Anda di halaman 1dari 32

Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

ASUHAN KEBIDANAN MASA NIFAS


RESPON ORANG TUA TERHADAP BAYI BARU LAHIR SERTA
PROSES ADAPTASI PSIKOLOGI IBU MASA NIFAS

A. PENDAHULUAN

Kelahiran bayi merupakan peristiwa penting bagi kehidupan


seorang wanita dan keluarganya. Wanita mengalami banyak perubahan
emosi selama kehamilan dan masa nifas untuk menyesuaikan diri
menjadi seorang ibu. Penting sekali bagi seorang bidan untuk
mengetahui tentang penyesuaian ini sehingga dapat menilai apakah ibu
memerlukan asuhan yang khusus dalam masa itu.
Respon dari setiap ibu dan ayah kepada bayi mereka dan cara
mereka mengasuh anak berbeda-beda dan meliputi keseluruhan bagian
dari reaksi dan emosi, mulai dari tingkatan-tingkatan kebahagian
sampai pada kesedihan. Sehingga bidan harus memahami dan
menunjukkan respon psikologis terhadap masalah yang timbul agar
dapat membantu orang tua melalui masa postpartum yang wajar dan
sehat serta memberikan asuhan kebidanan yang dibutuhkan.
Masa nifas atau purperium dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya
plasenta sampai dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu. Pelayanan
pasca persalinan harus terselenggara pada masa itu untuk memenuhi
kebutuhan ibu dan bayi, yang meliputi upaya pencegahan, deteksi dini
dan pengobatan komplikasi dan penyakit yang mungkin terjadi, serta
penyediaan pelayanan pemberian ASI, cara menjarangkan kehamilan,
imunisasi, dan nutrisi bagi ibu.
Secara psikologi, pascapersalinan ibu akan merasakan gejala-
gejala psikiatrik. Meskipun demikian, adapula ibu yang tidak mengalami
hal ini. Agar perubahan psikologi yag dialami tidak berlebihan, ibu perlu
mengetahui tentang hal tentang hal yang lebih lanjut. Wanita banyak
mengalami perubahan emosi selama masa nifas sementara ia
menyesuaikan diri menjadi seorang ibu. Penting sekali sebagian bidan
untuk mengetahui tentang penyesuaian psikologis yang normal
sehingga ia dapat menilai apakah seorang ibu memerlukan asuhan
khusus dalam masa nifas ini, untuk suatu variasi atau penyimpangan
dari penyesuaian yang normal yang umum terjadi.
Beberapa penulis berpendapat dalam minggu pertama setelah
melahirkan, banyak wanita yang menunjukan gejala-gejala psikiatrik,
terutama gejala depresi diri ringan sampai berat serta gejala-gejala
neonatus traumatic, antara lain rasa takut yang berlebihan dalam masa
hamil struktur perorangan yang tidak normal sebelumnya, riwayat
psikiatrik abnormal, riwayat perkawinan abnormal, riwayat obstetrik
(kandungan) abnormal, riwayat kelahiran mati atau kelahiran cacat,
dan riwayat penyakit lainya.
Biasanya penderita akan sembuh kembali tanpa ada atau dengan
pengobatan. Meskipun demikian, kadang diperlukan terapi oleh ahli

1
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

penyakit jiwa. Sering pula kelainan-kelainan psikiatrik ini berulang


setelah persalinan berikutnya. Hal yang perlu diperhatikan yaitu
adaptasi psikososial pada masa pasca persalinan. Bagi keluarga muda,
pasca persalinan adalah awal keluarga baru sehingga keluarga perlu
beradaptasi dengan peran barunya. Tanggung jawab keluarga
bertambah dengan hadirnya bayi yang baru lahir. Dorongan serta
perhatian anggota keluarga lainya merupakan dukungan positif bagi
ibu.

B. CAPAIAN PEMBELAJARAN

1. Agar mahasiswa mengetahui pengertian dan mampu menjelaskan


mengenai respons orangtua terhadap bayi baru lahir
2. Agar mahasiswa mengetahui adaptasi psikologi ibu masa nifas
3. Agar mahasiswa mengetahui pengertian postpartum blues
4. Agar mahasiswa mengetahui bagaimana kesedihan dan duka cita ibu
pada masa nifas

C. URAIAN MATERI

A. Bounding Attachment
Bounding merupakan suatu hubungan yang berawal dari saling
mengikat di antara orang tua dan anak, ketika pertama kali bertemu.
Attachment adalah suatu perasaan kasih sayang yang meningkat satu
sama lain setiap waktu dan bersifat unik dan memerlukan kesabaran.
Hubungan antara ibu dengan bayinya harus dibina setiap saat untuk
mempererat rasa kekeluargaan. Kontak dini antara ibu, ayah dan bayi
disebut bounding attachment melalui touch/sentuhan, kontak mata dan
aroma. Jam-jam pertama segera setelah kelahiran meliputi suatu masa
yang unik yang disebut masa sensitive ibu. Karena akan terjalin
keterikatan adalah sangat penting agar ibu dan bayi bisa bersama.
Dengan demikian perilaku dapat dilihat dan menandai permulaan dari
keterikatan tersebut. Bounding adalah masa sensitive pada menit
pertama dan beberapa jam setelag kelahiran karena kontak ibu dan
ayah ini akan menentukan tumbuh kembang anak menjadi optimal atau
suatu langkah untuk mengungkapkan perasaan afeksi (kasih sayang)
oleh ibu kepada bayinya segera setelah lahir. Attachment adalah proses
penggabungan berdasarkan cinta dan penerimaan yang tulus dari orang
tua terhadap anaknya dan memberikan dukungan asuhan dalam
perawatannya. Jadi, bounding attachment adalah sebuah peningkatan
hubungan kasih sayang dengan keterikatan batin antara orang tua dan
bayi. Hal ini merupakan proses di mana sebagai hasil dari suatu
interaksi terus-menerus antara bayi dan orang tua yang bersifat saling
mencintai memberikan keduanya pemenuhan emosional dan saling

2
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

membutuhkan. Cara untuk melakukan bounding ada bermacam-macam


antara lain:

1. Inisiasi Dini
Setelah bayi lahir, dengan segera bayi ditempatkan di atas ibu. Ia akan
merangkak dan mencari putting susu ibunya. Dengan demikian, bayi
dapat melakukan reflek sucking dengan segera. Menurut Klaus Kennel
(1982), ada beberapa kentungan yang dapat diperoleh dari kontak dini
yaitu:
a. Kadar oksitosin dan prolactin meningkat
b. Reflek menghisap dilakukan dini
c. Pembentukan kekebalan aktif dimulai
d. Mempercepat proses ikatan antara orangtua dan anak (body
warmth/kehangatan tubuh; waktu pemberian, kasih sayang, dan
stimulasi hormonal)
2. Rawat gabung
Rawat gabung merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan agar
antara ibu dan bayi terjalin proses lekat (early infant mother bounding)
akibat sentuhan badan antara ibu dan bayinya. Hal ini sangat
mempengaruhi perkembangan psikologis bayi selanjutnya, karena
kehangatan tubuh ibu merupakan stimulasi mental yang mutlak
dibutuhkan oleh bayi. Bayi yang merasa aman dan terlindung,
merupakan dasar terbentuknya rasa percaya diri dikemudian hari.
3. Kontak mata (Eye to Eye Contact)
Beberapa ibu berkata begitu bayinya bisa memandang mereka, mereka
merasa lebih dekat dengan bayinya. Orang tua dan bayi akan
menggunakan lebih banyak waktu untuk saling memandang. Seringkali
dalam posisi bertatapan. Bayi baru lahir dapat diletakkan lebih dekat
untuk dapat melihat pada orang tuanya.
4. Suara (Voice)
Mendengar dan merenspon suara antara orang tua dan bayinya sangat
penting. Suara tersebut membuat mereka yakin bahwa bayinya dalam
keadaan sehat. Tangis tersebut membuat mereka melakukan tindakan
menghibur.
5. Aroma/Bau Badan (Odor)
Setiap anak memiliki aroma yang unik dan bayi belajar dengan cepat
untuk mengenali aroma susu ibunya.
6. Gaya Bahasa (Entrainment)
Bayi mengembangkan irama akibat kebiasaan. Bayi baru lahir bergerak-
gerak sesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa. Mereka
menggoyangkan tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan
kaki. Entrainment terjadi pada saat anak mulai bicara.
7. Bioritme
Salah satu tugas bayi baru lahir adalah membentuk ritme personal
(bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi
kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat
bayi mengembangkan perilaku yang responsive.
8. Sentuhan (Touch)
Walker (1992), sentuhan adalah kasih sayang yang mengikat
kekhususan dan sesuatu yang abadi dari keterikatan. Nilai-nilai untuk

3
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

memulai sentuhan: kesehatan, emosi orang tua. System bantuan sosial,


mencakup pasangan, teman dan keluarga.

Berikut ini adalah dampak positif bounding attachment:


1. Bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan
sikap social
2. Bayi merasa aman, berani mengadakan eksplorasi

Tahap-tahap Bounding Attachment


Tahap- tahap bounding attachment yaitu:
a. Perkenalan (acquaintance), sengan melakukan kontak mata,
menyentuh, erbicara, dan mengekplorasi segera setelah mengenal
bayinya.
b. Bounding (keterikatan)
c. Attachment, perasaan saying yang mengikat individu lain.

Adapun interaksi yang menyenangkan, misalnya:


a. Sentuhan pada tungkai dan muka bayi secara halus dengan tangan ibu.
b. Sentuhan pada pipi dapat menstimulasi respons yang meyebabkan
terjadinya gerakan muka bayi kea rah muka ibu atau kea arah payudara
sehingga bayi akan mengusap-usap menggunakan hidung serta
menjilat putingnya, dan terjadilah rangsangan untuk sekresi prolactin.
c. Ketika mata bayi dan ibu saling tatap pandang, menimbulkan perasaan
saling memiliki antara ibu dan bayi.
d. Tangis bayi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Proses Bounding Attachment


a. Kesehatan emosional orangtua.
Orangtua yang mengharapkan kehadiran si anak dlaam kehidupannya
tentu akan memberikan respons emosi yang berbeda dengan orangtua
yang tidak menginginkan kelahiran bayi tersebut. Respon emosi yang
positif dapat membantu tercapainya proses bounding attachment ini.
b. Tingkat kemampuan, komunikasi, dan keterampilan untuk merawat
anak.
Dalam berkomunikasi dan keterampilan dalam merawat anak, orangtua
dengan yang lain tentu tidak sama tergantung pada kemampuan yang
dimiliki masing-masing. Semakin cakap orangtua dalam merawat
bayinya maka akan semakin mudah pula bounding attachment
terwujud.
Dukungan sosial seperti keluarga, teman, dan pasangan.
c. Dukungan dari keluarga, teman, teruatama pasangan merupakan
faktor yang juga penting untuk diperhatikan karena dengan adanya
dukungan dari orang-orang terdekat akan memberikan suatu
semangat/dorongan positif yang kuat bagi ibu untuk memberikan kasih
sayang yang penuh kepada bayinya.

d. Kedekatan orangtua dan anak


Dengan metode rooming in kedekatan antara orangtua dan anak dapat
terjalin secara langsung dan menjadikan cepatnya ikatan batin terwujud
diantara keduanya.

4
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

e. Kesesuaian antara orangtua dan anak (keadaan anak, jenis kelamin)


Anak akan lebih mudah diterima oleh anggota keluarga yang lain ketika
keadaan anak sehat/normal dan jenis kelamin sesuai dengan yang
diharapkan. Pada awal kehidupan, hubungan ibu dan bayi lebih dekat
dibanding dengan anggota keluarga yang lain karena setelah melewati
sembilan bulan bersama, dan melewati saat-saat kritis dalam proses
kelahiran membuat keduanya memiliki hubungan yang unik.

Prinsip dan upaya meningkatkan Bounding Attachment


a. Dilakukan segera (menit pertama jam pertama)
b. Sentuhan orangtua pertama
c. Adanya ikatan yang baik dan sistematis berupa kedekatan orangtua ke
anak
d. Kesehatan emosional orangtua
e. Terlibat pemberian dukungan dalam proses persalinan
f. Persiapan PNC sebelumnya
g. Adaptasi
h. Tingkat kemampuan, komunikasi, dan keterampilan untuk merawat
anak
i. Kontak sedini mungkin sehingga dapat membantu dalam memberi
kehangatan pada bayi, menurunkan rasa sakit ibu, serta memberi rasa
nyaman
j. Fasilitas untuk kontak lebih lama
k. Penekanan pada hal-hal positif
l. Perawat maternitas khusus (bidan)
m. Libatkan angoota keluarga lainnya/dukungan sosial dari keluarga,
teman, dan pasangan
n. Informasi tertahap mengenai bounding attachment

Manfaat Bounding Attachment


Adapun manfaat dari implementasi teori bounding attachment jika
dilakukan secara baik, yaitu:
a. Bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menimbulkan sikap
sosial
b. Bayi merasa aman, berani mengadakan ekplorasi
c. Akan sangat berpengaruh positif pada pola perilaku dan kondisi
psikologis bayi kelak.

Adapun hambatan bounding attachment:


1. Kurang support sistem
2. Ibu dengan risiko
3. Bayi dengan risiko
4. Kehadiaran bayi yang tidak diinginkan

Peran bidan dalam mendukung terjadinya Bonding Attachment


a. Membantu menciptakan terjadinya ikatan antara ibu dan bayi dalam
jam pertama pascakelahiran.

5
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

b. Memberikan dorongan pada ibu dan keluarga untuk memberikan


respons positif tentang bayinya, baik melalui sikap maupun ucapan dan
tindakan.
c. Sewaktu pemeriksaan ANC, Bidan selalu mengingatkan ibu untuk
menyentuh dan meraba perutnya yang semakin membesar.
d. Bidan mendorong ibu untuk selalu mengajak janin berkomunikasi
e. Bidan juga men-support ibu agar dapat meningkatkan kemampuan dan
keterampilannya dalam merawat anak, agar saat sesudah kelahiran
nanti ibu tidak merasa kecil hati karena tidak dapat merawat bayinya
sendiri dan tidak memiliki waktu yang seperti ibu inginkan.
f. Ketika dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan
salah satu cara bonding attachment dalam beberapa saat setelah
kelahiran, hendaknya bidan tidak benar-benar memisahkan ibu dan
bayi, melainkan bidan mampu untuk mengundang rasa penasaran ibu
untuk mengetahui keadaan bayinya dan ingin segera memeluk bayinya.
Pada kasus bayi atau ibu dengan resiko, ibu dapat tetap melakukan
bonding attachment ketika mengunjungi bayi di ruang perintal.

B. RESPONS AYAH DAN KELUARGA TERHADAP BAYI


Jika ibu sudah mengandung bayi selama sembilan bulan, ayah
benar-benar merasakan kebersamaan dengan bayi saat bayi lahir.
Perkenalan ayah dengan bayi dimulai saat mereka saling bertatapan.
Seperti halnya ikatan ibu dengan bayi, kedekatan ayah dengan bayi
penting bagi tumbuh kembang bayi, Hasil penelitian Robert A Veneziano
dalam the importance of father love menyebutkan kedekatan ayah dan
bayi sangat membantu mengembangkan kemampuan sosial,
kecerdasan emosi dan perkembangan kognitif bayi.
Hasil penelitian menunjukkan 62% ayah mengalami depresi pasca
lahir atau baby blues, perasaan cemas, khawatir dan takut dapat
muncul saat seorang pria menyadari dirinya kini memiliki peran baru
yaitu sebagai ayah.
Respon dari ayah dan ibu kepada bayinya berbeda-beda hal ini
dapat disebabkan pengalaman mereka dalam mengasuh anak dan
reaksi emosi, mulai dari tingkatan kebahagiaan tapi dapat juga berupa
kesedihan yang mendalam. Situasi yang bahagia didapatkan apabila
kelahiran tersebut diinginkan dan diharapkan sebaliknya bila kelahiran
tidak diinginkan atau tidak sesuai dengan harapan maka respon mereka
menjadi tidak bahagia. Bila respon dari orangtua tidak bahagia maka
bidan perlu memahami apa yang sedang terjadi dan memfasilitasi
proses yang sehat sehingga respon orang tuanya menjadi baik.
Respon positif dapat ditunjukkan dengan:
a. Ayah dan keluarga menyambut kelahiran bayinya dengan bahagia.
b. Ayah bertambah giat bekerja untuk memenuhi kebutuhan bayi dengan
baik.
c. Ayah dan keluarga melibatkan diri dalam perawatan bayi.
d. Perasaan yang terhadap ibu yang telah melahirkan bayi.
Respon negatif dapat ditunjukkan dengan:
a. Kelahiran bayi tidak diinginkan keluarga karena jenis kelamin yang tidak
sesuai diinginkan.
b. Kurang berbahagia karena kegagalan KB.

6
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

c. Perhatian ibu pada bayi yang berlebihan yang menyebabkan ayah


merasa kurang mendapat perhatian.
d. Faktor ekonomi mempengaruhi perasaan kurang senang atau
kekhawatiran dalam membina keluarga karena kecemasan dalam biaya
hidup.
e. Rasa malu baik bagi ibu dan keluarga karena anak lahir cacat.
f. Anak yang dilahirkan merupakan hasil hubungan zina, sehingga
menimbulkan rasa malu dan aib bagi keluarga.

1) Perilaku orang tua yang mempengaruhi adanya ikatan kasih sayang


terhadap BBL:
a. Perilaku menfasilitasi:
1. Menatap, mencari ciri khas anak
2. Kontak mata
3. Memberikan perhatian
4. Mengganggap anak sebagai indifidu yang unik
5. Menganggap anak sebagai anggota keluarga
6. memberikan senyuman
7. Berbicara/bernyayi
8. Menunjukkan kebanggaan pada anak
9. Mengajak anak pada acara keluarga
10. Memahami prilaku anak dan memenuhi kebutuhan anak
11. Bereaksi positif terhadap prilaku anak.
b. Perilaku penghambat
1. Menjauh dari anak, tidak memperdulikan kehadirannya,
mrnghindar, menolak untuk menyentuh anak.
2. Tidak menempatkan anak sebagai anggota keluarga yang lain,
tidak memberikan nama pada anak
3. Menganggap anak sebagai sesuatu yang tidak disukai
4. Tidak menggenggam jarinya
5. Terburu-buru dalam menyusui
6. Menunjukkan kekecewaan pada anak dan tidak memenuhi
kebutuhannya.
2) Berikut ini kekhawatiran yang paling umum terjadi:
a. Dapatkah saya membiayai keluarga yang kini lebih besar?
Karena biaya pemeliharaan dan pendidikan anak memang semakin
mahal, bnayak ayah baru tidak bias tidur memikirkan hal ini.
b. Apakah saya akan menjadi ayah yang baik?
Seorang ayah takut jika ia tidak dapat mendidik anaknya dengan
baik karena sedikit orang terlahir umtuk menjadi ayah ibu yang
baik kebanyakkan mereka belajar dari praktek langsung, ketabahan
dan cinta.
c. Bagaimana berbagi tugas memelihara anak?
Ayah zaman dulu tidak memikirkan ini karena pemeliharaan anak
dianggap tugas perempuan tetapi sekarang merela menyadari
sebagai orang tua adlah tugas bersama
d. Haruskah menghentikan kehidupan social?
Keadaan sebelum mempunyai bayi akan sedikit berubah karena
memang perlu bayi menjadi pusat perhatian sehingga aktifitaspun
menjadi terbatas.

7
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

e. Apakah hubungan suami-istri akan berubah?


Dengan hadirnya bayi baru keinginan untuk berdua saja tidak
semudah dulu. Privasi dan keintiman yang spontan menjadi sering
kali sulit didapat. Sehingga diperlukan usaha berdua utnuk saling
menyediakan waktu bagi yang lain.

Respon keluarga seperti kakek atau nenek akan merasakan kepuasan besar karena
melihat satu generasi baru dalam keluarganya dan bahagia karena cucunya akan
mengetahui warisan dan tradisi mereka. Dengan adanya anggota keluarga lain seperti
kakek, nenek dan para sepupu akan memberikan kesempatan yang ideal bagi bayi
untuk membentuk lebih dari satu ikatan dan masing-masing ikatan akan mempunyai
nilai sendiri. Bagaimana ibu dan ayah serta keluarga berprilaku terhadap bayi baru lahir
sebagian dipengaruhi oleh faktor internal dan ekterna Bagaimana seorang ibu dan ayah
berprilaku terhadap bayi baru lahir sebagian dipengaruhi oleh faktor internal dan
ekternal.
1.Faktor internal;
a. Bagaimana mereka diurus oleh orang tua mereka; bila si ayah atau individu lain
pada waktu kecil dia dididik orang tua mereka dengan cara keras atau sering
diberikan hukuman apabila ada kesalahan sedikit sehingga kemungkinan kedekatan
antara ayah dan bayi akan sulit terbentuk dan cara ini akan diterapkan untuk
mendidik anaknya kelak.
b. Kebudayaan yang diinternalisasikan dalam diri mereka; di banyak masyarakat
masih terdapat kepercayaan bahwa ibu dan bayinya yang baru lahir tidaklah bersih,
dan diisolasi dari ayahnya selama periode yang ditetapkan, tentu saja hal ini
menyulitkan terbentuknya ikatan batin dengan sang ayah
c. Nilai-nilai kehidupan; kepercayaan dan nilai- nilai dalam kehidupan mempengaruhi
prilaku dan respon sesorang, dalam agama islam bayi yang baru lahir sesegera
mungkin di adzankan oleh sang ayah keadaan ini memberikan kesempatan ayah
unutk mencoba mengendong bayi pertama kalinya dan bayi mendengarkan suara
sang ayah.
d. Hubungan antar sesama; hubungan antar sesama akan menciptakan suatu
pengalaman seperti bila sang ayah melihat atau mendengar cerita dari temannya
bagaimana temannya bersikap terhadap anak pertamanya, bila sang ayah
mempunyai hubungan dalam lingkungannya harmonis, mudah bersolialisasi hal ini
akn menciptakan respon yang positif terhadap bayinya.
e. Riwayat kehamilan sebelumnya; apabila pada kehamilan terdahulu ibu mengalami
komplikasi dalam kehamilan seperti abortus, plasenta previa dll, akan membuat
ayah/ ibu maupun keluarga sangat menjaga dan melindungi bayi dengan sebaiknya.
2. Faktor eksternal;
a. Keinginan menjadi orang tua yang telah diimpikan; pasangan suami istri yang
sangat menginginkan anak tentu saja akan merespon kelahiran bayi dengan bangga
dan bahagia. - Perhatian yang diterima selama kehamilan, persalinan dan post
partum; perhatian dari suami dan keluarga akan menciptakan perasaan kebahagian
dan bangga akan peran nya sebagi seorang ibu persalinan.

8
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

b. Sikap dan perilaku pengunjung; pengunjung memberikan pujian dan ucapan


selamat dan melihatkan persaan bangga terhadap sibayi, hal ini akan menumbuhkan
perasaan bahagia akan kehadiran bayi.

3) Kondisi yang mempengaruhi sikap orangtua terhadap BBL


a. Kurang kasih sayang
b. Persaingan tugas orangtua
c. Pengalaman melahirkan
d. Kondisi fisik ibu setelah melahirkan
e. Cemas tentang biaya
f. Kelainan pada bayi
g. Penyesuaian diri bayi pascanatal
h. Tangisan bayi
i. Kebencian orangtua pada perawatan, privasi, dan biaya
pengeluaran
j. Gelisah tentang kenormalan bayi
k. Gelisah tentang kelangsungan hidup bayi
l. Penyakit psikologis atau penyalahgunaan alcohol dan kekerasan
anak

C. SIBLING RIVALRY
1. Pengertian
Ada beberapa pengertian sibling rivalry:
a. Kamus kedokteran Dorland (Suherni, 2008): sibling (anglo-saxon sib
dan ling bentuk kecil) anak-anak dari orang tua yang sama, seorang
saudara laki-laki atu perempuan. Disebut juga sib. Rivalry keadaan
kompetisi atau antagonisme. Sibling rivalry adalah kompetisi antara
saudara kandung untuk mendapatkan cinta kasih, afeksi dan perhatian
dari satu kedua orang tuanya, atau untuk mendapatkan pengakuan
atau suatu yang lebih.
b. Sibling rivalry adalah kecemburuan, persaingan dan pertengkaran
antara saudara laki-laki dan saudara perempuan. Hal ini terjadi pada
semua orang tua yang mempunyai dua anak atau lebih. Sibling Rivalry
merupakan suatu perasaan cemburu atau menjadi pesaing dengan bayi
atau saudara kandung yang baru dilahirkan.
Sibling rivalry adalah kecemburuan, persaingan, dan pertengkaran
antara saudara laki-laki dan perempuan. Hal ini terjadi pada semua
orangtua yang mempunyai dua anak atau lebih. Sibling rivalry atau
perselisihan yang terjadi pada anak-anak tersebut adalah hal yang
biasa bagi anak-anak usia 5-11 tahun. Bahkan kurang dari 5 tahun pun
sudah sangat mudah terjadi sibling rivalry itu. Istilah ahli psikologi
hubungan antar anak-anak seusia seperti itu bersifat ambivalent
dengan love hate relationship.
Perubahan sikap dan perilaku dengan kehadiran sibling rivalry yang
dapat ditunjukan oleh anak, antara lain:
a. Memukul bayi
b. Mendorong bayi dari pangkuan ibu
c. Menjauhkan putting susu dari mulut bayi
d. Secara verbal menginginkan bayi kembali ke perut ibu

9
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

e. Ngompol lagi
f. Kembali tergantung pada susu botol
g. Bertingkah agresif
Antisipasi terhadap perubahan sikap dan perilaku dengan menyiapkan
secara dini untuk kelahiran bayi beberapa hal, diantaranya:
a. Mulai kenalkan dengan organ reproduksi dan seksual
b. Beri penjelasan yang konkret tentang pertumbuhan bayi dalam
rahim dengan menunjukan gambar sederhana tentang uterus dan
perkembangan fetus
c. Beri kesempatan anak untuk ikut gerakan bayi
d. Libatkan anak dalam perawatan bayi
e. Beri pengertian mendasar tentang perubahan suasana rumah
seperti alasan pindah kamar
f. Lakukan aktivitas yang biasa dan lakukan dengan anak seperti
mendongeng sebelum tidur atau piknik bersama

Selain itu, faktor-faktor penyebab sibling rivalry antara lain:


1) Masing-masing anak bersaing untuk menentukan pribadi mereka,
sehingga ingin menunjukkan pada saudara mereka.

2) Anak merasa kurang mendapatkan perhatian, disiplin dan mau


mendengarkan dari orang tua mereka.

3) Anak-anak merasa hubungan dengan orang tua mereka terancam oleh


kedatangan anggota keluarga baru/ bayi.

4) Tahap perkembangan anak baik fisik maupun emosi yang dapat


mempengaruhi proses kedewasaan dan perhatian terhadap satu sama
lain.

5) Anak frustasi karena merasa lapar, bosan atau letih sehingga memulai
pertengkaran.

6) Kemungkinan, anak tidak tahu cara untuk mendapatkan perhatian atau


memulai permainan dengan saudara mereka.

7) Dinamika keluarga dalam memainkan peran.

8) Pemikiran orang tua tentang agresi dan pertengkaran anak yang


berlebihan dalam keluarga adalah normal.

9) Tidak memiliki waktu untuk berbagi, berkumpul bersama dengan


anggota keluarga.

10) Orang tua mengalami stres dalam menjalani kehidupannya.

11) Anak-anak mengalami stres dalam kehidupannya.

12) Cara orang tua memperlakukan anak dan menangani konflik yang
terjadi pada mereka.

10
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

2. Segi Positif Sibling Rivalry

Meskipun sibling rivalry mempunyai pengertian yang negatif tetapi ada


segi positifnya, antara lain:
a) Mendorong anak untuk mengatasi perbedaan dengan mengembangkan
beberapa keterampilan penting.
b) Cara cepat untuk berkompromi dan bernegosiasi.
c) Mengontrol dorongan untuk bertindak agresif.
Oleh karena itu agar segi positif tersebut dapat dicapai, maka orang tua
harus menjadi fasilitator.

3. Mengatasi Sibling Rivalry


Hal yang perlu diperhatikan orang tua untuk mengatasi sibling rivalry,
sehingga anak dapat bergaul dengan baik, antara lain:
a. Tidak membandingkan antara anak satu sama lain.
b. Membiarkan anak menjadi diri pribadi mereka sendiri.
c. Menyukai bakat dan keberhasilan anak-anak Anda.
d. Membuat anak-anak mampu bekerja sama daripada bersaing antara
satu sama lain.
e. Memberikan perhatian setiap waktu atau pola lain ketika konflik biasa
terjadi.
f. Mengajarkan anak-anak Anda cara-cara positif untuk mendapatkan
perhatian dari satu sama lain.
g. Bersikap adil sangat penting, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan
anak. Sehingga adil bagi anak satu dengan yang lain berbeda.
h. Merencanakan kegiatan keluarga yang menyenangkan bagi semua
orang.
i. Meyakinkan setiap anak mendapatkan waktu yang cukup dan
kebebasan mereka sendiri.
j. Orang tua tidak perlu langsung campur tangan kecuali saat tanda-tanda
akan kekerasan fisik.
k. Orang tua dalam memisahkan anak-anak dari konflik tidak
menyalahkan satu sama lain.
l. Jangan memberi tuduhan tertentu tentang negatifnya sifat anak.
m. Kesabaran dan keuletan serta contoh-contoh yang baik dari perilaku
orang tua sehari-hari adalah cara pendidikan anak-anak untuk
menghindari sibling rivalry yang paling bagus.

4. Peran bidan dalam mengatasi Sibling Rivalry, antara lain:


a. Bidan mengarahkan ibu untuk menyiapkan secara dini kelahiran bayinya.
b. Bidan menyarankan pada ibu untuk memberi penjelasan yang kongkrit
tentang pertumbuhan bayi dalam rahim dengan menujukan gambar
sederhana tentang uterus dan perkembangan fetus pada anak pertama
atau tertuanya.
c. Bidan menyarankan ibu untuk melibatkan anak dalam perwatan bayi.
d. Bidan mengingatkan ibu untuk selalu memberi pengertian mendasar
tentang perubahan suasana rumah seperti alasan pindah kamar.

11
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

e. Bidan menyarankan kepada ibu untuk tetap melakukan aktivitas yang


biasa dilakukan bersama anak seperti mendongeng sebelum tidur atau
piknik bersama.
f. Bidan menyarankan kepada ibu untuk tetap melakukan aktivitas yang
biasa dilakukan bersama anak seperti mendongeng sebelum tidur atau
piknik bersama.

D. PROSES ADAPTASI PSIKOLOGI IBU MASA NIFAS


Proses adaptasi psikologi sudah terjadi selama kehamilan,
menjelang proses kelahiran maupun setelah persalinan. Pada periode
tersebut, kecemasan seorang wanita dapat bertambah. Pengalaman
yang unik dialami oleh ibu setelah persalinan. Masa nifas merupakan
masa yang rentan dan terbuka untuk bimbingan dan pembelajaran.
Tanggung jawab ibu mulai bertambah. Perubahan mood seperti sering
menangis, lekas marah dan sering sedih atau cepat berubah menjadi
senang merupakan manifestasi dari emosi yang labil. Proses adaptasi
berbeda-beda antara satu ibu dengan yang lain. Pada awal kehamilan
ibu beradaptasi menerima bayi yang dikandungnya sebagai bagian dari
dirinya. Perasaan gembira bercampur dengan kekhawatiran dan
kecemasan menghadapi perubahan peran yang sebentar lagi akan
dijalani. Perubahan tubuh yang biasanya terjadi juga dapat
mempengaruhi kondisi psikologis ibu.
Menjelang proses kelahiran, kecemasan seorang wanita dapat
bertambah. Gambaran tentang proses persalinan yang diceritakan
orang lain dapat menambah kegelisahannya. Kehadiran suami dan
keluarga yang menemani selama proses berlangsung merupakan
dukungan yang tidak ternilai harganya untuk mengurangi ketegangan
dan kecemasan tersebut.
Setelah persalinan yang merupakan pengalaman unik yang
dialami ibu, masa nifas juga merupakan salah satu fase yang
memerlukan adaptasi psikologis. Ikatan antara ibu dan bayi yang sudah
lama terbentuk sebelum kelahiran akan semakin mendorong wanita
untuk menjadi ibu yang sebenarnya. Inilah pentingnya rawat gabung
atau rooming in pada ibu nifas agar ibu dapat leluasa menumpahkan
segala kasih sayang kepada bayinya tidak hanya dari segi fisik seperti
menyusui, mengganti popok saja, tapi juga dari segi psikologis seperti
menatap, mencium, sehingga kasih sayang ibu dapat terus terjaga.
Perubahan peran seorang ibu memerlukan adaptasi yang harus
dijalani. Tanggung jawab bertambah dengan hadirnya bayi yang baru
lahir. Periode masa nifas merupakan waktu dimana ibu mengalami stres
pasca persalinan, terutama pada ibu primipara.
Hal-hal yang dapat membantu ibu dalam beradaptasi pada masa nifas
adalah sebagai berikut:
1) Fungsi yang mempengaruhi untuk sukses dan lancarnya masa transisi
menjadi orang tua.
2) Respon dan dukungan dari keluarga dan teman dekat.
3) Riwayat pengalaman hamil dan melahirkan sebelumnya.
4) Harapan, keinginan dan aspirasi ibu saat hamil dan juga melahirkan.

12
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

Periode ini diekspresikan oleh Reva Rubin yang terjadi pada tiga tahap
berikut ini:
1. Taking in period
Fase taking in yaitu periode ketergantungan. Periode ini berlangsung 1-
2 hari setelah persalinan, ibu masih pasif dan sangat bergantung pada
orang lain, fokus perhatian terhadap tubuhnya, ibu lebih mengingat
pengalaman melahirkan dan persalinan yang dialami. Ibu akan berulang
kali menceritakan proses persalinan yang dialaminya dari awal sampai
akhir. Ketidaknyamanan fisik yang dialami ibu pada fase ini seperti rasa
mules, nyeri pada jahitan, kurang tidur dan kelelahan merupakan
sesuatu yang tidak dapat dihindari.
2. Taking hold period
Periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Ibu
lebih berkonsentrasi pada kemampuannya dalam menerima tanggung
jawab sepenuhnya terhadap perawatan bayi. Pada masa ini ibu menjadi
sangat sensitif seperti mudah tersinggung dan gampang marah,
sehingga membutuhkan bimbingan dan dorongan perawat untuk
mengatasi kritikan yang dialami ibu. Kita perlu berhati-hati menjaga
komunikasi dengan ibu. Dukungan moril sangat diperlukan untuk
menumbuhkan kepercayaan diri ibu.
3. Letting go period
Periode yang berlangsung 10 hari setelah melahirkan. Ibu sudah mulai
menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya. Ibu mulai secara
penuh menerima tanggung jawab sebagai seorang ibu dan menyadari
atau merasa kebutuhan bayi sangat bergantung pada dirinya.

Hal-hal yang harus dapat dipenuhi selama masa nifas adalah sebagai
berikut.
1. Fisik
Istirahat, memakan makanan bergizi, sering menghirup udara yang
segar, dan lingkungan yang bersih.
2. Psikologi
Stres setelah persalinan dapat segera distabilkan dengan dukungan dari
keluarga yang menunjukkan rasa simpati, mengakui, dan menghargai
ibu.
3. Sosial
Menemani ibu bila terlihat kesepian, ikut menyayangi anaknya,
menanggapi dan memerhatikan kebahagiaan ibu, serta menghibur bila
ibu terlihat sedih.

E. GANGGUAN PSIKOLOGI PADA MASA NIFAS

1. Post Partum Blues


Post partum blues sering juga disebut sebagai maternity blues atau
baby blues dimengerti sebagai suatu sindroma gangguan efek ringan yang
sering tampak dalam minggu pertama pasca persalinan atau merupakan
kesedihan atau kemurungan pascapersalinan, yang biasanya hanya muncul
sementara waktu yakni sekitar 2 hari 2 minggu sejak kelahiran bayi.
Biasanya disebabkan oleh perubahan perasaan yang dialami ibu saat hamil
sehingga sulit menerima kehadiran bayinya. Perubahan perasaan ini

13
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

merupakan respon alami terhadap rasa lelah yang dirasakan. Selain itu,
juga karena semua perubahan fisik dan emosional selama beberapa bulan
kehamilan. Gejala-gejalanya sebagai berikut:
a) Cemas tanpa sebab.
b) Reaksi depresi/sedih/ disforia.
c) Menangis tanpa sebab.
d) Tidak sabar.
e) Tidak percaya diri.
f) Sensitif, cepat marah dan mudah tersinggung (iriabilitas).
g) Merasa kurang menyayangi bayinya.
h) Mood mudah berubah, cepat menjadi sedih dan cepat pula gembira.
i) Perasaan terjebak, marah kepada pasangan dan bayinya.
j) Cenderung menyalahkan diri sendiri.
k) Gangguan tidur dan gangguan nafsu makan.
l) Kelelahan.
m) Sangat pelupa.

Faktor-faktor penyebab timbulnya post partum blues adalah sebagai


berikut:
1) Faktor hormonal berupa perubahan kadar estrogen progesterone,
prolaktin, serta estriol yang terlalu rendah. Kadar estrogen turun secara
tajam setelah melahirkan dan ternyata estrogen memiliki efek supresi
aktifitas enzim non-adrenalin maupun serotin yang berperan dalam
suasana hati dan kejadian depresi.
2) Ketidaknyaman fisik yang dialami sehingga menimbulkan perasaan
emosi pada wanita pasca melahirkan misalnya, rasa sakit akibat luka
jahit atau bengkak pada payudara.
3) Ketidakmampuan beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang
terjadi, seperti perubahan fisik dan emosional yang kompleks.
4) Faktor umur dan paritas (jumlah anak).
5) Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinannya.
6) Latar belakang psikososial wanita tersebut misalnya, tingkat
pendidikan, kehamilan yang tidak diinginkan, status perkawinan, atau
riwayat gangguan jiwa pada wanita tersebut.
7) Dukungan yang diberikan dari lingkungan, misalnya dari suami, orang
tua dan keluarga.
8) Stres dalam keluarga misalnya, faktor ekonomi memburuk, persoalan
dengan suami, problem dengan mertua atau orang tua.
9) Stres yang dialami oleh wanita itu sendiri misalnya, karena belum bisa
menyusui bayinya atau ASI tidak keluar, frustasi karena bayi tidak mau
tidur, rasa bosan terhadap rutinitas barunya.
10) Kelelahan pasca melahirkan.
11) Ketidaksiapan terhadap perubahan peran yang dialami ibu dan
adanya rasa cemas terhadap kemampuan merawat bayi
12) Rasa memiliki bayinya yang terlalu dalam, sehingga timbul rasa
takut yang berlebihan akan kehilangan bayinya.
13) Problem anak setelah kelahiran bayi, kemungkinan timbul rasa
cemburu dari anak sebelumnya, sehingga hal tersebut cukup
mengganggu emosional ibu.

14
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

2. Post Partum Depression/Neurosa Post Partum


Depresi post partum merupakan tekanan jiwa sesudah melahirkan
mungkin seorang ibu baru akan merasa benar-benar tidak berdaya dan
merasa serba kurang mampu, tertindih oleh beban terhadap tangung
jawab terhadap bayi dan keluarganya, tidak bisa melakukan apapuan
untuk menghilangakan perasaan itu. Depresi post partum dapat
berlangsung selama 3 bulan atau lebih dan berkembang menjadi
depresi lain lebih berat atau lebih ringan. Gejalanya sama saja tetapi di
samping itu, ibu mungkin terlalu memikirkan kesehatan bayinya dan
kemampuanya sebagai seorang ibu.
Walaupun banyak wanita yang mengalami depresi post partum
segera setelah melahirkan, namun beberapa wanita tidak merasakan
tanda depresi sampai beberapa minggu atau beberapa bulan kemudian.
Depresi dapat saja terjadi dalam kurun waktu enam bulan berikutnya.
Depresi post partum mungkin saja berkembang menjadi post partum
psikosis, walaupun jarang terjadi. Keluhan dan gejala depresi
postpartum tidak berbeda dengan yang terdapat pada kelainan depresi
lainnya.

Gejala-gejala yang mungkin diperlihatkan pada penderita depresi post partum adalah
sebagai berikut:
a. Perasaan sedih dan kecewa.
b. Sering menangis.
c. Merasa gelisah dan cemas.
d. Kehilangan ketertarikan terhadap hal-hal yang menyenangkan dan sukar
konsentrasi.
e. Nafsu makan menurun / anorexia
f. Kehilangan energi dan motivasi untuk melakukan sesuatu.
g. Phobia, rasa takut yang irasional terhadap suatu benda atau keadaan yang tidak
dapat dihilangakan (paranoid).
h. Tidak bisa tidur (insomnia) dan terkadang mimpi buruk.
i. Perasaan bersalah dan putus harapan (hopeless), hingga pikiran mau bunuh diri.
j. Penurunan atau peningkatan berat badan yang tidak dapat dijelaskan.
k. Memperlihatkan penurunan keinginan untuk mengurus bayinya dan terkadang ingin
menyakiti bayinya atau dirinya sendiri.

Faktor terjadinya depresi post partum diantaranya adalah, kurangnya


dukungan sosial dan dukungan keluarga serta teman, kekhawatiran akan bayi yang
sebetulnya sehat, kesulitan selama persalinan dan melahirkan, merasa terasing,
masalah/perselisihan perkawinan atau keuangan, kehamilan yang tidak diinginkan.

15
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

Adapun faktor lain yang dapat mempengaruhi terjadinya neurosa post partum,
antara lain:
1) Biologis. Faktor biologis dijelaskan bahwa depresi post partum sebagai akibat
kadar hormon seperti estrogen, progesteron dan prolaktin yang terlalu tinggi atau
terlalu rendah dalam masa nifas atau mungkin perubahan hormon tersebut terlalu
cepat atau terlalu lambat.
2) Faktor umur. Sebagian besar masyarakat percaya bahwa saat yang tepat bagi
seorang perempuan untuk melahirkan pada usia antara 20-30 tahun, dan hal ini
mendukung masalah periode yang optimal bagi perawatan bayi oleh seorang ibu.
Faktor usia perempuan yang bersangkutan saat kehamilan dan persalinan seringkali
dikaitkan dengan kesiapan mental perempuan tersebut untuk menjadi seorang ibu.
3) Faktor pengalaman. Depresi pasca persalinan ini lebih banyak ditemukan pada
primipara, mengingat bahwa peran seorang ibu dan segala yang berkaitan dengan
bayinya merupakan situasi yang sama sekali baru bagi dirinya dan dapat
menimbulkan stres.
4) Faktor pendidikan. Perempuan yang berpendidikan tinggi, menghadapi tekanan
sosial dan konflik peran, antara tuntutan sebagai perempuan yang memiliki
dorongan untuk bekerja atau melakukan aktifitasnya diluar rumah dengan peran
mereka sebagai ibu rumah tangga dan orang tua dari anak-anak mereka.
5) Faktor selama proses persalinan. Hal ini mencakup lamanya persalinan, serta
intervensi medis yang digunakan selama proses pesalinan. Diduga semakin besar
trauma fisik yang ditimbulkan pada saat persalinan maka akan semakin besar pula
trauma psikis yang muncul dan kemungkinan perempuan yang bersangkutan akan
menghadapi depresi pasca persalinan.
6) Faktor dukungan sosial. Banyaknya kerabat yang membantu pada saat kehamilan,
persalinan, dan pasca persalinan, beban seorang ibu karena kehamilannya sedikit
banyak berkurang.

3. Psikosis Post Partum (Post Partum Psychosis)


Insiden terjadinya psikosis port partum adalah 1-2 per 1000
kelahiran. Pada kasus tersebut sebaiknya ibu dirawat karena dapat
menampakkan gejala yang membahayakan seperti, menyakiti diri
sendiri atau bayinya. Hal tersebut merupakan penyakit yang sangat
serius dan merupakan depresi yang paling berat, bahkan bisa sampai
membunuh anak-anaknya.

16
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

Gejala psikosis port partum, diantaranya:


a) Gangguan tidur.
b) Gaya bicara yang keras dan cepat marah.
c) Inkoheren (berbicaranya kacau).
d) Menarik diri dari pergaulan.
e) Pikiran obsesif (pikiran yang menyimpang dan berulang-ulang).
f) Impulsif (bertindak diluar kesadaran).
g) Curiga berlebihan.
h) Delusi dan halusinasi.
i) kebingungan.
j) Sulit konsentrasi.

Faktor pemicu psikosis post partum, antara lain:


1) Faktor keturunan atau adanya riwayat keluarga menderita kelainan
psikiatri.
2) Riwayat penyakit dahulu menderita penyakit psikiatri.
3) Adanya masalah keluarga dan perkawinan
4) Faktor sosial kultural (dukungan suami dan keluarga, kepercayaan atau
etnik)
5) Faktor obstetrik dan ginekologik (kondisi fisik ibu dan kondisi fisik bayi)
6) Faktor psikososial (adanya stresor psikososial, faktor kepribadian,
riwayat mengalami depresi, penyakit mental, problem emosional, dll)
7) Karakter personal seperti harga diri yang rendah.
8) Perubahan hormonal yang cepat.
9) Masalah medis dalam kehamilan (pre eklampsia, DM).
10) Marital disfungsion atau ketidak mampuan membina hubungan
dengan orang lain yang mengakibatkan kurangnya dukungan.
11) Unwanted pregnancy atau kehamilan tidak di inginkan
12) Merasa terisolasi dan adanya ketakutan akan melahirkan anak
cacat atau tidak sempurna.

4. Cara Mencegah dan Menangani Gangguan Psikologi Pada Masa Nifas


a. Pencegahan
Beberapa intervensi berikut dapat membantu seorang wanita terbebas
dari ancaman depresi setelah melahirkan.
1. Pelajari Diri Sendiri
Pelajari dan mencari informasi mengenai depresi post partum, sehingga
ibu dan keluarga sadar terhadap kondisi ini. Apabila terjadi, maka ibu
akan segera mendapatkan bantuan secepatnya.
2. Tidur dan Makan yang Cukup
Diet nutrisi cukup penting untuk kesehatan, lakukan usaha yang terbaik
dengan makan dan tidur yang cukup. Keduanya penting selama periode
post partum dan kehamilan.
3. Olahraga
Olahraga adalah kunci untuk mengurangi depresi post partum. Lakukan
peregangan selama 15 menit dengan berjalan setiap hari, sehingga
membuat ibu merasa lebih baik dan menguasai emosi berlebihan dalam
dirinya.

17
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

4. Hindari Perubahan Hidup Sebelum atau Sesudah Melahirkan


Jika memungkinkan, hindari membuat keputusan besar seperti membeli
rumah atau pindah kerja, sebelum atau setelah melahirkan. Tetaplah
hidup secara sederhana dan menghindari stres, sehingga dapat segera
dan lebih mudah menyembuhkan depresi post partum yang diderita.
5. Beritahukan Perasaan Ibu
Jangan takut untuk berbicara dan mengekspresikan perasaan yang ibu
inginkan dan butuhkan demi kenyamanan ibu. Jika memiliki masalah
dan merasa tidak nyaman terhadap sesuatu, segera beritahukan kepada
pasangan atau orang terdekat.
6. Dukungan Keluarga dan Orang Lain Diperlukan
Dukungan dari keluarga atau orang yang ibu cintai selama melahirkan
sangat diperlukan. Ceritakan kepada pasangan atau orang tua, atau
siapa saja yang bersedia menjadi pendengar yang baik. Yakinkan diri,
bahwa mereka akan selalu berada di sisi ibu setiap mengalami
kesulitan.
7. Persiapkan Diri dengan Baik
Persiapan sebelum melahirkan sangatlah diperlukan. Ikutlah kelas
senam hamil yang sangat membantu serta buku atau artikel lainnya
yang ibu perlukan. Kelas senam hamil akan sangat membantu ibu
dalam mengetahui berbagai informasi yang diperlukan, sehingga
nantinya ibu tidak akan terkejut setelah keluar dari kamar bersalin. Jika
ibu tahu apa yang diinginkan, pengalaman traumatis saat melahirkan
akan dapat dihindari.
8. Lakukan Pekerjaan Rumah Tangga
Pekerjaan rumah tangga sedikitnya dapat membantu ibu melupakan
gejolak perasaan yang terjadi selama periode post partum. Kondisi ibu
yang belum stabil bisa dicurahkan dengan memasak atau
membersihkan rumah.
9. Dukungan Emosional
Dukungan emosi dari lingkungan dan juga keluarga akan membantu ibu
dalam mengatasi rasa frustasi yang menjalar. Ceritakan kepada mereka
bagaimana perasaan serta perubahan kehidupan yang ibu alami,
sehingga ibu merasa lebih baik setelahnya.
10.Dukungan Kelompok Depresi Post Partum
Dukungan terbaik datang dari orang-orang yang ikut mengalami dan
merasakan hal yang sama dengan ibu. Carilah informasi mengenai
adanya kelompok depresi post partum yang bisa diikuti, sehingga ibu
tidak merasa sendirian menghadapi persoalan ini.

b. Penanganan
Cara untuk menangani gangguan psikologi post partum, antara lain:
1. Dengan cara pendekatan terapeutik. Ini bertujuan menciptakan
hubungan baik antara bidan dengan pasien dalam rangka
kesembuhannya dengan cara:
a) Mendorong pasien mampu meredakan segala ketegangan emosi
b) Dapat memahami dirinya
c) Dapat mendukung tindakan konstruktif

18
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

2. Dengan cara peningkatan suport mental/dukungan keluarga kepada ibu


dan jangan mengabaikan ibu bila terlihat sedang sedih agar tidak
merasa kehilangan perhatian.
3. Minta bantuan suami atau keluarga yang lain jika membutuhkan
istirahat untuk menghilangkan kelelahan.
4. Beritahu suami mengenai apa yang sedang dirasakan ibu, mintalah
dukungan dan pertolongannya.
5. Menyarankan ibu untuk membuang rasa cemas dan kekhawatiran akan
kemampuan merawat bayi karena semakin sering merawat bayi, ibu
akan semakin terampil dan percaya diri.
6. Menyarankan ibu untuk mencari hiburan dan meluangkan waktu untuk
diri sendiri
7. Menyarankan pada ibu untuk beristirahat dengan baik, berolahraga
yang ringan, berbagi cerita dengan orang lain, bersikap fleksibel,
bergabung dengan orang-orang baru.

F. KESEDIHAN DAN DUKA CITA


Duka cita adalah suatu respons fisiologis terhadap kehilangan.
Kesedihan adalah reaksi individu terhadap kehilangan sesuatu yang
sangat bernilai dalam konteks, tidak hanya ketika orang tua mengalami
kehilangan bayinya tetapi juga mengalami komplikasi dalam persalinan.
Duka cita sangat bervariasi tergantung pada apa yang hilang dan
persepsi individual dan keterlibatannya dengan apa pun yang hilang.
Derajat kehilangan setiap individu dicerminkan melalui respons
kehilangan. Krisis kehidupan situasional dapat dialami pada usia subur
bila suatu keluarga mengalami infertilitas, persalinan premature,
kelahiran section, jenis kelamin anak tidaks esuai dengan apa yang
diharapkan, bayi yang dilahirkan cacat atau meninggal dalam
kandungan.

Krisis emosi sebagai reaksi terhadap kehilangan secara fisiologi:


1. Shock atau kematian rasa (2 minggu).
2. Keingintahuan atau kerinduan (2 minggu sampai 2 bulan). Merasa
marah, merasa bersalah dan membingungkan.
3. Disorganisasi (lama kelamaan akan melupakan dengan berlangsungnya
waktu 5 sampai 9 bulan).
4. Reorganisasi (pasangan sudah merasa baik).

Tabel Tanda dan Gejala Kesedihan dan Duka Cita


FISIK PSIKIS SOSIAL
Lemah, letih, Marah Menarik diri
lesu (anger) (with drawl)
(exhaustion)
Kurang nafsu Rasa bersalah Memisahkan diri
makan (guilt) (isolasi)
(lost of
opposite)
Berat badan Benci
berkurang (bitterness)
(weight lose)

19
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

Gangguan tidur Sedih


(sleeping (sadness)
problem)
Gangguan Stress
penglihatan (depresi)
(bludder vision)
Sumber: Rubin

Penanganan seorang bidan jika menemukan kasus kematian adalah:


1. Mendengarkan.
2. Mengetahui penyebab terjadinya duka.
3. Memberikan informasi kepada klien tetapi dengan tidak menyalahkan
salah satu pihak.

Berduka adalah akhir dari yang lain dari kontinum emosi yang berat
pada masa menyusui anak. Berduka yang paling besar adalah disebabkan
karena kematian bayi meskipun kematian terjadi saat kehamilan. Bidan
harus memahami psikologis ibu dan ayah untuk membantu mereka
melewati pasca berduka dengan cara yang sehat. Berduka adalah respons
psikologis terhadap kehilangan. Proses berduka terdiri dari tahap atau fase
identifikasi respons tersebut. Tugas berduka, istilah ini diciptakan oleh
Lidermann, menunjukkan tugas bergerak melalui tahap proses berduka
dalam menentukan hubungan baru yang signifikan. Berduka adalah proses
normal dan tugas berduka penting agar berduka tetap normal. Kegagalan
untuk melakukan tugas berduka, biasanya disebabkan keinginan untuk
menghindari nyeri yang sangat berat dan stress serta ekspresi yang penuh
emosi. Sering kali menyebabkan reaksi berduka abnormal atau patologis.
Proses berduka sangat bervariasi, bergantung pada apa yang hilang,
persepsi dan keterlibatan individual apa pun yang hilang tersebut.
Kehilangan dapat memiliki rentang dari pembatalan kegiatan yang
direncakan (contohnya piknik, perjalanan atau pesta) hingga kematian
orang yang dicintai. Seberapa berat kehilangan bergantung pada persepsi
individu yang menderita kehilangan. Contohnya kematian dapat
menimbulkanrespons berduka yang ringan atau berat tergantung pada
hubungan dan keterlibatan individu dengan orang yang meninggal.
Kehilangan matematis termasuk hal yang dialami oleh wanita yang
mengalami infertilitas yang meliputi kehilangan bayi (aborsi, keguguran,
lahir mati, memberikan bayi untuk diadopsi), yang mendapatkan bayi
terus-menerus hidup tapi kehilangan harapan (karena prematuritas,
abnormalitas congenital), dan kehilangan yang dibahas sebagai faktor
kausatif postpartum blues (kehilangan keintiman internal dengan bayinya,
hilangnya perhatian).

20
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

D. LATIHAN

1. Jelaskan pengertian Bounding Attachment!


Jawab :

Bounding merupakan suatu hubungan yang berawal dari saling


mengikat di antara orang tua dan anak, ketika pertama kali bertemu.
Attachment adalah suatu perasaan kasih sayang yang meningkat satu
sama lain setiap waktu dan bersifat unik dan memerlukan kesabaran.
Hubungan antara ibu dengan bayinya harus dibina setiap saat untuk
mempererat rasa kekeluargaan. Jadi, bounding attachment adalah
sebuah peningkatan hubungan kasih sayang dengan keterikatan batin
antara orang tua dan bayi.

2. Jelaskan pengertian Sibling Rivalry menurut Kamus Kedokteran Dorland


(Suherni 2008)!
Jawab :

Sibling (anglo-saxon sib dan ling bentuk kecil) anak-anak dari orang tua
yang sama, seorang saudara laki-laki atu perempuan. Disebut juga sib.
Rivalry keadaan kompetisi atau antagonisme. Sibling rivalry adalah
kompetisi antara saudara kandung untuk mendapatkan cinta kasih,
afeksi dan perhatian dari satu kedua orang tuanya, atau untuk
mendapatkan pengakuan atau suatu yang lebih.

3. Apa saja perubahan sikap dan perilaku dengan kehadiran Sibling Rivalry
yang dapat ditunjukkan oleh anak?
Jawab :

h. Memukul bayi
i. Mendorong bayi dari pangkuan ibu
j. Menjauhkan putting susu dari mulut bayi
k. Secara verbal menginginkan bayi kembali ke perut ibu
l. Ngompol lagi
m. Kembali tergantung pada susu botol
n. Bertingkah agresif

4. Sebutkan hal-hal yang dapat membantu ibu dalam beradaptasi pada


masa nifas!
Jawab :

1. Fungsi yang mempengaruhi untuk sukses dan lancarnya masa transisi


menjadi orang tua.
2. Respon dan dukungan dari keluarga dan teman dekat.
3. Riwayat pengalaman hamil dan melahirkan sebelumnya.
4. Harapan, keinginan dan aspirasi ibu saat hamil dan juga melahirkan.

21
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

5. Apa saja gejala psikosis post partum?


Jawab :
k) Gangguan tidur.
l) Gaya bicara yang keras dan cepat marah.
m) Inkoheren (berbicaranya kacau).
n) Menarik diri dari pergaulan.
o) Pikiran obsesif (pikiran yang menyimpang dan berulang-ulang).
p) Impulsif (bertindak diluar kesadaran).
q) Curiga berlebihan.
r) Delusi dan halusinasi.
s) kebingungan.
t) Sulit konsentrasi.

6. Apa yang harus dilakukan oleh Bidan jika menemukan kasus kematian?
Jawab :
4. Mendengarkan.
5. Mengetahui penyebab terjadinya duka.
6. Memberikan informasi kepada klien tetapi dengan tidak menyalahkan
salah satu pihak.

22
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

E. RANGKUMAN

Bounding attachment adalah sentuhan awal /kontak kulit antara ibu dan
bayi pada menit menit pertama sampai beberapa jam sejak kelahiran
bayi. Dalam hal ini, kontak ibu dan ayah akan menentukan tumbuh
kemban anak menjadi optimal. Masa transisi mengkaji keluarga dan
menemukan bahwa orang tua berfokus pada penyediaan lingkungan untuk
pertumbuhan, perkembangan, dan pengasuhan anak-anak. Mengingat
bahwa komitmen yang diberikan seumur hidup memiliki makna bagi para
orang tua, adaptasi diri yang sukses sejak dini terhadap peran menjadi
orang tua ini merupakan hal yang sangat penting.
Disamping peran ibu yang sangat penting dalam keluarga, peran ayah
pun juga penting dalam mengasuh dan merawat bayi. Sebaiknya ayah dan
ibu dalam membina keluarga saling mendukung karena faktor saling
dukung merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam membina
keluarga. Melibatkan kehadiran ayah dalam mengasuh anak tidak kalah
pentingnya dengan kehadiran ibu
Bidan dapat membantu memberi dukungan dan persiapan untuk
menjadikan suami dan istri menjadi ayah dan ibu. Sibling rivalry adalah
rasa persaingan saudara kandung terhadap kelahiran adiknya. Biasanya,
hal tersebut terjadi pada anak dengan usia toddler (pada anak 2-3 tahun)
yang juga dikenal dengan usiaerlaku nakal pada anak. Peran bidan dalam
mengatasi sibling rivalry, antara lain: Mengajarkan kepada ibu untuk selalu
mengajak anaknya ketika periksa kehamilannya supaya saudara
kandungnya atu kaka bagi adiknya tidak kaget atau sudah siap menjadi
kaka dan bisa merawat adiknya.
Setelah melahirkan, ibu mengalami perubahan fisik dan fisiologis yang
juga mengakibatkan adanya beberapa perubahan dari psikisnya.
Perubahan psikologis mempunyai peranan yang sangat penting. Pada masa
ini, ibu nifas menjadi sangat sensitif, sehingga diperlukan pengertian dari
keluarga-keluarga terdekat. Peran bidan sangat penting dalam hal
memberi pegarahan pada keluarga tentang kondisi ibu serta pendekatan
psikologis yang dilakukan bidan pada ibu nifas agar tidak terjadi perubahan
psikologis yang patologis.
Dalam teori Reva Rubin membagi peiode ini menjadi 3 bagian, yaitu
periode taking in, periode talking hold dan teori letting go. Adapun Faktor-
faktor yang mempengaruhi suksesnya masa transisi ke masa menjadi
orang tua pada saat post partum antara lain, respon dan dukungan
keluarga dan teman, hubungan dari pengalaman melahirkan terhadap
harapan dan aspirasi, dan membesarkan anak yang lalu, serta pengaruh
budaya.

23
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

F. TESFORMATIF

1) Suatu proses dimana sebagai hasil dari suatu interaksi terus menerus
antara bayi dan orang tua disebut
a. Sibling Rivalry
b. Metode Kangguru
c. Bounding Attachment
d. Bounding
e. Attachment

2) Bounding attachment adalah


a. Usaha mendekatkan bayi kepada ibunya
b. Usaha pemberian ASI awal pada bayi
c. Usaha membantu pernafasan pada bayi
d. Usaha membantu menjaga kehangatan bayi
e. Usaha dalam memberikan kenyamanan pada ibu dan bayi

3) Ada tiga bagian dasar periode dimana keterikatan antara ibu dan bayi
berkembang yaitu
a. Prenatal dan Intranatal
b. Intranatal dan Postnatal
c. Prenatal dan Postnatal
d. Post natal
e. Prenatal, intranatal dan postnatal

4) Ny. K melahirkan anak pertama perempuan di BPS Ratna, satu jam


yang lalu, BB 3000gram, PB 50cm. plasenta lahir spontan lengkap. Hasil
pengkajian KU ibu baik, TD 110/70 mmHg, nadi 76x/menit, kontraksi
teraba keras, TFU 2 jari dibawah pusat. Ny K mengeluh perut mulas,
PPV berwarna merah dan nyeri pada luka jahitan. Ia merasa cemas
dengan keadaannya. Tindakan untuk Ny K sesuai dengan keadaannya
a. Memasang gurita
b. Melakukan massase uterus
c. Memasang tampon vagina
d. Menduduki sesuatu yang hangat
e. Melakukan bounding attachment

5) Yang tidak termasuk cara-cara dalam melakukan bounding attachment


adalah
a. Pemberian ASI ekslusif
b. Rawat gabung
c. Inisiasi dini
d. Bahasa tubuh
e. Gaya Bahasa (entrainment)

6) Salah satu penelitian menunjukkan bahwa kedekatan ayah dan bayi


sangat membantu mengembangkan kemampuan sosial, kecerdasan
emosi dan perkembangan kognitif bayi. Penelitian ini tercantum dalam
the importance of father love yang dimiliki oleh

24
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

a. Reva Rubin

b. Robert A. Veneziano

c. Benzino

d. Newman Dorland

e. Albert Vivian

7) Ketika bayi baru lahir, maka suami akan merasa bahagia dan juga
prihatin yang disebabkan oleh salah satu faktor dibawah ini adalah?

a) Budaya yang bertentangan dengan kesehatan kuat

b) Peralihan menjadi kepala keluarga

c) Bertambah tanggung jawabnya sebagai seorang ayah karena


otomatis ia akan bekerja lebih giat lagi

d) Kesiapan berumah tangga kurang

e) Gelisah tentang kemampuan merawat dan mendidik


anaknya (pesimis akan keberhasilannya sebagai seorang
ayah)

8) Urutan yang tepat dari tahap penyesuaian diri menjadi orang tua
berikut ini adalah?

a) Tahap I: Kenyataan

Tahap II: Peralihan menjadi Kepala Keluarga

Tahap III: Kenyataan

b) Tahap I: Kesiapan

Tahap II: Kemantapan

Tahap III: Kenyataan

c) Tahap I: Harapan

Tahap II: Kenyataan

Tahap III: Peralihan menjadi Kepala Keluarga

d) Tahap I: Kenyataan

Tahap II: Peralihan menjadi Kepala Keluarga

Tahap III: Dukungan Sosial suami kurang

25
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

e) Tahap I: Harapan

Tahap II: Kekhawatiran pada bayinya

Tahap III: Tanggung jawab bertambah

9) Kemampuan ayah dalam beradaptasi dengan kelahiran bayi dipengaruhi


oleh keterlibatan ayah selama kehamilan, partisipasi saat persalinan,
struktur keluarga, identifikasi jenis kelamin, tingkat kemampuan dalam
penampilan dan latar belakang kultural. Salah satu cirri-cirinya adalah

a) Dapat memberikan rangsangan dengan sentuhan dan


kontak mata, berkomunikasi dan cirri-ciri yang sama
dengan dirinya, menegaskan bahwa bayi itu adalah
bayinya.

b) Memberikan rangsangan berupa kontak fisik seperti memeluk,


mencium sang bayi dan membantu istri memakaikan
baju/bedong kepada bayinya.

c) Dapat memberikan ranagsangan dengan mengajak berbicara


bayinya kemudian menggendongnya supaya bayinya tahu jika ia
adalah ayahnya.

d) Dapat memberikan sentuhan dari kulit ke kulit dan menirukan


apa yang bayinya lakukan.

e) Memberikan pendidikan norma langsung kepada bayinya agar


bayinya sopan di masa dewasanya nanti

10) Salah satu faktor internal dari bagaimana ibu dan ayah serta
keluarga berprilaku terhadap

baru lahir adalah?

a) Bagaimana mereka diurus oleh orang tua mereka; bila si


ayah atau individu lain pada waktu kecil dia dididik orang
tua mereka dengan cara keras atau sering diberikan
hukuman apabila ada kesalahan sedikit sehingga
kemungkinan kedekatan antara ayah dan bayi akan sulit
terbentuk dan cara ini akan diterapkan untuk mendidik
anaknya kelak.

b) Sikap dan perilaku pengunjung; pengunjung memberikan pujian


dan ucapan selamat dan melihatkan persaan bangga terhadap
sibayi, hal ini akan menumbuhkan perasaan bahagia akan
kehadiran bayi.

c) Keinginan menjadi orang tua yang telah diimpikan; pasangan


suami istri yang sangat menginginkan anak tentu saja akan

26
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

merespon kelahiran bayi dengan bangga dan bahagia. -


Perhatian yang diterima selama kehamilan, persalinan dan post
partum; perhatian dari suami dan keluarga akan menciptakan
perasaan kebahagian dan bangga akan peran nya sebagi
seorang ibu persalinan.

d) Dukungan emosi dari lingkungan dan juga keluarga akan


membantu ibu dalam mengatasi rasa frustasi yang menjalar.
Ceritakan kepada mereka bagaimana perasaan serta perubahan
kehidupan yang ibu alami, sehingga ibu merasa lebih baik
setelahnya.
e) Jika memungkinkan, hindari membuat keputusan besar seperti
membeli rumah atau pindah kerja, sebelum atau setelah
melahirkan. Tetaplah hidup secara sederhana dan menghindari
stres, sehingga dapat segera dan lebih mudah menyembuhkan
depresi post partum yang diderita.

11) Perasaan cemburu atau menjadi pesaing dengan bayi atau


saudara kandung yang baru dilahirkan disebut
a. Bounding
b. Sibling
c. Attachment
d. Sibling Rivalry
e. Rivalry

12) Sibling Rivalry dapat timbul terhadap:


a. Ayah.
b. Anak yang lebih tua (Kakak).
c. Ibu
d. Jawaban a dan b benar.
e. Semua jawaban benar.

13) Hal hal yang dapat mencegah terjadinya sibling rivalry adalah
a. Menjauhkan anak yang lebih tua dari bayi.
b. Melarang untuk memegang/ mencium bayi.
c. Melibatkan anak dalam tugas-tugas ringan perawatan
bayi.
d. Menitipkan anak yang lebih tua ke rumah nenek.
e. Mengacuhkan anak yang lebih tua.

14) Perubahan sikap dan perilaku yang ditunjukan anak akibat


terjadinya sibling rivalry adalah
a. Mendorong bayi dari pangkuan ibu
b. Anak menjadi pribadi mereka sendiri
c. Mempunyai bakat yang semakin menonjol
d. Anak anak mengalami stress dalam hidupnya
e. Anak frustasi karena lapar, bosan, atau letih sehingga bertengkar

15) Bidan memberi informasi pada ibu bahwa memberi kesempatan


anak untuk ikut gerakan janin/adiknya dapat menjalin kasih sayang

27
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

antara keduanya, dan anak akan mengerti akan kehadiran adiknya,


merupakan peran bidan dalam mengatasi
a. Sibling Rivalry
b. Metode Kangguru
c. Bounding Attachment
d. Bounding
e. Attachment

16) Perubahan sikap ibu yang terjadi pada saat postpartum disebut
a. Adaptasi psikologis
b. Proses adaptasi
c. Proses adaptasi psikologis
d. Proses adaptasi psikologis ibu masa nifas
e. Adaptasi psikologis ibu masa nifas

17) Dalam awal masa nifas, perasaan ibu menjadi lebih


a. Gembira
b. Sensitif
c. Malu
d. Agresif
e. Senang

18) Periode ketergantungan yang berkelanjutan dari hari pertama


sampai hari kedua setelah melahirkan adalah fase
a. Fase taking go
b. Fase taking in
c. Fase taking hold
d. Fase letting go
e. Fase letting in

19) Fase apakah yang merupakan kesempatan yang baik untuk bidan
memberikan penyuluhan
a. Fase taking go
b. Fase taking on
c. Fase taking hold
d. Fase letting go
e. Fase letting in

20) Fase dimana ibu merasa khawatir akan ketidakmampuan dalam


merawat bayi serta mudah tersinggung terjadi pada hari ke .
a. 1-2
b. 3-6
c. 3-10
d. >10
e. 10-15

21) Dimengerti sebagai suatu sindroma gangguan efek ringan yang


sering tampak dalam minggu pertama pasca persalinan atau merupakan
kesedihan atau kemurungan pascapersalinan, yang biasanya hanya

28
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

muncul sementara waktu yakni sekitar 2 hari 2 minggu sejak


kelahiran bayi, pengertian dari?

a. Abortus

b. Post Partum

c. Atonia Uteri

d. Retensio Plasenta

e. Maternity blues atau baby blues

22) Ada berapa gejala-gejala dari Post partum blues?

a. 10 gejala

b. 11 gejala

c. 12 gejala

d. 13 gejala

e. 14 gejala

23) Faktor hormonal, Ketidaknyaman fisik, Ketidakmampuan


beradaptasi, Faktor umur dan paritas, faktor-faktor tersebut merupakan
faktor penyebab dari?

a. Post Partum

b. Atonia Uteri

c. Abortus

d. Maternity blues atau baby blues

e. Retensia Plasenta

24) Merupakan tekanan jiwa sesudah melahirkan mungkin seorang


ibu baru akan merasa benar-benar tidak berdaya dan merasa serba
kurang mampu, tertindih oleh beban terhadap tangung jawab terhadap
bayi dan keluarganya, tidak bisa melakukan apapuan untuk
menghilangakan perasaan itu, merupakan pengertian dari?

a. Atonia uteri

b. Depresi post partum

c. Maternity blues

29
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

d. Retensio plasenta

e. Post partum

25) Depresi post partum dapat berlangsung selama?

a. Dua bulan atau lebih

b. Tiga bulan atau lebih

c. Empat bulan atau lebih

d. Lima abulan atau lebih

e. Enam bulan atau lebih

26) Mengapa seseorang bisa mengalami duka cita?


a. Karena seseorang tersebut merasa bahagia
b. Karena seseorang tersebut merasa keinginannya telah tercapai
c. Karena seseorang tersebut merasa kehilangan sesuatu
d. Karena seseorang tersebut merasa mendapatkan sesuatu
e. Karena seseorang tersebut merasa telah membuang sesuatu

27) Mengapa seseorang bisa mengalami kesedihan?


a. Karena seseorang tersebut merasa mendapatkan sesuatu
b. Karena seseorang tersebut merasa telah menyianyiakan sesuatu
c. Karena seseorang tersebut merasa kehilangan sesuatu
yang sangat bernilai
d. Karena seseorang tersebut merasa nyaman
e. Karena seseorang tersebut merasa mmebuang sesuatu

28) Tanda dan Gejala Kesedihan dan Duka Cita, yaitu fisiknya
terlihat
a. Lemah, letih, lesu, Kurang nafsu makan, Berat badan
berkurang, Gangguan tidur, Gangguan penglihatan
b. Lemah, nafsu makan meningkat, berat badan bertambah, tidur
nyanyak
c. Penglihatan tidak terganggu, Letih, Kurang nafsu makan, berat
badan berkurang
d. Lesu, nafsu makan meningkat, berat badan bertambah,
penglihatan terganggu
e. Lemah, letih, lesu, nafsu makan meningkat, Berat badan
bertambah, Gangguan tidur, Gangguan penglihatan
29) Tanda dan Gejala Kesedihan dan Duka Cita, bagaimana
psikisnya?

a. Marah, rasa bersalah, benci, tertawa, stres

b. Marah, rasa bersalah, benci, sedih, stres

30
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

c. Marah, rasa bersalah, benci, gembira, stres

d. Marah, rasa bersalah, benci, tersenyum, stres

e. Biasa saja

30) Yang bukan termasuk penanganan seorang bidan jika


menemukan kasus kematian adalah?

a. Mendengarkan dan Mengetahui penyebab terjadinya duka

b. Memberikan informasi kepada klien tetapi dengan tidak


menyalahkan salah satu pihak

c. Meninggalkan klien begitu saja

d. Menyalahkan klien

e. Jawaban c dan d benar

31
Modul Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

G. DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati. 2008. Asuhan Kebidanan Nifa. Yogyakarta: Mitra Cendikia


(hlm 63-65)
Newman Dorland, W. A. 2011. Kamus Saku Kedokteran Dorland Edisi
28. Jakarta: EGC
Marmi, 2012. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas Peuperium Care.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Nurjanah, Siti Nunung, S.ST dkk. 2013. Asuhan Kebidanan Postpartum
Edisi Pertama. Bandung: Refika Aditama
Siwi Walyani, Elisabeth, A.Md.Keb dan Th. Endang Purwoastuti, S.Pd,
APP. 2015. Yogyakarta: Pustaka Baru Press

32