Anda di halaman 1dari 23

ALGA SEBAGAI BIOINDIKATOR

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Fikologi
Yang dibina oleh Ibu Sitoresmi Prabaningtyas S.Si., M.Si.

Kelompok 5
Annisa Sholikhah 130342615302
Nur Hidayatus S. 130342615304
Saekur Mutaslimah 130342615348

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI BIOLOGI
September 2016
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Biologi indikator (bioindkator) didefinisikan sebagai sebagian spesies atau komunitas,
yang keberadaannya menunjukkan informasi pada fisikal sekitar atau lingkungan kimia.
Salah satu dasar spesies menjadi bioindikator ialah berdasarkan toleransi pada habitatnya,
lalu kemampuannya untuk tumbuh dan tidak berkompetisi dengan alga lain pada kondisi
yang sama di lingkungan hidupnya (Bellinger dan Sigee, 2015). Bioindikator mampu
memberikan respon spesifik yang dapat memprediksi bagaimana kondisi spesies atau
ekosistem akan merespon terhadap tekanan, serta mampu mengukur respon dengan akurasi
dan presisi yang dapat diterima yang didasarkan pada pengetahuan tentang zat pencemar dan
karakteristik (Mulgrew et al, 2006).
Makhluk hidup yang dapat dimanfaatkan sebagai barometer kehidupan adalah makhluk
hidup yang dapat diamati dengan mata telanjang tanpa bantuan alat mikroskopis seperti
mikroskop serta mudah dijumpai dengan jumlah yang berlimpah (Tjokrokusumo,2006).
Idealnya, penggunakan spesies indikator adalah spesies yang telah teridentifikasi,
pengambilan sample mudah, terdistribusi secara kosmopolitan, bernilai ekonomis, mudah
dalam mengakumulasi pencemar, serta mudah dalam pembudidayaannya (Purwani, dkk,
2014). Syarat paling penting penggunaan suatu spesies menjadi bioindikator adalah spesies
tersebut memiliki sensitifitas tinggi terhadap perubahan lingkungan, sehingga apabila terjadi
pencemaran perairan misalnya respon yang diberikan akan cepat.
Suatu organisme dapat digunakan sebagai indikator pencemaran karena habitat,
motilitas, dan umumnya yang relatif lama mendiami suatu wilayah tertentu. Apabila terjadi
pencemaran, maka kelimpahan suatu organisme akan menurun. Salah satu mahluk hidup
yang dapat dimanfaatkan sebagai bioindikator adalah alga. Alga ialah protista mirip
tumbuhan. Alga memiliki keunggulan sebagai bioindikator dan biodsorben bahan pencemar
seperti logam berat. Alga sebagai bioindikator juga dapat merefleksikan kesehatan
lingkungan. Fragmentasi habitat sebagai ulah manusia menyebabkan semakin rusaknya
kondisi lingkungan tempat hidup. Perlunya mempelajari manfaat alga sebagai bioindikator ini
guna memahami kesehatan lingkungan tempat kita hidup serta menentukan tindakan yang
tepat guna menjaga kelestarian lingkungan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, masalah yang dapat kami rumuskan ialah sebagai
berikut.
1. Bagaimanakah alga sebagai bioindikator perairan tawar (sungai, rawa, danau, dll.)?
2. Bagaimanakah alga sebagai bioindikator laut?
3. Bagaimanakah alga sebagai bioindikator tanah?

C. Tujuan
Berdasarkan latar belakang tersebut, masalah yang dapat kami rumuskan ialah sebagai
berikut.
1. Menjelaskan alga sebagai bioindikator perairan tawar (sungai, rawa, danau, dll.).
2. Menjelaskan alga sebagai bioindikator laut.
3. Menjelaskan alga sebagai bioindikator tanah.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Alga sebagai Bioindikator Perairan Tawar


Alga air tawar menyediakan dua macam informasi sebagai kualitas air.
1. Informasi jangka panjang, status quo. Misalnya deteksi anual blooming alga biru-hijau
Mycrocystis sp. pada musim panas di danau subtropis yang mengindikasikan keberadaan
awal status nutrisi tinggi pada perairan tersebut.
2. Informasi jangka pendek, perubahan lingkungan. Pengukuran dilakukan pada perubahan
status eutropik pada biomasa alga biru-hijau akibat stres lingkungan. transisi ini
dapatterjadi akibat aktivitas manusia dan langkah yang perlu dilakukan apabila terjadi
kerusakan ialah restorasi badan perairan.
Fungsi alga sebagai bioindikator dapat mengambarkan pula fungsi alga sebagai
biomarker dengan penampakan misalnya kerusakan DNA, osmotic shock, stimulasi nitrat dan
nitrit reductase, stimulasi fosfat transporter/reduksi pada sekresi alkalin fosfatase.

Gambar 1. Respon hirarki alga pada perubahan lingkungan (Bellinger dan Sigee, 2015)
Tabel 1. Ciri utama biomarker dan bioindikator pada penilaian perubahan lingkungan
(Bellinger dan Sigee, 2015)

Karakteristik organisme air tawar sebagai perubahan kondisi lingkungan pertama kali
dilakukan Kolenati (1848) dan Cohn (1853) yang mempelajari air tercemar yang berbeda dari
lingkungan yag tidak tercemar. Sebagai bioindikator dapat berupa komunitas satu spesies
atau kobinasi spesies. Karakteristik spesies yang baik jadi indikator ialah sebgai berikut.
1. Jarak ekologi yang sempit.
2. Respon cepat pada perubahan lingkungan.
3. Taksonominya diketahui dengan baik.
4. Identiikasi yang dapat dipercaya, menggunakan pengecekan laboratorium yang rutin.
5. Penyebaran geografis yang luas.
Pemonitoran kualitas air secara obyektif dilakukan dengan dinamika musim, klasifikasi
ekosistem yang berelasi dengan kualitas air, produktifitas dan organisme konstitiuen,
dinamika nutrien dan masuknya polutan ke sistem perairan melalui diffuse loading, pengaruh
manusia, pengunaan perairan untuk kegunaan manusia, konservasi.
- Danau
Alga planktonik dengan permukaan danau (epilimnion) dapat mengambarkan status
tropik danau. Komposisi spesies dapat berelasi dengan status trofik melalui berikut ini.
1. Suksesi musim. Berkaitan dengan kondisi nutrisi terhadap biomasa alga. Danau berdasar
nutrisinya dapat dibedakan menjadi danau oligotropik (nutrisi rendah)Diatom yang
mendominasi dan ada Chrysophytes dan demids; danau mesotropik; danau eutropik
(nutrien tinggi)diatom blooming terbatas.
2. Diversitas spesies. Diversitas spesies dapat dihitung dengan menggunakan persamaan
sebagai berikut.
d= (S-1)/loge N
dimana d ialah diversitas, S: kombinasi data dari tota spesies yang teridentifikasi dan N
ialah jumlah individu.
3. Bioindikator Spesies. Pada tabel 3 dijelaskan contoh alga sebagai bioindikator perairan
tawar.
4. Indikasi trofik fitoplankton. Keberadaan itoplankton dapat dijadikan acuan kondisi trofik
perairan. Dapat digambarkan pada tabel 4.

Tabel 2. Klasifikasi tropik dari danau subtropis pada batas sistem yang diteteapkan selama
musim panas (Bellinger dan Sigee, 2015)

Tabel 3. Status tropik danau: suksesi fitoplankton dan bioindikator alga(Bellinger dan Sigee,
2015)
Tabel 4. Indikasi trofik danau (Bellinger dan Sigee, 2015)

Berikut ini gambaran pengawasan kualitas air secara obyektif.


Gambar 2. Kualitas air danau: fitoplankton dan perifiton sebagai bioindikator (Bellinger dan
Sigee, 2015).
Karakterisasi hidrologi danau mengahasilkan.
1. Dominasi fitoplankton. Nutrien tinggi pada danau dalam, populasi fitoplankton yang
dapat tumbuh dan tertahan oleh sistem.
2. Dedahan jangka panjang. Pada danau, alga planktonik dan bentik memiliki dedahan
jangka panjang pada kondisikualitas air yang berelasi dengan kimia spesiik dan
karakteristik isik selama suatu periode. Dedahan jangka panjang ini dapat membuat suatu
komunitas yang satbil dan melalui perubahan lingkungan dapat jelas dianalisa perubahan
yang terjadi pada perairan danau.
3. Spesies endemik. Evolusi dalam jangka panjang dan sistem perairan yang tertutup
membuat proporsi spesies yang unik (endemisme) misal danau Malawi (Afrika) dan
Baikal (Rusia).
Alga juga dapat mereleksikan danau di masa lalu dengan menganalisa fosil alga pada
sedimen danau.

Gambar 3. Analisa paleoekological sedimen (Bellinger dan Sigee, 2015)

- Sungai
Pada perairan tawar yang mengalir berarti alga fitoplantonik memiliki sedikit waktu
untuk beradaptasi pada perubahan lingkungan. Sedangkan alga bentik (periphyton dan
biofilm) dapat secara permanen pada perairan dan dapat diadikan sebagai subyek pengawasan
kondisi lingkungan perairan. Analisa komunitas periphyton dapat dilakukan dengan
membandingkan populasi alga bentik dengan diatom. Kualitas air berdasarkan analisa diatom
berdasar Round (1993 dalam Bellinger dan Sigee, 2015) ialah sebagai berikut.
1. Zona 1: air bersih pada sumber air (pH rendah) spesies dominan Eunotia exigua dan
Achnanthes microcephala yang menempel erat pada permukaan bebatuan.
2. Zona 2: kaya nutrien dan pH sedikit tinggi (5,6--7,1), daerah ini didominasi Hannaea
arcus, Fragilaria capucina var lanceolata dan Achnanthes minutissima. Tabellaria
flocculosa dan Peronia fibula sedikit ditemukan.
3. Zona 3: kaya nutrien dengan pH tinggi (6,5--7,3), spesies dominan Achnanthes
minutissima. Cymbella minuta pada jumlah sedang dan Cocconeis placetula, Reimeria
sinuate dan Amphora pediculus pada jumlah sedikit.
4. Zona 4: eutropik tapi flora terestriksi melalui input lain. Dominan spesies Gomphonema
parvulum dan absennya Amphora, Cocconeis, kelompok Reimeria.
5. Zona 5: daerah tercemar, flora diatom terestriksi. Didominasi dengan sedikit spesies
Navicula (e.g. N. atomus dan N. pelliculosa). Bila perairannya sangat tercemar spesies
yang ditemukan ialah Gomphonema parvulum, Amphora veneta, Navicula accomoda,
Navicula goeppertiana dan Gomphonema augur (Bellinger dan Sigee, 2015).

- Eustuaria
Berikut ini tabel 5. bioindikator alga pada eustuaria berpolutan, dari daerah US
(Bellinger dan Sigee, 2015).

B. Alga sebagai bioindikator Laut


Pencemaran air, menurut Peraturan Pemerintah RI No. 82 Tahun 2001 adalah
masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan komponen lain ke dalam air
atau berubahnya tatanan air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air berubah akibat
kegiatan manusia, yang menyebabkan kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu sehingga
air tidak dapat berfungsi lagi sesuai peruntukkannya (Mulia, 2005).
Penyebab utama adanya polusi air atau pencemaran air yang tinggi, karena populasi
penduduk yang padat, sehingga menimbulkan kegiatan dalam memenuhi standar kebutuhan
hidup serta meningkatkan kesejahteraan taraf hidup. Sungai, danau, dan lautan seringkali
menjadi tempat pembuangan terbuka dari kegiatan manusia tersebut, seperti pembuangan
limbah industri dan limbah rumah tangga, pestisida, herbisida, produk-produk minyak, logam
berat (seperti merkuri, timah hitam dan seng), deterjen dan limbah industri yang dibuang ke
lingkungan perairan dapat langsung membunuh makhluk hidup yang ada di lingkungan itu.
Di Amerika Serikat, polusi air merupakan ancaman bagi 90% ikan-ikan dan kerang air tawar
yang terancam punah (Indrawan et al., 2007).
Pencemar pada perairan laut salah satunya adalah logam berat. Berdasarkan data dari
United State Environmetal Agency (USEPA), logam berat yang merupakan polutan perairan
yang berbahaya diantaranya adalah antimon (Sb), arsenik (Ar), berilium (Be), kadmium (Cd),
kromium (Cr), tembaga (Cu), timbal (Pb), merkuri (Hg), nikel (Ni), selenium (Se), kobalt
(Co), dan seng (Zn). Logam berat ini berbahaya karena tidak dapat didegradasi oleh tubuh,
memiliki sifat toksisitas (racun) pada mahluk hidup walaupun pada konsentrasi yang rendah,
dan dapat terakumulasi dalam jangka waktu tertentu. Oleh karena itu penting dilakukan
pengambilan logam berat pada daerah yang terkontaminasi.
Di kalangan fotoautotrof, alga menjadi kandidat yang menarik karena ketersediaan
biomassa massal mereka dari badan air. Respon dari beberapa ganggang hijau terhadap
logam beracun telah diselidiki dan beberapa taksa telah ditemukan untuk menampilkan
toleransi terhadap logam beracun. Alga makro yang paling banyak digunakan untuk
memantau kontaminasi logam berat padaperairanyaitu genera Fucus,
Enteromorpha,Laminaria dan Ulva (Fytianos et al., 1999). Bioakumulasi logam berat yang
lebih besar dalam spesies alga Enteromorphas sp. daripada spesies Ulva sp. (Fytianos et al.,
1999). Spesies lain yaitu Lobophora variegate juga digunakan sebagai bioindikator untuk
memantau kontaminasi logam terlarut di New Caledonia (Metian., et. all.,
2003).Chlamydomonas reinhardtii bisa mentolerir 100 dan 150M tembaga sulfat (Boswell
et al., 2002). Tapi cyanobacteria diketahui relatif lebih toleran terhadap logam berat (Fiore
dan Trevor, 1994) dan mudah tersedia di alam. Salah satu contoh dari Cyanobacteria yaitu
Anacystis nidulans yang dapat dijadikan bioindikator Zn.
Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan alga sebagai bioindikator logam berat
beserta logam yang dapat diarbsorsi.
Logam Sumber
Spesies Alga
Berat Teradsorpsi Rujukaan
Cladophora glomerata Ni, V, Cd, Pb, Cr Chmielewska dan
Medved, 2001
Rivai dan Supriyanto,
Galaxaura rugosa Cu, Zn
2000
Corallina sp Zn, Pb Siswantoro, 2001
Cr, Fe, Co, Cu, Zn,
Eucheuma isiforme Fajarwati, 2003
Cd, Pb
Fucus vesiculosus Pb, Cu Kautsky, 1998
Padina boergesenii Pb Mamboya et al, 1999
Sargasum sp. Pb, Cd, Cu Buhani, 2003
Euchema sp. Cd, Cr Martadinata, 2001
Chaetocerus sp. Ni, V, Cd, Pb, Cr Noegrohati, 1995
Tabel 6. Alga beserta logam yang dapat diabsorbsi (Sumber: Eri Bachtiar, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjajaran)
Dari berbagai penelitian diketahui bahwa berbagai spesies alga terutama dari golongan
alga hijau (Chlorophyta), alga coklat (Phaeophyta), dan alga merah (Rhodophyta) baik dalam
keadaan hidup (sel hidup) maupun dalam bentuk sel mati (biomassa) dan biomassa
terimmobilisasi telah mendapat perhatian untuk mengadsorpsi ion logam. Alga dalam
keadaan hidup dimanfaatkan sebagai bioindikator tingkat pencemaran logam berat di
lingkungan aquatik (perairan) sedangkan alga dalam bentuk biomassa dan biomassa
terimmobilisasi dimanfaatkan sebagai biosorben (material biologi penyerap logam berat)
dalam pengolahan air limbah. Secara umum, keuntungan pemanfaatan alga sebagai
bioindikator dan biosorben adalah:
1. Alga mempunyai kemampuan yang cukup tinggi dalam mengadsorpsi logam berat karena
di dalam alga terdapat gugus fungsi yang dapat melakukan pengikatan dengan ion logam.
Gugus fungsi tersebut terutama gugus karboksil, hidroksil, amina, sulfudril, imadazol,
sulfat dan sulfonat yang terdapat dalam dinding sel dalam sitoplasma.
2. Bahan bakunya mudah didapat dan tersedia dalam jumlah banyak.
3. Biaya operasional yang rendah.
4. Tidak perlu nutrisi tambahan.

C. Alga sebagai Bioindikator Tanah


Tanah adalah benda alami heterogen yang terdiri atas komponen-komponen padat, cair
dan gas serta mempunyai sifat dan perilaku yang dinamik (Arsyad, 2000). Pada komponen
tersebut selain terdiri dari komponen mati (abiotik) terdapat juga bagian yang hidup (biotik)
berupa organisme tanah yang menjalin suatu sistem hubungan timbal balik antar berbagai
komponen sebagai suatu ekosistem yang cukup kompleks. Hubungan antara beberapa sifat
tanah abiotik dan fungsi ekosistem dapat dijadikan sebagai fungsi yang berhubungan
langsung terhadap produksi tanaman dan erosi tanah (Herrick, 2000).
Tanah disebut berkualitas tinggi bila memiliki sifat-sifat sebagai berikut: (1) cukup tapi
tidak berlebih dalam mensuplai hara (2) memiliki struktur yang baik (3)memiliki kedalaman
lapisan yang cukup untuk perakaran dan drainase (4) memiliki drainase internal yang baik (5)
populasi penyakit dan parasit rendah (6) populasi organisme yang mendorong pertumbuhan
tinggi (7) Tekanan tanaman pengganggu (gulma) rendah (8) tidak mengandung senyawa
kimia yang beracun untuk tanaman (9) tahan terhadap kerusakan dan (10) elastis dalam
mengikuti suatu proses degradasi (Magdof, 2001).
Ciri-ciri tanah yang sehat adalah : (1) populasi organismenya beragam dan aktif (2)
memiliki dalam jumlah tinggi residu yang relatif segar sebagai sumber makanan organisme
dan (3) memiliki dalam jumlah tinggi bahan organik yang terhumifikasi untuk mengikat air
dan muatan negatif untuk pertukaran kation (Magdoff, 2001). Kerusakan tanah dapat terjadi
oleh (1) kehilangan unsur hara dan bahan organik dari daerah perakaran, (2) terkumpulnya
garam di daerah perakaran, terkumpul atau terungkapnya unsur atau senyawa yang meracun
bagi tanaman dan (3) penjenuhan tanah oleh air dan (4) erosi (Arsyad, 2000).
Organisme tanah cukup baik sebagai bioindikator tanah karena memiliki respon yang
sensitif terhadap praktek pengelolaan lahan dan iklim, berkorelasi baik terhadap sifat tanah
yang menguntungkan dan fungsi ekologis dapat menggambarkan rantai sebab-akibat yang
menghubungkan keputusan pengelolaan lahan terhadap produktivitas akhir dan kesehatan
tanaman dan hewan. Tetapi pengukuran organisme tanah memerlukan banyak kriteria supaya
dapat digunakan sepenuhnya sebagai indikator pengelolaan lahan yang sesuai, termasuk
kelimpahannya, keragaman, struktur jaringan dan stabilitas komunitas. Mikroflora tanah
termasuk bakteri, fungi dan algae berpotensi sebagai indikator yang penting untuk kualitas
dan kesehatan tanah. Komponen mikrobia tanah ini penting dalam fungsi ekosistem, karena
mereka salah satu penanda (marker) biologi yang sangat sensitip dan sangat berguna dalam
menilai gangguan dan kerusakan dalam ekosistem (Roper dan Ophel-Keller, 1997).
Suatu indikator biologi dari ekologi tanah yang sehat harus mencerminkan struktur dan
atau fungsi proses ekologi dan respon terhadap perubahan kondisi tanah yang dihasilkan oleh
praktek pengelolaan lahan dan dapat digunakan untuk menilai status saat ini dari proses
ekologi dalam tanah yang penting dan perubahan prosesnya pada suatu rentang waktu.
Menurut Doran dan Zeiss (2000) ada 5 kriteria yang harus dipenuhi oleh suatu indikator
termasuk bioindikator untuk dapat menilai kualitas tanah dan kesehatan tanah yaitu :
1. Sensitivitas terhadap variasi dalam pengelolaan. Organisme tanah memenuhi kriteria ini
karena mereka memiliki repon yang sensitip terhadap gangguan antropogenik.
2. Berkorelasi baik dengan fungsi tanah yang menguntungkan. Kelimpahan dan keragaman
organisme tanah sering berkorelasi baik dengan banyak fungsi tanah, walaupun
dibutuhkan kehati-hatian untuk memilih organisme mana atau parameter komunitas yang
mana untuk digunakan sebagai suatu ulkuran untuk fungsi tanah.
3. Dapat digunakan dalam menguraikan proses-proses ekosistem. Indikator seharusnya
dapat menguraikan mengapa tanah dapat atau tidak dapat berfungsi seperti yang
diinginkan. Organisme tanah dapat berperan langsung dalam banyak proses ekosistem
termasuk konversi hara ke bentuk yang tersedia untuk tanaman.
4. Dapat dipahami dan berguna untuk pengelola lahan. Pengukuran kelimpahan dan
keragaman dari nematoda, tungau (mite) dan bakteri menyediakan banyak informasi
terhadap fungsi tanah dan prosesnya tetapi juga dibutuhkan pelatihan yang cukup untuk
pengelola lahan.
5. Mudah diukur dan tidak mahal. Umumnya kuantifikasi organisme tanah tidak terlalu
mahal dan tidak membutuhkan banyak peralatan yang khusus.

Bakteri, fungi dan algae merupakan mikroflora tanah yang berpotensi sebagai indikator
penting untuk kualitas dan kesehatan tanah karena mereka berperan penting dalam fungsi
ekosistem dan salah satu penanda (marker) biologi yang sangat berguna dan sensitip dalam
menilai gangguan dan kerusakan dalam ekosistem. Algae (baik eukaryotics dan
cyanobacteria) menempati berbagai habitat darat, termasuk tanah, batu dan gua; mereka
huni salju dan es bidang permanen, dan dapat juga ditemukan pada hewan hidup dan
tumbuhan (Hoffmann,1989 dalam Zancan et al, 2005). Habitat tanah adalah yang paling
penting non-berair ekosistem untuk ganggang (Zenova et al., 1995 dalam Zancan et al, 2005).
Aktivitas ganggang berkontribusi untuk pembentukan tanah, untuk stabilitas tanah matang
(Metting 1981 dalam Zancan et al, 2005), dan untuk energi dan materi fluks dalam ekosistem
(Kuzyakhmetov, 1998 dalam Zancan et al, 2005). Aspek penting dari ganggang tanah adalah
fiksasi nitrogen. Alga berkontribusi terhadap kandungan nitrogen dari tanah melalui proses
fiksasi nitrogen biologis (dalam Zancan et al, 2005). Populasi hijau dan biru-hijau di tanah
lapisan atas atas adalah besar dan beragam, dan mereka dapat melakukan layanan yang
berharga bagi ekosistem tanah (Metting, 1981;. Starks et al, 1981 dalam Zancan et al, 2005)
dan untuk pertanian juga (Rubel dan Davis, 1988 dalam Zancan et al, 2005). Salah satu
manfaat utama dari fungsi alga di habitat darat adalah produk nutrisi fotoautotropik mereka,
untuk produksi zat organik dan non organik (Alexander,1977 dalam Zancan et al, 2005)
sebagai sumber makanan bagi bakteri dan invertebrata, dan senyawa biologis aktif yang
dihasilkan oleh ganggang dapat mempengaruhi komponen lain, termasuk tanaman ( Metting,
1981;. Zenova et al, 1995 dalam Zancan et al, 2005).
Sifat flora alga di daerah yang berbeda hasilnya dari pengaruh kompleks dari jenis lokal
vegetasi, tanah sifat dan kondisi iklim (Metting, 1981;Starkset al, 1981.;Lukeov 1993
dalam Zancan et al, 2005), Tetapi sering juga tergantung pada masukan dari diaspora alga
udara (Brown et al., 1964 dalam Zancan et al, 2005). Interaksi biota tanah, misalnya mikro-
organisme, akar, hewan dan tumbuhan dipengaruhi, kadang-kadang secara signifikan, dengan
praktek pertanian dan aktivitas manusia. Tenaga kerja tanah, residu pestisida, pupuk kimia
dan agronomi praktek mempengaruhi tanaman, kehidupan hewan dan masyarakat tanah
struktur (Paoletti et al., 1988 dalam Zancan et al, 2005). Alga yang bisa digunakan sebagai
bioindikator sebagai berikut:
1. Cyanobacteria
Aspek ekologi kuantitatif komunitas Cyanobacteria dilihat segi populasi dinamika dan
kelimpahan relatif dalam hubungannya dengan pH tanah, Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium
(K), Kalsium (Ca), dan Magnesium (Mg). Sawah merupakan tempat dengan tanah yang
basah, sangat cocok untuk alga biru-hijau berkembang. Tekstur tanah yang liat dengan
jumlah yang relatif tinggi dekomposisi bahan organik dan nitrogen dapat menjadi alasan
untuk parameter komunitas alga tertinggi. Selain itu, tanah liat di wilayah dengan jumlah
signifikan lebih tinggi kalsium mungkin alasan lain untuk kehadiran pertumbuhan yang lebih
tinggi dari alga biru hijau di tanah liat dibanding tanah lainnya. Berikut adalah spesies-spesies
alga biru-hijau yang ditemukan di lahan pertanian (Vijayan & Ray, 2015).
Gambar 4. 1. Microcystis aeruginosa, 2.Gleocapsa punctata, 3. Gleothece
rupestris, 4. Aphanothe ceconferta, 5. Chroococcus turgidus, 6. Chroococcus limneticus,
7. Chroococcus minutes, 8. Chroococcus minor, 9. Spirulina laxissima G. S, 10.
Synechocystis aquatilis, 11. Aphanocapsa crassa, 12. Merismopedia punctata, 13.
Merismopedia glauca (Ehrenb.), 14. Nostoc punctiforme (Kuz.), 15. Nostoc padulosum,
16. Nostoc linckia.
(Sumber: Vijayan & Ray, 2015).
Gambar 5. 17. Nostoc spongiaeforme, 18. Nostoc carneum, 19. Nostoc
ellipsosporum, 20. Nostoc commune, 21. Anabaena sphaerica, 22. Anabaena oryzae, 23.
Anabaena fertilissima, 24. Anabaena gelatinicola, 25. Anabaena orientalis, 26. Anabaena
variabilis, 27. Anabaena torulosa, 28. Anabaena oscillatorides, 29. Anabaena constricta,
30. Nodulariaspumigena, 31. Aulosira prolific, 32. Hapalosiphon welwitschii
(Sumber :Vijayan& Ray, 2015).
Gambar 6. 33. Hapalosiphon flagelliformae, 34. Westiellopsis prolifica, 35.
Scytonema stuposum, 36. Leptolyngbya boryana, 37. Leptolyngbya, 38. Leptolyngbya cf.,
39. Leptolyngbya circumcreta, 40. Leptolyngbya sp, 41. Arthrospirajenneri, 42.
Oscillatoria margaritifera, 43. Oscillatoria sancta, 44. Oscillatoria limosa, 45.
Oscillatoria curviceps, 46.
Oscillatoria princeps, 47. Oscillatoria amphibian, 48. Oscillatoria tenuis.
(Sumber: Vijayan & Ray, 2015).

Gambar 7. 49. Oscillatoria proteus, 50. Oscillatoria simplicissima, 51.


Oscillatoria irrigua, 52. Oscillatoria amoena, 53. Oscillatoria rubescens, 54. Phormidium
tenue, 55. Phormidium purpurascens, 56. Phormidium ambiguum, 57. Phormidium
inundatum, 58. Phormidium papyraceum, 59. Lyngbya dendrobia, 60. Lyngbyaceylanica,
61. Lyngbya confervoides, 62. Lyngbya martensiana, 63. Microcoleus vaginatus, 64.
Microcoleus accutissimus.
(Sumber: Vijayan & Ray, 2015).
Sawah pada ketinggian yang lebih tinggi didominasi oleh anggota Osciilatoriaceae
sementara pada ketinggian rendah terkandung populasi campuran Oscillatoriaceae dan
Nostocaceae. Singh (1976) dalam Vijayan & Ray (2015), mengamati bahwa spesies Aulosira,
Wollea, Gieotrichia, dan Anabaena kebanyakan ditemukan di sawah tergenang air. Faktor-
faktor kelimpahan Cyanobacteria pada lahan sawah:
1. pH, pH tanah pertanian biasanya netral, berdasarkan penelitian Cyanobacteria juga
terdapat pada pH asam maupun basa. Namun, hubungan yang tepat dari pH untuk
pertumbuhan spesies Cyanobacterial tertentu dalam tanah belum menemukan contoh
menguat
2. Ketersediaan air, alga Cyanobacteria banyak ditemukan disaat musim penghujan
dibandingkan pada musim kemarau.
3. Intensitas cahaya, semakin tumbuhnya tanaman pada lahan persawahan akan terbentuk
kanopi yang dapat menurunkan intensitas cahaya. Intensitas cahaya yang turun dapat
meningkatkan pertumbuhan Cyanobacteria karena alga ini sensitif terhadap intensitas
cahaya yang terlalu tinggi
4. Nutrisi, Ketersediaan Kalsium, Magnesium, Fosfat dan Nitrat adalah faktor penting yang
mendukung kelimpahan Cyanophyceae di tanah basah (Vijayan & Ray, 2015).

Jumlah alga biru-hijau yang tinggi di lingkungan sangat baik digunakan untuk aplikasi
yang baik dalam bidang pertanian yaitu sebagai bio-pupuk di sawah. Bio pupuk sangat
penting untuk menghindari efek berbahaya dar apikasi yang berlebihan oleh pupuk kimia.
Cyanobacteria sebagai suplemen pupuk mampu menggantikan 30 - 40 persen urea,
menghasilkan Nitrogen yang sesuai untuk tanah pertanian, dan memiliki peran positif lainnya
dalam pengolahan tanah (Vijayan & Ray, 2015).
Alga Cyanobacteria juga dapat ditemukan pada tanah yang mengandung kadar garam
tinggi, spesies dari Cyanobacteria tersebut yaitu Anabaena macrospora, Chroccoccus varius,
Lyngbya taylorii, Phormidium agustissimum, Osillatoria angusta dan Spirulina laxa (Atici et
al, 2001).

Tabel 7. Kondisi fisik dan kimia dari tanah yang mengandung garam tinggi
(Sumber : Atici et al, 2001)
Anabaena macrospora memiliki trikoma planktonik, lurus atau tertekuk, soliter, ellip
dengan diameter 5-6,5 m dan panjang 6-8 m, bulat dengan diameter 6 m. Chroccoccus
varius berbentuk tidak teratur dengan koloni 2-8 sel bulat congkak dengan hialin, berwarna
hijau tua atau coklat pada substrat lembab, mengandung sel biru-hijau, tidak bergranular,
diameter sel 2-14 m. Lyngbya taylorii dengan bentuk lurus, trikoma sangat sedikit
meruncing ke apeks, diameter sel 3-5 m. Phormidium agustissimum filamen membentuk
biru-hijau, dengan sel yang panjang. sel terakhir lebih pendek dan apex tidak lurus, kadang-
kadang berlendir, diameter sel 0,6-1 m dan panjangnya 2-5 m. Osillatoria angusta soliter,
tidak meruncing ke arah puncak, sel apikal terus membulat, diameter sel 1-1,3 m dan
panjangnya 6-8 m. Spirulina laxa trikoma membentuk spiral, membentuk massa biru-hijau,
diameter 2-1,5 m, jarak antara berputar dengan lebar 15-20 m dan berputar dengan lebar
4-6 m (Atici et al, 2001).

Gambar 8.. Cyanobacteria yang ditemukan di tanah mengandung garam tinggi


(Sumber: Atici et al, 2001)

1) Phaeophyta
Algae terutama diatom, telah digunakan sebagai indikator kualitas air dan sedimen.
Diatom terdapat pada hampir semua lingkungan perairan dan sangat sensitip terhadap
perubahan sifat kimia air. Diatom juga dapat menginformasikan tentang perubahan kimia
pada masa lalu yang dapat mempengaruhi kesehatan tanah saat ini (van Bruggen dan
Semenov, 2000).
Gambar 9. Diatom

2) Chlorophyta
Tabel 8. Chorophyta yang ditemukan di lahan berumput, lahan ditinggalkan, lahan
anggur, dan lahan jagung (Sumber: Zancan et al, 2005).

.
Temuan kami mengkonfirmasi bahwa Chlorella minutissima dapat dianggap
kosmopolitan dan tersebar luas di tanah yang berbeda. Di penelitian ini, alga tersebut
ditemukan secara luas, tapi mungkin mereka bukan spesies kuantitatif dominan karena alga
tidak saling bersaing sama dan tidak ada yang mampu mendominasi sistem secara kuantitatif
(Zancan et al, 2005).
pH tanah merupakan faktor penting dalam menentukan komposisi komunitas alga. Di
semua sampel lahan, pH tanah bervariasi sedikit, antara 7.28 dan 8.03, ganggang hijau
beragam berada di tanah asam. Kondisi netral, seperti seperti yang tercatat dalam penelitian
ini, mendukung pertumbuhan alga untuk semua kelompok taksonomi utama (Zancan et al,
2005).
Lahan jagung dan anggur memiliki populasi terendah dikarenakan pengaruh oleh lahan
yang menggunakan pupuk dan herbisida. Pupuk dan herbisida dapat menghambat
pertumbuhan alga. Selain hal itu, lahan jagung memiliki tanah yang kering sehingga tidak
banyak alga yang bisa tumbuh. Padang rumput dan lahan yang ditinggalkan memiliki
kelimpahan alga dan ditandai oleh flora yang sama. Kedua tempat belum digarap atau
diperlakukan dengan pestisida atau pupuk kimia selama bertahun-tahun. Selain itu, adanya
rumput terbentuk kanopi sehingga intensitas cahaya tidak terlalu tinggi (Zancan et al, 2005).
Alga Chlorophyta juga dapat ditemukan pada tanah yang mengandung kadar garam
tinggi, spesies dari Chlorophyta tersebut yaitu Scenedesmus apolensis dan Chlorella vulgaris.
Scenedesmus apolensis koloni yang terdiri dari 4 sel, duri keras pada sel terminal 1 atau 2
pada setiap tiang, panjang dan melengkung. Diameter sel 6-8 m dan panjangnya 20-24 m.
Chlorella vulgaris sel bulat, tersebar di antara ganggang lainnya, kloroplas kadang-kadang
tanpa pyrenoid, diameter sel 10-14 m (Atici et al, 2001).

Gambar 10. Chlorophyta yang ditemukan di tanah mengandung garam tinggi


(Sumber: Atici et al, 2001).
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

1. Alga yang dapat digunakan sebagai bioindikator air tawar ialah alga bentik dan
fitoplanktonik pada danau sedangkan pada sungai lebih ke bentik dan dengan kuantitasi
alga diatomik. Pada eustuaria dianalisa dengan jumlah blooming alga uniseluler dan
kondisi fauna juga.
2. Pada alga laut dapat dijadikan bioindikator logam pada genera Fucus, Enteromorpha,
Laminaria dan Ulva serta Sargasum sp., Lobophora variegate, Chlamydomonas
reinhardtii, Galaxaura rugosa, Corallina sp, Padina boergesenii, Sargasum sp.
Chaetocerus sp, Padina boergesenii, Euchema sp..
3. Alga yang dapat dijadikan bioindikator tanah ialah golongan Cyanobacteria, Phaeophyta,
Chlorophyta.
DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, S. 2000. Konservasi tanah dan air. IPB Press.


Atici, et al. 2001. Isolation and Identification of Halophytic Algae from Salty Soil Around
Salt Lake of Turkey. Pakistan Journal of Biological Sciences 4 (3): 298-300.
Bachtiar Eri. (2007).Penelusuran Sumber Daya Hayati Laut (Alga) Sebagai Biotarget Industri.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNPAD:Jatinangor.
Bellinger, E.G. dan Sigee, D.C. 2015. Freshwater Algae: Identification and Use as
Bioindicator. John Wiley &Sons, Ltd.
Boswell C, Sharma NC and Sahi SV (2002) Copper Tolerance and Accumulation
Potential of Chlamydomonas reinhardtii. Bull. Env. Cont. Taxi 69: 630-637.
Doran, J. W and M. R. Zeiss. 2000. Soil health and sustainability: managing the biotic
component of soil quality. Aplied Soil Ecology (15). 3-11. www.
Elsevier.com/locate/apsoil.
Fiore MF and Trevors JT (1994) Cell composition and metal tolerance in cyanobacteria.
Biometals, 7: 83-103.
Fytianos K, Evgenidou E and Zachariadis G. (1999) Use of Macroalgae as Biological
Indicators of Heavy Metal Pollution in Thermaikos Gulf, Greece. Bull. Env. Cont. Taxi
62: 630-637.
Herrick, J. E. 2000. Soil Quality: an indicator of sustainable land management .Applied Soil
Ecology. (15) 75-83. www. Elsevier.com/ locate/apsoil.
Hornby, D and G. L. Bateman. 1997. Potensial use of plant root pathogens as bioindicators of
soil health. In C. Pankhurst, B.M. Doube and V.V.S.R. Gupta (eds). Biological
Indicators of Soil Health. CAB International. UK.179-200.
Magdoff, F. 2002. Concept, componen and strategies of soil health in agroecosystems.
Journal of Nematology 33 (4); 169-172.
Metian mark., et. all. 2003. The Brown Alga Lobophora variegata, ABioindicator Species
For Surveying Metal Contamination In Tropical Marine Environments. Journal of
experimental marine biology and ecology 362 (2008) Page: 49-54.
Mulia, R. M. 2005. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Cetakan Pertama. Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Roper, M. M and K. M. Ophel-Keller (1997) Soil microflora as bioindikators of soil healthIn
C. Pankhurst, B.M. Doube and V.V.S.R. Gupta (eds). Biological Indicators of Soil
Health. CAB International. 157- 177.
Vijayan, Dhanya., Ray, Joseph George. 2015. Ecology and Diversity of Cyanobacteria in
Kuttanadu Paddy Wetlands, Kerala, India.American Journal of Plant Sciences.
Zancan, Santina., Trevisan, Renata., Paoletti, Maurizio G. 2005. Soil algae composition under
different agro-ecosystems in North-Eastern Italy. Agriculture, Ecosystems, and
Environment.