Anda di halaman 1dari 12

EFEK AIR KELAPA TERHADAP PROSES SENESCENCE DAUN

(Laporan Praktikum Fitohormon)

Oleh

Yonathan Christyanto
1517021151

LABORATORIUM BOTANI
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017
HALAMAN PENGESAHAN

Judul Praktikum : Efek Air Kelapa Terhadap Proses Senescence Daun

Tanggal Praktikum : 13 September 2017

Tempat Praktikum : Laboratorim Botani I

Nama : Yonathan Christyanto

NPM : 1517021151

Jurusan : Biologi

Fakultas : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Kelompok : 4 (Empat)

Bandar Lampung, 13 September 2017

Mengetahui,
Asisten

Fesya Salma Putri


NPM. 1417021043
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Secara alamiah sel akan mengalami penuaan, karena pada siklus pertumbuhan
sel terdapat suatu tahapan yang disebut senescence phase. Penuaan sel yang
terjadi dapat berdampak pada berhentinya pertumbuhan sehingga sel tidak lagi
berproliferasi. Senescence adalah suatu tahapan pada siklus sel, pada tahap ini
sel tidak lagi mengalami pertumbuhan namun tidak melakukan program
kematian sel. Pada tumbuhan diketahui terdapat berbagai hormon yang
membantu kerja fisiologis pada tumbuhan. Salah satu dari hormon tersebut
adalah sitokinin. Sitokinin dapat memutuskan dormansi dan penghambat
penuaan (Campbell, Neil A., dkk. 2003). Mekanisme kerja sitokinin dalam
proses ini masih belum diketahui secara pasti namun terdapat petunjuk dari
percobaan Mothes yang menunjukkan bahwa setetes sitokinin yang diberikan
pada daun, telah menyebabkan terjadinya mobilisasi nutrien organic dan
anorganik menuju ke daerah sekitar daun yang diberi sitokinin. Pada air kelapa
diketahui mengandung sitokinin. Sitokinin lebih efektif dalam menahan
penuaan pada tumbuhan basah (Salisbury, Frank B dan Ross, Cleon W. 1995).

B. Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah untuk membuktikan


bahwa air kelapa dapat menunda proses senenscene daun lepas
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Air Kelapa

Menurut Morel (1974), air kelapa adalah salah satu bahan alami yang mampu
menstimulisasi pembelahan sel epidermis dan mengarah pada pembentukan 17
protocorm jaringan supaya bergenerasi lebih lanjut dan lebih cepat, di
dalamnya terkandung hormon seperti sitokinin 5,8 mg/l, auksin 0,07 mg/l dan
giberelin sedikit sekali serta senyawa lain yang dapat menstimulasi
perkecambahan dan pertumbuhan (Bey et al., 2006).

Menurut Widiastoety et al. (1997) air kelapa juga mengandung karbohidrat


yang merupakan bahan dasar untuk menghasilkan energi dalam proses respirasi
dan bahan pembentukan sel-sel baru. Penggunaan air kelapa tua kurang
berdampak positif karena kandungan zat hara dalam air kelapa telah digunakan
untuk pembentukan daging buah air kelapa.

B. Giberilin

Hormon Giberelin atau asam giberelat (GA), merupakan hormon perangsang


pertumbuhan tanaman untuk memicu munculnya bunga dan pembungaan yang
serempak (missal nya GA3 yang termasuk hormon perangsang pertumbuhan
golongan gas). Giberelin disintesakan dari asam mevalonat (MVA) di jaringan
muda dipucuk danpada biji yang sedang berkembang. (Devlin, 1975).

Giberelin aktif menunjukkan efek fisiologis, masing-masing tergantung pada


tipe giberelin dan juga spesies tanaman. Beberapa proses fisiologis yang
dipengaruhi oleh giberelin adalah: merangsang pemanjangan batang dengan
merangsang pembelahan sel dan pemanjangan, merangsang pembungaan,
memecah dormansi pada beberapa tanaman yang menghendaki cahaya untuk
merangsang perkecambahan, merangsang produksi enzim (a-amilase) dalam
mengecambahkan tanaman sereal untuk mobilisasi cadangan benih,
menyebabkan berkurangnya bunga jantan pada bunga dicious (sex expression),
dapat menyebabkan perkembangan buah partenokarpi (tanpa biji), dapat
menunda penuaan pada daun dan buah jeruk (Salisbury dan Ross, 1985).

Hormon giberelin berpengaruh terhadap pembentangan sel-sel, pembungaan


dan pembuahan. Giberelin juga mampu menginduksi terjadinya pembelahan
pada sel-sel buah sehingga ukuran buah bertambah (Annisah, 2009).

C. Sitokinin

Sitokinin merupakan zat pengatur tumbuh yang mendorong pembelahan


(sitokinesis). Fungsi utama sitokinin yaitu mempengaruhi pertumbuhan dan
diferensiasi akar, merangsang pembelahan dan pertumbuahn sel, merangsang
perkecambahan.Pengontrolan pembelahan sel dan diferensiasi sel. Sitokinin
dihasilkan di dalam jaringan yang tumbuh secara aktif, khususnya di dalam
akar, embrio dan buah.Sitokinin yang dihasilkan pada akar akan mencapai
jaringan sasarannya dengan cara bergerak naik sepanjang tumbuhan itu dalam
getah xilem. Bersama dengan auksin, sitokinin merangsang pembelahan sel
dan mempengaruhi jalur diferensiasi.Sitokinin sebagai hormon anti penuaan.
Sitokinin dapat menghambat penuaan beberapa organ tumbuhan, kemungkinan
dengan menghambat perombakan protein, dengan merangsang sintesis RNA
dan protein, dan dengan memobilisasi zat zat makanan dari jaringan di
sekitarnya (Wetherell D.F,. 1982).
III. METODE PERCOBAAN

A. Waktu dan Tempat

Adapun pelaksanaan dari praktikum ini adalah pada Rabu tanggal 13


September 2017 di Laboratorium Botani I, Jurusan Biologi, Fakultas MIPA,
Universitas Lampung.

B. Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah beaker glass,
erlenmeyer, gelas ukur, cawan pertri, dan tisu.
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah daun mangga, daun
jambu, daun beringin, dan daun jeruk.

C. Cara Kerja

Adapun prosedur kerja pada praktikum ini adalah sebagai berikut:


1. Merendam daun beringin yang telah disiapkan pada setiap cawan petri
masing masing 5 lembar dengan menggunakan air kelapa dengan
konsentrasi 0% v/v, 5% v/v, 10% v/v, dan 15% v/v sebanyak 50 ml selama
20 menit.

2. Setelah itu air kelapa yang digunakan untuk merendam dibuang dan daun
yang direndam dikeluarkan lalu dibungkus dengan tissu dan diletakkan
kembali didalam cawan petri

3. Simpan cawan petri yang berisi daun tersebut didalam enkas, dan diamati
perubahan yang terjadi setelah 6 hari.
IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
Hari Konsentrasi
Pengamatan 0% 5% 10 % 15 %
K L S L
K K L L
Ke - 6 K K L L
L K L K
K K K K

Keterangan : S = Segar
L = Layu
K = Kering

B. Pembahasan

Pada pengamatan ini diperoleh hasil yaitu pada daun kontrol (0% v/v)
terdapat 4 helai daun kering dan sehelai daun layu, sedangkan pada daun
perlakuan (5% v/v) terdapat terdapat sehelai daun layu dan empat helai daun
kering, sedangkan pada daun perlakuan (10% v/v) terdapat terdapat tiga helai
daun layu, sehelai daun kering dan sehelai daun segar, sedangkan pada daun
perlakuan (15% v/v) terdapat terdapat dua helai daun kering, dan tiga helai
daun layu. Dari hasil yang diperoleh seharusnya, daun dengan perlakuan 15%
v/v dapat menunda proses senescene yang lebih baik daripada daun perlakuan
lainnya karena memiliki kadar air kelapa (hormon sitokinin) yang lebih
banyak daripada konsentrasi lainnya. Namun pada hasil yang diperoleh daun
dengan perlakuan 10% v/v dapat menunda proses senescene lebih baik, hal
ini ditandai dengan jumlah daun keringnya yang paling sedikit. Hal ini
mungkin dapat terjadi dikarenakan kondisi daun pada setiap cawan yang
berbeda, besar kecil nya helaian daun yang mempengaruhi daya besar serap
pada daun tersebut, juga kondisi kadar air pada daun yang terserap saat
dibalut tisu dapat mempengaruhi hasil akhir pengamatan.

Pada praktikum kali ini ditemukan terjadinya proses penundaan senenscene


pada daun dikarenakan sitokinin yang berasal dari air kelapa dapat
meningkatkan retensi klorofil pada daun. Hal ini terjadi karena Sitokinin
dapat menghambat penuaan beberapa organ tumbuhan, kemungkinan dengan
menghambat perombakan protein, dengan merangsang sintesis RNA dan
protein, dan dengan memobilisasi zat zat makanan dari jaringan di
sekitarnya (Wetherell D.F,. 1982).

Pada hasil praktikum ini diperoleh perbedaan antara daun kontrol dengan
daun perlakuan pada hari terakhir pengamatan yaitu pada daun kontrol
terdapat lebih banyak daun berwarna kecoklatan dan menggulung (daun
kering) dari pada daun yang diberi perlakuan dengan rendaman air kelapa
yang menggunakan konsentrasi tertentu. Pada daun kontrol terdapat semua
helai daun yang menjadi kering berwarna coklat, dan satu daun layu masih
berwarna hijau tua, sedangkan pada daun perlakuan jumlah daun yang kering
lebih sedikit, dan berubah menjadi kecoklatan yang menandakan daun
tersebut kering, sedangkan daun lainnya masih berwarna hijau.

Pada praktikum kali ini dapat diketahui bahwa konsentrasi air kelapa yang
paling efektif untuk mencegah proses senescene adalah 5% v/v, hal ini
dikarenakan pada hasil akhir daun yang direndam dengan konsentrasi air
kelapa 5% v/v mengalami proses penundaan senescene (daun yang menjadi
kering hanya satu helai daun).

Hasil yang tidak sesuai dengan referensi mungkin disebabkan karena terdapat
satu langkah yang terlewati pada praktikum ini, yaitu pemberian larutan air
kelapa setiap harinya, sehingga hormon yang terdapat pada air kelapa yang
menunda proses senescence tidak selalu tersedia.
V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang diperoleh pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Hormon sitokinin dan giberelin yang terdapat pada air kelapa dapat menunda
proses senescene pada daun lepas.

2. Berdasarkan praktikum kali ini dapat diketahui bahwa konsentrasi air kelapa
yang paling efektif untuk mencegah proses senescene adalah 10% v/v.

3. Kondisi daun pada setiap cawan yang berbeda, luas permukaan daun yang
terendam, pemberian larutan air kelapa secara rutin dan kondisi kadar air
kelapa pada daun yang terserap saat dibalut tisu dapat mempengaruhi hasil
akhir pengamatan.

4. Pada daun kontrol warna daun sebagian besar berubah menjadi coklat dan
menggulung (kering) karena mengalami proses senescene.
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Neil A., dkk. 2003. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. Erlangga. Jakarta.

Dalimartha, S., 1999. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid I. Trubus Agriwidya.
Jakarta.

Devlin, M. R. 1975. Plant Phisology. Willard Grent Press. New York.

Salisbury, Frank B dan Ross, Cleon W. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 3. ITB.
Bandung.

Wetherell D.F,. 1982. Propagasi Tanaman Secara In Vitro. IKIP Semarang Press.
Semarang
LAMPIRAN

Sebelum diberi perlakuan Setelah hari ke-6 perlakuan

Saat Perendaman Larutan Air Kelapa