Anda di halaman 1dari 2

Contoh surat Resmi

Contoh surat pribadi:


Surabaya, 24 September 2007
Yts. Saskia Permatasari
Jalan Apollo 35
Medan
Salam kangen . . . .
Hai, Saskia . . . apa kabar? Bagaimana kabar paman, bibi, dan si jahil, Andika?
Semoga keluarga Medan dalam keadaan sehat. Alhamdulillah, saya dan keluarga di Surabaya
dalam keadaan sehat.

Selamat, ya. Kata paman, kamu diterima di SMP Harapan Bangsa yang terkenal memiliki
prestasi dan ekstrakurikuler yang hebat. Oh, iya, kamu ikut ekstrakurikuler apa? Cerita dong,
mungkin kegiatan ekstrakurikuler kamu sama dengan saya. Nah, kita bisa bertukar
pengalaman. Kita bisa saling membantu.
Saya diterima di SMP Pancasila. Teman-teman baruku sangat menyenangkan. Saya lebih
mudah bergaul. Kamu tahu sendiri, kan? Saya pemalu dan tidak percaya diri. Saya harus
berusaha membuka diri dan bergaul dengan teman-teman. Sekarang saya aktif di PMR
(Palang Merah Remaja) sekolah. Saya akan menceritakan hal-hal menarik yang saya
dapatkan selama menjadi anggota PMR.

Saya tertarik mengikuti PMR karena saya berharap bisa membantu teman, keluarga, atau
tetangga yang sakit. Hari pertama masuk PMR saya merasa tidak ingin masuk lagi. Kakak
pembina galak-galak.
Kalian harus patuhi semua peraturan yang telah ditentukan oleh pembina. Selain itu, kalian
harus jalani semua perintah pembina. Ingat, tidak bolehmenggerutu! kata salah seorang
pembina.
Badanku sudah gemetar. Padahal, kata-kata itu hanya untuk menguji mentalami. Oh, iya
kamu ingat kan saat kamu membentak saya. Itu, saat saya memecahkan gelas kaca. Saya
pikir kamu benar-benar marah. Ternyata, hanya menggertak saja.

Lama-kelamaan saya terbiasa. Saya mengikuti semua kegiatan dengan perasaan senang. Saya
sudah bisa membalut luka, membuat drakbar (itu lho, alat untuk mengangkat orang sakit),
cara menangani orang pingsan, pokoknya lengkap deh. Bahkan, saya dijuluki suster oleh
teman-teman.
Ada hal memalukan yang pernah saya lakukan saat latihan. Ceritanya, saya dan Sari
(temanku di PMR) bertugas menjaga Pos 2 saat latihan di luar sekolah. Nah, pada saat kami
bercakap-cakap, seorang anak kecil terjatuh dari sepeda. Lututnya berdarah, hatiku berdesir.
Kamu tahu kan saya takut dengan darah. Saya hanya diam terpaku.

Andini, cepat obati adik ini! Sari memangkunya. Anak itu mengaduh kesakitan. Saya
masih diam karena bingung. Ayo, cepat hentikan darahnya! Saya semakin gugup. Ya,
sudah! Ambilkan kapas dan obat biar saya yang bersihkan luka dan mengobatinya. Sari
dengan cekatan membersihkan dan mengobati luka anak itu.

Anak itu berterima kasih, kemudian berlalu. Sari hanya memandang saya dengan kecewa.
Maafkan saya, Sari. Saya takut darah, tapi jangan bilang kepada kakak pembina, ya. Saya
malu. Saya menunduk lama sekali dan saya berjanji akan memberanikan diri apa pun yang
saya hadapi untuk menjadi PMR sejati.

Nah, kamu sudah dengarkan ceritaku. Saya tunggu ceritamu pasti lebih seru.
Sudah dulu ya, Sas. Kapan-kapan kita sambung lagi.
Bye . . . .
Contoh surat Resmi
Contoh surat