kondisi gigi yang terlibat dalam garis fraktur
dapat dipertahankan, tetapi jika gigi terluka maka pencabutan mungkin
diperlukan untuk mencegah infeksi.
m. Estetik
Terkadang pasien memerlukan pencabutan gigi untuk alasan estetik.
Contoh kondisi seperti ini adalah yang berwarna karena tetrasiklin atau
fluorosis, atau mungkin malposisi yang berlebihan sangat menonjol.
n. Ekonomi
Semua indikasi untuk ekstraksi yang telah disebutkan di atas dapat
menjadi kuat jika pasien tidak mau atau tidak mampu secara finansial
untuk mendukung keputusan dalam mempertahankan gigi tersebut.
Ketidakmampuan pasien untuk membayar prosedur tersebut
memungkinkan untuk dilakukan pencabutan gigi (Peterson, 2003).
Sedangkan, untuk kontraindikasi dalam pencabutan gigi adalah sebagai
berikut :
1. Kontraindikasi relatif
a. Lokal
- Periapikal patologi, jika pencabutan gigi dilakukan maka infeksi akan
menyebar luas dan sistemik, jadi antibiotik harus diberikan sebelum
dilakukan pencabutan gigi.
- Adanya infeksi oral seperti Vincents Angina, Herpetic gingivostomatitis.
Hal ini harus dirawat terlebih dahulu sebelum dilakukan pencabutan gigi.
- Perikoronitis akut, perikoronitis harus dirawat terlebih dahulu sebelum
dilakukan pencabutan pada gigi yang terlibat, jika tidak maka infeksi
bakteri akan menurun ke bagian bawah kepala dan leher.
- Penyakit ganas, seperti gigi yang terletak di daerah yang terkena tumor.
Jika dihilangkan bisa menyebarkan sel sel dan dengan demikian
mempercepat proses metastatik.
- Pencabutan gigi pada rahang yang sebelumnya telah dilakukan iradiasi
dapat menyebabkan osteoradionekrosis, oleh karena itu harus dilakukan
tindakan pencabutan yang sangat ekstrem atau khusus (Sanghai, 2009).
b. Sistemik
- Diabetes tidak terkontrol, pasien diabetes lebih rentan terhadap infeksi
dan proses penyembuhan lukanya akan lebih lama. Pencabutan gigi harus
dilakukan setelah melakukan diagnosis pencegahan yang tepat pada
penyakit diabetes pasien dan dibawah antibiotik profilaksis.
- Penyakit jantung, seperti hipertensi, gagal jantung, miokard infark, dan
penyait arteri koroner.
- Dyscrasias darah, pasien anemia, hemofilik dan dengan gangguan
perdarahan harus ditangani dengan sangat hati hati untuk mencegah
perdarahan pasca operasi yang berlebihan.
- Medically compromised, pasien dengan penyakit yang melemahkan (
seperti TB ) dan riwayat medis miskin harus diberikan perawatan yang
tepat dan evaluasi preoperatif kondisi umum pada pasien adalah suatu
keharusan.
- Penyakit Addisons dan pasien yang menjalani terapi steroid dalam jangka
waktu yang lama, krisis Hipoadrenal dapat terjadi pada pasien karena
terjadi peningkatan stress selama prosedur perawatan gigi. Untuk
mencegah terjadinya hal tersebut dapat diberikan 100mg Hidrocortisone
sebelum dilakukan perawatan.
- Demam yang asalnya tidak dapat dijelaskan, penyebab paling umum dari
demam yang tak dapat dijelaskan sebabnya adalah endokarditis bakteri
subakut dan apabila dilakukan prosedur ekstraksi dalam kondisi ini dapat
menyebabkan bakteremia, perawatan yang tepat harus dlakukan.
- Nephritis, ekstraksi gigi yang terinfeksi kronis sering menimbulkan suatu
nefritis akut maka sebelum pemeriksaan gigi menyeuruh harus dilakukan.
- Kehamilan, prosedur pencabutan gigi harus dihindari pada priode
trimester pertama dan ketiga dan harus sangat berhati-hati apabila akan
melakukan prosedur radiografi dan juga dalam pemberian obat obatan.
- Selama masa mestruasi, karena ada perdarahan lebih lanjut, pasien secara
mental tidak begitu stabil.
- Penyakit kejiwaan, tindakan pencegahan yang tepat dan obat obatan
harus diberikan pada pasien neurotic dan psychotic (Sanghai, 2009).
2. Kontraindikasi mutlak
a. Lokal
- Gigi yang terlibat dalam malformasi arterio-venous.
- Jika pencabutan gigi dilakukan, maka dapat menyebabkan kematian.
b. Sistemik
- Leukemia
- Gagal ginjal
- Sirosis hati
- Gagal jantung
2.4.2 Komplikasi
Komplikasi digolongkan menjadi intraoperatif, segera setelah pencabutan gigi
dan jauh setelah pencabutan gigi.
a. Komplikasi Selama Ekstraksi Gigi
- Kegagalan Pemberian Anestesi
Hal ini biasanya berhubungan dengan teknik yang salah atau dosis obat
anestesi yang tidak cukup.
- Kegagalan mencabut gigi dengan tang atau elevator
Tang dan elevator harus diletakkan dan sebab kesulitan segera dicari jika
terjadi kegagalan pencabutan dengan instrument tersebut.
- Perdarahan selama pencabutan
Sering pada pasien dengan penyakit hati, misalnya seorang alkoholik yang
menderita sirosis, pasien yang menerima terapi antikoagulan, pasien yang
minum aspirin dosis tinggi atau NSAID lain sedangkan pasien dengan
gangguan pembekuan darah yang tidak terdiagnosis sangat jarang.
Komplikasi ini dapat dicegah dengan cara menghindari perlukaan pada
pembuluh darah dan melakukan tekanan dan klem jika terjadi perdarahan.
- Fraktur
Fraktur dapat terjadi pada mahkota gigi, akar gigi, gigi tetangga atau gigi
antagonis, restorasi, processus alveolaris dan kadang kadang mandibula.
Cara terbaik untuk mengindari fraktur selain tekanan yang terkontrol
adalah dengan menggunakan gambar sinar x sebelum melakukan
pembedahan.
- Pergeseran
Terlibatnya antrum, pergeseran gigi atau fragmen ke fosa intratemporalis,
pergeseran gigi ke dalam mandibula merupakan komplikasi intra operatif.
Pemeriksaan sinar X yang akurat diperlukan baik sebelum maupun
intraoperatif.
- Cedera jaringan lunak
Komplikasi ini dapat dihindari dengan membuat flap yang lebih besar dan
menggunakan retraksi yang ringan saja (Pedersen, 1996).
b. Komplikasi Segera Setelah Ekstraksi Gigi
Komplikasi yang mungkin terjadi segera setelah ekstraksi gigi
dilakukan antara lain :
- Perdarahan
Perdarahan ringan dari alveolar adalah normal apabila terjadi pada 12-24
jam pertama sesudah pencabutan atau pembedahan gigi. Penekanan oklusal
dengan menggunakan kasa adalah jalan terbaik untuk mengontrolnya dan
dapat merangsang pembentukan bekuan darah yang stabil. Perdarahan bisa
diatasi dengan tampon (terbentuknya tekanan ekstravaskuler lokal dari
tampon), pembekuan, atau keduanya.
- Rasa sakit
Rasa sakit pada awal pencabutan gigi, terutama sesudah pembedahan untuk
gigi erupsi maupun impaksi, dapat sangat mengganggu. Orang dewasa
sebaiknya mulai meminum obat pengontrol rasa sakit sesudah makan tetapi
sebelum timbulnya rasa sakit.
- Edema
Edema adalah reaksi individual, yaitu trauma yang besarnya sama, tidak
selalu mengakibatkan derajat pembengkakan yang sama. Usaha usaha
untuk mengontrol edema mencakup termal (dingin), fisik (penekanan), dan
obat obatan.
- Reaksi terhadap obat
Reaksi obat obatan yang relative sering terjadi segera sesudah pencabutan
gigi adalah mual dan muntah karena menelan analgesik narkotik atau non
narkotik. Reaksi alergi sejati terhadap analgesik bisa terjadi, tetapi relative
jarang. Pasien dianjurkan untuk menghentikan pemakaian obat sesegera
mungkin jika diperkirakan berpotensi merangsang reaksi alergi.
c. Komplikasi Jauh Sesudah Ekstraksi Gigi
- Alveolitis
Komplikasi yang paling sering, paling menakutkan dan paling sakit
sesudah pencabutan gigi adalah dry socket atau alveolitis (osteitis alveolar).
- Infeksi
Pencabutan suatu gigi yang melibatkan proses infeksi akut, yaitu
perikoronitis atau abses, dapat mengganggu proses pembedahan. Penyebab
yang paling sering adalah infeksi yang termanifestasi sebagai miositis
kronis. Terapi antibiotik dan berkumur dengan larutan saline diperlukan
jika terbukti ada infeksi yaitu adanya pembengkakan, nyeri, demam, dan
lemas (Pedersen, 1996).
- Adanya ruang kosong dalam rahang
Ruang kosong pada rahang bekas pencabutan gigi mengakibatkan gigi
gigi disekitar ruang kosong bergeser ke arah ruang kosong tersebut.
Pergeseran ini disebabkan gigi gigi tersebut kehilangan kontak proksimal
sehingga cenderung bergeser ke arah ruang kosong. Hal ini dapat
menyebabkan maloklusi (Howe, 1999).
BAB 3. PEMBAHASAN

Karies pada gigi sulung seringkali kurang mendapat perhatian dari orang tua
karena anggapan bahwa gigi anak akan digantikan gigi tetap. Masyarakat kurang
menyadari bahwa dampak yang ditimbulkan sebenarnya akan sangat besar bila tidak
dilakukan perawatan untuk mencegah karies sejak dini pada anak. Dampak yang
terjadi bila sejak awal sudah mengalami karies adalah selain fungsi gigi sebagai
pengunyah yang terganggu, anak juga akan mengalami gangguan dalam
menjalankan aktivitasnya sehari-hari sehingga anak tidak mau makan dan akibat yang
lebih parah bisa terjadi malnutrisi, anak tidak dapat belajar karena kurang
berkonsentrasi sehingga akan mempengaruhi kecerdasan. Akibat lain dari kerusakan
gigi pada anak adalah penyebaran toksin atau bakteri pada mulut melalui aliran
darah, saluran pernapasan, saluran pencemaan apalagi bila anak menderita
malnutrisi, hal tersebut akan menyebabkan daya tahan tubuh anak menurun dan
anak akan mudah terkena penyakit. Bila gigi sulung sudah berlubang dan rusak maka
dapat diramalkan gigi dewasanya tidak akan sehat nantinya (Kuntari, 2007).
Komplikasi yang sering ditemui dalam kasus penyebaran infeksi gigi sulung
adalah hipoplasia dan hipomineralisasi enamel. Sedangkan komplikasi berupa
nekrosis pulpa gigi permanen akibat infeksi gigi sulung sebenarnya jarang ditemui.
Namun pada beberapa kasus nekrosis pulpa gigi permanen terjadi akibat infeksi yang
terjadi pada tahap pertumbuhan awal akar gigi sulung. Sehingga gigi permanen
tersebut harus dicabut. Space maintananer dan prostesis selanjutnya diperlukan pada
tahap awal kehidupan pasien, karena gigi dalam soket alveolar melindungi massa
tulang, awal hilangnya gigi mempengaruhi keberhasilan implan atau perawatan
sejenis lainnya (Lautenschlager, 2007).
Infeksi pada gigi sulung yang tidak ditangani dengan baik dapat
mengakibatkan penyebaran infeksi hingga ke daerah periapikal. Infeksi periapikal ini
dapat menyebabkan kista dentigerous pada akar gigi sulung. Kista dentigerous pada
akar gigi sulung yang terinfeksi menyebabkan keradangan pada mahkota gigi
permanen dibawahnya. Inflamasi akut menyebabkan destruksi dan resorbsi tulang
alveolar. Sel sel ameloblas merupakan sel folikular yang sensitif pada perubahan di
lingkungan disekitarnya terutama pada tahap amelogenesis. Hal ini yang
menyebabkan terjadinya enamel hipoplasia pada gigi permanen yang gigi sulung
diatasnya terinflamasi. Enamel hipoplasia yang sangat parah dapat menyebabkan gigi
permanen tersebut tidak dapat dipertahankan di dalam rongga mulut sehingga
pencabutan pada gigi tersebut harus dilakukan.
Pencabutan gigi permanen pada anak harus dipertimbangkan dengan baik
mengingat masa hidup yang masih panjang dari pasien. Pencabutan pada gigi
permanen pada anak perlu dilakukan tindak lanjut untuk mengisi ruang yang kosong
agar tidak menimbulkan migrasi pada gigi gigi disebelahnya yang dapat
menyebabkan maloklusi (Caglaroglu, 2006). Kehilangan gigi permanen muda pada
anak dapat merubah oklusi, perubahan posisi gigi, dan pertumbuhan rahang (Nunn,
2003).
BAB. 4 KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

a. Infeksi pada gigi sulung yang tidak ditangani dengan baik dapat mengakibatkan
penyebaran infeksi hingga ke daerah periapikal dan menyebabkan kerusakan pada
gigi permanen dibawahnya.

b. Kerusakan yang parah pada gigi permanen menyebabkan gigi tersebut harus
diekstraksi untuk mencegah keadaan yang lebih buruk.

c. Pencabutan gigi permanen pada anak harus dipertimbangkan dengan baik dan
setelahnya perlu dilakukan tindak lanjut untuk mengisi ruang yang kosong agar tidak
menimbulkan migrasi pada gigi gigi disebelahnya yang dapat menyebabkan
maloklusi.

4.2 Saran

a. Bagi anak-anak diharapkan agar lebih menjaga kebersihan dan kesehatan gigi dan
mulut agar tidak terjadi karies dan infeksi pada gigi.

b. Bagi klinisi diharapkan dapat mempertimbangkan perawatan yang adekuat


terhadap infeksi gigi sulung agar tidak terjadi penyebaran yang dapat menyebabkan
kerusakan pada gigi enamel dibawahnya.

c. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap proses penyebaran infeksi gigi
sulung hingga menyebabkan kerusakan pada gigi permanen dibawahnya.
DAFTAR PUSTAKA

Behrman. R. L. (2002). Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Dian Rakyat.


Berkovitz, B. K. B., Holland, G. R., Moxham, B.J. 2009. Oral Anatomy, Histology
and Embryology. 4th ed. Toronto. Mosby Elsevier., 358-65.
Cordeiro MM, Rocha MJ. 2005.The effects of periradicular inflamation and infection
on a primary tooth and permanent successor. J Clin Pediatr Dent.
29:193-200.
Esma Yildiz, Gl Tosun, Ibrahim Sari. 2017. Early Loss of a Permanent Tooth Due to
Preceding Primary Tooth Infection. J Clin Pediatr Dent.
Hargreaves, K., Abbott, P. V. 2005. Drugs for Pain Management in Dentistry,
Australian Dental Journal Medikations Supplement. 14-22.
Harshanur, I. W. 1995. Anatomi Gigi 2. Jakarta. EGC.
Heilborn JcdA, Kchler EC, Fidalgo TKS, Antunes LAA, 2011. Costa MC. Early
primary tooth loss: prevalence, consequence and treatment. Int J
Dent; 10(3): 126-30.
Holt, R., Roberts, G., Scully, C. 2000. ABC of Oral Health: Oral Health dan Disease.
BMJ 320:1 652-55.
Howe, G.L. 1999. Pencabutan Gigi Geligi (terj) Ed 2. EGC. Jakarta, h.1. 84-103.
Kemenkes RI. 2013. Riset kesehatan dasar: Badan Penelitian dan pengembangan
kesehatan KEMENKES. Jakarta.
Kennedy DB. 2002. Orthodontic Management of Missing Teeth. Journal Canadian
Dental Association. 65: 548-550.
Lautenschlger Gde A, Gallina MC, Ferreira Jnior O, Lara VS. 2007. Primary
failure of tooth eruption associated with secondarily inflamed dental
follicle: In ammatory follicular cyst?. Braz Dent J.18:144-7.
Lo ECM, Zheng CG, King NM. 2003. Relationship between the presence of
demarcated opacities and hypoplasia in permanent teeth and caries
in their primary predecessors. Caries Res. 37:456-461.
Markman, L. 2010. Teething: Facts dan Fiction. AAP; 30(8):59-64.
Mashoto KO, et al. 2009. Dental pain, oral impacts and perceived need for dental
treatment in Tanzanian school students: A cross-sectional study.
Health Qual Life Outcomes. 7:73.
Mokhtar, M. 2005. Dasar-Dasar Ortodonti : Pertumbuhan dan Perkembangan
Kraniodentofasial. Medan. Bina Insani Pustaka.
Nasution, M. I. 2008. Morfologi Gigi Desidui dan Gigi Permanen. Medan. USU
Press.
Nunn JH, et al. 2003. The interdisciplinary management of hypodontia: background
and role of paediatric dentistry. Int J Paed Dent. 194:250.
Pedersen, G.W. 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut (terj.). Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta. 29-100.
Peterson J.Larry. 2003. Oral and Maxillofacial Surgery, 4ed. Mosby Company.
St.Louis. pp:116-117
Phulari BS. 2011. Orthodontics principles and practice 1st ed. New Delhi: Jaypee
Brothers Medical Publishers. 62-76, 99-103, 114-5, 129-30.
Sanghai S.A. 2009. Concise Texbook of Oral and Maxillofacial Surgery. New Dehli:
Jaypee Brothers Medical Publishers. p. 91-2
Singh G. 2007. Textbook of orthodontics 2nd ed. New Delhi: Jaypee Brothers
Medical Publishers. 38-47, 53, 165, 177, 195-6.
Suryawati, P. N. 2010. 100 Pertanyaan Penting Perawatan Gigi Anak. Jakarta : Dian
Rakyat.
Wahono, N. A., Soenawan, H. 2009. Delayed Eruption of Multiple Permanent Tooth
in 12-year-old Boy. In : Jakarta Convention Center, ed Proceedings of
the 15 Scientific Meeting & Refesher Course in Denstiry. 366-74.