Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

KETIDAKBERDAYAAN
PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN JIWA
Pembimbing : a. Klinik : Juli Muhammad Kartiko, S.Kep.
b. Akademik : Dwi Ariani, S.Kep, M.Kes.

Disusun Oleh :
Firda Ratma Pratiwi
P27220011 172

POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA


JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI DIII BERLANJUT KMB
SEMESTER 5
2013

2
LAPORAN PENDAHULUAN
KETIDAKBERDAYAAN

A. Masalah Utama
Ketidakberdayaan

B. Proses Terjadinya Masalah


1. Pengertian
Persepsi individu bahwa tindakannya sendiri tidak akan
mempengaruhi hasil secara bermakna; suatu kurang kontrol terhadap
situasi tertentu atau kejadian baru yang dirasakan (Townsend, 1998).
Kondisi ketika individu atau kelompok merasakan kurangnya kontrol
personal terhadap sejumlah kejadian atau situasi tertentu yang
mempengaruhi pandangan, tujuan dan gaya hidup (Carpenito, 2009).
Ketidakberdayaan adalah perasaan yang dialami semua orang dalam
derajat yang berbeda pada situasi yang berlainan.
Stephenson (1979) dalam Carpenito (2009) menggambarkan dua
jenis ketidak-berdayaan, yaitu;
a. Ketidakberdayaan situasional
Ketidakberdayaan yang muncul pada sebuah peristiwa spesifik dan
mungkin berlangsung singkat.
b. Ketidakberdayaan dasar (trait powerlessness)
Ketidakberdayaan yang bersifat menyebar, mempengaruhi
pandangan, tujuan, gaya hidup, dan hubungan.
Secara klinis, diagnosis keperawatan ketidakberdayaan mungkin
lebih bermanfaat jika digunakan untuk menggambarkan individu yang
mengalami ketidakberdayaan dasar dibandingkan ketidakberdayaan
situasional.

3
2. Tanda dan Gejala
Batasan karakteristik (Carpenito, 2009)
a. Mayor (harus ada):
Memperlihatkan atau menutupi (marah, apatis) ekspresi
ketidakpuasan atas ketidakmampuan mengontrol situasi (mis.,
pekerjaan, penyakit, prognosis, perawatan, tingkat penyembuhan)
yang mengganggu pandangan, tujuan, dan gaya hidup.
b. Minor (mungkin ada):
1) Apatis dan pasif.
2) Ansietas dan depresi.
3) Marah dan perilaku kekerasan.
4) Perilaku buruk dan kebergantungan yang tidak memuaskan
orang lain.
5) Gelisahan dan cenderung menarik diri.
Tanda dan gejala (batasan karakteristik) (Townsend, 1998):
a. Ekspresi verbal dari tidak adanya kontrol atau pengaruh atau situasi,
hasil atau perawatan diri.
b. Tidak berpartisipasi dalam perawatan atau pengambilan keputusan
saat kesempatan diberikan.
c. Mengekspresikan keragu-raguan yang berkenaan dengan
pelaksanaan peran.
d. Segan mengekspresikan perasaan sebenarnya, takut diasingkan dari
pengasuh.
e. Apatis dan pasif
f. Ketergantungan pada orang lain yang dapat menghasilkan lekas
tersinggung, kebencian, marah, dan rasa bersalah.

3. Etiologi
a. Kemungkinan etiologi:
1) Disfungi proses berduka.
2) Kurangnya umpan balik positif.
3) Umpan balik negatif yang konsisten.

4
b. Faktor yang berhubungan:
Patofisiologis
Setiap proses penyakit, baik akut maupun kronis, dapat
menyebabkan ketidakberdayaan atau berperan menyebabkan
ketidakberdayaan.
Beberapa sumber umum antara lain:
1) Berhubungan dengan ketidakmampuan berkomunikasi, sekunder
akibat CVA, trauma servikal, infark miokard, nyeri.
2) Berhubungan dengan ketidakmampuan menjalani tanggung
jawab peran, sekunder akibat pembedahan, trauma, artritis.
3) Berhubungan dengan proses penyakit yang melemahkan,
sekunder akibat sklerosis multipel, kanker terminal.
4) Berhubungan dengan penyalahgunaan zat.
5) Berhubungan dengan distorsi kognitif, sekunder akibat depresi.

Situasional (Personal, Lingkungan)


1) Berhubungan dengan perubahan status kuratif menjadi paliatif.
2) Berhubungan dengan perasaan kehilangan kontrol dan
pembatasan gaya hidup, sekunder akibat (sebutkan)
3) Berhubungan dengan pola makan yang berlebihan.
4) Berhubungan dengan karakteristik personal yang sangat
mengontrol nilai (mis., lokus kontrol internal).
5) Berhubungan dengan pengaruh pembatasan rumah sakit atau
lembaga.
6) Berhubungan dengan gaya hidup berupa ketidakmampuan
(helplessness).
7) Berhubungan dengan rasa takut akiat penolakan
(ketidaksetujuan).
8) Berhubungan dengan kebutuhan dependen yang tidak terpenuhi.
9) Berhubungan dengan umpan balik negatif yang terus-menerus.
10) Berhubungan dengan hubungan abusive jangka panjang.

5
11) Berhubungan dengan kurangnya pengetahuan.
12) Berhubungan dengan mekanisme koping yang tidak adekuat.

Maturasional:
1) Anak remaja:berhubungan dengan masalah pengasuhan anak.
2) Dewasa:berhubungan dengan peristiwa kehilangan lebih dari
satu kali, sekunder akibat penuaan (mis., pensiun, defisit sensori,
defisit motorik, uang, orang terdekat.

4. Data Yang Perlu Dikaji


Data Masalah keperawatan
Subjektif: Harga diri rendah
a. Mengatakan secara verbal ketidakmampuan
mengendalikan atau mempengaruhi
situasi.
b. Mengatakan tidak dapat menghasilkan sesuatu.
c. Mengatakan ketidakmampuan perawatan diri.
Objektif:
a. Tidak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan saat
kesempatan diberikan.
b. Segan mengekspresikan perasaan yang sebenarnya.
c. Apastis,pasif.
d. Ekspresi muka murung.
e. Bicara dan gerakan lambat.
f. Nafsu makan tidak ada atau berlebihan.
g. Tidur berlebihan.
h. Menghindari orang lain.

5. Diagnosis Keperawatan:
Harga diri rendah berhubungan dengan ketidakberdayaan.

6. Rencana Tindakan Keperawatan


a. Tujuan
1) Tujuan umum:
Pasien mampu menyelesaikan masalah-masalah dengan cara-
cara yang efektif untuk mengontrol situasi kehidupannya,
dengan demikian menurunkan perasaan ketidakberdayaan.

6
2) Tujuan khusus:
Klien berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang
berkenaan dengan perawatannya sendiri dalam 5 hari.
b. Intervensi:
1) Biarkan pasien mengambil sebanyak mungkin tanggung jawab
untuk praktik-praktik perawatan dirinya sendiri.
Rasional: memberikan pasien pilihan-pilihan akan
meningkatkan perasaan mampu mengontrol pada pasien.
Contoh:
a) Libatkan pasien dalam menetapkan tujuan-tujuan perawatan
dirinya yang ingin dicapai.
b) Biarkan pasien menetapkan sendiri jadwal aktivitas
perawatan dirinya.
c) Berikan pasien privasi sesuai kebutuhan yang ditentukan.
d) Berikan umpan balik positif untuk keputusan yang dibuat.
Hargai hak pasien dalam membuat keputusan-keputusan
tersebut secara mandiri, dan menahan diri dari usaha-usaha
untuk mempengaruhinya terhadap hal-hal yang
kelihatannya lebih logis.
2) Lakukan pendekatan yang hangat,menerima pasien apa adanya
dan bersifat empati.
3) Mawas diri dan cepat mengendalikan perasaan dan reaksi diri
perawat sendiri (misalnya: rasa marah, frustasi dan simpati).
4) Dukung aktivitas secara bartahap, tingkatkan sejalan dengan
mobilisasi energi pasien.
5) Sediakan waktu untuk berdiskusi dan bina hubungan yang
sifatnya supportif.
6) Beri waktu untuk pasien berespons.
7) Tunjukkan respons emosional dan menerima pasien
8) Gunakan teknik komunikasi terapeutik terbuka, eksplorasi,
klarifikasi.

7
9) Berikan program yang nyata dan terstruktur.
10) Tetapkan tujuan yang realistik, relevan dengan kebutuhan dan
minat pasien, fokuskan pada aktivitas positif.
11) Bantu pasien mengidentifikasi area-area situasi kehidupannya
yang tidak berada dalam kemampuannya untuk mengontrol.
12) Dorong untuk menyatakan secara verbal perasaan-perasaannya
yang berhubungan dengan ketidakmampuan.
13) Kaji keterampilan sosial dukungan dan minat pasien.
14) Tinjau sumber-sumber sosial potensial yang ada.
15) Diskusikan tentang masalah yang dihadapi pasien
tanpamemintanya untuk menyimpulkan.
16) Identifikasi pemikiran yang negatif dan bantu
untukmenurunkannya melalui interupsi atau substitusi.
17) Bantu pasien untuk meningkatkan pemikiran yang positif.
18) Bantu pasien untuk menyadari nilai yang dimilikinya atau
perilakunya dan perubahan yang terjadi.
19) Evaluasi ketepatan persepsi,logika dan kesimpulan yang dibuat
pasien.
20) Motivasi keluarga untuk berperan aktif dalam membantu
pasien menurunkan perasaan tidak berdaya.
21) Libatkan keluarga untuk mendukung respons emosional adaptif
pasien.
22) Dukung dan libatkan keluarga dalam terapi kelompok yang
sesuai.

DAFTAR PUSTAKA

8
Carpenito, L.J. 2009. Diagnosis Keperawatan: Aplikasi Pada Praktik
Klinis. Ed.9. Jakarta: EGC.
Townsend, M.C. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada
Keperawatan Psikiatri. Ed.3. Jakarta: EGC.
Angreni. 2010.Askep Gangguan Alam Perasaan Depresi. Diambil dari
http://anggreniniluhputu.blogspot.com/2010/12/askep-gangguan-
alam-perasaan-depresi.html pada 02 Desember 2012.