Anda di halaman 1dari 40

Percobaan ke-7

Pembuatan Metil Ester (Biodiesel) dari Minyak Goreng

A. Tujuan
1. Membuat metil ester dari sintesis metil ester
2. Menentukan volume rendemen yang didapat dari hasil sintetis metil ester
3. Menentukan konsntrasi NaOH dari hasil standarisasi dengan asam oksalat
4. Menentukan kadar FFA yang didapat dari analisis asam lemak bebas melalui titrasi asam
basa
B. Dasar Teori

Metil ester merupakan ester asam lemak yang dibuat melalui proses esterifikasi dari asam
lemak dengan methanol. Pembuatan metil ester ada 4 macam cara, yaitu pencampuran dan
penggunaan langsung, mikroemulsi, pirolisis (thermal cracking), dan esterifikasi. Namun, yang
sering digunakan dalam pembuatan metil ester adalah esterifikasi yang merupakan reaksi antara
trigliserida (lemak atau minyak) dengan methanol untuk menghasilkan metil ester dan gliserol.

Metil ester dapat diperoleh dari hasil pengolahan bermacam-macam minyak nabati,
misalnya di Jerman diperoleh dari minyak rapessed, di Eropa diperoleh dari minyak biji bunga
matahari dan minyak rapessed, di Prancis dan Itali diperoleh dari minyak biji bunga matahari, di
Amerika Serikat dan Brazil diperoleh dari minyak kedelai, di Malaysia diperoleh dari minyak
kelapa sawit, dan di Indonesia diperoleh dari minyak kelapa sawit, minyak jarak pagar, minyak
kelapa, dan minyak kedelai (2,3,4). Selain minyak-minyak tersebut, minyak safflower, minyak
linsedd, dan minyak zaitun juga dapat digunakan dalam pembuatan senyawa metal ester (4,5).
Pada pengolahan minyak nabati di atas juga di hasilkan gliserol sebagai hasil sampingnya.
Metil ester merupakan bahan baku dalam pembuatan biodiesel atau emollen dalam produk
kosmetika, sedangkan gliserol dapat digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai aplikasi
industri seperti kosmetika, sabun, dan farmasi. Gliserol yang diperoleh sebagai hasil samping
pengolahan minyak nabati ini bukanlah gliserol murni, melainkan gliserol mentah (crude
glycerol), biasanya memiliki kemurnian kira-kira 95%.
Minyak jelantah merupakan minyak nabati yang telah mengalami degradasi kimia dan/atau
mengandung akumulasi kontaminan-kontaminan di dalamnya. Minyak ini dapat didaur ulang
menjadi metil ester dengan reaksi transesterifikasi, sehingga minyak jelantah yang sebelumnya
merupakan limbah yang berbahaya jika langsung dibuang ke lingkungan dapat menjadi suatu
produk yang mempunyai nilai ekonomis dan juga dapat mengurangi jumlah limbah minyak
jelantah yang ada. Keuntungan penggunaan minyak jelantah dalam pembuatan metil ester adalah
dapat direduksinya biaya operasional, karena harga minyak jelantah pasti lebih murah daripada
minyak bersih atau minyak baru. Kekurangannya adalah komposisi asam lemak yang terkandung
di dalam minyak dapat berubah akibat pemanasan dan terikat dengan bahan makanan yang
digunakan pada proses penggorengan.
Senyawa metil ester dapat digunakan sebagai zat tambahan pada suatu formulasi kosmetika,
salah satu contohnya yaitu caprylic atau caprylic triglyceride yang telah digunakan dalam
formulasi kosmetika sebagai emolien. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan bahwa
senyawa metil ester lainnya juga dapat digunakan sebagai zat tambahan, baik sebagai emolien
maupun fungsi lainnya.
Metil ester yang diperoleh dari reaksi transesterifikasi dapat dimurnikan dan ditetapkan
kadarnya. Ada tiga metode analisis untuk menetapkan kadar metil ester yaitu kromatografi gas,
kromatografi cair kinerja tinggi, dan kromatografi lapis tipis.
Reaksi Transesterifikasi dengan Katalis
Biodiesel dibuat melalui proses kimia yang disebut transesterifikasi.

Proses ini menghasilkan dua produk yaitu metil esters (biodiesel) ataumono-alkyl esters
dan gliserin yang merupakan produk samping. Bahan baku utama untuk pembuatan biodiesel
antara lain minyak nabati, lemak hewani, lemak bekas atau lemak daur ulang. Sedangkan sebagai
bahan baku penunjang yaitu alkohol.
Pada pembuatan biodiesel dibutuhkan katalis untuk proses esterifikasi. Produk biodiesel
tergantung pada minyak nabati yang digunakan sebagai bahan baku serta serta pengolahan
pendahuluan dari bahan baku tersebut. Alkohol yang digunakan sebagai pereaksi untuk minyak
nabati adalah methanol, namun dapat pula digunakan ethanol, isopropanol atau butyl, tetapi perlu
diperhatikan juga kandungan air dalam alcohol tersebut. Bila kandungan air tinggi akan
mempengaruhi hasil biodiesel kualitasnya rendah, karena kandungan sabun, ALB dan trigiserida
tinggi.
Disamping itu hasil biodiesel juga dipengaruhi oleh tingginya suhu operasi proses
produksi, lamanya waktu pencampuran atau kecepatan pencampuran alkohol. Katalisator
dibutuhkan pula guna meningkatkan daya larut pada saat reaksi berlangsung, umumnya katalis
yang digunakan bersifat basa kuat yaitu NaOH atau KOH atau natrium metoksida. Katalis yang
akan dipilih tergantung minyak nabati yang digunakan, apabila digunakan minyak mentah
dengan kandungan ALB kurang dari 2 %, disamping terbentuk sabun dan juga gliserin. Katalis
tersebut pada umumnya sangat higroskopis dan bereaksi membentuk larutan kimia yang akan
dihancurkan oleh reaktan alkohol. Jika banyak air yang diserap oleh katalis maka kerja katalis
kurang baik sehingga produk biodiesel kurang baik. Setelah reaksi selesai, katalis harus di
netralkan dengan penambahan asam mineral kuat. Setelah biodiesel dicuci proses netralisasi juga
dapat dilakukan dengan penambahan air pencuci, HCl juga dapat dipakai untuk proses netralisasi
katalis basa, bila digunakan asam phosphate akan menghasil pupuk phosphat (K3PO4).

Teori Transesterifikasi
Pembutan biodesel relatif sederhana dan mudah dikuasai dengan produk berupa Fatty Acid
Metyl Ester (FAME) yang melalui proses transesterifikasi. Proses transesterifikasi adalah proses
pertukaran antara gugus alkyl dari trigliserida dengan gugus alkil dari Methanol (alcohol),
sehingga terbentuk FAME dan gliserin.

Proses Uji Mutu


Beberapa jenis proses Analisa Uji Mutu dilakukan secara Kimia dan Fisika adalah sebagai
berikut:
Proses Uji Mutu secara Kimia
Analisa secara Kimia adalah sebagai berikut:
a. Kadar Air
b. FFA (Free Faty Acid)
c. Rancidity
d. Kandungan Logam
Proses Uji Mutu secara Fisika
Analisa secara Fisika adalah sebagai berikut :
a. Analisa Density (Massa Jenis)
b. Analisa Viscosity (Kekentalan)

C. Cara kerja
Sintesis Metil Ester

Ditimbang 1 gram NaOH yang telah dihaluskan kemudian dilarutkan dengan 41 ml


methanol p.a, lalu diaduk dengan stirrer hingga semua NaOH larut. Kemudian larutan
ditempatkan pada gelas kimia 250 ml (tahap 1). Lalu pada gelas kimia yang berbeda, dimasukan
200 ml sampel minyak, kemudian dipanaskan diatas hot plate lalu diaduk dengan stirrer kira-kira
75-150 rpm, hingga mencapai suhu 45-55 oC. kemudian ditambahkan larutan natrium metoksida
yang telah dibuat pada tahap 1 kedalam minyak yang telah dipanaskan dan suhu pengadukan
dipertahankan pada 55 oC. Kemudian dilakukan penambahan larutan ini secara secara sedikit
demi sedikit sambil diakduk dengan lamanya waktu pengadukan selama 45 menit, setelah semua
natrium metoksida bercampur semua. Kemudian metil ester dipindahkan kedalam corong pisah
dan didiamkan hingga terbentuk 2 lapisan selama 10-15 menit, setelah itu dikeluarkan lapisan
bawahnya dan dimasukkan metil ester ke gelas kimia, lalu dilakukan pemurnian dengan
dipanaskannya aquadest sebanyak 50 % volume metil ester hingga suhu 60 oC, kemudian
dituangkannya metil ester dan aquadest ke corong pisah dan dibiarkan hingga terbentuk dua
lapisan, kemudian lapisan bawahnya dikeluarkan. Lalu dihitung yield yang didapat.

Pembuatan larutan
1. Pembuatan NaOH 0,1 N 500 ml

Ditimbang sebanyak 2 gram NaOH lalu dilarutkan didalam 500 ml aquadest, dan
ditempatkan di buret 50 ml.

2. Pembuatan indikator fenolftalien


Ditimbang sebanyak 0,5 gram fenolftalien,, kemudian dilarutkan dalam 100 ml etanol.

3. Pembuatan methanol 95% netral

Dimasukan methanol 95% sebanyak yang diperlukan ke erlemeyer, lalu ditambahkan 3


tetes indikator fenolftalien, setelah itu dititrasi dengan NaOH 0,1 N sampai terbentuk warna
merah muda

Standarisasi larutan NaOH terhadap asam oksalat

10ml larutan asam oksalat, dimasukan kedalam erlemeyer, lalu ditambahkan 3 tetes
indikator fenolftalien. Kemudian dititrasi dengan NaOH dalam buret. Dilakukan secara duplo,
serta ditentukan konsentrasi NaOH secara tepat

Analisis Asam Lemak

Ditimbang 2-5 gram metil ester, lalu ditambahkan 50 ml larutan methanol 95% netral serta
3 tetes indikator fenolftalien. Kemudian dilakukan titrasi dengan NaOH 0,1N sampai warna
merah muda. Lalu catat banyaknya NaOH yang digunakan.

D. Pengamatan dan Perhitungan

Cara kerja Pengamatan


Pembuatan Natrium Metoksida
1 gram NaOH Padatan berwarna putih
Dihaluskan dengan mortal dan alu Serbuk NaOH halus
Dilarutkan dengan 41 ml methanol Methanol merupakan larutan tak
sintesis berwarna, menghasilkan larutan tak
berwarna natrium metoksida
Ditempatkan pada gelas kimia 250 ml Larutan natrium metoksida dalam gelas
kimia
Sintesis Metil Ester
200 ml sampel minyak goring, Berupa cairan kental berwarna kuning
dimasukkan ke gelas kimia 250 ml
Dipanaskan diatas hot plate, lalu diaduk Sampel minyak dengan suhu 55 o
C
dengan stirrer hingga suhu 55 oC dengan 80 rpm
(+) Natrium Metoksida tetes demi tetes, Terdapat 2 lapisan
hingga suhu dipertahankan pada 55 oC Lapisan atas : bening tak berwarna
selama 50 menit Lapisan bawah: bening berwarna kuning
Dipindahkan ke corong pisah, dan Terdapat 2 fasa
didiamkan selama 15 menit Fasa atasa: metil ester (Biodiesel)
Fasa bawah : Gliserol dan methanol
Dipisahkan antara fasa atas dan fasa Fasa atas : berwarna kuning
bawahnya Fasa bawah : berwarna kuning ++
Fasa atas dimasukan kegelas kimia Didapat metil ester sebanyak 18 ml
Dilakukan pemurnian dengan Larutan berubah menjadikuning keruh ++
penambahan aquadest panas sebanyak 9
ml
Diaduk perlahan selama 10 menit Larutan berubah menjadi bening berwarna
kuning
Dipindahkan kembali ke corong pisah, Tidak terbentuk 2 lapisan
dan dibiarkan hingga terbentuk 2
lapisan
Standarisasi NaOH
10 ml asam oksalat Larutan tak berwarna
Dimasukan ke erlemeyer + 3 tetes Larutan tak berwarna
indikator fenolftalien
Dititrasi dengan larutan NaOH, Larutan berubah menjadi merah muda
dilakukan duplo pada volume NaOH : V1 = 16,09 ml, V2=
16,9 ml
Ditentukan konsentrasi NaOH Konsentrasi NaOH yang didapat
sebesar0,05971 N
Analisis Asam Lemak Bebas
5 ml metil ester hasil sintesis Berupa larutan berwarna kuning
(+) 50 ml methanol sintesis Methanol merupakan larutan tak
berwarna, ketika ditambahkan terbentuk
larutan tak berwarna
(+) 3 tetes indikator fenolftalien Tidak terjadi perubahan warna
Dititrasi dengan NaOH standar 0,05917 Larutan berubahah warna menjadi merah
M muda pada volume NaOH sebanyak 33,80
ml
Ditentukan kadar FFA % FFA= 11,28 %

Perhitungan

Pembuatan larutan

Pembuatan larutan 2 gram NaOH pada 500 ml aquadest

gr 1000
= mr x v

2 gram 1000
= x 500 ml = 0,1 N
40

Stndarisasi NaOH

Diketahui: Voksalat = 10 ml

Noksalat = 0,1 N

VNaOH = 16,9 ml

Ditanyakan : NNaOH?

Jawab: VNaOH . NNaOH = VOksalat . NOksalat

NOksalat .VOksalat
NNaOH =
VNaOH

0,1 N .10 ml
= 16,9 ml
= 0,05917 N

Sintesis Metil Ester

Diketahui:

VNaOH = 33,80 ml

MNaOH = NNaOH = 0,05917

M sampel = 282 gram/mol

Vsampel = 5,00 ml

Ditanyakan : % FFA ?

Jawab:

VNaOH .MNaOH .M sampel


% FFA = x 100%
Vsampel x 1000

33,80 ml x 0,05917 M x 282 gr/mol


= x 100 %
5,00 x 1000

= 11,28%

Rendemen Metil Ester

Diketahui:

V sampel : 200 ml

V analit : 18 ml

Ditanyakan : rendemen?

Jawab:

v analit
Rendemen = v sampel

200 ml
= = 0,09
18 ml
E. Pembahasan

Metil ester (Biodiesel) merupakan nama dari Alkyl Ester atau rantai panjang asam lemak
yang berasal dari minyak nabati maupun lemak hewan. Biodiesel dapat digunakan sebagai bahan
bakar tanpa memerlukan modifikasi mesin. Metil ester dari minyak sawit (CPO) dihasilkan
melalui proses transesterifikasi trigliserida dari CPO (minyak sawit). Transesterifikasi adalah
penggantian gugus alkohol dari ester dengan alkohol lain dalam suatu proses yang menyerupai
hidrolisis. Namun berbeda dengan hidrolisis, pada proses transesterifikasi bahan yang digunakan
bukan air, melainkan alkahol. Beberapa jenis alkohol yang digunakan dalam proses
transesterifikasi misalnya adalah methanol (seperti yang digunakan pada percobaan ini), etanol,
propanol, butanol, dan alkil alkohol. Reaksi ini dapat dikatalis oleh asam, basa, atau enzim, yang
mana dalam percobaan ini reaksi ini dikatalis oleh basa, yang dalam hal ini pada umumnya
katalis yang digunakan adalah natrium metoksida (hasil pembuatan metil ester) seperti yang
digunakan pada percobaan ini.

Pada percobaan Pembuatan Metil Ester (Biodiesel) dari minyak, didasarkan pada reaksi
transesterifikasi. Dimana pada prosesnya mengeluarkan glicerin dari minyak dan mereaksikan
asam lemak bebasnya dengan alkohol menjadi alkohol eter. Pada percobaan ini, bahan baku
utama untuk pembuatan metil ester adalah minyak nabati (minyak goreng curah) sedangkan
sebagai bahan baku penunjang/pereaksi untuk minyak nabati adalah alkohol yaitu metanol.
Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran mono alkil ester dari rantai panjang
asam lemak yang dipakai sebagai alternative bagi bahan bakar dari mesin diesel dan terbuat dari
sumber terbaharui sepetri minyak nabati atau lemak hewan. Biodiesel merupakan bahan bakar
dari proses transesterifikasi lipid untuk mengubah minyak dasar menjadi ester yang diinginkan
dan membuang lemak bebas. Setelah melewati proses ini tidak seperti minyak nabati langsung
biodiesel memiliki sifat pembakaran yang mirip dengan diesel dari minyak bumi dan dapat
menggantikan mingak bumi dalam banyak kasus. Namun biodiesel lebih sering digunakan
sebagai penambah untuk diesel petroleum.

Pada percobaan kali ini digunakan sampel minyak goreng. Penggunaan sampel minyak
goreng ini karena komposisi minyak goreng itu sendiri mengandung asam lemak bebas yang
mempunyai potensi untuk dimanfaatkan dalam pembuatan oleo kimia. Salah satu
pemanfaatanannya adalah sebagai bahan baku pembuatan metil ester atau bahan bakar
alternative lainnya melalui proses transesterifikasi atau esterifikasi.

Pada percobaan ini dilakukan beberapa perlakuan diantaranya melakukan sintesis metil ester
serta analisis asam lemak bebas. Sebelum dilakukannya kedua perlakuan tersebut, hal yang
pertama dilakukan adalah pembuatan metil ester terlebih dahulu yang mana dalam
pembuatannya dengan cara ditimbang sebanyak 1 gram NaOH dalam bentuk padatan berwarna
putih yang kemudian digerus hingga halus agar NaOH lebih mudah untuk dilarutkan, lalu
ditambahkan dengan 41 ml methanol sintesis guna untuk melarutkan NaOH tersebut. Methanol
merupakan larutan tak berwarna, ketika dicampurkan pada NaOH yang telah dihaluskan, NaOH
larut dalam methanol dan menghasilkan larutan tak berwarna natrium metoksida (tahap 1). Pada
tahap ini larutan natrium metoksida digunakan sebagai katalis dalam proses transesterifikasi
Nartium metoksida mempunyai rumus molekul CHONa yang terbentuk dengan menghilangkan
proton hidrogen (H+) dari methanol.

Setelah setelah semua perlakuan tersebut dilakukan, kita dapat melakukan sintesis metil
ester dengan cara memanaskan 200 ml sampel minyak goreng yang merupakan cairan kental
berwarna kuning pada hot plate. Pemanasan ini disertai dengan pengadukan dengan stirrer pada
suhu hingga mencapi 55 oC dengan kecepatan pengadukan sebesar 80 rpm. Pemanasan dilakukan
diatas hot plate ini bertujuan untuk memanaskan minyak secara merata, karena pemanasan atau
pengaturan suhu yang kurang baik akan mempengaruhi terhadap hasil rendemen yang didapat.
Begitupula dengan pengadukkan yang dilakukan adalah pengadukkan dengan menggunakan
stirrer agar pada saat pengadukan larutan lebih tercampur merata. Pengadukan akan menambah
frekuensi tumbukan antara molekul zat pereaksi dengan zat yang bereaksi sehingga mempercepat
reaksi dan reaksi terjadi sempurna. .Kemudian sampel ditambahkan dengan natrium metoksida
pada tahap 1, tetes demi tetes, dengan suhu dipertahankan pada 55 oC selama 50 menit.

Pada percobaan ini methanol digunakan sebagai bahan baku penunjang pembuatan metil
ester. Methanol ini merupakan pereaksi yang akan memberikan gugus alkil kepada rantai
trigliserida dalam reaksi biodiesel. Pada pembuatan biodiesel dibutuhkan katalis untuk proses
transesterifikasi yang mana dalam percobaan ini digunakan Natrium Metoksida sebagai katalis
untuk proses transesterifikasi.
Produk biodiesel tergantung pada minyak nabati (dalam percobaan ini digunakan sampel
minyak goreng) yang digunakan sebagai bahan baku serta cara pengolahan pendahuluan dari
bahan baku ini. Bila kandungan air tinggi, maka akan mempengaruhi hasil biodiesel kualitas
rendah, karena kandungan sabun ALB (Asam Lemak Bebas) dan trigliserida tinggi. Pada proses
pengadukan dan pemanasan minyak diatas hot plate baik menggunakan 75-150 rpm karena
kecepatan putaran pengadukan berpengaruh terhadap rendemen yang dihasilkan serta pada
proses pengadukan ini telah dijelaskan pula diatas bahwa dalam percobaan ini akan menambah
frekuensi tumbukan antara molekul zat yang bereaksi sehingga mepercepat reaksi dan reaksi
terjadi sempurna. Selanjutnya suhu reaksi pada percobaan ini, dipertahankan atau dikondisikan
pada 55 oC. karena semakin tinggi suhu yang dioperasikan maka semakin tinggi konversi yang
dihasilkan. Serta, pengaruh suhu pada reaksi bertujuan untuk meningkatkan konversi biodiesel
yang dihasilkan dan karakter biodiesel dan cenderung semakin memenuhi spesifikasi bahan
bakar diesel

Setelah larutan sampel melewati proses pemanasan dan pengadukan, selanjutnya campuran
dipindahkan ke corong pisah, dan didiamkan selama 15 menit, pada saat didiamkan terbentuk 2
fasa, dengan fasa atas merupakan fasa metil ester (Biodiesel) dan fasa bawahnya adalah gliserol
dan methanol. Lalu dipisahkan antara fasa atas yang berwarna kuning dan fasa bawahnya yang
berwarna kuning ++. Proses pemisahan ini bertujuan untuk melarutkan gliserol dalam metil ester
rendah, karena adanya perbedaan kepolaran antara gliserol dan ester. Setelah itu fasa atas
dimasukan ke gelas kimia 250 ml dengan didapat produk metil ester sebanyak 18 ml. Lalu,
dilakukan pemurnian dengan penambahan aquadest panas sebanyak 9 ml, pada kondisi ini
larutan sampel berubah warna menjadi kuning keruh ++. Pada proses pemurnian atau pencucian
dengan menambahkan aquadest dalam keadaan panas bertujuan untuk menghilangkan garam
yang terbentuk dari bagian sebelumnya. Garam dipisahkan dari campuran metil ester dengan
menggunakan air atau aquadest seperti yang dilakukan pada percobaan ini karena memiliki
kelarutan yang besar. Penambahan aquadest dalam keadaan panas ini juga bertujuan untuk
menghilangkan sisa katalis, sabun, methanol, dan gliserol bebas. Setelah itu larutan sampel
diaduk perlahan selama 10 menit, dengan perlakuan selanjutnya dipindahkan ke corong pisah
kembali, dan dibiarkan hingga terbentuk 2 lapisan.
Pada saat dipindahkan kecorong pisah dan dibiarkan beberapa saat, pada proses ini tidak
terbentuk 2 lapisan kembali. Pada tahap ini terjadi kesalahan metode pada saat proses
pengadukan selama 10 menit dengan stirrer yaitu minyak, methanol dan air tidak tercampur atau
teraduk sempurna oleh stirrer. Akibatnya pada proses ini tidak terbentuk 2 fasa kembali.

Kemudian percobaan selanjutnya ialah analisis asam lemak bebas dari hasil pembuatan metil
ester pada percobaan pertama. Asam lemak bebas diperoleh daeri proses hidrolisa, yaitu
penguraian lemak atau trigliserida oleh molekul air yang menghasilkan gliserol dan asam lemak
bebas. Kerusakan minyak atau lemak juga diakibatkan oleh proses oksidasi, yaitu terjadinya
kontak antara sejumlah oksigen dengan minyak atau lemak, yang biasanya dimulai dengan
pembentukan peroksida dan hidroperoksida. Selanjutnya, terurainya asam-asam lemak disertai
dengan hidroperoksida menjadi aldehid dan keton serta asam-asam lemak bebas. Penentuan asam
lemak bebas dapat dipergunakan untuk mengetahui kualitas dari minyak atau lemak, hal ini
dikarenakan bilangan asam dapat dipergunakan untuk mengukur dan mengetahui jumlah asam
lemak bebas dalam suatu bahan atau sampel. Penentuan asam lemak bebas dapat dilakukan
dengan metode titrasi asam basa. Prinsip dari titrasi asam basa yaitu analisis jumlah asam lemak
bebas dari suatu sampel ekuivalen dengan jumlah basa (NaOH) yang ditambahkan dalam titrasi
yang ditandai dengan berubahnya warna sampel menjadi warna merah jambu. Percobaan ini
dilakukan dengan cara mentitrasi metil ester hasil sintesis dengan larutan NaOH. Sebelum
dilakukan pentitrasian, terlebih dahulu dilakukan penstandarisasian NaOH dengan larutan asam
oksalat. Fungsi penstandarisasian ini untuk mendapatkan konsentrasi NaOH yang tepat yang
akan digunakan untuk titrasi dengan larutan sampel (metil ester sintesis). Percobaan ini
dilakukan dengan cara ditimbang sebanyak 2 gram NaOH yang kemudian dilarutkan dalam 500
ml aquadest dan ditempatkan pada buret 50 ml yang kemudian larutan ini akan dititrasi dengan
10 ml asam oksalat yang telah diberi perlakuan dengan penambahan 50 ml methanol sintesis dan
3 tetes indikator fenolftalien. Setelah semua perlakuan ini dilakukan pentitrasian dilakukan
antara NaOH dalam buret dengan asam oksalat. Setelah larutan berubah menjadi merah muda
pentitrasian dihentikan. Warna merah muda dihasilkan dari penambahan indikator PP yang
merupakan penanda larutan telah mencapai titik ekivalen atau titik akhir tittrasi. Pentitrasian
dilakukan secara duplo untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat dengan volume NaOH yang
terpakai adalah V1 : 16,09 ml dan V2 : 16,9 ml, dan dari hasil percobaan ini didapat konsentrasi
NaOH sebesar 0,05971 N.
Setelah itu percobaan selanjutnya adalah melakukan analisis asam lemak bebas terhadap
metil ester hasil sintesis dari percobaan pertama dengan cara mentitrasi 5 ml metil ester hasil
sintetis yang merupakan larutan berwarna kuning yang telah diberi perlakuan dengan
penambahan 50 ml methanol sintesis yang mana fungsi dari penambahan alkohol yaitu metanol
ini adalah untuk melarutkan lemak atau minyak dalam sampel agar dapat bereaksi dengan basa
alkali. Alkohol digunakan unuk melarutkan minyak sehingga konsentrasi alkohol (metanol) yang
digunakan berada dikisaran 95-96% serta diberi perlakuan kembali dengan 3 tetes indikator PP.
campuran ini kemudian dititrasi dengan NaOH dengan konsentrasi sebesar 0,05971 N pada
buret. Pada saat warna larutan berubah menjadi merah muda pentitrasian dihentikan. Perubahan
warna ini mengindikasikan larutan telah mencapai titik akhir titrasi yang mana terjadinya
perubahan warna ini akibat adanya penambahan indikator PP dalam percobaan ini. Perubahan
warna ini terjadi pada saat volume NaOH sebanyak 33,80 ml. Dari sini kita dapat menentukan
kadar FFA yang didapat dari percobaan, berdasarkan hasil perhitungan sebesar 11,28%. Dari
hasil percobaan ini didapat rendemen metil ester dari hasil percobaan sebesar 0,09. Penentuan
kadar FFA minyak goreng dilakukan untuk mengetahui kadar asam lemak bebas yang terdapat
pada minyak goreng. Semakin kecil kadar FFA dalam minyak goreng maka kualitas dari minyak
tersebut masih baik.

Kemudian untuk pengaruh lamanya waktu reaksi terhadap rendemen, dari praktikum yang
telah dilakukan tidak dapat dibandingkan secara jelas waktu proses karena waktu yang
digunakan hanya sekitar hampir 1 jam (50 menit). Namun dari rendemen metil ester yang
dihasilkan yaitu 0,09 dan dengan waktu proses hampir 1 jam tersebut merupakan waktu yang
optimum dalam pembuatan biodiesel. Karena terdapat kesalahan metode pada percobaan ini,
rendemen yang dihasilkan sangat sedikit yaitu hanya 0,09.
F. Kesimpulan

Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa :

1. Pembuatan metil ester dari sintesis metil ester dibuat dari sampel minyak goreng
dengan bantuan katalis basa yaitu NaOH dengan bahan baku methanol sebagai
penunjang untuk pembuatan metil ester itu sendiri
2. Volume rendemen (yield) yang dihasilkan dari sintesis metil ester sebesar 0,09
3. Konsentrasi NaOH yang didapat dari hasil standarisasi dengan asam oksalat sebesar
0,05917N
4. Kadar FFA yang dihasilkan dari sintesis asam lemak berdasarkan hasil perhitungan
didapat sebesar 11,28%

G. Daftar Pustaka

Anonym . 2009. Pembuatan Biodiesel dari Minyak Goreng

https//:egen1991filan.blogspot.co.id/2009/03/pembuatan-biodiesel-dari-minyak-goreng.html/

diakses: Rabu, 30 November 2016 puku 01.40 WIB

Arman, Oni. 2013. Latar Belakang Pembuatan Biodiesel

https//: oniarman.blogspot.co.id/2013/09/latar-belakang-biodiesel-merupakan.html

Diakses: Kamis, 1 Desember 2016 pukul 15.17 WIB

Fessenden dan Fessenden. 1994. kimia organic jilid 1 edisi ketiga. Jakarta: Erlangga
Percobaan 8

Identifikasi Gugus Fungsional : Hidrokarbon, Alkohol, Fenol, serta Aldehid dan Keton

A. Tujuan
1. Mengdentifikasi senyawa hidrokarbon dengan beberapa tes yang terkait
2. Mengidentifikasi senyawa alkohol dengan beberapa tes yang terkait
3. Mengdentifikasi senyawa aldehid dan keton dengan beberapa uji yang terkait
B. Dasar teori
1. Hidrokarbon Jenuh dan Tak Jenuh
Hidrokarbon adalah senyawa organik yang molekulnya tersusun dari atom-atom karbon
dan hydrogen. Ada tiga golongan senyawa yang termasuk hidrokarbon, yaitu hidrokarbon
alifatik (alkana, alkena dan alkuna), hidrokarbon alisiklik (sikloalkana, sikloalkena) dan
hidrokarbon aromatik (benzena dan turunanya). Dalam hidrokarbon alifatik dikenal adanya
hidrokarbon alifatik jenuh dan hidrokarbon tidak jenuh (Parlan, 2003: 11).
Alkana dan sikloalkana disebut hidrokarbon tidak jenuh, artinya jenuh dengan hidrogen.
Senyawa ini tak bereaksi dengan hidrokarbon senyawa yang mengandung ikatan-pi disebut tak
jenuh, dalam kondisi reaksi yang tepat, senyawa ini bereaksi dengan hydrogen menghasilkan
produk jenuh (Fessenden, 1991: 84-85).
2. Alkohol dan Fenol
Alkohol merupakan nama suatu golongan senyaw organik yang tersusun dari unsure-unsur
C,H dan O dengan struktur yang khas. Rumus umum golongan alkohol monohidroksi adalah
ROH dengan ketentuan bahwa R dapat berupa gugus alkil, gugus alkil tak jenuh, gugus alkil
tersubtitusi dan mungkin pula rantai siklik. Manfaat golongan alkohol dalam sintesis senyawa
organik sangat besar, karena dapat digunakan untuk membuat senyawa golongan lain, misalnya
aldehida, keton dan asam karboksilat. Sifat-sifat alkohol ditentukan oleh dua unit struktrunya,
yaitu R- (gugus alkil) yang bersifat lipofilik dan gugus OH (hidroksil) yang bersifat hidrofilik.
Kedua unit struktur ini mempengaruhi sifat-sifat fisika alkohol, yaitu dalam hal kelarutannya
dalam air, titik didih dan viskositasnya. Reaksi pada alkohol dapat dibedakan menjadi,
penggantian H dalam gugus OH oleh atom/gugus, penggantian gugus OH oleh halogen,
perubahan pada gugus -C-OH karena adanya oksidasi, dan dehidrasi (Parlan, 2003:121, 137,
138).
Alkohol dapat membentuk ikatan hydrogen antara molekul-molekulnya, maka titik didih
alcohol lebih tinggi draipada titik didih halide atau eter, yang berat molekulnya yang sebanding.
Alcohol berbobot molekul rendah larut dalam air, sedangkan alkil halide padanannya tidak larut.
Kelarutan dalam air ini langsung disebabkan oleh ikatan hydrogen antara alkohol dan air
(Fessenden, 1991:260).
Fenol mempunyai dua macam arti, yaitu sebagai nama senyawa organik yang mempunyai
rumus C6H5OH dan sebagai nama golongan senyawa organik yang rumus umumnya Ar OH (Ar
adalah gugus aril). Bila dibandingkan dengan golongan alkohol terbukti bahwa keduanya
mempunyai gugus OH. Yang menjadi perbedaannya yaitu bahwa gugus OH pada golongan
alkohol terikat pada reaksi alifatik, sedangkan pada golongan fenol terikat langsung pada cincin
aromatik. Diantara golongan alkohol dan golongan fenol terdapat persamaan dan juga perbedaan
sifat kimia (Parlan, 2003:149).
Sama halnya dengan air, alcohol dan fenol adalah asam-asam lemah. Alcohol mempunyai
keasaman 10-100 kali lebih lemah dari air. (tetapan ionisasi untuk kesetimbangan H2O H+ +
OH- adalah 10-14. Untuk kebanyakan alkohol, tetapan ionisasi untuk ROH H+ + OR- kira-kira
10-15 sampai 10-16). Alkohol bereaksi dengan logam seperti natrium atau kalium dengan
membebaskan hydrogen dan membentuk oksida (Achmadi, 1983: 165).
Penelitian menunjukkan perlakuan pH 3-lama perebusan 35 menit tidak mengakibatkan
perubahan jenis monomer sakarida SP, tetapi mengakibatkan perubahan kadar monomer. Pada
perlakuan pH 3-lama perebusan 35 menit, ikatan Fe dengan lignin maupun selulosa pada gugus
fungsi OH, sedangkan terhadap hemiselulosa tidak terjadi pengikatan. Pada perlakuan pH 7-
lama perebusan 0 menit, ikatan Fe dengan lignin pada gugus OH, -COOH; terhadap selulosa
pada gugus fungsi OH, -CH2-O-CH2- dan COO, sedangkan terhadap hemiselulosa pada gugus
fungsi OH (Yuanita, 2009: 94).
3. Aldehid dan Keton
Aldehid dan keton adalah nama dua golongan senyawa organik yang masin-masing
mengandung unsure-unsur C,H dan O. kedua golongan senyawa ini mempunyai gugus fungsi
karbonil (-C=O ) oleh karena itu diantara keduanya terdapat yang menjadi persamaan sifat.
Rumus umum aldehida adalah RCOH dan untuk keton RCOR. Dari rumus umum tersebut dapat
diketahui perbedaan antara aldehid dan keton. Perbedaan inilah yang mengakibatkan aldehida
dan keton meskipun kduanya merupakan senyawa-senyawa yang mengandung gugus karbonil,
tetapi keduanya merupakan terdapat yang membedakan. Gugus karbonil pada keton mengikat
dua buah gugus alkil, sedangkan pada aldehida mengikat sebuah gugus alkil dan sebuah atom H
(Parlan, 2003:163, 177).
Reaksi yang sering dipakai untuk membedakan aldehid dan keton adalah reaksi
pembentukan cermin perak dengan pereaksi tollens. Selain itu, reaksi lain yang digunakan adalah
oksidasi dengan menggunakan ion tembaga (II) di dalam larutan alkali. Aldehid akan mereduksi
tembaga dalam kompleks Cu (II) (reagen Fehling atau reagen Benedict) yang berwarna biru
menghasilkan endapan tembaga (I) oksida (Cu2O) yang berwarna merah bata. Keton yang
sederhana tidak menjalankan reaksi ini (Tim Dosen, 2016:21).
4. Asam Karboksilat
Asam karboksilat adalah karbon yang memiliki gugus fungsional COOH. Gugus fungsi ini
dinamakan karboksil terdiri atas satu gugus karbonil dan sebuah gugus hidroksil. Kelompok
senyawa ini cukup penting karena dalam kehidupan sehari-hari banyak digunakan dalam
industry maupun laboratorium. Beberapa contoh senyawanya yang banyak terdapat di alaam
diantaranya adalaha lemak hewan dan minyak tumbuhan. Secara umum struktur asam
karboksilat dituliskan (Rasyid, 2009:167)
Secara umum dapat disimpulkan bahwa sifat-sifat fisika asam karboksilat adalah antara
molekulnya terjadi asosiasi melalui ikatann hidrogen, titik didihnya lebih tinggi daripada
senyawa lain yang mempunyai berat molekul yang sebanding, kelarutan asam karboksilat dalam
air lebih besar daripada senyawa lain yang berat molekulnya sebanding (Parlan, 2003: 201-202).
Asam karboksilat dapat bereaksi dengan alkohol yang dapat membentuk air dan ester.
Ester adalah senyawa yang dianggap diturunkan dari asam karboksilat dengan menggantikan
hidrogen dari gugus hidroksilnya suatu hidrokarbon. Ester mengalami hidrolisis dan
menghasilkan asam karboksilat dan alkohol (Tim dosen, 2016: 22).
Penelitian dengan analisis fungsi sampel bensin menunjukkan bahwa terdapat gugus fungsi
metil (CH3) gugus alkana, senyawa benzene yang ditunjukkan dengan vibrasi aluran C-H dan
cincin aromatik (C=C) dan gugus lain yang tdak dapat diidentifikasi dengan tepat. Analisis gugus
fungsi pada sampel spiritus menujujjan adanya gugus hidroksil dari senyaw alcohol dengan
munculnya pia lebar diatas 3000-3500 cm-1dan pada pita 1000-1100 cm-1. Pita uluran C-H
kemungkinan tertutup dan uluran gugus hidroksil, sehingga muncul sebagai pita dengan
intensitas yang lemah. Analisis pada gugus fungsi pada sampel uji mengandung gugus hidroksil
(O-H) dari jenis alkohol primer, gugus alkil yang kemungkinan adalah metil (CH3) ikatan
rangkap tiga, gugus nitril (z), ikatan rangkap dua C=C dan C-N (Anam, 2007: 84-85).
Penelitian lainnya yaitu berdasarkan hasil analisis gugus fumgsi dapat dinyatakan bahwa
tidak terdapat gugus perbedaan gugus fungsi antara kitin, kitin koloidal dan kitin superfine. Hal
ini sesuai dengan hasil spectra IR dan masing-masing substrat yang menunjukkan adanya
serapan gugus fungsi OH, -NH, C-H, C=O dan C-O pada daerah yang hampir sama (Tamimi,
2013:51).

C. Cara kerja
1. Tes pada senyawa Hidrokarbon

Sampel yang digunakan:

Hidrokarbon jenuh : minyak paraffin


Hidrokarbon aromatis: benzene
Pembuatan paraffin

Sebanyak 0,5 gram paraffin yang merupakan padatan berwarna putih, dilarutkan pada 1ml
aquadest panas.

Tes Bayer
Hidrokarbon Jenuh: sebanyak 1 ml larutan paraffin dimaksukan ketabung reaksi,
kemudian ditambahkan 3 tetes KMnO4 0,5% dan 3 ml Na2CO3 10%, lalu diguncangkan
dan amati hasilnya
Hidrokarbon Aromatis: 1 ml larutan benzene dimasukan ke tabung reaksi, kemudian
ditam ditambahkan 3 tetes KMnO4 0,5% dan 3 ml Na2CO3 10%, lalu diguncangkan dan
amati hasilnya
Tes Asam Sulfat
Hidrokarbon Jenuh: 3 ml H2SO4 pekat dimasukan dengan hati-hati ke tabung reaksi,
kemudian ditambahkan dengan 1 ml paraffin, lalu guncangkan. Amati hasilnya
Hidrokarbon Aromatis: 3 ml H2SO4 pekat dimasukan dengan hati-hati ke tabung
reaksi, kemudian ditambahkan dengan 1 ml benzen, lalu guncangkan. Amati hasilnya
2. Tes pada senyawa Alkohol

Sampel yang digunakan: 2-butanol , Sikloheksanol, Alkohol, tert-butanol, dan fenol

Uji Lucas

Masing-masing sampel (2-butanol, Sikloheksanol, Alkohol, tert-butanol, dan Fenol) dimasukan


ke masing-masing tabung reaksi dan diberi lebel. Kemudian dari masing-masing sampel tersebut
ditambahkan reagen lucas, lalu diguncangkan. Setelah benar-benar tercampur biarkan tabung
beberapa saat (selama 5 menit), diamati yang terjadi. Jika masih ada larutan yang bening, tabung
reaksi dimasukan ke penangas air pada suhu 60 oC selama 15 menit.

Uji Asam Kromat (Uji Brodwell-Wellman)

Masing-masing sampel (2-butanol, Sikloheksanol, Alkohol, tert-butanol, dan Fenol) dimasukan


ke masing-masing tabung reaksi dan diberi lebel. Kemudian dari masing-masing sampel tersebut
ditambahkan 10 tetes aseton dan 2 tetes indikator kromat, lalu diguncangkan. Kemudian masing-
masing tabung reaksi yang berisi campuran sampel dimasukan ke penangas air bersuhu 60 oC
selama 5 menit. diamati perubahan yang terjadi serta dicatat hasilnya.

Reaksi dengan Alkali

Masing-masing sampel (2-butanol, Sikloheksanol, Alkohol, tert-butanol, dan Fenol) dimasukan


ke masing-masing tabung reaksi dan diberi lebel. Kemudian dari masing-masing sampel tersebut
ditambahkan 5 ml NaOH 10%, lalu diguncangkan, serta diamati hasilnya.

3. Tes pada senyawa Aldehid dan Keton

Sampel yang digunakan: Aseton

Uji Kromat

Dimasukan sebanyak 5 ml sampel aseton ke tabung reaksi, kemudian ditambahkan 4 tetes larutan
asam kromat, lalu diguncangkan. Kemudian larutan dibiarkan selama 10 menit. setelah itu amati
perubahan yang terjadi (ada tidaknya perubahan warna).
Uji Iodoform

Dimasukan sebanyak 1 ml larutan aseton ketabung reaksi, kemudian ditambahkan 2 ml air


(aquadest) dan diguncangkan. Jika senyawannya tak larut, perlakuan selanjutnya ditambahkan
dengan dioksan tetes demi tetes dan diguncangkan ( jika larut, maka tahapan ini dilewati). Lalu
ditambahkan 2 ml larutan NaOH 6M dan campuran diaduk, lalu campuran ditempatkan pada
penangas air dengan suhu 60 oC selama 3-4 menit. sambil dipanaskan larutan diberi beberapa
tetes larutan KI sambil digoyangkan, sampai warna coklatnya bertahan selama 2 menit di tabung
reaksi. Kemudian ditambahkan larutan NaOH 6 M tetes demi tetes sambil digoyangkan, sampai
warna coklat menghilang dan larutan masih tetap ditempatkan pada penangas air selama 5 menit.
kemudian larutan di keluarkan dari penangas air dan diamati isinya, apakah terdapat endapan
kuning dari iodoform yang menunjukan keberadaan asetaldehid atau metil keton. Kemudian
dicatat hasilnya.

D. Pengamatan dan perhitungan

Perlakuan Pengamatan
Uji hidrokarbon
Tes Bayer
Sampel hidrokarbon jenuh : paraffin Berupa padatan berwarna putih
0,5 gram paraffin, dilarutan dalam 1 ml Terbentuk larutan tak berwarna
aquadest panas
1 ml larutan paraffin, dimasukan ke 1 ml Larutan paraffin dalam tabung
tabung reaksi reaksi
(+) 3 tetes KMnO4 0,5 % KMnO4 0,5 % merupakan larutan
berwarna ungu
Ketika ditambahkan pada sampel,
larutan berubah menjadi ungu
(+) 3 ml larutan Na2CO3 10%, Na2CO3 10% merupakan larutan tak
diguncangkan berwarna
Ketika ditambahkan larutan berubah
menajdi coklat
Sampel hidrokarbon aromatis: Benzen Larutan berwarna jingga
Dimasukan sebanyak 1 ml ke tabung 1ml larutan benzene dalam tabung
reaksi reaksi
(+) 3 tetes KMnO4 0,5 % KMnO4 0,5 % merupakan larutan
berwarna ungu
Ketika ditambahkan pada sampel,
larutan berubah menjadi ungu
(+) 3 ml larutan Na2CO3 10%, Na2CO3 10% merupakan larutan tak
diguncangkan berwarna
Ketika ditambahkan larutan berubah
menajdi coklat
Tes Asam Sulfat
Sampel hidrokarbon jenuh : paraffin Berupa larutan tak berwarna
yang telah dilarutkan
1 ml larutan paraffin, dimasukan ke 1 ml Larutan paraffin dalam tabung
tabung reaksi reaksi
(+) 3 ml H2SO4 pekat melalui dinding H2SO4 merupakan larutan tak berwarna
tabung reaksi, diguncangkan Ketika ditambahkan, larutan berubah
menjadi kuning bening
Sampel hidrokarbon aromatis: Benzen Larutan berwarna jingga
1 ml larutan benzen, dimasukan ke 1 ml Larutan benzen dalam tabung
tabung reaksi reaksi
(+) 3 ml H2SO4 pekat melalui dinding Larutan berubah menjadi kuning keuh
tabung reaksi, diguncangkan
Identifikasi pada senyawa Alkohol
Uji Lucas
Sampel : 2-butanol Larutan tak berwarna
Dimasukan sebanyak 1 ml ke tabung 1 ml 2-butanol dalam tabung reaksi
reaksi
(+) 1 ml reagen lucas, diguncangkan, Reagen lucas merupakan larutan tak
didiamkan selama 5 menit berwarna
Ketika ditambahkan larutan tidak keruh
Dipanaskan selama 15 menit di Larutan menjadi keruh
penangas air pada suhu 60 oC
Sampel : Sikloheksanol Larutan tak berwarna
Dimasukan sebanyak 1 ml ke tabung 1 ml sikloheksanol dalam tabung reaksi
reaksi
(+) 1 ml reagen lucas, diguncangkan, Reagen lucas merupakan larutan tak
didiamkan selama 5 menit berwarna
Ketika ditambahkan larutan tidak keruh
Dipanaskan selama 15 menit di Larutan menjadi keruh
penangas air pada suhu 60 oC
Sampel : Tert-Butanol Larutan tak berwarna
Dimasukan sebanyak 1 ml ke tabung 1ml tert-Butanol dalam tabung reaksi
reaksi
(+) 1 ml reagen lucas, diguncangkan, Reagen lucas merupakan larutan tak
didiamkan selama 5 menit berwarna
Ketika ditambahkan larutan tidak keruh
Dipanaskan selama 15 menit di Larutan menjadi keruh
penangas air pada suhu 60 oC
Sampel : Fenol Larutan berwarna putih keruh
Dimasukan sebanyak 1 ml ke tabung 1ml larutan fenol dalam tabung reaksi
reaksi
(+) 1 ml reagen lucas, diguncangkan, Warna larutan berubah menjadi putih
didiamkan selama 5 menit keruh
Sampel : Alkohol Larutan tak berwarna
Dimasukan sebanyak 1 ml ketabung 1ml larutan alkohol dalam tabung
reaksi reaksi
(+) 1 ml reagen lucas, diguncangkan, Reagen lucas merupakan larutan tak
didiamkan selama 5 menit berwarna
Ketika ditambahkan larutan tidak keruh
Dipanaskan selama 15 menit di Larutan menjadi keruh
penangas air pada suhu 60 oC
Uji Asam Kromat
Sampel : 2-butanol Larutan tak berwarna
Dimasukan sebanyak 1 ml ke tabung 1 ml 2-butanol dalam tabung reaksi
reaksi
(+) 10 tetes aseton Aseton merupakan larutan tak berwarna
Ketika ditambahkan larutan tetap tak
berwarna
(+) 2 tetes Asam kromat Asam kromat merupakan larutan
berwarna kuning
Ketika ditambahkan kedalam sampel
larutan tetap tak berwarna
Dipanaskan pada penangas air pada Larutan tetap tidak berwarna
suhu 60 oC selama 5 menit
Sampel : tert-butanol Merupakan larutan tak berwarna
Dimasukan sebanyak 1 ml ke tabung 1 ml tert-butanol dalam tabung reaksi
reaksi
(+) 10 tetes aseton Aseton merupakan larutan tak berwarna
Ketika ditambahkan larutan tetap tak
berwarna
(+) 2 tetes Asam kromat Asam kromat merupakan larutan
berwarna kuning
Ketika ditambahkan kedalam sampel
larutan berubah menjadi kuning
Dipanaskan pada penangas air pada Larutan berubah menjadi kuning
suhu 60 oC selama 5 menit bening
Sampel : Fenol Larutan berwarna putih keruh
Dimasukan sebanyak 1 ml kedalam 1ml larutan fenol dalam tabung reaksi
tabung reaksi
(+) 10 aseton Aseton merupakan larutan tak berwarna
Ketika ditambahkan larutan berubah
putih keruh
(+) 2 tetes asam kromat Asam kromat merupakan larutan
berwarna kuning
Ketika ditambahkan kedalam sampel
larutan berubah menjadi coklat
Dipanaskan pada penangas air pada Larutan berubah berwarna coklat
suhu 60 oC selama 5 menit
Sampel : alkohol Larutan tak berwarna
Dimasukan sebanyak 1 ml kedalam 1ml alkohol dalam tabung reaksi
tabung reaksi
(+) 10 aseton Aseton merupakan larutan tak berwarna
Ketika ditambahkan larutan tetap tak
berwarna
(+) 2 tetes asam kromat Asam kromat merupakan larutan
berwarna kuning
Ketika ditambahkan kedalam sampel
larutan berubah menjadi kuning keruh
Dipanaskan pada penangas air pada Larutan tetap berwarna kuning keruh
suhu 60 oC selama 5 menit
Uji reaksi dengan Alkali
Sampel : 2-butanol Larutan tak berwarna
Dimasukan sebanyak 1 ml kedalam 1 ml 2-butanol dalam tabung reaksi
tabung reaksi
(+) 5ml NaOH 10% NaOH 10% merupakan larutan tak
berwarna
Ketika ditambahkan kedalam sampel
larutan menjadi keruh
Diguncangkan Larutan berubah tak berwarna
Sampel : tert-butanol Larutan tak berwarna
Dimasukan sebanyak 1 ml kedalam 1 ml tert-butanol dalam tabung reaksi
tabung reaksi
(+) 5ml NaOH 10% NaOH 10% merupakan larutan tak
berwarna
Ketika ditambahkan kedalam sampel
larutan tak berwarna
Diguncangkan Larutan tetap tak berwarna
Sampel : alkohol Larutan tak berwarna
Dimasukan sebanyak 1 ml kedalam 1 ml alkohol dalam tabung reaksi
tabung reaksi
(+) 5ml NaOH 10% , diguncangkan NaOH 10% merupakan larutan tak
berwarna
Ketika ditambahkan kedalam sampel
larutan tak berwarna
Sampel : fenol Larutan berwarna putih keruh
Dimasukan sebanyak 1 ml kedalam 1 ml larutan fenol dalam tabung reaksi
tabung reaksi
(+) 5ml NaOH 10% , diguncangkan NaOH 10% merupakan larutan tak
berwarna
Ketika ditambahkan kedalam sampel
larutan tak berwarna
Sampel: sikloheksanol Larutan tak berwarna
Dimasukan sebanyak 1 ml kedalam 1ml sikloheksanol dalam tabung reaksi
tabung reaksi
(+) 5ml NaOH 10% , diguncangkan NaOH 10% merupakan larutan tak
berwarna
Ketika dicampurkan, terbentuk 2 fasa
dengan :
Fasa atas: putih keruh
Fasa bawah : larutan tak berwarna
Identifikasi senyawa Aldehid/Keton
Tes Asam Kromat
Sampel : aseton Larutan tak berwarna
Dimasukan sebanyak 1 ml kedalam 1 ml aseton dalam tabung reaksi
tabung reaksi
(+) 4 tetes asam kromat Asam kromat merupakan larutan
berwarna kuning
Ketika ditambahkan pada sampel
larutan berubah menjadi kuning
Diguncangkan, lalu dibiarkan selama Larutan menjadi kuning bening
10 menit
tes Iodoform
sampel : aseton larutan tak berwarna
dimasukan sebanyak 1 ml kedalam 1 ml aseton didalam tabung reaksi
tabung reaksi
(+) 1 ml aquadest Larutan sedikit keruh
(+) 2 ml NaOH 6M Larutan NaOH merupakan larutan tak
berwarna
Ketika ditambahkan pada larutan
sampel, berubah menjadi agak keruh
Diaduk dan ditempatkan pada suhu 60 Larutan tetap keruh
o
C selama 3-4 menit
(+) beberapa tetes larutan KI Larutan KI merupakan larutan
berwarna kuning
Ketika ditambahkan pada sampel,
larutan menjadi kuning bening
Diguncangkan dan masih ditempatkan Larutan tetap berwarna kuning bening
pada penangas air dalam penangas air
(+) NaOH tetes demi tetes Larutan tetap kuning bening
Didiamkan selama 5 menit di penangas Larutan tetap kuning bening
air

Perhitungan
1. Pembuatan larutan KMnO4

0,5
Massa KMnO4 = 100 ml x 20 ml = 0,1000 gram

2. Pembuatan larutan Na2CO3 10% sebanyak 50 ml

10
Massa Na2CO3 = 100 x 50 ml = 5 gram

3. Pembuatan larutan NaOH 6M sebanyak 10 ml

g
6M x 40 x 10 ml
mol
Gram = = 2,4 gram
400 ml

4. Pembuatan larutan NaOH 10% sebanyak 50 ml

10
Massa NaOH = 100 ml x 50 ml = 5 gram

5. Pembuatan larutan NaOH 6M sebanyak 50 ml

massa 1000
M= x
v

massa 1000
6M = x
40 50

Massa = 12 gram

6. Pembuatan larutan NaOH 10% 100 ml


% x x 10
MNaOH =

10 x 2,13 x 10
= 5,325
40

7. Pembuata KI 0,1 M sebanyak 30 ml

massa 1000
M= x
v

0,1 x 166 x 30
Massa = = 0,49809 gram
1000

MNaOH = 5,325 M

xvxM
Massa = 1000

40 x 100 x 5,325
= = 21,13 gram
1000

8. Pembuatan larutan NaHCO3 10% 50 ml

10
Massa NaHCO3 = 100 x 50 ml = 5 gram

9. Pembuatan Pembuatan FeCl + Kloroform 50 ml


MxVx
Massa = 1000
0,1 x 50 x 270,34
= 1000

= 1,35 gram
E. Pembahasan

Pada percobaan Identifikasi Gugus Fungsional, dilakukan tes dengan beberapa uji pereaksi
atau reagen terhadap beberapa gugus fungsi. Senyawa yang diuji tersebut diantaranya yaitu
senyawa hidrokarbon, senyawa alkohol dan fenol serta senyawa aldehid dan keton. Tujuan dari
identifikasi adalah untuk mengenali gugus fungsi tertentu yang terdapat dalam suatu senyawa
melalui reaksi kimia tertentu yang spesifik, yaitu reaksi kimia yang hanya dapat bereaksi dengan
senyawa yang mengandung gugus fungsi tertentu dan tidak dapat bereaksi dengan gugus fungsi
yang lain. Masing-masing senyawa organik memiliki sifat tertentu yang bergantung pada gugus
fungsionil yang dimilikinya. Beberapa senyawa dengan gugus fungsi berbeda dapat memiliki
sifat yang sama/mirip.

Pada percobaan pertama yaitu tes untuk senyawa hidrokarbon. Senyawa hidrokarbon
merupakan senyawa yang dapat dibedakan atas hidrokarbon jenuh dan tak jenuh. Alkana
digolongkan sebagai hidrokarbon jenuh, sedangkan alkena, alkuna, dan aromatik termasuk
hidrokarbon tak jenuh. Pada percobaan ini sampel yang digunakan adalah paraffin sebagai
hidrokarbon jenuh, serta benzen untuk sampel hidrokarbon aromatis. Pada pengidentifikasinnya
dilakukan beberapa tes. Tes yang pertama dilakukan pada percobaan ini adalah tes bayer. Uji
bayer atau uji bayer ini merupakan suatu uji untuk menunjukkan kereaktifan hidrokarbon
alifatik, alisiklik, dan aromatic tehadap oksidator KMnO4 yang merupakan katalis. Pada uji
bayers ini dilakukan dengan mencampurkan larutan KMnO4 5% dan larutan Na2CO3 10%. Hasil
yang positif adalah hilangnya warna ungu dari larutan kalium permanganat. Contohnya, jika
alkena dioksidasi menggunakan pereaksi Bayer maka akan menghasilkan glikol dengan
menghilangkan warna dari reagen Bayer. Ini merupakan uji pada senyawa yang memiliki ikatan
rangkap. Reaksi oksidasi menggunakan pereaksi yang lebih kuat seperti asam dikromat atau
asam permanganate atau yang lainnya akan menghasilkan asam dan senyawa keton, tergantung
pada alkenanya.
pada uji ini, untuk hidrokarbon jenuh dengan sampel paraffin yang merupakan padatan
berwarna putih, dipanaskan terlebih daulu. Setelah melewati proses pemanasan, paraffin menjadi
larutan tak berwarna. Lalu sampel dimasukkan sebanyak 1 ml kedalam tabung reaksi, dengan
diberi lagi beberapa perlakuan diantaranya dengan menambahkan 3 tetes KMnO4 0,5 %. Dalam
hal ini KMnO4 0,5 % merupakan larutan berwarna ungu, ketika ditambahkan pada sampel,
larutan berubah menjadi ungu, setelah itu sampel diberi perlakuan kembali dengan ditambahkan
3 tetes Na2CO3 yang mana dalam hal ini larutan tersebut merupakan larutan tak berwarna. Ketika
ditambahkan pada campuran sampel, larutan berubah menjadi coklat. Kemudian untuk uji pada
hidrokarbon aromatis dengan sampel yaitu benzen, dilakukan perlakuan yang sama pula. Dalam
hal ini benzene merupakan larutan berwarna jingga, ketika ditambahkan 3 tetes KMnO4 0,5 %
yang merupakan larutan berwarna ungu, larutan sampel berubah menjadi ungu, sedangkan ketika
diberi perlakuan kembali dengan ditambahkan 3 tetes Na2CO3 yang merupakan larutan tak
berwarna, campuran sampel berubah warna menjadi coklat.
Pada uji ini seharusnya reaksi pada paraffin tidak terjadi karena paraffin merupakan alkana
yang tidak memiliki ikatan rangkap. Sedangkan tes Bayers hanya terjadi pada senyawa ikatan
rangkap. Dan seharusnya pada reaksi benzene/toluen warna ungu dari KMnO4 hilang karena
setelah penambahan Na2CO3 akan terbentuk endapan MnO2 berwarna cokelat.

CH3 COOH

+ KMnO4 + MnO2

Ungu cokelat

Lalu uji dilanjutkan pada tes asam sulfat. Pada uji asam sulfat ini menghasilkan suatu
senyawa alkil hirdosulfat yang diperoleh dari suatu alkana (senyawa dengan ikatan tunggal). Hal
ini menunjukkan bahwa alkana dengan ikatan tunggal masih mampu bereaksi dengan asam sulfat
walaupun dalam jumlah sedikit atau terjadi reaksi pengsulfonatan. Uji asam sulfat dilakukan
dengan mereaksikan sampel hidrokarbon dengan asam sulfat pekat. Dari hasil percobaan,
umumnya uji ini menghasilkan larutan kuning bening dan kuning agak keruh. Untuk paraffin
dari tak berwarna berubah menjadi kuning bening, untuk 2-pentena larutan menjadi kuning
namun agak keruh. Sedangkan bau yang ditimbulkannya kurang menyengat. Hilangnya bau ini
diakibatkan terjadinya reaksi sulfonasi (- SO3H) pada senyawa itu.

Pada uji asam sulfat, H2SO4 pekat dimasukkan ke dalam tabung reaksi melalui dinding
tabung. Kemudian ditambahkan dengan sampel hidrokarbon jenuh yaitu paraffin dan
hidrokarbon aromatis yaitu benzena. Selanjutnya, diguncangkan dengan hati-hati. Pada uji
terhadap paraffin, larutan H2SO4 yang berupa larutan tidak berwarna setelah penambahan
paraffin tetap tidak berwarna. Akan tetapi setelah diaduk/diguncangkan larutan menjadi
berwarna kuning tetapi tidak terbentuk lapisan.
OSO2H

+ H2SO4

Selanjutnya percobaan dilanjutkan pada tes senyawa alkohol dan fenol. Pada percobaan ini
ada beberapa sampel yang digunakan untuk percobaan, diantaranya 2-butanol, sikloheksanol,
etanol (alkohol 96%), tert-butanol, dan fenol. Prinsip pengujian lucas, menurut literature
menggunakan prinsip alkohol primer, sekunder, dan tersier. Pada alkohol primer, uji lucas tidak
menghasilkan reaksi apapun. Sedangkan, pada alkohol sekunder uji lucas menghasilkan reaksi,
namun kecepatan reaksinya sangat lambat dan membutuhkan pemanasan untuk terjadinya reaksi
antara keduanya. Pada pengujian alkohol tersier, uji lucas menghasilkan reaksi yang cukup cepat.
Pada uji ini reaksi dapat dipercepat dengan pemanasan, terutama untuk alkohol sekunder. Tanda
terjadinya reaksi pada uji lucas adalah terbentuknya butiran atau larutan menjadi keruh. Pada uji
fenol, uji lucas bernilai positif karena pada fenol gugus OH menempel pada atom C tersier.
Pada pengujiannya, sampel dimasukkan kedalam masing-masing tabung reaksi sebanyak 1 ml
sesuai dengan label. Masing-masing tabung ditambahkan dengan 1 ml reagen Lucas. Kemudian
tabung ditutup dan digoyangkan dengan kuat untuk mengaduk campuran. Setelah benar-benar
tercampur, campuran dibiarkan beberapa saat (sekitar 5 menit). Larutan yang masih bening
dimasukkan kedalam penangas air bersuhu 60oC selama 15 menit untuk mempercepat terjadinya
reaksi.
Pada pengujian alkohol primer, sekunder, tersier dan fenol menghasilkan pengujian yang
tidak sama dengan literatur. Alkohol primer yaitu sampel etanol bereaksi saat pengujian lucas,
sedangkan alkohol sekunder yaitu sampel 2-butanol dan sikloheksanol membutuhkan pemanasan
terlebih dahulu agar reaksi berlangsung cepat. Untuk fenol menghasilkan hasil yang sesuai
dengan literatur yakni dapat bereaksi secara cepat tanpa membutuhkan pemanasan terlebih
dahulu karena gugus OH menempel pada atom C tersier. Sampel fenol yang berupa larutan
berwarna putih, setelah ditambahkan reagen lucas terjadi perubahan menjadi agak keruhs. Akan
tetapi pada alkohol tersier yaitu sampel tert-butanol hasilnya tidak sesuai literatur karena dalam
pengujiannya melewati proses pemanasan terlebih dahulu untuk cepat bereaksi, seharusnya
alkohol tersier pada pengujiannya menghasilkan reaksi yang cepat tanpa adanya pemanasan.
Kemudian untuk uji yang selanjutnya adalah uji asam kromat. Dalam uji ini menurut
literatur yang didapatkan, prinsip percobaannya adalah penambahan senyawa asam kromat yang
akan bereaksi dengan alkohol primer dan sekunder. Alkohol tersier tidak dapat bereaksi dengan
asam kromat. Alkohol primer dapat teroksidasi menjadi asam karboksilat dengan adanya asam
kromat. Bilangan oksidasi Cr +6 pada asam kromat, yang berwarna merah kecoklatan, tereduksi
menjadi Cr +3, yang berwarna hijau. Alkohol sekunder akan bereaksi menjadi keton yang
berwarna keoranyean. Oleh karena itu reaksi ini di satu sisi dapat membedakan alkohol primer
dan sekunder, dan di sisi lain membedakan alkohol primer dan sekunder dengan alkohol tersier.
Sedangkan fenol biasanya teroksidasi menjadi tar berwarna coklat oleh asam kromat.
Pada pengujiannya, sampel dimasukkan kedalam tabung reaksi masing-masing sebanyak 1
ml, lalu ditambahkan dengan 10 tetes aseton dan 2 tetes asam kromat. Kemudian tabung ditutup
dan diaduk atau diguncangkan. Selanjutnya, tabung dibuka dan tabung disimpan di dalam
penangas air bersuhu 60oC selama 5 menit.
Pada pengujian asam kromat terhadap alkohol primer yaitu sampel etanol tidak sesuai
dengan literatur, seharusnya pengujiannya menghasilkan warna hijau. Akan tetapi pada
percobaan ini dihasilkan warna kuning. Pada alkohol sekunder yaitu sampel 2-butanol dan
sikloheksanol dihasilkan larutan tidak berwarna. Seharusnya, hasil pengujiannya sampel menjadi
larutan keoranyean. Pada alkohol tersier yaitu sampel tert-butanol larutan berubah warna menjadi
kuning bening, seharusnya pada alkohol tersier ketika dilakukan uji asam kromat tidak bereaksi.
Sedangkan pada fenol menghasilkan hasil uji yang sesuai dengan literatur yang telah didapat.
Alkohol primer dan alkohol sekunder menghasilkan reaksi yang positif. Sedangkan untuk
alkohol tersier tidak bereaksi dalam pengujian kali ini. Sedangkan untuk fenol menghasilkan
hasil uji yang positif terhadap asam kromat yaitu mengasilkan warna cokelat. Hasil percobaan uji
asam kromat ini agak berbeda dengan uji pada lucas. Hal ini kemungkinan disebabkan karena
pereaksi yang sudah terlalu lama dibuat sehingga tidak bereaksi seperti seharusnya lagi. Selain
itu, pemanas yang digunakan sudah tidak akurat lagi dalam suhunya sehingga suhu yang
digunakan ada kemungkinan terlalu tinggi dan merusak pereaksinya.
Uji selanjutnya yaitu reaksi dengan alkali. Dalam uji alkali, prinsip percobaannya adalah
menggunakan logam alkali. Pada uji ini akan bernilai positif jika alkohol dan fenol bereaksi
menghasilkan gas H2. Pada pengujian ini setiap sampel dimasukkan kedalam tabung reaksi
masing-masing lalu ditambahkan dengan 5 ml NaOH 10% pada setiap tabung reaksi dan
diguncangkan. Pada pengujian baik terhadap alkohol primer, sekunder dan tersier, setiap samepl
tidak menghasilkan gelembung gas dalam reaksinya sehingga pada pengujian ini tidak sesuai
dengan literatur. Seharusnya pada alkohol primer yaitu etanol menghasilkan gelembung gas pada
reaksinya. Untuk alkohol sekunder yaitu sikloheksanol, 2-butanol, dan tert-butanol pada alkohol
tersier pada literature seharusnya menghasilkan sedikit gelembung gas. Serta untuk fenol
seharusnya menghasilkan banyak gelembung karena sifat kimia fenol akan menyebabkan gugus
OH terdeprotonasi. Hal ini tidak akan terjadi pada alcohol sekunder dan alkohol tersier.
Kemudian uji yang terakhir yaitu uji pada senyawa aldehid dan keton. Pada uji ini hanya
dilakukan pada satu sampel yaitu aseton saja. Pada uji ini dilakukan beberapa tes diantaranya tes
asam kromat dan tes iodoform. Pada uji ini terjadi kesalahan metode percobaan pada penggunaan
sampel yang digunakan. Seharusnya pada percobaan ini dilakukan untuk beberapa sampel yaitu
untuk aseton, sikloheksanon, dan benzaldehid. Jadi pada percobaan ini tidak dapat dibandingkan
untuk hasil percobaan yang terjadi karena sampel yang digunakan hanya satu macam. Pada tes
asam kromat ini, sampel aseton yang merupakan larutan tak berwarna sebanyak 1 ml kedalam
tabung reaksi dan ditambahkan 4 tetes inidikator asam kromat yang merupakan larutan berwarna
kuning dan larutan sampel ketika ditambahkan dengan asam kromat larutan berubah menjadi
kuning. Kemudian campuran sampel diguncangkan atau diaduk dan didiamkan selama 10 menit.
pada saat diguncangkan dan didiamkan selama 10 menit, tidak ada perubahan pada campuran
sampel, larutan tetap berwarna kuning.
Pada literature,untuk percobaan ini aldehid akan dioksidasi oleh asam kromat, sedangkan
keton tidak. Ketika aldehid dioksidasi oleh asam kromat yang berwarna merah-jingga menjadi
asam karboksilat, asam kromat akan tereduksi menjadi Cr+3 yang berwarna hijau. Karena pada
percobaan ini sampel yang digunakan hanya satu, dan hasil percobaan yang dilakukan tidak
sesuai dengan literature kerena seharusnya senyawa aldehid berubah warna menjadi hijau karena
dioksidasi oleh asam kromat. Begitu pula jika dalam percobaan ini menggunakan sampel
sikloheksanon dan benzaldehid, jika pada pengujiannya positif akan menghasilkan warna hijau.
Kemudian uji yang terakhir yaitu uji iodoform yang mana pada uji ini sampel yang
digunakan hanya aseton saja. Pada uji iodoform sampel aseton yang berupa larutan tidak
berwarna dimasukkan kedalam tabung reaksi sebanyak 1 ml dan ditambahkan dengan 2 ml air
lalu digoyangkan. Larutan menjadi agak keruh +. Kemudian ketika ditambahkan dengan 2 ml
larutan NaOH 6M yang berupa larutan tidak berwarna dan diaduk, larutan menjadi keruh ++.
Setelah itu, tabung reaksi dimasukkan ke dalam penangas air pada suhu 60oC selama 3 atau 4
menit, dan sambil tabung reaksi masih di dalam penangas air, ditambahkan dengan larutan KI
yang berupa larutan tidak berwarna tetes demi tetes sambil digoyang. Setelah penambahan
larutan menjadi berwarna kuning. Kemudian ditambahkan dengan larutan NaOH 6M tetes demi
tetes sambil digoyang, larutan tetap berwarna kuning. Tabung tetap disimpan dalam penangas
dan diamati isinya apakah terdapat endapan kuning dari iodoform yang menunjukkan keberadaan
asetaldehid atau suatu metil keton. Akan tetapi, larutan tidak terbentuk endapan yang seharusnya
ada. Karena pada uji iodoform terhadap aseton akan didapat endapan kuning, yang merupakan
hasil positif dari uji iodoform. Hasil ini sesuai dengan literatur, di mana iod hanya dapat
mengoksidasi aseton, asetaldehid, etanol dan alkohol sekunder.

Berdasarkan pada hasil percobaan yang dilakukan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Identifikasi Senyawa Hidrokarbon
Sampel hidrokarbon Tes bayer Tes sulfat
Hidrokarbon jenuh: paraffin Coklat Kuning bening
Hidrokarbon aromatis: Coklat Kuning keruh
benzene
Identifikasi Senyawa Alkohol
Sampel alkohol Tes lucas Asam sulfat Reaksi dengan alkali
2-butanol Keruh Tidak berwarna Tidak berwarna
Sikloheksanol Keruh Tidak berwarna Tidak berwarna
Tert-butanol Keruh Kuning Tidak berwarna
Fenol Putih keruh Coklat Tidak berwarna
Alkohol Keruh Kuning keruh Tidak berwarna

Identifikasi senyawa Aldehid dan Keton


Senyawa aldehid/keton Tes kromat Tes iodoform
Aseton Kuning bening Kuning bening
F. Kesimpulan

Berdasarkan dari percobaan yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa

1. Uji yang dilakukan untuk senyawa hidrokarbon yaitu tes bayer dan tes asam sulfat
dengan sampel yang digunakan dalam percobaan ini ialah hidrokarbon jenuh berupa
paraffin dan hidrokarbon aromatis berupa benzene. Pada tes bayer seharusnya reaksi pada
paraffin tidak terjadi karena paraffin merupakan alkana yang tidak memiliki ikatan
rangkap. Sedangkan tes Bayers hanya terjadi pada senyawa ikatan rangkap. Dan
seharusnya pada reaksi benzene/toluen warna ungu dari KMnO4 hilang karena setelah
penambahan Na2CO3 akan terbentuk endapan MnO2 berwarna cokelat . kemudian untuk
tes asam sulfat Pada uji terhadap paraffin, larutan H2SO4 yang berupa larutan tidak
berwarna setelah penambahan paraffin tetap tidak berwarna. Akan tetapi setelah
diaduk/diguncangkan larutan menjadi berwarna kuning tetapi tidak terbentuk lapisan.
2. Uji yang dilakukan untuk senyawa alkohol, yaitu dilakukan beberapa tes, diantaranya
dengan uji lucas, uji asam kromat, dan reaksi dengan alkali. Pada masing-masing uji ini
digunakan beberapa sampel diantaranya 2-butanol, sikloheksanol, etanol (alkohol 96%),
tert-butanol, dan fenol.
Pada uji lucas untuk pengujian alkohol primer, sekunder, tersier dan fenol
menghasilkan pengujian yang tidak sama dengan literatur. Alkohol primer yaitu
sampel etanol bereaksi saat pengujian lucas, sedangkan alkohol sekunder yaitu
sampel 2-butanol dan sikloheksanol membutuhkan pemanasan terlebih dahulu
agar reaksi berlangsung cepat. Untuk fenol menghasilkan hasil yang sesuai
dengan literatur yakni dapat bereaksi secara cepat tanpa membutuhkan pemanasan
terlebih dahulu karena gugus OH menempel pada atom C tersier. Sampel fenol
yang berupa larutan berwarna putih, setelah ditambahkan reagen lucas terjadi
perubahan menjadi agak keruh. Akan tetapi pada alkohol tersier yaitu sampel tert-
butanol hasilnya tidak sesuai literatur karena dalam pengujiannya melewati proses
pemanasan terlebih dahulu untuk cepat bereaksi, seharusnya alkohol tersier pada
pengujiannya menghasilkan reaksi yang cepat tanpa adanya pemanasan.
Pada pengujian asam kromat terhadap alkohol primer yaitu sampel etanol tidak
sesuai dengan literatur, seharusnya pengujiannya menghasilkan warna hijau. Akan
tetapi pada percobaan ini dihasilkan warna kuning. Pada alkohol sekunder yaitu
sampel 2-butanol dan sikloheksanol dihasilkan larutan tidak berwarna.
Seharusnya, hasil pengujiannya sampel menjadi larutan keoranyean. Pada alkohol
tersier yaitu sampel tert-butanol larutan berubah warna menjadi kuning bening,
seharusnya pada alkohol tersier ketika dilakukan uji asam kromat tidak bereaksi.
Sedangkan pada fenol menghasilkan hasil uji yang sesuai dengan literatur yang
telah didapat. Alkohol primer dan alkohol sekunder menghasilkan reaksi yang
positif. Sedangkan untuk alkohol tersier tidak bereaksi dalam pengujian kali ini.
Sedangkan untuk fenol menghasilkan hasil uji yang positif terhadap asam kromat
yaitu mengasilkan warna cokelat. Hasil percobaan uji asam kromat ini agak
berbeda dengan uji pada lucas. Hal ini kemungkinan disebabkan karena pereaksi
yang sudah terlalu lama dibuat sehingga tidak bereaksi seperti seharusnya lagi.
Selain itu, pemanas yang digunakan sudah tidak akurat lagi dalam suhunya
sehingga suhu yang digunakan ada kemungkinan terlalu tinggi dan merusak
pereaksinya.
Pada reaksi dengan alkali, hasil postif ditandai dengan adanya gelembung gas .
pada uji ini seharusnya pada alkohol primer yaitu etanol menghasilkan gelembung
gas pada reaksinya. Untuk alkohol sekunder yaitu sikloheksanol, 2-butanol, dan
tert-butanol pada alkohol tersier pada literature seharusnya menghasilkan sedikit
gelembung gas. Serta untuk fenol seharusnya menghasilkan banyak gelembung
karena sifat kimia fenol akan menyebabkan gugus OH terdeprotonasi. Hal ini
tidak akan terjadi pada alcohol sekunder dan alkohol tersier.
3. Uji yang dilakukan untuk senyawa aldehid dan keton. Pada pengujiannya dilakukan
beberapa tes diantaranya yaitu uji asam kromat dan uji iodoform . pada kedua percobaan
ini hanya dilakukan pada satu sampel saja yaitu aseton. Pada percobaan ini terjadi
kesalahan metode dalam penggunaan sampel yang seharusnya pada uji asam kromat
dilakukan juga pada sikloheksanon dan benzaldehid. Pada literature,untuk percobaan ini
aldehid akan dioksidasi oleh asam kromat, sedangkan keton tidak. Ketika aldehid
dioksidasi oleh asam kromat yang berwarna merah-jingga menjadi asam karboksilat,
asam kromat akan tereduksi menjadi Cr+3 yang berwarna hijau. Karena pada percobaan
ini sampel yang digunakan hanya satu, dan hasil percobaan yang dilakukan tidak sesuai
dengan literature kerena seharusnya senyawa aldehid berubah warna menjadi hijau
karena dioksidasi oleh asam kromat. Begitu pula jika dalam percobaan ini menggunakan
sampel sikloheksanon dan benzaldehid, jika pada pengujiannya positif akan
menghasilkan warna hijau. Sedangkan untuk uji iodoform iodoform terhadap aseton akan
didapat endapan kuning, yang merupakan hasil positif dari uji iodoform hasil percobaan
yang dilakukan sudah sesuai dengan literatur, di mana iod hanya dapat mengoksidasi
aseton, asetaldehid, etanol dan alkohol sekunder.

G. Daftar Pustaka
Chang, Raymond. 2009. Kimia Dasar : Konsep-konsep jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Fessenden dan Fessenden. 1999. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga.
Anonym. 2013.Identifikasi gugus fungsional hidrokarbon, alkohol, fenol, aldehid dan
keton.
http : //sulakaliwungu.blogspot.co.id/2013/12/praktikum-organik_12html

Diakses : tanggal 3 November 2016. Pukul 02.52 WIB.

Svehla, G. 1985. Vogel: Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro.
Jakarta:PT. Kalman Media Pusaka.
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I

PEMBUATAN METIL ESTER (BIODIESEL) DARI MINYAK

Tanggal Percobaan: Senin, 21 November 2016

Tanggal Pengumpulan: Senin, 5 Desember 2016

Nama : Ramadhanti Imani Rachmi

NIM : 1157040046

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI

BANDUNG

2016
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I

IDENTIFIKASI GUGUS FUNGSIONAL: HIDROKARBON, ALKOHOL DAN FENOL


SERTA ALDEHID DAN KETON

Tanggal Percobaan: Senin, 21 November 2016

Tanggal Pengumpulan: Senin, 5 Desember 2016

Nama : Ramadhanti Imani Rachmi

NIM : 1157040046

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI

BANDUNG

2016