Anda di halaman 1dari 21

Laporan Kasus

Candidiasis
Intertriginosa
Disusun oleh :

Nurhasyimah (1407101030167)

Muliana Sari (1407101030034)

Pembimbing :

dr.Fitria Salim, Sp. KK

BAGIAN / SMF ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
RSUD dr. ZAINOEL ABIDIN
BANDA ACEH
2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
kesehatan dan kesempatan sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang
berjudul Candidiasis Intertriginosa dengan baik. Shalawat beriring salam penulis
sanjungkan keharibaan Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umatnya ke
alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan
yang sebesar-besarnya kepada dr.Fitria Salim, Sp. KK sebagai pembimbing yang
telah memberikan bimbingan, kepercayaan dan fasilitas yang sangat membantu
penulis dalam menyelesaikan laporan kasus ini.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam laporan kasus ini,
untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan.Semoga laporan
kasus ini memberikan manfaat terutama bagi penulis dan yang lainnya.

Banda Aceh, Juli 2014

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i
KATA PENGANTAR ..............................................................................................ii
DAFTAR ISI .............................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................iv

BAB I : PENDAHULUAN ................................................................................... 1


BAB II : TINJAUAN PUSTAKA .........................................................................
BAB III : LAPORAN KASUS .............................................................................. 4
Identitas Pasien ................................................................................................. 4
Anamnesis ........................................................................................................ 4
Pemeriksaan Fisik ............................................................................................ 5
Diagnosis Banding ........................................................................................... 6
Kesimpulan ...................................................................................................... 7
Diagnosis Kerja ................................................................................................
Diagnosis ..........................................................................................................
Penatalaksanaan ...............................................................................................
Prognosis ..........................................................................................................
BAB IV: DISKUSI ...................................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................


DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1 ............................................................................................................. i
PENDAHULUAN

Kandidisiasismerupakanpenyakitfungi yang bersifatakutatausubakut


yangdisebabkanolehspesiescandidaatau genus
candidalainnya.Lesidapatmengenaimulut, vagina, kulit, kuku, bronkiatauparu,
kadang-kadangdapatmenyebabkan septicemia, endocarditis atau
meningitis.Sinonimdari candidiasis adalahkandidosisdanmoniliasis.Candida
yangmenyerangkulitdisebutsebagaikandidiasiskutis. (1)
Genus candidamerupakan group heterogenkira-kiradari 200 spesiesfungi.
Banyakspesiescandidamerupakan pathogen opportunistic
padamanusiawalaupunkebanyakandari candida
tidakmenyebabkaninfeksi.Infeksidapatberupalocalatausisitemik.Sekitar 70-80%
penyebabterseringinfeksifungidisebabkanoleh Candida albicans.Infeksi candida
dapattimbulpadapasiendengankeadaanimmunocompromised,hospitalisasijangkapanja
ng, penggunaanantibiotik. (2)
Penyakitiniterdapatdiseluruhdunia, dapatmenyerangsemuaumur, baiklaki-
lakimaupunperempuan.Fungipenyebabnyaterdapatpada orang
sehatsebagaisaprofit.Gambaranklinisnyabermacam-macamsehinggatidakdiketahui
data penyebarannyasecaratepat. (1)
Kandidiasiskutisbiasanyamerupakaninfeksiskunderpadapasien yang
mempunyaifactorprediposisi.Insidenkandidiasiskutis, baru-
baruinisemakinbertambahkhususnyapasienimmunocompromised, diabetes mellitus,
tranplantasiginjal,
pemakaianjangkapanjangkortikosteroiddanantibiotik.Kandidiasiskutisterjadipadadaer
ahtropis, bagiantubuh yang basahdanbagianlipatanseperti
inguinal.Kandidosisintertriginosapaling seringterjadipadaaksila, inguinal,
lipatanintergluteal, dansela-selajari. (3)
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI
Kandidiasis adalah Penyakit infeksi yang disebabkan oleh fungi golongan
candida, biasanya oleh Candida albicans dan dapat mengenai membran mukosa,
kulit, dan kuku, saluran gastrointestinal dan dapat menyebabkan penyakit sistemik.(4)
(2)
Infeksi superficial pada kulit dan membrane mukosa merupakan jenis infeksi
kandida yang paling sering terjadi .jenis kandidiosis kutis yang paling sering adalah
intertrigo, diaper dermatitis, dermatitis perianal, candidiosis balanitis. (5)

2.2 ETIOLOGI
Kandidiasis merupakan infeksi opurtunistik pada manusia yang disebabkan
oleh pertumbuhan berlebihan dari fungicandidaterutama Candida albicans.Candida
merupakan organisme komensal normal pada
manusia.Banyakspesiescandidamerupakan pathogen opportunistic
padamanusiawalaupunkebanyakandari candida
tidakmenyebabkaninfeksi.Infeksidapatberupalocalatausisitemik.Sekitar 70-80%
penyebabterseringinfeksifungidisebabkanoleh Candida albicans.Infeksi candida
dapattimbulpadapasiendengankeadaanimmunocompromised,hospitalisasijangkapanja
ng, penggunaanantibiotik.
Meskipun Candida albicans merupakan penyebab infeksi terbanyak pada
manusia namun genus candidamemiliki group heterogenkira-kiradarilebih dari 150
spesiesfungi diantaranya Candida Tropicalis, Candida parapsilosis, Candida
Guillermondi, Candida Krusei, Candida Kefyr, Candida Zeylanoides, danCandida
Glabrata namun jarang menyebabkan infeksi. (2) (5)
Spesies candida penyebab infeksi pada manusia
paling sering Kurang Jarang
Candida albicans Candida dubliniensis Candida blankii
Candida glabrata Candida famata Candida bracarensis
Candida tropicalis Candida inconspicua Candida catenulate
Candida parapsilosis Candida lipolytica Candida chiropterorum
Candida krusei Candida metapsilosis Candida ciferri
Candida guilliermondii Candida norvegensis Candida eremophila
Candida lusitaniae Candida orthopsilosis Candida fabianii
Candida kefyr Candida pelliculosa Candida fermentati
Candida rugosa Candida freyschussii
Candida zeylanoides Candida haemulonii
Candida intermedia
Candida lambica
Candida magnolia
Candida membranaefaciens
Candida nivariensis
Candida palmioleophila
Candida pararugosa
Candida pseudohaemulonii
Candida pseudorugosa
Candida pintolopesii
Candida pulcherrima
Candida thermophila
Candida utilis
Candida valida
Candida viswanathii

Fungi sebagai penyebab, menyukai daerah kulit yang sering lembab.Infeksi


candida dapat terjadi bila ada faktor yang menyuburkan pertumbuhan candida atau
ada faktor yang mempermudah terjadinya invasi jaringan karena daya tahan tubuh
yang lemah. Faktor-faktor ini diantaranya:
1. Faktor Mekanik
Trauma (luka bakar, abrasi, penggunaan IUD, meningkatnya frekuensi
koitus), oklusi local, daerah yang lembab dan bermaserasi, gigi buatan,
pakaian yang ketat dan obesitas.
2. Faktor nutrisi
Avitaminosis, defisiensi besi, malnutrisi generalis
3. Faktor fisiologik:
usia yang ekstrim, kehamilan, menstruasi.
4. Penyakit sistemik:
Down syndrome, penyakit endokrin (Diabetes Melitus, hipoparatiroid,
hipoadrenalin, hipotirroid), keganasan, imunodefisinsi.
5. Iatrogenik
Faktor barier lemah(pemasangan kateter dan infuse, radiasi sinar X,
obat-obatan oral, parenteral, topikal, aerosol (kortikosteroid dan
immunosupresan lainnya, antibiotik spektrum luas, metronidazole,
transquilizer, kontrasepsi oral / estrogen, colchisine, phenylbutazone
dan histamine 2-blocker(2)
6. Idiopatik
Kemampuan ragi berubah bentuk menjadi hifa dianggap sebagai
mekanisme patogen primer dan terbukti bila bentuk hifa melekat lebih
kuat pada permukaan epitel, namun sekarang diketahui bahwa bentuk
ragi (yeast) mampu invasi dan tidak lagi dianggap hanya sebagai
komensal.(2)

2.3 PATOGENESIS
Kelainan yang disebabkan oleh spesies candida ditentukan oleh interaksi yang
kompleks antara patogenitas fungi dan mekanisme pertahanan host.Faktor penentu
patogenitas candida adalah virulensi fungi, enzim dan toxin, yeast-mycelial shift, dan
daya lekat. Mekanisme pertahanan host meliputi sawar mekanik yaitu lapisan kulit
yang utuh. Kerusakan pada stratum korneum dapat mempermudah terjadinya
candidiasis kutis. (4)
Sebagian besar spesies candida diketahui memiliki faktor virulensi termasuk
faktor protease.Kemampuan fungi untuk melakukan adhesi pada lapisan bawah
epithelium merupakan langkah yang penting dalam menghasilkan hifa dan penetrasi
jaringan.Pada infeksi funfi, Sitokin dan interleukin memiliki peranan penting yang
mempngaruhi keratinosit dalam tubuh manusia.Di dalam keratinosit Candida
albicans memacu respon inflamasi .Candida albicansmenghalangi ekspresi
interferon gamma yang memicu protein 10 pada keratinosit manusia. Hal ini dapat
menjelaskan cara fungi dalam menginfeksi kulit. (5)

2.4 GEJALA KLINIK


Candida albicans mempunyai predileksi untuk berkolonisasi pada daerah lipatan-
lipatan kulit yang lembab seperti daerah axila, lipat paha, intergluteal, lipat payudara,
sela-sela jari tangan atau kaki, gland penis, dan umbilicus.Faktor predisposisi
penyakit ini biasanya pada orang-orang obesitas, memakai pakaian yang ketat,
diabete mellitus, dan faktor pekerjaan. Gejala yang timbul pada candidiasis inetrtrigo
berupa gatal, kulit eritema yang basah dengan tepi iregular, dan maserasi, . Lesi
tersebut dikelililngi oleh lesi satelit berupa vesikopustul atau bula subcorneum yang
bila pecah akan meninggalkan daerah yang erosif yang selanjutnya akan terkelupas
daristratum korneum. Biasanyaakan timbul rasa gatal dan nyeri pada lesi tersebut. (4)
(2) (6)

2.5 DIAGNOSIS BANDING


A. Intertrigo bakterial
B. Tinea corporis
C. Psoriasis
D. Dermatitis kontak
E. Eritrasma
F. Dermatitis seboroik. (2)

2.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG


Infeksi candidiasis intertrigo dapat di dignosa berdasarkan morfologi lesinya disertai
adanya lesi satelit berupa vesikopustul.Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan
antara lain:
1. Preparat KOH
Pada pemeriksaan preparat kerokan kulityang dibubuhidengan KOH 10
20% dibawah mikroskop akan tampak budding yeast cells (2 spora seperti
angka 8) dengan atau tanpa pseudohifa atau hifa.KOH berfungsi untuk
mnghancurkan debris protein dan menghancurkan jaringan keratin serta
meningkatkan visibilitas. Pseudohifa (gambaran seperti untaian sosis) hifa
pada infesi membrana mukosa adalah pathognomonis, sedang pada
kandidiasis kutis tidak selalu ada.Spesimen harus baru dan segera
diperiksa.(7)
2. Pengecatan Gram.
Elemen fungi tampak sebagai gram positif berbentuk oval dan bulat
berupa budding yeast cell, pseudohifa dan hifa yang bersepta.(7)
3. Kultur
Pada kultur dengan menggunakan media Sabourauds Dextrose Agar
(SDA)akan tumbuh koloni basah berwarna krem keabu-abuan setelah
dikultur selama empat hari. Secara mikroskopis akan tampak koloni-
koloni berupa budding yeast cells.(6)
4. Histopatologi
Dengan pengecatan GMS (Gomoris Methenamic Silver) serta Congo red
staining dapat membantu menyingkirkan diagnosis banding pada infeksi
fungi .Blastomikosis dan pitirosporum positif keduanya, sedangkan pada
Candida albicansdan Histoplasma hanya GMS yang positif sedangkan
Congo red negative.(6)
Dengan pengecatan PAS (Periodic Acid Schiff) pada biopsi specimen
kulit ditemukan budding yeast cells dan hifa tak bersepta, hifa tak bersepta
menunjukkan kandidiasis kutaneus berbeda dengan tinea).(6)(5)

2.7 PENATALAKSANAAN
1. Topikal: antifungal topical (nistatin, imidazol kream
topical,klotrimazole,ekonazole, mikonazole, ketoconazole, ciclopiroxolamine,
sulkonazole and oxikonazole) bedak miconazole dapat dipakai pada area
lipatan yang lembab. (fixptr, artikel) selama 2 minggu dan dpat diperpanjang
jika lesi masih basah.
2. Obat oral
1. Tablet ketoconazole : Sehari 1 tablet selama 1-2 minggu
2. itraconazole : 100 mg/hari
3. fluconazole 50 mg/hari(1)
Laporan Kasus

IndetitasPasien

Nama : Mrs. N
Jeniskelamin : Perempuan
No. RM : 0-02-63-47
Umur : 68 tahun
Alamat : lrg. Jambu, Tanjongselamat
Pekerjaan : IbuRumahTangga
TanggalPemeriksaan : 15 Juli 2014

Anamnesis

Keluhanutama:
Terdapatbintil-bintilkemerahanyang berisicairandannanahdisertairasa gatal di
ketiaksejak 3 hari yang lalu.

RiwayatPerjalananPenyakit:
Pasiendatangdengankeluhanutamaterdapatbintil-bintilkemerahandisertai rasa
gatalsejak 3 hari yang lalu di ketiak.Lesipertamamunculberupabintil-bintil yang
berisicairanlaluberubahmenjadibintil-bintil yang berisinanah.

RiwayatPenyakitDahulu
Pasien mengaku
bahwadiatidakpernahmerasakangejalasepertiinisebelumnya.Pasienmempunyairiwayat
diabetes mellitus.

RiwayatPenyakitKeluarga
Adikkandungpasienjugamenderitahal yang samadenganpasien.

RiwayatPemakaianObat
Pasienpernahmenggunakanobatoles yang dibelikan di apotek.
RiwayatKebiasaanSosial
-

Pemeriksaanfisik

Status dermatologis
Lesiterdapatpadaaksiladekstra.Tampakadanyavesikeldan bulla
dengandasareritematusberbatastegasdenganukuranmiliar- gutata, konfigurasi
korimbififormis bentuklesi multiple distribusi regional.

Diagnosis banding pada kasus ini ialah tinea korporis, psoriasis fleksural, dermatitis
kontak alergen, eritrasma, dan dermatitis seboroik.Tinea korporis merupakan
dermatofitosis yang terjadi pada daerah badan dan kulit halus.Gejala klinis yang
didapat pada tinea korporis berupa lesi anular, berbatas tegas dengan dasar eritema
kadang-kadang dengan vesikel dan papul ditepi lesi.Pemeriksaan KOH pada tinea
korporis ditemukan adanya hifa bersepta. (8)
Psoriasis fleksural merupakan psoriasis yang berlokasi pada lipatan kulit seperti
aksila, area genital crural dan leher.Gejala klinis ditemukan lesi eritematus yang
berbatas jelas, mengkilat dengan skuama diatasnya.Pada pemeriksaan KOH dan
pewarnaan gram tidak ditemukan adanya budding yeast cell. (9)
Dermatitis kontak alergi sering disebabkan oleh bahan wangi-wangian terutama yang
terdapat dalam produk kosmetik, dan biasanya digunakan ditangan dan/atau
diwajah.Parfum dan deodorant yang terbuat dari bahan wangi-wangian merupakan
sumber sensitisasi paling sering terjadi dermatitis kontak alergika pada wanita.Reaksi
yang ditimbulkan umumnya penderita mengeluh gatal, kelainan kulit bergantung
pada keparahan dermatitis dan lokalisasinya.Pada yang akut dimulai dengan bercak
eritematosa kemudian diikuti edema, papulovesikel, vesikel atau bula.Vesikel atau
bula dapat pecah menimbulkan erosi dan eksudasi.(10)
Eritrasmamerupakan infeksi bakteri superfisial pada kulit yang disebabkan oleh
corynebacteriun minitussismun, yang ditandai dengan adanya patch coklat kemerahan
irregular terutama terdapat pada daerah intertriginosa.Pada pemeriksaan dengan lampu
Wood, lesi eritrasma terlihat berfluoresensi merah membara (coral-red) dan pada
pemeriksaan sediaan langsung ditemukan C. minutissimum.Pemeriksaan pewarnaan gram
menunjukkan lapisan bertanduk seperti basil pada gram positif dalam jumlah
banyak.(8).Dermatitis seboroik merupakan dermatitis kronik yang mempunyai bentuk
yang khas berupa lesi kemerahan dengan tepi yang jelas, ditutupi skuama berminyak
dan tempat predileksi di tempat yang kaya glandula sebaseous. Dermatitis seroboik
pada aksila, lipat paha, daerah anogenital, regio dibawah mammae, dan umbilicus
terlihat sepertikandidiasis intetrigo dengan tepi berbatas tegas dan skuama
berminyak.. (11)

Resume
pasien datang kepoliklinikdengankeluhanterdapatbintil-bintilkemerahandisertai
rasa gatalsejak 3 hari yang lalu di ketiak. Lesipertamamunculberupabintil-bintil yang
berisicairanlaluberubahmenjadibintil-bintil yang berisinanah.
Status dermatologispada regio aksiladitemukanadanyavesikeldan bulla
dengandasareritematusberbatastegasdenganukuranmiliar gutata, bentuklesi multiple
distribusi regional.

PemeriksaanPenunjang
1. Pemeriksaan KOH, hasilnya negatif, tidak ditemukan adanya budding yeast cells
2. perwarnaan gram, tampak sebagai gram positif dan berupa budding yeast cells

Diagnosis
Candidiasis Intertrigo

Terapi
Ketokonazol 200 mg/hari, 1x1 selama 2 minggu
Ketoconazole cr 1 tube (pagidanmalam)

Edukasi
1.Menjaga kulit agar selalu bersih dan kering
2.Gunakan obat secara rutin sesuai petunjuk doker
3. Kontrol gula darah

Prognosis
Qou ad vitam : dubia at bonam
Qou ad functionam : dubia at bonam
Qousanactionam : dubia at bonam

FOLLOW UP PASIEN (20 Juli,2014)


Gambar 4. Candidiosis Intertriginosa pada region aksila (setelah mendapatkan pengobatan)

DISKUSI

Kandidiasis adalah Penyakit infeksi yang disebabkan oleh fungi golongan


candida, biasanya oleh Candida albicans dan dapat mengenai membran mukosa,
kulit, dan kuku, saluran gastrointestinal dan dapat menyebabkan penyakit.
sistemik.(ROOK<Fietzpatrik)
Infeksi superficial pada kulit dan membrane mukosa merupakan jenis infeksi
kandida yang paling sering terjadi .jenis kandidiasis kutis yang paling sering adalah
intertrigo, diaper dermatitis, dermatitis perianal, candidiosis balanitis.( medscape)
pada pasien ini kandidiasis kutis terjadi daerah aksila sehingga disebut sebagai
kandidiasis intertriginosa.
Kandidiasis merupakan infeksi opurtunistik pada manusia yang disebabkan
oleh pertumbuhan berlebihan dari fungicandidaterutama Candida albicans.Pada
pemeriksaan penunjang dengan melakukan pewarnaan gram pada pus yang diambil
dari bula ditemukan adanya budding yeast cells.Sehingga dapat diketahui bahwa
penyebab penyakit ini adalah candida albicans.
Candida albicans mempunyai predileksi untuk berkolonisasi pada daerah lipatan-
lipatan kulit yang lembab seperti daerah aksila, lipat paha, intergluteal, lipat
payudara, sela-sela jari tangan atau kaki, gland penis, dan umbilicus.Pada pasien ini
lesi terletak pada lipatan aksila, yang merupakan daerah yang sempit dan lembab
sehingga mempermudah pertumbuhan jamur didaerah ini.
Faktor predisposisi penyakit ini biasanya pada orang-orang obesitas, memakai
pakaian yang ketat, diabetes mellitus, dan faktor pekerjaan.Pasien pada kasus ini
memiliki berat badan 66 kg dan terlihat agak gemuk dan memiliki riwayat diabetes
mellitus, pasien juga rutin mendapatkan suntikan insulin setiap minggu.hal ini
menjadi faktor predisposisi untuk berkembangnya Candida albicans.
Gejala yang timbul pada candidiasis intertrigo berupa gatal, kulit eritema yang
basah dengan batas tegas, dan maserasi, . Lesi tersebut dikelililngi oleh lesi satelit
berupa vesikopustul atau bula subcorneum yang bila pecah akan meninggalkan
daerah yang erosif yang selanjutnya akan terkelupas dari stratum korneum. Biasanya
akan timbul rasa gatal dan nyeri pada lesi tersebut.(Rook, Andrews, Fitzpatrick) Dari
pemeriksaan dermatologis pada pasien ini didapatkan lesi satelit berupa vesikel dan
bula yang berisi pusdidasari kulit eritema yang basah dan terlihat adanya vesikel dan
bula yang pecah meninggalkan permukaan yang erosi.Lesi tersebut merupakan lesi
yang khas pada candidiasis kutaneus.
Ketokonazol dapat diabsorpsi dengan baik secara oral.ketokonazol bersifat
hepatoksik sedangkan intrakonazol dapat diabrsorpsi secara dan secara aktif melawan
asperigus.(12)
Bibliography
1. Kuswadji. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin: Kandidiosis. 5th ed. Jakarta: Fakultas
kedokteran Indonesia; 2008.

2. Janick MP, Heffernan MP. Yeast Infection: Candidiasis and Tinea (pityriasis) Versicolor In:
Wolf K et al. Fitzptricks Dermatology in General Medicine. 7th ed. New York: Mc Graw
Hi; 2008.

3. Zarei A, Abadi M, Izadi B. Prevalence of Cutaneus Among Worker. Tubitak. 2011; 41(2):
p. 291-294.

4. Rook. Rooks Textbook of Dermatology. 8th ed. Burns T, Breathnach S, cox N,


Christopher G, editors. USA: Wiley- Blackwell; 2010.

5. Scheinfeld NS. Cutaneous Candidiasis. 2014 Jul 18.

6. James WD, Berger TT, Elston DM. Andrews Disease of The Skin Clinical dermatology.
11th ed. USA: Saunders Elsevier; 2011.

7. Dabas PS. An approach to etiology, diagnosis and management of different types of


candidiasis. J. Yeast Fungal Res. 2013 August; 4(6): p. 63-74.

8. Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Lefell DJ. Fitzpatrick's
Dermatology In General Medicine. 7th ed.: Mc Graw Hill; 2008.

9. Mondal KA, Piyush K, Chowdhury SN, Pal S, Debbaman P, Barbhuiya JN. Erythematous
Plaques in Axillae - a report of two. Journal of Pakistan Association of Dermatologists.
2011; 21(3): p. 219-222.

10. Jack AR, Norris PL, Stross FJ. Allergic Contact Dermatitis to Plant Extracts in Cosmetics.
Frontline Medical Communication. 2013; 32: p. 140-146.

11. Burn T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C. Rook's Textbook of Dermatology. 8th ed.:
Willey-Blackwell; 2010.

12. Neal J. At a Glance: Farmakologi Medis. 5th ed. Jakarta: Erlangga; 2006.
13. Moriarty B, Hay R, Jhones RM. The Diagnosis and Management Tinea. BMJ. 2012 July;
345.

14. Nestle FO, Kaplan DH, Barker J. Mechanisme Disease of Psoriasis. The New England
Journal of Medicine. 2009 July; 361(5): p. 496-509.