Anda di halaman 1dari 46

SISTEM REPRODUKSI II

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN IBU BERSALIN


FISIOLOGIS KALA I

Dosen Pembimbing :
Heny Eka Wati, S.Kep.Ns.M.Kes

KELOMPOK :

1. Eka Elisabeth D.M. (12.02.01.1002)


2. Himma Nafist S.J. (12.02.01.1011)
3. Siti Fatimah Nur Ida (12.02.01.1043)

OLEH VI A S1-KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


MUHAMMADIYAH LAMONGAN
2015
LEMBAR PENGESAHAN

Telah diperiksa dan disetujui untuk Dipresentasikan Kepada Teman-


Teman Mahasiswa Program S1 Keperawatan Semester VI A Stikes
Muhammadiyah Lamongan, dengan judul KONSEP ASUHAN
KEPERAWATAN pada IBU BERSALIN FISIOLOGIS KALA I.

Lamongan, April 2015

Mengetahui
Dosen Pembimbing

Heny Eka Wati, S.Kep., Ns., M.Kes


KATA PENGANTAR

Assalamualaikum. Wr. Wb.


Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT Yang Maha Esa karena atas
Rahmat dan Karunia-Nyalah, kami selaku penulis makalah yang berjudul
Konsep Asuhan Keperawatan Ibu Bersalin Fisiologis Kala I yang mana
makalah ini sebagai salah satu tugas dalam mata kuliah Sistem Reproduksi II,
Alhamdulillah dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Maka dengan terselesainya makalah ini, kami selaku penulis tidak lupa
mengucapkan terima kasih yang sebanyak banyaknya kepada:
1. Drs H.Budi Utomo, Amd.Kep.,M.Kes, selaku ketua STIKES Muhammadiyah
Lamongan.
2. Arifal Aris, S.Kep.,Ns.,M.Kes, selaku ketua prodi S1 Keperawatan STIKES
Muhammadiyah Lamongan
3. Heny Ekawati,S.Kep.Ns.M.Kes. selaku dosen Mata Kuliah Sistem
Reproduksi II.
4. Dan semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan
makalah ini. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca
yang sifatnya membangun sehingga dapat digunakan untuk membantu
perbaikan mendatang dan atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan
terima kasih.

Wassalamualaikum. Wr. Wb
Lamongan, April 2015

Penyusun
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................. i


KATA PENGANTAR ....................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................
1.2 Rumusan Masalah ...........................................................................
1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi Persalinan ..........................................................................
2.2 Macam-macam persalinan ...............................................................
2.3 Etiologi ............................................................................................
2.4 Manifestasi Klinis ............................................................................
2.5 Faktor Yang Mempengaruhi Persalinan ..........................................
2.6 Proses Persalinan ............................................................................
2.7 Kala I (Kala Pembukaan) ...............................................................
2.8 Fase-Fase Kala I Persalinan ............................................................
2.9 Patofisiologi ....................................................................................
2.10 Pathway ..........................................................................................
2.11 Fisiologi Persalinan Kala 1 ..............................................................
2.12 Perubahan Fisiologis Persalinan Kala I ...........................................
2.13 Perubahan Psikologi pada Kala I Persalinan ...................................
2.14 Kebersihan dan kenyamanan sebelum menghadapi persalinan
kala I ...............................................................................................
2.15 Komplikasi Dalam Persalinan .........................................................
2.16 Penatalaksanaan Kala I Persalinan ..................................................
2.17 Pemeriksaan Dignostik ....................................................................
2.18 Management Nyeri ..........................................................................
BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian ............................................................................................
3.2 Diagnosa Keperawatan.........................................................................
3.3 Rencana Keperawatan ..........................................................................

BAB IV PENUTUP
4.1. Kesimpulan ........................................................................................
4.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tingginya kasus kesakitan dan kematian ibu di banyak Negara
berkembang terutama disebabkan oleh perdarahan persalinan, eklamsia, sepsis,
dan komplikasi keguguran. Sebagian besar penyebab utama kesakitan dan
kematian ibu tersebut sebenarnya dapat dicegah melalui upaya pencegahan yang
efektif. Asuhan kesehatan ibu selama dua dasawarsa terakhir terfokus kepada :
keluarga berencana untuk lebih mensejahterakan anggota masyarakat. Asuhan
neonatal trfokus untuk memantau perkembangan kehamilan mengenai gejala dan
tanda bahaya, menyediakan persalinan dan kesediaan menghadapi komplikasi.
Asuhan pasca keguguran untuk penatalaksaan gawat darurat keguguran dan
komplikasinya serta tanggap terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan reproduksi
lainnya.
Persalinan yang bersih dan aman serta pencegahan kajian dan bukti ilmiah
menunjukan bahwa asuhan persalinan bersih, aman dan tepat waktu merupakan
salah satu upaya efektif untuk mencegah kesakitan dan kematian. Penatalaksanaan
komplikasi yang terjadi sebelum, selama dan setelah persalinan. Dalam upaya
menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu perlu diantisipasi adanya
keterbatasan kemampuan untuk menatalaksanakan komplikasi pada jenjang
pelayanan tertentu.

1. 2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa Definisi Persalinan ?
1.2.2 Apa Macam-Macam Persalinan?
1.2.3 Apa Etiologi Persalinan ?
1.2.4 Bagaimana Manifestasi Klinis Persalinan?
1.2.5 Apa Saja Factor Yang Mempengaruhi Persalinan ?
1.2.6 Bagaimana Proses Persalinan ?
1.2.7 Apa Definisi Persalinan Kala I ?
1.2.8 Apa Saja Fase-Fase Pada Persalinan Kala I ?
1.2.9 Bagaimana Patofisiologi Pada Persalinan Kala I ?
1.2.10 Bagaimana Pathway Pada Persalinan Kala I ?
1.2.11 Bagaimana Fisiologi Pada Persalinan Kala I ?
1.2.12 Bagaimana Perubahan Fisiologis Pada Persalinan Kala I ?
1.2.13 Bagaimana Perubahan Psikologis Pada Persalinan Kala I ?
1.2.14 Bagaimana Kebersihan Dan Kenyamanan Sebelum Menghadapi
Persalinan Kala I ?
1.2.15 Bagaimana Komplikasi Dari Persalinan ?
1.2.16 Bagaimana Penatalaksanaan Pada Persalinan Kala I ?
1.2.17 Bagaimana Pemeriksaan Diagnostic Pada Kala I ?
1.2.18 Bagaimana Management Nyeri Pada Persalinan ?
1.2.19 Bagaimana Konsep Asuhan Keperawatan Persalinan Kala I?

1. 3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Mahasiswa diharapkan memahami tentang Persalinan kala I dan
asuhan keperawatan persalinan kala I

1.3.2 Tujuan Khusus


a. Untuk Mengetahui Definisi Persalinan
b. Untuk Mengetahui Macam-Macam Persalinan
c. Untuk Mengetahui Etiologi Persalinan
d. Untuk Mengetahui Manifestasi Klinis Persalinan
e. Untuk Mengetahui Factor Yang Mempengaruhi Persalinan
f. Untuk Mengetahui Proses Persalinan
g. Untuk Mengetahui Persalinan Kala I
h. Untuk Mengetahui Fase-Fase Persalinan Kala I
i. Untuk Mengetahui Patofisiologi Persalinan Kala I
j. Untuk Mengetahui Pathway Persalinan Kala I
k. Untuk Mengetahui Fisiologi Persalinan Kala I
l. Untuk Mengetahui Perubahan Fisiologis Persalinan Kala I
m. Untuk Mengetahui Perubahan Psikologis Pada Persalinan Kala I
n. Untuk Mengetahui Kebersihan Dan Kenyamanan Sebelum
Menghadapi Persalinan Kala I
o. Untuk Mengetahui Komplikasi Dari Persalinan
p. Untuk Mengetahui Penatalaksanaan Persalinan Kala I
q. Untukmengetahui pemeriksaan diagnostik Pada Persalinan Kala I
r. Untuk Mengetahui Management Nyeri Pada Persalinan
s. Untuk Mengetahui Konsep Asuhankeperawatan Persalinan Kala I
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Persalinan


Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta)
yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir
atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri).
Proses ini di mulai dengan adanya kontrasi persalinan sejati, yang ditandai
dengan perubahan serviks secara progresif dan diakhiri dengan kelahiran
plasenta.
Kelahiran bayi merupakan pristiwa penting bagi kehidupan seorang
pasien dan keluarganya. Sangat pentng untuk diingat bahwa persalinan adalah
proses yang normal dan merupakan kejadian yang sehat. Namun demikian,
potensi terjadinya komplikasi yang mengancam nyawa selalu ada sehingga
bidan harus mengamati dengan ketat pasien dan bayi sepanjang proses
melahirkan. Dukungan yang terus menerus dan penatalaksanaan yang trampil
dari bidan dapat menyumbangkan suatu pengalaman melahirkan yang
menyenagkan dengan hasil persalinan yang sehat dan memuaskan.
Persalinan adalah serangakain kejadian yang berakhir dengan peneluaran
bayi yang cukup bulan atau hampircukup bulan, disusul dengan pengeluaran
plasenta dan selaput janin dari tubuh Ibu.
Persalinan adalah Proses untuk mendorong keluar (ekspulsi) hasil
pembuahan yaitu janin plasenta dan selaput ketuban keluar dari dalam uterus
melalui vagina ke dunia luar. (Farrer,1999)
Persalinan bias disebut juga suatu proses pengeluaran hasil konsepsi
janin dan yang dapat hidup di dunia luar darirahim melalui jalan lahir atau
dengan jalan lain (Mochtar, 1998).
2.2 Macam- macam persalinan :
1. Persalinan spontan : persalinan yang berlangsung dengan kekuatan sendiri
dan melalui jalan lahir
2. Persalinan buatan : persalian yang dibantu dengan tenaga dari luar
misalnya forcep
3. Persalinan anjuran : persalinan yang tidak dimulai sendiri, tetapi baru
berlangsung setelah pemecahan ketuban, pemberian pitocyn atau
prostaglandin

2.3 Etiologi
Menurut Mochtar (1998) beberapateori mengemukakan etiologi dari
persalinan adalah
1. Teori penurunan hormone
Pada 1-2 minggusebelum proses persalinan mulai terjadipenurunan
kadar hormone esterogen dan progesterone . progesterone bekerja sebagai
penenang otot-otot polos rahim dan akan menyebabkan kekejangan
pembuluh darah sehingga timbul kontraksi oto rahim bila kadar
progesterone menurun.
2. Teori placenta menjadi tua
Dengan semakin tuanya plasenta akan menyebabkan turunnya kadar
esterogendan progesteronyang menyebabkan kekejangan pembuluh darah ,
hal ini menyebabkan kontraksi rahim.
3. Teori distensi rahim
Rahimyangmenjadi besar dan meregang menyebabkan iskemia otot
otot rahim,sehingga mengganggu sirkulasi utero plasenter.
4. Teori iritasi mekanik
Dibelakang serviks terletak ganglion servikale (fleksus
frankenhauser). Bila ganglion ini digeser dan ditekan misalnya oleh kepala
janin , akan timbul kontraksi rahim
5. Induksi partus
Dengan jalan gagang laminaria, aniotomi, oksitosin drip dan sexio
caesarea.

2.4 Manifestasi Klinis


Sebelum persalinan mulai, saat mendekati akhir kehamilan ,klien mungkin
lihat perubahan tertentu atau ada tanda-tanda bahwa persalinan terjadi tidak
lama lagi sekitar 2-4 minggu sebelum persalinan. Kepala janin mulai menetap
lebih jauh kedalam pelviks. Tekanan pada diafragma berkurang seperti
memperingan berat badan bayi dan memungkinkan ibu untuk bernapas lebih
mudah, akan lebih sering berkemih, dan akan lebih bertekan pada pelviks
karena bayi lebih rendah dalam pelviknya.
1. Persalinan Palsu
a. Terjadi lightening
Menjelang minggu ke 36 pada primigravida terjadi
penurunan fundus uteri karena kepala bayi sudah masuk pintu atas
panggul yang disebabkan:
1) Kontraksi Braxton hicks
2) Ketegangan dinding perut
3) Ketegangan ligamentum rotandum
4) Gaya berat janin dimana kepala kearah bawah
b. Masuknya kepala bayi kepintu atas panggul dirasakan ibu hamil :
1) Terasa ringan dibagian atas, rasa sesaknya berkurang
2) Dibagian bawah terasa sesak
3) Terjadi kesulitan saat berjalan
4) Sering miksi ( beser kencing )
5) Terjadinya His permulaan
Pada saat hamil muda sering terjadi kontraksi Braxton hicks
dikemukan sebagai keluhan karena dirasakan sakit dan mengganggu
terjadi karena perubahan keseimbangan estrogen,progesterone, dan
memberikan kesempatan rangsangan oksitosin.
Dengan makin tua hamil, pengeluaran estrogen dan
progesterone makin berkurang sehingga oksitosin dapat menimbulkan
kontraksi yang lebih sering sebagai his palsu.
Sifat his permulaan ( palsu ) :
a) Rasa nyeri ringan di bagian bawah
b) Datangnya tidak teratur
c) Tidak ada perubahan pada serviks atau pembawa tanda
d) Durasinya pendek
e) Tidak bertambah bila beraktifitas
2. Persalinan Sejati
a. Terjadinya His persalinan , His persalinan mempunyai sifat :
1) Pinggang terasa sakit yang menjalar ke bagian depan
2) Sifatnya teratur,interval makin pendek, dan kekuatannya
makin besar
3) Mempunyai pengaruh terhadap perubahan serviks
4) Makin beraktifitas ( jalan ) kekuatan makin bertambah
b. Pengeluaran Lendir dan darah ( pembawa tanda ), Dengan his
persalinan terjadi perubahan pada serviks yang menimbulkan:
1) Pendataran dan pembukaan
2) Pembukaan menyebabkan lender yang terdapat pada kanalis
servikalis lepas
3) Terjadi perdarahan karena kapiler pembuluh darah pecah
c. Pengeluaran Cairan
Pada beberapa kasus terjadi ketuban pecah yang menimbulkan
pengeluaran cairan. Sebagian ketuban baru pecah menjelang
pembukaan lengkap. Dengan pecahnya ketuban diharapkan persalinan
berlangsung dalam waktu 24 jam.
2.5 Faktor Yang Mempengaruhi Persalinan
1. Power / Tenaga
Power utama pada persalinan adalah tenaga/kekuatan yang
dihasilkan oleh kontraksi dan retraksi otot-otot rahim. Gerakan memendek
dan menebalotot-otot rahim yang terjadi sementara waktu disebut
kontraksi. Kontraksi ini terjadi diluar sadar sedangkan retraksi mengejan
adalah tenaga kedua (otot-otot perut dan diafragma) digunakan dalam kala
II persalinan. Tenaga dipakai untuk mendorong bayi keluar dan
merupakan kekuatan ekspulsi yang dihasilkan oleh otot-otot volunter ibu.
2. Passages/Lintasan
Janin harus berjalan lewat rongga panggul atau serviks dan vagina
sebelum dilahirkan untuk dapat dilahirkan, janin harus mengatasi pula
tahanan atau resisten yang ditimbulkan oleh struktur dasar panggul dan
sekitarnya.
3. Passanger
Passenger utama lewat jalan lahir adalah janin dan bagian janin
yang paling penting (karena ukurannya paling besar) adalah kepala janin
selain itu disertai dengan plasenta selaput dan cairan ketuban atau amnion.
4. Psikologis
Dalam persalinan terdapat kebutuhan emosional jika kebutuhan
tidak tepenuhi paling tidak sama seperti kebutuhan jasmaninya. Prognosis
keseluruhan wanita tersebut yang berkenan dengan kehadiran anaknya
terkena akibat yang merugikan.

2.6 Proses Persalinan


Ada baiknya para calon ibu mengetahui proses atau tahapan persalinan
seperti apa, sehingga para calon ibu dapat mempersiapkan segala halnya guna
menghadapi proses persalinan ini. Proses persalinan terbagi ke dalam
beberapa tahap, yaitu :
1. kala I; Tahap Pembukaan
Pada kala ini terbagi atas dua fase yaitu:
a. Fase Laten: dimana pembukaan serviks berlangsung lambat, sampai
pembukaan 3 cm.
b. Fase aktif: yang terbagi atas 3 subfase yaitu akselerasi, steady dan
deselerasi
2. Kala II; Tahap Pengeluaran Bayi
3. Kala III; Tahap Pengeluaran Plasenta
4. Kala IV: hingga dua jam setelah plasenta lahir

2.7 Kala I (Kala Pembukaan)


Persalinan Kala I (kala dilatasi ) dimulai dengan adanya gejala awal
persalinan sejati dan berakhir dengan dilatasi serviks lengka. (Sharon J, 2011).
Persalinan kala I adalah pembukaan yang berlangsung antara pembukaan
nol sampai pembukaan lengkap.
Persalinan Kala I berlangsung dari awal gejala sampai serviks berdilatasi
sempurna (10cm). Lamanya Kala I rata-rata 6 sampai 18 jam pada primipara
dan 2 sampai 10 jam pada multipara, dengan variasi individu yang sangat
besar. (Hamilton, 1995).
Permulaan persalinan ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah
karena serviks mulai mendatar dan membuka. (Mochtar, 1998).

2.8 Fase-Fase Kala I Persalinan


Proses pembukaan serviks terdiri dari 2 fase . (Hamilton, 1995) , yaitu :
1. Fase laten, dimana kontraksi masih tak teratur atau lemah. Berlangsung
selama 8 jam sampai pengukuran 3 cm.
Fase laten adalah periode waktu dari awal persalinan hingga ke titik
ketika pembukaan mulai berjalan secara progresif, yang umumnya dimulai
sejak kontraksi mulai muncul hingga pembukaan tiga sampai 4cm atau
permulaan fase aktif. Selama fase laten bagian presentasi mengalami
penurunan sedikit hingga tidak sama sekali.
Kontraksi menjadi lebih stabil selama fase laten seiring dengan
peningkatan frekuensi, durasi, dan intensitas dari mulai terjadi setiap 10
sampai 20 menit, berlangsung 15 sampai 20 detik, dengan intensitas ringan
hingga kontraksi denga intensitas sedang (rata-rata 40mmHg pada puncak
kontraksi dari tonus uterus dasar sebesar 10mmHg) yang terjadi setiap 5
sampai 7 menit dan berlangsung 30 sampai 40 detik.
Pengukuran lama fase laten yang akurat pada kala l persalinan
merupakan hal yang tidak mungkin dilakukan untuk sejumlah alasan.
1. Kesulitan membandingkan diagnosis antara fase laten dan persalinan
palsu.
2. Ketidakmampuan menghitung secara objektif awal fase laten sehingga
harus mengandalkan laporan dari wanita atau siapa saja yang
mendampingi wanita tersebut, yang mencakup: kapan ia mulai
menyadari kontraksi yang dialaminya dan kapan menjadi teratur.
3. Fariasi kemangan serviks pada masing masing wanita pada awitan
persalinan.
Pada pemeriksaan dalam selama periode waktu ini dapat dicatat
perubahan serviks, khususnya penipisan pada primigravida dan
pembukaan awal.
Biasanya pada fase laten persalinan wanita mengalami emosi yang
bercampur aduk: wanita merasa gembira, bahagia dan bebas karena
kehamilan dan penantian yang panjang akan segera berakhir, tetapi
mempersiapkan diri sekaligus memiliki kekhawatiran tentang apa yang
akan terjadi.Secara umum, dia tidak terlalu merasa tidak nyaman dan
mampu menghadapi situasi tersebut dengan baik.Namun, untuk wanita
yang tidak pernah mempersiapkan diri apa yang akan terjadi, fase laten
persalinan akan menjadi waktu ketika ia banyak berteriak dalam ketakutan
bahkan pada kontraksi yang paling ringan sekalipun dan tampak tidak
mampu mengatasinya sampai seiring frekuensi dan itensitas kontraksi
meningkat, semakin jelas baginya bahwa ia akan segera bersalin.Sering
kali hal ini bertepatan masuk ke dalam fase aktif persalinan dan masuk ke
unit persalinan dan pelahiran, yang dianggap wanita sebagai sumber rasa
aman dan bantuan semua hal yang membuat rasa takutnya berkurang dan
memiliki kemampuan koping yang lebih baik. Bagi wanita yang telah
banyak menderita menjelang akhir kehamilan dan menjelang persalinan
palsu, respon emosionalnya terhadap fase laten persalinan kadang- kadang
dramatis: perasan lega, relaksasi dan peningkatan kemampuan koping
tanpa memperhatikan lokasi persalinan. Walaupun merasa letih, wanita itu
tahu bahwa pada akhirnya ia benar benar bersalin dan apa yang ia alami
saat ini produktif.
2. Fase aktif , dimana kontraksi menjadi lebih sering , lebih lama,dan lebih
kuat. Berlangsung selama enam jam yang dibagi atas tiga subvase, antara
lain:
a. Fase akselerasi :lamanya 2jam, dengan pembukaan 3-4 cm.
b. Fase dialatasi maksimal :lamanya 2jam, dengan pembukaan 5-9 cm.
c. Fase deselerasi :lamanya 2 jam, pembukaan lebih dari 9 cm
sampai pembukaan lengkap. His tiap 3-4 menit selama 45 detik.
Pada multigravida proses ini akan berlangsung lebih cepat.

2.9 Patofisiologi
1 2 minggu sebelum partus, mulai terjadi penurunan kadar hormon
progesteron. Progesteron bekerja sebagai penenang otot otot polos rahim
dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila
kadar progesteron turun.
Kontraksi his akan menyebabkan peregangan jaringan yang bisa
dirasakan nyeri pada klien baik pada saat fase laten maupun aktif. Distensi
rahim. Iritasi mekanik dan induksi partus juga bisa merangsang kontraksi his
yang kemudian akan berpengaruh pula pada sistem tubuh. Pada sistem
pernapasan, penggunaan energi berlebih yang digunakan untuk menahan rasa
nyeri maupun untuk kontraksi his akan menyebabkan kelelahan yang
nantinya ventilasi juga akan meningkat. Sebagai kompensasi pergerakan oto-
otot pernapasan juga akan menjadi lebih maksimal yang bisa berpengaruh
pada tidak efektifnya pola pernapasan.
Pada sistem sirkulasi, penurunan curah jantung akan menyebabkan
hipoksia dan hipoksemia yang akan mengganggu perfusi jaringan ke otak
maupun ke jaringan yang lainnya. Pada sistem metabolisme, hipoksia akan
membuat tubuh mengkompensasi dengan membuat metabolisme anaerob
yang bisa mempengaruhi peningkatan nadi dan respiratory rate. Pada sistem
urinaria, karena terjadi peningkatan kerja otot-otot pada rongga abdomen
maka aliran darah menuju glomerulus juga akan meningkat yang nantinya
juga mempengaruhi pola eliminasi uri, sehingga ketidakseimbangan cairan
karena adanya poliuri juga mungkin bisa terjadi. Kehilangan cairan ini juga
akan meningkatkan suhu tubuh, sehingga pada klien terjadi gangguan
thermoregulasi hiperermi. Pada sistem gastrointestinal, kerja otot-otot
pencernaan hampir berhenti, sehingga produksi asam lambung menurun. Ini
menyebabkan pada saat itu klien tidak mempunyai nafsu makan, sehingga
pada fase laten maupun fase aktif persalinan kebutuhan nutrisi tidak boleh
ditinggalkan. (Helen Varney.2007)
2.10 Pathway

Placenta Oksitosin Distensi Iritasi Induksi


menjadi tua rahim mekanik partus
Kontraksi
H. Progesteron uterus Iskemia Fleksus Oksitosin Amniotomi
otot rahim Frankenhauser Drip
Keregangan
Otot polos rahim Tertekan
Dilatasi serviks Merangsang otot perut
relaksasi
SSP
Timbul his Janin lebih
Kekejangan
Kontraksi cepat turun
pembuluh darah Peregangan
MK:Nyeri jaringan Masuk PAP

Fase Laten
Fase Aktif

Emosi
campur System System System System System
aduk gastrointestinal pernafasan sirkulasi metabolisme urinaria
MK:
Otot Penggunaan Aliran balik Penurunan Hipoksia / Proses
Khawatir
pencernaan energy vena Curah hipoksemia penurunan
tentang apa
hampir berlebihan Jantung janin
yang akan
terjadi terhenti
Ventilasi Metabolisme VU
Disritmia
Kurang Produksi Kelelahan ventrikuler anaerob tertekan
pengetahuan asam
Mengkompensasi poliuria
lambung MK :
MK : Pola tubuh
MK: Nafas Tidak Gangguan
Nafsu Kehilangan
Ansietas Efektif perfusi Nadi & RR
makan cairan
jaringan
otak MK: Gg.
MK: Gg. Suhu
MK : Pola
Nutrisi tubuh
Kerusakan Eliminasi
Inadekuat Pertukaran
Gas MK : resiko Gg. MK:
Keseimbangan Hipertermi
cairan
2.11 Fisiologi Kala 1 Persalinan
1. Durasi
Lama persalinan sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh paritas,
interval kelahiran, status psikologis, presentasi dan posisi janin, bentuk
dan ukuran pelvik matrenal, serta karakteristik kontraksi uterus. Jelas
sekali bahwa bagian terbesar persalinan adalah kala I, pase aktif biasanya
akan selesai dalam 6-12 jam.
Rata-rata lamanya fase aktif (dilatasi 4-10 cm) adalah 7,7 jam pada
ibu primipara (tetapi dapat terjadi sampai 17,5 jam) dan 5,6 jam pada ibu
multipara (sekali lagi dapat terjadi hingga 13,8 jam). Rata-rata ibu
primipara membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan ibu
multipara, yang diperkirakan dapat mencapai kala II dengan lebih cepat.
Namun demikian, pada aksus tertentu, nilai rata-rata tersebut dapat
sangan menyesatkan.
2. Kerja uterus
a. Dominan fundus
Setiap kontraksi uterus bermula di fundus dekat salah satu kornua
dan menyebar ke samping dan ke bawah. Kontraksi tersebut
berlangsung paling lama dan paling kuat di fundus, tetapi puncaknya
terjadi secara bersamaan di seluruh uterus dan kontraksi tersebut akan
menghilang dari semua bagian uterus juga secara bersamaan. Pola ini
memungkinkan serviks untuk berdilatasi dan fundus berkontraksi
secara secara kuat untuk mengeluarkan janin
b.Polaritas
Polaritas merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan
keselarasan neuromuskuler yang terdapat diantara dua kutub atau
bagian uterus selama persalianan.
Selama setiap kontraksi uterus, kedua kutub ini bekerja secara
selaras. Kutub bagian atas berkontraksi secara kuat dan melakuakn
retraksi untuk mengeluarkan janin. Kutub agak bawah berkontraksi
dan berdilatasi agar pengeluaran janin dapat terjadi. Jika polaritas tidak
teratur, kemajuan persalianan akan terlambat.
c. Kontraksi dan retraksi
Otot uterus memiliki sifat yang unik. Selama persalinan, kontraksi
tidak menghilang secara keseluruhan, tetapi serat oto mempertahankan
sebagian kontraksi yang semakin singkat tersebut, dan tidak benar-
benar rileks. Hal ini disebut retraksi. Retraksi membantu kemajuan
pengeluaran janin. Segman atas uterus secara bertahap menjadi lebih
pendek dan lebih tebal dan kavumnya menghilang.
Setiap persalinan bersifat individual dan tidak selau sesuai harapan,
tetapi pada umumnya, sebelum persalinan dimulai kontraksi uterus
akan terjadi setiap 15-20 menit dan dapat berlangsung selama sekitar
30 detik. Kontraksi ini sering kali agak lemah bahkan tidak dirasakan
oleh ibu. Kontraksi ini biasanya terjadi dengan irama yang tertatur dan
jarak antar kontraksi secara bertahap semakin berkurang. Sementara
itu, lama dan kekuatan kontraksi secara bertahap meningkat melewati
fase laten dan masuk ke dalam kala I aktif. Pada akhir kala I, kontraksi
terjadi pada interval 2-3 menit, berlangsung selama 50-60 menit dan
sangat kuat.
d. Pembentukan segmen atas dan bawah uterus
Di akhir kehamilan, badan uterus digambarkan seperti terbagi
menjadi dua bagian yang berbeda secara anatomi. Segman atas uterus,
terbentuk dari badan fundus, berkaitan terutama dengan kontraksi dan
retraksi, bagian ini tebal dan berotot. Uterus bagian bawah terbentuk
dari ismus dan serviks, dan panjangnya sekitar 8-10 cm. Bagian bawah
ini dipersiapkan untuk distensi dan dilatasi.
Meskipun tidak terdapat batasan yang jelas dan tegas diantara kedua
bagian ini, kandungan oto berkurang dari fundus ke serviks yang
memang lebih tipis.
Ketika persalinan dimulai, serat longitudinal yang teretraksi di
bagian atas manarik bagian bawah sehingga menyebabkan teregangnya
bagian ini. Hal ini dibentu oleh kekuatan yang barasal dari bagian
presentasi janin yang sedang mengalami penurunan.
e. Cincin retraksi
Sebuah bukit terbentuk diantara segmen atas uterus dan bawah. Hal
ini disebut sebagai retraksi, atau cincin Bandl digunakan untuk
derajat fenomena yang berlebihan yang dapat dilihat di atas simfisis
pada obstruksi mekanis persalinan jika bagian bawah meniis secara
abnormal.
Cincin fisiologios secara bertahap meninggi saat segmen atas uterus
berkontraksi dan beretraksi dan uterus bagian bawah meninggi untuk
mengakomodasi penurunan janin. Setelah servik mengalami dilatasi
lengkap dan janin dapat keluar dari uterus, cincin retraksi tidak lagi
meninggi.
f. Penipisan serviks
Penipisan yang dimaksud adalah masuknya kanal servik ke dalam
uterus bagian bawah. Menurut pandangan obsetrik, proses ini terjadi
dari atas ke bawah, sehingga serat oto yang mengalilingi os internal
tertari ke atas oleh segmen atas uterus yang mengalami retraksi dan
servik menyatu ke dalam uterus bagian bawah. Kanal servik melebar
sejajar dengan os internal, sedangkan kondisi os ekstrenal tetap tidak
berubah.
Penipisan servik dapat terjadi di akhir kehamilan atau dapat juga
tidak terjadi hingga persalianan dimulai. Pada wanita primipara,
serviks biasanya tidak akan berdilatasi hingga peniposan sempurna,
sedangkan pada wanita multipara, penipisan dan dilatasi dapat terjadi
secara bersamaan dan kanal kecil dapat teraba di awal persalinan.
g. Dilatasi serviks
Dilatasi servik adalah proses , melebarnya os uterus dari celah yang
tertutup rapat menjadi lubang yang cukup besar untuk memungkinkan
keluarnya kepala janin. Dilatasi diukur dalam centimeter dan dilatasi
lengkat adalah sekitar 10 cm.
2.12 Perubahan Fisiologis Persalinan Kala I
Perubahan fisiologis pada persalinan kala I, diantaranya :
1. Perubahan Tekanan Darah
a. Tekanan darah meningkat selama kontraksi
b. Kenaikan sistolik rata-rata sebesar 10-20 mmHg, diastolik 5-10
mmHg.
c. Tekanan darah turun diantara kontraksi
d. Hindari posisi terlentang, karena akan menganggu sirkulasi darah
dan janin dapat terjadi asfiksia.
2. Perubahan Metabolisme
a. Metabolisme aerob oleh anaerog karbohidrat akan naik
b. Kenaikan ini disebabkan karena cemas, serta kegiatan otot
kerangka tubuh
c. Kenaikan metabolisme di tandai dengan kenaikan suhu,denyut
nadi, pernafasan, kardiak output dan kehilangan cairan.
3. Perubahan Suhu Badan
a. Suhu badan meningkat selama persalinan dan meningkat lagi
segera setelah persalinan/kelahiran
b. Kenaikan suhu yang berlangsung lama di indikasikan adanya
dehidrasi
4. Denyut Jantung
a. Denyut jantung naik saat kontraksi
b. Penurunan denyut jantung tidak terjadi jika ibu tidur miring atau
terlentang
c. Denyut jantung sedikit lebih tinggi diantara kontraksi
d. Perlu pengontrolan secara periode untuk mengetahui infeksi
5. Perubahan Pernafasan
a. Pernafasan sedikit naik saat persalinan
b. Disebabkan karena adanya rasa nyeri dan kekhawatiran
c. Penggunaan tekhnik pernafasan yang tidak benar
6. Perubahan Renal
a. Poli uria yang sering terjadi karena meningkatnya kardiak outpun
dan filtrasi glomerulus
b. Kontrol kandung kencing 2 jam sekali agar tidak menghambat
penurunan janin
c. Serta untuk menghindari retensio urin setelah melahirkan
7. Perubahan gastro intestinal
a. Penyerapan makanan padat berkurang
b. Menyebabkan pencernaan hampir terhenti sehingga menyebabkan
konstipasi
8. Perubahan Hematologis
a. Hb akan meningkat 1,2 gram/100 ml
b. Jumlah sel-sel darah putih akan meningkat 5000-15000 WBC
sampai akhir pembukaan lengkap, dan akan turun selama
persalinan
c. Akan turun drastis pada persalinan dengan penyulit
9. Kontraksi uterus
a. Terjadi karena adanya rangsangan otot polos
b. Penurunan hormon estrogen menyebabkan kelaurnya oksitosin
c. Kontraksi dimulai dari fundus menjalar kebawah
d. Fundus uteri bekerja kuat dan akan mendorong janin ke bawah
e. Servix menjadi lembek dan membuka
10. Pembentukan Segmen Atas Rahim (SAR) dan Segmen Bawah rahim
(SBR)
a. SAR terbentuk pada uterus bagian atas
b. Otot lebih tebal dan kontruktif
c. SBR terbentuk di uterus bagian bawah antara istmus dan serviks
d. Sifat otot tipis dan elastis
e. Banyak otot yang melingkar dan memanjang
11. Perkembangan retraksi ring
Retraksi ring adalah batas pinggiran antara SAR dan SBR, dalam
keadaan persalinan normal tidak tampak dan akan kelihatan pada
persalinan obnormal, karena konstraksi uterus yang berlebihan, retraksi
ring akan tampak sebagai garis atau batas yang menonjol di atas
simpisis yang merupakan tanda dan ancaman ruptur uterus
12. Penarikan Serviks
a. Otot yang mengelilingi ostium uteri internum (OUI) ditarik oleh
SAR
b. Menyebabkan serviks pendek menjadi bagman dan SBR
c. Bentuk serviks menghilang, karena kanalis serviks membesar dan
membentuk OUE
13. Pembukaan ostium uteri interna dan ostium uteri eksterna
a. Pembukaan serviks disebabkan karena membesarnya OUE
b. Karena otot disekitar ostium meregang untuk dapat dilewati kepala
c. Pembukaan uteri disebabkan karena tekanan isi uterus (kepala dan
kantong amnion)
d. Pada primigravida OUI terbuka dahulu dilanjutkan pembukaan
OUE
e. Pada multigravia OUI dan OUE membuka bersama-sama
14. Show
a. Keluar lendir dan darah dari vagina
b. Lendir berasal dari kanalis servikalis yang tersumbat lendir selama
persalinan
c. Darah berasal dari decidua yang lepas
15. Tonjolan kantong ketuban
a. Tonjolan kantong ketuban disebabkan oleh regangan SBR
sehingga selaput khorion lepas
b. Adanya tekanan menyebabkan kantong yang berisi cairan
menonjol
c. Bila selaput ketuban pecah maka cairan akan keluar
d. Sehingga placenta tertekan dan fungsi plasenta terganggu sehingga
fetus akan kekurangan O2
16. Pemecahan kantong ketuban
Pada akhir kala I bila pembukaan sudah lengkap, kontraksi
kuat, tidak ada tahanan, serta desakan janin menyebabkan kantong
ketuban pecah, diikuti proses persalinan bayi.

2.13 Perubahan Psikologi pada Kala I Persalinan


Beberapa keadaan dapat terjadi pada ibu dalam persalinan, terutama
pada ibu yang pertama kali melahirkan sebagai berikut:
1. Perasaan tidak enak
2. Takut dan ragu akan persalinan yang akan dihadapi
3. Sering memikirkan antara lain apakah persalinan berjalan normal
4. Menganggap persalinan sebagai percobaan
5. Apakah penolong persalinan dapat sabar dan bijaksana dalam
menolongnya
6. Apakah bayinya normal apa tidak
7. Apakah ia sanggup merawat bayinya
8. Ibu merasa cemas

2.14 Kebersihan dan Kenyamanan Sebelum Menghadapi Kala I Persalinan


1. Enema
Jika belum berdefekasi selama 24 jam atau rektum terasa penuh pada
pemeriksaan vagina, ibu harus diberitahu dan ditanyakan apakah ia mau
menjalani enema atau supositoria. Jangan pernah melakukan tindakan
tersebut sebagai prosedur rutin. Enema sekali pakai dengan volume
rendah dan kecil, atau dua suppositoria gliserin dapat diberikan. Tidak
ada data yang menunjukkan bahwa rektum yang penuh menyebabakan
perlambatan kemajuan persalinan , tetapi ibu biasanya akan merasa malu
jika ia merasa akan mengeluarkan fases selama persalinan.
2. Pencukuran perineal
Riset menunjukkan bahwa pencukuran perineal tidak perlu dilakukan
dan tidak meningkatkan angka terjadinya infeksi. Perasaan tidak suka
terhadap prosedur dan abrasi yang diakibatkannya menyebabkan
ketidaknyamanan bagi sebagian ibu dan mengurangi pengalaman positif
persalinan.
3. Mandi
Jika belum mandi di rumah, ibu dapat menggunakan fasilitas ini di
rumah sakit. Bagi ibi yang sedang berada dalam proses persalinan
normal, mandi air hangat (atau Birthing Pool) dapat menjadi pereda
nyeri efektif yang dapat meningkatkan mobilitas tanpa peningkatan efek
samping bagi ibu atau bayinya.
4. Berpakaian
Pakaian apa yang akan ibu kenakan selama persalinan, seluruhnya
terserah pada ibu. Jika di rumah sakit, mungkin ia akan memilih gaun
longgar yang disediakan atau mungkin ia akan merasa lebih nyaman jika
menggunakan pakaian yang ia pilih sendiri.

2.15 Komplikasi Dalam Persalinan


1. Persalinan lama
2. Perdarahan pasca persalinan
3. Malpresentasi dan malposisi
4. Distosia bahu
5. Distensi uterus
6. Persalinan dengan parut uterus
7. Gawat janin
8. Prolapsus tali pusat
9. Demam dalam persalinan
10. Demam pasca persalinan
2.16 Penatalaksanaan Kala I Persalinan
1. Komunikasi dan lingkungan
Ibu dapat memilih untuk melahirkan di rumahnya sendiri, tempat
dimana mereka dapat mengendalikan lingkungan dan merasa nyaman di
lingkungannya sendiri. Atau mereka juga dapat memilih untuk
melahirkan di rumah bersalin atau rumah sakit.
2. Dukungan emosional
Dukungan emosional yang kita berikan dapat berupamelatih
ketrampilan dalam menanamkan kepercayaan diri, mengekspresikan
kepedulian, dan sikap yang dapat diandalkan, serta juga menjadi advokat
bagi ibu jika diperlukan.
Selama lebih dari 20 tahun riset secara konsisten menunjukkan
bahwa dukungan yang kontinue terhadap ibu selama persalinan
memberikan perasaan aman dan puas dan juga efek yang positif terhadap
hasil yang diperoleh. Meta-analisis oleh Hodnett (2001) menunjukkan
adanya sejumlah manfaat dari asuhan satu-lawan-satu untuk ibu dan
bayi. Hal ini mencakup berkurangnya pemberian pereda nyeri, pelahiran
per vagina operatif, dan secsio cesaria serta persalinan yang lama. Idak
ada efek yang berbahaya yang ditunjukkan. Idealnya, pendamping harus
dilibatkan dalam persiapan pra-persalinan dan pembuatan keputusan, dan
berpartisipasi dalam menyusun rencana melahirkan dan kemungkinan
perubahan rencana jika situasi sudah berubah.
3. Persetujuan tindakan dan pemberian informasi
Hukum kita telah membuat peraturan yang mengharuskan
diperolehnya persetujuan dari pasien terhadap tindakan yang
direkomendasikan. Dengan demikian, otonomi klien dilindungi hanya
jika terdapat pilihan yang sangat berarti yang dibuat oleh klien
berdasarkan informasi yang adekuat dan pemahamannya tentang
informasi tersebut.
4. Pencegahan infeksi
Persalian lama meningkatkan resiko infeksi dan perdarahan. Saat
ibu masuk rumah sakit, prosedur invasif harus diminimalkan karena kulit
yang utuh merupakan pelindung terbaik terhadap organisme sehingga
melindungi integritasnya merupakan hal yang sangat penting.
5. Menyiapkan kelahiran
a. Menyiapkan ruangan untuk persalinan dan kelahiran bayi.
Dimanapun persalinan dan kelahiran bayi terjadi, diperlukan hal
sebagai berikut :
1) Ruangan yang hangat dan bersih, memiliki sirkulasi udara yang
baik dan terlindung dari tiupan angin.
2) Sumber air bersih yang mengalir untuk cuci tangan dan mandi
ibu sebelum dan sesudah melahirkan.
3) Air desinfesi tingkat tinggi (air yang didihkan dan didinginkan)
untuk membersihkan vulva dan perineum sebelum periksa dalam
selama persalinan dan membersihkan perineum ibu setelah bayi
lahir.
4) Air bersih dalam jumlah yang cukup, klorin, deterjen, kain
pembersih, kain pel dan sarung tangan karet untuk membersihkan
ruangan, lantai, perabotan, dekontaminasi dan proses peralatan.
5) Kamar mandi yang bersih untuk kebersihan pribadi ibu dan
penolong persalinan.
6) Tempat yang lapang untuk ibu berjalan-jalan selama persalinan,
melahirkan bayi dan memberikan asuhan bagi ibu dan bayinya
setelah persalinan.
7) Penerangan yang cukup baik disiang maupun di malam hari.
8) Tempat tidur yang bersih untuk ibu.
9) Meja yang bersih atau tempat tertentu untuk menaruh peralatan
persalinan.
b. Menyiapkan perlengkapan, bahan dan obat yang dibutuhkan.
Daftar perlengkapan, bahan dan obat yang dibutuhkan untuk
asuhan dasar persalinan dan kelahiran bayi adalah sebagai berikut :
1) Partus set yang terdiri dari dua klem kelly atau dua klem kocher,
gunting tali pusat, benang tali pusat atau klem plastik, kateter
nelaton, gunting episotomi, alat pemecah selaput ketuban atau
klem kocher, dusa pasang sarung tangan DTT steril, kasa atau
kain kecil, gulungan kapas basah menggunakan air DTT, tabung
suntik 2 atau 3 ml dengan larutan IM sekali pakai, kateter
penghisap de lee (penghisap lendir) atau bola karet yang baru dan
bersih, empat kain bersih, tiga handuk atau kain untuk
mengeringkan dan menyelimuti bayi.
2) Bahan terdiri dari partograf (halaman depan dan belakang),
catatan kemajuan persalinan atau KMS ibu hamil, kertas kosong
atau formulir rujukan, pena, termometer, pita pengukur, pinnards,
fetoskop, doppler, jam yang mempunyai jarum detik, stetoskop,
tensimeter, sarung tangan pemeriksaan bersih (lima pasang),
sarung tangan DTT atau steril (lima pasang) larutan klorin atau
klorin serbuk, perlengkapan pelindung pribadi, sabun cuci
tangan, deterjen, sikat kuku dan gunting kuku, celemek plastik
dan gaun oenutup, lembar plastik untuk alas tempat tidur saat
persalinan, kantong plastik, sumber air bersih yg mengalir,
wadah untuk larutan klorin, wadah untuk air DTT.
3) Peralatan resusitasi bayi baru lahir yang terdiri dari balon
resusitasi dan sungkup nomor 0 & 1, lampu sorot 60 watt.
4) Obat dan perlengkapan untuk asuhan rutin dan penatalaksanaan /
penanganan penyulit yang terdiri dari 8 ampul oksitosin 1 ml 10
U (atau 4 ampul oksitosin 2 ml 10 U/ml), 20 ml Lidokain 1%
tanpa epinefrin atau 10 Lidoksin 2% tanpa epinefrin dan air steril
atau cairan garam fisiologis (NS) untuk pengenceran, tiga botol
ringer laktat atau cairan garam fisiologis (NS) 500 ml, selang
infus, dua kanula IV nomor 16 18 G, dua ampul metil
ergometrin maleat, dua vial larutan magnesium sulfat 40%
(25gr), enam tabung suntik (2 3 ml) sekali pakai dengan
jarum IM, 2 tabung suntik 5 ml steril sekali pakai dengan jarum
IM, satu 10 ml tabung suntik steril sekali pakai dengan jarum IM
ukuran 22 panjang 4 cm atau lebih, 10 kapsul/kaplet
amoksilin/ampisilin 500 mg atau amoksilin/ampisilin IV 2 g.
5) Set jahit yang terdiri dari 1 tabung suntik 10 ml steril sekali pakai
dengan jarum IM ukuran 22 panjang 4 cm atau lebih, pinset,
pegangan jarum, 2-3 jarum jahir tajam ukuran 9 11, benang
chromic sekali pakai ukuran 2.0 dan 3.0, satu pasang sarung
tangan DTT atau steril, satu kain bersih.
c. Menyiapkan rujukan
Mengkaji ulang rencana rujukan bersama ibu dan keluarganya. Jika
perlu dirujuk disiapkan dan disertakan dokumentasi tertulis semua
asuhan dan perawatan dan hasil penilaian yang telah dilakukan untuk
dibawa ke fasilitas rujukan.
d. Memberikan asuhan sayang ibu
Asuhan sayang ibu selama persalinan termasuk, memberikan
dukungan emosional, membantu pengaturan posisi, memberikan
cairan dan nutrisi, keleluasaan ke kamar mandi secara teratur,
pencegahan infeksi.

2.17 Pemeriksaan Dignostik


Pemerikaaan darah lengkap :
1. Hb normal = 11,4 15,1 gr/dl
2. Golangan darah = A,B,AB & O
3. Faktor RH = +/-
4. Waktu pembekuan : protein urine, reduksi urine
2.18 Management Nyeri
a. Penyebab Nyeri Persalinan
Rasa nyeri pada persalinan disebabkan oleh kombinasi :
Peregangan segmen bawah rahim (dan selanjutnya serviks)
Iskemia (hipoksia) otot otot rahim
Dengan peningkatan kekuatan kontraksi , serviks akan tertarik;
kontraksi yang makin kuat ini juga membatasi pengaliran oksigen pada
otot otot rahim sehingga timbul nyeri iskemia.
b. Tujuan Pengurangan Nyeri
Pengurangan rasa nyeri dalam persalinan mempunyai tujuan dasar,
yaitu
1. Mengurangi perasaan nyeri dan tegang. Sementara pasien tetap
berada dalam keadaan terjaga seperti yang dikehendakinya.
2. Menjaga agar pasien dan janinnya sedapat mungkin tetap terbebas
dari efek depresif yang ditimbulkan oleh obat.
3. Mencapai tujuan ini tanpa mengganggu kontraksi rahim.
c. Komponen Nyeri
Rasa nyeri memiliki tiga komponen, yaitu
1. Stimulus penyebab nyeri
Stimulus nyeri dalam persalinan tidak dapat dihilangkan ,
kecuali jika dilakukan Sectio Caesarea yang akan menghentikan
proses persalinan. Beberapa abnormalitas seperti malpresentasi,
dapat meningkatkan atau memperpanjang stimulus itu sehingga
menambah potensi keluhan nyeri.
2. Ambang batas tingkat diman intensitas nyeri terasa
Ambang nyeri dalampersalinan dapat diturunkan oleh rasa
takut, kurangnya pengertian dan berbagai permasalahan jasmani-
demam, kelelahan, asidosis dehidrasi, ketegangan. Ambang nyeri
dapat dinaikkan oleh penggunaan obat,kesehatan fisik serta
psikologis, relaksasi danpengalihan perhatian.
3. Reaksi bagaimana seseorang menginterprestasikan nyeri dan
bereaksi terhadap nyeri tersebut.
Reaksi terhadap nyeri merupakan respon yang bersifat
individual . reaksi ini tergantung pada kepribadian, kondisi
emosional serta tingkat pemahaman pasien, latar belakang cultural,
keluarga serta pendidikannya dan pengalaman sebelumnya.
d. Pencegahan dan peredaan nyeri serta keletihan
1. Menentukan Saat Peredaan Nyeri
Intensitas nyeri biasanya berhubungan dengan tingkat dilatasi
serviks dan dengan demikian berbagai cara yang berkaitan dengan
dilatsi serviks dapat dilakukan untuk menurunkan ambang nyeri.
2. Relaksasi
Relaksasi diperbaiki sertadilaksanakansejak awal persalinan
dan kemudian dilanjutkan bersama dengan pemberian dorongan
semangat , pendampingan serta pengalihan perhatian dengan
berkonsentrasi pada pola pernafasan ,dilakukan lebih intensif
ketika kala I mencapai titik puncaknya.
3. Sedative Dan Hipnotik
Penggunaan obat obatan hanya dibatasi pada awal persalinan.
Obat obat sedative dan hipnotik tidak diberikan ketika intensitas
nyeri meninggi karena tidak akan mengurangi nyeri : pengobatan
sedative dapat membuat pasien tidak mampu untuk bekerja sama
dalam persalinannya.
4. Analgetik Narkotik Dan Penenang
Kedua jenis obat ini dapat diberikan sendiri sendiri atau
bersamaan mulai saat timbulnya kontraksi atau nyeri punggung
yang menyiksa pasien. Obat tersebut dapat diberikan sampai
keadaan dimana pemberiannya tidak dianjurkan karena dapat
membahayakan bayi yang akan dilahirkan. Obat obatan
tersebutdapat menembus sawar plasenta sehingga dapat
menyebabkan depresi pernafasan neonatus
5. Analgesic Inhalasi
Gas dan udara (paling sering campuran nitrous oksida dan
oksigen) digunakan lewat masker oleh ibu ,umunya dipakai setelah
persalinan berlangsung. Penggunaan teknik ini biasanya dapat
dilakukan dengan teknik relaksasi yang dapat dipelajari atau
dengan analgesic narkotik. Nitrous oksida akan bekerja dalam
waktu 5 detik , tidak berakumulasi dalam tubuh / system saraf dan
memungkinkan pemulihan yang cepat.
6. Blog Epidural
Blog epidural meliputi pemberian anestesi local kedalam
rongga extradural yang mengelilingi medulaspinalis tempat
asal,srabut serabut saraf yang menginervasi uterus (blog epidural
lumbal) atau serviks (blokaudal).
7. Blog Pudendal Dan Paraservical
Blog pudendal meliputi penyunikan anestesi local kedalam
jaringan didekat nervus pudendus. Blog paraservial disuntikkan
kedalam jaringan serviks eksterna. Blog anestesi ini akan
menimbulkan analgesia selama akhir kala satu dan selama kala dua
pada prsalinan yang sulit atau kalau diperkirakan bahwa persalinan
berlangsung dengan forceps.
8. Infiltrasi Perineum
Larutan anestesi local diiniltasikan kedalam kulit perineum
yang idalnya dilakukan dalam waktu yang cukup untuk
menimbulkan anestesi pada perineum sebelum episiotomy
dilakukan
9. Stimulasi Elektrik Saraf Transkutaneus
Stimulasi elektrik saraf transkuaneus yang umunya dikenal
dengan istilah TENS (Trans Cutaneus Electrical Nerve
Stimulation) merupakan cara pengendalian nyeri yang dignakan
pada ebebrapa bidang spesialisasi kedoktean, khusunya dalam
upaya untuk mengatasi nyeri yang kronis. (Farrer.H. 1999)
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

Merupakan metode yang digunakan untuk memecahkan masalah dalam


upaya memperbaiki atau memelihara klien sampai ketahap optimal melalui suatu
pendekatan yang sistematis untuk mengenal klien untuk mematuhi kebutuhannya.
A. Pengkajian
1. Identitas
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, agama, pendidikan, suku
bangsa, alamat.
2. Keluhan utama
Pada umumnya klien mengeluh nyeri pada daerah pinggang menjalar
keperut.
3. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Mulai timbul his, nyeri dan keluarnya darah serta lender
a. Riwayat kesehatan dahulu
Adanya penyakit yang dapat menyebabkan resiko tinggi saat
persalinan, seperti penyakit jantung, HT, TB, DM, penyakit kelamin,
dan lain-lain
b. Riwayat penyakit keluarga
Kemungkinan adanya penyakit menurun, seperti DM, dan lain-lain
c. Riwayat obstetric ,
Ditanyakan kapan menarche adakah keluhan saat menarche dan berapa
lamanya, serta jika pernah hamil sebelumnya, ditanyakan tentang
kehamilan sebelumnya
d. Riwayat kehamilan
Usia kehamilan
Masalah/komplikasi dengan kehamilan yang sekarang
Riwayat kehamilan yang terdahulu
e. Riwayat persalinan
Ditanyakan :
Bagaimana perasaan ibu?
Berapa bulan kehamilan ibu sekarang?
Kapan ibu mulai merasakan nyeri?
Seberapa sering rasa nyeri terjadi? Dan berapa lama berlangsung?
Seberapa kuat rasa nyeri tersebut?
Apakah ibu memperhatikan adanya lendir darah?
Apakah ibu mengalami perdarahan dari vagina?
Apakah ibu melihat adanya aliran/semburan cairan?
Jika ya,kapan?Bagaimana warnanya? erapa banyak?
Apakah bayi bergerak?
Kapan terakhir ibu buang air besar? Kencing?
Persalinan terdahulu: berapa lama berlangsung? Berat badan bayi?
4. Pengkajian dasar
a. Integritas Ego
Dapat senang atau cemas, dapat pula tampak lebih serius dan
terhanyut pada proses persalinan. Ketakutan tentang kemampuan
mengendalikan pernapasa dan melakukan teknik relaksasi.
b. Nyeri / ketidaknyamanan
Pada fase laten kontraksi reguler, peningkatan frekuensi, durasi,
dan keparahan. Kontraksi ringan, masing masing 5-30 menit, berakhir
10-15 detik.
Pada fase aktif, kontraksi sedang, terjadi setiap 2,5 5 menit dan
berakhir 30 45 detik.
c. Keamanan
Pada fase laten, irama jantung janin paling baik terdengar pada
umbilikus (tergantung pada posisi janin).
Pada fase aktif, irama jantung janin terdeteksi agak di bawah pusat
pada posisi verteks. Denyut jantung janin (DJJ) bervariasi dan
perubahan variatif umumnya teramati pada respons terhadap kontraksi,
palpasi abdominal, dan gerakan janin.
d. Seksualitas
Pada fase laten, membran mungkin / tidak peceh. Serviks dilatasi
dari 0 4 cm. Bayi mungkin pada 0 (primigravida) atau dari 0 - +2 cm
(multigravida). Mungkin lendir merah muda (show), kecoklatan, atau
terdiri dari plak lendir.
Pada fase aktif, dilatasi serviks dari kira kira 4 sampai 8 cm (1,5
cm/jam multipara, 1,2 cm/jam primipara). Perdarahan dalam jumlah
sedang. Janin turun +1 - +2 cm dibawah tulang iskial.
5. Pola kebutuhan sehari-hari
a. Nutrisi
Adanya his berpengaruh terhadap keinginan atau selera makan
yang menurun
b. Istirahat tidur
Klien dapat tidur terlentang, miring kanan/kiri tergantung pada
letak punggung janin dan kx sulit tidur terutama kala I IV
c. Aktivitas
Klien dapat melakukan aktivitas seperti biasanya terbatas pada
aktivitas ringan tidak membutuhkan tenaga banyak tidak membuat kx
cepat lelah emosi
d. Eliminasi
Adanya perasaan sering / susah kencing selama kehamilan dan
proses persalinan. Pada akhir trimester III dapat terjadi konstipasi
e. Personal hygiene
Kebersihan tubuh, terutama kebersihan daerah kemaluan dan
daerah payudara
6. Pemeriksaan
a. Pemeriksaan umum meliputi
1) Tinggi badan dan berat badan
Ibu hamil yang tinggi badannya kurang dari 145 cm terlebih
pada kehamilan pertama, tergolong resiko tinggi karena
kemungkinan besar memiliki panggul sempit.
Berat badan ibu perlu dikontrol secara teratur dengan
peningkatan berat badan selama hamil antara 10 12 kg.
2) Tekanan darah
Tekanan darah diukur pada akhir kala II yaitu setelah anak
dilahirkan, biasanya tekanan darah akan naik kira-kira 10 mmhg
3) Suhu, Nadi, pernafasan
Dalam keadaan biasa suhu badan antara 36 37 oC. Bila
suhu tubuh lebih dari 375 dianggap ada kelainan kecuali bagi kx
setelah melahirkan suhu badan 355 oC - 378 oC masih dianggap
normal karena perlahan keadaan nadi biasanya mengikuti
keadaan suhu, bila suhu naik, keadaan nadi akan bertambah
pula, dapat disebabkan karena adanya perdarahan. Pada kx yang
dalam persalinan pernafasannya agak pendek karena kelelahan.
Dan akan kembali normal setelah persalinan dan periksa tiap 4
jam.
b. Pemeriksaan fisik
1) Kepala dan leher
Biasanya terdapat doasma gravidarum, terkadang ada
pembengkakan kelopak mata, pucat pada konjungtiva, sklera
kuning, stomatitis dan lain-lain
2) Dada
Terdapat pembesaran payudara, hiperpigmentasi areora
mamae dan penonjolan pada papila mamae, keluarnya colostrom
3) Perut
Adanya pembesaran pada perut membujur,
hyperpigmentasi linea alba / nigra, terdapat strie gravidarum
Palpasi : usia kehamilan aterm 3 jari bawah prosesus
xypoideus. Usia kehamilan prematur pertengahan pusat
dan prosesus xypoideus, belum atau sudah kepala masuk
PAP, adanya his yang mungkin sering dan kuat.
Auskultasi : Ada tidak DJJ dan frekuensi normalnya 120
160 x / menit.
4) Genetalia
Pengeluaran darah campur lendir, terdapat pembukaan
cervix, serta kelenturan pada serviks
5) Ekstremitas
Biasanya terjadi odema pada tungkai dan kadang varices
karena adanya penekanan dan pembesaran vena abdomen

c. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang meliputi haemoglobin, faktor Th, dan
kadang dilakukan pemeriksaan serologi untuk sifilis
Kala I
1) Riwayat bedah sesar.
2) Perdarahan pervaginam selain dari lendir bercampur
darah/bloodshow.
3) Persalinan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37
minggu).
4) Ketuban pecah disertai dengan mekonium yang kental.
5) Ketuban pecah dan air ketuban bercampur dengan sedikit
meconium disertai dengan tanda-tanda gawat janin
6) Ketuban pecah (>24 jam) atau ketuban pecah pada kehamilan
kurang dari 37 minggu.
7) Tanda-tanda atau gejala-gejala infeksi:
Temperature > 380C
Menggigil
Nyeri abdomen
Cairan ketuban berbau
8) Tekanan darah lebih dari 160/110 dan terdapat protein dalam
urin (preeklamsi berat).
9) Tinggi fundus 40 cm atau lebih. (Makrosomia,polihidramnion,
gemeli)
10) DJJ kurang dari 100 atau lebih dari 180 kali/menit pada dua
kali penilaian dengan jarak 5 menit pada (gawat janin).
11) Primipara dalam fase aktif persalinan dengan palpasi kepala
janin masih 5/5.
12) Presentasi bukan belakang kepala.
13) Presentasi majemuk.
14) Tali pusat menumbung.
15) Tanda dan gejala syok
Nadi cepat, lemah (lebih dari 110kali/menit)
Tekanan darahnya rendah(sistolik kurang dari 90 mm Hg
Pucat
Berkeringat atau kulit lembab,dingin.
Napas cepat (lebih dari 30x/menit)
Cemas, bingung atau tidak sadar
Produksi urin sedikit (kurang dari30 ml/jam
16) Tanda dan gejala persalinan dengan fase laten berkepanjangan :
Pembukaan servik kurang dari 4 cm setelah 8 jam
Kontraksi teratur (lebih dari 2 kali dalam 10 menit)
17) Tanda atau gejala belum inpartu
Frekuensi kontraksi kurang dari 2 kali dalam 10 menit dan
lamanya 20 detik
Tidak ada perubahan pada serviks dalam waktu 1-2 jam
18) Tanda atau gejala Partus lama :
Pembukaan servik mengarah kesebelah kanan garis
waspada (partograf)
Pembukaan servik kurang dari 1 cm per jam
Frekuensi kontraksi kurang dari 2 kali dalam 10 menit, dan
lamanya 40 detik.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman (Nyeri) b/d tekanan pada jaringan sekitar,
kontraksi rahim dan regangan janin
2. Penurunan curah jantung b/d penurunan aliran balik vena, hipovolemia,
perubahan tahanan vaskuler sistemik
3. Kecemasan berhubungan dengan kekawatiran jelang kelahiran

C. Rencana Keperawatan
Tgl/ No. No.
Tujuan dan KH Intervensi Rasional
hari dx.
1 Setelah dilakukan tindakan 1. kaji tingkat nyeri & 1. Mengidentifikasi sejauh
keperawatan diharapkan ketidaknyamanan ibu. mana tingkatan nyeri.
Pasien dapat beradaptasi
dengan nyeri. 2. Observasi tanda-tanda 2. Mengetahui

Dengan kriteria hasil: vital. perkembangan keadaan


Ibu tidak cemas, tegang umum pasien.
dan gelisah.
3. Hindari bicara atau
Ibu tidak merintih 3. Memberikan kesempatan
melakukan pemeriksaan
kesakitan. pada ibu untuk
pada saat kontraksi/his.
Ibu dapat menahan rasa mengekspreikan nyeri.
sakit.
4. Observasi DJJ dan
Ibu dapat mengerti 4. Mengetahui
kontraksi uterus tiap
bahwa timbulnya rasa perkembnagan/kemajuan
jam dan pengeluar an
sakit disebabkan karena persalinan.
pervaginam.
kontraksi rahim.
Kala I dapat berjalan 5. Meningkatkan
normal. 5. Ajarkan pasien teknik pengetahuan dan
relaksasi, bila terjadi his kerjasama pada ibu untuk
(kontraksi uterus). tindakan selanjutnya.

6. Berikan gosokan 6. Memberikan

punggung pada saat kenyamanan dan


terjadi kontraksi uterus. mengalihkan perhatian
serta memblokir stimulus
nyeri.

7. Berikan tekanan pada


7. Memblokir stimulus
sakrum (Gate kontrol)
nyeri & meningkatkan rasa
bila perlu pada saat
nyaman.
terjadi kontraksi uterus.

8. Anjurkan ganti posisi


8. Miring kiri dapat
tidur pasien.
mencegah penekanan pada
vena kava superior
sehingga aliran darah
lancar.

9. Observasi his dan


9. Mengetahui kemajuan
pembukaan.
persalinan.
2 Setelah dilakukan 1) Observasi Tanda 1.Peningkatan tahanan
tindakan keperawatan tanda vital pasien curah jantung dapat
selama 1 x 24 jam, diantara kontraksi terjadi bila ada hipertensi
diharapkan pola napas intrapartal, selanjutnya
pasien kembali efektif. meningkatkan tekanan
Kriteria hasil : darah.
1.Pasien dan keluarga 2) Pantau DJJ selama dan 2.Mengetahui keadaan
mengetahui proses diantara kontraksi janin didalam perut ibu
persalinan
2.Pasien atau keluarga 3) Perhatikan ada dan 3.Kelebihan retensi cairan
mampu melaporkan jika luasnya oedem menempatkan klien pada
ada tanda tanda resiko terhadap
oedema patologis perubahan sirkulasi,
3.TTV pasien dalam batas dengan kemungkinan
normal : insufusiensi uteruplasenta
Tekanan darah 120/80 dimanifestasikan sebagai
mmHg deselerasi lanjut.
Suhu:36,5 37,50C
Nadi:60100x/Mnt 4) Anjurkan pada 4.Melibatkan peran

RR:18 24 x/Mnt keluarga atau pasien keluarga dalam proses

4.Tidak terjadi oedem untuk melaporkan jika pengobatan pasien

patologis ada oedem

5.Kadar albumin tidak


5.Kadar lebih dari +2
melebihi +2 5) Kolaborasi dengan
menandakan gangguan
6.DJJ:120160 x/Mnt petugas Laboratorium
ginjal, kadar +1 atau lebih
dalam pemeriksaan
rendah mungkin karena
kadar albumin di
katabolisme otot yang
dalam urin
terjadi pada latihan atau
peningkatan metabolisme
pada periode intrapartal.
6) Kolaborasi dengan 6.oksitosin meningkatkan
dokter dalam volume sirkulasi jantung
pemberian oksitosin (absorbsi natrium atau
air) dan curah jantung,
dapat juga meningkatkan
TD dan nadi.

3 setelah dilakukan asuhan 1. kaji tingkat kecemasan 1. cemas yang berlebihan


keperawatan diharapkan pasien. dapat meningkatkan
Kecemasan pada pasien persepsi nyeri dan dapat
berkurang. Dengan mempunyai dampak
criteria hasil: negatif pada proses
Pasien tampak tenang. persalinan.
Ibu tidak cemas,
tegang dan gelisah. 2. Beri dukungan moril 2. Pasien dapat mengalami
Ibu tidak lagi dan informasikan peningkatan cemas atau
bertanya tentang bahwa akan selalu kehilangan kontrol bila
keadaan anaknya dan bersama ibu selama dibiasakan tanpa
kemajuan persalinan. proses persalinan. perhatian
3. Beri informasi yang 3. memudahkan ibu dalam
jelas dan bijaksana memahami dan mengerti
tentang fisiologi kala I. proses persalinan sehingga
kecemasannya berkurang.
4. Evaluasi pola kontraksi 4. Peningkatan kekuatan
dan kemajuan kontraksi uterus dapat
persalinan. meningkatkan kecemasan

5. Jelaskan hasil 5. Meningkatkan


pemeriksaan kepada pemahanan dan
pasien. pemecahan masalah
sehingga kecemasan
teratasi.
6. Beri tahu pasien tentang 6. Mengerti dan
prosedur persalinan. memahami tentang proses
persalinan sehingga dapat
mengurangi kecemasan.

7. Anjurkan keluarga 7. Keluarga sangat


menemani pasien dibutuhkan untuk
sementara waktu bila menenangkan dan
memungkinkan. mengurangi kecemasan.

8. Menemani pasien 8. Memberi support dan


terutama pada saat ketenangan.
gelisah dan ajurkan
pasien untuk
mengekspresikan
perasaannya.
BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Persalinan adalah Proses membuka dan menipisnya serviks dan janin
turun ke dalam jalan lahir (Prawirohardjo, 2001).
Persalinan kala I ( kala dilatasi) dimulai dengan adanya gejala awal
persalinan sejati dan berakhir dengan dilatasi serviks lengkap (Reeder, Sharon
J, 2011).
Sebelum persalinan mulai, saat mendekati akhir kehamilanklien
mungkin lihat perubahan tertentu atau ada tanda-tanda bahwa persalinan
terjadi tidak lama lagi sekitar 2-4 minggu sebelum persalinan. Kepala janin
mulai menetap lebih jauh kedalam pelviks. Tekanan pada diafragma
berkurang seperti memperingan berat badan bayi dan memungkinkan ibu
untuk bernapas lebih mudah, akan lebih sering berkemih, dan akan lebih
bertekan pada pelviks karena bayi lebih rendah dalam pelviknya.

4.2 Saran
1. Bagi Mahasiswa
Meningkatkan kualitas belajar dan memperbanyak literature dalam
pembuatan prosedur serta bisa sebagai pedoman dalam melakukan
tindakan persalinan yang tepat.
2. Bagi Pendidikan
Bagi dosen pembimbing agar dapat memberikan bimbingan yang lebih
baik dalam pembuatan makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

Hamilton, Persis Mary. 1995. Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas. Edisi


6.Jakarta . EGC.

Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Edisi 2 . Jakarta. EGC.

Farrer, H. 1999. Perawatan Maternitas. Edisi 2. Jakarta. EGC.

Doenges, M., Moorhouse. 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi : Pedomaan


Untuk Perencanaan Dan Dokumentasi Perawatan Klien. Edisi 2.
Jakarta. EGC.

Reeder, Sharon J. 2011. Keperawatan Maternitas: Kesehatan Wanita, Bayi Dan


Keluarga. Edisi 18. Jakarta. EGC.

Edozien, Leroy C. 2013. Buku Saku Manajemen Unit Persalinan. Edisi 2. Jakarta.
EGC.