Anda di halaman 1dari 8

TANGGULANGI PENCEMARAN UDARA KOTA

(Fitriah)
Pendahuluan
Hampir tidak ada kota besar di dunia ini yang dapat menghindari dari bencana modern
pencemaran udara. Bahkan kota-kota yang dulu dikenal dengan udaranya yang murni, tak tercemar
misalnya Buenos Airres, Denvver dan Madrid. Sekarang selalu dikepung oleh udara yang begitu
tercemarnya sehingga dapat membunuh dan membuat orang yang sehat maupun sakit masuk rumah
sakit (Moore, 2003)
Menurut Widyawati, et al. (2003), beberapa penelitian yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan menunjukkan bahwa bagian tengah kota menunjukkan suhu yang lebih tinggi 3-4
Celsius dibandingkan dengan wilayah sekitarnya. Perbedaan ini terjadi sepanjang tahun. Namun
pada musim panas, perbedaan suhu tersebut nampak lebih tajam. Ada beberapa hal yang
menyebabkan gejala ini terjadi. Hal utama yang ditemukan adalah luasnya tutupan lahan yang
berupa pengerasan (seperti semen dan aspal). Semakin kering tanah, semakin sedikit panas yang
dipancarkan melalui evaporasi. Sementara itu, kota cenderung memiliki udara yang lebih buruk
untuk melepaskan panas yang dipancarkan melalui evaporasi. Kota cendrung memiliki udara yang
lebih buruk untuk melepaskan panas dibandingkan dengan wilayah pedesaan. Hal ini terjadi karena
luasnya daerah tutupan berupa pengerasan dan rapatnya bangunan.
Saat ini bebrerapa kota di Indonesia berubah status menjadi kota besar. Ini berarti
pencemaran udara juga sedang mengancam kota-kota tersebut. Apalagi sejak diberlakukannya
otonomi daerah (tahun 1999), pembangunan di beberapa kota meningkat sangat tajam. Mulai dari
pembangunan gedung-gedung pemerintah yang diganti dengan bangunan baru, plaza-plaza, sampai
dengan pembangunan ruko hampir di setiap jalan. Selain pembangunan fisik yang sangat marak,
peningkatan jumlah kendaraan bermotor pun meningkat drastis. Menurut beberapa pantauan
setidaknya setiap bulannya kurang lebih 140-an mobil dan motor motor terjual di beberapa kota di
indonesia..
Permasalahan yang timbul terhadap dua kondisi ini secara langsung maupun tidak langsung
telah mengakibatkan pencemaran udara dan panas yang sangat terik bagi pejalan kaki dan pengguna
kendaraan roda dua. Pelaksanaan pembangunan yang sangat pesat mengakibatkan banyak lahan
hijau yang hilang. Pohon-pohon peneduh dipinggir jalan banyak yang di tebang habis agar tidak
menutupi bangunan-bangunan baru yang baru dibangun.
Pencemaran Udara
Pencemaran udara menurut Henry C. Perkins, 1974, dalam bukunya Air Polution, adalah
hadirnya satu atau beberapa kontaminan dalam udara atmosfir di luar, seperti anatara lain oleh
debu, busa, gas, kabut, bau-bauan, asap atau uap dalam kuantitas yang banyak, dengan berbagai
sifat maupun lama berlangsungnya di udara tersebut, hingga dapat menimbulkan gangguan-ganguan
terhadap lingkungan manusia, tumbuhan atau hewan maupun benda, atau tanpa alasan jelas sudah
dapat mempengaruhi kelestarian kehidupan organisme maupun benda. Sedangkan berdasarkan
Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. 02/MENKLH/1998, yang
dimaksud dengan pencemaran udara adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi
dan/atau komponen lain ke dalam udara dan/atau berubahnya tatanan (komposisi) udara oleh
kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas udara menjadi kurang atau tidak dapat
berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya (Kristanto, 2002).
Lebih dari 70 % pencemaran udara di kota-kota besar disebabkan oleh kendaraan bermotor
(sumber bergerak), sedangkan 30 % sumber pencemaran berasal dari kegiatan industri, rumah
tangga, bangunan tinggi dan lain-lain (Riau Pos, 2003). Menurut Chiras (1994) kontribusi
persentase polutan udara yang memberi andil terhadap pencemaran udara di Amerika Serikat dapat
dilihat pada gambar 1. Para peneliti di Universitas Harvard menunjukkan bahwa di Amerika
Serikat -negara yang tingkat pencemarannya udaranya lebih rendah daripada kota-kota di negara
berkembang- setiap tahunnya terjadi kematian 50.000 dan 100.000 akibat pencemaran udara
(Moore, 2003)

Gambar 1. Kontribusi Transportasi Terhadap Pencemaran Udara di Amerika Serikat


(Sumber: Chiras, 1994)
WHO telah membuktikan bahwa karbon monoksida yang secara rutin mencapai tingkat tak
sehat di banyak kota dapat mengakibatkan kecilnya berat badan janin, meningkatnya kematian bayi
dan kerusakan otak, bergantung pada lamanya wanita hamil terpajan, dan bergantung pada
kekentalan polutan di udara.
Asap kendaraan merupakan sumber hampir seluruh karbon monoksida yang dikeluarkan di
banyak daerah perkotaan. Karena itu strategi penurunan kadar karbon monoksida yang berhasil
bergantung terutama pada pengendalian emisi otomatis seperti mengubah katalis, yang mengubah
sebagian besar karbon monoksida menjadi karbon dioksida. Kendali semacam itu secara nyata telah
menurunkan emisi dan kadar karbon monoksida yang menyelimuti kota-kota di seluruh dunia
industri: di Jepang, tingkat kadar karbon monoksida di udara menurun sampai 50 persen antara
tahun 1973 dan 1984, sementara di AS tingkat karbon turun 28 persen antara tahun 1980 dan 1989.
Namun negara berkembang mengalami kenaikan tingkat karbon monoksida, seiring dengan
pertambahan jumlah kendaraan dan kepadatan lalu lintas. Perkiraan kasar dari WHO menunjukkan
bahwa konsentrasi karbon monoksida yang tidak sehat mungkin terdapat pada paling tidak separo
kota di dunia
Pencemaran udara lebih mempengaruhi anak-anak daripada orang dewasa. Moree (2003)
mengungkapkan bahwa suatu studi membuktikan bahwa anak-anak yang tinggal dikota dengan
tingkat pencemaran udara lebih tinggi mempunyai paru-paru lebih kecil, lebih sering tidak
bersekolah karena sakit, dan lebih sering dirawat di rumah sakit.

Upaya penataan
Peningkatan jumlah kendaraan bermotor akan mempengaruhi peningkatan banyaknya emisi
CO2 di atmosfer. Jumlah peningkatan emisi CO2 minimum yang dihasilkan oleh kendaraan
bermotor setiap harinya yaitu 14.386.585 kg atau sekitar 14.400 ton.
Kebutuhan pohon untuk menurunkan emisi CO2 berbeda-beda tergantung pada jenis
kendaraaan yang juga menghasilkan emisi CO2 yang berbeda-beda. Untuk mobil penumpang,
jumlah pohon yang diperlukan untuk ditanam yaitu sebanyak 15-28 pohon. Untuk mobil beban,
jumlah pohon yang diperlukan untuk ditanam yaitu sebanyak 19-47 pohon. Untuk mobil bus,
jumlah pohon yang diperlukan untuk ditanam yaitu sebanyak 41-47 pohon. Untuk sepeda motor,
jumlah pohon yang diperlukan untuk ditanam yaitu sebanyak 8 pohon.
Alternatif solusi yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut yaitu pelaksanaan
program Envirocare From Customer (ECC)yang merupakan suatu program yang harus
dilaksanakan oleh setiap pembeli kendaraan bermotor dalam bentuk penanaman dan pemeliharaan
pohon sebagai bentuk tanggung jawab moral pembeli kendaraan bermotor karena telah
menghasilkan emisi CO2 yang mengakibatkan pemanasan global (global warming).
Webster (1799 dalam Widyawati, et al., 2003) seorang peneliti gejala panas perkotaan,
memberikan beberapa saran terhadap penanggulangan pencemaran udara perkotaan. Saran tersebut
antara lain adalah dengan membangun jalan yang lebar, agar udara dapat bebas bergerak, serta
menanam banyak pohon, terutama disepanjang tepi jalan dan membuat jalur hijau di tengahnya.
Fungsi pohon tersebut adalah untuk mengikat debu yang bertebaran (melekat dengan baik pada
daun), meredam bunyi, dan juga mengurangi panas cahaya matahari yang sampai ke bumi. Caldwell
(1981 dalam Widyawati et al., 2003) menambahkan bahwa selain penanaman pohon, pembangunan
air mancur juga dapat menyejukan udara sekitarnya.
Disamping itu pengadaan taman-taman kota serta ruang terbuka hijau (RTH) lainnya yang
tersebar diberbagai tempat, akan mampu mengurangi kadar zat pencemar udara dan menambah
kenyamanan kota. Hasil penelitian Puslitbang Jalan menunjukkan bahwa, tanaman-tanaman yang
terdapat di RTH dapat mereduksi polusi udara sekitar 5 hingga 45 %. RTH juga sangat efektif
mengurangi efek-efek climatological heath pada lokasi pemusatan bangunan tinggi, yang berakibat
pada timbulnya anomali-anomali pergerakan zat pencemar udara yang berdampak destruktif, baik
terhadap fisik bangunan maupun mahluk hidup (Widyawati et al., 2003)
Upaya penataan lain untuk mengatasi pencemaran udara ialah agar asosiasi hotel dan
restoran, asosiasi travel, serta asosiasi pertokoan mengharuskan hotel, restoran dan toko disepanjang
jalan untuk menanam pohon pada halamanya di dekat jalan. Misalnya pohon ketapang dengan tajuk
yang indah dan unik berbentuk datar berteras yang dapat memberi naungan tanpa mengganggu
pejalan kaki. (Soemarwoto, 2001)
Upaya pembuatan kolam dan kolam air mancur, selain sebagai penyejuk udara disekitarnya,
bisa juga berfungsi sebagai daya tarik dan suara yang dapat dibuat untuk memenuhi tujuan estetika.
Air mancur juga dapat dibuat pada lokasi areal Tugu (seperti Tugu yang akan segera dibangun
oleh Pemko Pekanbaru diberbagai lokasi pada kota Pekanbaru). Air dapat pula digunakan untuk
merefleksikan beberapa pemandangan, baik alamiah maupun struktur buatan.
Mengingat besarnya peranan dan kontribusi kendaraan bermotor dalam pencemaran udara ,
maka penataan jalur lalu lintas dan lokasi perparkiran memerlukan perhatian khusus dalam upaya
penataan. Pada pusat kota, hendaknya jalan-jalan porotokol diusahakan mempunyai jalur alternatif
dan adanya kesadaran masyarakat untuk tidak memarkirkan kendaraannya di badan jalan. Dengan
adanya jalur alternatif dan kesadaran ini maka kemacetan akan terhindar pada jam-jam sibuk, yang
berarti pengurangan pencemaran udara.

Kesimpulan
Kota-kota di Indonesia yang sedang giat-giatnya melakukan pembangunan (terutama
pembangunan fisik) harus memiliki penataan ruang kota yang baik, agar terhindar dari pencemaran
udara dan berbagai dampaknya. Usaha yang dapat dilakukan dapat berupa penataan jalan yang
memiliki jalur hijau, pembangunan air mancur di beberapa lokasi pusat kota, membatasi jumlah
ruko, dan membuat taman-taman kota atau ruang hijau terbuka serta pengaturan lalu lintas dan areal
parkirnya.selain itu, untuk mensukseskan program Envirocare From Customer (ECC)yang
merupakan suatu program yang harus dilaksanakan oleh setiap pembeli kendaraan bermotor dalam
bentuk penanaman dan pemeliharaan pohon sebagai bentuk tanggung jawab moral pembeli
kendaraan bermotor karena telah menghasilkan emisi CO2 yang mengakibatkan pemanasan global
(global warming, diperlukan kerjasama dari berbagai pihak seperti dealer, Departemen Kehutanan,
Departemen Lingkungan Hidup, Dinas Kehutanan Daerah, dan pemerintah. Adanya peraturan
hukum yang mengikat juga diperlukan agar pelaksanaan program ini dapat berjalan dengan baik.

Daftar Pustaka
Chiras, D.D. 1994. Environmental Science. Fourth Edition. South version. The
Benjamin/Cummings Publishing Company, Inc.390 Bridge Parkway. Redwood City,
California 94065.
Kristanto, P. 2002. Ekologi Industri. Universitas Kristen PETRA Surabaya dan Penerbit ANDI
Yogyakarta.
Miller, G.T.J. 1982. Living in the Environment. Third Edition. Wadsworth Publishing Company.
Belmont, California. A Division of Wadsworth, Inc.
Moore, C. 2003. Mutu Udara Kota. http://www.usembassyjakarta.org/ptp/udarkt3.html (5 Februari
2003)
Soemarwoto, O. 2001. Atur-Diri-Sendiri. Paradigma Baru Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Widyawati, H. Setiadi, F. Rahmawati. Kondisi Udara Sebagai Cermin Penataan Kota.
http://www.bk.or.id/artikel-3-hlm1.html (5 Februari 2003)
Riau Pos. 2003. Pencemaran Udara Hanya Sebatas Proyek. Pekanbaru. (20 Januari 2003)
Tabel 1. Perkiraan lama tinggal beberapa jenis polutan udara
Jenis Lama tinggal/tahun
N2O 20
CO2, CH4 3
CO 0.4
SO2 <0.02a
NO, NO2 <0.01a
NH3, H2S <0.005a
a
variabel sangat tinggi