Anda di halaman 1dari 25

SKRINING FITOKIMIA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan daerah tropis dengan kelembaban udara yang


tinggi, sehingga memungkinkan tumbuhnya berbagai macam jenis flora.
Indonesia dikenal sebagai Negara nomor dua yang memiliki kelengkapan
jenis flora dari sekian banyak negara di dunia ini. Salah satu contoh flora
yang dimiliki oleh Indonesia yaitu Terong Hutan (Solanum torvum Sw.).
Tumbuhan terong hutan (Solanum torvum Sw.) merupakaan tumbuhan
lokal yang telah menjadi tumbuhan pekarangan dan secara turun temurun
masih dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat. Masyarakat memanfaatkan
tumbuhan obat sering kali tidakmengetahui kandungan kimia dari tumbuhan
tersebut sehingga dalam menentukan jumlah dosisi pemakaiannya
masyarakat hanya mengandalkan pada pengalaman dan perkiraan semata.
Kandungan senyawa kimia yang terdapat dalam obat tradisional selain
berkhasiat dapat juga menyebabakan efek samping yang merugikan jika
dikonsumsi sembarangan (tanpa kontrol).
Berdasarkan hal tersebut menjadi sangat penting untuk mengetahui
kandungan fitokimia beberapa jenis tumbuhan lokal yang masih sering
dijadikan obat oleh masyarakat. Uji kandungan kimia dilakukan melalui
analisis fitokimia secara kualitataif. Uji fitokimia ini masih merupakan suatu
metode pengujian awal dalam upaya untuk mengetahui kandungan senyawa
aktif yang terdapat dalam tumbuhan obat lokal yang berperan penting dalam
penyembuhan penyakit. Hasil akhir dari seluruh rangkaian penelitian ini
diharapkan akan dapat menemukan suatu senyawa yang memiliki efek

KHALIFAH MARYAM N. DEWI ANRIANI MUNIR, S.Farm


15020150092
SKRINING FITOKIMIA

farmakologi tertentu sehingga memacu penemuan obat baru yang berasal


dari keragaman jenis tumbuhan obat lokal.
Berbagai khasiat yang dapat dihasilkan oleh tanaman tradisional yang
ada, dimana merupakan efek dan khasiat dari berbagai zat yang terkandung
dalam tanaman tersebut. Sebagai contoh zat kimia yang terkandung dalam
tanaman yang biasa digunakan sebagai adalah alkaloid, flavonoid, glikosida,
terpenoid, saponin, tanin dan polifenol.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada praktikum ini adalah apa sajakah
senyawa kimia yang terkandung dalam tumbuhan Terong Hutan (Solanum
torvum Sw.) jika diuji dengan menggunakan uji skrining fitokimia?

C. Maksud Praktikum
Adapun maksud dari praktikum ini adalah untuk mengetahui golongan
senyawa yang terkandung pada sampel daun Terong Hutan (Solanum
torvum Sw.) dengan menggunakan uji skrining fitokimia.

D. Tujuan Praktikum
1. Tujuan Umum Praktikum

Mampu mengetahui cara uji skrinig fitokimia untuk mengidentifikasi


zat yang terkandung dalam suatu tumbuhan.
2. Tujuan Khusus Praktikum

Mampu menentukan senyawa kimia yang terkandung dalam daun


Terong Hutan (Solanum torvum Sw.).
E. Manfaat Praktikum
1. Manfaat Teoritis
Mahasiswa dapat mengetahui zat kimia yang terkandung dalam
daun Terong Hutan (Solanum torvum Sw.).

KHALIFAH MARYAM N. DEWI ANRIANI MUNIR, S.Farm


15020150092
SKRINING FITOKIMIA

2. Manfaat Praktis
Dapat memberikan informasi mengenai kadungan zat kimia dalam
daun Terong Hutan (Solanum torvum Sw.).

KHALIFAH MARYAM N. DEWI ANRIANI MUNIR, S.Farm


15020150092
SKRINING FITOKIMIA

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Uraian Tumbuhan

a. Klasifikasi tanaman
Tanaman Terong Hutan diklasifikasikan sebagai berikut: (Integrated
Taxonomic Information System, 2017)
Kingdom : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Subdivisi : Spermatophytina
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Solanes
Familia : Solanaceae
Genus : Solanum L
Species : Solanum torvum Sw.
b. Morfologi tanaman
Tanaman takokak merupakan tanaman perdu yang tumbuh tegak
dan tinggi tanaman sekitar 3 m. Bentuk batang bulat, berkayu, bercabang,
berduri jarang dan percabangannya simpodial dengan warna putih kotor.
Daun takokak tunggal, berwarna hijau, tersebar, berbentuk bulat telur,
bercangap, tepi rata, ujung meruncing dan panjangnya sekitar 27-30 cm
dan lebar 20-24 cm, dengan bentuk pertulangan daunnya menyirip dan
ibu tulang berduri. Ciri-ciri bunga takokak, antara lain majemuk, bentuk
bintang, kelopak berbulu, bertajuk lima, runcing, panjang bunga kira-kira 5
mm, benang sari lima, tangkai panjang kira-kira 1 mm dan kepala sari
panjangnya kira-kira 6 mm berbentuk jarum, berwarna kuning, tangkai

KHALIFAH MARYAM N. DEWI ANRIANI MUNIR, S.Farm


15020150092
SKRINING FITOKIMIA

putik kira-kira 1 cm yang berwana putih, dan kepala putik kehijauan (Sirait
2009).
c. Nama lain
Nama ilmiah : Solanum torvum Sw.
Nama asing : Brugmansia x insignis (Amerika Serikat)
Nama daerah : Terong pipit (Sumatera), terong rimbang (Melayu),
takokak (Jawa Barat) dan terong cepoka, atau poka,
cong belut atau cokowana (Jawa Tengah) (Sirait,
2009).
d. Kandungan kimia
Takokak mengandung berbagai bahan kimia (Tabel 1). Kandungan
kimia yang terdapat pada buah dan daun mengandung alkaloid steroid
yaitu jenis solasodine 0.84%, sedangkan kandungan buah kuning
mengandung solasonine 0.1%. Kemudian, buah mentahnya pun
mengandung chlorogenin, sisologenenone, torvogenin, vitamin A, neo-
chlorogenine, dan panicolugenine, serta akarnya mengandung jurubine
(Sirait 2009). Buah takokak ini pun diketahui mengandung glukoalkaloid,
solasonine, sterolin (sitosterol-D glucoside), protein, lemak, dan mineral
(Yuanyuan et al. 2009).

KHALIFAH MARYAM N. DEWI ANRIANI MUNIR, S.Farm


15020150092
SKRINING FITOKIMIA

Tabel 1. Komposisi kimia buah takokak dalam tiap 100 g


Komposisi Satuan Jumlah
Air G 89
Protein G 2
Lemak G 0.1
Karbohidrat G 10
Serat G 8
Kalsium Mg 50
Fosfor Mg 30
Ferum Mg 2
Vitamin A I.V. 750
Vitamin B1 Mg 0.08
Vitamin C Mg 80
Sumber : Sirait (2009)

e. Khasiat tanaman
Takokak pun mampu melancarkan sirkulasi darah, menghilangkan
rasa sakit (analgetik) dan menghilangkan batuk (antitusif) (Rahmat 2009).
Takokak memiliki aktivitas pembersih superoksida yang tinggi yakni
di atas 70%. Kandungan kimia yang terdapat pada takokak mampu
bertindak sebagai antioksidan dan dapat melindungi jaringan tubuh dari
efek negatif radikal bebas. Kemudian, takokak berfungsi sebagai anti
radang karena memiliki senyawa sterol carpesterol dan 4 juga sebagai
alat kontrasepsi karena buah dan daunnya mengandung solasodine
0.84%, yang merupakan bahan baku hormon seks untuk kontrasepsi
(Sirait 2009).

KHALIFAH MARYAM N. DEWI ANRIANI MUNIR, S.Farm


15020150092
SKRINING FITOKIMIA

B. Skrining Fitokimia
1. Pengertian Skrining (Kristianti dkk, 2008)
Skrining fitokimia merupakan cara untuk mengidentifikasi bioaktif
yang belum tampak melalui suatu tes atau pemeriksaan yang dapat
dengan cepat memisahkan antara bahan alam yang memiliki kandungan
fitokimia tertentu dengan bahan alam yang tidak memiliki kandungan
fitokimia tertentu. Skrining fitokimia merupakan tahap pendahuluan dalam
suatu penelitian fitokimia yang bertujuan untuk memberikan gambaran
tentang golongan senyawa yang terkandung dalam tanaman yang sedang
diteliti.
2. Tujuan Skrining (Kristianti dkk, 2008)
Metode skrining fitokimia dilakukan dengan melihat reaksi pengujian
warna dengan menggunakan suatu pereaksi warna. Hal penting yang
berperan penting dalam skrining fitokimia adalah pemilihan pelarut dan
metode ekstraksi.
3. Cara-cara Skrining
a. Pemeriksaan alkaloid
Sebanyak 2 mL larutan ekstrak uji diuapkan diatas cawan
porselin hingga diperoleh residu. Residu kemudian dilarutkan dengan
5 mL HCL 2N. Larutan yang didapat kemudian di bagi ke dalam 3
tabung reaksi. Tabung pertama ditambahkan dengan asam encer
yang berfungsi sebagai blanko. Tabung kedua ditambahkan pereaksi
Dragendroff sebanyak 3 tetes dan tabung ketiga ditambahkan pereaksi
Mayer sebanyak 3 tetes. Terbentuknya endapan jingga pada tabung
kedua dan endapan kuning pada tabung ketiga menunjukkan adanya
alkaloid (Farnsworth, 1966).

KHALIFAH MARYAM N. DEWI ANRIANI MUNIR, S.Farm


15020150092
SKRINING FITOKIMIA

b. Pemeriksaan flavonoid
Sebanyak 1 mL larutan ekstrak uji, basahkan sisanya dengan
aseton P, tambahkan sedikit serbuk halus asam borat P dan serbuk
halus asam oksalat P, panaskan hati-hati diatas tangas air dan hindari
pemanasan berlebihan. Campur sisa yang diperoleh dengan 10 mL
eter P. Amati dengan sinar UV 366 nm; larutan berfluoresensi kuning
intensif, menunjukkan adanya flavonoid (Depkes RI, 1989).
c. Pemeriksaan saponin
Sebanyak 10 mL larutan ekstrak uji dalam tabung reaksi dikocok
vertikal selama 10 detik kemudian dibiarkan selama 10 detik.
Pembentukan busa setinggi 1-10 cm yang stabil selama tidak kurang
dari 10 menit, menunjukkan adanya saponin. Pada penambahan 1
tetes HCL 2N, busa tidak hilang (Depkes RI, 1995).
d. Pemeriksaan tanin dan polifenol
Sebanyak 3 mL larutan ekstrak uji dibagi kedalam 3 bagian yaitu
tabung A, tabung B, tabung C. Tabung A digunakan sebagai blanko,
tabung B direaksikan dengan larutan besi (III) klorida 10%, warna biru
tua atau hitam kehijauan menunjukkan adanya tanin dan polifenol,
sedangkan pada tabung C hanya ditambahkan garam gelatin. Apabila
terbentuk endapan pada tabung C maka larutan ekstrak positif
mengandung tanin (Marliana dkk, 2005).
e. Pemeriksaan glikosida
Serbuk simplisa uji dilarutkan dalam pelarut etanol, diuapkan
diatas tangas air, larutkan sisanya dalam 5 mL asam asetat anhidrat
P, ditambahkan 10 tetes asam sulfat P. terjadinya warna biru atau
hijau menunjukkan adanya glikosida (reaksi Liebermann-Burchard)
(Depkes RI, 1989).

KHALIFAH MARYAM N. DEWI ANRIANI MUNIR, S.Farm


15020150092
SKRINING FITOKIMIA

f. Pemeriksaan steroid dan triterpenoid


Pemeriksaan steroid dan triterpenoid dilakukan dengan reaksi
Lieberman-Burchard. Sebanyak 2 mL larutan uji diuapkan dalam
cawan penguap. Residu dilarutkan dengan 0,5 mL kloroform,
tambahkan 0,5 mL asam asetat anhidrat. Selanjutnya ditambahkan 2
mL asam sulfat pekat melalui dinding tabung. Terbentuknya cincin
kecoklatan atau violet pada perbatasan larutan menunjukkan adanya
triterpenoid, sedangkan bila muncul cincin biru kehijauan menunjukkan
adanya steroid (Ciulei, 1984).

KHALIFAH MARYAM N. DEWI ANRIANI MUNIR, S.Farm


15020150092
SKRINING FITOKIMIA

BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

1. Alat
Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah batang
pengaduk, cawan porselin, alumunium foil, pipet tetes, rak tabung, sendok
tanduk, dan tabung reaksi.
2. Bahan
Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah air
panas, aluminiom foil, etanol 95% P, eter,FeCl3 1 N, HCl 0,5 N, HCl 2 N,
HCl P, KOH 10% P,pereaksi Mayer, peraksi Bauchardat, pereaksi
Dragendorff, Liebermann-Burchard.
B. Prosedur Kerja (Anonim, 2017)
a. Reaksi Identifikasi Golongan Tanin
1. Reaksi identifikasi terhadap katekol
Sampel dibasahi dengan larutan FeCl3 1 N, jika mengandung
katekol akan menghasilkan warna hijau.
2. Reaksi identifikasi terhadap pirogalotanin
Sampel dibasahi dengan larutan FeCl3 1 N, jika mengandung
pirogalotanin akan menghasilkan warna biru.
b. Reaksi Identifikasi Golongan Dioksiantrakinon
Sedikit ekstrak dimasukkan kedalam tabung reaksi, lalu ditetesi
dengan KOH 10% P b/v dalam etanol 95% P, jika mengandung
dioksiantrakinon akan menghasilkan warna merah.
c. Reaksi identifikasi golongan alkaloid
Ekstrak metanol dimasukkan kedaam masing-masing tabung reaksi
kemudian ditetesi :

KHALIFAH MARYAM N. DEWI ANRIANI MUNIR, S.Farm


15020150092
SKRINING FITOKIMIA

1. HCl 0,5 N dan pereaksi Mayer, jika mengandung alkaloid maka akan
menghasilkan endapan kuning.
2. HCl 0,5 N dan pereaksi Bauchardat, jika mengandung alkaloid akan
menghasilkan endapan coklat.
3. HCl 0,5 N dan pereaksi Dragendroff, jika mengandung alkaloid akan
menghasilkan endapan warna jingga.
d. Reaksi Identifikasi Golongan Steroid
Ekstrak dihaluskan dengan etanol kemudian didihkan selama 15
menit lalu disaring, filtrat diuapkan sampai kering, Ekstrak kering
ditambahkan eter setelah terlebih dahulu disuspensikan dengan sedikit
air, bagian yang larut dalam eter dipisahkan. Lapisan eter kemudian
ditetesi dengan pereaksi Liebermann-Burchard jika mengadung steroid
akan menghasilkan warna merah jambu.
e. Reaksi Identifikasi Golongan Saponin
Serbuk dimasukkan kedalam tabung reaksi, ditambahkan 10 ml air
panas, didinginkan kemudian kocok kuat-kuat selama 10 detik, terbentuk
buihm lalu tambahkan 1 tetes asam klorida 2 N, buih tidak hilang.
f. Reaksi identifikasi golongan flavonoid
Ekstrak ditambahkan dengan FeCl3 dan HCl P, jika terjadi warna
merah menunjukkan adanya flavonoid.

KHALIFAH MARYAM N. DEWI ANRIANI MUNIR, S.Farm


15020150092
SKRINING FITOKIMIA

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Skrining fitokimia merupakan analisis kualitatif terhadap senyawa-


senyawa metabolitsekunder. Suatu ekstrak dari bahan alam terdiri atas
berbagai macam metabolit sekunder yang berperan dalam aktivitas
biologinya. Senyawa-senyawa tersebut dapat diidentifikasi dengan pereaksi-
pereaksi yang mampu memberikan ciri khas dari setiap golongan dari
metabolit sekunder.
Dimana untuk menguji identifikasi senyawa pada suatu sampel
dilakukan dengan uji skrining fitokimia yang dimana dilihat golongan senyawa
apa yang saja yang terdapat pada sampel misalnya yaitu tannin, Alkaloid,
steroid, dioksiantarkinon, saponin, maupun flavonoid.
Tujuan melakukan skrining fitokimia pada daun terong hutan (Solanum
torvum) yaitu untuk mengetahui apakah daun pulai ini mengandung senyawa
golongan tanin, flavonoid, antrakinon, saponin (steroid dan triterpenoid),
alkaloid.

KHALIFAH MARYAM N. DEWI ANRIANI MUNIR, S.Farm


15020150092
SKRINING FITOKIMIA

Golongan Komponen Pengamatan


No. Pereaksi/perlakuan
Kimia Sampel

a. Tanin Katekol Positif (+)


1. FeCl3 1 N
b. Tanin Pirogalotanin Negatif (-)

Etanol 95% + KOH


2. Dioksiantrakinon Negatif (-)
10%

1. Pereaksi Mayer
Positif (+)
2. Pereaksi
3. Alkaloid Negatif (-)
Bauchardat
Negatif (-)
3. Pereaksi dragendrof

Ekstrak etanol
dikeringkan + air +
eter. Dipisahkan
4. Steroid Positif (+)
bagain eter dan
pereaksi Lieberman-
Bauchardat

5. Saponin HCl 2 N Negatif (-)

6. Flavanoid FeCl3 + HCl P Negatif (-)

Keterangan :

(-) : tidak mengandung senyawa kimia yang dimaksud.


(+) : mengandung senyawa kimia yang dimaksud
Untuk uji tanin dimana mengunakan sampel serbuk pulai pada uji
identifikasi pada gololongan tanin ada dua reaksi golongannya yaitu pertama
golongan katekol yang dimana ditambahkan FeCl3 dan jika mengandung
katekol akan menghasilkan warna hijau. Kedua, golongan pirogalotanin yang

KHALIFAH MARYAM N. DEWI ANRIANI MUNIR, S.Farm


15020150092
SKRINING FITOKIMIA

dimana juga sama-sama mengunakan 2 pereaksi yang dimana yang pertama


ekstrak daun terong hutan ditambahkan FeCl3 yang jika mengandung
pirogalotanin akan menghasilkan warna biru.
Pereaksi FeCl3 merupakan pereaksi umum untuk mengidentifikasi
senyawa fenol termasuk tanin. Pada penambahan FeCl3 golongan tanin
terhidrolisis sehingga menghasilkan warna biru kehitaman dan tanin
terkondensasi akan menghasilkan warna hijau kehitaman. Perubahan warna
ini terjadi ketika penambahan FeCl3 yang bereaksi dengan salah satu gugus
hidroksil yang ada pada senyawa tanin.
Pada hasil pengamatan yang dimana mengunakan sampel daun terong
hutan untuk identifikasi golongan tanin yang dimana terbagi menjadi 2
golongan yaitu katekol dan progalotanin berbeda yang dimana daun terong
hutan mengandung katekol yang dimana hasilnya positif (-) dan pirogalotanin
yang dimana hasilnya negative(-).
Sedangkan pada uji identifikasi golongan dioksiantarkinon yang dimana
ekstrak daun terong hutan ditambahkan dengan KOH 10% P b/v dalam
etanol 95% karena KOH termasuk dalam gugus auksokrom yang mempunyai
peranan penting untuk memberikan warna lebih intensif pada suatu senyawa,
jika berwarna merah mengandung dioksiantarkinon. Namun pada hasil
pengamatannya sampel daun pulai tidak mengandung dioksiantarkinon (-).
Pada uji identifikasi golongan alkaloid yang dimana sampel ekstrak daun
terong hutan dimasukkan dalam 3 tabung reaksi yang dimana masing-masing
tabung reaksi dimasukkan HCL 0,5 N dengan tujuan untuk membentuk
garam alkaloid karena alkaloid yang bersifat basa dapat larut dalam pelarut
yang bersifat asam. Menggunakan peraksi berbeda yang dimana tabung 1
ditambahkan peraksi mayer dengan tujuan untuk mendeteksi alkaloid dimana
pereaksi ini berikatan dengan alkaloid melalui ikatan koordinasi antara atom
N alkaloid dan Hg mayer sehingga menghasilkan senyawa kompleks merkuri

KHALIFAH MARYAM N. DEWI ANRIANI MUNIR, S.Farm


15020150092
SKRINING FITOKIMIA

yang non polar, menghasilkan endapan kuning yang dimana hasil


pengamatanya positif (+). Tabung 2 ditambahkan pereaksi Burchardat yang
dimana endapannya coklat yang dimana hasil yang negatif (-), sedangkan
tabung 3 ditambahkan Dragendroff dimana endapannya jingga yang hasilnya
negatif (-).
Pada uji identifikasi steroid yang dimana serbuk daun pulai dimana
haluskan dengan etanol dan didihkan selama 15 menit, setelah itu disaring,
fitratnya dikering dan ditambahkan eter setelah ditambahkan sedikit air,
setetlah terpisah eter dengan air, ambil eter dan ditetesi dengan Liebermann-
burchard yang menghasilkan warna merah jambu yang dimana hasil
pengamatannya negative (-) yang artinya sampel daun terong hutan tidak
mengandung steroid.
Pada uji identifikasi golongan saponin terlebih dahulu serbuk sampel
dimasukkan dalam tabung reaksi dan ditambahkan 10 ml air panas dan
didinginkn setelah itu dikocok kuat-kuat hingga berbuih dan tambahkan HCL
2 N, jika berbuih berarti mengandung saponin dan jika tidak berbuih berarti
tdak mengandung saponin pada hasil pengamatannya serbuk daun terong
hutan terbentuk buih setelah dilakukan pengocokan, dan karena buih tidak
hilang setelah penambahan HCl 2 N maka pada serbuk sampel daun terong
hutan hasilnya positive (+). Timbulnya busa menunjukkan adanya glikosida
yang mempunyai kemampuan membentuk buih dalam air yang terhidrolisis
menjadi glukosa dan senyawa lainnya.
Sedangkan pada uji identifikasi golongan flavonoid yang dimana serbuk
daun pulai ditambahkan FeCl3 dan HCL P jika mengandung flavonoid
berwarna merah dan pada hasil pengamatanya negatif (-).

KHALIFAH MARYAM N. DEWI ANRIANI MUNIR, S.Farm


15020150092
SKRINING FITOKIMIA

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dan dilanjutkan dengan
pengujian kandungan kimia dari tumbuhan Terong Hutan (Solanum torvum)
dapat disimpulkan bahwa Terong hutan mengandung tanin, alkaloid, saponin
dan steroid.
B. Saran
Sebaiknya dalam praktikum lebih diperhatikan lagi ketelitian dan
kecermatan agar dalam keefektifannya, dan dalam mengefesienkan waktu.

KHALIFAH MARYAM N. DEWI ANRIANI MUNIR, S.Farm


15020150092
SKRINING FITOKIMIA

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2017. Penuntun dan Buku Kerja Praktikum Fitokimia I. Universitas


Muslim Indonesia ; Makassar.

Ciulei, J. 1984. Metodology for Analysis of vegetable and Drugs. Bucharest


Rumania: Faculty of Pharmacy. pp 11-26.

Depkes RI. 1989. Materi Medika Indonesia. Jilid V. Jakarta: Departemen


Kesehatan Republik Indonesia.

Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi V. Jakarta: Departemen


Kesehatan Republik Indonesia. pp 6.

Farnsworth, N.R. 1966. Biological and Phytochemical Screening of Plants. J.


Pharm. Sci 55.

Integrated Taxonomic information system, 2017.Alstonia scholaris L.Diakses


tanggal 06 0ktober 2017.http://www.itis.gov

Kristianti, A. N, N. S. Aminah, M. Tanjung, dan B. Kurniadi. 2008. Buku Ajar


Fitokimia. Surabaya: Jurusan Kimia Laboratorium Kimia Organik
FMIPA Universitas Airlangga. P.47-48.

Marliana, S.D., V. Suryanti., Suyono. 2005. Skrining Fitokimia dan Analisis


Kromatografi Lapis Tipis Komponen Kimia Buah Labu Siam (Sechium
edule Jacq. Swartz.) dalam Ekstrak Etanol. Biofarmasi. 3(1): 26-31.

Rahmat H. 2009. Identifikasi senyawa flavonoid pada sayuran indigenous


Jawa Barat. [skripsi]. Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian, Institut
Pertanian Bogor.

Sirait N. 2009. Terong cepoka (Solanum torvum) herba yang berkhasiat


sebagai obat. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri
15 (1):10-12.

KHALIFAH MARYAM N. DEWI ANRIANI MUNIR, S.Farm


15020150092
SKRINING FITOKIMIA

Yuanyuan LU, Jianguang L, Xuefeng H dan Lingyi K. 2009. Four


steroidalglycosides from Solanum torvum and their cytotoxic activities.
Steroids 74: 95101.

KHALIFAH MARYAM N. DEWI ANRIANI MUNIR, S.Farm


15020150092
SKRINING FITOKIMIA

LAMPIRAN

Lampiran 1. Skema Kerja Praktikum

a. Golongan Tanin

Ekstrak

Ketekol Pirogalotanin

+ FeCl3 Larutan Brom +FeCl3 Larutan Brom

Warna hijau Endapan Warna biru Tidak terjadi endapan

b. Golongan Dioksiantarkinon

Ekstrak

+ KOH 10% P b/v


+ Etanol 95% P

Warna merah

KHALIFAH MARYAM N. DEWI ANRIANI MUNIR, S.Farm


15020150092
SKRINING FITOKIMIA

c. Golongan Steroid

Serbuk

Uapkan sampai kering

Disuspensikan dengan air

+ Eter

+ Pereaksi Liebermann-Buchard, setelah terbentuk 2 fase

Warna merah jambu

d. Golongan Alkaloid

Ekstrak

Tabung 1 Tabung 2 Tabung 3

+ HCL 0,5 N + HCL 0,5 N + HCL 0,5 N

+ Peraksi Mayer + Pereaksi Burchardat + Pereaksi

Dragendroff

Endapan kuning Endapan coklat Endapan jingga

KHALIFAH MARYAM N. DEWI ANRIANI MUNIR, S.Farm


15020150092
SKRINING FITOKIMIA

e. Golongan Saponin

Sebuk

+ 10 ml air panas

Didinginkan, kocok kuat-kuat selama 10 detik (terbentuk buih)

+ 1 tetes HCL 2 N (bila buih hilang)

f. Golongan Flavonoid

Ekstrak

+ FeCl3 dan + HCl P

Warna merah

KHALIFAH MARYAM N. DEWI ANRIANI MUNIR, S.Farm


15020150092
SKRINING FITOKIMIA

Lampiran 2. Gambar Tanaman

a. Tanaman Terong Hutan (Solanum torvum)

b. Daun Terong Hutan (Solanum Folium)

(Depan) (Belakang)

KHALIFAH MARYAM N. DEWI ANRIANI MUNIR, S.Farm


15020150092
SKRINING FITOKIMIA

Lampiran 3. Gambar Hasil Praktikum

a. Identifikasi Katekol

(Sebelum + P.FeCl3) (Sesudah + P.FeCl3)

b. Identifikasi Dioksiantrakinon

(Sebelum + KOH 10%) (Sesudah +KOH 10 %)

KHALIFAH MARYAM N. DEWI ANRIANI MUNIR, S.Farm


15020150092
SKRINING FITOKIMIA

c. Identifikasi Alkaloid

(Sebelum + pereaksi) (Sesudah + pereaksi)

d. Identifikasi Saponin

(Sebelum + HCl 2 N) (Sesudah + HCl 2 N)

KHALIFAH MARYAM N. DEWI ANRIANI MUNIR, S.Farm


15020150092
SKRINING FITOKIMIA

e. Identifikasi Flavonoid

(Sebelum + pereaksi) (Sesudah + pereaksi)

f. Identifikasi Steroid

(Sebelum + pereaksi) (Setelah + pereaksi)

KHALIFAH MARYAM N. DEWI ANRIANI MUNIR, S.Farm


15020150092

Anda mungkin juga menyukai