Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Seni bela diri sepertinya memang dimiliki oleh setiap negara. Kebutuhan dalam melindungi diri
dari berbagai gangguan yang membahayakan merupakan salah satu dari sekian banyaknya alasan
mengapa seseorang ingin belajar bela diri. Bela diri ibarat sebuah senjata yang dimiliki secara
pribadi. Senjata itu bisa digunakan di manapun dan kapan pun saat dibutuhkan. Bela diri juga
merupakan senjata paling efisien, tanpa harus kerepotan membawa benda-benda tajam misalnya,
kita akan siap melawan ancaman-ancaman berbagai kejahatan.

Benua Asia sepertinya mempunyai variasi bela diri lebih banyak dibandingkan dengan benua
lainnya. Taekwondo merupakan salah satu ilmu bela diri nasional masyarakat Korea, dan yang
paling banyak di pelajari dan digunakan oleh masyarakat dunia. Tae artinya melumpuhkan lawan
dengan menggunakan kaki atau tendangan. Kwon artinya gerakan menyerang lawan dengan
tangan, meninju, menangkis dan memukul. Do artinya seni atau metode yang berjalan. Sehingga
secara harfiah Taekwondo merupakan ilmu mempelajari serangan dengan menggunakan kaki
dan tangan untuk menendang, menangkis dan memukul lawan.

Filosofi Taekwondo perlu sekali dipahami, sehingga seseorang minimalnya mampu


mempraktekkan semua aktifitas Taekwondo dengan mempertimbangkan nilai-nilai yang
terkandung didalamnya. Maka dalam kajiannya Taekwondo bisa dilihat ke dalam tiga dimensi
yaitu; ontologi yang membicarakan tentang keberadaan Taekwondo, epistimologi membicarakan
tentang sumber-sumber, sarana dan prasarana dalam melakukan aktifitas Taekwondo, dan
aksiologi membicarakan tentang bagaimana aplikasi dari Taekwondo terhadap kehidupan nyata
yang membutuhkan nilai-nilai yang sesuai norma dan moral.
BAB II

PEMBAHASAN

1. Asal Mula Taekwondo

Pada dasarnya manusia mempunyai insting untuk selalu melindungi diri dan hidupnya, hal ini
secara disengaja maupun tidak akan memacu aktivitas fisiknya sepanjang waktu. Manusia dalam
tumbuh dan berkembang tidak dapat lepas dari kegiatan / gerakan fisiknya , tanpa menghiraukan
waktu dan tempat. Pada masa kuno manusia tidak punya pikiran lain untuk mempertahankan
dirinya kecuali dengan tangan kosong, hal ini secara alamiah mengembangkan teknik - teknik
bertarung dengan tangan kosong. Pada saat kemampuan bertarung secara tangan kosong
dikembangkan sebagai suatu cara untuk menyerang dan bertahan, digunakan pula untuk
membangun kekuatan fisik seseorang, bahkan dijadikan pertunjukan dalam acara ritual.

Manusia mempelajari teknik - teknik bertarung didapat dari pengalaman nya melawan musuh -
musuhnya. Inilah yang diyakini menjadi dasar seni beladiri Taekwondo yang kita kenal
sekarang, dimana pada masa lampau dikenal sebagai 'Subak" , "Taekkyon", " Takkyon" ,
maupun beberapa nama lainnya. Pada asal mula sejarah Semenanjung Korea, ada 3 suku bangsa /
kerajaan yang mempertunjukan kontes seni beladiri pada acara ritualnya. Ketiga kerajaan ini
saling bersaing satu sama lain, ketiganya adalah Koguryo, Paekje dan Silla, semuanya melatih
para ksatria untuk dijadikan salah satu kekuatan negara, bahkan para ksatria yang tergabung
dalam militer saat itu, menjadi warga negara yang mempunyai kedudukan yang sangat
terpandang.

Menurut catatan , kelompok ksatria muda yang terorganisir seperti " Hwarangdo" di Silla dan
"Chouisonin " di Koguryo, semuanya menjadikan latihan seni beladiri sebagai salah satu subyek
penting yang harus dipelajari. Sebuah buku tentang seni beladiri yang disebut " Muye Dobo
Tongji " menyebutkan : " ( Taekwondo) Seni pertarungan tangan kosong adalah dasar dari seni
beladiri, yang membangun kekuatan dengan melatih tangan dan kaki hingga menyatu dengan
tubuh agar dapat bergerak bebas leluasa, sehingga dapat digunakan saat menghadapi situasi yang
kritis, berarti (Taekwondo) dapat digunakan setiap saat ".

Pada Dinasti Koryo ( 918 sampai 1392 Masehi ) yang mana penyatuan Semenanjung Korea
setelah Shilla, Taekkyon berkembang sangat sistematis dan merupakan mata ujian penting untuk
seleksi ketentaraan. Teknik Taekkyon tumbuh menjadi senjata yang efektif untuk membunuh.
Pada permulaan Dinasti Koryo, kemampuan beladiri menjadi kualifikasi untuk merekrut
personel ketentaraan sebab kerajaan membutuhkan kemampuan pertahanan yang kuat setelah
penaklukan seluruh semenanjung Korea. Kemampuan dalam beladiri Taekkyon sangat
menentukan pangkat seseorang dalam ketentaraan. Raja - raja pada dinasti Koryo sangat tertarik
pada kontes Taekkyon yang disebut "Subakhui", yang populer juga dimasyarakat dan dijadikan
ajang perekrutan tentara. Namun pada akhir pemerintahan Dinasti Koryo ketika penggunaan
senjata api mulai dikenal , membuat dukungan terhadap kemajuan beladiri berkurang jauh.

Pada masa modern Korea , saat Dinasti Chosun ( Yi ) pada tahun 1392 sampai 1910, Kerajaan
Korea dan Jaman penjajahan Jepang sampai tahun 1945, Subakhui dan Taekkyon, sebutan
Taekwondo pada saat itu mengalami kemunduran dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah
yang memodernisasi tentaranya dengan senjata api. Dinasti Yi yang didirikan dalam ideologi
Konfusius, lebih mementingkan kegiatan kebudayaan daripada seni beladiri. Kemudian, saat raja
Jungjo setelah invasi oleh Jepang pada tahun 1952, pemerintah kerajaan membangun kembali
pertahanan yang kuat dengan memperkuat latihan ketentaraan dan praktek seni beladiri. Seputar
periode ini, terbit sebuah buku tentang ilustrasi seni bela diri yang diber judul Muyedobo - Tonji,
yang memuat gambar - gambar dan ilustrasi yang mirip / menyerupai bentuk / sikap ( Poomse )
dan Gerakan Dasar ( Basic Movement ) Taekwondo sekarang, namun tentunya hal ini tak dapat
diperbandingkan begitu saja dengan Taekwondo saat ini yang telah dimodernisasi dengan
penelitian yang berdasarkan ilmu pengetahuan modern ( Scientific Studies). Akan tetapi , saat
penjajahan Jepang semua kesenian rakyat dilarang termasuk Taekkyon, untuk menekan rakyat
Korea. Seni beladiri Taekkyon hanya diajarkan secara sembunyi oleh para master beladiri
sampai masa kemerdekaan pada tahun 1945.

Seiring dengan kemerdekaan Korea dari penjajahan Jepang, konsep baru tentang kebudayaan dan
tradisi mulai bangkit. Banyak para ahli seni beladiri mendirikan sekolah / perguruan beladiri .
Dengan meningkatnya populasi dan hubungan kerjasama yang baik antar perguruan beladiri,
akhirnya diputuskan menyatukan berbagai nama seni beladiri mereka dengan sebutan : Tae
Kwon Do, pada tahun 1954. Pada 16 September 1961 sempat berubah menjadi Taesoodo namun
kembali menjadi Taekwondo dengan organisasi nasionalnya bernama Korea Taekwondo
Association (KTA) pada tanggal 5 Agustus 1965, dan menjadi anggota Korean Sport Council.
Pada era tahun 1965 sampai 1970-an , KTA banyak menyelenggarakan berbagai acara
pertandingan dan demonstrasi untuk berbagai kalangan pada skala nasional. Taekwondo
berkembang dan menyebar dipelbagai kalangan, hingga diakui sebagai disiplin / program resmi
oleh Pertahanan Nasional Korea , menjadi olahraga wajib bagi tentara dan polisi. Tentara Korea
yang berpartisipasi dalam perang Vietnam dibekali keahlian Taekwondo, pada saat itulah
Taekwondo mendapatkan perhatian besar dari dunia. Nilai lebih ini menjadikan Taekwondo
dinyatakan sebagai olahraga nasional Korea. Pada tahun 1972, Kukkiwon didirikan, sebagai
markas besar Taekwondo, hal ini menjadi penting bagi pengembangan Taekwondo keseluruh
dunia. Kejuaran dunia Taekwondo yang pertama diadakan pada tahun 1973 di Kuk Ki Won,
Seoul, Korea Selatan, sampai saat ini kejuaraan dunia rutin dilaksanakan setiap 2 tahun sekali.
Disamping itu , untuk meningkatkan kualitas Instruktur Taekwondo diseluruh dunia, Kukkiwon
membuka Taekwondo Academy, yang mulai tahun 1998 telah membuka Program pelatihannya
bagi Instruktur Taekwondo dari seluruh dunia. Kuk Ki Won, sebagai markas besar Taekwondo
Dunia, disinilah pusat penelitian dan pengembangan Taekwondo, Pelatihan para Instruktur ,
sekretariat promosi ujian tingkat internasional. Pada 28 Mei 1973, The World Taekwondo
Federation ( WTF ) didirikan, dan sekarang telah mempunyai 156 negara anggota dan
Taekwondo telah dipraktekan oleh lebih dari 50 juta orang diseluruh penjuru dunia, dan angka
ini masih terus bertambah seiring perkembangan Taekwondo yang makin maju dan populer.
Taekwondo telah dipertandingkan diberbagai pertandingan multi even diseluruh dunia, dan
Taekwondo telah dipertandingkan sebagai ekshibisi pada Olympic Games 1988 Seoul dan telah
dipertandingkan sebagai cabang olahraga resmi di Olympic Games 2000, Sydney.

2. KUDA-KUDA

Dalam olahraga taekwondo, jangan lupa akan adanya teknik kuda-kuda sebagai dasarnya untuk
dikuasai para pemula. Tak hanya olahraga ini saja, setiap bela diri pun pasti mempunyai teknik
awal seperti ini di mana fungsinya adalah untuk menjadi pondasi ketika melakukan penyerangan
maupun pertahanan. Kuda-kuda yang baik juga akan menjadi kunci keseimbangan dan seperti di
bawah inilah tekniknya:

1. Ap koobi Ini adalah kuda-kuda langkah panjang di mana kita perlu membuka kaki selebar
bahu dan menurunkan kaki depan sambil menahan berat badan. Dengan telapak kaki, bentuk
posisi tegak lurus pada lutut supaya kita dapat agak melihat ujung kaki dari kaki depan. Untuk
dapat melakukannya dengan sempurna, melatih gerakan kuda-kuda juga sangat penting meski
kelihatannya sepele dan termasuk dalam hal. Jika kuda-kuda sudah baik, maka tak akan sulit
untuk menjaga keseimbangan ketika bermain, apalagi saat bertanding dengan lawan sungguhan
di arena turnamen.

2. Ap seogi Ini adalah kuda-kuda langkah pendek di mana kaki diposisikan seperti melangkah
dan pastikan jari kaki posisinya menghadap posisi yang sama dengan kedua kaki. Meski
kelihatannya gampang, namun tanpa latihan yang benar, agak cukup sulit untuk menjaga
keseimbangan pada teknik kuda-kuda satu ini. Sebagai dasar taekwondo, menguasai kuda-kuda
adalah yang paling penting sebagai awal untuk Anda bisa bermain secara profesional.
3. Moa seogi Ini adalah kuda-kuda dengan kaki berposisi rapat tubuh tegak menghadap ke
depan secara lurus. Kuda-kuda ini juga kelihatan lebih mudah untuk dilakukan, namun
sebenarnya berdiri dengan kaki rapat dan tubuh tegak cukup sulit.

Keseimbangan justru teruji ketika kita melakukan teknik ini karena berdiri dengan posisi kedua
rapat dengan menghadap ke depan tak semua orang sanggup melakukannya secara stabil. Untuk
bisa melakukannya dengan tepat, maka sering-seringlah berlatih moa seogi ini agar cepat bisa
menghasilkan posisi kuda-kuda yang jauh lebih stabil dan keseimbangan pun tetap terjaga
sebelum melakukan teknik gerakan lainnya.

4. Dwit koobi Ini adalah kuda-kuda dengan membuka kedua kaki di mana kaki belakang
posisinya harus ke arah samping dengan kaki depan berposisi lurus saja ke depan. Tumpuan
berat tubuh pastikan diberikan pada bagian kaki belakang dengan kaki ditekuk agar lebih
maksimal dalam posisi kuda-kuda ini.

Tak ketinggalan, tubuh juga perlu dan wajib untuk kita posisikan menghadap serong ke arah
tengah sudut yang kaki depan dan belakang bentuk. Melatihnya secara rutin akan membuat
gerakan kuda-kuda ini lebih baik
3. Seragam (Dobok) Taekwondo

Tidak hanya seragam yang cukup melindungi tubuh dari sinar matahari, tapi pakaian Taekwondo
pun mempunyai arti filosofi yang terkandung didalamnya,diantaranya:

Bagian atas seragam melambangkan langit yang luas.


Bagian bawah seragam melambangkan bumi yang ada kehidupan
Sabuk atau dalam istilah Korea biasa disebut Tie melambangkan sirkulasi kehidupan
manusia yang berada diantara langit dan bumi.
Warna putih melambangkan kesucian hati, kemuliaan jiwa, dan perdamaian yang selalu
dicerminkan oleh seorang Taekwondoin
Bentuk V pada seragam bagian atas menggambarkan identitas pakaian khas Korea yang
berarti harapan dan prestasi.

3) Sabuk Taekwondo

Nilai filsafat yang terkandung dalam Taekwondo, bisa dicerminkan juga pada warna-warna
sabuk yang biasa dipakai oleh seorang Taekwondoin. Warna sabuk menunjukan tingkat
kemampuan seseorang dalam menguasai ilmu Taekwondo. Warna sabuk tersebut terdiri dari:

a. Sabuk Putih melambangkan kesucian. Artinya seseorang yang baru lahir dan baru
mengenal Taekwondo atau sebagai dasar dan permulaan.

b. Sabuk Kuning melambangkan bumi atau tanah. Artinya seseorang sudah mulai diberikan
berbagai ilmu-ilmu dasar Taekwondo.

c. Sabuk Hijau malambangkan dedaunan yang tumbuh. Artinya seseorang kemampuannya


mulai berkembang dan tumbuh.

d. Sabuk Biru melambangkan langit. Artinya ilmu yang benar-benar diberikan harus
dikuasai dan dimengerti, sehingga dapat mengembangkan kembali ilmu-ilmu sudah ada.

e. Sabuk Merah melambangkan matahari. Artinya kemampuan dalam menguasai segala


bentuk ilmu maka harus bisa memberikan manfaat untuk orang lain, dan harus mampu
menguasai diri atas segala emosi yang kemungkinan terjadi.

f. Sabuk Hitam melambangkan kedewasaan. Artinya seseorang pada tingkat ini


sudah mampu mengontrol diri, bertanggung jawab, integritas, loyalitas dan mampu menguasai
keadaan lingkungan.

a. Pakaian Taekwondo

Pakaian ataupun seragam latihan merupakan bagian yang sangat penting dalam olahraga,
begitupun dengan Taekwondo membutuhkan pakaian seragam. Di Taekwondo pakaian latihan
yang biasa digunakan disebut Dobok (bahasa Korea). Dobok yang digunakan oleh pemula yaitu
warna putih polos, mulai dari baju, celana dan sabuk. Tetapi wajib menggunakan logo
Taekwondo Pengurus Besar Taekwondo Indonesia di baju bagian dada kiri.

Selain yang putih polos, ada juga baju yang pada bagian kerahnya berwarna hitam. Itu biasanya
digunakan oleh pemegang sabuk hitam (tingkatan DAN), atau juga bisa dipakai oleh pemegang
sabuk warna (sebelum DAN) tetapi hanya digunakan pada saat pertandingan atau kejuaraan
Taekwondo, baik itu kejuaraan Kyurigi (pertarungan) ataupun Poomse (jurus).

b. Peralatan Taekwondo

Bela diri Taekwondo dikenal dengan cabang bela diri yang paling aman. Karena didalam suatu
pertandingan Taekwondo (khususnya kyurugi) menggunakan peralatan yang sangat lengkap,
diantaranya :

1) Body protector (pelindung badan), yang bisa melindungi seluruh bagian badan (dari bahu
sampai perut bagian bawah), sampai melindungi tulang belakang.

2) Head guard atau pelindung kepala, yang melindungi seluruh bagian kepala kecuali
bagian muka.

3) Hand guard (pelindung lengan), yang melindungi lengan mulai dari siku-siku sampai ke
jari-jari tangan. Bagian yang dilindungi adalah lengan bagian luar, agar dalam memblok
tendangan bisa mengurangi sedikit rasa sakit.

4) Pelindung kaki, yang melindungi kaki dibawah lutut hingga punggung kaki. Bagian yang
dilindungi adalah bagian tulang kering, agar tidak terjadi benturan langsung anta tulang kering
yang bisa menyebabkan patah tulang

5) Pelindung kemaluan, yang melindungi daerah kemaluan agar atlet merasa aman dalam
bertanding.

6) Pelindung gigi, yang melindungi seluruh bagian gigi agar meminimalisir terjadinya patah
gigi.

Selain peralatan pertandingan tersebut, ada juga peralatan yang selalu digunakan untuk latihan,
diantaranya adalah pyong (target). Fungsinya adalah sebagai alat untuk menjadi sasaran latihan
tendangan atau pukulan. Tapi ada juga alat yang digunakan untuk menambah power tendangan,
yaitu biasa disebut dengan sansak. Bentuknya menyerupai tabung panjang dan bobotnya juga
bisa sama dengan bobot seorang manusia.

Poomse (jurus)

Dalam poomse ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang atlet pada saat mengikuti
pertandingan. Peraturannya adalah :
a. Atlet wajib memakai dobok (pakaian Taekwondo)

b. Menggunakan arena 10 x 10 meter

c. Katagori yang dipertandingkan:

1. Individu

2. Pasangan

3. Kelompok

4. Campuran

d. Total skor adalah 10,0

e. Atlet wajib mengikuti aba-aba dari instruktur

f. Kriteria penilaian :

1. Akurasi dari teknik poomse

a) Akurasi dari gerakan dasar dan keseimbangan

b) Detail dari setiap poomse

2. Presentasi

a) Kecepatan dan Power

b) Irama/ritme

c) Ekspresi dari energi


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Taekwondo adalah salah satu seni bela diri tradisional Korea yang paling sistematis dan ilmiah,
yang mengajarkan lebih dari keterampilan pertempuran fisik. Ini adalah disiplin yang
menunjukkan cara meningkatkan semangat dan kehidupan melalui pelatihan tubuh dan pikiran
kita. Taekwondo berasal dari 3 suku kata, yaitu tae artinya kaki / menghancurkan dengan
tendangan, kwon artinya tangan / memukul atau bertahan dengan tangan kosong, dan do
artinya cara / metode. Jadi secara keseluruhan Taekwondo adalah suatu cara atau metode untuk
menghancurkan dan bertahan dengan menggunakan kaki dan tangan.

Cabang Taekwondo yang sekarang dipertandingkan ada dua macam, yaitu kyurugi (body
contact) dan poomse (jurus). Dalam Taekwondo tidak hanya menekankan latihan atau
pengembangan teknik saja, melainkan pengembangan latihan mental dan juga karakter yang
terkandung didalam bela diri Taekwondo.

B. Saran

Sangat diharapkan kepada para pembina atau pelatih Taekwondo, dalam menerapkan teknik-
teknik atau ilmu kepada anak didik atau atlet, jangan sampai hanya mengembangkan
kemampuan keterampilannya tetapi berikan pemahaman terhadap pengendalian diri atau
memahami nilai-nilai yang terdapat dalam bela diri Taekwondo.
DAFTAR PUSTAKA

Adhy. (t.thn.). filosofi sabuk pada taekwondo. Dipetik 12 09, 2011, dari Martial Art:
http://adhytam14vchik.student.umm.ac.id/139/

Anneahira. (2010). Taekwondo. Dipetik 12 09, 2011, dari www.anneahira.com/taekwondo.htm

Hidayat, C. d. (2008). Taekwondo. Tasikmalaya: PJKR Universitas Siliwangi.

Suryadi, V. Y. (2008). Poomse Taekwondo untuk Kompetisi.Jakarta: PT. Gramedia Pustaka


Utama.

Susanto. (2011). Filsafat Ilmu suatu Kajian dalam Dimensi Ontologi, Epistimologi dan
Aksiologi. Jakarta: Bumi Aksara.

Zuhri Mulya, T. I., & Gunawan, S. (2008). Competition Rules dan Interpretation World
Taekwondo Federation.