Anda di halaman 1dari 14

Gangguan Pernafasan pada Anak-Anak

Aditya Hutomo Satyawan / 102012374 / D7

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Ukrida

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jln. Arjuna utara 6, Jakarta Barat - 11510

aditya.satyawan@civitas.ukrida.ac.id

Skenario:

Seorang anak perempuan berusia 2 tahun dibawa ibunya ke puskesmas karena sesak nafas sejak
2 hari yang lalu. Keluhan didahului oleh demam naik-turun dan batuk-pilek sejak 1 minggu yang
lalu. Batuk disertai daha berwarna kuning. Nafsu makan pasien juga menurun. Pada pemeriksaan
fisik didapati kesadaran compos mentis, anak tampak sesak dan rewel, tidak ada sianosis, BB 12
kg, frekuensi nafas 55 x/menit, denyut nadi 110 x/menit, suhu 38.5, pernafasan cuping hidung
(+), retraksi interkostal (+), faring hiperemis, terdapat ronkhi basah halus dan wheezing pada
kedua lapang paru. Laboratorium: leukosit: 20.000/uL

Pendahuluan

Anak-anak merupakan individu yang mempunyai antibodi tubuhnya yang belum


sempurna, juga pertumbuhan organ-organ tubuhnya yang belum sempurna. Hal ini membuat
anak-anak rentan terhadap bakteri, virus, dll. yang menyebabkan anak-anak terkena penyakit.
Salah satu penyakit yang sering dialami adalah gangguan pernafasan karena sifat virusnya yang
sangat infektif dan melalui perantara airborne. Seperti yang diketahui dari kasus ini, anak
tersebut mengalami sebuah gangguan pada pernafasannya. Maka dari itu, akan dibahas tentang
penyakit apa yang menyebabkan gangguan tersebut.

Gangguan pernafasan, baik penyakit maupun kelainan, mempunyai cakupan yang sangat
luas. Maka dari itu, ditentukan sebuah rumusan masalah untuk memberi batas pada bagian
pembahasan. Rumusan masalahnya adalah sorang anak perempuan berusia 2 tahun dibawa
ibunya ke puskesmas karena sesak nafas sejak 2 hari yang lalu. Juga ditentukan sebuah hipotesis
yaitu, Seorang anak berusia 2 tahun yang mengalami sesak nafas sejak 2 hari yang lalu menderita
pneumonia.

Anamnesis

Pada kasus ini, pasien merupakan kanak-kanak. Oleh itu anamnesa yang dilakukan
adalah alo anamnesa. Secara umumnya, perkara yang perlu ditanya adalah nama, tempat lahir
dan tempat tinggal sekarang, pekerjaan ibu dan bapa dan agama yang dianuti. Setelah itu,
ditanyakan keluhan utama pasien. Riwayat penyakit dahulu dan sekarang serta riwayat penyakit
keluarga diperlukan bagi menilai keterlibatan riwayat tersebut dengan keluhan yang dialami
sekarang. Dispneu disertai dengan demam, menggigil dan batuk terutamanya yang memiliki
sputum purulen biasanya menunjukkan infeksi napas seperti pneumonia atau proses radang
kronik.

Perlu ditanya dispneu nya sejak kapan mulanya karena keluhan awal akut menunjukkan
adanya gangguan fisiologis akut manakala dispneu yang berkepanjangan; dari berjam-jam
sehingga berhari-hari memungkinkan penyakit paru kronik atau perkembangan proses sedikit
demi sedikit seperti pada efusi pleura dan gagal jantung kongestif. Malah, perlu ditanyakan sama
ada pasien memiliki riwayat allergi dan pernah terpapar allergen sebelum ini. Pada batuk yang
dialami perlu ditanyakan sama ada ada dahak, paparan lingkungan sehari-hari. Jika berdahak,
ditanyakan sama ada kental(purulen) atau tidak. Jika kental menunjukkan adanya infeksi saluran
nafas bawah. Beberapa hal yang turut perlu diberi perhatian adalah perkara yang mengarah
kuman penyebab yang berhubungan dengan factor penyebab:

Mengevaluasi factor predisposisi seperti :


o penyakit kronik; multiple infection
o penurunan imunitas; kuman gram negatif
o penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)
o kejang atau tidak sedar; aspirasi kuman gram negative, anaerob
o Pneumocystic carinii
o Cytomegalovirus,
o Legionella,
o Jamur; Mycobacterium
o kecanduan obat bius; staphylococcus
Lokasi infeksi
o PK ; staphylococcus pneumoniae, H. influenza, mycobacterium pneumoniae
o PN dan rumah jompo; staphylococcus aureus, Gram negative
Usia pasien
o Bayi; virus
o Muda; mycobacterium pneumonia
o Dewasa; staphylococcus pneumoniae
Awitan
o Cepat, akut dengan rusty coloured sputum; staphylococcus pneumonia
o Perlahan , batuk, sedikit dahak; mycobacterium pneumonia

Pemeriksaan fisik

Dalam inspeksi perlu diperhatikan adanya takipnea dispne, sianosis sirkumoral,


pernapasan cuping hidung, distensi abdomen, batuk semula nonproduktif menjadi produktif,
serta nyeri dada pada waktu menarik napas. Batasan takipnea pada anak berusia 12 bulan 5
tahun adalah 40 kali / menit atau lebih. Perlu diperhatikan adanya tarikan dinding dada ke dalam
pada fase inspirasi. Pada pneumonia berat, tarikan dinding dada kedalam akan tampak jelas.

Didalam palpasi perlu diperhatikan adanya suara redup pada sisi yang sakit, hati mungkin
membesar, fremitus raba mungkin meningkat pada sisi yang sakit, dan nadi mungkin mengalami
peningkatan atau tachycardia.

Auskultasi sederhana dapat dilakukan dengan cara mendekatkan telinga ke hidung /


mulut bayi. Pada anak yang pneumonia akan terdengar stridor. Sementara dengan stetoskop,
akan terdengar suara napas berkurang, ronkhi halus pada sisi yang sakit, dan ronkhi basah pada
masa resolusi. Pernapasan bronchial, egotomi, bronkofoni, kadang terdengar bising gesek pleura.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan labaroratorium pada pneumonia pneumococcus gambaran darah
menunjukkan leukositosis, biasanya 15.000 40.000/mm3 dengan pergeseran ke kiri. Kuman
penyebab dapat dibiak dari usapan tenggorokan dan 30% dari darah. Nilai Hb biasanya tetap
normal atau sedikit menurun. Peningkatan LED ,Urin biasanya berwarna lebih tua, mungkin
terdapat albuminuria ringan karna suhu yang naik. Pneumonia pneumokokus tidak dapat
dibedakan dari pneumonia yang disebabkan oleh bakteri lain atau virus, tanpa pemeriksaan
mikrobiologis.
Pemeriksaan Radiologis menunjukkan adanya pola radiologis yang berupa pneumonia
alveolar dengan gambaran air bronchogram (airspace disease) misalnya oleh Streptococcus
pneumoniae; bronkopneumonia (segmental disease) oleh antara lain staphylococcus, virus atau
mikoplasma; dan pneumonia interstisial (interstitial disease) oleh virus dan mikoplasma.
Distribusi infiltrat pada segmen apikal lobus bawah atau inferior lobus atas sugestif untuk kuman
aspirasi. Tetapi pada pasien yang tidak sadar, lokasi ini bisa dimana saja. Infiltrat di lobus atas
sering ditimbulkan Klebsiella, tuberkulosis atau amiloidosis. Pada lobus bawah dapat terjadi
infiltrat akibat Staphylococcus atau bakteriemia.

Dapat juga dilakukan pemeriksaan bakteriologi dengan bahan berasal dari sputum, darah,
aspirasi nasotrakeal/transtrakeal, aspirasi jarum transtorakal, torakosentesis, bronkoskopi, atau
biopsi. Untuk tujuan terapi empiris dilakukan pemeriksaan apus Gram, Burri Gin, Quellung test
dan Z. Nielsen

Pemeriksaan Khusus dengan titer antibodi terhadap virus, legionela, dan mikoplasma.
Nilai diagnostik bila titer tinggi atau ada kenaikan titer 4 kali. Analisis gas darah dilakukan untuk
menilai tingkat hipoksia dan kebutuhan oksigen.
Working Diagnosa
Pneumonia merupakan radang paru yang disebabkan mikroorganisme seperti bakteri,
virus, jamur, dan parasit. Proses peradangan akan menyebabkan jaringan paru yang berupa
aveoli dapat dipenuhi cairan ataupun nanah. Akibatnya kemampuan paru sebagai tempat
pertukaran gas akan terganggu. Kekurangan oksigen dalam sel-sel tubuh akan mengganggu
proses metabolisme tubuh. Bila pneumonia tidak ditangani dengan baik, proses peradangan akan
terus berlanjut dan menimbulkan berbagai komplikasi seperti, selaput paru terisi cairan atau
nanah (efusi pleura atau emfisema), jaringan paru bernanah (abses paru), jaringan paru kempis
(pneumotoraks) dan lain-lain. Bahkan bila terus berlanjut dapat terjadi penyebaran infeksi
melalui darah (sepsis) ke seluruh tubuh sehingga dapat menyebabkan kematian.4-6
Pneumonia dibagi beberapa golongan bedasarkan :
Pneumonia anatomis yaitu pneumonia yang biasanya terlihat pada pada anak dan di bagi
menjadi 3 bagian yaitu :4-6
1. Pneumonia lobaris
Merupakan pneumonia yang terjadi pada seluruh atau satu bagian besar dari lobus paru dan bila
kedua lobus terkena bisa dikatakan sebagai pneumonia lobaris
2. Pneumonia interstisial atau bronkiolitis
Merupakan pneumonia yang dapat terjadi di dalam dinding alveolar.
3. Pneumonia lobularis Bronkopneumonia.
Merupakan pneumonia yang terjadi pada ujung akhir bronkhiolus yang dapat tersumbat oleh
eksudat mukopuren untuk membentuk bercak konsolidasi dalam lobus

Pneumonia Berdasarkan umur dapat di kelompokan menjadi 2 bagian yaitu :4,5


1) Kelompok usia < 2 bulan
a. Pneumonia Berat
Pneumonia yang disebabkan oleh protozoa sering disebut pneumonia pneumosistis. Termasuk
golongan ini adalah Pneumocystitis Carinii Pneumonia (PCP). Pneumonia pneumosistis sering
ditemukan pada bayi yang prematur. Perjalanan penyakitnya dapat lambat dalam beberapa
minggu sampai beberapa bulan, tetapi juga dapat cepat dalam hitungan hari. Diagnosis pasti
ditegakkan jika ditemukan P. Carinii pada jaringan paru atau spesimen yang berasal dari paru
disertai dengan tanda-tanda klinis seperti berhenti menyusu (jika sebelumnya menyusu dengan
baik), kejang, rasa kantuk yang tidak wajar atau sulit bangun, stridor pada anak yang tenang,
mengi, demam (38C atau lebih) atau suhu tubuh yang rendah (di bawah 35,5 C), pernapasan
cepat 60 kali atau lebih per menit, penarikan dinding dada berat, sianosis sentral (pada lidah),
serangan apnea, distensi abdomen dan abdomen tegang.
b. Bukan Pneumonia
Jika anak bernapas dengan frekuensi kurang dari 60 kali per menit dan tidak terdapat tanda
pneumonia seperti di atas.
2) Kelompok usia 2 bulan sampai < 5 tahun
a. Pneumonia sangat berat
Batuk atau kesulitan bernapas yang disertai dengan sianosis sentral, tidak dapat minum, adanya
penarikan dinding dada, anak kejang dan sulit dibangunkan.
b. Pneumonia berat
Batuk atau kesulitan bernapas dan penarikan dinding dada, tetapi tidak disertai sianosis sentral
dan dapat minum.
c. Pneumonia
Batuk atau kesulitan bernapas dan pernapasan cepat tanpa penarikan dinding dada.
d. Bukan pneumonia (batuk pilek biasa)
Batuk atau kesulitan bernapas tanpa pernapasan cepat atau penarikan dinding dada.
e. Pneumonia persisten
Balita dengan diagnosis pneumonia tetap sakit walaupun telah diobati selama 10-14 hari dengan
dosis antibiotik yang kuat dan antibiotik yang sesuai, biasanya terdapat penarikan dinding dada,
frekuensi pernapasan yang tinggi, dan demam ringan.
Pada anak dapat dilihat juga pada pernapasannya :
1. Anak usia 2 12 bulan apabila frekuensi napas 50 x/menit atau lebih.
2. Anak Usia 1 5 tahun apabila frekuensi napas 40 x/menit atau lebih.
Berdasarkan klinis dan epidemiologis
a. Pneumonia Komuniti (community-acquired pneumonia)
b. Pneumonia Nosokomial (hospital-acquired pneumonia/ Nosocomial pneumonia).
c. Pneumonia Aspirasi.
d. Pneumonia pada penderita immunocompromised.
Berdasarkan agen penyebab
a. Pneumonia Bakterial / tipikal. Klebsiella pada penderita alkoholik,
staphyllococcus pada penderita pasca infeksi influenza.
b. Pneumonia atipikal, disebabkan Mycoplasma, Legionella dan Chlamydia
c. Pneumonia virus
d. Pneumonia jamur, sering merupakan infeksi sekunder. Predileksi terutama pada
penderita daya tahan tubuh lemah
Differential Diagnosis

Bronkiolitis

Mula-mula terjadinya bronkiolitis akut didahului dengan infeksi saluran napas bagian
atas yang relatif ringan. Infeksi saluran nafas ini dapat berupa batuk-batuk paroksismal, pilek
encer, bersin-bersin dan bisa disertai demam subfebril atau tanpa demam. Kadang-kadang, pada
bayi yang tidak mempunyai riwayat ataupun demam sama sekali, dapat terjadi suatu keadaan
hipotermi. Gejala-gejala ini biasanya berlangsung beberapa hari. Kemudian timbul distres
pernafasan yang ditandai dengan keadaan dimana anak-anak menunjukkan gejala, seperti sesak
nafas yang sifatnya progresif, pernafasan cuping hidung yang disertai dengan retraksi interkostal
dan suprasternal. Pada keadaan yang berat dapat terdengar suara mengi. Keadaan ini
dikompensasi dengan pernafasan Kussmauls (pernafasan cepat dan dalam). Pada akhirnya,
anak-anak menjadi gelisah, iritabel dan tampak sianosis. Selain itu, gejala lainnya dapat berupa
kesulitan minum terutama pada bayi. Hal ini disebabkan karena frekuensi napas yang cepat
sehingga menghalangi terjadinya proses menelan dan menghisap. Pada kasus yang ringan,
gejala-gejala tersebut menghilang dalam kurun waktu satu sampai tiga hari hari. Sementara, pada
kasus yang berat, gejalanya dapat tetap ada sampai beberapa hari dan perjalanan penyakitnya
berlangsung cepat.

Pada pemeriksaan fisik, dapat dilihat adanya distres pernapasan (keadaan dimana
frekuensi napas sekitar 60 x/menit, dengan pernapasan cuping hidung, penggunaan otot
pernapasan tambahan, retraksi dan juga sianosis). Namun, pada bronkiolitis akut retraksi
biasanya tidak dalam karena adanya hiperinflasi paru (terperangkapnya udara dalam paru). Hepar
dan limpa dapat teraba karena terdorong oleh diafragma akibat hiperinflasi paru-paru. Kadang
terdengar ronki basah nyaring halus pada akhir fase inspirasi atau pada permulaaan fase ekpirasi.
Fase ekpirasinya memanjang dan mengi pada keadaan tertentu dapat terdengar dengan jelas.
Pada keadaan yang amat beratm suara pernafasan dapat tidak terdengar. Hal ini dapat
dikarenakan obstruksi yang terjadi sifatnya hampir menyeluruh.
Bronchitis.
Definisi klinis dari bronchitis pada anak sampai saat ini masih belum jelas, tetapi banyak
para klinisi membuat diagnosis bronchitis untuk anak dengan gejala batuk, dengan atau tanpa
demam serta adanya produksi dahak/sputum. Bronkitis akut biasanya didahului oleh infeksi
saluran pernapasan atas (ISPA). Khasnya anak datang dengan batuk yang sering, kering, tidak
produktif, dan timbulnya relative bertahap, 3-4 hari sesudah munculnya rhinitis (setelah 2-3 hari,
batuk mulai berdahak dan menimbulkan suara adanya lender). Batuk dapat disertai muntah. Rasa
nyeri atau panas pada daerah substernal bawah atau dada depan sering ada dan dapat diperparah
oleh batuk. Dalam beberapa hari, batuk menjadi produktif dan sputum berubah dari jernih ke
purulen setelah 10 hari mukus menjadi encer dan batuk menghilang secara bertahap batuk dapat
disertai muntah. Biasanya hilang setelah 1 atau 2 minggu.9

Tuberkulosis

Permulaan tuberculosis primer biasanya sukar diketahui secara klinis karena penyekit
mulai secara perlahan-lahan. Kadang-kadang tuberculosis ditemukan pada anak tanpa keluhan
atau bencana. Dengan melakukan uji tuberculin secar rutin, dapat ditemukan penyakit
tuberculosis pada anak. Gejala tuberculosis primer dapat juga berupa panas yang naik turun
selama 1-2 minggu dengan atau tanpa batuk dan pilek.
Gambaran klinis tuberculosis primer yang lain ialah panas, batuk, anoreksia dan berat
badan yang menurun. Kadang-kadang dijumpai panas yang menyerupai tifus abdominalis atau
malaria yang disertai atau tanpa hepatosplenomegali. Oleh karena itu bila dijumpai panas seperti
tifus abdominalis pada bayi atau anak kecil, harus dipikirkan juga kemungkinan tuberculosis
sebagai penyebab panas tersebut.
Tuberculosis juga dapat menunjukkan gejala seperti bronkopneumonia, sehingga pada
anak dengan gejala bronkopneumonia yang tidak menunjukka perbaikan dengan pengobatan
bronkopneumonia yang adekuat harus dipikirkan kemungkinan tuberculosis.
Konjungtivitis flikenularis juga dapat dijumpai pada anak dengan tuberculosis, terutama
tuberculosis tonsil, adenoid dan telinga tengah. Flikten pada mata diduga gejala hipersensitivitas
dan dalam fliken tidak terdapat basil tuberculosis. Selama tuberculosis atau fokus tuberculosis
masih ada, flikten masih tetap hilang timbul. Eritema nodosum jarang dijumpai di Indonesia,
tetapi bila terdapat di kulit menunjukkan bahwa penyakit masih aktif.
Epidemiologi

Pneumonia merupakan penyakit saluran napas yang menyebabkan kematian dan


kecacatan paling tinggi di dunia. Sekitar 80% kasus baru melibatkan PK dan PN. Pada PN,
kejadian sering berlaku di ICU daripada ruangan umum. 90% dari kasus PN di ICU akibat dari
penggunaan ventilasi mekanik seperti pasien yang diintubasi. Risiko pneumonia berkaitan
ventilator adalah tinggi pada saat awal masuk ICU. Pneumonia dapat terjadi pada orang normal
yang tiada kelainan imunitas tetapi setelah terinfeksi, kebiasaannya terdapat penyakit dasar yang
mengganggu imunitas pasien. Pneumonia sering terjadi pada orang lanjut usia, PPOK, diabetes
mellitus, payah jantung, penyakit arteri koroner, keganasan, insuficiensi renal, penyakit saraf
kronik dan penyakit hati kronik.

Factor predisposisi yang lain adalah penurunan imunitas tubuh, merokok, alcohol,
penggunaan antibiotic dan obat suntik intra vena, spasca infeksi virus, kelemahan struktur organ
dada dan penurunan kesedaran. Tindakan invasive dan factor lingkungan turut menyumbang
kepada kejadian pneumonia. Pada penderita PK, mereka dapat juga terinfeksi oleh berbagai jenis
pathogen yang baru.

Patofisiologi

Organisme menyebabkan gejala, menyerang sebagian, dengan memprovokasi reaksi


kekebalan yang terlalu bersemangat di paru-paru. Pembuluh darah kecil di paru-paru (kapiler)
menjadi bocor, dan cairan kaya protein merembes ke dalam alveoli. Ini hasil di daerah kurang
fungsional untuk pertukaran oksigen-karbon dioksida. Pasien menjadi relatif kekurangan
oksigen, sementara tetap mempertahankan karbon dioksida yang berpotensi merusak. Pasien
bernafas lebih cepat dan lebih cepat, dalam upaya untuk membawa lebih banyak oksigen dan
karbon dioksida meledak lebih.

Produksi mucus meningkat, dan kapiler bocor mungkin nada lendir dengan darah.
Sumbat lendir sebenarnya lebih lanjut menurunkan efisiensi pertukaran gas di paru-paru. Alveoli
mengisi lebih lanjut dengan cairan dan sampah dari sejumlah besar sel darah putih yang
diproduksi untuk memerangi infeksi. Konsolidasi, fitur dari pneumonia bakteri, terjadi bila
alveoli, yang biasanya ruang hampa udara di dalam paru-paru, bukan menjadi padat, karena
jumlah cairan dan puing-puing.

Terdapat empat tahap pneumonia lobus telah diuraikan. Pada tahap pertama, terjadi
dalam waktu 24 jam dari infeksi, paru-paru ditandai mikroskopis oleh kongesti vaskular dan
edema alveolar. Banyak bakteri dan beberapa neutrofil hadir. Tahap Hepatisasi merah, disebut
demikian karena serupa dengan konsistensi hati, ditandai dengan adanya banyak eritrosit,
neutrofil, sel epitel desquamated, dan fibrin dalam alveoli. Dalam tahap Hepatisasi abu-abu,
paru-paru berwarna abu-abu-coklat sampai kuning karena eksudat fibrinopurulent, disintegrasi
sel darah merah, dan hemosiderin. Tahap akhir dari resolusi ditandai dengan resorpsi dan
pemulihan arsitektur paru. Fibrinous peradangan dapat memperpanjang ke ruang pleura,
menyebabkan menggosok didengar oleh auskultasi, dan mungkin menyebabkan resolusi atau
organisasi dan perlekatan pleura.

Pada bronkopneumonia, konsolidasi setengah-setengah yang melibatkan satu atau lebih


lobus, biasanya melibatkan paru-paru tergantung zona, pola disebabkan aspirasi isi orofaringeal.
Eksudat neutrophilic berpusat di saluran pernapasan dan bronchioles, dengan menyebar
sentrifugal ke alveoli yang berdekatan.

Dalam pneumonia interstisial, peradangan merata atau menyebar melibatkan intersititium


ini ditandai dengan infiltrasi limfosit dan makrofag. Alveoli tidak berisi eksudat yang signifikan,
namun hialin kaya protein membran yang mirip dengan yang ditemukan dalam sindrom distress
pernapasan dewasa (ARDS) dapat baris ruang alveolar. Superinfeksi bakteri pneumonia virus
juga dapat menghasilkan pola campuran udara inflamasi interstitial dan alveolar.

Gejala Klinis

Gejala pada penderita pneumonia tergantung penyebabnya:

Gejala typical pneumonia muncul dengan cepat:


o Kebiasaannya demam tinggi dan menggigil.
o Apabila batuk, sputum berwarna kuning atau kecoklatan.
o Sakit dada yang makin teruk apabila bernapas atau batuk. Namun, terdapat juga
penyakit lain yang mempunyai symptom yang sama.
o Napas pendek terutama yang mengidap asma atau emfisema.

Gejala atypical pneumonia mengalami onset secara gradual. Oleh itu turut dikenal sebagai.
walking pneumonia.
o Mengalami kelainan atau keluhan lain beberapa hari hingga minggu sebelum
pneumonia.
o Febris yang tidak terlalu tinggi dan kurang menggigil.
o Sakit kepala, nyeri badan dan sendi.
o Batuk kering atau hanya menghasilkan sedikit sputum. Kemungkinan tada sakit dada.
o Sakit pada bahagian abdomen
o Letih atau lemah.

Virus
o Demam derajat rendah (kurang dari 102o F)
o Batuk dengan sedikit sputum
o Letih
o Sakit kepala
o Nyeri dan kejang otot
o Napas pendek
o Menggigil
o Berkeringat
o Lemah
o Nyeri tenggorokan

Symptom pada pneumonia yang disebabkan oleh virus boleh berlangsung dari beberapa hari
sehingga beberpa minggu sebelum bertemu dokter. Namun, pada kebanyakan kasus dengan
bakteri sebagai kuman penyebab, pasien mengalami keluhan lebih cepat; biasanya bertemu
dokter dalam waktu beberapa hari.

Penatalaksanaan
Perlindungan: Memastikan bahwa anak-anak mendapatkan gizi yang memadai, termasuk
pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, dapat membantu melindungi
mereka dari pneumonia. Mengurangi faktor-faktor risiko lingkungan, seperti berlebihan di
rumah, paparan asap tembakau dan polusi udara dalam ruangan juga upaya perlindungan
penting.

Pencegahan: Penggunaan vaksin terhadap pneumokokus, Hib dan penyakit lainnya dapat
membantu mencegah pneumonia sebelum terjadi seperti pada bayi lahir kurang bulan perlu
diberikan perlindungan dari RSV. Pada anak dengan penyakit kronik dapat diberikan vaccine
tambahan sebagai perlindungan seperti vaccine flu.

Pengobatan: diagnosis awal pneumonia untuk memastikan bahwa anak-anak menerima awal dan
perawatan medis yang sesuai sangat penting.

Jika Anda dirawat di rumah sakit, Anda akan menerima cairan dan antibiotik dalam pembuluh
Anda, terapi oksigen, dan mungkin pernapasan perawatan. Hal ini sangat penting bahwa
antibiotik dimulai segera. Anda lebih cenderung dimasukkan ke rumah sakit jika:

Apakah masalah medis serius lain


Apakah gejala parah
Apakah tidak mampu untuk merawat sendiri di rumah, atau tidak dapat makan atau
minum
Apakah lebih tua dari 65 atau anak muda
Telah minum antibiotik di rumah dan tidak mendapatkan yang lebih baik

Namun, banyak orang bisa diobati di rumah. Jika bakteri yang menyebabkan pneumonia, dokter
akan mencoba untuk mengobati infeksi dengan antibiotik. Namun pada pemberian antibiotic
perlu diperhatikan factor pasien; allergy, factor farmakologis obat dan factor obat antibiotic.
Mungkin sulit bagi penyedia layanan kesehatan Anda untuk mengetahui apakah Anda memiliki
pneumonia virus atau bakteri, sehingga Anda dapat menerima antibiotik. Pasien dengan
pneumonia ringan yang sehat kadang-kadang diobati dengan antibiotik oral macrolide
(azitromisin, klaritromisin, atau eritromisin).

Anda dapat mengambil langkah-langkah di rumah:

Kontrol demam Anda dengan aspirin, obat anti inflamasi (NSAIDs, seperti ibuprofen
atau naproxen), atau asetaminofen. Jangan memberikan aspirin kepada anak-anak.
Jangan minum obat batuk tanpa terlebih dahulu berbicara dengan dokter Anda. Obat
batuk dapat membuat lebih sulit bagi tubuh Anda untuk batuk dahak ekstra.
Minum banyak cairan untuk membantu melepaskan sekresi dan membawa berdahak.
Dapatkan banyak istirahat. Apakah orang lain melakukan kerja rumah tangga.

Komplikasi

Kemungkinan komplikasi meliputi:

Sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS), suatu bentuk kegagalan pernafasan yang
parah
Empiema atau abses paru-paru. Ini jarang terjadi, namun serius, komplikasi dari
pneumonia. Mereka terjadi ketika kantong bentuk nanah di dalam atau di sekitar paru-
paru. Ini kadang-kadang mungkin perlu dikeringkan dengan operasi.
Kegagalan pernapasan, yang membutuhkan mesin pernapasan atau ventilator
Sepsis, suatu kondisi dimana ada pembengkakan yang tidak terkendali (peradangan) di
dalam tubuh, yang dapat mengakibatkan kegagalan organ

Prognosis

Dengan pengobatan, kebanyakan pasien akan meningkatkan dalam waktu 2 minggu. Mereka
yang mungkin lebih cenderung memiliki pneumonia rumit meliputi:

Orang dewasa yang lebih tua atau sangat muda anak-anak


Orang-orang yang sistem kekebalan tubuh tidak bekerja dengan baik
Orang dengan lainnya, masalah medis serius seperti diabetes atau sirosis hati
Kesimpulan

Pneumonia dapat menginfeksi pada siapa saja, namun bagi orang-orang yang memiliki
imunitas rendah seperti pada orang tua dan anak-anak lebih rentan untuk terkena pneumonia
denga factor predisposisi yang lain. Langkah pencegahan yang rutin perlu dilakukan agar kasus
pneumonia dapat diturunkan.

Daftar Pustaka

1. A W Sudoyo, B Setiyohadi, I Alwi, M S K, S Setiati. Buku ajar ilmu penyakit dalam.


Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI. Jakarta; 2006: 964-6.
2. K L Moore, R F Dalley. Clinically oriented anatomy 5th edi. Lippincott Wlliams &
Wilkins. Philadelphia; 2006: 293-99.
3. Readers digest family guide to medicine & health. The Readers Digest Ass. Ltd.
London; 2003: 160,161,377, 478.479
4. E N Kosasih, A S Kosasih. Tafsiran hasil pemeriksaan laboratorium klinik. KARISMA
Publishing Group. Jakarta; 2008: 368-73.
5. Bronchialitis. Diunduh dari http://hcd2.bupa.co.uk/fact_sheets/html/bronchiolitis.html 23
Juli 2010.
6. Bronchitis. Diunduh dari http://www.emedicinehealth.com/bronchitis/article_em.htm 23
July 2010
7. Bronchiolitis. Diunduh dari http://kidshealth.org/parent/infections/lung/bronchiolitis.html
22 July 2010