Anda di halaman 1dari 23

KEBIJAKAN PAJAK dari PENDEKATAN SOSIAL dan BUDAYA

Oleh :

1. Laila Fitri Ramos (145030401111006)


2. Benita Minggus Igakartika (145030401111057)
3. Sella Rindha Agustina (145030407111045)

Administrasi Perpajakan

Fakultas Ilmu Administrasi

Universitas Brawijaya

2016

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap organisasi memiliki budaya yang unik atau seperangkat asumsi yang
mendasar, nilai-nilai dan cara-cara untuk mengerjakan sesuatu, yang diterima oleh
sebagian besar anggota organisasi tersebut (Schein:2004). Organisasi menurut
Koontz & Donnel dalam Malayu S.P (2010:25) adalah pembinaan hubungan
wewenang dan dimaksudkan untuk mencapai koordinasi yang struktural, baik
secara vertikal, maupun secara horizontal diantara posisi posisi yang telah
diserahi tugas tugas khusus yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan bersama.
. Dalam konsep negara modern, pajak sudah menjadi kewajiban dan peraturan
yang mengikat bagi setiap warga negara yang ada di dalam negara tersebut untuk
berkewajiban menyerahkan sebagian kekayaannya atau pemberian iuran kepada
negara dalam berbagai syarat dan ketentuan yang berlaku (Onghokham,1985: 90).
Kebijakan Fiskal adalah suatu kebijakan ekonomi dalam rangka mengarahkan
kondisi perekonomian untuk menjadi lebih baik dengan jalan mengubah
penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Tujuan utama kebijakan fiskal ialah
untuk mencegah pengangguran dan menstabilkan harga. Implementasinya untuk
menggerakkan Pos penerimaan dan pengeluaran dalam Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN). Instrumen kebijakan fiskal adalah penerimaan dan
pengeluaran pemerintah yang berhubungan erat dengan pajak.
Administrasi perpajakan Menurut Safri Nurmantu (2005:98), adalah :
Penatausahaan dan pelayanan terhadap hak dan kewajiban Wajib Pajak yang
dilakukan baik di kantor fiskus maupun di kantor Wajib Pajak.Mengenai peran
administrasi perpajakan, Liberti Pandiangan (2007:33) mengemukakan bahwa :
Administrasi perpajakan diupayakan untuk merealisasikan peraturan perpajakan,
dan penerimaan negara sebagaimana amanat APBN.
Belanja Bantuan Sosialatau Social Transfer adalah transfer uang atau barang
yang diberikan oleh Pemerintah Pusat/Daerah kepada masyarakat guna melindungi
dari kemungkinan terjadinya risiko sosial.
Risiko sosial adalah kejadian atau peristiwa yang dapat mempengaruhi
kesejahteraan rumah tangga (masyarakat) yang disebabkan oleh pembebanan
tambahan permintaan atas sumber daya.

1.2 Rumusan Masalah


a. Bagaimana hubungan antara budaya dan kebijakan pajak di Indonesia?
b. Bagaimana hubungan antara budaya dan administrasi pajak di Indonesia?
c. Bagaimana hubungan antara pajak dan social transfer?

1.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui hubungan antara budaya dan kebijakan pajak di Indonesia.
b. Untuk mengetahui hubungan antara budaya dan administrasi pajak di
Indonesia.
c. Untuk mengetahui hubungan antara pajak dan social transfer.
II. PEMBAHASAN
2.1 Budaya dan Kebijakan Pajak
a. Budaya

Budaya yang ada Indonesia pada masa silam hingga sekarang erat kaitannya
dengan sejarah yang menjadi asal-usul dari budaya itu sendiri. Makna sejarah dalam
bahasa Indonesia sama dengan history (Inggris), Geschichte (Jerman) atau
geschiedenis (Belanda). Sejarah merupakan kesusastraan lama: silsilah; asal-usul;
kejadian dan peristiwa yang benar-benar telah terjadi pada masa yang lampau; ilmu,
pengetahuan,cerita tentang kejadian dan peristiwa yang benar-benar telah terjadi
pada masa yang lampau; riwayat.
a yang ada dalam sebuah masyarakat akan membentuk kebudayaan dari
sekelompok masyarakat itu sendiri. Kebudayaan berasal dari kata sansekerta
budhayah yaitu bentuk jamak dari kata budhi yang berarti budhi atau akal. Dengan
demikian, kebudayaan dapat diberi pengertian sebagai hal-hal yang bersangkutan
dengan akal. Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan meliputi seluruh sistem gagasan
dan rasa, tindakan serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan
bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar. Koentjaraningrat juga
menjelaskan bahwa kata budaya dapat juga merupakan perkembangan lebih lanjut dari
kata majemuk budi-daya yang berarti daya dari budi.
Berdasarkan penjelasan diatas, kebudayaan memiliki konsep-konsep dalam
pembentukannya, antara lain:
1. Kebudayaan Diperoleh dari Belajar
Kebudayaan yang dimiliki oleh manusia juga dimiliki dengan cara
belajar, tidak diturunkan secara bilogis atau pewarisan melalui unsur genetis.
Hal ini perlu ditegaskan untuk membedakan perilaku manusia yang digerakan
oleh kebudayaan dengan perilaku mahluk lain yang tingkahlakunya digerakan
oleh insting.
Ketika baru dilahirkan, semua tingkah laku manusia yang baru lahir
tersebut digerakkan oleh insting dan naluri. Insting atau naluri ini tidak
termasuk dalam kebudayaan, tetapi mempengaruhi kebudayaan. Contohnya
adalah kebutuhan akan makan. Makan adalah kebutuhan dasar yang tidak
termasuk dalam kebudayaan. Tetapi bagaimana kebutuhan itu dipenuhi; apa
yang dimakan, bagaimana cara memakan adalah bagian dari kebudayaan.
Semua manusia perlu makan, tetapi kebudayaan yang berbeda dari kelompok
kelompoknya menyebabkan manusia melakukan kegiatan dasar itu dengan
cara yang berbeda. Contohnya adalah cara makan yang berlaku sekarang. Cara
makan berubah dari yang menggunakan tangan menjadi menggunkan alat yang
sederhana (bahan kayu) hingga alat yang lebih modren. Begitu juga tempat
dimana manusia itu makan. Hal ini semua terjadi karena manusia mempelajari
atau mencontoh sesuatu yang dilakukan oleh generasi sebelumya atau
lingkungan disekitarnya yang dianggap baik dan berguna dalam hidupny
2. Kebudayaan Milik Bersama
Agar dapat dikatakan sebagai suatu kebudayaan, kebiasaankebiasaan
seorang individu harus dimiliki bersama oleh suatu kelompok manusia yang
didapat melalui proses belajar. Suatu kebudayaan dapat dirumuskan sebagai
seperangkat kepercayaan, nilai-nilai dan cara berlaku atau kebiasaan yang
dipelajari dan yang dimiliki bersama oleh para warga dari suatu kelompok
masyarakat. Pengertian masyarakat sendiri dalam Antropologi adalah
sekelompok orang yang tinggal di suatu wilayah dan yang memakai suatu
bahasa yang biasanya tidak dimengerti oleh penduduk tetangganya.
3. Kebudayaan sebagai Pola
Dalam setiap masyarakat, oleh para anggotanya dikembangkan
sejumlah pola-pola budaya yang ideal . Pola-pola kebudayaan yang ideal itu
memuat hal-hal yang oleh sebagian besar dari masyarakat tersebut diakui
sebagai kewajiban yang harus dilakukan dalam keadaankeadaan tertentu.
Pola-pola inilah yang sering disebut dengan norma -norma, Walaupun kita
semua tahu bahwa tidak semua orang dalam kebudayaannya selalu berbuat
seperti apa yang telah mereka patokkan bersama sebagai hal yang ideal
tersebut. Sebab bila para warga masyarakat selalu mematuhi dan mengikuti
norma-norma yang ada pada masyarakatnya maka tidak akan ada apa yang
disebut dengan pembatasan-pembatasan kebudayaan. Pembatasan kebudayaan
terbagi kedalam 2 jenis yaitu pembatasan kebudayaan yang langsung dan
pembatasan kebudayaan yang tidak langsung.

4. Kebudayaan Bersifat Dinamis dan Adaptif


Pada umumnya kebudayaan itu dikatakan bersifat adaptif, karena
kebudayaan melengkapi manusia dengan cara -cara penyesuaian diri pada
kebutuhan-kebutuhan fisiologis dan penyesuaian pada lingkungan yang
bersifat fisik-geografis maupun pada lingkungan sosialnya. Kebiasaan-
kebiasaan yang ada dalam masyarakat tertentu merupakan cara penyesuaian
masyarakat itu terhadap lingkungannya, akan tetapi cara penyesuaian tidak
akan selalu sama. Kelompok masyarakat yang berlainan mungkin saja akan
memilih cara -cara yang berbeda terhadap keadaan yang sama. Alasan
mengapa masyarakat tersebut mengembangkan suatu jawaban terhadap suatu
masalah dan bukan jawaban yang lain yang dapat dipilih tentu mempunyai
sejumlah alasan dan argumen. Alasan alasan ini sangat banyak dan bervariasi,
tetapi harus diingat juga bahwa masyarakat itu tidak harus selalu
menyesuaikan diri pada suatu keadaan yang khusus. Sebab walaupun pada
umumnya orang akan mengubah tingkah -laku mereka sebagai jawaban atau
penyesuaian atas suatu keadaan yang baru sejalan dengan perkiraan hal itu
akan berguna bagi mereka, hal itu tidak selalu terjadi. Malahan ada
masyarakat yang dengan mengembangkan nilai budaya tertentu untuk
menyesuaikan diri mereka malah mengurangi ketahanan masyarakatnya sendiri
bahkan banyak kebudayaan yang punah karena hal -hal seperti ini.

Kebudayaan di Indonesia ditunjukkan dengan banyaknya kerajaan


yang tersebar di Indonesia pada masa silam. Kerajaan yang satu dengan yang
lain memiliki ragam corak yang berbeda-beda. Budaya dari masing-masing
kerajaan akan berbeda satu sama lain, termasuk cara untuk melangsungkan
keberadaan atau eksistensi kerajaan itu sendiri. Salah hatu hal yang dilakukan
oleh banyak kerajaan adalah dengan menarik upeti (pungutan wajib) kepada
rakyatnya untuk dipersembahkan kepada rajanya. Setiap tahun hal ini harus
dilakukan dan rakyat harus dengan sukarela memberikan upetinya.
Pungutan-pungutan semacam itu hampir dilakukan oleh semua
kerajaan seperti Kerajaan Mataram, Kediri, Majapahit dan Pajang yang
mengenal bentuk pajak tanah dan pajak tidak langsung terhadap barang
dagangan. Sebagai imbalannya maka rakyat mendapatkan pelayanan
keamanan, jaminan ketertiban yang telah dilakukan Kerajaan Mataram dan
kerajaan lain dengan melaksanakan hidup swasembada dan otonomi kerajaan.
Dengan adanya perkembangan system perekonomian dunia, di Negara
Indonesia juga mengalami perubahan system ekonomi. Pada awalnya,
perekonomian Indonesia dipengaruhi kerajaan-kerajaan tradisional. Kegiatan
perekonomian terutama menyangkut dengan perdagangan sudah maju dengan
pesat, baik pada kerajaan Hindu-Budha maupun kerajaan Islam. Hal ini
ditunjukkan dengan banyaknya bandar-bandar atau pelabuhan yang didirikan
di Indonesia. Berbagai bandar tidak hanya disinggahi oleh pedagang pribumi
tetapi juga pedagang asing dan mancanegara. Kemudian pada saat penjajahan,
perekonomian Indonesia dikuasai oleh VOC Belanda. Pada masa ini, Indonesia
mengalami penjajahan hingga dikenal dengan system tanam paksa. Pada masa
penjajahan Jepang, diterapkan kebijakan sumber daya ekonomi yang
mendukung gerak maju pasukan Jepang dalam perang Asia-Pasifik. Sebagai
akibatnya, terjadi perombakan besar-besaran dalam struktur ekonomi
masyarakat. Kesejahteraan rakyat merosot tajam dan terjadi bencana
kekurangan pangan, karena produksi bahan makanan untuk memasok pasukan
militer dan produksi minyak jarak untuk pelumas pesawat tempur menempati
prioritas utama.
Pada awal kemerdekaan, kondisi perekonomian Indonesia masih
belum optimal, hal tersebut dikarenakan tingkat inflasi yang sangat tinggi,
adanya blokade ekonomi oleh Belanda, kas Negara kosong dan eksploitasi
besar-besaran di masa penjajahan. Pada masa orde lama, setelah kemerdekaan
hingga tahun 1965, perekonomian Indonesia memasuki era yang sangat sulit,
karena bangsa Indonesia menghadapi gejolak sosial, politik dan keamanan
yang sangat dahsyat, sehingga pertumbuhan ekonomi kurang diperhatikan. Di
awal orde baru, Suharto berusaha keras membenahi ekonomi Indonesia yang
terpuruk, dan berhasil untuk beberapa lama. Beliau berhasil mendobrak
kemacetan ekonomi dan memperbaiki sektor-sektor yang menyebabkan
kemacetan, seperti: rendahnya penerimaan negara, tinggi dan tidak efisiennya
pengeluaran negara, terlalu banyak tunggakan hutang luar negeri penggunaan
devisa bagi impor yang sering kurang berorientasi pada kebutuhan prasarana.
Secara ringkas perjalanan sistem ekonomi yang pernah dianut oleh
Indonesia adalah sistem ekonomi demokrasi yang berlandaskan Pancasila dan UUD
1945, Sistem Perekonomian Sosialis yang bersifat bebas dalam melaksanakan
kegiatan ekonomi dan Sistem Perekonomian Indonesia. Beberapa sistem ekonomi
tersebut memiliki kelemahan dan kelebihan yang berbeda-beda. Persamaan antara
sistem perekonomian yang ada pada zaman kerajaan, penjajahan hingga
kemerdekaan adalah penerapannya sesuai dengan wewenang dari penguasanya.
Kerajaan ditetapkan oleh raja, penjajahan diterapkan oleh pemimpin penjajahan dan
kemerdekaan ditetapkan oleh presiden yang menjabat
Menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, S.H dalam buku Mardiasmo, Pajak
merupakan iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat
dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat
ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.

Pajak adalah kontribusi wajib kepada Negara yang terutang oleh orang pribadi
atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak
mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Negara bagi
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Pembayaran pajak merupakan perwujudan dari kewajiban kenegaraan dan


peran serta Wajib Pajak untuk secara langsung dan bersama-sama melaksanakan
kewajiban perpajakan untuk pembiayaan Negara dan pembangunan nasional. Sesuai
falsafah undang-undang perpajakan, membayar pajak bukan hanya merupakan
kewajiban, tetapi merupakan hak dari setiap warga Negara untuk ikut berpartisipasi
dalam bentuk peran serta terhadap pembiayaan Negara dan pembangunan nasional.
Tanggung jawab atas kewajiban pembayaran pajak, sebagai pencerminan kewajiban
kenegaraan dibidang perpajakan berada pada anggota masyarakat sendiri untuk
memenuhi kewajiban tersebut. Hal tersebut sesuai dengan system self assessment yang
dianut dalam Sistem Perpajakan Indonesia.
b. Kebijakan Pajak
Perpajakan di Indonesia mengalami fase-fase perubahan. Pada zaman
dahulu, pajak merupakan bentuk iuran rakyat kepada negara. Hal ini dikenal
dengan nama upeti. Upeti tersebut berbentuk barang hasil kerja dan hasil bumi.
Kemudian, upeti tersebut diberikan kepada dewa, raja, kaisar, atau pemimpin
tertinggi yang menjadi panutan pada masa itu. Upeti sifatnya wajib dari rakyat
untuk penguasa. Dalam perkembangannya, terdapat pergeseran paradigma dari
upeti menuju konsep pajak. Di Indonesia, upeti mulai ditinggalkan seiring
berakhirnya era peradaban kerajaan Hindu-Budha dan beralih kepada konsep
pajak yang diperkenalkan oleh penjajah. Pada era kolonial, pemberlakuan
pemungutan pajak mulai berlangsung secara teratur, tersistem, terlembaga, dan
konsisten.
Sejak saat itu, pajak menjadi suatu bagian yang terpenting dalam
pendapatan pemerintah. Dalam konsep negara modern, pajak sudah menjadi
kewajiban dan peraturan yang mengikat bagi setiap warga negara yang ada di
dalam negara tersebut untuk berkewajiban menyerahkan sebagian kekayaannya
atau pemberian iuran kepada negara dalam berbagai syarat dan ketentuan yang
berlaku (Onghokham,1985: 90). Saat ini, pajak memiliki ruang lingkup yang
lebih luas dan tidak hanya berfokus pada pajak pendapatan dan PBB. Seiring
dengan perkembangan pemikiran manusia dan konsep negara modern, terdapat
berbagai model pungutan pajak, yaitu Pajak Daerah (Pajak Kendaraan
Bermotor, Pajak Bumi dan Bangunan, Pajak Restoran, Retribusi Parkir, Pajak
Penerangan Jalan, Pajak Air Tanah, Pajak Hotel, Pajak Kuburan) dan Pajak
Pusat (Pajak Pertambahan Nilai atas penyerahan Barang/Jasa Kena Pajak,
Pajak Penghasilan atas gaji, honorarium, tunjangan, dan lain-lain).
Kebijakan Fiskal adalah suatu kebijakan ekonomi dalam rangka
mengarahkan kondisi perekonomian untuk menjadi lebih baik dengan jalan
mengubah penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan ini mirip
dengan kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar, namun
kebijakan fiskal lebih mekankan pada pengaturan pendapatan dan belanja
pemerintah. Kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka
mendapatkan dana-dana dan kebijaksanaan yang ditempuh oleh pemerintah
untuk membelanjakan dananya tersebut dalam rangka melaksanakan
pembangunan. Atau dengan kata lain, kebijakan fiskal adalah kebjakan
pemerintah yang berkaitan dengan penerimaan atau pengeluaran Negara. Dari
semua unsure APBN hanya pembelanjaan Negara atau pengeluaran dan
Negara dan pajak yang dapat diatur oleh pemerintah dengan kebijakan fiscal.
Contoh kebijakan fiscal adalah apabila perekonomian nasional mengalami
inflasi,pemerintah dapat mengurangi kelebihan permintaan masyarakat dengan
cara memperkecil pembelanjaan dan atau menaikkan pajak agar tercipta
kestabilan lagi. Cara demikian disebut dengan pengelolaan anggaran.
Tujuan utama kebijakan fiskal ialah untuk mencegah pengangguran dan
menstabilkan harga. Implementasinya untuk menggerakkan Pos penerimaan
dan pengeluaran dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dengan semakin kompleksnya struktur ekonomi perdagangan dan keuangan,
maka semakin rumit pula cara penanggulangan inflasi. Kombinasi beragam
harus digunakan secara tepat, seperti kebijakan fiskal, kebijakan moneter,
perdagangan dan penentuan harga.
Instrumen kebijakan fiskal adalah penerimaan dan pengeluaran
pemerintah yang berhubungan erat dengan pajak. Dari sisi pajak jelas jika
mengubah tarif pajak yang berlaku akan berpengaruh pada ekonomi. Jika pajak
diturunkan maka kemampuan daya beli masyarakat akan meningkat dan
industri akan dapat meningkatkan jumlah output. Dan sebaliknya kenaikan
pajak akan menurunkan daya beli masyarakat serta menurunkan output industri
secara umum.

c. Hubungan Antara Budaya dan Kebijakan Pajak


Budaya merupakan nilai-nilai mendasar yang dimiliki setiap organisasi.
Hal ini yang menyebabkan adanya perbedaan pada masing-masing organisasi.
Nilai-nilai yang dimiliki sebuah organisasi berbeda-beda. Begitupula pada
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki banyak suku daerah
tentunya juga memilliki budaya masing-masing.
Mengenai kebijakan pajak di Indonesia mengalami beberapa
perubahan. Mulai dari sistem upeti yang harus diserahkan rakyat kepada raja.
Pada jaman kolonial terdapat land-rent (pajak tanah). Dari situlah mulai
berkembang kebijakan pajak di Indonesia. Saat ini terdapat kebijakan fiskal
yang mengatur tentang penerimaan dan pengeluaran pemerintah baik
pemerintah pusat maupun daerah.
Kebijakan fiskal yang ditetapkan oleh pemerintah saat ini juga
memperhatikan budaya-budaya yang ada di masing-masing daerah. Hal ini
terlihat pada diterapkannya pajak bumi dan bangunan yang pemungutan
pajaknya diserahkan ke daerah masing-masing.

Dari 4 (empat) konsep mengenai kebudayaan yang telah dijelaskan

diawal maka dapat disimpulkan bahwa pajak memenuhi keempat konsep

tersebut sehingga dapat dikatakan bahwa pajak merupakan suatu kebudayaan.

1. Kebudayaan Diperoleh dari Belajar

Pajak di Indonesia memiliki sejarah yang panjang mulai dari zaman

kerajaan hingga sekarang. Mulai dari pungutan berupa upeti (pungutan wajib)

kepada rakyat yang dipersembahkan kepada raja setiap tahun dan rakyat harus

dengan sukarela memberikan upetinya. Sampai kepada definisi pajak sebagai

iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat

dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung

dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.

2. Kebudayaan Milik Bersama

Pajak merupakan hak dan kewajiban setiap warga Indonesia, dimana

pungutan pajak itu sendiri akan berimbas kepada semua rakyat Indonesia.

Setiap pembayaran pajak akan dikembalikan lagi kepada rakyat. Sehingga,

pajak dapat disimpulkan sebagai sesuatu yang berasal dari rakyat, oleh rakyat

dan diberikan kembali untuk rakyat.

3. Kebudayaan sebagai Pola

Adanya pajak merupakan hasil dari peraturan-peraturan yang

ditetapkan oleh pemerintah, dan juga berdasarkan nilai-nilai, dan norma yang

berlaku di masyarakat. Jika ingin menikmati fasilitas umum, maka masyarakat

harus membayar pajak sebagai bentuk kontribusi terhadap Negara.

4. Kebudayaan Bersifat Dinamis dan Adaptif


Pajak merupakan konsep yang dinamis dan adaptif, dilihat dari

perkembangan pajak dimulai dari diteraapkannya upeti pada zaman kerajaan

hingga pada zaman reformasi. Didalam setiap perkembangannya dilaksanakan

beberapa perbaikan dan penyempurnaan konsep perpajakan.

Berdasarkan konsep kebudayaan diatas, maka pajak dapat


dikategorikan sebagai salah satu kebudayaan Indonesia. Jika pada dasarnya
pajak merupakan suatu kebudayaan, maka masyarakat akan suka rela
membayarakan perpajakan sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku.
Sehingga tingkat kepatuhan wajib pajak itu sendiri akan meningkat dengan
sendirinya, karena pajak

2.2 Budaya dan Administrasi Pajak


a. Administrasi Pajak

Administrasi menurut pendapat A. Dunsire yang telah dikutip oleh


Donovan dan Jackson dikemukakan kembali oleh Siti Kurnia Rahayu
(2006:71) bahwa: Administrasi diartikan sebagai arahan, pemerintahan,
kegiatan, implementasi, mengarahkan, penciptaan prinsip-prinsip implementasi
kebijakan, kegiatan melakukan analisis, menyeimbangkan dan
mempresentasikan keputusan, pertimbanganpertimbangan kebijakan, sebagai
pekerjaan individual dan kelompok dalam menghasilkan barang dan jasa
publik, dan sebagai arena bidang kerja akademik dan teoritis Yeremias T.
Keban).

Definisi administrasi perpajakan Menurut Safri Nurmantu (2005:98),


adalah : Penatausahaan dan pelayanan terhadap hak dan kewajiban Wajib
Pajak yang dilakukan baik di kantor fiskus maupun di kantor Wajib
Pajak.Mengenai peran administrasi perpajakan, Liberti Pandiangan (2007:33)
mengemukakan bahwa : Administrasi perpajakan diupayakan untuk
merealisasikan peraturan perpajakan, dan penerimaan negara sebagaimana
amanat APBN. Dari pengertian-pengertian diatas dijelaskan bahwa
administrasi perpajakan untuk merealisasikan peraturan perpajakan dalam
penerimaan negara dengan menuju kondisi dan pengalaman di berbagai Negara
berkembang.
Menurut Carlos A. Silvani seperti dikutip Siti Kurnia Rahayu (2006:72),
administrasi pajak dikatakan efektif bila mampu mengatasi masalah-masalah:

1. Wajib Pajak yang tidak terdaftar (unregistered taxpayers)


Artinya sejauh mana administrasi pajak mampu mendeteksi dan
mengambil tindakan terhadap anggota masyarakat yang belum terdaftar
sebagai wajib pajak walau seharusnya yang bersangkutan sudah memenuhi
ketentuan untuk menjadi wajib pajak. Penambahan jumlah wajib pajak
secara signifikan akan meningkatkan jumlah penerimaan pajak. Penerapan
sanksi yang tegas perlu diberikan terhadap mereka yang belum
mendaftarkan diri sebagai wajib pajak padahal sebenarnya potensial untuk
itu.

2. Wajib Pajak yang tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT).

Menyikapi wajib pajak yang sudah terdaftar tetapi tidak menyampaikan


Surat Pemberitahuan (SPT), atau disebut juga stop filing taxpayers,
misalnya dengan melakukan pemeriksaan pajak untuk mengetahui sebab-
sebab tidak disampaikannya SPT tersebut. Kendala yang mungkin dihadapi
adalah terbatasnya jumlah tenaga pemeriksa.

3. Penyelundup pajak (tax evanders)

Penyelundup pajak (tax evanders) yaitu wajib pajak yang melaporkan


pajak lebih kecil dari yang seharusnya menurut ketentuan perundang-
undangan. Keberhasilan system selfassessment yang memberikan
kepercayaan sepenuhnya kepada wajib pajak untuk menghitung, menyetor,
dan melaporkan sendiri pajak yang terutang, sangat tergantung dari
kejujuran wajib pajak. Tidak mudah untuk mengetahui apakah wajib pajak
melakukan penyelundupan pajak atau tidak.Dukungan adanya bank data
tentang wajib pajak dan seluruh aktivitas usahanya sangat diperlukan.

4. Penunggak pajak (delinquent taxpayers)


Dari tahun ke tahun tunggakan pajak jumlahnya semakin besar.Upaya
pencairan tunggakan pajak dilakukan melalui pelaksanaan tindakan
penagihan secara intensif. Apabila kebijakan perpajakan yang ada mampu
mengatasi masalah-masalah di atas secara efektif, maka administrasi
perpajakannya sudah dapat dikatakan baik sehingga tax ratioakan
meningkat. Dasar bagi terwujudnya suatu administrasi pajak yang baik
adalah diterapkan prinsip-prinsip manajemen modern yaitu Planning,
Organizing, Actuating, dan Controlling, terdapatnya kebijakan perpajakan
yang jelas dan sederhana sehingga memudahkan wajib pajak untuk
melaksanakan kewajibannya, tersedianya pegawai pajak yang berkualitas
dan jujur serta pelaksanaan penegakan hukum yang tegas dan konsisten.
Setelah memperoleh kepercayaan masyarakat serta pengertian dan
dukungan rakyat banyak, administrasi pajak baru dapat dianggap sehat.

b. Hubungan antara Budaya dan Administrasi Pajak

Budaya organisasi pada dasarnya mewakili norma-norma perilaku yang


diikuti oleh para anggota organisasi, termasuk mereka yang ada di dalam
hierarki organisasi, sehingga budaya organisasi tersebut sangat penting
perannya dalam mendukung terciptanya suatu organisasi yang efektif. Lebih
spesifik lagi, budaya organisasi dapat berperan dalam menciptakan jati
mengembangkan keikatan pribadi dengan organisasi sekaligus menyajikan
pedoman perilaku kerja (Adam Ibrahim:2010).

Sesuai dengan Visi Direktorat Jenderal Pajak Menjadi Institusi pemerintah


yang menyelenggarakan sistem administrasi perpajakan modern yang efektif,
efisien, dan dipercaya masyarakat dengan integritas dan profesionalisme yang
tinggi. Misi Direktorat Jenderal Pajak menghimpun penerimaan pajak negara
berdasarkan Undang-undang Perpajakan yang mampu mewujudkan
kemandirian pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara melalui
sistem administrasi perpajakan. (BPPK:2011)

Dalam pelayanan pajak terkadang juga terjadi masalah-masalah atau


hambatan dalam penerapan pelaksanaannya. Apabila kebijakan perpajakan
yang ada mampu mengatasi masalah-masalah secara efektif, maka administrasi
perpajakannya sudah dapat dikatakan baik sehingga pendapatan pajak akan
meningkat. Sistem administrasi perpajakan yang baik memerlukan budaya
organisasi yang baik pula demi mendukung terciptanya suatu organisasi yang
efektif.
2.3 Pajak dan Social Transfer
a. Kebijakan Pajak
Menurut kamus bahasa Indonesia, kebijakan adalah rangkaian konsep dan
asas yg menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu
pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi,
dsb); pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman
untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran; garis haluan.
Menurut pendapat Ray M. Sommerfeld yang dikutip R.Mansury bahwa
pengertian pajak adalah pengalihan sumber daya dari sektor swasta kepada
sektor publik (Negara), karena penduduk yang bersangkutan mempunyai
kemampuan secara ekonomis yang didasarkan atas peraturan perundang-
undangan tanpa mendapat imbalan yang langsung ditunjuk dalam rangka
memenuhi tujuan ekonomi sosial negaranya. Jadi tujuan pemungutan pajak
adalah merupakan tujuan sosial dan ekonomi suatu bangsa yang ingin dicapai
melalui pengeluaran publik, yang tercermin dalam Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN).
Kebijakan Pajak adalah Suatu keputusan yang diambil pemerintah dalam
rangka meningkatkan penerimaan negaradari sector pajak untuk digunakan
menyelesaikan kebutuhan dana bagi negara ( Marsuni, 2006, hal 37-38).
Menurut R. Mansury, tujuan kebijakan perpajakan adalah sama dengan
kebijakan publik pada umumnya, yaitu mempunyai tujuan pokok :
1) Untuk peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran,
2) Distribusi penghasilan yang lebih adil, dan
3) Stabilitas.

b. Social Transfer
Belanja Bantuan Sosialatau Social Transfer adalah transfer uang atau
barang yang diberikan oleh Pemerintah Pusat/Daerah kepada masyarakat guna
melindungi dari kemungkinan terjadinya risiko sosial.
Risiko sosial adalah kejadian atau peristiwa yang dapat mempengaruhi
kesejahteraan rumah tangga (masyarakat) yang disebabkan oleh pembebanan
tambahan permintaan atas sumber daya.
Pengertian lain disebutkan bahwa risiko sosial terkait dengan kerentanan,
yaitu kemungkinan kejadian atau peristiwa yang membuat rumah tangga
(masyarakat) yang saat ini tidak termasuk miskin akan jatuh di bawah garis
kemiskinan, atau jika saat ini berada di bawahgaris kemiskinan, akan tetap
berada di bawah garis kemiskinan atau semakin jauh terperosok di bawah garis
kemiskinan.
Risiko sosial merupakan potensi atau kemungkinan terjadinya guncangan
dan kerentanansosial yang akan ditanggung oleh seseorang, keluarga,
kelompok, dan/atau masyarakat,sebagai dampak dari penyakit sosial berupa
ketakpedulian, ketakacuhan, indisipliner, fatalitas, selfishness, egoism dan
immoralitas yang jika tidak dilakukan pemberian belanja bantuansosial oleh
pemerintah maka seseorang, keluarga, kelompok, dan/atau masyarakat tersebut
akan semakin terpuruk dan tidak dapat hidup dalam kondisi wajar.
Guncangan dan kerentanan sosial adalah keadaan tidak stabil yang terjadi
secara tiba-tiba sebagai akibat dari situasi krisis sosial, ekonomi, politik,
bencana, dan fenomena alam. Kemampuan seseorang, kelompok, dan/atau
masyarakat untuk menangani risiko danpenanganan yang layak diterapkan
untuk menangani risiko tergantung kepada sumber risiko,frekuensi dan
intensitas kejadian.
Dengan demikian Risiko sosial adalah kejadian atau peristiwa yang dapat
menimbulkan potensi terjadinya kerentanan sosial yang ditanggung oleh
individu, keluarga, kelompok dan/atau masyarakat sebagai dampak krisis
sosial, krisis ekonomi, krisis politik, fenomena alam dan bencana alam yang
jika tidak diberikan belanja bantuan sosial akan semakin terpuruk dan tidak
dapat hidup dalam kondisi wajar.
Keadaan yang memungkinkan adanya risiko sosial antara lain, namun
tidak terbatas pada:
1. Wabah penyakit yang apabila tidak ditanggulangi maka akan meluas dan
memberikan dampak yang memburuk kepada masyarakat.
2. Wabah kekeringan atau paceklik yang bila tidak ditanggulangi akan
membuat petani/nelayanmenjadi kehilangan penghasilan utamanya.
3. Cacat fisik dan/atau mental yang bila tidak dibantu tidak akan bisa hidup
secara mandiri.
4. Penyakit kronis yang bila tidak dibantu tidak akan bisa hidup secara
mandiri.
5. Usia lanjut yang bila tidak dibantu tidak akan bisa hidup secara mandiri.
6. Putus sekolah yang bila tidak dibantu akan semakin terpuruk dan tidak dapat
hidup secaramandiri,
7. Kemiskinan yang bila tidak dibantu akan semakin terpuruk dan tidak dapat
hidup secara wajar.
8. Keterisolasian tempat tinggal karena kurangnya akses penghubung yang
mempersulitperkembangan masyarakat di suatu daerah.
9. Bencana yang bila tidak ditanggulangi akan mengancam dan mengganggu
kehidupan dan penghidupan masyarakat.

Transfer uang/barang/jasa tersebut memiliki ketentuan sebagai berikut :

1. Belanja bantuan sosial dapat langsung diberikan kepada anggota masyarakat


dan/ataulembaga kemasyarakatan termasuk di dalamnya bantuan untuk
lembaga non pemerintahbidang pendidikan dan keagamaan
2. Belanja bantuan sosial bersifat sementara atau berkelanjutan.
3. Belanja bantuan sosial ditujukan untuk mendanai kegiatan rehabilitasi
sosial, perlindungansosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial,
penanggulangan kemiskinan dan penanggulangan bencana.
4. Belanja bantuan sosial bertujuan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan,
kualitas,kelangsungan hidup, dan memulihkan fungsi sosial dalam rangka
mencapai kemandiriansehingga terlepas dari risiko sosial.
5. Belanja bantuan sosial diberikan dalam bentuk: bantuan langsung;
penyediaan aksesibilitas; dan/atau penguatan kelembagaan.

Kriteria Belanja Bantuan SosialUntuk membatasi apa saja yang dapat


dikategorikan sebagai belanja bantuan sosial, memilikikriteria berikut ini:

1. Tujuan penggunaan
Pengeluaran belanja bantuan sosial hanya dapat dilakukan untuk
kegiatan yang ditujukanuntuk:
a. Rehabilitasi sosial dimaksudkan untuk memulihkan dan mengembangkan
kemampuanseseorang yang mengalami disfungsi sosial agar dapat
melaksanakan fungsi sosialnya secarawajar.
b. Perlindungan sosial dimaksudkan untuk mencegah dan menangani risiko
dari guncangan dankerentanan sosial seseorang, keluarga, kelompok,
dan/atau masyarakat agar kelangsunganhidupnya dapat dipenuhi sesuai
dengan kebutuhan dasar minimal.
c. Pemberdayaan Sosial adalah semua upaya yang diarahkan untuk
menjadikan warga negarayang mengalami masalah sosial mempunyai
daya, sehingga mampu memenuhi kebutuhandasarnya
d. Jaminan Sosial adalah skema yang melembaga untuk menjamin seluruh
rakyat agar dapatmemenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang layak.
e. Penanggulangan kemiskinan merupakan kebijakan, program, dan
kegiatan yang dilakukanterhadap orang, keluarga, kelompok dan/atau
masyarakat yang tidak mempunyai ataumempunyai sumber mata
pencaharian dan tidak dapat memenuhi kebutuhan yang layak
bagikemanusiaan
f. Penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi
penetapan kebijakanpembangunan yang berisiko timbulnya bencana,
kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat dan rehabilitasi.
2. Pemberi Bantuan
Pemberi bantuan sosial adalah : Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah
Daerah.Institusi pemerintah baik pusat atau daerah yang dapat memberikan
bantuan sosial adalahinstitusi yang melaksanakan perlindungan sosial,
rehabilitasi sosial, jaminan sosial,pemberdayaan sosial, penanggulangan
kemiskinan dan pelayanan dasar serta penanggulangan bencana.Bantuan
sosial yang diberikan oleh masyarakat, lembaga sosial atau lembaga lain
selainPemerintah, selama tidak dimasukkan dalam anggaran pemerintah,
adalah di luar ruang lingkup pengaturan buletin teknis ini.
3. Persyaratan Penerima Bantuan
Pemberian bantuan sosial yang diberikan oleh pemerintah haruslah
selektif, yaitu hanyadiberikan kepada calon penerima yang memenuhi
kriteria yang telah ditetapkan dalam pengertian belanja bantuan sosial yaitu
"melindungi dari kemungkinan risiko sosial". Olehkarena itu diperlukan
persyaratan/kondisi yang harus dipenuhi oleh calon penerima, yaituadanya
perlindungan atas kemungkinan terjadinya "Risiko Sosial".
Penerima belanja bantuan sosial adalah : Seseorang, keluarga,
kelompok, dan/ataumasyarakat yang mengalami keadaan yang tidak stabil
sebagai akibat dari situasi krisis sosial,ekonomi, politik, bencana, dan
fenomena alam agar dapat memenuhi kebutuhan hidupminimum, termasuk
di dalamnya bantuan untuk lembaga non pemerintah bidang
pendidikan,keagamaan dan bidang lain yang berperan untuk melindungi
individu, kelompok dan/atau masyarakat dari kemungkinan terjadinya risiko
sosial.
4. Bersifat Sementara atau Berkelanjutan.
Bersifat Sementara atau BerkelanjutanPemberian belanja bantuan sosial
umumnya bersifat sementara dan tidak terus-menerus,namun terdapat
kondisi dimana Belanja Bantuan Sosial tersebut diberikan secara terus-
menerus atau berkelanjutan. Yang dimaksud dengan Belanja Bantuan Sosial
berkelanjutan yaitu : bantuan yang diberikan secara terus menerus untuk
mempertahankan taraf kesejahteraan sosial dan upaya untuk
mengembangkan kemandirian.Belanja bantuan sosial yang diberikan secara
tidak terus menerus/tidak mengikat diartikanbahwa pemberian bantuan
tersebut tidak wajib dan tidak harus diberikan setiap tahunanggaran, belanja
bantuan sosial dihentikan pada saat pihak yang dibantu telah lepas
darimasalah sosial tersebut. Bantuan sosial dapat terus menerus, misalnya
untuk menjaga kinerjasosial yang telah tercapai agar jangan menurun
kembali. Jangka waktu pemberian belanjabantuan sosial kepada anggota
masyarakat atau kelompok masyarakat tergantung padaapakah si penerima
bantuan masih memenuhi kriteria/persyaratan sebagai pihak yang berhak
menerima bantuan. Apabila si penerima sudah tidak termasuk yang
mempunyai resiko sosial,telah dapat memenuhi kebutuhan hidup minimum
maka kepada yang bersangkutan tidak dapat diberikan bantuan lagi.
Yang bersifat sementara yaitu : Pemerintah memberikan bantuan
terhadap orang cacat, namun setelah orang tersebut dapatmandiri, belanja
bantuan sosial tersebut dihentikan.
Yang bersifat berkelanjutan : Pemerintah memberikan bantuan terhadap
orang cacat yang tidak pernah dapat mandiri,belanja bantuan sosial tersebut
dapat diberikan secara berkelanjutan.
Bentuk Pemberian Belanja Bantuan SosialBentuk pemberian belanja
bantuan sosial adalah :
a. Uang
b. Barang
c. jasa
yang diterima langsung oleh penerima bantuan sosial.Belanja bantuan sosial
terdiri dari berbagai bentuk, ragam, dan jenis bantuan tetapi padaumumnya
terbagi dalam kelompok uang, barang dan jasa. Belanja bantuan sosial tidak
bolehdigunakan untuk mendanai kegiatan di lingkungan instansi pemerintah
walaupun terkaitdengan penyelenggaraan kegiatan pemerintah untuk
menangani risiko sosial. Kegiatantersebut dilakukan sesuai dengan tugas
pokok dan fungsi pemerintah untuk menyelenggarakan kesejahteraan rakyat
sehingga didanai dengan menggunakan belanjapegawai, barang atau
modal.Belanja bantuan sosial dalam bentuk uang diberikan langsung kepada
penerima bantuansosial. Uang tersebut diberikan secara langsung kepada
penerima dan pemerintah tidak akanmeminta kembali uang tersebut atau
uang tersebut tidak dikembalikan. Belanja bantuansosial tidak boleh
diberikan kepada pegawai pemerintah atau instansi pemerintah lain
yangterkait dengan pelaksanaan tugas dan fungsinya.Belanja bantuan sosial
dalam bentuk barang diberikan dalam bentuk barang dan diserahkankepada
penerima. Belanja tersebut karena tujuan penggunaannya untuk kegiatan
yang sesuaidengan kriteria belanja bantuan sosial, maka tidak boleh
dimasukkan dalam belanja barang.

Barang yang belum didistribusikan kepada penerima bantuan sosial


akan dicatat sebagaipersediaan. Namun, belanja barang untuk aktivitas
instansi pemerintah dalam rangkakegiatan penanganan risiko sosial tidak
dimasukkan dalam belanja bantuan sosial tetapi tetap dikategorikan sebagai
belanja barang.

Belanja bantuan sosial dalam bentuk jasa diberikan dalam bentuk


pembayaran kepada pihak ketiga yang melakukan aktivitas yang sesuai
dengan kriteria bantuan sosial.Pihak ketiga ini dapat terdiri dari individu,
kelompok, masyarakat atau lembaga nonpemerintah yang melakukan
aktivitas yang berkaitan dengan perlindungan terjadinya risikososial.
Belanja bantuan sosial dalam bentuk jasa tidak boleh diberikan kepada
instansi pemerintah lain atau pegawai pemerintah walaupun terkait dengan
aktivitas penangangan risiko sosial.

Ruang lingkup Sosial Transfer


c. Hubungan antara Pajak dan Social Transfer

Dari uraian diatas dijelaskan bahwa tujuan utama dari kebijakan


perpajakan meningkatkan penerimaan Negara dari sector pajak untuk
digunakan menyelesaikan kebutuhan dana bagi Negara guna meningkatkan
kesejahteraan masyarakat.

Belanja Bantuan Sosialatau Social Transfer adalah transfer uang atau


barang yang diberikan oleh PemerintahPusat/Daerah kepada masyarakat guna
melindungi dari kemungkinan terjadinya risiko sosial.

Risiko sosial adalah kejadian atau peristiwa yang dapat mempengaruhi


kesejahteraan rumah tangga (masyarakat) yang disebabkan oleh pembebanan
tambahan permintaan atas sumber daya.

Dengan adanya kebijakan perpajakan, maka negara memiliki pendapatan


bagi negara untuk membiaya setiap pengeluarannya, termasuk pengeluaran
belanja bantuan sosial yang dengan begitu dapat membantu meningkatkan
kesejahteraan masyarakat dengan memberikan beberapa fasilitas misalnya
dibidang pendidikan, kesehatan, sarana prasarna umum, jaminan sosial,
pemberdayaan sosial, dan lain sebagainya.
III. KESIMPULAN
Kebijakan fiskal yang ditetapkan oleh pemerintah saat ini juga memperhatikan
budaya-budaya yang ada di masing-masing daerah. Hal ini terlihat pada diterapkannya
pajak bumi dan bangunan yang pemungutan pajaknya diserahkan ke daerah masing-
masing.
Dalam pelayanan pajak terkadang juga terjadi masalah-masalah atau hambatan
dalam penerapan pelaksanaannya. Apabila kebijakan perpajakan yang ada mampu
mengatasi masalah-masalah secara efektif, maka administrasi perpajakannya sudah
dapat dikatakan baik sehingga pendapatan pajak akan meningkat. Sistem administrasi
perpajakan yang baik memerlukan budaya organisasi yang baik pula demi mendukung
terciptanya suatu organisasi yang efektif.
Dengan adanya kebijakan perpajakan, maka negara memiliki pendapatan bagi
negara untuk membiaya setiap pengeluarannya, termasuk pengeluaran belanja bantuan
sosial yang dengan begitu dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat
dengan memberikan beberapa fasilitas misalnya dibidang pendidikan, kesehatan,
sarana prasarna umum, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, dan lain sebagainya.
IV. DAFTAR PUSTAKA
WEBSITE FIA: 2015. Definisi Kebijakan Fiskal dan Finansial. Malang: http://fia-
ub.blogspot.co.id/2015/11/definisi-kebijakan-fiskal-dan-finansial.html

WEBSITE PAJAK: Bagaimana Pajak dalam Konteks Indonesia.


http://www.pajak.go.id/sites/default/files/BAB%20III%20Bagaimana%20Pajak%20da
lam%20Konteks%20Indonesia.pdf

E-journal: Pajar Novi Siswaningsih & Dudi Pratomo. 2012. PENGARUH


REFORMASI ADMINISTRASI PERPAJAKAN (STRUKTUR ORGANISASI,
PROSEDUR ORGANISASI, STRATEGI ORGANISASI, DAN BUDAYA
ORGANISASI) TERHADAP KUALITAS PELAYANAN PADA KANTOR
PELAYANAN PAJAK PRATAMA CICADAS BANDUNG. Bandung :
https://openlibrary.telkomuniversity.ac.id/.../pengaruh-reformasi-administrasi-
perpajakan.pdf

E-journal: Mochammad Dhea. PENGARUH BUDAYA ORGANISASI TERHADAP


PENGENDALIAN INTERNAL DENGAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI
SEBAGAI VARIABEL INTERVENING (Survey pada KPP di Kanwil Jawa Barat I) :
http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/644/jbptunikompp-gdl-mochammadd-32179-
12-unikom_m-l.pdf

E-journal: Universitas Sumatera Utara. Budaya organisasi :


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/51837/4/Chapter%20II.pdf

Pengertian Belanja Bantuan Sosial dan Risiko.


Https://www.scribd.com/doc/97386467/pengertian-belanja-bantuan-sosial-dan-risiko-
sosial