Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

BIOLOGI

IKAN DAN KATAK

Oleh :

Kelas : E

Kelompok : 3

NAMA NPM

NAMA NPM

NAMA NPM

NAMA NPM

LABORATORIUM PRODUKSI TERNAK UNGGAS

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

SUMEDANG

2017
I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.1.1 IKAN

Pisces atau ikan adalah anggota vertebrata poikilotermik (berdarah dingin)

yang hidup di air dan bernapas dengan insang. Ikan merupakan kelompok

vertebrata yang paling beraneka ragam dengan jumlah spesies lebih dari

27,000 di seluruh dunia. Pisces adalah sebutan umum yang dipakai untuk

ikan atau sebagai nama super kelas, dan nama ini diambil dari bahasa latin.

Ichtyes juga berarti ikan berasal dari bahasa Yunani dan ini dipakai dalam

Ichtyoplogy yang berarti ilmu yang mempelajari tentang ikan. Ikan

merupakan hewan yang tubuhnya ditutupi oleh sisik-sisik yang tersusun

dari zat kapur. Permukaan sisik berlendir untuk memudahkan gerakan ikan

di dalam air. Ikan bergerak menggunakan sirip. Di sisi kanan dan kiri

tubuhnya terdapat gurat sisi yang berfungsi sebagai alat keseimbangan.

Gurat sisi juga berfungsi untuk mengetahui arah arus air dan kedalaman

air tempat ikan berenang.

Kelas Pisces merupakan hewan berdarah dingin, bernafas dengan

insang, tubuh ditutupi oleh sisik dan bergerak menggunakan sirip. Hidup

di air tawar dan air asin (laut). Berdasarkan tulang penyusun, kelas ini

dibedakan atas ikan bertulang sejati (Osteichtyes) dan ikan yang bertulang

rawan (Chondrichetyes). Kalau dilihat dari jumlah spesiesnya yang

dikatakan terbanyak dari vertebrata. Penyebaran ikan boleh dikatakan

hampir diseluruh permukaan bumi ditemukan di air tawar maupun air asin.
Pada sistematika atau taksonomi ada 3 pekerjaan yang biasa dilakukan,

yaitu identifikasi, klasifikasi, dan pengamatan evolusi. Identifikasi

merupakan pengenalan dan deskripsi yang teliti dan tepat terhadap suatu

jenis/spesies yang selanjutnya diberi nama ilmiahnya sehingga diakui oleh

para ahli diseluruh dunia. Klasifikasi adalah suatu kegiatan pembentukan

kelompok-kelompok makhluk hidup dengan cara memberi keseragaman

ciri/sifat di dalam keanekaragaman ciri yang ada pada makhluk hidup

tersebut.

Untuk mendukung pengetahuan tentang klasifikasi dan taksonomi

diperlukan adanya identifikasi dari berbagai parameter morfologi dari

bentuk tubuh ikan. Dengan melihat morfologi ikan kita dapat

mengelompokkan ikan/hewan air. Sistem atau cara pengelompokan ini

dikenal dengan istilah sistematika atau taksonomi.

1.1.2 KATAK

Amphibia merupakan hewan yang hidup dengan bentuk kehidupan

yang mula-mula di air tawar kemudian dilanjutkan di darat. Fase

kehidupan di dalam air berlangsung sebelum alat reproduksi masak,

keadaan ini merupakan fase larva yang disebut berudu. Fase berudu ini

menunjukkan sifat antara pisces dan reptilia. Sifat ini menunjukkan bahwa

Amphibia adalah kelompok chordata yang pertama kali hidup di daratan.

Beberapa pola menunjukkan pola baru yang disesuaikan dengan

kehidupan darat, misalnya: kaki, paru-paru, nares (hidung) yang

mempunyai hubungan dengan cavum oris dan alat penghidupan yang

berfungsi dengan baik di dalam air maupun di darat (Jasin, 1989).


Amphibia merupakan Tetrapoda atau vertebrata darat yang paling

rendah. Menurut garis evolusinya, Amphibia diyakini berasal dari nenek

moyang yang sama dengan ikan. Amphibia misalnya Salamander dapat

mempertahankan insang selama hidupnya. (Kimball, 1988).

Katak sawah (Fejervarya cancrivora) termasuk dalam ordo Anura

dan memiliki ciri khas diantaranya adalah tubuh berukuran besar dengan

lipatan-lipatan kulit atau bintil-bintil kulit yang memanjang dan pararel

dengan sumbu tubuh. Katak sawah bertubuh kecil sampai agak gempal,

dengan kaki yang kuat dan paha yang berotot besar (Duellman and Trueb,

1986).

Katak sawah (Fejervarya cancrivora) digunakan sebagai preparat

dalam praktikum kali ini untuk mewakili kelompok Amphibia. Katak

sawah dipilih karena kulitnya tidak beracun. Selain itu, hewan ini memiliki

struktur dan morfologinya mudah diamati.

1.2 Maksud dan Tujuan

- Untuk mengetahui morfologi dan anatomi ikan mas dan katak

- Dapat menyebutkan karakteristik ikan dan katak

- Menunjukkan apparatus digestorius (saluran pencernaan) pada ikan dan

katak

- Menunjukkan apparatus repiratorius (saluran pernafasan) pada ikan dan

katak

- Menunjukkan sistem sirkulasi (sistem peredaran darah pada ikan dan katak

- Menunjukkan sistem neuromuskular (sistem syaraf dan otot) pada ikan

dan katak
1.3 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada :

Hari/Tanggal : Rabu, 22 Maret 2017

Waktu : Pukul 10.30

Tempat : Lab. Ternak Unggas Fakultas Peternakan


II

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Ikan

Ikan adalah hewan bertulang belakang (vertebrata) yang hidup diair. Suhu

tubuhnya berubah-ubah tergantung dengan suhu lingkungannya (poikiloterm).

Bergerak dan mempertahankan keseimbangan tubuhnya dengan menggunakan

sirip dan bernafas dengan insang, namun selain menggunakan insang ada juga

ikan yang memiliki alat pernafasan tambahan yang fungsinya sama dengan paru-

paru. Ikan apabila ditinjau dari morfologinya dapat dibagi menjadi tujuh bagian

yaitu bentuk tubuh, bentuk mulut, linnea lateralis, sirip, sungut, sisik, dan ciri-ciri

lainnya. Sedangkan bagian tubuh lainnya, ikan dapat dibagi tiga bagian yaitu

kepala (caput), badan (truncus), dan ekor (caudal) (Anonymous, 2013).

Menurut Sukiya (2011), menyatakan bahwa dikenal empat kelas ikan dan

vertebrata sejenis ikan, antara lain kelas Aghanta atau vertebrata tidak berahang

yang diwakili Ostrachodermi (punah) yang masih ada

adalah Cyclostoma (lamprey dan hagfises), ikan purba berahang

kelas placodermi (punah), kelas Chondrichthyes atau ikan kartigo/ tulang rawan

(ikan hiu, pari chimaera), dan kelas Osteichthyes atau ikan tulang sejati. Dua kelas

terakhir (Chondrichthyes dan Osteichthyes) di kelompokkan dalam

superkelas Pisces.

Terdapat bebarapa macam sisik yang terdapat pada ikan osteichthyes sisik

cycloid, squama tpe terbentuk dari corium/dermis. Bentuk circuler atau ovoid,

secara mikroskopis tampak adanya garis-garis koncentrik, garis-garis radier,


guanophora, dan sel-sel pigmen. Ctenoid, bagian tepi luarnya mempunyai satu

baris/lebih rigi-rigi seperti duri-duri halus atau gigi-gigi sisik, sedang bagian tepi

yang melekat mempunyai tonjolan-tonjolan sehingga memperkuat pelekatannya

Ganoid bagian terbesar dari squama, tipe ini terdiri dari lapisan-lapisan tulang dan

permukaan luarnya diselubungi oleh genoin yaitu suatu material yang mempunyai

email yang dibentuk oleh corium (R. Soewarsono, 1992).

Fisiologi ikan (pisces) mencakup proses osmoregulasi, sistem sirkulasi,

sistem respirasi, bioenergetik dan metabolisme, pencernaan, organ-organ sensor,

sistem saraf, sistem endokrin dan reproduksi (Fujaya, 1999).

Insang (gill) dimiliki oleh jenis ikan (pisces). Insang (gill) berbentuk

lembaran-lembaran tipis berwarna merah muda dan selalu lembap. Bagian terluar

dare insang berhubungan dengan air, sedangkan bagian dalam berhubungan erat

dengan kapiler-kapiler darah. Tiap lembaran insang terdiri dare sepasang filamen,

dan tiap filamen mengandung banyak lapisan tipis (lamela). Pada filamen terdapat

pembuluh darah yang memiliki banyak kapiler sehingga memungkinkan OZ

berdifusi masuk dan CO2 berdifusi keluar. Insang pada ikan bertulang sejati

ditutupi oleh tutup insang yang disebut operkulum, sedangkan insang pada ikan

bertulang rawan tidak ditutupi oleh operkulum (Fujaya, 2013).

Insang (gill) tidak saja berfungsi sebagai alat pernapasan tetapi dapat pula

berfungsi sebagai alat ekskresi garam-garam, penyaring makanan, alat pertukaran

ion, dan osmoregulator. Beberapa jenis ikan mempunyai labirin yang merupakan

perluasan ke atas dari insang dan membentuk lipatan-lipatan sehingga merupakan

rongga-rongga tidak teratur. Labirin ini berfungsi menyimpan cadangan 02

sehingga ikan tahan pada kondisi yang kekurangan 02. Untuk menyimpan
cadangan 02, selain dengan labirin, ikan mempunyai gelembung renang yang

terletak di dekat punggung (Kimbal, 1999).

Menurut Stickney (1979), menyatakan salah satu penyesuaian ikan terhadap

lingkungan ialah pengaturan keseimbangan air dan garam dalam jaringan

tubuhnya, karena sebagian hewan vertebrata air mengandung garam dengan

konsentrasi yang berbeda dari media lingkungannya. Ikan harus mengatur tekanan

osmotiknya untuk memelihara keseimbangan cairan tubuhnya setiap waktu.

Insang (gill) tidak saja berfungsi sebagai alat pernapasan tetapi dapat pula

berfungsi sebagai alat ekskresi garam-garam, penyaring makanan, alat pertukaran

ion, dan osmoregulator.

Mekanisme pernapasan pada ikan melalui 2 tahap, yakni inspirasi dan

ekspirasi. Pada fase inspirasi, 02 dari air masuk ke dalam insang kemudian 02

diikat oleh kapiler darah untuk dibawa ke jaringan-jaringan yang membutuhkan.

Sebaliknya pada fase ekspirasi, C02 yang dibawa oleh darah dari jaringan akan

bermuara ke insang dan dari insang diekskresikan keluartubuh.Ikan memiliki

bermacam ukuran, mulai dari paus hiu yang berukuran 14 meter (45 ft) hingga

stout infantfish yang hanya berukuran 7 mm atau kira-kira 1/4 inci (Kimbal,

1999).

Menurut Brotowidjoyo (1989), menyatakan bahwa

kelas Osteichthyesumumnya mempunyai mulut berahang, mempunyai skeleton

sebagian atau seluruhnya bertulang menulang. Kondrokranium (cranium tulang

rawan) dilengkapi oleh tulang dermal untuk membentuk tengkorak majemuk.

Sisik tipe ganoid, sikloid, atau ktenoid yang semuanya berasal mesodermal, atau

tidak bersisik. Pada stadium embrio ada 6 celah insang, pada dewasa biasanya

tinggal 4 celah. Insang-insang itu tertutup oleh operculum, biasanya ada


gelembung renang yang berhubungan atau tidak berhubungan dengan faring.

Notokorda ditempati oleh vertebrae yang menulang. Otak terdiri dari 5 bagian

dengan 10 pasang saraf cranial. Pada ikan dewasa terdapat mesonefros, ada sistem

portal renal, pada ikan bentuk lebih primitive dalam ususnya terdapat katub spiral.

Ikan (pisces) memiliki tiga lubang pengeluaran (muara) didepan sirip dubur

belakang. Ketika lubang tersebut (berturut-turut dari arah depan kebelakang)

adalah sebagai berikut: anus, merupakan lubang pembuangan sisa makanan porus.

Qeuitelis, merupakan lubang saluran kelamin yang berasal dari gonat porus.

Ekskretorius, merupakn lubang saluran urin (Sukiya, 2001).

Menurut Campbell (1999), pada dasarnya ada sepuluh macam bentuk sirip

ekor antara lain:

1. Sirip ekor bercagak seperti pada ikan mas (Cyprinus carpio), ikan tawes

(Puntius javanicus), ikan bawal (Pampus sp), dan sebagainya.

2. Sirip ekor berpinggiran tegak, seperti pada ikan buntal (Tetraodon sp).

3. Sirip ekor berpinggiran tegak, seperti pada ikan tambakan (Helostoma

temmincki).

4. Sirip ekor berlekuk kembar, seperti pada ikan Scatophagus argus.

5. Sirip ekor berbentuk membundar, seperti pada ikan gurame (Osphronemus

gouramy).

6. Sirip ekor berbentuk bajir, seperti pada ikan bloso (Glossogobius sp.)

7. Sirip ekor berbentuk meruncing, seperti pada ikan belut (Monopterus albus).

8. Sirip ekor berbentuk sabit, seperti pada ikan tongkol (Euthynus sp.

9. Sirip ekor berbentuk episerkal, dalam hal ini ekor bagian atasnya lebih

panjang dibanding ekor bagian bawahnya seperti yang terdapat pada ikan

atlantik sturgeon (Acipencer oxyrhynchus).


10. Sirip ekor berbentuk hiposerkal, dalam hal ini ekor bagian bawah lebih panjang

dibanding ekor bagian atasnya seperti yang terdapat pada ikan caracas

(Tylosurus sp).

Menurut Campbell (1999), sirip ikan terdiri dari tiga jenis jari-jari

sirip yang hanya sebagian atau seluruhnya dimiliki oleh spesies ikan, yaitu :

a. Jari-jari sirip keras merupakan jari jari sirip yang tidak berbuku-buku dan

keras.

b. Jari-jari sirip lemah merupakan jari jari sirip yang dapat ditekuk, lemah, dan

berbukubuku.

c. Jari-jari sirip lemah mengeras merupakan jari jari sirip yang keras tetapi

berbuku-buku.

d. Letak mulut (cavum oris)

Mulut pada ikan memiliki berbagai bentuk dan

posisi yang tergantung darikebiasaan makan dan kesukaan pada makanannya (fe

eding dan foot habits).Perbedaan bentuk dan posisi mulut ini juga kadang

diikuti dengan keberadaan gigi dan perbedaan bentuk gigi pada

ikan (Djunanda, 1982).

2.2 Katak

Amphibia merupakan hewan yang hidup dengan bentuk kehidupan yang

mula-mula di air tawar kemudian dilanjutkan di darat. Fase kehidupan di dalam

air berlangsung sebelum alat reproduksi masak, keadaan ini merupakan fase larva

yang disebut berudu. Fase berudu ini menunjukkan sifat antara pisces dan reptilia.

Sifat ini menunjukkan bahwa Amphibia adalah kelompok chordata yang pertama
kali hidup di daratan. Beberapa pola menunjukkan pola baru yang disesuaikan

dengan kehidupan darat, misalnya: kaki, paru-paru, nares (hidung) yang

mempunyai hubungan dengan cavum oris dan alat penghidupan yang berfungsi

dengan baik di dalam air maupun di darat (Jasin, 1989).

Katak adalah hewan Amphibia yang paling dikenal orang di Indonesia.

Katak memiliki kulit kasar berbintil-bintil sampai berbingkul-bingkul. Beberapa

jenis katak, pada sisi tubuhnya memiliki lipatan kulit berkelenjar, mulai dari

belakang mata hingga di atas pangkal paha yang disebut lipatan dorsolateral.

Katak mempunyai mata berukuran besar, dengan pupil mata horisontal dan

vertikal. Beberapa jenis katak memiliki pupil mata berbentuk berlian atau segi

empat yang khas bagi masing-masing kelompok. Tubuh katak betina biasanya

lebih besar daripada yang jantan. Ukuran katak dan kodok di Indonesia bervariasi

dari yang terkecil hanya 10 mm, dengan berat hanya satu atau dua gram sampai

jenis yang mencapai 280 mm dengan berat lebih dari 1500 gram (Iskandar, 1998).

Katak sawah dimasukkan ke dalam ordo Anura. Nama anura mempunyai

arti tidak memiliki ekor (anura: a tidak, ura ekor). Ordo ini mempunyai ciri

umum tidak mempunyai ekor, kepala bersatu dengan badan, tidak mempunyai

leher dan tungkai berkembang baik. Tungkai belakang lebih besar daripada

tungkai depan, hal ini mendukung pergerakannya yaitu dengan melompat

(Duellman and Trueb, 1986).

Cara hidup Katak sangat berbeda dengan Ikan. Hewan ini tidak hidup di

perairan yang dalam dan menggunakan sebagian besar waktunya di darat. Katak

juga memiliki bermacam-macam warna kulit dengan pola yang berlainan. Warna-

warna itu ditimbukan oleh pigmen-pigmen yang terdapat di dalam sel-sel pigmen
di dalam dermis. Sel pigmen ini biasa dinamakan menurut jenis pigmen yang

dikandung. Melanofora mengandung pigmen coklat dan hitam dan lipofora

mengandung pigmen merah, kuning dan orange. Amphibi juga mempunyai

pigmen yang disebut guanofora, mengandung kristal guanin yang dapat

memproduksi efek putih terang. Perubahan warna pada kulit Katak dapat terjadi

karena stimulus lingkungan, misalnya gelap, panas, dan dingin. Perubahan itu

diatur melalui neuro-endokrin. (Duellman and Trueb, 1986).

Tubuh amphibia khususnya katak, terdiri dari kepala, badan, dan leher

yang belum tampak jelas. Kulit katak terlepas dari otot yang ada di dalamnya,

sehingga bagian dalam tubuh katak berupa rongga-rongga yang berisi cairan limfa

subkutan. Kulit ini hampir selalu basah karena adanya sekresi kelenjar-kelenjar

mucus yang banyak terdapat didalamnya. Selain itu, kulit katak juga banyak

mengandung kapiler-kapiler darah dari cabang-cabang vena kutanea magna dan

arteri kutanea (Djuhanda, 1982). Amphibi dewasa memiliki mulut lebar dan lidah

yang lunak yang melekat pada bagian depan rahang bawah (Djuhanda, 1982).

Katak mengalami metamorfosis sempurna. Metamorfosis dari katak

menyangkut tiga proses perubahan, dua diantaranya merupakan perubahan yang

drastis, yaitu berupa penciutan ekor dan terbentuknya organ yang baru yang tidak

tampak dari luar. Metamorfosis merupakan suatu masa kritis yang di alami selama

terjadinya perubahan dari hewan berhabitat akuatis menjadi terestrial (Duellman,

1986).
III

ALAT, BAHAN DAN PROSEDUR KERJA

3.1 Alat

1. Gabus

2. Gunting

3. Pisau

4. Pinset

3.2 Bahan

1. Ikan

2. Katak

3.3 Prosedur Kerja

1. Mengamati bagian-bagian dari organ tubuh ikan dan katak

2. Mempelajari bagian-bagian tersebut

3. Menggambar bagian-bagian organ yang terlihat dan komunikasikan

dengan para asisten


4. Melakukan diskusi dengan kelompok
IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


4.2 Pembahasan

4.2.1 Ikan

http://allysuharli.blogspot.co.id/2014/07/laporan-praktikum-ikan-mas-ikan-

tongkol.html

4.2.2 Katak

Tubuh katak terdirir dari caput atau kepala, truncus atau badan, extriitas anterior

(kaki depan), dan extrimitas posterior (kaki belakang). Kulit yang membungkus

katak selalu basah karena adanya sekresi dari kelenjar-kelenjar kulit. Kulit katak
mempunyai peranan dalam pernafasan karena dibawah kulitnya terdapat kapiler-

kapiler dari vena dan arteri cutanea magna (Radiopoertro, 1996).

Katak memiliki caput (kepala) yang terdiri dari mulut, hidung, mata, dan telinga.

Mata katak berpasangan dan bentuknya menonjol keluar, yang terletak di sebelah

postero dorsal dari nares atau hidung. Mata tersebut terlindung oleh dua buah

palpebra atau kelopak mata, yaitu palpebra inferior (berupa kulit yang tidak dapat

digeser-geserkan). Mata juga dilindungi oleh selaput yang disebut membran

nictitans yang dapat digerakkan ke arah superior-inferior. Selaput ini melindungi

mata saat katak berada di dalam air. Mulut katak berfunsi dalam pernafasan dan

pengambilan makanan. Mulut terletak pada ujung anterior dari caput, lebar dan

dibatasi oleh os mandibula (tulang rahang bawah) yang tidak bergigi dan os

premaksilla dan maksilla (tulang rahang atas) dengan gigi kecil berbentuk kerucut

tajam. Hidung (nares) berhubungan dengan mulut melalui struktur yang disebut

choane. Membran tympani atau selaput gendang pendengaran terletak poste-

lateral dari mata. Membran ini dikelilingi oleh annulus tympanicus (cincin rawan)
yang ditengahnya membayang columella (tulang telinga) sebesar sebuah titik

(Radiopoertro, 1996).

Alat pencernaan pada katak terdiri dari mulut, pharink (lanjutan dari cavum oris

dengan bentuk yang pendek sekali dan menyempit), oesophagus, gastrum

(berdinding tebal dengan bagian anterior dan melebar dibandingkan dengan

bagian posteriornya), pylorus (letaknya diantara gastrum dan duodenum dengan

bentuk menyempit), intestine dan colon. Kelenjar pencernaan pada amfibi, terdiri

atas hati dan pankreas. Hati berwarna merah kecoklatan, terdiri atas lobus kanan

yang terbagi lagi menjadi dua lobulus. Hati berfungsi mengeluarkan empedu yang

disimpan dalam kantung empedu yang berwarna kehijauan. Pankreas berwarna

Kekuningan, melekat diantara lambung dan usus dua belas jari (duadenum).

Pankreas berfungsi menghasilkan enzim dan hormon yang bermuara pada

duodenum (Jasin, 1992),

Alat pernapasan pada katak berupa insang, kulit, dan paru-paru.Larva katak

bernafas menggunakan insang luar. Katak dewasa bernafas dengan paru-paru.

Paru-paru katak merupakan dua buah kantung yang sifatnya elastis terletak di

sebelah dorsal dari gastrum dan hepar. Permukaan sebelah dalam dari paru-paru

memiliki lipatan-lipatan yang berguna untuk memperluas bidang pencernaan.

Paru-paru berhubungan dengan udara luar melalui 2 bronkus, larynk yang

mengandung tali-tali volea, lalu pharynk dan lorong-lorong nasal. Paru-paru

berhubungan langsung dengan larynk. Larynk berhubngan dengan rongga mulut

melalui suatu celah yang disebut auditivus laryngis atau glotis (kimball, 1991).

Menurut Kimball (1991), sistem peredaran darah pada katak adalah

peredaran darah tertutup dan ganda. Pada peredaran darah ganda, darah melalui
jantung sebanyak dua kali dalam sekali peredarannya. Pertama darah dari jantung

menuju ke paru-paru dan kembali ke jantung. Kedua, darah dari seluruh tubuh

menuju jantung dan diedarkan kembali ke seluruh tubuh. Jantung katak terdiri dari

tiga ruang yaitu atrium kiri, kanan, dan ventrikel. Diantara atrium dan ventrikel

terdapat klep yang mencegah agar darah dari ventrikel mengalir kembali ke

atrium. Pertukaran O2 dan CO2 terjadi di paru-paru. CO2 dilepaskan dan diikat O2.

Tetapi di ventrikel terjadi perncampuran CO2dan O2 yang terjadi di dalam darah.

Pembuahan pada katak dilakukan di luar tubuh. Katak jantan akan melekat di

punggung betinanya dan memeluk erat ketiak si betinanya dari belakang. Sambil

berenang di air, kaki belakang katak jantan akan memijat perut katak betina dan

merangsang pengeluaran telur. Pada saat bersamaan katak jantan akan melepaskan

spermanya ke air, sehingga bisa membuahi telur-telur yang dikeluarkan si betina.

Telur tersebut berkembang menjadi larva dan mencari nutrisi yang dibutuhkan

dari lingkungannya, kemudian berkembang menjadi dewasa dengan bentuk tubuh

yang memungkinkannya hidup di darat, sebuah proses yang dikenal metamorfosis

(Radiopoertro, 1996).

Sistem urogenitalia :

1. Katak jantan

2. Testis, sepasang berbentuk bulat telur, berwarna putih kekuningan. Terletak di

atas ginjal dan berisi cadangan makanan yang digunakan pada musim kawin.

Jaringan ini menghasilkan spermatozoid yang dilindungi oleh selaput

nesopehium. Spermatozoa dikeluarkan melalui vena efferensia melalui bagian

lateral dan ren.


3. Vena efferensia. Berupa saluran halus dari testis serta melalui nesorchium.

Selanjutnya sperma dikeluarkan melalui ren dan bermuara di ductus

urospemachitus.

4. Ductus spermachitus, sepasang terletak pada bagian lateral dan ren bermuara di

kloaka. Saluran ini menyalurkan spermatozoa dan urine ke kloaka.

1. Vesicula seminalis, merupakan bagian caudal dari ductus urospermachitus

serta

tempat penyimpanan terakhir dari spermatozoa.

2. Katak betina

3. Ovarium merupakan sepasang kantong yang terdiri dari sel-sel telur dan bila

banyak akan menutupi seluruh bagian abdomen serta dilindungi oleh selaput

tipis nesovarium yang dengan bantuan gerakan silia serta otot abdomen telur,

telur tersebut didorong ke depan menuju osteum tube yang terletak di kiri dan

kanan dan merupakan pangkal dari saluran telur.

4. Saluran telur, sepasang berliku-liku dan berwarna putih telur yang masak dan

masuk ke oviduk, dan sebelum bermuara di kloaka akan masuk ke ovisoe

(uterus).

5. Uterus merupakan tempat penyimpanan sementara sel telur sebelum keluar

dari tubuh karena fertilisasi.

6. Badan-badan lemak (corpus adiposum) menyerupai daun berwarna kekuningan

yang terletak di atas ginjal dan berisi cadangan makanan yang digunakan

musim kawin (Radiopoertro, 1996).


V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan pengamatan anatomi hewan pada saat

praktikum,khususnya hewan ikan mas dan katak. Kesimpulan yang dapat diambil

pada praktikum ini adalah untuk mengenal morfologi dan anatomi ikan dan katak.

Dari praktikum ini diketahui bagian-bagian organ dalam ikan khususnya


lambung, hati, empedu, otak, gelembung udara, ginjal, insang, laring, faring dan

gonad. Pada bagian luar, kita dapat melihat mata, hidung, tutup insang, squama,

sisik, sirip, dan ekor. Dengan adanya praktikum ini kita dapat mengetahui bahwa

tipe sisik ikan mas adalah ctenoid (sisik halus tapi piggirnya kasar).

Selain mengetahui bagian organ ikan, dari praktikum ini juga kita dapat

menegtahui bagian-bagian organ katak. Organ-organ yang menyusun tubuh katak

secara garis besar adalah jantung, paru-paru, hati, kantung empedu, pankreas,

lambung, dan usus.

5.2 Saran

1. Saran untuk praktikan adalah sebagai praktikan sudah seharusnya kita

lebih menghargaidan menghormati asisten laboratorium, terutamanya

ketika asisten menyampaikan materi.

2. Saran untuk asisten adalah jangan terlalu cepat saat menyampaikan

materi.

Beri Nilai