Anda di halaman 1dari 5

MAKALAH PEREKONOMIAN

Mengubah Ukuran dan Perubahan Ukuran :


Pertumbuhan Pertanian Daerah di Pulau Jawa Pada
Tahun 1815 1875

Disusun Oleh :
1. Syarifatus Syabaniyah ( 140 40 284 060 )
2. Hanif Nur Tarsila ( 140 40 284 086 )
3. Nizar Ramadhan ( 140 40 284 112 )

Pendidikan Sejarah
Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum
Universitas Negeri Surabaya
2017
Pulau Jawa pada abad ke 19 dianggap melambangkan kisah sukses pertanian. Hasil
bumi seperti kopi, gula dan nila di tahun 1815 meningkat dan pertumbuhan pertumbuhan
penduduk tidak selaju seperti yang dicerminkan oleh angka angka resmi tetap berjumlah
rata rata 1,0 sampai 1,5 % setahun, angka yang cukup mengesankan, produksi padi, hewan
ternak serta areal yang ditanami menunjukkan kecenderungan yang hampir terus menerus
naik. Angka angka ststistik di pulau Jawa tidak dapat diandalkan, terutama mengenai awal
abad ke 19. Van Niel mendapatkan bukti tentang kurun waktu 1837 1851 bahwa angka
tentang penduduk dan lahan yang dapat ditanami yang tercatat dua duanya, menyatakan
75% nilai nilai sebenarnya di wilayah wilayah tempat diadakan pengecekan setempat.
Pada tahun 1820 hasil produksi padi berbeda sebanyak 25% untuk hasil produksi padi per
kapita, yaitu hasil pembagian yang satu dengan yg lain, merupakan perkiraan yang tepat
tentang nilai sebenarnya. Sejumlah ratio ratio perimbangan yang dibubuhi penjelasan
dengan kelima keresidenan di Jawa Barat dan Jawa Tengah (Banten, Parahiyangan, Cirebon,
Tegal, Pekalongan ). Keempat variabel yang akan dimasalahkan adalah :

1. Penduduk
2. Produksi padi
3. Areal yang ditanami
4. Hewan ternak: kerbau

Bangsa Belanda bukanlah yang pertama tama menghitung atau setidak tidaknya
mengadakan tebakan yang cerdik tentang penduudk dan tanah yang ddapat ditanami di pulau
Jawa. Raja raja Jawa terutama berkepentingan dengan pajak, peperangan serta penggunaan
tanah secara feodal dahulu kala menyimpan catatan tentang kawula mereka dengan tanah
masing masing, yang disebut cacah dan jung. Kedua satuan ini masing masing berbeda,
penguasa sering menempuh metode kasar untuk menaikkan pajak serta jumlah tanah milik
feodal potensial dengan membagi dua jumlah cacah dan jung. Tahun 1795 Belanda
mensurvei sebgian besar pulau bagian pesisir mencatat angka keresidenan dari jumlah desa,
penduduk menurut umur (dewasa atau anak-anak) dan jenis kelamin, angka angka cacah
tardisional, jumlah jung serta kerbau. Jumlah yang terdaftar tentang pemduduk maupun
kerbau hasil dari sejenis sensus, tetapi jumlah cacah, angka tentang tanah yanga dapat
ditanamipun, merupakan pemikiran tradisional, bahkan angka angka cacah merupakan hasil
perhitungan ulang kemudian para pemegang kekuasaan Jawa karena nagka tersebut tidak
dibulatkan menjadi ratusan atau ribuan. Seringkali jumlah jung yang dapat ditanami adalah
separuh dari seperempat jumlah cacah, tetapi tidak selalu demikian. Bagi pantai Utara Brebes
hingga Tuban koefisien, korelasi antara cacah dan jung adalah 0,9 dan antara cacah dan
penduduk 0,76. Setiap cacah mencakup 20 orang untuk areal yang sama, tetapi perimbangan
keresidenan berkisar anatara 9:1 dan 65:1. Hal ini cukup memberi peringatan agar jangan
dengan mudah mengadakan konversi dari angka cacah menjadi angka penduduk.

Bangsa Belanda mungkin lebih tertarik kepada orang daripada kepada areal yang
digarap, karena mereka memerlukan tenaga kerja rodi beserta serdadu wajib, sedangkan
penyetoran padi hingga hasil bumi utama di pulau Jawa menjadi tanggung jawab para bupati.
Pada tahun 1795 dan 1802 diadakan survei data jyang tercatat kurang lebih sama dengan
tambahan pohon kopi dan pohon kelapa, wilayah yang ditanami nila dan kapas adalah baru,
sedangkan cacah tidak lagi disebut sebut. Angka angka berkenaan dengan tanah yang
dapat ditanami masih dinyatakan sebagai jung lama. Kita harus berasumsi bahwa para pejabat
Belanda terutama sekali berminat akan angka angka kependudukan yang tepat. Jumlah
terakhir tentang data kependudukan tercatat dalam bahan kepustakaan. Dari data tersebut
tidak terdapat tiga dari kelima karesidenan yang berkenaan maa titik tolak yang
sesungguhnya adalah survei Raffles tahun 1815, data sebelum tahun ini tetap digunakan
untuk menilai survei Raffles untuk kedua wilayah lainnya. Tetapi data ini tidak merupakan
bagian terbaik dari survei ini, karaena Raffles lebih berkepentingan dengan tanah daripada
dengan orangnya. Penyebab ini adalah untuk volte face statistik adalah perubahan
kebijaksanaan perpajakan yang diadakannya : pajak tanah, atau sewa tanah akan diganti
dengan penyetoran paksa dan pekerjaan rodi. Karena itu perlu diadakan penilaian yang
mencukupi, baik tentang wilayah yang ditanami maupun tentang kapasitas produksi tanah,
karena sawah maupun tegal akan diklasifikasikan kedalam 3 kategori, dan dikenakan pajak
sesuai dengan hal ini. Satu jung berukuran standar 2.000 rod Rhineland persegi atau 2,8
hektar.

Laporan dari Inspektur Jenderal Pemasukan Pajak Tanah tahun 1818 sangat
mengecam hasilnya, milik tanah petama kali diperkirakan berdasarkan ukuran standar, karena
perkiraan ini akan dijadikan dasar bagi Sistem Pajak Tanah. Raffles hanya berkepentingan
terhadap kepala kepala keluarga yang membayar sewa tanah atau pajak penggunaan tanah
dan tidak berkepentingan terhadap jumlah anggota keluarga yang tepat. Pada tahun 1826
Gubernur Jendral Du Bus membentuk komisi Pertanian dengan tujuan untuk merangsang
serta mengkoordinasikan pembudidayaan hasil bumi untuk pasaran Eropa. Di tahun 1828 dan
1829 Komisi Pertanian Pusat untuk mengemukakan statistik menganai produksi hasil bumi
untuk perdagangan serta areal yang ditanami untuk pasaran Eropa keterangan mengenai padi
serta jumlah jumlah areal yang ditanami. Pulau Jawa tidak memenuhi harapan dalam segi
produksi hasil bumi untuk perdagangan, dan tidak ada yang merasa berkepentingan dengan
jumlah tanah yang dapat ditanami dan diproduksi padi, yang keduanya pada waktu itu
merupakan masalah rutin bagi para pemungut sewa tanah.

Laporan Pembudidayaan (Cultuur Verslag atau CV) mulai pada tahun 1854 dalam
Laporan Kolonial tahunan yang diterbitkan Kolonial Verslag (KV) statistik yang dimuat
dalam CV dan KV dalam artikata merupakan hasil tambahan Sistem Tanam Paksa yang
dimulai pada tahun 1830 ketika sewa tanah dan tanam paksa hasil bumi untuk ekspor
dikombinasikan jadi satu sistem. Karena harga beras merupakan faktor penentu dalam
perkiraan besar sewa tanah dan produksi padi diperkirakan didasarkan pada mutu serta luas
milik petani, faktor penentu lain, diduga bahwa para pengambil keputusan berkepentingan
denga statistik yang benar tentang areal yang ditanami dan produksi padi.

Menghitung dan Menilai

Produksi beras dan sapi ternak yang dicatat dalam bahan bahan sumber tersebut
sejauh yang dapat saya temukan tidak ada dilaksasnakan sensus sapi ternak. Pemerintahan
Eropa mengumpulkan data yang diberikan kepala desa dan pengecekan setempat sewaktu
waktu mungkin telah dilaksanakan tetapi statistik tentang sapi ternak sebelum tahun 1880 tak
pernah merupakan masalah penting, dan keteapatan angka tidak pernah diributkan. Ststistik
produksi padi, merupakan hasil sampingan statistik tanah yang dapat ditanami. Taksiran
besar sewa tanah didasarkan pada perkiraan tentang jumlah areal yang ditanami dibagi lebih
lanjut kedalam 4-6 kategori diperbanyak dengan perkiraan rata rata produksi padi setiap
hektar untuk setiap kategori. Petugas pemungut sewa tanah menyerahkan hasil perkiraannya
kepada kepala desa yang biasanya berhasil mendapat potongan. Taksiran besar sewa tanah
bergantung pada tekanan politik yang sangat pada tahun 1836 Van De Bosch sebagai Menteri
Urusan Koloni, mengajukan saran bahwa sewa tanah dapat dinaikkan, hasilnya adalah
peningkatan pesat dalam pendapatan pemerintah, sasudah masa stagnasi yang relatif panjang.
Pada akhir tahun 1840-an terjadi sesudah musibah para residen diberi instruksi agar
mengendurkan penaksiran dan di luar dugaaan pendapatan pemerintah jadi stabil pada tingkat
tahun 1846 selama 10 tahun kemudian, sewaktu pada tahun 1869 Gubernul Jenderal Mijer
memberitahukan kepada para residen, bahwa sewa tanah terlalu rendah. Pada awal tahun
1970 kebijakan ini disokong oleh penaksiran baru dari produktivitas tanah di karesidenan
dengan jalan memeriksa hasil produksi berbagai kategori sawah. Hal ini berarti bahwa variasi
variasi produksi padi sebgai tercatat dalam sumber sumber merupakan fantasi belaka jika
angka yang sangat tinggi atau sangat rendah, biasanya diiringi masing masing dengan panen
yang sangat baik dan dengan panen yang gagal. Dapat disimpulkan dari Laporan Keresidenan
Umum contoh yang bagus adalah Cirebon tahun 1840-an , Tegal antara th. 1820 dan 1855
dan Pekalongan antara th. 1850 dan 1865. Hendaknya diingat bahwa angka produksi tahunan
tak banyak mengungkapkan taraf mutlak produksi sesungguhnya, dapat diduga bahwa
perkiaraan diabawah 25-50% dapat diharapkan, tetapi jika dikoreksi dengan
memperhitungkan perubahan kebijaksanaan penaksiran sewa tanah tersebut, rata rata lima
tahunan yang dihitung dapat digunakan utuk mencari perubahan relatif dalam taraf produksi.

Pada tahun 1820 diangkat seorang Inspektur Survai dengan mengadakan survai
kadaster di Kedu, sudah memulai survei di Rembang waktu Inspektur tersebut meninggal,
waktu itu didasari bahwa survei sedemikian hendak diadakan diseluruh keresidenan, maka ini
merupakan pembebanan terlalu berat dari dinas survei yang kekurangan tenaga, dan
diputuskanlah bahwa harus dimulai suatu program yang tak begitu ambisius dibawah
pertanggungjawaban para pemumgut sewa tanah. Pada tahun 1840 Batavia menugaskan
Residen Cirebon untuk mengadakan survai mengenai areal yang ditanami dan selama kurun
dua tahun survei mengemukakan sawah dengan luas 40% lebih tinggi daripada yang semula
diduga eksistensinya. Gubernul Jenderal Menkes menginstruksikan para residen lainnya di
pulau Jawa untuk melakukan survei sejenis, tetapi tiada bukti bahwa instruksi ini pernah
dilaksanakan. Mulai zaman baru bahwa suatu survai kadaster sesungguhnya diluar
kemampuan penjabat lokal. Pada tahun 1853 survai Statistik Kadaster yang diatur secara
sentral dimulai di Cirebon, pada akhirnya survai diakhiri di sembialan keresidenan. Survai
Kadaster ditiadakan karaena biayanya terlalu mahal dan perkembangannya terlalu perlahan.

Survai Statistik Kadaster tidak beroprasi di Banten dan Priangan, namun dari data
yang terkumpul jelas bahwa angka keresidenan tersebut dikoreksi keatas beberapa kali,
sebagai akibat prakarsa lokal. Baik di Priangan dan Banten terdapat koreksi selama masa
awal tahun 1870-an, mungin sebagian dari usaha se-Jawa untuk memperoleh statistik tanah
yang lebih baik untuk ditanami, serta statistik produksi padi, dan oleh karena sistem sewa
tanah mulai diterapkan di Priangan.