Anda di halaman 1dari 18

Inti Tembaga, Inti Aluminium, Kabel Twisted

dan Bimetal Penghubung

Dosen :
Bersiap Ginting, S.T., M.T.
Mata Kuliah Bahan-Bahan Listrik

Oleh:
Fricilia Indah Primasari NIM 061630311420
Kelas : 1 LE (1 PLNA)

PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
PALEMBANG
2017
A. Tembaga dan Aluminium

1. Tembaga

Tembaga adalah suatu unsur kimia


dalam tabel periodik yang memilik
lambang Cudan nomor atom 29. Lambangnya
berasal dari bahasa Latin Cuprum. Tembaga
merupakan konduktor panas dan listrikyang
baik. Selain itu unsur ini memilikikorosi yang
cepat sekali. Tembaga murni sifatnya halus
dan lunak, dengan permukaan berwarna
jingga kemerahan. Tembaga dicampurkan dengan timah untuk
membuat perunggu.

Ion Tembaga (II) dapat berlarut ke dalam air, di mana fungsi


mereka dalam konsentrasi tinggi adalah sebagai agen anti bakteri, fungisi,
dan bahan tambahan kayu. Dalam konsentrasi tinggi maka tembaga akan
bersifat racun, tetapi dalam jumlah sedikit tembaga
merupakan nutrien yang penting bagi kehidupan manusia dan tanaman
tingkat rendah. Di dalam tubuh, tembaga biasanya ditemukan di bagian
hati, otak, usus, jantung, dan ginjal.

a. Sifat Tembaga
1) Fisik
Tembaga, perak, dan emas berada pada unsur golongan 11
pada tabel periodik dan mempunyai sifat yang sama: mempunyai
satu elektron orbital-s pada kulit atom d dengan sifat konduktivitas
listrik yang baik.
Sifat lunak tembaga dapat dijelaskan oleh konduktivitas
listriknya yang tinggi (59,6106 S/m) dan oleh karena itu juga
mempunyai konduktivitas termal yang tinggi (kedua tertinggi) di
antara semua logam murni pada suhu kamar.
Bersama dengan sesium dan emas (keduanya berwarna kuning)
dan osmium (kebiruan), tembaga adalah satu dari empat logam
dengan warna asli selain abu-abu atau perak. Tembaga murni
berwarna merah-oranye dan menjadi kemerahan bila kontak
dengan udara.

2) Kimia
Tembaga tidak bereaksi dengan air, namun ia bereaksi perlahan
dengan oksigen dari udara membentuk lapisan coklat-hitam
tembaga oksida. Berbeda dengan oksidasi besi oleh udara, lapisan
oksida ini kemudian menghentikan korosi berlanjut.
Lapisanverdigris (tembaga karbonat) berwarna hijau dapat dilihat
pada konstruksi-konstruksi dari tembaga yang berusia tua, seperti
pada Patung Liberty. Tembaga bereaksi dengan sulfida
membentuk tembaga sulfida
b. Teknik Ekstraksi tembaga
Konsentrasi tembaga pada bijih-bijih yang ada rata-rata hanya
0,6%, kebanyakan bijih komersial yang ada adalah sulfida seperti
kalkopirit (CuFeS2) atau kalkosit (Cu2S). Mineral ini ditingkatkan
konsentrasi tembaganya sampai 10-15% dengan proses froth
flotation atau bioleaching. Memanaskan material ini dengan silika
pada flash smelting akan melepaskan kandungan besi dan mengubah
besi sulfida menjadi oksidanya. Senyawa produk copper matte yang
terdiri dari Cu2S kemudian dipanggang untuk mengubah sulfida
menjadi oksida:
2 Cu2S + 3 O2 2 Cu2O + 2 SO2
Kuprat oksida kemudian dipanaskan:
2 Cu2O 4 Cu + O2
Proses matte hanya mengkonversi setengah sulfida menjadi
oksida dan kemudian menghilangkan semua sulfur menjadi oksida.
Proses ini akan mengubah oksida tembaga menjadi logam tembaga.
Gas alam kemudian dialirkan untuk menghilangkan oksigen
(proseselectrorefining) untuk kemudian mengubah material menjadi
tembaga murni:[18]
Cu2+ + 2 e Cu
c. Daur ulang tembaga
Tembaga, seperti aluminium, dapat didaur ulang 100% tanpa
mengurangi kualitasnya. Dilihat dari volumenya, tembaga adalah
logam paling banyak ketiga yang didaur ulang, setelah besi dan
aluminium. Diperkirakan bahwa 80% dari seluruh tembaga yang
pernah ditambang masih digunakan saat ini. Menurut laporan
International Resource Panel, pemakaian tembaga per kapita global
adalah sekitar 3555 kg. Pemakai terbesarnya adalah negara-negara
maju (140300 kg per kapita) sedangkan di negara-negara berkembang
sekitar 3040 kg per kapita.
Proses daur ulang tembaga pada umumnya sama dengan proses
ekstraksi, namun prosesnya lebih sedikit. Tembaga bekas dengan
kemurnian tinggi dilelehkan di furnace dan kemudian direduksi dan
dibentuk kembali menjadi billet dan ingot; sedangkan tembaga bekas
dengan kemurnian lebih rendah diproses ulang dengan electroplating
di dalam asam sulfat.
Kabel-kabel berinti tembaga :

1. Low Voltage Tembaga Non Armour


NYA = Cu/PVC kisaran 450/750 Volt Single Core
NYF = Cu-Flex/PVC 450/750 Volt Single Core
NYM = Cu/PVC/PVC 300/500 Volt Multi Core
NYMHY = Cu-Flex/PVC/PVC 300/500 Volt Multi Core
NYY = Cu/PVC/PVC 0.6/1 kV Single Core & Multi Core
NYYHY = Cu-Flex/PVC/PVC 0.6/1 kV - Single Core &
Multi Core
N2XY = Cu/XLPE/PVC 0.6/1 kV Single Core & Multi Core
= Cu-Flex/XLPE/PVC 0.6/1 kV Single Core & Multi Core
2. Low Voltage Tembaga Armour
NYRGBY = Cu/PVC/AWA/PVC 0.6/1 kV Single Core
= Cu/PVC/SWA/PVC 0.6/1 kV Multi Core
N2XRGBY = Cu/XLPE/AWA/PVC 0.6/1 kV Single Core
= Cu/XLPE/SWA/PVC 0.6/1 kV Multi Core
NYFGBY = Cu/PVC/SFA/PVC 0.6/1 kV Multi Core
N2XFGBY = Cu/XLPE/SFA/PVC 0.6/1 kV Multi Core
NYBY = Cu/PVC/DSTA/PVC 0.6/1 kV Multi Core
N2XBY = Cu/XLPE/DSTA/PVC 0.6/1 kV Multi Core
3. Control Cable with Screening Armour & Non Armour
NYSY = Cu/PVC/CTS/PVC 0.6/1 kV Single Core &
Multi Core
NYCY = Cu/PVC/CWS/PVC 0.6/1 kV Single Core &
Multi Core
N2XSY = Cu/XLPE/CTS/PVC 0.6/1 kV Single Core &
Multi Core
N2XCY = Cu/XLPE/CWS/PVC 0.6/1 kV Single Core &
Multi Core
4. Medium Voltage Tembaga & Alumunium Non Armour
N2XSY = Cu/XLPE/CTS/PVC 3,6/6 kV, 6/10 kV, 12/20 kV,
18/30kV Single Core & 3 Core
N2XCY = Cu/XLPE/CWS/PVC 3,6/6 kV, 6/10 kV, 12/20 kV,
18/30kV Single Core & 3 Core
5. Medium Voltage Tembaga Armour
N2XSEBY = Cu/XLPE/CTS/DSTA/PVC 3,6/6 kV, 6/10 kV,
12/20 kV, 18/30kV 3 Core
N2XSEYBY = Cu/XLPE/CWS/DSTA/PVC 3,6/6 kV, 6/10 kV,
12/20 kV, 18/30kV 3 Core
N2XSEFGBY = Cu/XLPE/CTS/AWA/PVC 3,6/6 kV, 6/10 kV,
12/20 kV, 18/30kV 3 Core
N2XSEYFGBY = Cu/XLPE/CWS/AWA/PVC 3,6/6 kV, 6/10 kV,
12/20 kV, 18/30kV 3 Core
N2XSERGBY = Cu/XLPE/CTS/AWA/PVC 3,6/6 kV, 6/10 kV,
12/20 kV, 18/30kV Single Core
= Cu/XLPE/CTS/SWA/PVC 3,6/6 kV, 6/10 kV,
12/20 kV, 18/30kV 3 Core
N2XSEYRGBY = Cu/XLPE/CWS/AWA/PVC 3,6/6 kV, 6/10 kV,
12/20 kV, 18/30kV Single Core
= Cu/XLPE/CWS/SWA/PVC 3,6/6 kV, 6/10 kV,
12/20 kV, 18/30kV 3 Core

2. Aluminium

Aluminium ialah unsur kimia. Lambang aluminium ialah Al, dan


nomor atomnya 13. Aluminium ialah logam paling berlimpah. Aluminium
bukan merupakan jenis logam berat, namun merupakan elemen yang
berjumlah sekitar 8% dari permukaan bumi dan paling berlimpah ketiga.
Aluminium terdapat dalam penggunaan aditif makanan, antasida, buffered
aspirin, astringents, semprotan hidung, antiperspirant, air minum, knalpot
mobil, asap tembakau, penggunaan
aluminium foil, peralatan masak,
kaleng, keramik, dan kembang api.

Aluminium merupakan
konduktorlistrik yang baik. Ringan
dan kuat. Merupakan konduktor
yang baik juga buat panas. Dapat
ditempa menjadi lembaran, ditarik
menjadi kawat dan diekstrusi menjadi batangan dengan bermacam-macam
penampang. Tahan korosi.

Aluminium digunakan dalam banyak hal. Kebanyakan darinya


digunakan dalam kabel bertegangan tinggi. Juga secara luas digunakan
dalam bingkai jendela dan badan pesawat terbang. Ditemukan di rumah
sebagai panci, botol minuman ringan, tutup botol susu dsb. Aluminium
juga digunakan untuk melapisi lampu mobil dan compact disks.

a. Sifat Aluminium
Berat Aluminium
Alumunium mempunyai densitas yang rendah hanya sepertiga
dari kepadatan atau densitas dari logam baja. Densitas logam ini
hanya 2,7 g/cm3 atau kalau dikonversikan ke kg/m3 menjadi 2.700
kg/m3. Kepadatan yang relatif kecil membuatnya ringan tapi sama
sekali tidak mengurangi kekuatannya.

Kekuatan Alumunium
Berbagai paduan logam alumunium memiliki kekuatan
tarik antara 70 hingga 700 mega pascal. Kekuatan yang sangat
besar. Sifat alumunium ini unik tidak seperti baja. Pada suhu
rendah baja akan cenderung rapuh tapi sebaliknya dengan
alumunium. Pada suhu rendah kekuatannya akan meninggkat
dan pada suhu tinggi malah menurun.
Pemuaian Linier
Jika dibandingkan dengan logam lain, alumunium punya
koefisien ekspansi linier yang relatif besar.

Mesin
Bahan alumunium sangat aplikatif untuk berbagai jenis
mesing seperti tipe mesin drilling, potong, keprok, bending,
dan sebagainya.
Konduktivitas
Sifat konduktivitas panas dan listrik alumunium sangat
baik. Luar biasanya lagi konduktor dari alumunium beratnya
hanya setengah dari konduktor yang terbuat dari bahan
tembaga.
Tahan Karat (Korosi)
Alumunium bereakasi dengan oksigen di udara membentuk
lapisan oksida tipis yang ampuh melindungi badan logam dari
korosi (selengkapnya di bawah)
Non Magnetik
Alumunium adalah bahan nonmagnetik. Karena sifatnya ini
maka alumunium sering digunakan sebagai alat dalam
perangkat X-ray yang menggunkan magnet.
Tidak Beracun
Logam alumunium punya sifat tidak beracun sama sekali.
Ia berada pada urutan ketiga setelah oksigen dan silikon unsur
yang paling banyak di kerak bumi. Beberapa senyawa
alumunium juga secara alami terbentuk dalam makanan yang
kita konsumsi setiap hari.
b. Pembuatan Aluminium terjadi dalam dua tahap:
1) Proses Bayer merupakan proses pemurnian bijih bauksit untuk
memperoleh aluminium oksida (alumina).

Bijih bauksit mengandung 50-60% Al2O3 yang bercampur


dengan zat-zat pengotor terutama Fe2O3 dan SiO2. Untuk
memisahkan Al2O3 dari zat-zat yang tidak dikehendaki, kita
memanfaatkan sifat amfoter dari Al2O3.

Tahap pemurnian bauksit dilakukan untuk menghilangkan


pengotor utama dalam bauksit. Pengotor utama bauksit biasanya
terdiri dari SiO2, Fe2O3, dan TiO2. Caranya adalah dengan
melarutkan bauksit dalam larutan natrium hidroksida (NaOH),

Al2O3 (s) + 2NaOH (aq) + 3H2O(l) ---> 2NaAl(OH)4(aq)

Aluminium oksida larut dalam NaOH sedangkan pengotornya


tidak larut. Pengotor-pengotor dapat dipisahkan melalui proses
penyaringan. Selanjutnya aluminium diendapkan dari filtratnya
dengan cara mengalirkan gas CO2 dan pengenceran.

2NaAl(OH)4(aq) + CO2(g) ---> 2Al(OH)3(s) + Na2CO3(aq) + H2O(l)

Endapan aluminium hidroksida disaring,dikeringkan lalu


dipanaskan sehingga diperoleh aluminium oksida murni (Al2O3)

2Al(OH)3(s) ---> Al2O3(s) + 3H2O(g)

2) Proses Hall-Heroult merupakan proses peleburan aluminium


oksida untuk menghasilkan aluminium murni.
Selanjutnya adalah tahap peleburan alumina dengan cara
reduksi melalui proses elektrolisis menurut proses Hall-Heroult.
Dalam proses Hall-Heroult, aluminum oksida dilarutkan dalam
lelehan kriolit (Na3AlF6) dalam bejana baja berlapis grafit yang
sekaligus berfungsi sebagai katode. Selanjutnya elektrolisis
dilakukan pada suhu 950 C. Sebagai anode digunakan batang
grafit.

Setelah diperoleh Al2O3 murni, maka proses selanjutnya


adalah elektrolisis leburan Al2O3. Pada elektrolisis ini Al2O3
dicampur dengan CaF2 dan 2-8% kriolit (Na3AlF6) yang berfungsi
untuk menurunkan titik lebur Al2O3 (titik lebur Al2O3 murni
mencapai 2000 C), campuran tersebut akan melebur pada suhu
antara 850-950 C. Anode dan katodenya terbuat dari grafit. Reaksi
yang terjadi sebagai berikut:

Al2O3 (l) 2Al3+ (l) + 3O2- (l)

Anode (+) : 3O2- (l) 3/2 O2 (g) + 6e

Katode (-) : 2Al3+ (l) + 6e- 2Al (l)

Reaksi sel : 2Al3+ (l) + 3O2- (l) 2Al (l) + 3/2 O2 (g)

Peleburan alumina menjadi aluminium logam terjadi dalam


tong baja yang disebut pot reduksi atau sel elektrolisis. Bagian
bawah pot dilapisi dengan karbon, yang bertindak sebagai suatu
elektroda (konduktor arus listrik) dari sistem. Secara umum pada
proses ini, leburan alumina dielektrolisis, di mana lelehan tersebut
dicampur dengan lelehan elektrolit kriolit dan CaF2 di dalam pot di
mana pada pot tersebut terikat serangkaian batang karbon dibagian
atas pot sebagai katoda. Karbon anoda berada dibagian bawah pot
sebagai lapisan pot, dengan aliran arus kuat 5-10 V antara anoda
dan katodanya proses elektrolisis terjadi. Tetapi, arus listrik dapat
diperbesar sesuai keperluan, seperti dalam keperluan industri.
Alumina mengalami pemutusan ikatan akibat elektrolisis, lelehan
aluminium akan menuju kebawah pot, yang secara berkala akan
ditampung menuju cetakan berbentuk silinder atau lempengan.
Masing masing pot dapat menghasilkan 66.000-110.000 ton
aluminium per tahun(Anonymous,2009). Secara umum, 4 ton
bauksit akan menghasilkan 2 ton alumina, yang nantinya akan
menghasilkan 1 ton aluminium.

Kabel-kabel berinti aluminium

1. Low Voltage Alumunium Non Armour


NAYA = AL/PVC kisaran 450/750 Volt Single Core
NAYY = AL/PVC/PVC 0.6/1 kV Single Core & Multi
Core
NA2XY = AL/XLPE/PVC 0.6/1 kV Single Core & Multi
Core
2. Low Voltage Alumunium Armour
NAYRGBY = AL/PVC/AWA/PVC 0.6/1 kV Single Core
= AL/PVC/SWA/PVC 0.6/1 kV Multi Core
NA2XRGBY = AL/XLPE/AWA/PVC 0.6/1 kV Single Core
= AL/XLPE/SWA/PVC 0.6/1 kV Multi Core
NAYFGBY = AL/PVC/SFA/PVC 0.6/1 kV Multi Core
NA2XFGBY = AL/XLPE/SFA/PVC 0.6/1 kV Multi Core
NABY = AL/PVC/DSTA/PVC 0.6/1 kV Multi Core
NA2XBY = AL/XLPE/DSTA/PVC 0.6/1 kV Multi Core
3. Medium Voltage Alumunium Armour
NA2XSEBY = AL/XLPE/CTS/DSTA/PVC 3,6/6 kV, 6/10 kV,
12/20 kV, 18/30kV 3 Core
NA2XSEYBY = AL/XLPE/CWS/DSTA/PVC 3,6/6 kV, 6/10 kV,
12/20 kV, 18/30kV 3 Core
NA2XSEFGBY = AL/XLPE/CTS/AWA/PVC 3,6/6 kV, 6/10 kV,
12/20 kV, 18/30kV 3 Core
NA2XSEYFGBY = AL/XLPE/CWS/AWA/PVC 3,6/6 kV, 6/10
kV, 12/20 kV, 18/30kV 3 Core
NA2XSERGBY = AL/XLPE/CTS/AWA/PVC 3,6/6 kV, 6/10 kV,
12/20 kV, 18/30kV Single Core
= AL/XLPE/CTS/SWA/PVC 3,6/6 kV, 6/10 kV,
12/20 kV, 18/30kV 3 Core
NA2XSEYRGBY = AL/XLPE/CWS/AWA/PVC 3,6/6 kV, 6/10
kV, 12/20 kV, 18/30kV Single Core
= AL/XLPE/CWS/SWA/PVC 3,6/6 kV, 6/10
kV, 12/20 kV, 18/30kV 3 Core
NFA2XSY = AL/XLPE/CTS/PVC 3,6/6 kV, 6/10 kV, 12/20
kV, 18/30kV 3 Core
NFA2XSY T = AL/XLPE/CTS/PVC + AAAC 3,6/6 kV, 6/10
kV, 12/20 kV, 18/30kV 3 Core

3. Kelebihan dan Kekurangan Tembaga dan Aluminium

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan


aluminium atau tembaga sebagai bahan listrik :

Dengan diameter dan luas penampang yang sama, tembaga


merupakan penghantar yang lebih unggul dari pada aluminium.
Namun, aluminium dapat berfungsi seperti tembaga jika
dikompensasikan dengan diameter yang lebih besar.
Harga tembaga lebih mahal jika dibandingkan degan aluminium.
Aluminium lebih ringan sekitar 50% jika dibanding dengan berat
tembaga sehingga memiliki keuntungan tersendiri.
Titik lebur aluminium (670C) lebih rendah jika dibandingkan
dengan tembaga (1.085C).
Tembaga lebih mudah disolder sehingga pengerjaannya lebih
mudah. Namun perkembangan teknologi telah memungkinkan
aluminium untuk diseolder lebih baik.

Hal-hal diatas merupakan beberapa factor penentu baik dan


burukya penggunaan aluminium atau kabel pada suatu alat listrik.

a. Pada transmisi listrik


Sejak 1990, hamper seluruh dunia telah mengganti kabel
transmisi listrik dengan menggunakan aluminium sebagai bahan baku.
Alasannya adalah berat kabel tersebut jauh lebih ringan dibanding
tembaga walaupun diameternya lebih besar. Kemampuan
menghantarkan listriknya tidak berbeda jau dengan tembaga jika
dikompensasikan dengan ukuran kawat yang lebih besar.
b. Pada kabel instalasi rumah.
Kabel aluminium secara teori dapat menggantikan kabel untuk
instalasi rumah. Namun karena aluminium lebih mudah patah, maka
penggunaannya untuk instalasi rumah lebih beresiko karena sering
dilipat dan dipelintir membuat aluminium sulit meggantikan tembaga.
c. Pada trafo
Jika dua buah trafo dengan ukuran kawat yang sama namun
berbeda jenis yaitu tembaga dan aluminium dibandingkan. Maka sudah
jelas bahwa trafo tembaga tebih baik. Namun jika diameter kawat
aluminium pada trafo diperbesar, dapat dihasilakn trafo aluminium
yang sama dengan trafo tembaga. Akan tetapi tidak semua jenis trafo
dapat melakukan kompensasi tersebut karena keterbatasan ruangan
untuk memuat ukuran diameter kawat yang lebih besar. Jika
dipaksakan masuk dengan kawat aluminium yang tidak sesuai dengan
rasio penghantarnya, maka daya trafo akan menjadi lebih kecil.
A. Kabel Twisted

Konfigurasi jaringan secara umum adalah radial, hanya pada kasus


khusus dipergunakan sistem tertutup (loop). Saluran Udara Tegangan Rendah
memakai penghantar jenis Kabel Twisted / kabel pilin (NFAAX-T) dengan
penampang berukuran luas penampang 35 mm2, 50 mm2 dan 70 mm2 serta
penghantar tak berisolasi All Aluminium Conductor (AAC), All Aluminium
Alloy Conductor (AAAC) dengan penampang 25 mm2, 35 mm2 dan 50 mm2.

Kabel udara yang dipergunakan pada JTR merupakan kabel berinti


tunggal dengan bentuk konduktor dipilin bulat, instalasi kabel ini sedemikian
rupa sehingga hantaran kabel membentuk kabel pilin dimana beberapa kabel
berinti tunggal saling dililitkan sehingga saling membentuk suatu kelompok
kabel yang disebut dengan kabel twisted.

Kabel twisted dipasang pada tiang saluran distribusi sekunder dengan


peralatannya kira kira 20 cm dibawah puncak tiang dengan kabel netral
sebagai penyangganya, sehingga dengan demikian beban kabel twisted
dipikul oleh kabel netral tersebut. Kabel pilin yang digunakan pada proyek
kelistrikan terdiri atas enam buah kabel berinti tunggal dengan perincian
sebagai berikut :

1. Kabel utama, terdiri atas tiga kabel fasa dan satu kabel netral
2. Dua kabel lainnya untuk hantaran lampu penerangan jalan

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang ukuran kabel twisted dapat dilihat
pada pada tabel berikut ini.
Karakteristik Penghantar Aluminium JTR
Sumber : PT PLN (PERSERO). 2010. Kriteria Desain Enjiniring Konstruksi
Jaringan Distribusi Tenaga Listrik & SPLN 64 Tahun 1985

Penghantar jaringan sekunder menggunakan kabel twisted, dimana kabel ini


mempunyai keuntungan antara lain :
1. Tidak memerlukan banyak peralatan
2. Penghantar tidak terpisah pisah sehingga menjadi satu bagian
3. Keamanan lebih terjamin sehingga sulit untuk disadap
4. Pelaksanaan pemasangan lebih sederhana dan relatif mudah
5. Aman terhadap cuaca
6. Aman terhadap gangguan ranting ranting pohon

Bahan isolasi kabel twisted dibuat dari bahan jenis polyethelin yaitu XLPE.
Beberapa sifat isolasi XLPE yaitu :

1. Ketahanan temperatur tinggi


2. Kekuatan mekanis besar
3. Umur relatif bisa lebih lama
4. Bersifat elastis / tidak mudah retak
5. Kerapatan jenis kecil
6. Tahan terhadap air, minyak dan zat zat kimia yang sering terdapat di
alam.
Dengan sifat XLPE tersebut maka kabel twisted dapat dipergunakan dengan
baik pada kondisi daerah kering ataupun basah.

Terdapat 2 jenis konstruksi jaringan distribusi Tegangan Rendah sesuai


dengan sistemnya.
1. Konfigurasi fasa 3 menggunakan kabel Pilin (twisted cable) dengan 3
penghantar fasa + 1 netral.
2. Konfigurasi fasa 2 menggunakan kabel Pilin (twisted cable) dengan 2
penghantar fasa + 1 netral atau penghantar BC atau AAAC.
Kedua sistem tersebut berdiri pada tiang sendiri atau di bawah Saluran Udara
Tegangan enengah (underbuilt). Radius pelayanan jaringan lebih kurang 300
meter dan tingkat tegangan pelayanan dibatasi + 5 % dan 10 %.

Twisted Cable Over Head Cable


TC AL-XLPE 2 x 10 mm2 - 0.6/1
TC AL-XLPE 2 x 16 mm2 - 0.6/1
TC AL-XLPE 2 x 25 mm2 - 0.6/1
TC. AL-XLPE 4 x 16 mm2 - 0.6/1

TC. AL-XLPE 4 x 25 mm2 - 0.6/1

TC. AL-XLPE 4 x 35 mm - 0.6/1

Twisted Cable dengan penggantung


TC. AL-XLPE 2 x 25 + 1 x 25 mm

TC. AL-XLPE 2 x 35 + 1 x 25 mm

TC. AL-XLPE 2 x 50 + 1 x 35 mm

TC. AL-XLPE 2 x 70 + 1 x 50 mm

TC. AL-XLPE 2 x 95 + 1 x 70 mm
TC. AL-XLPE 3 x 25 + 25 mm2

TC. AL-XLPE 3 x 35 + 1 x 25 mm

TC. AL-XLPE 3 x 50 + 1 x 35 mm

TC. AL-XLPE 3 x 70 + 1 x 50 mm

TC. AL-XLPE 3 x 95 + 1 x 70 mm

C. BI METAL TERMINAL LUGS AND CONNECTORS

Whenever aluminium cable is to be terminated on copper bus bar or


copper contact, if aluminium lug is used then contact between terminal lug and
copper bus bar being of dissimilar metals, galvanic action takes place. Also if
copper lug is used then contact between aluminium cable and barrel of copper
terminal lug is of dissimilar metal and hence the galvanic action takes place. In
order to prevent dissimilar contact and to avoid galvanic action it is always
advisable to use copper aluminium Bi-Metal lugs.

In Bi-Metal lugs barrel of the lug is of aluminium and the head or palm of
the lug is of copper. This ensures contact between aluminium cable to terminal lug
is of aluminium and contact between terminal lug to copper bus bar or contact is
of copper. Thus contact between dissimilar metal is avoided and contact between
similar metal is established. Thus Bi-Mettalic or galvanic action is completely
eliminated and hence technically sound and durable joint is achieved.

Electrolytic copper head / palm is friction welded to electrolytic


aluminium barrel. At the interface, copper molecules and aluminium molecules
intermingles with each other and form durable bond. Similarly if aluminium cable
is to be joined with copper cable then Bi-Metal in line connectors are to be used.
Here for aluminium cable aluminium barrel is provided and for copper cable
copper barrel is provided. Copper and aluminium barrels are friction welded.
Depending upon application Bi-Metal terminals, in line connectors, pin type
connectors etc are manufactured.

Note : In case if copper cable is to be terminated on aluminium bus bar /


aluminium contact, then reverse Bi-Metallic lugs can also be manufactured
against specific order. In reverse Bi- Metal lugs barrel is of copper and head is of
aluminium.