Anda di halaman 1dari 11

Teori Manajemen Privasi Komunikasi

(Communication Privacy Management Theory)

Sandra Petronio, Ph.D.

Lisa Sanders tahu bahwa akan sangat sulit baginya untuk mencegah konsentrasinya
dibuyarkan oleh orang lain di tempat kerjanya. Ia bergegas melintasi ruangan di kantornya,
menjaga pandangan matanya kebawah, mencoba untuk menghindarkan dirinya tersesat ke
dalam sebuah percakapan dengan seseorang. Ia menikmati pekerjaannya dan sangat
menyukai rekan kerjanya, tetapi salah satu kerugiannya adalah semua orang selalu ingin
mengobrol dan ia tidak punya banyak waktu disia-siakan hari ini. Ia telah menghabiskam
terlalu banyak waktunya yang berharga untuk mengurusi email-nya. Ia telah menghapus
enam puluh lima spam yang pasti akan menibulkan masalah. Hal yang paling mengerikan
adalah entah bagaimana ia masuk ke daftar pelanggan pornografi, dan ia terum menerus
mendapatkan kiriman-kiriman tentang hal-hal yang sangat mengganggunya. Lisan tidak bisa
mengingat apa situs apa yang ttelah ia kunjungi yang telah memberikan alamt email-nya
pada situs yang memalukan ini. Ia hanya berharap bahwa kantornya tidak memiliki
semacam pelacak untuk mengamati semua pesan-pesan porno yang ia dapat. Hal ini
membuatnya merasa sangat tidak nyaman.

Ia sedang memikirkan berbagai cara untuk mengurangi atau mengeliminasi spam itu ketika
ia masuk ke dalam ruangan istirahat untuk membuat secangkir kopi. Suatu kesalahan besar.
Yolanda dan Michael sedang ada disana dan mereka menanyakan pendapatnya mengenai
perubahan yang dilakukan oleh front office dalam menyelesaikan tagihan. Satu hal berlanjut
pada hal lain, dan dalam waktu singkat ketiganya membicarakan tentang kekhawatiran
Yolanda mengenai cuti hamilnya buln depan. Lisa merasa dirinya menikmati perbincangan
tersebut, walaupu ia tahu bahwa ia harus kembali bekerja.

1
Sepulang dari tempat kerja Lisa pergi ke Central State untuk mengikuti kelas malam agar
suatu saat ia bisa menyelesaikan S-1 nya. Ia berharap ia dapat selesai tahun itu, dan dia
telah mengincar jabatan manajemen yang ia perkirakan akan kosong pada saat itu. Selama
waktu istirahat, ia bertemu dengan seorang temannya, Doug Banda, yang jug sedang
menyelesaika kuliahnya. Ia bercerita kepada Doug bahwa ia merasa tidak begitu berhasil
dalm menyeimbangkan antara pekerjaan, kuliah dan kehidupan pribadinya. Hal ini
merupakan tantangan yang terus muncul dan ini mulai membuatnya putus asa. Ia hampir
terkejut melihat dirinya menjadi begitu emosional saat berbicara dengan Doug. Ia dapat
merasakan air matanya menggenang dan merasakan tangannya gemetaran. Doug adalah
teman yang baik, ia hanya mendengerkan kemudian memberikan sebuah pelukan hangat
tanda dukungan. Lisa merasa lebih baik setelah berbicara dengan Doug.

Akhirnya kelas tersebut usai dan Lisa pulang ke rumah. Teleponnya berbunyi dan ternyata
itu adalah orang yang sedang berusaha menjajakan produknya. Ia segera mengakhiri
telepon itu dan kemudian mendengarkan pesan-pesan di mesin penjwab telepon.
Kebanyakan adalah pesan yang tidak penting, ibu Lisa telah menelponnya dengan gosip
biasa mengenai keluarganya. Kebanyakan pesan ini berkaitan dengan saudara ipar Lisa,
Margo. Ibu Lisa tidak terlalu akur dengan Margo, dan ia sering kali menelpon Lisa untuk
membicarakan mengenai apa yang telah dan tidak dilakukan oleh menantunya. Hari ini
masalahnya adalah istri Ed ini akan mengajak anak-anaknya berlibur sehingga ibu Lisa tidak
akan bisa bertemu cucu-cucunya selama dua minggu. Tentu saja, Ibunya juga tertarik
dengan kehidupan Lisa. Ketika sedang mendengarkan suara ibunya yang menanyakan
rencana akhir pekannya, teman sekamar Lisa, Amanda Torelli pulang.

Lisa menyukai Amanda, dan ia pasti tidak bisa membayar sewa apartemen tanpa teman
sekamarnya itu, tetapi terkadang ia merasa tidak memiliki waktu untuk diriny sendiri.
Amanda memiliki kepribadian yang mengebu-gebu, dan ia memenuhi apartemen itu hingga
Lisa merasa sesak. Amanda selalu punya hal yang bisa diceritakan dan dia tidak terlalu
sensitif terhadap suasana hati Lisa untuk mendengar. Malam itu juga bukan pengecualian.
Amanda ingin menceritakan pada Lisa mengenai pertengkaran terbarunya dengan
kekasihnya, Joel. Amanda dan Joel selalu bertengkar dan Lisa diam-diam berpikir bahwa
seharusnya Amanda memutuskan saja pacarnya itu. Namun, ia kemudian menyadari bahwa
Amanda suka berperan sebgai ratu drama, jadi ia berhenti menyatakan pendapatnya

2
mengenai cerita Amanda. Lia mengambil segelas anggur dan beberapa biskuit coklat sambil
duduk di sofa untuk mendengarkan kisah merana Amanda yang paling baru.

Dari cerita di atas kita bisa melihat ketika Lisa bertemu dengan berbagai macam orang
dalam kehidupannya, ia terlibat di dalam negosiasi kompleks antara privasi dan
keterbukaan. Dan kali ini saya akan membahas teori manajemen privasi komunikasi
(Communication Privacy management-CPM), yang membantu kita untuk memilah dan
menjelaskan kompleksitas proses ini. Sandra Petronio (2002) menyatakan bahwa CPM
adalah teor praktis yang didesain untuk menjelaskan isu-isu keseharian seperti yang
digambarkan dalam kegiatan-kegiatan Lisa. Sebagaimana diamati oleh Petronio, pertanyaan
apakah yang mengatakan sesuatu yang kita pikirkan kepada orang lain adalah hal yang
rumit, tetapi hal ini sering kali kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika mengamati keseharian Lisa, kita dapat melihat palin sedikit 5 contoh dimana Lisa
bertanya-tanya dengan pertanyaan mengenai pembukaan : (1) ia khawatir seseorang di
tempat kerjany mengetahui email berbau pornografi yang ia terima, (2) ia terlibat dalam
pembicaraan rekan sekerjanya tanpa mengatakan bahwa ia sedang sibuk, (3) ia
menceritakan kepada temannya bahwa ia merasa tidak dapat menyeimbangkan antara
pekerjaan, kuliah, dan kehidupan pribadinya, (4) ia mendengarkan keluhan-keluhan ibunya
yang terekam di mesin penjawab telpon, dan (5) ia mendengarkan pembukaan teman
sekamarnya tanpa mengatakan pedapatnya mengenai masalah temannya itu.

Semua contoh ini memberikan gambaran mengeni pernyataan Petronio bahwa


memutuskan apa yang akan diungkapkan dan apa yang harus dirahasiakan bukanlah
keputusan yang dapat langsung diambil, melainkan merupakan tindakan penyeimbangan
yang berlangsung secara terus menerus. Baik keterbukaan dan privasi memiliki resiko serta
penghargaan bagi Lisa dalam semua situsi yang dihadapi.

Lebih jauh lagi, Lisa harus berpikir mengenai resiko dan penghargaan yang dihasilkan oleh
keputusan yang dia buat bagi orang-orang dengan siapa ia bernteraksi. Selain itu tindakan
mengungkapkan atau merahasiakan informasi personal memiliki efek terhadap hubungan
maupun individu. Semua permasalahan ini, relasional maupun individual, menciptakan
proses keseimbangan yang kompleks yang disebut Petronio sebagai Teori Manajemen
Privasi Komunikasi.

3
Sebagaiman diamati oleh Petronio :

Kita berusaha untuk menimbang tuntutan-tuntutan situasi dengan kebutuhan kita dan
orang lain yang ada di sekitar kita. Privasi merupakan hal yang penting bagi kita karena hal
ini memungkinkan kita untuk merasa terpisah dari orang lain. Hal ini memberikan kita
perasaan bahwa kita pemilik sah dari informasi mengenai diri kita. Ada resiko yang dapat
muncul dari pembukaan kepada orang yang salah, membuka diri pada saat yang tidak tepat,
mengatakan teralalu banyak tentang diri kita sendiri, atau berkompromi dengan orang lain.
Di lain pihak pembukaan dapat memberikan keuntungan besar bagi kita, meningkatkan
kontrol sosial, memvalidasi perspektif kita ketika membuka diri. Keseimbangan antara
privasi dan pembukaan memiliki makna karena hal ini sangat penting terhadap cara kita
mengelola hubungan-hubungan kita.

Oleh karenanya, terdapat suatu kebutuhan akan teori seperti CPM yang berusaha
melakukan sesuatu yang telah dilakukan oleh teori-teori lain:menjelaskan proses yang
digunakan untuk mengelola hubungan antara menutupi dan mengungkapkan informasi
privat. Ide-ide dalam CPM sebenarnya telah berusia lebih dari 20 tahun (Petronio 1991),
tetapi pernyataan fomal pertama mengenai versi matang dari teori ini tidak muncul hingga
pada saat Petronio menerbitkan buku yang berjudul Boundaries of Privacy (Batas-batas
Privasi) pada tahun 2002.

Evaluasi Teori Manajemen Privasi Komunikasi

Dua puluh tahun yang lalu, Petronio dan koleganya menerbitkan penelitian yang
menggambarkan prinsip-prinsip yang kemudian akan menjadi bagian dari CPM. Dalam
penelitian-penelitiannya ini para peneliti tertarik akan kriteria pembentukan aturan dalam
sistem manajemen aturan bagi pembukaan. Mereka mengamati bahwa pria dan wanita
memiliki kriteria yang berbeda untuk menilai kapan harus terbuka dan kapan harus diam.

Pada Tahun 1991, Petronio menerbitkan usaha pertamanya untuk mengorganisasikan


semua prinsip-prinsip teori ini. Karyanya ini kemudian berbeda dengan konseptualisasi yang
uncul belakangan (Petronio, 2002) dalam dua hal. Yang pertama, teori ini memiliki batasan
yang lebih sempit di tahun 1991. Pada saat itu, Petronio menyebutkan hal ini sebagai
mikroteori. Karena batasannya hanya sampai pada manajemen privasi pada pasangan yang

4
menikah. Sekarang teori ini lebih tidak terbatas dan berusaha untuk menjelaskan privasi dan
pembukaan lebih banyak konteks dan tidak sekedar pernikahan saja. Petronio sekarang
menyebut CPM sebagai makroteori karena sekarang batasannya melingkupi berbagai
macam hubungan interpesonal yang luas, termasuk organisasi dan kelompok.

Perubahan kedua pada teori ini adalah perubahan nama. Di tahun 1991, Petronio menyebut
teori ini Teori Batasan Komunikasi (Communication Boundary Management). Ketika ia
menerbitkan pernyataan yang lebih lengkap mengenai teori ini dalam bukunya pada tahun
2002 ia menamainya Teori Manajemen Privasi Komunikasi (communication Privacy
Management Theory).

Asumsi Dasar CPM

Teori Manajemen Privasi Komunikasi berakar pada asumsi-asumsi mengenai bagaimana


seseorang individu berpikir dan berkomunikasi sekaligus asumsi-asumsi mengenai sifat
dasar manusia. Teori ini membuat tiga asumsi mengenai sifat dasar manusia :

1. Manusia adalah pembuat keputusan.


2. Manusia adalah perubah peraturan dan pengikut peraturan.
3. Pilihan dan peraturan manusia didasarkan pada pertimbangan akan orang lain dan
juga akan konsep diri.

Petronio (2002) melihat bahwa manusia membuat pilihan dan peraturan mengenai apa yang
harus dikatakan dan apa yang harus disimpan dari orang lain berdasarkan kalkulus mental
yang didasarkan pada kriteria penting, beberapa di antaranya seperti budaya, gender,
konteks. Petronio menggunakan istialah pembukaan (disclosure) dan pembukaan pribadi
(private disclosure) daripada menggunakan istilah pembukaan diri (self-disclosure) dalam
CPM.

Selain itu, teori CPM merupakan teori dialektik. Sebagai teori dialektik, CPM mendukung
asumsi yang mirip dengan asumsi-asumsi yang mendasari Teori Dialektika Relasional,
termasuk :

4. Hidup berhubungan dicirikan oleh perubahan.


5. Kontradiksi adalah fakta mendasar pada hidup berhubungan.

5
Asumsi-asumsi ini, secara kesuluruhan mewakili sebuah persepsi aktif mengenai manusia
dan merupakan sebuah penggambaran akan manusia yng terlibat di dalam hidup
berhubungan sampai pada batas dimana diri dan orang lain saling terkait. Sebagaimana
diamati oleh Petronia dan Caughlin (2006), privasi hanya dipahami dalamketegangan
dialektis dengan pembukaan. Jika kita membuka semuanya, kita tidak akan memiliki konsep
privasi. Sebaliknya, jika semua informasi bersifat pribadi, ide mengenai pembukaan tidak
akan masuk akal. Hanya dengan memasangkan kedunya maka kedua konsep ini dapat di
definisikan.

CPM tertarik untuk menjelaskan proses-proses negosiasi orang seputar pembukaan


informasi privat. Petronio (2000) menyatakan bahwa orang mendefinisikan informasi privat
sebagai informasi mengenai hal-hal yang sangat berarti bagi mereka. Oleh karena itu ,
proses mengkomunikasikan informasi privat dalam hubungan dengan orang lain menjadi
pembukaan pribadi (private disclosure). Penekanan yang menjauhi pembukaan diri
membuat perbedaan yang jelas antara definisi CPM dengan penelitian tradisional mengenai
keterbukaan (misalnya, Jourard, 1971). CPM memandang definisi ini berbeda dalam tiga
cara. Pertama, pembukaan pribadi memberikan penekanan lebih pada isi personal dari
pembukaan itu sendiri dibandingkan dengan literatur tradisional mengenai pembukaan diri.
Selain itu, CPM mempelajari bagaimana orang melakukan pembukaan melaui sistem yang
didasarkan pada aturan. Dan yang terakhir, CPM tidak melihat bahwa pembukaan hanyalah
berkaitan dengan diri. Sebagaimana diamatai Petronio (2002), untuk dapat benar-benar
memahami dalam dan luasnya sebuah pembukaan, CPM tidak membatasi proses ini hanya
kepada diri, tetapi memerluasnya hingga mencakup banyak level pembukaan termasuk diri
dan kelompok. Oleh karena itu, teori CPM menawarkan sistem manajemen privasi yang
mengidentifikasikan cara-cara batasan privasi dikoordinasikan di antara individu-individu.

Teori Manajemen Privasi Komunikasi mencapai tujuan-tujuan ini dengan mengajukan lima
asumsi dasar :

1. Informasi privat, merujuk pada cara tradisional untuk berfikir mengenai pembukaan; ini
merupakan pengungkapan informasi privat. Namun, Petronio (2002) melihat bahwa
berfokus pada isi dari pembukaan memungkinkan kita untuk menguraikan konsep-konsep
mengenai privasi dan keintiman dan mempelajari bagaimana mereka salaing berhubungan.

6
Keintiman adalah perasaan atau keadaan mengetahui seseorang secara mendalam dalam
cara-cara fisik, psikologi, emosional, dan perilaku karena orang ini penting dalam kehidupan
seseorang. Pembicaraan pribadi, sebaliknya, tertarik dengan proses bercerita dan
merefleksikan isi dari informasi privat mengenai orang lain dari kita.
2. Batasan privat, menjelaskan bahwa terdapat garis antara bersikap publik dan bersikap
privat. Pada satu sisi batasan ini, orang menyimpan informasi privat untuk diri mereka
sendiri (Petronio, Giles, Gallois dan Ellmers, 1998); dan pada sisi lain, orang membuka
beberapa informasi privat kepada orang lain di dalam relasi sosial dengan mereka. Ketika
informasi privat dibagikan, batasan sekelilingnya disebut batasan kolektif, dan ketika
informasi privat tersebut tetap disimpan dan tidak buka, maka batasnnya disebut batasan
personal.
3. Kontrol dan kepemilikan, orang merasa memiliki informasi privat mengenai diri mereka
sendiri. Sebagai pemilik informasi, mereka percaya bahwa mereka harus ada dalam proporsi
untuk mengontrol siapa saja yang boleh mengakses informasi privat tersebut.
4. System manajemen berdasarkan aturan, system ini adalah kerangka untuk memahami
keputusan yang dibuat orang mengenai informasi privat. System ini memungkinkan
pengelolaan pada level individual dan kolektif serta merupakan pengaturan rumit yang
terdiri dari tiga proses: karakteristik aturan privasi, koordinasi batasan, dan turbulensi
batasan.
5. Dialektika manajemen, dialektika manajemen privasi berfokus pada ketegangan-
ketegangan antara kainginan untuk mengungkapkan informasi privat dan keinginan untuk
meutupinya.

Proses Manajemen Aturan Privasi

1. Karaktersitik aturan pribadi. Merupakan salah satu proses di dalam system manajemen
aturan privasi yang mendeskripsikan sifat dasar dari aturan privasi. Ada dua faktor utama
yaitu :
Pengembangan aturan, dituntun oleh kriteria-kriteria keputusan orang untuk
mengungkapkan atau menutupi informasi privat. Teori ini menyatakan bahwa lima kriteria
keputusan digunakan untuk mengembangkan aturan-aturan privasi; kriteria berdasarkan
budaya, kriteria berdasarkan gender, kriteria motivasional, kriteria kontekstual, dan kriteria

7
rasio resiko-keuntungan. Kelima kriteria keputusan ini merupakan salah satu elemen dari
karakteristik aturan privasi.
Atribut aturan privasi, atribut adalah karakteristik aturan privasi yang mendeskripsikian
bagaimana orang mendapatkan aturan serta properti-properti aturan. Secara umum, teori
ini menyatakan bahwa orang mempelajari aturan melalui proses sosialisasi atau melalui
negosiasi dengan orang lain untuk menciptakan aturan baru.
2. Koordinasi batasan, merujuk pada bagaimana kita mengelola informasi yang dimiliki
bersama. Petronio (2002) mengamati bahwa orang mengatur informasi privat melalui
aturan-aturan yang mengurangi pertalian batsan, hak kepemilikan batasan dan
peremeabilitas batsan.
Pertalian batasan, merujuk pada hubungan yang membentuk aliansi batasan antar
individu.
Kepemilikan batasan, merujuk pada hak-hak dan keistimewaan yang diberikan kepada
pemilik pendamping (co-owner) dari sebuah informasi privat.
Permeabilitas batasan, merujuk pada severapa banyak informasididapat melalui batasan
yang ada. Ketika akses terhadap informasi privat ditutup, batasannya disebut batasan tebal,
sedangkan ketika aksesnya terbuka, batasnnya disebut sebagai batsan tipis (petronio, 2002).
3. Turbulensi batasan, hal ini muncul ketika aturan-aturan koordinasi batasan tidak jelas
atau ketika harapan orang untuk manajemen privasi berkonflik antara satu dengan lainnya.
Aturan batasan tidak selalu merupakan system yang berjalan dengan lancar, dan orang-
orang yang terlibat dapat mengalami benturan yang disebut Petronio sebagai turbulensi.
Turbulensi batasan dapat terjadi karena beberapa orang mengundang orang lain kedalam
batasan privasi mereka, mereka mengharapkan respons yang sesuai. Ketika harapan ini
dilanggar, orang terluka dan menjalani turbulensi batasan. Hal ini sangat membingungkan
karena batasan dalam keadaan terbuka tetapi orang yang satunya menolak untuk
dilibatkan.

Konsep-konsep dalam Manajemen Privasi Kounikasi


Dalam teori Manajemen Privasi Komunikasi terdapat beberap konsep yang umum
digunakan, beberapa diantaranya yang banyak digunakan adalah :
1. Pembukaan pribadi (private disclosure)
Proses mengkomunikasikan informasi privat dalam hubungan dengan orang lain.

8
2. Informasi privat (private information)
informasi mengenai hal-hal yang sangat berarti bagi mereka.
3. Batasan privat (private boundaries)
Batasan untuk menjelaskan bahwa terdapat garis antara bersikap publik dan
bersikap privat.
4. Batasan kolektif (collective boundary)
Ketika informasi privat dibagikan, maka batasan sekelilingnya disebut batasan
kolektif.
5. Batasan personal (personal boundary)
Ketika informasi privat tetap disimpan oleh seseorang dan tidak dibuka, maka
batasannya disebut batasan personal.
6. Keintiman (intimacy)
Adalah perasaan atau keadaan mengetahui seseorang secara mendalam baik fisik,
psikologi, emosional dan perilaku karena orang ini penting dalam kehidupan
seseorang.

Aplikasi dalam Kehidupan

Menyadari bahwa manusia bukan hanya memiliki dorongan untuk menyimpan


(menyembunyikan) informasi tapi juga dorongan untuk berbagi informasi pribadi kepada
orang lain, saya melihat bersarnya potensi teori ini untuk diterapkan secara praktis dalam
tindakan komunikasi sehari-hari. Contoh kasusnya bisa kita lihat seperti yang dialami Lisa
Sanders pada pendahuluan diatas. Bagaimana dia bertemu berbagai macam karakter
manusia dan menemukan beberapa masalah baik masalahnya sendiri ataupun masalah
orang disekitanya. Ia melakukan pembukaan kepada beberapa orang dan sebaliknya
beberapa orang dekatnya melakukan pembukaan terhadapnya baik berupa informasi yang
bersifat umum maupun yang bersifat privat.

Namun masih banyak lagi aplikasi teori ini. Sekarang ini tekhnologi juga turut ambil bagian
dalam teori ini, karena banyaknya media sosial di dunia maya yang dijadikan media untuk
membuka diri. Misalnya saja blogspot.com, tumblr.com, facebook, twitter dll. Tanpa sadar
mereka melakukan pembukaan diri melalui media internet.

9
Sedangkan dalam aplikasi di bidang penelitian, penggunaan teori CPM tampaknya semakin
populer. Bila pada awalnya teori ini hanya digunakan untuk meneliti pengungkapan
informasi pribadi dalam konteks hubungan antarpribadi yang sangat dekat seperti keluarga
dan persahabatan, maka memasuki dasawarsa 1990-an penerapan teori ini sudah melebar
hingga memasuki fenomena pengungkapan informasi pribadi berupa kesalahan penanganan
medis yang dilakukan dokter, pengungkapan informasi HIV, pengungkapan melalui saluran
radio dan komunikasi kelompok, melalui situs jejaring sosial dan webloging, isu-isu privasi
dibidang perdagangan via elektronik (e-commerce), bimbingan konseling dan pelanggaran
seksual. Beberapa penelitian yang dilakukan dengan menggunakan teori ini diantaranya
adalah penelitian tentang pelecehan seksual yang dilakukan Petronio Hecht, dan Monts
RosMendoza tahun 1996, Miriam J Metzger dari Department of Communication, University
of California, Santa Barbara (2007) yang meneliti tentang Communication Privacy
Management in Electronic Commerce, penelitian Yep tahun 2000 tentang Disclosure of HIV
infection in interpersoinal relationship, penelitian Sargent (2003) yang mengkaji fenomena
Nonverbal boundary coordination, dan penelitian Afifi (2003) tentang feeling caught in
step families: managing boundary turbulance through appropriate communication privacy.
Hingga saat ini diperkiran telah dilakukan lebih dari seratus penelitian yang menggunakan
teori ini diseluruh dunia.

10
Sumber

http://mysteriouxboyz90.blogspot.com/2010/08/teori-komunikasi-manajemen-privasi.html

West, Richard. & Turner, Lynn.H. (2008) Pengantar teori komunikasi : Analisi dan Aplikasi .
Jakarta : Salmba Humanika

Pojok Teori, Jurnal Komunikasi, CPM oleh Antar Venus

11