Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu aspek terpenting dalam keperawatan keluarga adalah
pemberian asuhan pada unit keluarga. Keluarga bersama dengan individu,
kelompok dan komunitas adalah klien atau resepien keperawatan. Secara
empiris disadari bahwa kesehatan para anggota keluarga sudah ditanggulangi
secara incidental, tetapi keluarga belum dilihat sebagai klien dari
keperawatan. Sebenarnya, keluarga sebagai unit asuhan keperawatan sangat
besar pengaruhnya terhadap individu dan kelompok.
Keluarga pada hakekatnya merupakan satuan terkecil sebagai inti dari
suatu sistem sosial yang ada dimasyarakat. Sebagai satuan terkecil, keluarga
merupakan miniatur dan embrio berbagai unsur sistem sosial manusia.
Suasana keluarga yang kondusif akan menghasilkan warga masyarakat yang
baik karena dalam keluargalah seluruh anggota keluarga belajar berbagai
dasar kehidupan masyarakat.
Keluarga adalah bagian masyarakat yang peranannya sangat penting
untuk membentuk kebudayaan yang sehat. Dari keluarga inilah pendidikan
kepada individu dimulai dan dari keluarga akan tercipta tatanan masyarakat
yang baik, sehingga untuk membangun suatu kebudayaan maka seyogyanya
dimulai dari keluarga (Setiadi, 2008).
Oleh karena itu, penetapan keluarga sebagai klien atau sasaran asuhan
keperawatan adalah hal yang tepat. Keluarga dalam hal ini tidak dipandang
dari jumlah anggotanya, tetapi kesatuannya yang unik dalam menghadapi
masalah. Keunikannya terlihat dari cara berkomunikasi, mengambil
keputusan, sikap dan nilai.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dirumuskan masalah sebagai
berikut:
a. Apa definisi konsep keluarga?
b. Apa saja karakteristik keluarga?
c. Apa saja tipe keluarga?
d. Apa saja fungsi keluarga?
e. Bagaimana tugas perkembangan keluarga?
f. Bagaimana bentuk pelayanan kesehatan keluarga?

C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan laporan ini yaitu untuk:
a. Mengetahui definisi konsep keluarga
b. Mengidentifikasi karakteristik keluarga
c. Mengidentifikasi tipe keluarga
d. Mengidentifikasi fungsi keluarga
e. Mengetahui tugas perkembangan keluarga dan masalah yang sering
muncul
f. Mengetahui bentuk pelayanan kesehatan keluarga
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Konsep Keluarga
Salah satu aspek terpenting dari keperawatan keluarga adalah pemberian
asuhan pada unit keluarga. Secara empiris disadari bahwa kesehatan para
anggota keluarga sudah ditanggulangi secara insidential, tetapi keluarga belum
dilihat sebagai klien dari keperawatan. Keluarga merupakan sekumpulan
orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, kelahiran dan
mempertahankan budaya yang umum. Meningkatkan perkembangan fisik,
mental, emosional dan sosial dari tiap anggota (Helvie, 1981 dalam Mubarak
dkk, 2012)
Menurut Departemen Kesehatan RI (1998) dalam Susanto (2010),
keluarga adalah unit terkecil dari suatu masyarakat yang terdiri atas kepala
keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di
bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
Friedman menguraikan alasan keluarga sebagai unit asuhan keperawatan
(klien) :
1. Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat dan melibatkan mayoritas
penduduk.Apabila masalah kesehatan setiap keluarga dapat diatasi berarti
masalah kesehatan masyarakat secara keseluruhan akan dapat
diselesaikan.
2. Keluarga adalah suatu kelompok yang mempunyai peranan penting dalam
mengembangkan, mencegah, mengadaptasi dan atau memperbaiki
masalah kesehatan yang ditemukan dalam keluarga. Dengan demikian
apabila pemahaman keluarga telah dimiliki akan dapat dimanfaatkan
dalam mengembangkan, mencegah dan atau memperbaiki masalah
kesehatan yang ditemukan dalam keluarga atau masyarakat secara
keseluruhan.

B. Karakteristik keluarga
Adapun ciri-ciri umum keluarga yang dikemukakan oleh Efendi (2007),
yaitu:
1. Diikat dalam satu perkawinan
2. Ada ikatan batin
3. Ada tanggung jawab masing anggota
4. Ada pengambilan keputusan
5. Kerjasama dalam anggota keluarga
6. Komunikasi interaksi antar anggota keluarga

C. Tipe/Bentuk Keluarga
Goldenberg (1980), membedakan bentuk keluarga menjadi sembilan
bentuk yaitu:
1. Keluarga inti (nuclear family): Keluarga yang terdiri dari suami, istri serta
anak-anak kandungnya.
2. Keluarga besar (extended family): Keluarga yang disamping terdiri dari
suami, istri dan anak-anak kandung, juga terdiri dari sanak saudaranya
lainnya, baik menurut garis keturunan vertikal maupun horizontal.
3. Keluarga campuran (blended family): Keluarga yang terdiri dari suami,
istri, anak kandung serta anak tiri.
4. Keluarga menurut hukum umum (common law family): Keluarga yang
terdiri dari pria dan wanita yang tidak terikat dalam perkawinan syah
serta anak-anak mereka tinggal bersama.
5. Keluarga orang tua tunggal (single parent family): Keluarga yang terdiri
dari pria dan wanita, mungkin karena telah bercerai, berpisah, ditinggal
mati, atau mungkin tak pernah menikah, serta anak-anak mereka tinggal
bersama.
6. Keluarga hidup bersama (commune family): Keluarga yang terdiri dari
pria,wanita dan anak-anak yang tinggal bersama berbagi hak dan
tanggung jawab serta memiliki kekayaan bersama.
7. Keluarga serial ( serial family): Keluarga yang terdiri dari pria dan wanita
yang telah menikah dan mungkin telah punya anak, tetapi kemudian
bercerai dan masingmasing menikah lagi serta memiliki anak-anak
dengan pasangan masing-masing, tetapi semuanya menganggap sebagai
satu keluarga.
8. Keluarga gabungan (composit family): Keluarga yang terdiri dari suami
dengan beberapa istri dan anakanaknya atau istri dengan beberapa suami
dan anak-anaknya yang hidup bersama.
9. Keluarga tinggal bersama (cohabitation family): Keluarga yang terdiri
dari pria dan wanita yang hidup bersama tanpa ada ikatan perkawinan
yang sah.

D. Fungsi Keluarga
Dalam keperawatan keluarga terdapat lima fungsi keluarga (Friedman,
1998), yaitu:
1. Fungsi afektif (affective function): Fungsi keluarga dalam pembentukan
dan pemeliharaan kepribadian anak-anak, pemantapan kepribadian orang
dewasa serta pemenuhan kebutuhan psikologis para anggota keluarganya.
2. Fungsi sosialisasi dan penempatan sosial (socialization and social
placement function): Fungsi keluarga dalam mempersiapkan anak-anak
sehingga dapat menjadi anggota masyarakat yang produktif dan atau
memberikan status yang dimiliki keluarga kepada semua anggota
keluarga.
3. Fungsi reproduksi (reproduction function): Fungsi menjaga kelangsungan
garis keturunan dan atau menambah anggota keluarga yang kelak akan
menjadi anggota masyarakat.
4. Fungsi ekonomis (economic function): Fungsi keluarga dalam
menyediakan sumber ekonomi keluarga secara cukup serta mengatur
pemakaiannya secara efektif.
5. Fungsi perawatan kesehatan (health care function): Untuk memenuhi
kebutuhan fisik (provision of physical necessity).

E. Tahap Perkembangan Keluarga dan Tugas perkembangan keluarga


Menurut Rodgers cit Friedman (1998), meskipun setiap keluarga melalui
tahapan perkembangan secara unik, namun secara umum seluruh keluarga
mengikuti pola yang sama. Tahap perkembangan keluarga menurut Duvall
dan Milller (Friedman, 1998) sebagai berikut:
1. Tahap I
Pasangan Baru/Keluarga Baru (newly established couple (no children).
Dimulai saat individu laki-laki/perempuan membentuk keluarga melalui
perkawinan. Meninggalkan keluarga mereka masing-masing baik
fisik/psikologis. Tugas Perkembangannya:
a. Membina hubungan intim yang memuaskan
b. Membina hubungan dengan keluarga lain, teman, kelompok social
c. Mendiskusikan rencana memiliki anak ( KB)
Masalah Kesehatan Yang Muncul: Penyesuaian seksual dan peran
perkawinan, Aspek luas tentang KB, Penyakit kelamin baik
sebelum/sesudah menikah. Konsep perkawinan tradisional: dijodohkan,
hukum adat Tugas Perawat : membantu setiap keluarga untuk agar saling
memahami satu sama lain.
Diagnosa keperawatan: Koping Individu inefektif, Resiko Infeksi
akibat penyakit kelamin.

2. Tahap II
Keluarga Kelahiran Anak Pertama (Chlid-bearing family (oldest child
birth to 2,5 years). Dimulai dari kelahiran anak pertama hingga bayi
berusia 30 bulan ( 2,5 tahun). Keluarga menanti kelahiran dan mengasuh
anak. Tugas Perkembangannya:
a. Persiapan menjadi orang tua
b. Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi, hubungan
seksual
c. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan.
Masalah Kesehatan Keluarga: Pendidikan maternitas fokus keluarga,
perawatan bayi, imunisasi, konseling perkembangan anak, KB, pengenalan
dan penanganan masalah kesehatan fisik secara dini. Inaksesibilitas dan
ketidakadekuatan fasilitas perawatan ibu dan anak.
Diagnosa keperawatan : ketidakefektifan koping keluarga, penurunan
koping keluarga, resiko ganguan hubungan ibu dan janin, resiko gangguan
identitas pribadi, defiist pengetahuan, ansietas, diskontinuitas pemberian
asi.

3. Tahap III
Keluarga Anak Usia Prasekolah Family With Preschool Children
(oldest child 2,5 5 years). Dimulai dengan anak pertama berusia 2,5 5
tahun. Keluarga lebih majemuk dan berbeda. (Suami Ayah = Istri Ibu
= anak laki-laki -saudara = anak perempuan saudari). Tugas
Perkembangannya:
a. Memenuhan kebutuhan anggota keluarga seperti : tempat tinggal, privasi
dan rasa aman, membantu anak untuk sosialisasi.
b. Adaptasi dengan anak yang baru lahir dan kebutuhan anak yang lain
c. Mempertahankan hubungan yang sehat internal atau ekternal keluarga,
bagian tanggung jawab anggota keluarga
d. Stimulasi tumbang anak. Pembagian waktu untuk individu,pasangan dan
anak ( paling repot )
Masalah Kesehatan Keluarga: Masalah kesehatan fisik : penyakit
menular,jatuh,luka bakar,keracunan & kecelakaan, dan lain lain.
Diagnosa keperawatan : resiko jatuh, resiko infeksi.

4. Tahap IV
Keluarga Dengan Anak Sekolah atau Family With School Children
(oldest child 6 13 years). Keluarga mencapai jumlah anggota yang
maksimal,keluarga sangat sibuk. Aktivitas sekolah,anak punya aktivitas
masing-2. Orang tua berjuang dengan tuntutan ganda : perkemb anak &
dirinya. Orang tua belajar menghadapi/membiarkan anak pergi (dengan
teman sebayanya). Orang tua mulai merasakan tekanan yg besar dr
komunitas di luar rumah ( sistem sekolah ). Tugas Perkembangannya:
a. Membantu sosialisasi anak : meningkatkan prestasi belajar anak.
b. Mempertahankan hubungan perkawinan yang bahagia.
c. Memenuhi kebutuhant & biaya kehidupan yang semakin meningkat
termasuk biaya kesehatan.
Masalah kesehatan keluarga : jatuh, kecelakaan saat bermain, penyakit
menular.
Diagnosa keperawatan : resiko infeksi, resiko jatuh.
5. Tahap V
Keluarga Dengan Anak Remaja atau Family With Teenagers (oldest
child 13 -19/20 years ). Dimulai ketika anak pertama melewati umur 13
th,berlangsung 6-7 th. Tujuan keluarga tahap ini : melonggarkan ikatan
yang memungkinkan tanggungjawab & kebebasan yangg lebih optimal bagi
remaja untuk menjadi dewasa muda.Tugas Perkembangannya :
a. Menyeimbangkan kebebasan dengan tanggungjawab ketika remaja
menjadi dewasa dan semakin mandiri
b. Menfokuskan hubungan perkawinan
c. Berkomunikasi secara terbuka antara orang tua dengan anak-anak
Masalah-masalah kesehatan : Masalah kesehatan fisik keluarga
biasanya baik,tapi promosi kesehatan tetap perlu diberikan. Perhatian pada
gaya hidup keluarga yang sehat ; penyakit jantung koroner pada orang tua
( usia 35 th ). Pada remaja : kecelakaan, penggunaan obat-obatan,alkohol,
mulai menggunakan rokok sebagai alat pergaulan,kehamilan tidak
dikehandaki. Konseling dan pendidikan tentang sex education menjadi
sangat penting. Terdapat beda persepsi antara orang tua dengan anak
remaja tenting sex education > konseling harus terpisah antara orang tua
dengan anak. Persepsi remaja tentang sex education: uji
kehamilan,AIDS,alat kontrasepsi dan aborsi
Diagnosa keperawatan : anisietas, defisit pengetahuan, disfungsi
sexual, harga diri rendah situasional, ketidakefektifan koping, penurunan
koing keluarga.

6. Tahap VI
Keluarga Melepas Anak Usia Dewasa Muda atau Family As Launching
Center (oldest child gone to departure of youngest). Dimulai Anak pertama
meninggalkan rumah berakhir sama rumah menjadi kosong. Tahap ini bisa
singkat bisa lama tgant juml anak (biasa berlangs 6 7 th) > faktor
ekonomi menjadi kendala. Tugas Perkembanganya:
a. Memperluas siklus keluarga dengan memasukan anggota keluarga baru
dari perkawianan anak-anaknya.
b. Melanjutkan untuk memperbaharui & menyesuaikan kembali hubungn
perkawinan
c. Membantu orang tua/ lansia yg sakit-sakitan dari suami maupun istri.
Masalah Kesehatan: Masalah komunikasi anak dengan orang tua
(jarak), perawatan usia lanjut, masalah penyak kronis:
Hipertensi,Kolesterol, Obesitas, Menopause, DM, Dll.
Diagnosa keperawatan : ansietas, ketidakmampuan koping keluarga.
7. Tahap VII
Keluarga Orang Tua Usia Pertengahan atau Middle-anged Family
(emptynest to retirement). Dimulai anak terakhir keluar dan berakhir
sampai pensiun at kematian pasangan. Biasanya dimulai saat orang tua
berusia 45-55 tahun dan berakhir saat masuk pensiun 16-18 tahun
kemudian. Tugas Perkembangannya:
a. Menyediakan lingkungan yang meningkatkan kesehatan
b. Mempertahankan hubungan-hubungan yang memuaskan & penuh arti
dengan para ortu lansia(teman sebaya) & anak-anak
c. Memperkokoh hubungan perkawinan
Masalah Kesehatan: Kebutuhan Promosi Kesehatan : istirahat cukup,
kegiatan waktu luang & tidur, nutrisi, olahraga teratur, BB harus ideal,no
smoking, pemeriksaan berkala. Masalah hubungan perkawinan,komunikasi
dengan anak-anak & teman sebaya,masalah ketergantungan perawatan diri.
Diagnosa keperawatan : defisit pengetahuan, keletihan.

8. Tahap VIII
Keluarga Masa Pensiun & Lansia atau Aging Family ( retirement to
death of both spouses ). Dimulai salah satu/keduanya pensiun sampai salah
satu /keduanya meninggal. Kehilangan yg lazim pada usia ini: ekonomi &
pekerjaan (pensiun), perumahan ( pindah ikut anak/panti ) , social
(kematian pasangan & teman-satunya), Kesehatan (penurunan kemampuan
fisik ). Tugas Perkembangannya:
a. Mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan
b. Menyesuaikan dengan pendapatan yang menurun
c. Mempertahankan hubungan perkawinan
d. Menyesuaikan diri terhadap kehilangan pasangan
e. Mempertahankan ikatan keluarga antar generasi
f. Meneruskan untuk memahami eksistensi mereka (penelaahan Dan
integrasi hidup)
Masalah kesehatan : pada keluarga usia lansia masalah kesehatan yang
terjadi mayoritas adalah penyakit degeneratif akibat usia.
Diagnosa keperawatan : hambatan mobilitas fisik, intoleransi aktivitas,
keletihan, ketakutan, penurunann koping keluarga, resiko jatuh, resiko
pelemahan martabat, resiko terserang penyakit degeneratif.

F. Bentuk Pelayanan Kesehatan Keluarga


Menurut Friedman (1998), terdapat 4 tingkat praktik keperawatan
keluarga yaitu :
1. Tingkat I : keluarga sebagai konteks
Pelayanan keperawatan hanya terpusat kepada individu, sedangkan
keluarga dianggap hanya sebagai lingkungan pendukung sosial semata
sehingga keterlibatannya sangat kecil dalam upaya pelayanan
keperawatan.
2. Tingkat II : keluarga sebagai kumpulan dari anggota keluarga
Lebih menekankan pada pelayanan yang tetap diberikan kepada
individu namun dalam lingkup yang lebih banyak.

3. Tingkat III : sub sistem keluarga sebagai klien


Pada level III subsistem dalam keluarga merupakan fokus pengkajian
dan intervensi keperawatan. Anggota keluarga dilihat sebagai unit yang
saling berinteraksi. Fokus intervensi pada level ini adalah pola interaksi
antara suami istri dan interaksi orang tua dan anak. Lebih berfokus pada
aspek psikologis, sosial dan spiritual.
4. Tingkat IV: keluarga sebagai klien
Keluarga menjadi focus sentral dan individu sebagai latar belakang
(fokus sekunder). Keluarga dipandang sebagai sistem yang saling
berinteraksi. Fokus intervensi pada level ini adalah dinamika dan
hubungan internal keluarga, struktur dan fungsi keluarga baik dalam
berhubungan dengan subsistem keluarga dalam keseluruhan dan dengan
lingkungan luarnya
Dengan demikian akan tercipta suatu sinergi yang harmonis antara
pelayanan yang bersifat individual dengan keluarga sebagai pusat
pelayanan keperawatan.

G. Peranan Perawat
1. Pengenal kesehatan
Perawat dapat membantu keluarga dalam mengenal penyimpangan
dari keadaan normal dengan menganalisa data secara obyektif serta
membuat keluarga sadar akan akibatnya dalam perkembangan anggota
keluarga.
2. Pemberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit
Memberikan perawatan pada anggota keluarga yang memiliki masalah
kesehatan adalah salah satu tugas dari keluarga. Namun demikian perawat
harus mampu memberikan kesempatan dan contoh bagi keluarga untuk
mengembangkan kemampuan mereka dalam melaksanakan tugas
kesehatannya.
Dengan demikian keluarga sangat penting dalam menjamin
keberhasilan pelayanan kesehatan baik dalam upaya promotif, preventif,
kuratif maupun rehabilitatif.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di Indonesia salah satu PTM (Penyakit Tidak Menular) yang menjadi
masalah kesehatan yang sangat serius saat ini adalah hipertensi. Masalah
Hipertensi disebut sebagai the silent killer, karena dapat membunuh
penderitanya secara mendadak bila tidak dilakukan pemeriksaan rutin
terhadap tekanan darah. Selain itu, masalah kesehatan ini juga dapat
menyebabkan masalah kesehatan lain yang lebih berbahaya yaitu stroke dan
penyakit jantung koroner. Hipertensi atau yang dikenal dengan tekanan darah
tinggi adalah tekanan darah sitolik yang melebihi 140 mmHg dan/atau tekanan
darah diastolik yang lebih dari 90 mmHg (Chobanian dkk, 2004). Dari tahun
ketahun didapatkan peningkatan prevalensi penderita hipertensi seiring dengan
meningkatnya usia harapan hidup, jumlah populasi obesitas dan kesadaran
masyarakat akan penyakit ini (Mohani, 2014).
Bedasarkan data dari WHO (World Health Organization) dan ISH
(International Society of Hypertension), saat ini terdapat 600 juta penderita
hipertensi di seluruh dunia, dan 3 juta di antaranya meninggal setiap tahunnya.
Tujuh dari setiap 10 penderita tersebut tidak mendapatkan pengobatan secara
adekuat. Di Indonesia masalah hipertensi cenderung meningkat. Hasil Survei
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan bahwa 8,3%
penduduk menderita hipertensi dan meningkat menjadi 27,5% pada tahun
2004 (Rahajeng dan Tuminah, 2009).
Adapun menurut Kementrian Kesehatan RI (2015) Hasil analisis data
Riskesdas tahun 2007/2008 dengan unit Analisis Rumah Tangga,
menunjukkan gambaran bahwa hanya 82,5% Rumah Tangga yang bebas
hipertensi. Hal ini berarti jika di Indonesia ada sekitar 63.031.114 Rumah
Tangga dengan 4 ART, maka terdapat 52.000.689 RT yang bebas hipertensi
dan masih terdapat 11.030.425 RT yang dibayang-bayangi penyakit hipertensi
anggota keluarganya. Bahkan diantaranya terdapat 2 orang ART yang
mengidap penyakit Hipertensi dalam RT nya. Dari hasil Riskesdas Provinsi
SumSel tahun 2013 prevalensi penderita hipertensi pada umur 18 tahun di
daerah provinsi sumatera selatan adalah sekitar 7 % dari seluruh penduduk
Indonesia.

B. Rumusan Masalah
Apakah penjelasan tentang masalah hipertensi dan bagaimana asuhan
keperawatan keluarga pada pasien dengan hipertensi ?

C. Tujuan
Keluarga mampu menjelaskan mengenai materi hipertensi dan memahami
asuhan keperawatan keluarga pada klien dengan gangguan hipertensi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian
Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang bersifat abnormal dan diukur
paling tidak pada tiga kesempatan yang berbeda. Secara umum, seseorang
dianggap mengalami hipertensi apabila tekanan darahnya lebih tinggi dari
140/90 mmHg (Ardiansyah,M. 2012).
Hipertensi atau darah tinggi adalah penyakit kelainan jantung dan
pembuluh darah yang disertai dengan peningkatan tekanan darah. Di negara
industri hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan utama, faktor-
faktor yang menyebabkan kekambuhan hipertensi antara lain stress, merokok
dan pola makan (Marliani L, 2007).
Hipertensi juga sering diartikan sebagai suatu keadaan dimana tekanan
darah sistolik lebih dari 120 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 80 mmHg
(Ardiansyah,M. 2012).

B. Etiologi
Hipertensi dapat dikelompokan dalam dua kategori:
1. Hipertensi primer
Hipertensi primer atau yang disebut juga hipertensi esensial atau
idiopatik adalah hipertensi yang tidak diketahui etiologinya/penyebabnya
(Shankie, 2001). Paling sedikit 90% dari semua penyakit hipertensi
dinamakan hipertensi primer (Saseen dan Carter, 2005).
Sebab-sebab yang mendasari hipertensi esensial masih belum
diketahui. Namun sebagian besar disebabkan oleh ketidaknormalan
tertentu pada arteri. Yakni mereka memiliki resistensi yang semakin tinggi
(kekakuan atau kekurangan elastisitas) pada arteri-arteri yang kecil yang
paling jauh dari jantung (arteri periferal atau arterioles), hal ini seringkali
berkaitan dengan faktor-faktor genetik, obesitas, kurang olahraga, asupan
garam berlebih, bertambahnya usia, dll (Gardner, 2007).

2. Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang terjadi sebagai akibat suatu
penyakit, kondisi dan kebiasaan. Karena itu umumnya hipertensi ini sudah
diketahui penyebabnya (Shankie, 2001). Terdapat 10% orang menderita apa
yang dinamakan hipertensi sekunder (Saseen dan Carter, 2005).
Umumnya penyebab Hipertensi sekunder dapat disembuhkan dengan
pengobatan kuratif, sehingga penderita dapat terhindar dari pengobatan
seumur hidup yang seringkali tidak nyaman dan membutuhkan biaya yang
mahal (Lanny Sustrani dkk. 2004).
Selain faktor-faktor diatas adapula faktor yang diduga berkaitan dengan
berkembangnya hipertensi esensial diantaranya ( Ardiansyah,M. 2012) :
1. Genetik
2. Jenis kelamin
3. Diet tinggi garam atau kandungan lemak
4. Berat badan atau obesitas
5. Gaya hidup mengkonsumsi alkohol dan merokok

C. Klasifikasi
Klasifikasi hipertensi menurut WHO :
Tabel Klasifikasi hipertensi pada usia dewasa
Sumber : Sustrani, et al (2004)
Kategori Sistolik Diastolik
Normal 120-130 80-85
Normal Tinggi 130-135 85-90
Hipertensi Stadium I 140-159 90-99
Hipertensi Stadium II 160-179 100-109
Hipertensi Stadium III >180 >110

Klasifikasi tekanan darah tinggi sebagai berikut :


1. Tekanan darah normal, yakni jika sistolik kurang atau sama dengan 140
dan diastolik kurang atau sama dengan 90 mmHg.
2. Tekanan darah perbatasan, yakin sistolik 141-149 dan diastolik 91- 94
mmHg. Tekanan darah tinggi atau hipertensi, yakni jika sistolik lebih
besar atau sama dengan 160 mmHg dan diastolik lebih besar atau sama
dengan 95 mmHg.

D. Patofisiologis
Mekanisme yang mengontrol kontriksi dan relaksasi pembuluh darah
terletak di pusat vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat vasomotor ini
bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah korda spinalis dan
keluar dari kolumna medulla spinalis ganlia simpatis di toraks dan abdomen.
Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak
ke bawah melalui sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini,
neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut
saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya
norepinephrin mengakibatkan kontriksi pembuluh darah. Berbagai factor
seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah
terhadap rangsang vasokontriksi.
Individu dengan hipertensi sangat meskipun tidak diketahui dengan jelas
mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pada saat bersamaan dimana system saraf
simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar
adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokontriksi.
Medulla adrenal mensekresi epinephrine, yang menyebabkan
vasokontriksi.Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang
dapat memperkuat respon vasokontriktor pembuluh darah.Vasokontriksi yang
mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan
rennin.Rennin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian di ubah
menjadi angiotensin II, suatu vasokontriktor kuat, yang pada gilirannya
merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal.Hormon ini menyebabkan
rtensi Natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume
intra vascular.Semua factor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.
Untuk pertimbangan gerontology, perubahan sruktural dan fungsional
pada sistem pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan
darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis,
hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos
pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan
daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar
berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang
dipompa oleh jantung (Volume sekuncup), mengakibatkan penurunan curah
jantung dan peningkatan tahanan perifer (Brunner & Suddarth, 2002).

E. Tanda dan Gejala


Biasanya tanpa ada gejala atau tanda-tanda yang spesifik. Pada kasus
hipertensi berat, gejala yang mungkin dialami klien antara lain adalah (
Riyadi,S. 2011) :
1. Sakit kepala
2. Mudah marah
3. Telinga berdengung
4. Mata terasa berat atau pandangan kabur
5. Mudah lelah
6. Susah tidur
7. Terasa sakit di tengkuk
8. Tekanan darah lebih dari normal
9. Leher terasa pegal
10. Terkadang disertai mual dan muntah

F. Komplikasi
Organ-organ tubuh sering terserang akibat hipertensi antara lain masa
berupa pendarahan vetria, bahkan gangguan pada penglihatan sampai
kebutahan, gagal jantung, pecahnya darah otak. (Arif Mansjoer, 2001).

G. Penatalaksanaan
Deteksi dan tujuan penatalaksanaan hipertensi adalah menurunkan risiko
penyakit kardiovaskular dan mortalitas serta morbiditas yang berkaitan.
Tujuan terapi adalah mencapai dan mempertahankan tekanan sistolik di bawah
140 mmHg dan tekanan diastolic di bawah 90 mmHg dan mengontrol faktor
risiko. Hal ini dapat di capai melalui modifikasi gaya hidup saja atau dengan
obat antihipertensi.
1. Terapi tanpa Obat
a. Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :
1) Penurunan konsumsi garam dari 10 gr/hari menjadi 5 gr/hari
2) Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh
3) Mengkonsumsi timun dan seledri
4) Penurunan berat badan
5) Penurunan asupan etanol
b. Latihan fisik atau olahraga yang teratur dan terarah.
1) Olahraga yang dianjurkan seperti lari, jogging, bersepeda, berenang,
dan lain-lain.
2) Lamanya latihan berkisar antara 20-25 menit berada dalam zona
latihan.
3) Intensitas olahraga yang baik antara 60-80% dari kapasitas aerobic
atau 72-80% dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan.
4) Frekuensi latihan sebaiknya 3 kali/minggu dan lebih baik lagi 5
kali/minggu.
c. Menghentikan merokok
d. Diet tinggi kalium
e. Pendidikan kesehatan (penyuluhan)
Tujuan pendidikan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien
tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat
mempertahankan hidupnya dan mencegah komplkasi lebih lanjut.
2. Terapi dengan Obat
Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah
saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar
penderita dapat bertambah kuat. Pilihan obat untuk penderita hipertensi
adalah sebagai berikut :
a. Hipertensi tanpa komplikasi : diuretic, beta blocker.
b. Hipertensi dengan indikasi penyakit tertentu : inhibitor ACE, penghambat
reseptor angiotensin II, alfa blocker, alfa-beta-blocker, beta blocker,
antagonis Ca dan diuretic
c. Indikasi yang sesuai Diabetes Mellitus tipe I dengan proteinuria diberikan
inhibitor ACE.
d. Pada penderita dengan gagal jantung diberikan inhibitor ACE dan
diuretic.
e. Hipertensi sistolik terisolasi : diuretic, antagonis Ca dihidropiridin kerja
sama.
f. Penderita dengan infark miokard : beta blocker (non ISA), inhibitor ACE
(dengan disfungsi sistolik).
Interaksi dan komunikasi yang baik antara pasien dan petugas
kesehatan (perawat, dokter) dengan cara pemberian pendidikan kesehatan.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam interaksi pasien dengan petugas
kesehatan adalah sebagai berikut :

H. Pemeriksaan Penunjang
Dalam melakukan pemeriksaan penunjang untuk menegakan diagnosa
hipertensi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut (Guyton A.C., Hall
J.E. 2008) :
1. Hemoglobin / hematokrit : mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap
volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor-faktor resiko
seperti hipokoagulabilitas, anemia.
2. BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi/fungsi ginjal.
3. Glukosa : Hiperglikemia (diabetes melitus adalah pencetus hipertensi)
dapat diakibatkan oleh peningkatan kadar katekolamin (meningkatkan
hipertensi).
4. Kalium serum : hipokalemia dapat mengindikasikan adanya aldosteron
utama (penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik.
5. Kalsium serum : peningkatan kadar kalsium serum dapat meningkatkan
hipertensi.
6. Kolesterol dan trigeliserida serum : peningkatan kadar dapat
mengindikasikan
7. pencetus untuk/adanya pembentukan plak ateromatosa (efek
kardiovaskuler).
8. Steroid urin : kenaikan dapat mengindikasikan hiperadrenalisme,
feokromositoma atau disfungsi ptuitari, sindrom Cushings; kadar renin
dapat juga meningkat.
9. IVP : dapat mengidentifikasi penyebab hipertensi, seperti penyakit
parenkim ginjal, batu ginjal dan ureter.
10. Foto dada : dapat menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub;
deposit pada dan/ EKG atau takik aorta; pembesaran jantung.
11. CT scan : mengkaji tumor serebral, CSV, ensevalopati, atau
feokromositoma.
12. EKG: dapat menunjukkan perbesaran jantung, pola regangan, gangguan
konduksi.
Catatan : Luas, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini
penyakit jantung hipertensi.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu masalah kesehatan yang kita hadapi sekarang ini adalah
penyakit saluran pencernaan seperti gastitis. Masyarakat pada umumnya
mengenal gastritis dengan sebutan penyakit maag yaitu penyakit yang menurut
mereka bukan suatu masalah yang besar, misalnya jika merasakan nyeri perut
maka mereka akan langsung mengatasinya dengan makan nasi, kemudian
nyerinya hilang. Penyakit gastritis ini bila tidak di atasi dengan cepat maka
dapat menimbulkan perdarahan (hemorha gastritis) sehingga banyak darah
yang keluar dan berkumpuldi lambung, selain itu juga dapat menimbulkan
tukak lambung, kanker lambung sehingga dapat menyebabkan kematian
(Harison, 2000:1550, dalam, Hastuti:2007).
Permasalahan dalam sistem pencernaan tidak boleh diabaikan. Masalah
pencernaan yang paling umum terutama maag adalah penyakit meningkatknya
asam lambung atau gastro-esophageal reflux, sebagian besar dikenal sebagai
penyakit maag. Gangguan ini harus diberi perlakuan khusus karena dapat
menimbulkan masalah yang lebih serius yang dapat mempengaruhi sistem
pernapasan. Pola makan adalah berbagai informasi yang memberikan
gambaran dan jumlah bahan makanan yang dimakan tiap hari guna untuk
mendapatkan kebutuhan zat gizi yang cukup untuk kelangsungan hidup,
pemulihan setelah sakit, beraktivitas, pertumbuhan dan perkembangan.
Apabila pola makan tidak sehat akan terjadi gangguan pola makan seperti
timbulnya gastritis.).
Penyakit gastritis terjadi karena dua hal, yaitu gangguan fungsional dari
lambung yang tidak baik dan terdapat gangguan struktur anatomi. Gangguan
fungsional berhubungan dengan adanya gerakan dari lambung yang berkaitan
dengan sistem saraf di lambung atau hal-hal yang bersifat psikologis.
Gangguan suktur anatomi bisa berupa luka erosi atau juga tumor. Faktor
kejiwaan atau stres juga terhadap timbulnya serangan ulang penyakit gastritis
(Sukarmin, 2011).
Badan penelitian kesehatan dunia WHO mengadakan tinjauan terhadap
beberapa negara dunia dan mendapatkan hasil persentase dari angka kejadian
gastritis di dunia, diantaranya Inggris 22%, China 31%, Jepang 14,5%,
Kanada 35%, dan Perancis 29,5%. Di dunia, insiden gastritis sekitar 1,8-2,1
juta dari jumlah penduduk setiap tahun. Insiden terjadinya gastritis di Asia
Tenggara sekitar 583.635 dari jumlah penduduk setiap tahunnya. Prevalensi
gastritis yang dikonfirmasi melalui endoskopi pada populasi di Shanghai
sekitar 17,2% yang secara substantial lebih tinggi daripada populasi di barat
yang berkisar 4,1% dan bersifat asimptomatik. Gastritis biasanya dianggap
sebagai suatu hal yang remeh namun gastritis merupakan awal dari sebuah
penyakit yang dapat menyusahkan kita. Persentase dari angka kejadian
gastritis di Indonesia menurut WHO adalah 40,8%. Angka kejadian gastritis
pada beberapa daerah di Indonesia cukup tinggi dengan prevalensi 274,396
kasus dari 238,452,952 jiwa penduduk ( Kurnia, Rahmi:2011).
Indonesia sudah pernah di lakukan penelitian kuman Helicobacter Pylori
tetapi belum dalam skala besar pada pasien gastritis yang dapat menimbulkan
ulkus lambung namun dari pemeriksaan yang dilakukan pada pasien gastritis
sekitar 60-70% ditemukan kuman (Harison, 2000:1551, dalam Hastuti:2007).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Padang, pada tahun 2011
penyakit Gastritis menduduki peringkat kedua dari 10 penyakit terbanyak,
kasus Gastritis yaitu sebesar 21.606 kasus (DKK Padang, 2011).

B. Rumusan Masalah
Apakah penjelasan tentang masalah hipertensi dan bagaimana asuhan
keperawatan keluarga pada pasien dengan gastritis?

C. Tujuan
Keluarga mampu menjelaskan mengenai materi gastritis dan memahami
asuhan keperawatan keluarga pada klien dengan gangguan gastritis
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian
Menurut Hirlan dalam Suyono (2006), gastritis adalah proses inflamasi
pada lapisan mukosa dan submukosa lambung, yang berkembang bila
mekanisme protektif mukosa dipenuhi dengan bakteri atau bahan iritan lain.
Gastritis merupakan inflamasi dari mukosa lambung klinis berdasarkan
pemeriksaan endoskopi ditemukan eritema mukosa, kerapuhan bila trauma
yang ringan saja sudah terjadi perdarahan (Hadi, 2002).
Jadi, Gastritis adalah peradangan pada dinding lambung terutama pada
mukosa lambung.

B. Penyebab
Penyebab yang dapat menimbulkan terjadinya gastritis adalah :

a. Makan tidak teratur atau terlambat makan. Biasanya menunggu lapar dulu,
baru makan dan saat makan langsung makan terlalu banyak (Puspadewi,
2009).
b. Bisa juga disebabkan oleh bakteri bernama Helicobacter pylori. Bakteri
tersebut hidup di bawah lapisan selaput lendir dinding bagian dalam
lamung. Fungsi lapisan lendir sendiri adalah untuk melinudngi kerusakan
dinding lambung akibat produksi asam lambung. Infeksi yangt diakibatkan
bakteri Helicobacter menyebabkan peradangan pada dinding lambung
yang disebut gastritis (Aziz, 2011).
c. Merokok akan merusak lapisan pelindung lambung. Oleh karena itu, orang
yang merokok lebih sensitive terhadap gastritis maupun ulser. Merokok
juga akan meningkatkan asam lambung, melambatkan kesembuhan dan
meningkatkan resiko kanker lambung (Yuliarti, 2009).
d. Stress. Hal ini dimungkinkan karena karena system persarafan di otak
berhubungan dengan lambung, sehingga jika seseorang mengalami stress,
bisa muncul kelainan dalam lambungnya. Stress bisa menyebabkan terjadi
perubahan hormonal di dalam tubuh. Perubahan itu akan merangsang sel-
sel dalam lambung yang kemudian memproduksi asam secara berlebihan.
Asam yang berlebihan ini membuat lambung terasa nyeri, perih dan
kembung. Lama-kelamaan hali ini dapat menimbulkan luka di dinding
lambung (Sari, 2008).
e. Efek samping obat-obatan tertentu. Konsumsi obat penghilangan rasa
nyeri, seperti obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) misalnya aspirin,
ibuproven (Advil, Motrin dll), juga naproxen (aleve), yang terlalu sering
dapat menyebabkan penyakit gastritis, baik itu gastritis akut maupun
kronis (Aziz, 2011).
f. Mengkonsumsi makanan terlalu pedas dan asam. Minum minuman yang
mengandung alkohol dan cafein seperti kopi. Hal itu dapat meningkatkan
produksi asam lambung berlebihan hingga akhirnya terjadi iritasi dan
menurunkan kemampuan fungsi dinding lambung (Suratum, 2010).
g. Alkohol, mengkonsumsi olkohol dapat mengiritasi (merangsang) dan
mengikis permukaan lambung (Suratum, 2010).
h. Terapi radiasi, refluk empedu, zat-zat korosif (cuka, lada) menyebabkan
kerusakan mukosa gaster dan menimbulkan edema dan pendarahan.
i. Kondisi yang stressful (trauma, luka bakar, kemoterapi dan kerusakan
susunan syaraf pusat) merangsang peningkatan produksi HCl lambung.

C. Tanda dan Gejala Gastritis


1. Tanda dan gejala Gastritis Akut
Gejala yang paling sering dijumpai pada penderita penyakit gastritis
adalah keluhan nyeri, mulas, rasa tidak nyaman pada perut, mual, muntah,
kembung, sering platus, cepat kenyang, rasa penuh di dalam perut, rasa
panas seperti terbakar dan sering sendawa ( Puspadewi, 2012).
2. Tanda dan Gejala Gastritis Kronis
a) Gastritis sel plasma
b) Nyeri yang menetap pada daerah epigastrium
c) Mausea sampai muntah empedu
d) Dyspepsia
e) Anorreksia
f) Berat badan menurun
g) Keluhan yang berhubungan dengan anemia

D. Patofisiologi Gastritis
Obat-obatan, alkohol, garam empedu, zat iritan lainnya dapat merusak
mukosa lambung (gastritis erosif). Mukosa lambung berperan penting dalam
melindungi lambung dari autodigesti oleh HCl dan pepsin. Bila mukosa
lambung rusak maka terjadi difusi HCl ke mukosa dan HCl akan merusak
mukosa. Kehadiran HCl di mukosa lambung menstimulasi perubahan
pepsinogen menjadi pepsin. Pepsin merangsang pelepasan histamine dari sel
mast. Histamine akan menyebabkan peningkatan pemeabilitas kapiler
sehingga terjadi perpindahan cairan dari intra sel ke ekstrasel dan meyebabkan
edema dan kerusakan kapiler sehingga timbul perdarahan pada lambung.
Lambung dapat melakukan regenerasi mukosa oleh karena itu gangguan
tersebut menghilang dengan sendirinya.
Bila lambung sering terpapar dengan zat iritan maka inflamasi akan
terjadi terus menerus. Jaringan yang meradang akan diisi oleh jaringan fibrin
sehingga lapisan mukosa lambung dapat hilang dan terjadi atropi sel mukasa
lambung. Faktor intrinsik yang dihasilkan oleh sel mukosa lambung akan
menurun atau hilang sehingga cobalamin (vitamin B12) tidak dapat diserap
diusus halus. Sementara vitamin B12 ini berperan penting dalam pertumbuhan
dan maturasi sel darah merah. Selain itu dinding lambung menipis rentan
terhadap perforasi lambung dan perdarahan (Suratum, 2010).

E. Komplikasi dari gastritis:


1. Pendarahan saluran cerna
2. Tukak lambung
3. Penurunan berat badan drastic akibat nafsu makan tidak ada dan mual
muntah
Kanker lambung

F. Pencegahan dan Penanganan Gastritis


Penyembuhan penyakit gastiritis harus dilakukan dengan memperhatikan
diet makanan yang sesuai. Diet pada penyakit gastritis bertujuan untuk
memberikan makanan dengan jumlah gizi yang cukup, tidak merangsang, dan
dapat mengurangi laju pengeluaran getah lambung, serta menetralkan
kelebihan asam lambung. Secara umum ada pedoman yang harus diperhatikan
yaitu :
1. Makan secara teratur. Aturlah tiga kali makan makanan lengkap dan tiga
kali makan makanan ringan.
2. Makan dengan tenang jangan terburu-buru. Kunyah makanan hingga
hancur menjadi butiran lembut untuk meringankan kerja lambung.
3. Makan secukupnya, jangan biarkan perut kosong tetapi jangan makan
berlebihan sehingga perut terasa sangat kenyang.
4. Pilihlah makanan yang lunak atau lembek yang dimasak dengan cara
direbus, disemur atau ditim. Sebaiknya hindari makanan yang digoreng
karena biasanya menjadi keras dan sulit untuk dicerna.
5. Jangan makan makanan yang terlalu panas atau terlalu dingin karena akan
menimbulkan rangsangan termis. Pilih makanan yang hangat (sesuai
temperatur tubuh).
6. Hindari makanan yang pedas atau asam, jangan menggunakan bumbu
yang merangsang misalnya cabe, merica dan cuka.
7. Jangan minum minuman beralkohol atau minuman keras, kopi atau teh
kental.
8. Hindari rokok
9. Hindari konsumsi obat yang dapat menimbulkan iritasi lambung, misalnya
aspirin, vitamin C dan sebagaianya.
10. Hindari makanan yang berlemak tinggi yang menghambat pengosongan isi
lambung (coklat, keju dan lain-lain).
11. Kelola stres psikologi seefisien mungki (Misnadiarly, 2009).
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Asam urat, pasti tidak asing lagi dengan penyakit ini. Selama ini penyakit
asam urat lebih dikenal sebagai penyakit yang sering menyerang kebanyakan
orang yang sudah lanjut usia atau 40 tahun ke atas yang sering terlihat
menderota penyakit ini namun dengan gaya hidup serba instant dan modern
seperti sekarang gejala asam urat seringkali ditemukan pada orang yang lebih
muda.
Asam urat sendiri membuat penderitanya merasakan nyeri yang amat
dalam pada persendian dan ini sangat mengganggu dalam menjalankan
aktivitas kita sehari-hari. Asam urat, pasti tidak asing lagi dengan penyakit ini.
Di masyarakat kini beredar mitos bahwa ngilu sendi berarti asam urat.
Pengertian ini perlu diluruskan karena tidak semua keluhan dari nyeri sendi
disebabkan oleh asam urat. Pengertian yang salah ini diperparah oleh iklan
jamu/obat tradisional.
Asam urat adalah kristal-kristal yang terbentuk sebagai hasil metabolisme
zat purin (bentuk turunan dari nukleoprotein). Purin merupakan salah satu
komponen asam nukleat yang terdapat pada inti sel semua makhluk hidup.
Purin terdapat dalam tubuh kita, terdapat juga pada makanan yang berasal dari
hewan dan tumbuhan (daging, jeroan, sayur, buah, kacang, dsb.). Selain itu,
purin juga bisa dihasilkan dari perusakan sel-sel tubuh yang terjadi baik secara
normal ataupun karena penyakit tertentu.
Saat kita mengkonsumsi makanan yang berasal dari tubuh makhluk hidup,
zat purin yang terkandung di dalamnya ikut berpindah ke dalam tubuh kita.
Makanan yang masuk akan diolah oleh tubuh, melalui proses metabolisme dan
menghasilkan asam urat. Jadi setiap orang punya kadar asam urat dalam
tubuh. Penyakit asam urat terjadi jika kadar asam urat berlebihan (karena
purin yang masuk terlalu banyak). Tubuh manusia sudah menyediakan 85%
senyawa purin untuk kebutuhan sehari-hari, yang berarti kebutuhan purin dari
makanan hanya sekitar 15%.
Dalam kondisi normal, asam urat yang dihasilkan akan dikeluarkan oleh
tubuh dalam bentuk urine dan feses (tinja/kotoran). Proses pembuangan ini
diatur oleh ginjal, yang berfungsi mengatur kestabilan kadar asam urat dalam
tubuh. Namun jika kadar asam urat berlebihan, ginjal akan kewalahan dan
tidak sanggup mengaturnya sehingga kelebihan kristal asam urat tersebut akan
menumpuk pada sendi dan jaringan. Ini sebabnya persendian kita terasa nyeri
dan bengkak.

B. Rumusan Masalah
Apakah penjelasan tentang masalah asam urat dan bagaimana asuhan
keperawatan keluarga pada pasien dengan asam urat
C. Tujuan
Keluarga mampu menjelaskan mengenai materi asam urat dan
memahami asuhan keperawatan keluarga pada klien dengan asam urat
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian
Asam urat adalah produk akhir atau produk buangan yang dihasilkan dari
metabolisme/pemecahan purin. Asam urat sebenarnya merupakan antioksidan
dari manusia dan hewan, tetapi bila dalam jumlah berlebihan dalam darah
akan mengalami pengkristalan dan dapat menimbulkan gout. Asam urat
mempunyai peran sebagai antioksidan bila kadarnya tidak berlebihan dalam
darah, namun bila kadarnya berlebih asam urat akan berperan sebagai
prooksidan (McCrudden Francis H. 2000). Kadar asam urat dapat diketahui
melalui hasil pemeriksaan darah dan urin. Nilai rujukan kadar darah asam urat
normal pada laki-laki yaitu 3.6 - 8.2 mg/dl sedangkan pada perempuan yaitu
2.3 - 6.1 mg/dl (E. Spicher, Jack Smith W. 1994).
Asam urat adalah penyakit yang disebabkan oleh tingginya kadar asam
urat dalam darah (akibat gangguan metabolisme dari makanan yang
mengandung protein purin).

B. Klasifikasi Asam Urat


1. Penyakit gout primer penyebabnya belum diketahui. Diduga berkaitan
dengan kombinasi faktor genetic dan factor hormonal yang menyebabkan
gangguan metabolisme yang dapat mengakibatkan meningkatnya produksi
asam urat atau bisa juga di akibatkan karena berkurangnya pengeluaran
asam uart daam tubuh.
2. Penyakit gout sekunder disebabkan antara lain karena meningkatnya
produksi asam urat karena nutrisi, yaitu mengonsumsi makanan dengan
kadar purin yang tinggi.

C. Penyebab Asam Urat


1. Faktor keturunan dengan adanya riwayat gout dalam silsilah keluarga
2. Meningkatnya kadar asam urat karena diet tinggi protein dan makanan
kaya senyawa purin lainnya. Purin adalah senyawa yang akan dirombak
menjadi asam urat dalam tubuh
3. Konsumsi alkohol berlebih, karena alkohol merupakan salah satu sumber
purin yang juga dapat menghambat pembuangan urin melalui ginjal
4. Ekskresi asam urat berkurang karena fungsi ginjal terganggu misalnya
kegagalan fungsi glomerulus atau adanya obstruksi sehingga kadar asam
urat dalam darah meningkat. Kondisi ini disebut hiperurikemia, dan dapat
membentuk kristal asam urat / batu ginjal yang akan membentuk sumbatan
pada ureter (Mandell Brian F. 2008). Pasien disarankan meminum cairan
dalam jumlah banyak . minum air sebanyak 2 liter atau lebih tiap harinya
membantu pembuangan urat, dan meminimalkan pengendapan urat dalam
saluran kemih.
5. Beberapa macam obat seperti obat pelancar kencing (diuretika golongan
tiazid), asetosal dosis rendah, fenilbutazon dan pirazinamid dapat
meningkatkan ekskresi cairan tubuh, namun menurunkan eksresi
6. Penggunaan antibiotika berlebihan yang menyebabkan berkembangnya
jamur, bakteri dan virus yang lebih ganas.
7. Penyakit tertentu seperti gout, Lesch-Nyhan syndrome, endogenous
nucleic acid metabolism, kanker, kadar abnormal eritrosit dalam darah
karena destruksi sel darah merah, polisitemia, anemia pernisiosa,
leukemia, gangguan genetik metabolisme purin, gangguan metabolik asam
urat bawaan (peningkatan sintesis asam urat endogen), alkoholisme yang
meningkatkan laktikasidemia, hipertrigliseridemia, gangguan pada fungsi
ginjal dan obesitas, asidosis ketotik, asidosislaktat, ketoasidosis,
laktosidosis, dan psoriasis (Murray RobertK, dkk.2006).
8. Faktor lain seperti stress, diet ketat, cidera sendi, darah tinggi dan olahraga
berlebihan (VitaHealth, 2007).

D. Tanda dan Gejala Asam Urat


1. Sendi terasa nyeri, ngilu, linu, kesemutan dan bahkan membengkak dan
berwarna kemerahan (meradang)
2. Biasanya persendian terasa nyeri saat pagi hari (baru bangun tidur) atau
malam hari
3. Rasa nyeri pada sendi terjadi berulang-ulang
4. Yang diserang biasanya sendi jari kaki, jari tangan, dengkul, tumit,
pergelangan tangan dan siku
5. Pada kasus yang parah, persendian terasa sangat sakit saat bergerak

E. Patofisiologi Asam Urat


Peningkatan kadar asam urat yang melebihi batas normal (pria < 7 mg dan
wanita < 6 mg) dalam serum menyebabkan penumpukan kristal monosodium
urat sehingga kristal asam urat mengendap dalam sendi, akhirnya terjadi
respons inflamasi dan diteruskan dengan terjadinya serangan gout. Serangan
yang berulang-ulang, penumpukan kristal monosodium urat (thopi) akan
mengendap dibagian sendi sendi yang dingin seperti ibu jari kaki, pangkat jari
kaki, pergelangan kakai, lutut, tangan, siku, bahu telinga dan lain lain
(Nyoman, K. 2009. Asam Urat. Yogyakarta: B First.). Akibat penumpukan
asam urat yang terjadi secara sekunder dapat menimbulkan nefrolitiasis urat
(batu ginjal) dengan disertai penyakit ginjal kronis.

F. Komplikasi Asam Urat


Menurut Vitahealth tahun 2005 dalam Kertia tahun 2009, komplikasi
yang dapat terjadi akibat peningkatan asam urat dalam darah adalah:
1. Kencing batu
Kadar asam urat yang tinggi di dalam darah akan mengendap di ginjal
dan saluran perkencingan, berupa kristal dan batu.
2. Merusak ginjal
Kadar asam urat yang tinggi akan mengendap di ginjal sehingga
merusak ginjal.
3. Penyakit jantung
Asam urat menyerang endotel lapisan bagian paling dalam pembuluh
darah besar. Jika endotel mengalami disfungsi atau rusak, akan
menyebabkan penyakit jantung koroner.
4. Stroke
Aliran darah tidak lancar akibat penumpukan asam urat di pembuluh
darah yang meningkatkan resiko penyakit stroke.
5. Merusak saraf
Jika penumpukan asam urat terjadi didekat saraf maka bisa
mengganggu fungsi saraf.
6. Peradangan tulang
Jika asam urat menumpuk di persendian, lama-lama akan membentuk
tofus yang menyebabkan artrhitis gout akut, sakit rematik atau peradangan
sendi bahkan bisa sampai terjadi kepincangan.

G. Cara Penanggulangan
Penyakit asam urat disebabkan oleh menumpuknya kristal asam urat
yang dihasilkan dari metabolisme zat purin. Oleh karena itu, untuk
mengurangi kadar asam urat, Anda harus mengurangi konsumsi makanan
yang banyak mengandung zat purin. Berikut adalah contoh makanan yang
menjadi pantangan bagi penderita penyakit asam urat:
1. Jeroan: ginjal, limpa, babat, usus, hati, paru dan otak
2. Seafood: udang, cumi-cumi, sotong, kerang, remis, tiram, kepiting, ikan
teri, ikan sarden
3. Ekstrak daging seperti abon dan dendeng
4. Makanan yang sudah dikalengkan (contoh: kornet sapi, sarden)
5. Daging kambing, daging sapi, daging kuda
6. Bebek, angsa dan kalkun
7. Kacang-kacangan: kacang kedelai (termasuk hasil olahan seperti tempe,
tauco, oncom, susu kedelai), kacang tanah, kacang hijau, tauge, melinjo,
emping
8. Sayuran: kembang kol, bayam, asparagus, buncis, jamur kuping, daun
singkong, daun pepaya, kangkung
9. Keju, telur, krim, es krim, kaldu atau kuah daging yang kental
10. Buah-buahan tertentu seperti durian, nanas dan air kelapa
11. Makanan yang digoreng atau bersantan atau dimasak dengan
menggunakan margarin/mentega
12. Makanan kaya protein dan lemak
Selain pantangan makanan di atas:
a) Penderita asam urat juga harus banyak minum air putih (terutama bagi
mereka yang mempunyai batu ginjal). Air putih akan membantu
mengeluarkan kristal asam urat dari dalam tubuh melalui urine.
b) Kurangi konsumsi alkohol karena alkohol akan meningkatkan kadar
asam laktat, yang menyebabkan pembuangan asam urat lewat urine
berkurang. Akibatnya, asam urat tertahan dalam peredaran darah dan
menumpuk di persendian. Hindari juga minuman fermentasi seperti
bir, wiski, anggur, tape dan tuak karena mengandung senyawa alkohol.
Tips tambahan bagi penderita asam urat:
(1) Konsumsi makanan yang mengandung potasium tinggi seperti
kentang, yogurt, dan pisang
(2) Konsumsi buah yang banyak mengandung vitamin C, seperti jeruk,
pepaya dan strawberry
(3) Contoh buah dan sayuran untuk mengobati penyakit asam urat: buah
naga, belimbing wuluh, jahe, labu kuning, sawi hijau, sawi putih, serai
dan tomat
(4) Perbanyak konsumsi karbohidrat kompleks seperti nasi, singkong, roti
dan ubi
(5) Kurangi konsumsi karbohidrat sederhana jenis fruktosa seperti gula,
permen, arum manis, gulali dan sirup
(6) Jangan minum aspirin
(7) Jangan bekerja terlalu keras / kelelahan
(8) Pada orang yang kegemukan (obesitas), biasanya kadar asam urat
cepat naik tapi pengeluaran sedikit, maka sebaiknya turunkan berat
badan dengan olahraga yang cukup