Anda di halaman 1dari 16

BESI DAN BAJA

A. BIJIH BESI (IRON ORE)

Bijih besi adalah bahan baku utama untuk pembuatan besi kasar, sedangkan besi kasar tersebut
adalah bahan baku untuk pembuatan besi tempa, besi tuang dan baja.

Bijih besi didapat dari hasil penambangan bijih besi. Sedangkan bahan-bahan lain yang
bercampur dengan bijih tersebut selain kotoran yang merugikan antara lain belerang ,pospor
silika , tanah liat juga ada kotoran yang menguntungkan antara lain emas, platina, perak.

Adapun yang termasuk bijih besi tersebut antara lain:

1. HAEMATITE ( Fe2O3 )

Bijih besi jenis ini, mempunyai kandungan besi sekitar 65 70 %

Sedangkan warnanya adalah: merah tua sampai hitam.


Berat Jenis : sekitar 4,5 s/d 5,3
Bijih besi ini banyak terdapat di negara: India ,Brasilia, Rusia, Spanyol , AS dan Afrika serta
Jerman.

2. MAGNETITE ( Fe3 O4)


Kandungan besinya sekitar 70 % s/d 73% ,Bijih besi ini merupakan bijih besi yang terbanyak
mengandung kadar besi, sedangkan warnanya :hitam atau abu-abu ,Berat jenisnya berkisar: 4,9
s/d 5,2 ,Bijih besi ini sangat kuat dan keras.
Bijih besi ini banyak terdapat di Negara: India, Swedia, Rusia, A S, Norwegia dan Kanada.

3. PYRITIES (FeS2 )
Bijih besi ini termasuk besi sulpat, dengan kandungan besinya berkisar 45 s/d 47 %, sedangkan
warnanya kuning sampai coklat

Berat Jenis berkisar : 4,8 s/d 5,1


Bijih besi ini banyak terdapat di negara: India, AS, Rusia dan Kanada.

4. LIMONITE (2Fe2O3.3H2O )
Bijih besi ini disebut juga sebagai Hydratited-Haematite, warnanya dari kuning sampai hitam,
dan kandungan Fe nya sekitar 60 %, sedang kadar air sekitar 14,5 %,Berat jenisnya berkisar: 3,6
s/d 4 . Bijih besi ini terdapat di negara: India, Jerman dan AS.

5. SIDERITES (FeCO3).
Kandungan besinya sekitar 40 s/d 48 % ,sedangkan Berat jenisnya berkisar: 3,7 s/d 3,9
Warnanya kuning sampai coklat. Terdapat di negara: Rusia dan Inggris.

B. PIG IRON (BESI KASAR)


Besi kasar adalah hasil pemurnian tingkat pertama dari pada bijih besi. Kandungan besinya
berkisar: 92 s/d 95% dan kadar karbonnya sekitar 3 s/d 4% ,selain itu masih ada sedikit
kandungan belerang, pospor dan mangaan.

Besi kasar adalah bahan utama pembuatan

1. Besi tuang ( cast iron )

2. Besi tempa (wrought iron )

3. Baja (steel )

Proses Pembuatan Besi Kasar.

Ada beberapa tahapan untuk pengolahan bijih besi menjadi besi kasar, antara lain :

Dressing of iron ores (proses pencucian )

Calcination and roasting (proses pemanggangan


Smelting (proses peleburan ) .

BAJA
B. PENGUJIAN BAJA BAJA TULANG.
Sesuai dengan PBI 71 N I .2 pasal 3.7 maka setiap baja tulangan maupun baja yang dihasilkan
oleh pabrik-pabrik baja ,yang terkenal dapat dipakai. Pada umumnya setiap pabrik baja tulangan
mempunyai standard mutu dan jenis baja sesuai dengan yang berlaku di negara yang
bersangkutan. Pada umumnya baja tulangan yang terdapat di pasaran Indonesia dapat dibagi
dalam mutu,lihat tab

Mutu Sebutan Tegangan leleh


karakteristik atau
tegangan
karakteristik yang
memberikan
regangan tetap
0,2 %
U-22 Baja lnk 2200

U-24 Baja lnk 2400

U-32 Baja 3200


Sdg
U-39 3900
Baja
U-48 Krs 4800
Baja
Krs

Keterangan:
Yang dimaksud dengan tegangan leleh karakteristik dan tegangan karakteristik yang memberikan
regangan 0,2% adalah tegangan yang bersangkutan ,dimana dari sejumlah besar hasil-hasil
pemeriksaan kemungkinan adanya tegangan yang kurang dari tegangan tersebut ,terbatas sampai
5 % saja.
Apabila baja tulangan dengan mutu yang meragukan (yang dikeluarkan oleh pabrik yang kurang
dikenal), maka baja tulangan tersebut harus diperiksa oleh lembaga pemeriksaan bahan yang
telah diakui.

Baja Tulangan Ada dua Jenis, Yaitu:


1. Baja tulangan polos (BJTP)
2. Baja tulangan deform (BJTD), yaitu baja tulangan yang diprofilkan.
Pengujian Tarik Baja Tulangan.
Pengujian Tarik Baja Tulangan adalah suatu pengujian yang bertujuan untuk mencari nilai-nilai
tegangan leleh, tegangan maksimum, regangan leleh, regangan maksimum , modulud elastisitas
baja tulangan.
Dari hasli pengujian tersebut akan diketahui kekuatan dan mutu dari baja tulangan tersebut.

Pengujian Lengkung

Percobaan lengkung adalah pengujian mekanis secara statis dengan maksud untuk mengetahui
sifat mampu lengkung dari logam yang digunakan sebagai bahan uji.

Pengujian Pukulan (impact Loading Test).

Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui sifat bahan logam yang mengalami beban
bentur atau kejut pada berbagai temperatur.

KAYU

Pandangan Umum

Kita telah mengenalnya, bahwa kayu sebagai bahan bangunan sudah lama digunakan.

Kayu merupakan bahan bangunan pertama yang dikenal oleh manusia dalam sejarah keberadaan
umat manusia.

Kayu sebagai bahan bangunan mempunyai beberapa kelebihan ,dibandingkan bahan bangunan
lain seperti baja dan beton.

Kelebihan-kelebihan itu antara lain:

1. Di Indonesia kayu mudah didapat dan bisa didapat pada sembarang tempat/hutan di Indonesia.
2. Kayu sebagai bahan bangunan ,mudah diangkut dan apabila perlu dibuat balok dengan ukuran
kecil ,sehingga proses pengangkutannya mudah.

3. Mudah cara pengerjaan kayu, dan apabila terjadi kekeliruan dalam pembuatan mudah
merubahnya.

4. Kayu cukup baik untuk pekerjaan didalam air ,karena kayu tidak mungkin berkarat ,dengan
syarat kayu harus terendam dalam air terus.

5. Kayu adalah bahan bangunan yang baik untuk pekerjaan penyekat panas, penyekat suara dan
lain-lain.

Sifat fisik kayu:


Beberapa hal yang tergolong dalam sifat kayu adalah: Berat Jenis (BJ), keawetan alami, warna,
higroskopik, berat, kekerasan .
Berat Jenis (B J).
Kayu memiliki berat jenis yang berbeda-beda ,berkisar antara 0,20 s/d 1,28 . Berat jenis
merupakan petunjuk penting bagi aneka sifat kayu. Makin berat kayu itu, umumnya makin kuat
pula kayunya.
Berat jenis diperoleh dari perbandingan antara berat suatu volume kayu tertentu dengan volume
air yang sama pada suhu standar.

Keawetan alami kayu:


Yang dimaksud dengan keawetan alami ialah ketahanan kayu terhadap serangan dari unsur-unsur
perusak kayu dari luar seperti: jamur, rayap, bubuk, cacing laut dan mahluk yang lainnya.
Warna Kayu:
Ada beraneka macam warna kayu antara lain: warna kuning, coklat muda, coklat tua ,kehitam-
hitaman dan lain-lain.
Hal ini disebabkan oleh zat-zat pengisi warna dalam kayu yang berbeda-beda.
Higroskopik.
Kayu mempunyai sifat higroskopik, yaitu dapat menyerap atau melepaskan air atau kelembaman.
Suatu petunjuk bahwa kelembaman kayu sangat dipengaruhi oleh.

Kelembaman dan suhu udara pada suatu saat.


Dengan masuknya air ke dalam kayu, maka berat kayu akan bertambah . Selanjutnya masuk dan
keluarnya air dari kayu menyebabkan kayu itu basah atau kering. Akibatnya kayu akan
mengembang atau menyusut.
Tekstur.
Tekstur ialah ukuran relatif sel-sel kayu. Yang dimaksud dengan sel kayu ialah serat-serat kayu,
Jadi dapat dikatakan tekstur ialah ukuran relatif serat-serat kayu .
Berdasarkan teksturnya jenis kayu digolongkan menjadi:
a. Kayu bertekstur halus, contoh kayu giam, lara ,kulim dll.
b. Kayu bertekstur sedang , contoh kayu jati, snokeling dll.
c. Kayu bertekstur kasar, contoh Kayu meranti, kampas dll
Serat.
Bagian ini terutama menyangkut sifat kayu, yang menunjukan arah umum sel-sel kayu di dalam
kayu terhadap sumbu batang pohon asal potongan tadi . Arah serat dapat ditentukan oleh arah
alur-alur yang terdapat pada permukaan kayu.
Berat Kayu.
Berat sesuatu jenis kayu tergantung dari jumlah zat kayu yang tersusun, rongga-rongga sel atau
jumlah pori-pori, kadar air yang dikandung dari zat-zat ekstraktif di dalamnya. Berat jenis kayu
dapat digolongkan menjadi:

Kelas berat Berat Jenis


kayu
a. Sangat Lebih besar
berat dari 0.90

b. Berat 0,75 0,90

c. Agak 0.60 0,75


Berat
Lebih kecil
d. Ringan dari 0,60

http://cahblora.com/2009/01/16/sifat-besi-dan-baja/
BESI

Besi adalah logam yang berasal dari bijih besi (tambang)


yang banyak digunakan untuk kehidupan manusia sehari-hari. Dalam tabel periodik, besi
mempunyai simbol Fe dan nomor atom 26. Besi juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.
Besi telah ditemukan sejak zaman dahulu dan tidak diketahui siapa penemu sebenarnya unsur ini.

Keberadaannya di alam
Besi terdapat di alam dalam bentuk senyawa, misalnya pada mineral hematite (Fe 2O3),
magnetit (Fe2O4), pirit (FeS2), siderite (FeCO3), dan limonit (2Fe2O3.3H2O).

Kegunaan

Besi adalah unsure keempat terbanyak di bumi dan merupakan logam yang terpenting
dalam industri. Besi murni bersifat agak lunak dan kenyal. Oleh karena itu, dalam industry, besi
besi selalu dipadukan dengan logam lain supaya leih keras. Paduan tersebut sering kiata kenal
dengan baja. Baja adalah berbagai macam paduan logam yang dibuat dari besi tuang ke
dalamnya ditambahkan unsur-unsur lain seperti Mn, Ni, V, atau W tergantung keprluannya.

Besi tempa adalah besi yang hamper murni dengan kandungan sekitar 0.2% karbon.

Ciri-ciri dan sifat

Besi adalah logam yang paling banyak dan paling beragam penggunaannya. Hal itu karena
beberapa hal, diantaranya:
Kelimpahan besi di kulit bumi cukup besar
Pengolahannya relatif mudah dan murah, dan
Besi mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan dan mudah dimodifikasi
Salah satu kelemahan besi adalah mudah mengalami korosi. Korosi menimbulkan banyak
kerugian karena mengurangi umur pakai berbagai barang atau bangunan yang menggunakan besi
atau baja. Sebenarnya korosi dapat dicegah dengan mengubah besi menjadi baja tahan karat
(stainless steel), akan tetapi proses ini terlalu mahal untuk kebanyakan penggunaan besi

Korosi besi memerlukan oksigen dan air. Berbagai jenis logam


contohnya Zink danMagnesium dapat melindungi besi dari korosi. Cara-cara pencegahan korosi
besi yang akan dibahas berikut ini didasarkan pada dua sifat tersebut.

1. Pengecatan. Jembatan, pagar, dan railing biasanya dicat. Cat menghindarkan kontak dengan
udara dan air. Cat yang mengandung timbel dan zink (seng) akan lebih baik, karena keduanya
melindungi besi terhadap korosi.
2. Pelumuran dengan Oli atau Gemuk. Cara ini diterapkan untuk berbagai perkakas dan mesin.
Oli dan gemuk mencegah kontak dengan air.
3. Pembalutan dengan Plastik. Berbagai macam barang, misalnya rak piring dan keranjang sepeda
dibalut dengan plastik. Plastik mencegah kontak dengan udara dan air.
4. Tin Plating (pelapisan dengan timah). Kaleng-kaleng kemasan terbuat dari besi yang dilapisi
dengan timah. Pelapisan dilakukan secara elektrolisis, yang disebut tin plating. Timah tergolong
logam yang tahan karat. Akan tetapi, lapisan timah hanya melindungi besi selama lapisan itu
utuh (tanpa cacat). Apabila lapisan timah ada yang rusak, misalnya tergores, maka timah justru
mendorong/mempercepat korosi besi. Hal itu terjadi karena potensial reduksi besi lebih negatif
daripada timah. Oleh karena itu, besi yang dilapisi dengan timah akan membentuk suatu sel
elektrokimia dengan besi sebagai anode. Dengan demikian, timah mendorong korosi besi. Akan
tetapi hal ini justru yang diharapkan, sehingga kaleng-kaleng bekas cepat hancur.
5. Galvanisasi (pelapisan dengan Zink). Pipa besi, tiang telepon dan berbagai barang lain dilapisi
dengan zink. Berbeda dengan timah, zink dapat melindungi besi dari korosi sekalipun lapisannya
tidak utuh. Hal ini terjadi karena suatu mekanisme yang disebut perlindungan katode. Oleh
karena potensial reduksi besi lebih positif daripada zink, maka besi yang kontak dengan zink
akan membentuk sel elektrokimia dengan besi sebagai katode. Dengan demikian besi terlindungi
dan zink yang mengalami oksidasi (berkarat). Badan mobil-mobil baru pada umumnya telah
digalvanisasi, sehingga tahan karat.
6. Cromium Plating (pelapisan dengan kromium). Besi atau baja juga dapat dilapisi dengan
kromium untuk memberi lapisan pelindung yang mengkilap, misalnya untuk bumper
mobil.Cromium plating juga dilakukan dengan elektrolisis. Sama seperti zink, kromium dapat
memberi perlindungan sekalipun lapisan kromium itu ada yang rusak.
7. Sacrificial Protection (pengorbanan anode). Magnesium adalah logam yang jauh lebih aktif
(berarti lebih mudah berkarat) daripada besi. Jika logam magnesium dikontakkan dengan besi,
maka magnesium itu akan berkarat tetapi besi tidak. Cara ini digunakan untuk melindungi pipa
baja yang ditanam dalam tanah atau badan kapal laut. Secara periodik, batang magnesium harus
diganti.

Oleh karena proses pembuatannya mudah, besi mampu dibuat secara masal dengan biaya
yang relatif kecil. Kekuatan besi cor kelabu dapat dilakukan dengan cara menambahkan unsur
paduan. Komposisi kimia besi cor yang dihasilkan pola dipengaruhi oleh komposisi kimia,
teknik/proses pembuatan serta. Komposisi kimia unsur-unsur pemadu dalam besi kasar ini terdiri
dari 3-4 %C. Dibuat dari kayu, cetakan yang komposisi kimia suatu paduan, tetapi juga
tergantung pada struktur. Satu- satunya cara pembuatan yang dapat dikerjakan adalah dengan
silikon merupakan unsur yang sangat penting dalam pembuatan besi tuang. la menaikan fluiditas.
Ada sekitar 20 unsur non logam yang biasanya dengan cara pengendapan ion logam, pembuatan
senyawa yang mengandung lamelar dengan besi berkoordinasi secara tetrahedral dengan enam
ligan khlorin.
Secara bergantian lokasi ion ditempati oleh ion lurus NO2 bersifat oksidator kuat dan digunakan
dalam pembuatan bahan-bahan kimia, dan PbO2 terbentuk.
Alam dan kehidupan kita pun semua tertulis dengan lambang-lambang kimia membuat daftar
periodik tempat unsur-unsur yang bersifat mirip masuk. Hemoglobin mengandung besi,
berfungsi membawa oksigen. Nama Geologi : Vickers, Annealing, fase, Baja chrom.

nt-si n 4 0 ` eight:150%;font-family:Symbol;mso-fareast-font-family: Symbol;mso-bidi-


font-family:Symbol;mso-ansi-language:EN-US'> Konfigurasi Elektron : [Ar]3d8 4s2
Formasi Entalpi : 17.2 kJ/mol
Konduktivitas Panas : 90.7 Wm-1K-1
Potensial Ionisasi : 7.635 V
Titik Lebur : 1726 K
Bilangan Oksidasi : 2,3
Kapasitas Panas: 0.444 Jg-1K-1
Entalpi Penguapan: 377.5 kJ/mol
Mengatasi Zat Besi (Fe) Tinggi dalam Air

Air tanah dapat terkontaminasi dari beberapa sumber pencemar. Dua sumber utama kontaminasi
air tanah ialah kebocoran bahan kimia organik dari penyimpanan bahan kimia dalam bunker
yang disimpan dalam tanah, dan penampungan limbah industri yang ditampung dalam kolam
besar diatas atau di dekat sumber air.

Persyaratan bagi masing-masing standar kualitas air masih perlu ditentukan oleh 4 (empat) aspek
yaitu : persyaratan fisis, kimia, biologis, radiologis. Persyaratan fisis ditentukan oleh faktor-
faktor kekeruhan, warna, bau maupun rasa. Persyaratan kimia ditentukan oleh konsentrasi bahan-
bahan kimia seperti Arsen, Clhor, Tembaga, Cyanida, Besi dan sebagainya. Persyaratan biologis
ditentukan baik oleh mikroorganisme yang pathogen, maupun yang non pathogen.

Air sumur bor merupakan salah satu jalan yang ditempuh masyarakat untuk memenuhi
kebutuhan air bersih, namun tingginya kadar ion Fe (Fe2+, Fe3+) yaitu 5 7 mg/l
mengakibatkan harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu sebelum dipergunakan, karena telah
melebihi standar yang telah di tetapkan oleh Departemen kesehatan di dalam Permenkes No. 416
/Per/Menkes/IX/ 1990 tentang air bersih yaitu sebesar 1,0 mg/l. Salah satu upaya yang dapat
dilakukan untuk menurunkan kadar besi (Fe2+,Fe3+) dalam air adalah dengan cara aerasi.
Teknologi ini juga dapat kombinasikan dengan sedimentasi dan filtrasi.

Besi adalah salah satu elemen yang dapat ditemui hampir pada setiap tempat di bumi, pada
semua lapisan geologis dan semua badan air. Pada umumnya besi yang ada di dalam air dapat
bersifat terlarut sebagai Fe 2+ atau Fe3+.

Kandungan ion Fe (Fe2+,Fe3+) pada air sumur bor berkisar antara 5 7 mg/L. Tingginya
kandungan Fe (Fe2+,Fe3+) ini berhubungan dengan keadaan struktur tanah. Struktur tanah
dibagian atas merupakan tanah gambut, selanjutnya berupa lempung gambut dan bagian dalam
merupakan campuran lempung gambut dengan sedikit pasir.

Besi dalam air berbentuk ion bervalensi dua (Fe2+) dan bervalensi tiga (Fe3+) . Dalam bentuk
ikatan dapat berupa Fe2O3, Fe(OH)2, Fe(OH)3 atau FeSO4 tergantung dari unsur lain yang
mengikatnya. Dinyatakan pula bahwa besi dalam air adalah bersumber dari dalam tanah sendiri
di sampng dapat pula berasal dari sumber lain, diantaranya dari larutnya pipa besi, reservoir air
dari besi atau endapan endapan buangan industri.

Adapun besi terlarut yang berasal dari pipa atau tangki tangki besi adalah akibat dari beberapa
kodisi, di antaranya : 1) Akibat pengaruh pH yang rendah (bersifat asam), dapat melarutkan
logam besi. 2) Pengaruh akibat adanya CO2 agresif yang menyebabkan larutnya logam besi. 3)
Pengaruh banyaknya O2 yang terlarut dalam air yang dapat pula. 4) Pengaruh tingginya
temperature air akan melarutkan besi-besi dalam air. 5) Kuatnya daya hantar listrik akan
melarutkan besi. 6) Adanya bakteri besi dalam air akan memakan besi.
Besi terlarut dalam air dapat berbentuk kation ferro (Fe2+) atau kation ferri (Fe3+). Hal ini
tergantung kondisi pH dan oksigen terlarut dalam air. Besi terlarut dapat berbentuk senyawa
tersuspensi, sebagai butir koloidal seperti Fe (OH)3, FeO, Fe2O3dan lain-Iain. Konsentrasi besi
terlarut yang masih diperbolehkan dalam air bersih adalah sampai dengan 0,1 mg/l.

Apabila kosentrasi besi terlarut dalam air melebihi batas tersebut akan menyebabkan berbagai
masalah, diantaranya :
1. Gangguan teknis
Endapan Fe (OH) bersifat korosif terhadap pipa dan akan mengendap pada saluran pipa,
sehingga mengakibatkan pembuntuan dan efek-efek yang dapat merugikan seperti Mengotori
bak yang terbuat dari seng. Mengotori wastafel dan kloset.

2. Gangguan fisik
Gangguan fisik yang ditimbulkan oleh adanya besi terlarut dalam air adalah timbulnya warna,
bau, rasa. Air akan terasa tidak enak bila konsentrasi besi terfarutnya > 1,0 mg/l.

3. Gangguan kesehatan
Senyawa besi dalam jumlah kecil di dalam tubuh manusia berfungsi sebagai pembentuk sel-sel
darah merah, dimana tubuh memerlukan 7-35 mg/hari yang sebagian diperoleh dari air. Tetapi
zat Fe yang melebihi dosis yang diperlukan oleh tubuh dapat menimbulkan masalah kesehatan.
Hal ini dikarenakan tubuh manusia tidak dapat mengsekresi Fe, sehingga bagi mereka yang
sering mendapat tranfusi darah warna kulitnya menjadi hitam karena akumulasi Fe. Air minum
yang mengandung besi cenderung menimbulkan rasa mual apabila dikonsumsi. Selain itu dalam
dosis besar dapat merusak dinding usus. Kematian sering kali disebabkan oleh rusaknya dinding
usus ini. Kadar Fe yang lebih dari 1 mg/l akan menyebabkan terjadinya iritasi pada mata dan
kulit. Apabila kelarutan besi dalam air melebihi 10 mg/l akan menyebabkan air berbau seperti
telur busuk.

Pada Hemokromatesis primer besi yang diserap dan disimpan dalam jumlah yang berlebihan di
dalam tubuh. Feritin berada dalam keadaan jenuh akan besi sehingga kelebihan mineral ini akan
disimpan dalam bentuk kompleks dengan mineral lain yaitu hemosiderin. Akibatnya terjadilah
sirosis hati dan kerusakan pankreas sehingga menimbulkan diabetes. Hemokromatis sekunder
terjadi karena transfusi yang berulang-ulang. Dalam keadaan ini besi masuk ke dalam tubuh
sebagai hemoglobin dari darah yang ditransfusikan dan kelebihan besi ini tidek disekresikan.

Hal-Hal yang Mempengaruhi Kelarutan Fe dalam Air:


1. Kedalaman
Air hujan yang turun jatuh ke tanah dan mengalami infiltrasi masuk ke dalam tanah yang
mengandung FeO akan bereaksi dengan H2O dan CO2 dalam tanah dan membentuk Fe
(HCO3)2 dimana semakin dalam air yang meresap ke dalam tanah semakin tinggi juga kelarutan
besi karbonat dalam air tersebut.

2. pH
pH air akan terpengaruh terhadap kesadahan kadar besi dalam air, apabila pH air rendah akan
berakibat terjadinya proses korosif sehingga menyebabkan larutnya besi dan logam lainnya
dalam air, pH yang rendah kurang dari 7 dapat melarutkan logam. Dalam keadaan pH rendah,
besi yang ada dalam air berbentuk ferro dan ferri, dimana bentuk.ferri akan mengendap dan tidak
larut dalam air serta tidak dapat dilihat dengan mata sehingga mengakibatkan air menjadi
berwarna,berbau dan berasa.

3. Suhu
Suhu adalah temperatur udara. Temperatur yang tinggi menyebabkan menurunnya kadar O2
dalam air, kenaikan temperatur air juga dapat mengguraikan derajat kelarutan mineral sehingga
kelarutan Fe pada air tinggi.

4. Bakteri besi

Bakteri besi (Crenothrix, Lepothrix, Galleanella, Sinderocapsa dan Sphoerothylus ) adalah


bakteri yang dapat mengambil unsur ber dari sekeliling lingkungan hidupnya sehingga
mengakibatkan turunnya kandungan besi dalam air, dalam aktifitasnya bakteri besi memerlukan
oksigen dan besi sehingga bahan makanan dari bakteri besi tersebut. Hasil aktifitas bakteri besi
tersebut menghasilkan presipitat (oksida besi) yang akan menyebabkan warna pada pakaian dan
bangunan. Bakteri besi merupakan bakteri yang hidup dalam keadaan anaerob dan banyak
terdapat dalam air yang mengandung mineral. Pertumbuhan bakteri akan menjadi lebih sempurna
apabila air banyak mengandung CO2 dengan kadar yang cukup tinggi.

5. CO2 agresif

Karbondioksida (CO2) merupakan salah satu gas yang terdapat dalam air. Berdasarkan bentuk
dari gas Karbondioksida (CO2) di dalam air, CO2 dibedakan menjadi : CO2 bebas yaitu CO2
yang larut dalam air, CO2 dalam kesetimbangan, CO2 agresif. Dari ketiga bentuk
Karbondioksida (CO2) yang terdapat dalam air, CO2 agresif-lah yang paling berbahaya karena
kadar CO2 agresif lebih tinggi dan dapat menyebabkan terjadinya korosi sehingga berakibat
kerusakan pada logam logam dan beton. Menurut Powell CO2 bebas yang asam akan merusak
logam apabila CO2 tersebut bereaksi dengan air.karena akan merusak logam. Reaksi ini dikenal
sebagai teori asam, dengan reaksi sebagai berikut:
2 Fe + H2CO3 ..> FeCO3 + 2 H+
2 FeCO3 + 5 H2O +1/2 O2 ..> 2 Fe(OH)2 + 2 H2CO3
Dalam reaksi di atas dapat dilihat bahwa asam karbonat tersebut secara terus-menerus akan
merusak logam, karena selain membentuk FeCO3 sebagai hasii reaksi antara Fe dan H2CO3,
selanjutnya FeCO3 bereaksi dengan air dan gas oksigen (O2) menghasilkan zat 2FeOH dan
2H2CO3 dimana H2CO3 tersebut akan menyerang logam kembali sehingga proses pengrusakan
logam akan berjalan secara terus-menerus mengakibatkan kerusakan yang semakin lama semakin
besar pada logam tersebut.

Penyebab utama Tingginya Kadar besi dalam Air


1. Rendahnya pH Air
Nilai pH air normal yang tidak menyebabkan masalah adalah 7. Air yang mempunyai pH 7 dapat
melarutkan logam termasuk besi.
2. Adanya Gas-gas Terlarut dalam Air.
Yang dimaksud gas-gas tersebut adalah CO2 dan H2S. Beberapa gas terlarut dalam air terlarut
tersebut akan bersifat korosif.

3. Bakteri
Secara biologis tingginya kadar besi terlarut dipengaruhi oleh bakteri besi yaitu bakteri yang
dalam hidupnya membutuhkan makanan dengan mengoksidasi besi sehingga larut. Jenis ini
adalah bakteri Crenotrik, Leptotrik, Callitonella, Siderocapsa dan Iain-Iain. Bakteri ini
mempertahankan hidupnya membutuhkan oksigen dan besi.

Metode Penurunan Kadar Besi (Fe)


1. Aerasi
Ion Fe selalu di jumpai pada air alami dengan kadar oksigen yang rendah, seperti pada air tanah
dan pada daerah danau yang tanpa udara Keberadaan ferri larutan dapat terbentuk dengan adanya
pabrik tenun, kertas, dan proses industri. Fe dapat dihilangkan dari dalam air dengan melakukan
oksidasi menjadi Fe (OH)3 yang tidak larut dalam air, kemudian di ikuti dengan pengendapan
dan penyaringan. Proses oksidasi dilakukan dengan menggunakan udara biasa di sebut aerasi
yaitu dengan cara memasukkan udara dalam air.

2 Sedimentasi
Sedimentasi adalah proses pengendapan partikel-partikel padat yang tersuspensi dalam cairan/zat
cair karena pengaruh gravitasi (gaya berat secara alami). Proses pengendapan dengan cara
gravitasi untuk mengendapkan partikel-partikel tersuspensi yang lebih berat daripada air, ini
yang sering dipergunakan dalam pengolahan air. Sedimentasi dapat berlangsung sempurna pada
danau yang airnya diam atau suatu wadah air yang dibuat sedemikian rupa sehingga air di
dalamya keadaan diam. Pada dasarnya proses tersebut tergantung pada pengaruh gaya gravitasi
dari partikel tersuspensi dalam air. Sedimentasi dapat berlangsung pada setiap badan air. Biaya
pengolahan air dengan proses sedimentasi relatif murah karena tidak membutuhkan peralatan
mekanik maupun penambahan bahan kimia. Kegunaan sedimentasi untuk mereduksi bahan-
bahan tersuspensi (kekeruhan) dari dalam air dan dapat juga berfungsi untuk mereduksi
kandungan organisme (patogen) tertentu dalam air. Proses sedimentasi adalah proses
pengendapan dimana masing-masing partikel tidak mengalami perubahan bentuk, ukuran,
ataupun kerapatan selama proses pengendapan berlangsung. Partikel-partikel padat akan
mengendap bila gaya gravitasi lebih besar dari pada kekentalan dan gaya kelembaban (Enersia)
dalam cairan.

3. Filtrasi
Proses penyaringan merupakan bagian dari pengolahan air yang pada prinsipnya adalah untuk
mengurangi bahan-bahan organik maupun bahan-bahan an organik yang berada dalam air.
Penghilangan zat padat tersuspensi denggan penyaringan memiliki peranan penting, baik yang
terjadi dalam pemurnian air tanah maupun dalam pemurnian buatan di dalam instalasi
pengolahan air. Bahan yang dipakai sebagai media saringan adalah pasir yang mempunyai sifat
penyaringan yang baik, keras dan dapat tahan lama dipakai bebas dari kotoran dan tidak larut
dalam air.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penurunan kadar besi (Fe2+, Fe3+) pada air sumur
bor dengan aerator. Sampel penelitian diambil dari 1 (satu) sumur bor, kemudian dipompa
dengan menggunakan pompa air langsung ke aerator. Perlakuan eksperimen ini adalah
melakukan aerasi, sedimentasi dan filtrasi untuk menurunkan kadar Fe (Fe2+, Fe3+) dengan
membandingkan kadar Fe (Fe2+, Fe3+) antara sebelum dan sesudah perlakuan. Selang waktu
pengambilan masing-masing sampel adalah 80 menit, sehingga data terdiri dari 15 liter air
sampel untuk pemeriksaan.

Data kadar Fe (Fe2+, Fe3+) air sumur bor merupakan konsentrasi kadar Fe (Fe2+, Fe3+) terlarut
yang terdapat dalam air sumur bor. Sebelum dilakukan pengukuran kadar Fe (Fe2+, Fe3+)
dilakukan langkah-langkah yaitu, air dari Sumur bor di pompa langsung dengan menggunakan
pompa air ke dalam bak penampungan sampai penuh. Kemudian membuka kran pada bak
penampungan sehingga air mengalir ke cascade aerator. Setelah melewati cascade aerator air di
endapkan dalam bak sedimentasi selama 60 menit setelah itu di alirkan ke bak filtrasi.
Selanjutnya air disaring dengan menggunakan bak filtrasi. Air yang keluar diambil sebagai
sampel untuk kemudian diperiksa.

Proses penggolahan air dengan aerotor dilakukan selama lima hari di mana pada setiap harinya
dilakukan pengolahan sebanyak tiga kali (tiga sampel data). Setiap sekali pengolahan tersebut
membutuhkan waktu sekitar tiga jam.

Rata-rata kadar Fe di dalam air hasil pemompaan sebesar 5,906 mg/lt dengan kadar tertinggi
sebesar 7,153 mg/lt dan terendah sebesar 5,004 mg/lt. Sedangkan rata-rata setelah diolah dengan
aerator turun menjadi 0,875 mg/lt dengan kadar tertinggi sebesar 2,245 mg/lt dan terendah 0,211
mg/lt.

Sebelum uji T dilakukan terlebih dahulu dilakukan uji normalitas yaitu bertujuan untuk
mengetahu apakah data berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas data dilakukan dengan uji
Kolmogorov-Smirnov Test.

Analisis data secara bivariat dilakukan untuk menguji hipotesis yaitu mengetahui perbedaan
mean (nilai rata-rata) kadar Fe awal dan akhir perlakuan. Penelitian ini menggunakan uji
komparatif dengan uji statistik parametrik yaitu Paired Sampel Test. Hasil uji beda tersebut dapat
disimak dalam tabel sebagai berikut:

Nilai t hitung sebesar 77,347 ( = 0.000) jika di transformasikan dengan nilai t tabel sebesar
1,761 (df = 14 dan = 0,05) mengindikasikan bahwa hipotesis nol ditolak dan menerima
Hipotesis alternatif atau dapat diartikan bahwa ada perbedaan kelompok data pre-test dengan
kelompok data post-test dan terbukti dengan taraf signifikasi 5%, sehingga disimpulkan bahwa
ada penurunan kadar besi (Fe2+, Fe3+) pada air sumur bor dengan aerator.

Unsur besi dalam jumlah sedikit diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan unsur
tersebut. Unsur besi tersebut diperoleh diantaranya berasal dari air minum. Di dalam air minum,
konsentrasi melebihi 2 Mg/liter dapat menimbulkan noda-noda pada peralatan dan bahan-bahan
yang berwarna putih. Pada unsur ini dapat pula menimbulkan bau, warna, dan koloid pada air
minum dan bahkan dapat menyebabkan rasa mual dan sakit perut.
Kandungan Fe dapat ditemui pada hampir setiap lapisan geologis dan semua badan air 21).
Seperti zat-zat lainnya dalam air minum misalnya Ca, Mg, Mn, unsur Fe sebagian besar juga
berasal dari kontaknya dengan tanah dan pembentukan batuan. Pada umumnya kandungan Fe
berasal dari daerah di mana lapisan humusnya (top soil) agak tebal. Kandungan besi dalam air
minum dapat bersifat terlarut sebagai Fe2+ atau Fe3+ tersuspensi sebagai butir kolodial atau
lebih besar seperti FeO, dan yang tergabung dengan zat organik/anorganik.

Untuk menurunkan kandungan Fe tersebut, diantaranya dilakukan dengan aerasi. Aerasi adalah
pengolahan air dengan cara mengontakkannya dengan udara. Tujuan aerasi yaitu untuk
menambahkan jumlah oksigen dalam air, menurunkan jumlah CO, dan juga digunakan untuk
pengolahan air yang mengandung Fe dan Mn terlalu tinggi. Cara aerasi ini biasanya dengan
mengontakkan/menyebarkan air dengan udara di atas lempengan tipis, melalui tetesan air kecil
(waterfall aerator), atau dengan pencampur air dengan gelembung-gelembung udara. Dengan
cara ini jumlah oksigen pada air bisa dinaikkan antara 60 80%.

Berfluktuasinya kandungan Fe air tanah pada pemompaan ini, tidak terlepas dari sifat siklus
hidrogen air tanah. Air tanah merupakan salah satu sumber air yang tersimpan atau terperangkap
di dalam lapisan batuan yang mengalami pengisian atau penambahan secara terus menerus oleh
alam. Sehingga pada saat alam mengalami musim kemarau maka penambahan airya berkurang,
karena daerah pengisian (aquifer artesis) tidak terjadi hujan, begitu juga kandungan Fe yang
biasanya meresap ke dalam air tanah bersama air hujan yang menembus permukaan tanah yang
lapisan humusnya (gambut) cukup tebal. Jika dilakukan pemompaan terus menerus maka secara
alami kadar Fe akan mengalami penurunan, begitu juga jika pada musim hujan, maka kandungan
Fe akan meningkat.

Setelah dilakukan pengolahan dengan aerator cycling dan cascade (tangga luncur) rata-rata
penurunan kadar Fe masih relatif kecil dibandinakan dengan rata-rata kadar Fe dari sumber ke
aerator cycling. Akan tetapi rata-rata penurunan kadar Fe, setelah melalui aerator cycling dan
cascade kemudian dilakukan sedimentasi selama 45 menit, hasilnya cukup besar. Sedimentasi
dengan waktu 45 sebenarnya belum optimal, karena partikel-partikel tersuspensi sebagai butir-
butir koloidal FeO berubah menjadi sebelum mengalami pengendapan yang sempurna. Menurut
Djasio Sanropie, waktu (Detention Time) pengendapan yang optimal biasanya diambil 3 jam (2
6 jam), mungkin dalam pengendapan kandungan Fe hasil aerasi ini cukup dilakukan 1 2 jam.
Agar mendapatkan basil yang tepat disarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut tentang
detention time, untuk sedimentasi kadar Fe yang optimal pada air sumur bor.

Secara statistik dengan menggunakan uji t dengan = 5%, ditemukan adanya perbedaan yang
signifikan (bermakna) rata-rata penurunan kadar Fe antara sebelum dan sesudah pengolahan
dengan aerator (t hitung = 7,967 dan t tabel = 1,761). Meskipun hasil rata-rata penurunan kadar
Fe selama 5 hari masih tergolong tinggi yaitu 5,596 Mg/liter, sedang Permenkes:
416/PERIX/1990, mensyaratkan kadar Fe pada air bersih 1 Ma/liter, dan air minum 0,3 Ma/liter,
akan tetapi rata-rata penurunan perharinya cenderung menurun dan hasil akhir pada hari ke
empat sampai kelima, rata-rata penurunan kadar Fe di bawah standar yang ditetapkan Depkes RI
(1990) yaitu 0,41 dan pada hari kelima 0,22 Ma/liter. Agar hasil pengolahan air tanah (sumor bor)
dengan aerator ini optimal dan hasilnya sesuai dengan standar Depkes, disarankan yaitu (1).
Setiap tahap pengolahan dengan aerator dilakukan sedimentasi minimal selama 60 menit, (2).
Pemberian pemasangan tabung filter dengan activated carbon, untuk menghilangkan bau dan
juga zat organik/anorganik lainnya, dan (3). Setiap satu minggu sekali perlu dilakukan perawatan
dengan pembersihan filter pasir pada bagian atas 10 cm, dan selanjutnya dikembalikan lagi
pada tempatnya semula.