Anda di halaman 1dari 31

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

ENSEFALITIS

Dosen pembimbing :

Lilis Maghfuroh, S.Kep., Ns., M.Kes.

Kelompok 2:

1. Abdullah Safi (12.02.01.0995)


2. Cinthya Ratna Sari Dewi (12.02.01.0999)
3. Masunah (12.02.01.1023)
4. Yuli Dahliyah (12.02.01.1048)

S1-KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
MUHAMMADIYAH LAMONGAN
2013 - 2014
LEMBAR PENGESAHAN

Telah diperiksa dan disetujui untuk dipresentasikan kepada teman-teman


mahasiswa program S1 Keperawatan semester 4A Stikes Muhammadiyah
Lamongan, dengan judul
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN ENSEFALITIS

Disusun oleh :

1. Abdullah Safi (12.02.01.0995)


2. Cinthya Ratna Sari Dewi (12.02.01.0999)
3. Masunah (12.02.01.10)
4. Yuli Dahliyah (12.02.01.10)

Lamongan, April 2014

Mengetahui
Dosen Pembimbing

Lilis Maghfuroh, S.Kep., Ns., M.Kes.


KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.

Puji syukur kehadirat Alah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahnya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan
baik. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Sistem
Neurobehaviour. Dalam makalah ini kami membahas tentang KONSEP
ASUHAN KEPERAWATAN ENSEFALITIS.

Dalam menyusun makalah ini penulis banyak mendapat bimbingan serta


motivasi dari beberapa pihak, oleh karenanya kami mengucapkan Alhamdulillah
dan terima kasih kepada:

1. Drs. H.Budi Utomo, Amd.Kep., M.Kes. selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan (STIKES) Muhammadiyah Lamongan.
2. Arifal Aris, S.Kep., Ns., M.kes. selaku Ketua Prodi Studi S1 Keperawatan
STIKES Muhammadiyah Lamongan .
3. Lilis Maghfuroh, S.Kep., Ns., M.Kes. selaku PJMK sistem neurobehaviour
serta dosen pembimbing yang telah banyak memberikan petunjuk, saran,
dorongan moral selama penyusunan makalah ini.
4. Semua pihak yang telah memberikan dukungan moral dan material demi
terselesainya makalah ini.

Kami menyadari makalah ini masih banyak kekurangan, untuk itu segala
kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan. Akhirnya kami
berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi kami pada khususnya dan bagi
semua pembaca pada umumnya.

Wassalamualaikum Wr.Wb

Lamongan, April 2014

Penyusun
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN .......................................................................... i


KATA PENGANTAR ................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iii
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................
1.3 Tujuan .........................................................................................
1.4 Manfaat .......................................................................................
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi........................................................................................
2.2 Etiologi........................................................................................
2.3 Manifestasi Klinis .......................................................................
2.4 Klasifikasi ...................................................................................
2.5 Patofisiologi ................................................................................
2.6 Pathway .......................................................................................
2.7 Pencegahan .................................................................................
2.8 Komplikasi ..................................................................................
2.9 Penatalaksanaan ..........................................................................
2.10Diagnosa Banding .......................................................................
BAB III: KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian ...................................................................................
3.2 Diagnosa Keperawatan ...............................................................
3.3 Intervensi......................................................................................
BAB IV : PENUTUP
3.1 Kesimpulan ..................................................................................
3.2 Saran ............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan karena masuknya
bibit penyakit kedalam tubuh seseorang. Penyakit infeksi masih menempati
urutan teratas penyebab kesakitan dan kematian di negara berkembang,
termasuk Indonesia. Bagi penderita, selain menyebabkan penderitaan fisik,
infeksi juga menyebabkan penurunan kinerja dan produktifitas, yang pada
gilirannya akan mengakibatkan kerugian materil yang berlipat-lipat.
Sebagaimana diketahui, infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, virus,
maupun jamur, dan dapat terjadi di masyarakat (community acquired)
maupun di rumah sakit (hospital acquired). Pasien yang sedang dalam
perawatan di rumah sakit memiliki resiko tertular infeksi lebih besar dari
pada di luar rumah sakit.
Ensefalitis adalah radang jaringan otak yang dapat disebabkan oleh
bakteri, cacing, protozoa, jamur, ricketsia atau virus (Arif Mansur : 2000).
Ada banyak tipe-tipe dari ensefalitis, kebanyakan darinya disebabkan oleh
infeksi-infeksi yang disebabkan oleh virus-virus. Ensefalitis dapat juga
disebabkan oleh penyakit-penyakit yang menyebabkan peradangan dari
otak.
Encephalitis Herpes Simplek merupakan komplikasi dari infeksi HSV
( Herpes Simplek Virus ) yang mempunyai mortalitas dan morbiditas yang
tinggi terutama pada neonatus. EHS (Encephalitis Herpes Simplek ) yang
tidak diobati sangat buruk dengan kematian 70-80% setelah 30 hari dan
meningkat menjadi 90% dalam 6 bulan. Pengobatan dini dengan asiklovir
akan menurunkan mortalitas menjadi 28%. Gejala sisa lebih sering
ditemukan dan lebih berat pada kasus yang tidak diobati. Keterlambatan
pengobatan yang lebih dari 4 hari memberikan prognosis buruk, demikian
juga koma, pasien yang mengalami koma seringkali meninggal atau sembuh
sengan gejala sisa yang berat.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Ensefalitis ?
2. Apa etiologi dari Ensefalitis ?
3. Apa saja manifestasi klinis dari Ensefalitis ?
4. Apa saja klasifikasi dari Ensefalitis ?
5. Bagaimana patofisiologi dari Ensefalitis ?
6. Bagaimana pathway dari Ensefalitis ?
7. Apa saja pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi angka
kejadian Ensefalitis ?
8. Apa komplikasi dari Ensefalitis ?
9. Apa saja terapi yang dapat diberikan pada penderita Ensefalitis ?
10. Bagaimana konsep asuhan keperawatan dari Ensefalitis ?

1.3 Tujuan
a. Tujuan Umum

Pada para pembaca khususnya mahasiswa dan mahasiswi


diharapkan setelah membaca makalah ini, mereka dapat mengetahui apa
itu ensefalitis beserta etiologi, klasifikasi, patofisiologi hingga konsep
asuhan keperawatannya.

b. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa dapat mengetahui definisi dari Ensefalitis.
2. Mahasiswa dapat mengetahui etiologi dari Ensefalitis.
3. Mahasiswa dapat mengetahui manifestasi klinis dari Ensefalitis.
4. Mahasiswa dapat mengetahui klasifikasi dari Ensefalitis.
5. Mahasiswa dapat mengetahui patofisiologi dari Ensefalitis.
6. Mahasiswa dapat mengetahui pathway Ensefalitis.
7. Mahasiswa dapat mengetahui pencegahan yang dapat dilakukan
untuk mengurangi angka kejadian Ensefalitis.
8. Mahasiswa dapat mengetahui komplikasi dari Ensefalitis.
9. Mahasiswa dapat mengetahui terapi yang dapat diberikan pada
penderita Ensefalitis.
10. Mahasiswa dapat mengetahui konsep asuhan keperawatan dari
Ensefalitis.

1.4 Manfaat
Makalah ini dibuat untuk memberikan informasi kepada pembaca
tentang penyakit beserta konsep asuhan keperawatan dari Ensefalitis.
Penulis berharap dengan disusunnya makalah ini, para pembaca lebih
mengetahui tentang Ensefalitis.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Ensefalitis adalah radang jaringan otak yang dapat disebabkan oleh
bakteri, cacing, protozoa, jamur, ricketsia atau virus (Arif Mansur : 2000).
Encephalitis adalah suatu peradangan dari otak. Ada banyak tipe-tipe
dari encephalitis, kebanyakan darinya disebabkan oleh infeksi-infeksi.
Paling sering infeksi-infeksi ini disebabkan oleh virus-virus. Encephalitis
dapat juga disebabkan oleh penyakit-penyakit yang menyebabkan
peradangan dari otak.
Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai CNS yang disebabkan oleh
virus atau mikro organisme lain yang non purulent.
Ensefalitis adalah peradangan akut otak yang disebabkan oleh infeksi
virus. Terkadang ensefalitis dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, seperti
meningitis, atau komplikasi dari penyakit lain seperti rabies (disebabkan
oleh virus) atau sifilis (disebabkan oleh bakteri). Penyakit parasit dan
protozoa seperti toksoplasmosis, malaria, atau primary amoebic
meningoencephalitis juga dapat menyebabkan ensefalitis pada orang yang
sistem kekebalan tubuhnya kurang. Kerusakan otak terjadi karena otak
terdorong terhadap tengkorak dan menyebabkan kematian.

2.2 Etiologi
Berbagai macam mikroorganisme dapat menimbulkan ensefalitis,
misalnya bakteria, protozoa, cacing, jamur, spirochaeta, dan virus. Bakteri
penyebab ensefalitis adalah Staphylococcus aureus, streptokok, E. Coli, M.
Tuberculosa dan T. Pallidum. Encephalitis bakterial akut sering disebut
encephalitis supuratif akut (Mansjoer, 2000). Penyebab lain dari ensefalitis
adalah keracunan arsenik dan reaksi toksin dari thypoid fever, campak dan
chicken pox/cacar air. Penyebab encephalitis yang terpenting dan tersering
ialah virus. Infeksi dapat terjadi karena virus langsung menyerang otak, atau
reaksi radang akut infeksi sistemik atau vaksinasi terdahulu.
Menurut Tarwoto, (2007 : 110) Ensefalitis dapat disebabkan karena :
a. Arbovirus
Arbovirus dapat masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk dan
serangga. Masa inkubasinya antara 5 sampai 15 hari.
b. Enterovirus
Termasuk dalam enterovirus adalah poliovirus, herpes zoster. Enterovirus
disamping dapat menimbulkan ensefalitis dapat pula mengakibatkan
penyakit mumps (gondongan).
c. Herpes Simpleks
Herpes simpleks merupakan penyebab meningitis yang sangat
mematikan di Amerika Utara.
d. Amuba
Amuba penyebab ensefalitis adalah amuba naegleria dan acanthamoeba,
keduanya ditemukan di air dan dapat masuk melalui mukosa mulut saat
berenang.
e. Rabies
Penyakit rabies akibat gigitan binatang yang terkena rabies setelah masa
inkubasi yang berlangsung berminggu-minggu atau berbulan bulan.
f. Jamur
Jamur yang dapat menimbulkan ensefalitis adalah fungus blastomyces
dermatitidis, biasanya menyerang pria yang bekerja diluar rumah, tempat
masuknya melalui paru paru atau lesi pada kulit.

2.3 Manifestasi Klinis


Meskipun penyebabnya berbeda-beda, gejala klinis ensefalitis lebih
kurang sama dan khas, sehingga dapat digunakan sebagai kriteria diagnosis.
Secara umum, gejala berupa trias ensepalitis yang terdiri dari demam,
kejang dan kesadaran menurun, sakit kepala, kadang disertai kaku kuduk
apabila infeksi mengenai meningen dapat terjadi gangguan pendengaran dan
penglihatan. (Mansjoer,2000).

Adapun tanda dan gejala ensefalitis sebagai berikut :


1. Suhu yang mendadak naik, seringkali ditemukan hiperpireksia.
2. Kesadaran dengan cepat menurun.
3. Muntah.
4. Kejang- kejang yang dapat bersifat umum, fokal atau twiching saja
(kejang-kejang di muka).
5. Gejala-gejala serebrum lain, yang dapat timbul sendiri-sendiri atau
bersama-sama, misal paresis atau paralisis, afasia, dan sebagainya.
Inti dari sindrom ensefalitis adalah adanya demam akut, demam
kombinasi tanda dan gejala : kejang, delirium, bingung, stupor atau koma,
aphasia hemiparesis dengan asimetri refleks tendon dan tanda babinski,
gerakan infolunter, ataxia, nystagmus, kelemahan otot-otot wajah.

2.4 Klasifikasi
Ensefalitis diklasifikasikan menjadi:
1. Ensefalitis Supurativa
Peradangan dapat menjalar ke jaringan otak dari otitis media,
mastoiditis, sinusitis, atau dari piema yang berasal dari radang, abses di
dalam paru, bronkiektasis, empiema, osteomeylitis cranium, fraktur
terbuka, trauma yang menembus ke dalam otak dan tromboflebitis.
Reaksi dini jaringan otak terhadap kuman yang bersarang adalah edema,
kongesti yang disusul dengan pelunakan dan pembentukan abses.
Disekeliling daerah yang meradang berproliferasi jaringan ikat dan
astrosit yang membentuk kapsula. Bila kapsula pecah terbentuklah abses
yang masuk ventrikel.
2. Ensefalitis Siphylis
Disebabkan oleh Treponema pallidum. Infeksi terjadi melalui
permukaan tubuh umumnya sewaktu kontak seksual. Setelah penetrasi
melalui epithelium yang terluka, kuman tiba di sistem limfatik, melalui
kelenjar limfe kuman diserap darah sehingga terjadi spiroketemia. Hal ini
berlangsung beberapa waktu hingga menginvasi susunan saraf pusat.
Treponema pallidum akan tersebar diseluruh korteks serebri dan bagian-
bagian lain susunan saraf pusat.

3. Ensefalitis Virus
Adapun virus yang dapat menyebabkan radang otak pada manusia
adalah sebagai berikut :
a. Virus RNA
Paramikso virus : virus parotitis, irus morbili.
Rabdovirus : virus rabies.
Togavirus : virus rubella flavivirus (virus ensefalitis Jepang B,
virus dengue).
Picornavirus : enterovirus (virus polio, coxsackie A, B, echovirus).
Arenavirus: virus koriomeningitis limfositoria.
b. Virus DNA
Herpes virus : herpes zoster-varisella, herpes simpleks,
sitomegalivirus, virus Epstein-barr Poxvirus : variola, vaksinia.
Retrovirus: AIDS.
4. Ensefalitis karena Parasit
a. Malaria Serebral
Plasmodium falsifarum penyebab terjadinya malaria serebral.
Gangguan utama terdapat didalam pembuluh darah mengenai parasit.
Sel darah merah yang terinfeksi plasmodium falsifarum akan melekat
satu sama lainnya sehingga menimbulkan penyumbatan-penyumbatan.
Hemorrhagic petechia dan nekrosis fokal yang tersebar secara difus
ditemukan pada selaput otak dan jaringan otak.
Gejala-gejala yang timbul adalah demam tinggi, kesadaran
menurun hingga koma. Kelainan neurologik tergantung pada lokasi
kerusakan-kerusakan yang terjadi.
b. Toxoplasmosis
Toxoplasma gondii pada orang dewasa biasanya tidak
menimbulkan gejala-gejala kecuali dalam keadaan dengan daya
imunitas menurun. Didalam tubuh manusia parasit ini dapat bertahan
dalam bentuk kista terutama di otot dan jaringan otak.
c. Amebiasis
Amuba genus Naegleria dapat masuk ke tubuh melalui hidung
ketika berenang di air yang terinfeksi dan kemudian menimbulkan
meningoencefalitis akut.
Gejala-gejalanya adalah demam akut, nausea, muntah, nyeri
kepala, kaku kuduk dan kesadaran menurun.
d. Sistiserkosis
Cysticercus cellulosae ialah stadium larva taenia. Larva
menembus mukosa dan masuk kedalam pembuluh darah, menyebar ke
seluruh badan. Larva dapat tumbuh menjadi sistiserkus, berbentuk
kista di dalam ventrikel dan parenkim otak. Bentuk rasemosanya
tumbuh didalam meninges atau tersebar didalam sisterna. Jaringan
akan bereaksi dan membentuk kapsula disekitarnya. Gejala-gejala
neurologik yang timbul tergantung pada lokasi kerusakan yang terjadi.
5. Ensefalitis karena Fungus
Fungus yang dapat menyebabkan radang antara lain : candida
albicans, Cryptococcus neoformans, Coccidiodis, Aspergillus, Fumagatus
dan Mucor mycosis. Gambaran yang ditimbulkan infeksi fungus pada
sistem saraf pusat ialah meningo-ensefalitis purulenta. Faktor yang
memudahkan timbulnya infeksi adalah daya imunitas yang menurun.

2.5 Patofisiologi
Virus masuk tubuh klien melalui kulit, saluran napas dan saluran
cerna, setelah masuk kedalam tubuh, virus akan menyebar keseluruh tubuh
dengan secara lokal: aliran virus terbatas menginfeksi selaput lendir
permukaan atau organ tertentu, penyebaran hematogen primer : virus masuk
kedalam darah, kemudian menyebar keorgan dan berkembang biak diorgan
tersebut dan menyebar melalui saraf : virus berkembang biak dipermukaan
selaput lendir dan menyebar melalui sistem persarafan.

Setelah terjadi penyebaran keotak, timbul manifestasi klinis


ensefalitis, Masa Prodromal berlangsung selama 1 4 hari ditandai dengan
demam, sakit kepala, sulit mengunyah, suhu badan naik, muntah, kejang
hingga penurunan kesadaran, paralisis, dan afasia.
2.6 Pathway

Arbovirus Enterovirus Amoeba Herpes Simplek Rabies Jamur Bakteri

Masuk ke sal.nafas Masuk ke kulit Masuk sal.cerna

Menyebar ke dalam darah

Menyebar ke dalam organ

Berkembang biak dalam organ

Menyebar ke saraf

Reaksi inflamasi Kerusakan Sakit kepala

susunan saraf pusat

Peningkatan suhu Ggn sensorik Ggn rasa nyaman


tubuh motorik nyeri

Spastik berulang

Resiko terjadi
kontraktur
2.7 Pencegahan
Ensefalitis tidak dapat dicegah kecuali mencegah untuk terkena
penyakitnya. Ensefalitis dapat menyerang semua golongan umur. Apabila
menyerang anak-anak, maka biasanya anak tersebut memiliki riwayat
imunisasi yang tidak lengkap. Karena salah satu pencegahan untuk tidak
terkena ensefalitis yaitu dengan imunisasi yang lengkap. Selain itu hindari
berkunjung ke daerah endemik dimana penyebaran vektor nyamuk sangat
tinggi.

2.8 Komplikasi
Menurut Tarwoto, (2007:111), komplikasi pada penderita ensefalitis
antara lain:
1. Retardasi mental
2. Kejang
3. Demensia
4. Paralisis
5. Kebutaan

2.9 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dilakukan pada ensefalitis antara lain :
1. Isolasi : isolasi bertujuan mengurangi stimuli/rangsangan dari luar dan
sebagai tindakan pencegahan.
2. Terapi antimikroba, sesuai hasil kultur. Obat yang mungkin dianjurkan
oleh dokter :
Ampicillin : 200 mg/kgBB/24 jam, dibagi 4 dosis.
Kemicetin : 100 mg/kgBB/24 jam, dibagi 4 dosis.
Bila encephalitis disebabkan oleh virus (HSV), agen antiviral
acyclovir secara signifikan dapat menurunkan mortalitas dan
morbiditas HSV encephalitis. Acyclovir diberikan secara intravena
dengan dosis 30 mg/kgBB per hari dan dilanjutkan selama 10-14 hari
untuk mencegah kekambuhan.
Untuk kemungkinan infeksi sekunder diberikan antibiotika secara
polifragmasi.
3. Mengurangi meningkatnya tekanan intrakranial : manajemen edema otak.
Mempertahankan hidrasi, monitor balans cairan : jenis dan jumlah
cairan yang diberikan tergantung keadaan anak.
Glukosa 20%, 10 ml intravena beberapa kali sehari disuntikkan dalam
pipa giving set untuk menghilangkan edema otak.
Kortikosteroid intramuscular atau intravena dapat juga digunakan
untuk menghilangkan edema otak.
4. Mengontrol kejang : Obat antikonvulsif diberikan segera untuk
memberantas kejang. Obat yang diberikan ialah valium dan atau luminal.
Valium dapat diberikan dengan dosis 0,3-0,5 mg/kgBB/kali.
Bila 15 menit belum teratasi/kejang lagi bia diulang dengan dosis
yang sama.
Jika sudah diberikan 2 kali dan 15 menit lagi masih kejang, berikan
valium drip dengan dosis 5 mg/kgBB/24 jam.
5. Mempertahankan ventilasi : Bebaskan jalan nafas, berikan O2 sesuai
kebutuhan (2-3l/menit).
6. Penatalaksanaan shock septik.
7. Mengontrol perubahan suhu lingkungan.
8. Untuk mengatasi hiperpireksia, diberikan kompres pada permukaan
tubuh yang mempunyai pembuluh besar, misalnya pada kiri dan kanan
leher, ketiak, selangkangan, daerah proksimal betis dan di atas
kepala. Sebagai hibernasi dapat diberikan largaktil 2 mg/kgBB/hari dan
phenergan 4 mg/kgBB/hari secara intravena atau intramuscular dibagi
dalam 3 kali pemberian. Dapat juga diberikan antipiretikum seperti
asetosal atau parasetamol bila keadaan telah memungkinkan pemberian
obat per oral.

2.10 Diagnosa Banding


Diagnosa banding pada ensefalitis, antara lain:
1. Meningitis
2. Tumor intracranial
3. Meningismus
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian

Tanggal:

A. Biodata
1. Identitas Pasien
Nama, umur (dapat terjadi pada semua kelompok umur), jenis
kelamin (lebih sering menyerang laki-laki), suku bangsa, pendidikan,
pekerjaan (biasanya cenderung menyerang orang yang bekerja di
luar rumah), alamat, tanggal masuk, no. register, diagnosa medis.
2. Identitas Penanggung Jawab
Nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, hubungan
dengan pasien.
B. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan Utama
Biasanya pasien mengalami suhu badan yang meningkat
(hiperpireksia), kejang, adanya kaku kuduk, kesadaran menurun.
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada pasien dengan ensefalitis biasanya akan diawali dengan adanya
perasaan yang gelisah, muntah-muntah, panas badan yang meningkat
kurang lebih 1-4 hari, lalu diikuti dengan sakit kepala.
3. Riwayat Kesehatan Dahulu
Pasien sebelumnyamenderita batuk, pilek kurang lebih 1-4 hari,
pernah menderita peyakit herpes, penyakit infeksi pada hidung,
telinga dan tenggorokan.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Keluarga ada yang menderita penyakit yang disebabkan oleh virus,
contoh: Herpes dan lain-lain. Bakteri, contoh: Staphylococcus
aureus, Streptococcus, E. coli, dan lain-lain.
C. Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan Keadaan Umum
1) Tingkat kesadaran menurun
2) Adanya nyeri kepala
3) Nystagmus
4) Ptosis
5) Gangguan pendengaran dan penglihatan
6) Peningkatan suhu tubuh
7) Mual dan muntah
8) Paralisis/kelemahan otot
9) Perubahan pola nafas
10) Kejang
11) Tanda dan gejala peningkatan TIK
12) Kaku kuduk
13) Tanda brudzinskis dan kernigs positif
2. Pola Kesehatan Fungsional
1) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Adanya tindakan medis dan perawatan di rumah sakit
mempengaruhi perubahan persepsi tentang kesehatan, tapi
kadang juga memunculkan persepsi yang salah terhadap
pemeliharaan kesehatan.
2) Pola nutrisi dan metabolisme
Dalam pengkajian pola nutrisi dan metabolisme, kita perlu
melakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan untuk
mengetahui status nutrisi pasien, selain juga perlu ditanyakan
kebiasaan makan dan minum sebelum dan selama MRS pasien
dengan ensefalitis akan mengalami penurunan nafsu makan
akibat rasa sakit yang dirasakan.
3) Pola eliminasi
Dalam pengkajian pola eliminasi perlu ditanyakan
mengenai kebiasaan ilusi dan defekasi sebelum dan sesudah
MRS. Karena keadaan umum pasien yang lemah, pasien akan
lebih banyak bed rest sehingga akan menimbulkan konstipasi,
selain akibat pencernaan pada struktur abdomen menyebabkan
penurunan peristaltik otot-otot tractus degestivus. Selain itu
pasien dengan ensefalitis biasanya mengalami inkontinensia
dan/atau retensi.
4) Pola aktivitas dan latihan
Akibat ensefalitis pasien akan memiliki perasaan tidak
enak (malaise). Dan untuk memenuhi kebutuhan ADL nya
sebagian kebutuhan pasien dibantu oleh perawat dan
keluarganya. Adanya keterbatasan yang ditimbulkan oleh
kondisinya.
5) Pola tidur dan istirahat
Terdapat gangguan pola tidur pada pasien ensefalitis
karena adanya rasa sakit pada kepala pasien.
6) Pola hubungan dan peran
Akibat dari sakitnya, secara langsung pasien akan
mengalami perubahan peran, misalkan pasien seorang siswa,
pasien tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai seorang
siswa. Disamping itu, peran pasien di masyarakat pun juga
mengalami perubahan dan semua itu mempengaruhi hubungan
interpersonal pasien.
7) Pola persepsi dan konsep diri
Persepsi pasien terhadap dirinya tidak berubah. Pasien
merasa normal tetapi mungkin aka nada gangguan dikarenakan
sakit yang dideritanya.
8) Pola sensori dan kognitif
a) Keluhan yang berkenaan dengan kemampuan sensasi (seperti
penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, sensasi
perabaan).
b) Kemampuan kognitif (kemampuan mengingat/memory,
bicara dan memahami pesan yang diterima, pengambilan
keputusan yang bersifat sederhana).
9) Pola reproduksi seksual
Kebutuhan seksual pasien dalam hal ini hubungan seks
intercourse akan terganggu karena pasien memiliki kondisi fisik
yang masih lemah.
10) Pola penanggulangan stress
Bagi pasien yang belum mengetahui proses penyakitnya
akan mengalami stress dan mungkin pasien akan banyak
bertanya pada perawat dan dokter yang merawatnya atau orang
yang mungkin dianggap lebih tahu mengenai penyakitnya.
11) Pola tata nilai dan kepercayaan
Sebagai seorang beragama pasien akan lebih mendekatkan
dirinya kepada Tuhan dan menganggap bahwa penyakitnya ini
adalah suatu cobaan dari Tuhan.
3. Head to toe
1) Kepala
Inpeksi : penyebaran rambut menyeluruh, tidak adanya
ketombe pada kulit kepala.
Palpasi : pada permukaan kepala tidak ada massa.
2) Leher
Inspeksi : terlihat normal (tidak tampak pembesaran kelenjar
tiroid), bentuk juga normal.
Palpasi : ketika dipalpasi tidak ditemukan pembesaran
kelenjar tiroid, adanya kaku kuduk sehingga
kemampuan gerak terbatas.
3) Mata
Inspeksi : Pada mata biasanya mengalami ptosis, tidak
adanya juling, tidak adannya nistagmus.
4) Hidung
Inspeksi : Adanya iritasi pada hidung karena pasien
mengalami influenza atau pilek yang cukup lama.
5) Telinga
Bentuk telinga simetris, tidak adanya gangguan pendengaran.
6) Mulut
Indera pengecapan tidak mengalami perubahan, biasanya
terdapat kelainan dalam proses mengunyah, persepsi
pangecapan tidak mengalami perubahan, tidak ada bentuk V
yang terbalik dari bibir atas, langit-langit normal.
7) Dada
Paru-paru
Inspeksi : pengembangan paru kanan dan kiri simetris
Auskultasi : tidak ditemukannya wheezing
Palpasi : suara fremitus kanan dan kiri sama
Perkusi : sonor pada kedua paru
Jantung
Inspeksi : iktus kordis tidak tampak
Auskultasi : denyut nadi noral
Palpasi : iktus kordis teraba pada ics V 2 cm IMCS
Perkusi : pekak
Payudara
Inspeksi : bentuknya menggantung (normal)
Palpasi : tidak ada massa pada mammae
8) Abdomen
Inspeksi : perut datar.
Palpasi : normal.
Perkusi : tympani/dullness
Auskultasi : bising usus normal (5-12 x/menit)
9) Genetalia
Tidak ada kelainan pada genetalia.
10) Ekstremitas
Atas
- Turgor baik
- Tidak ada edema
Bawah
- Tidak ada edema
- Tidak ada sianosis
4. Pengkajian Saraf Kranial pada Ensefalitis
1) Saraf I. Biasanya pada pasien ensefalitis tidak ada kelainan dan
fungsi penciuman tidak ada kelainan.
2) Saraf II. Tes ketajaman penglihatan pada kondisi normal.
Pemeriksaan papiledema mungkin didapatkan terutama pada
ensefalitis supuratif disertai abses serebri dan efusi subdural
yang menyebabkan terjadinya peningkatan TIK.
3) Saraf III, IV, VI. Pemeriksaan fungsi dan reaksi pupil pada klien
ensefalitis yang tidak disertai penurunan kesadaran biasanya
tanpa kelainan. Pada tahap lanjut ensefalitis yang telah
mengganggu kesadaran, tanda-tanda perubahan dari fungsi dan
reaksi pupil akan didapatkan. Dengan alasan yang tidak
diketahui, pasien ensefalitis mengeluh mengalami fotofobia atau
sensitive yang berlebihan terhadap cahaya.
4) Saraf V. Pada pasien ensefalitis didapatkan paralisis pada otot
sehingga mengganggu proses mengunyah.
5) Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah
asimetris karena adanya paralisis unilateral.
6) Saraf VIII. Tidak ditemukan adanya tuli konduktif dan tuli
persepsi.
7) Saraf IX dan X. Kemampuan menelan kurang baik, sehingga
mengganggu pemenuhan nutrisi via oral.
8) Saraf XI. Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan
trapezius. Adanya usaha dari pasien untuk melakukan fleksi
leher dan kaku kuduk.
9) Saraf XII. Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan
tidak ada fasikulasi. Indra pengecapan normal.
D. Pemeriksan Penunjang
Menurut George Dewanto, pemeriksaan penunjang antara lain:
1. Pemeriksaan Laboratorium
Dapat di lakukan pemeriksaan darah, viremia berlangsung
hanya sebentar saja sehingga sulit untuk mendapatkan hasil yang
positif dan gambaran cairan serebrospinal dapat dipertimbangkan
meskipun tidak begitu membantu. Biasanya berwarna jernih, jumlah
sel 50-200 dengan dominasi limfosit. Kadar protein kadang
meningkat, sedangkan glukosa masih dalam batas normal.
2. Pemeriksaan Radiologis
CT Scan kepala
1) Pada ensefalitis HSv, Ct scan memperlihatkan lesi dengan
densitas rendah dilobus temporalis, yang belum terlihat
sampai 3 4 hari setelah awitan.
2) CT Scan dapat memperlihatkan komplikasi seperti
perdarahan, hidrosefalus dan herniasi, serta dapat membantu
menentukan perlu tidaknya tindakan bedah
MRI ( Magnetic Resonance Imaging )
1) MRI lebih sensitive dari pada CT Scan dalam
mengidentifikasi ensefalitis viral.
2) Gambaran lesi di lobus temporalis berupa perdarahan
unilateral atau bilateral. Lesi di lobus inferomedial temporalis
dan girus singuli adalah area yang paling sering terdeteksi
dengan MRI. Pada anak dan bayi, dapat terdeteksi
penyebaran yang lebih luas.
Elektroensefalografi ( EEG )
Pada ensefalitis HSV, 4 dari 5 kasus yang telah dibuktikan
dengan biopsi memperlihatkan EEG yang abnormal. Terdapat
perubahan di daerah temporalis yang menyebar secara difus dan
perlahan serta di dapatkan lateralisasi gelombang epileptiform.
Arteriografi karotis
Letak abses lobus temporal, abses serebelar posterior.

3.2 Diagnosa Keperawatan


1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan sakit kepala.
2. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan reaksi inflamasi.
3. Gangguan sensorik motorik berhubungan dengan kerusakan susunan
saraf pusat.
4. Resiko terjadi kontraktur berhubungan dengan spastik berulang.

3.3 Perencanaan
Tgl/ No.
Tujuan dan KH Intervensi Rasional
Jam Dx
1. Setelah dilakukan tindakan Observasi:
keperawatan selama 2x24 1. Observasi intensitas 1. Untuk
jam diharapkan sakit nyeri menentukan
kepala berkurang dan tindakan yang
dapat teratasi dengan akan dilakukan
kriteria hasil: kemudian.
K : pasien mengetahui Nursing:
penyebab dari sakit yang 2. Berikan tindakan 2. Tindaka non
dialaminya. nyaman. analgesic dapat
A : pasien dapat mengurangi
mengetahui cara untuk ketidaknyamana
mengurangi sakit kepala n dan
yang dialaminya. memperbesar
P : pasien mampu efek terapi
melakukan cara untuk analgetik.
mengurangi rasa sakit 3. Berikan lingkungan 3. Menurunkan
kepala yang dialaminya. yang tenng, ruangan reaksi terhadap
P: agak gelap sesuai stimulasi dari
- Nyeri kepala berkurang indikasi. luar atau
atau terkontrol sensitifitas
(skala nyeri 0-3) terhadap cahaya
- Menunjukkan postur dan
rileks dan mampu meningkatkan
tidur/istirahat dengan istirahat/relaksa
tepat. si.
4. Tingkatkan tirah 4. Menurunkan
baring, bantu gerakan yang
kebutuhan perawatan dapat
diri pasien. meningkatkan
nyeri.
5. Berikan latihan 5. Dapat
rentang gerak membantu
aktif/pasif secara tepat merelaksasikan
dan masase otot daerah ketegangan otot
leher/bahu. yang
meningkatkan
reduksi nyeri
atau rasa tidak
nyaman tersebut.
Edukasi:
6. Ajarkan gerak 6. Dapat
aktif/pasif yang dapat membantu
dilakukan baik oleh merelaksasikan
pasien atau keluarga. ketegangan otot
yang
meningkatkan
reduksi nyeri
atau rasa tidak
nyaman tersebut.
Kolaborasi:
7. Berikan analgesic 7. Obat ini dapat
sesuai indikasi. digunakan untuk
meningkatkan
kenyamanan/
istirahat.
2. Setelah dilakukan tindakan Observasi :
keperawatan selama 2x24 1. Observasi suhu pasien, 1. Suhu 38,9
jam diharapkan reaksi perhatikan apakah 41,1oC
inflamasi dapat teratasi menggigil/diaphoresis. menunjukkan
sehingga tidak terjadi proses penyakit
peningkatan suhu tubuh infeksius akut
dengan kriteria hasil: 2. Observasi suhu 2. Suhu
K : pasien mengetahui lingkungan, ruangan/jumlah
penyebab terjadinya batasi/tambahkan linen selimut harus
hipertermi. tempat tidur sesuai diubah untuk
A : pasien mengetahui indikasi. mempertahanka
cara untuk menurunkan n suhu
suhu dan mengatasi reaksi mendekati
inflamasi. normal.
P : pasien mampu Nursing:
melakukan cara untuk 3. Berikan kompres 3. Dapat
menurunkan suhu dan mandi hangat, hindari membantu
mengatasi reaksi penggunaan alkohol. mengurangi
inflamasi. demam.
P: Edukasi:
- Suhu dapat normal 4. Ajarkan cara untuk 4. Dapat
kembali (36,5oC mengompres dengan membantu
37,5oC) baik kepada pihak mengurangi
- Pasien tidak mengeluh keluarga. demam.
badannya panas. Kolaborasi:
5. Berikan antipiretik 5. Digunakan
sesuai indikasi. untuk
mengurangi
demam dengan
aksi sentralnya
pada
hipotalamus.
3. Setelah dilakukan tindakan Observasi :
keperawatan selama 4x24 1. Observasi kembali 1. Kesadaran akan
jam diharapkan pasien proses patologis tipe/daerah yang
dapat mempertahankan kondisi individual. terkena
tingkat kesadaran dan membantu
fungsi perseptual serta dalam
kerusakan susunan saraf mengkaji/menga
pusat dapat menurun dan ntisipasi deficit
teratasi dengan kriteria spesifik dan
hasil: keperawatan.
K : pasien mengetahui 2. Evaluasi adanya 2. Munculnya
penyebab adanya gangguan penglihatan. gangguan
kerusakan susunan saraf penglihatan
pusat. dapat
A : pasien mengetahui berdampak
cara untuk negatif terhadap
mempertahankan tingkat kemampuan
kesadaran dan fungsi pasien untuk
perseptual. menerima
P : pasien mampu lingkungan.
melakukan cara untuk Nursing :
mempertahankan tingkat 3. Ciptakan lingkungan 3. Menurunkan/me
kesadaran dan fungsi yang sederhana, mbatasi jumlah
perseptual. pindahkan perabot stimuli yang
P: yang membahayakan. mungkin dapat
- Adanya perubahan menimbulkan
dalam kemampuan dan kebingungan
adanya keterlibatan bagi pasien.
residual. Edukasi :
- Pasien dapat 4. Ajarkan baik kepada 4. Untuk
mendemonstrasikan pasien maupun mengurangi
perilaku untuk keluarga cara untuk gangguan
mengkompensasi mempertahankan sensorik dan
terhadap hasil. tingkat kesadaran dan motorik pada
fungsi perseptual. pasien.
Kolaborasi :
5. Kolaborasi dengan 5. Dapat
orang tua untuk membantu
membantu memenuhi dalam hal
kebutuhan pasien. memenuhi
kebutuhan dasar.
4. Setelah dilakukan tindakan Observasi :
selama 3x24 jam 1. Observasi gerakan 1. Dapat
diharapkan tidak adanya anggota tubuh pasien. mengetahui
resiko terjadi spastik yang bagian anggota
dapat menimbulkan tubuh yang
kontraktur dengan kriteria mana yang
hasil: terjadi kekakuan
K : pasien mengetahui sendi.
penyebab adanya spastik. Nursing :
A : pasien mengetahui 2. Lakukan latihan pasif 2. Melatih
cara untuk mengurangi mulai ujung ruas jari melemaskan
spastik yang dapat secara bertahap. otot-otot,
menimbulkan kontraktur. mencegah
P : pasien mampu kontraktur.
melakukan cara untuk 3. Lakukan perubahan 3. Dengan
mengurangi spastik yang posisi setiap 2 jam. melakukan
dapat menimbulkan perubahan posisi
kontraktur. diharapkan
P: perfusi ke
- Tidak terjadi kekakuan jaringan lancar,
sendi. meningkatkan
- Pasien dapat daya pertahanan
menggerakkan anggota tubuh.
tubuh dengan baik. Edukasi:
4. Berikan penjelasan 4. Dengan diberi
pada keluarga pasien penjelasan
tentang penyebab diharapkan
terjadinya spastik dan keluarga
terjadi kekakuan mengerti dan
sendi. mau membantu
program
perawatan.
Kolaborasi :
5. Kolaborasi untuk 5. Diberi
pemberian pengobatan dilantin/valium,
spastic dilantin/valium kejang/spastik
sesuai indikasi. dapat hilang,
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Ensefalitis adalah radang jaringan otak yang dapat disebabkan oleh
bakteri, cacing, protozoa, jamur, ricketsia atau virus. Ensefalitis disebabkan
oleh bakteri, virus, parasit, fungus dan riketsia. Ensefalitis diklasifikasikan
menjadi:
a. Ensefalitis supurativa
b. Ensefalitis siphylis
c. Ensefalitis virus
d. Ensefalitis karena parasit: malaria serebral, toxoplasmosis, amebiasis dan
sistiserkosis.
e. Ensefalitis karena fungus
f. Riketsiosis serebri
Penatalaksanaan pada masalah ini dilakukan sesuai dengan penyebab
terjadinya ensefalitis tersebut, antara lain seperti: pemberian antibiotic,
antifungi, antiparasit, antivirus dan pengobatan simptomatis berupa
pemberian analgetik, antipiretik serta antikonvulsi.

4.2 Saran
Sehat merupakan sebuah keadaan yang sangat berharga, sebab dengan
kondisi fisik yang sehat seseorang mampu menjalankan aktifitas sehari-
harinya tanpa mengalami hambatan. Maka menjaga kesehatan seluruh organ
yang berada didalam tubuh menjadi sangat penting mengingat betapa
berpengaruhnya sistem organ tersebut terhadap kelangsungan hidup serta
aktifitas seseorang.
DAFTAR PUSTAKA

Arif, Mansur. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. Jilid 2. Jakarta : Media

Aesculapius

Carpenito, L. J. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. EGC. Jakarta

Doengoes, Marilynn.E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC

Gordon et.al, 2001, Nursing diagnoses : Definition & classification 2001-2002,


Philadelpia USA

Hinchliff Sue. 1999. Kamus Keperawatan. Edisi 17. EGC. Jakarta