Anda di halaman 1dari 14

TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PENANGKAPAN IKAN

DINAMIKA KAPAL PERIKANAN

Disusun Oleh :
KELOMPOK 1

Nama NPM
Azlimsyah R Pamenan 23011012001
Bagus Hadi Prakoso 23011012001
Fiqi Fadillah 23011012001
Adi Prasetyo 230110140135
Kalysta Felatami 23011012001
Ali Aji Adinegara 23011012001
Zais Syahri 23011012001

LABORATORIUM TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP


PROGRAM STUDI PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR 2017
DIMENSI UTAMA KAPAL PERIKANAN
Azlimsyah Rambun Pamenan dan Bagus Hadi Prakoso

Program Studi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran
Korespondensi : azlimsyah@gmail.com

Abstrak
Abtrask berisi intisari dari keseluruhan tulisan pada setiap paper yang disusun. Ditulis rata kanan kiri dan
maksimal 200 kata. Setiap 1 tema maksimal 5 halaman.

Kata kunci : berisi kata kunci dari paper ini dan disusun sesuai abjad, maksimal 5
misal : bed, hasil tangkapan, laut, ted, trawl

PENDAHULUAN
Berisi mengenai mengapa anda perlu .
belajar definisi dan konstruksi alat tangkap trawl. .
tujuan dan manfaat dari paper yang anda buat. .
. .
. .
. .
. .
.. .
. dst
.
.
. HASIL DAN PEMBAHASAN
. Berisi mengenai definisi dan pembahasan
. mengenai konstruksi alat tangkap tersebut. Sitasi
. yang dijadikan rujukan, misal:
. a. satu penulis ditulis oleh nama keluarga dan
. tahun : Dewanti (2009) atau (Dewanti 2009)
. b. dua penulis : Dewanti dan Apriliani (2008) atau
. (Dewanti dan Apriliani 2008)
. c. tiga penulis atau lebih : Dewanti et al. (2008)
. atau (Dewanti et al. 2008)
. .
. .
dst .
.
.
METODOLOGI .
Berisi mengenai metode yang anda lakukan .
dalam menyusun paper ini yaitu studi pustaka. .
. dst
.
.
. KESIMPULAN
. Berisi mengenai kesimpulan dari satu apper yang
. telah anda susun.
. .
.
.
.

. .
.
dst

DAFTAR PUSTAKA
penulisan daftar pustaka :
a. Buku
Iriana D, Dewanti LP, Apriliani IM. 2015. Navigasi
Perikanan. Unpad Press. Bandung.

b. Skripsi, Tesis, Disertasi


Dewanti LP. 2009. Tingkat Keramahan
Lingkungan Alat Tangkap. Skripsi. Universitas
Padjadjaran.

c. Jurnal
Iriana D, Dewanti LP, Apriliani IM. 2015. Perikanan
Waduk Cirata. Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol.
2 No. 1 Maret 2015.
RASIO DIMENSI UTAMA KAPAL
Fiqi Fadillah dan M. Ryan

Program Studi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran
Korespondensi : fiqifadillah@gmail.com

Abstrak
Abtrask berisi intisari dari keseluruhan tulisan pada setiap paper yang disusun. Ditulis rata kanan kiri dan
maksimal 200 kata. Setiap 1 tema maksimal 5 halaman.

Kata kunci : berisi kata kunci dari paper ini dan disusun sesuai abjad, maksimal 5
misal : bed, hasil tangkapan, laut, ted, trawl

PENDAHULUAN
Berisi mengenai mengapa anda perlu .
mengetahui metode pengoperasian alat tangkap. .
tujuan dan manfaat dari paper yang anda buat. .
. .
. .
. .
. .
.. .
. dst
.
.
. HASIL DAN PEMBAHASAN
. Berisi mengenai metode pengoperasian
. alat tangkap tersebut. Sitasi yang dijadikan
. rujukan, misal:
. a. satu penulis ditulis oleh nama keluarga dan
. tahun : Dewanti (2009) atau (Dewanti 2009)
. b. dua penulis : Dewanti dan Apriliani (2008) atau
. (Dewanti dan Apriliani 2008)
. c. tiga penulis atau lebih : Dewanti et al. (2008)
. atau (Dewanti et al. 2008)
. .
. .
dst .
.
.
METODOLOGI .
Berisi mengenai metode yang anda lakukan .
dalam menyusun paper ini yaitu studi pustaka. .
. dst
.
.
. KESIMPULAN
. Berisi mengenai kesimpulan dari satu apper yang
. telah anda susun.
. .
. Iriana D, Dewanti LP, Apriliani IM. 2015. Navigasi
. Perikanan. Unpad Press. Bandung.
.
b. Skripsi, Tesis, Disertasi
. Dewanti LP. 2009. Tingkat Keramahan
. Lingkungan Alat Tangkap. Skripsi. Universitas
dst Padjadjaran.

c. Jurnal
DAFTAR PUSTAKA Iriana D, Dewanti LP, Apriliani IM. 2015. Perikanan
penulisan daftar pustaka : Waduk Cirata. Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol.
a. Buku 2 No. 1 Maret 2015.
HUBUNGAN RASIO DIMENSI UTAMA KAPAL DENGAN PERFORMA KAPAL
Kalysta Fellatami dan Ali Aji Adinegara

Program Studi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran
Korespondensi : kalysta@gmail.com

Abstrak
Abtrask berisi intisari dari keseluruhan tulisan pada setiap paper yang disusun. Ditulis rata kanan kiri dan
maksimal 200 kata. Setiap 1 tema maksimal 5 halaman.

Kata kunci : berisi kata kunci dari paper ini dan disusun sesuai abjad, maksimal 5
misal : bed, hasil tangkapan, laut, ted, trawl

PENDAHULUAN
Berisi mengenai mengapa anda perlu .
belajar alat bantu penangkapan ikan dalam .
pengoperasian alat tangkap trawl. tujuan dan .
manfaat dari paper yang anda buat. .
. .
. .
. .
. .
.. .
. dst
.
.
. HASIL DAN PEMBAHASAN
. Berisi mengenai alat bantu dalam
. pengoperasian alat tangkap tersebut. Sitasi yang
. dijadikan rujukan, misal:
. a. satu penulis ditulis oleh nama keluarga dan
. tahun : Dewanti (2009) atau (Dewanti 2009)
. b. dua penulis : Dewanti dan Apriliani (2008) atau
. (Dewanti dan Apriliani 2008)
. c. tiga penulis atau lebih : Dewanti et al. (2008)
. atau (Dewanti et al. 2008)
. .
. .
dst .
.
.
METODOLOGI .
Berisi mengenai metode yang anda lakukan .
dalam menyusun paper ini yaitu studi pustaka. .
. dst
.
.
. KESIMPULAN
. Berisi mengenai kesimpulan dari satu apper yang
. telah anda susun.
. Iriana D, Dewanti LP, Apriliani IM. 2015. Navigasi
. Perikanan. Unpad Press. Bandung.
.
. b. Skripsi, Tesis, Disertasi
Dewanti LP. 2009. Tingkat Keramahan
. Lingkungan Alat Tangkap. Skripsi. Universitas
. Padjadjaran.
dst
c. Jurnal
Iriana D, Dewanti LP, Apriliani IM. 2015. Perikanan
DAFTAR PUSTAKA Waduk Cirata. Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol.
penulisan daftar pustaka : 2 No. 1 Maret 2015.
a. Buku
PERAN INDONESIA DALAM MENJALANKAN RFMO (Regional Fisheries
Management Organisasions)
Adi Prasetyo

Program Studi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran
Korespondensi : adip1112@gmail.com

Abstrak
Produksi perikanan dunia semakin menurun, sehingga beberapa hukum internasional dikeluarkan untuk
mengatasi hal tersebut. Tujuan penulisan ini adalah menganalisis landasan hukum pengelolaan perikanan
di laut lepas yang terbentuk di wilayah laut lepas dan menganalisis peran indonesia dalam menjalankan
RFMO (Regional Fisheries Management Organisasions) yang berbatasan dengan perairan Indonesia.
Terdapat lima hukum internasional yang mengatur pemberantasan IUU Fishing, yaitu UNCLOS 1982, FAO
Compliance Agreement 1993, UNIA 1995,CCRF 1995, dan IPOA on IUU Fishing 2001. Sementara RFMO yang
berbatasan dengan perairan Indonesia, adalah IOTC, WCPFC, dan CCSBT. Beberapa hal yang diperhatikan
dalam kerjasama RFMO, yaitu wilayah kewenangan, spesies ikan yang ditangkap, keanggotaan, dan
kewajiban para pihak.

Kata kunci : Hukum Internasional, Laut Lepas, Perikanan, RFMO

PENDAHULUAN
Permasalahan perikanan laut Indonesia The Sea of 10 December 1982 Relating to The
semakin penting untuk menjadi perhatian, Conservation and Management of Straddling Fish
pertama karena sumber daya ikan laut Indonesia Stocks and Highly Migratory Fish Stocks (UNIA)
sampai saat ini belum dapat termanfaatkan secara 1995 yang merupakan salah satu dasar hukum
optimal, kedua perikanan merupakan komoditi RFMO. Secara geografis, posisi Indonesia terkait
yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi sehingga langsung dengan tiga RFMO yaitu Indian Ocean
prospek perikanan laut akan sangat baik bagi Tuna Commission (IOTC), Western and Central
perekonomian suatu negara, dan ketiga masih Pasific Fisheries Commission (WCPFC), dan
sering terjadi pencurian ikan di perairan Indonesia Commission for The Conservation of Southern
dan keempat berdasarkan Konvensi Hukum Laut
Bluefin Tuna (CCSBT).
1982, Indonesia memiliki hak untuk
memanfaatkan sumber daya ikan di laut lepas. Indonesia telah tercatat menjadi anggota dari 3
Berdasarkan latar belakang tersebut maka hal RFMO yang melingkupi perairan Indonesia, yaitu
yang dapat dipertanyakan bagaimanakah Indian Ocean Tuna Commission (IOTC),
implikasi keanggotaan Indonesia dalam RFMO Commission on Conservation of Southern Bluefin
terhadap pengembangan hukum perikanan Tuna (CCSBT) dan Western and Central Pacific
nasional. Fisheries Commission (WCPFC). Keanggotaan
Regional Fisheries Management Indonesia pada RFMO tersebut sebagai tuntutan
Organization (RFMO) yang merupakan organisasi untuk untuk dapat berperan serta dalam
antar pemerintah yang menyusun tindakan pengelolaan sumber daya ikan di laut lepas
konservasi dan pengelolaan perikanan. RFMO ini sehingga tidak dinyatakan sebagai pelaku illegal
dianggap sebagai terobosan untuk mengatasi fishing sebagaimana yang telah dialami Indonesia.
masalah krisis perikanan. Hal ini juga merupakan Disamping itu keanggotaan Indonesia dalan
amanat dari berbagai ketentuan internasional, RFMO merupakan upaya untuk mengatasi
organisasi kerjasama pengelolaan perikanan hambatan non tarif, berkenaan dengan ketentuan
sebagaimana diatur dalam pasal 8 dan pasal 9 pemberlakuan sertifikasi hasil penangkapan ikan
Agreement for implementation of the Provisions oleh Uni Eropa. Wilayah yurisdiksi IOTC yang
of the United Nations Convention on The Law of berdampingan dengan wilayah Indonesia di
selatan, menjadikan Indonesia berkepentingan Laut lepas Samudera Hindia Bagian
atas sumber daya ikan pada kawasan ini. Secara Selatan
historis nelayan-nelayan Indonesia Timur
c. Western Central Pacific Fisheries
terutama dari Nusa Tenggara, banyak yang
Commission (WCPFC) yang mengelola
melakukan penangkapan ikan di samudra Hindia
Laut lepas Samudera Pasifik Bagian Barat
bahkan sampai ke perairan yang berdekatan
dengan Australia. Dengan demikian keikutsetaan d. Inter-America Tropical Tuna Commission
Indonesia dalam IOTC salah satunya adalah untuk (IATTC) yang mengelola Laut lepas
mengakomodasikan kepentingan rakyat Samudera Pasifik Bagian Timur.
Indonesia agar dapat memanfaatkan sumber daya
ikan di laut lepas pada kawasan Samudera Hindia. e. International Commission for the
Conservation of Atlantic Tunas (ICCAT)
Indonesia juga merupakan anggota CCSBT, yang mengelola Laut lepas Samudera
Organisasi ini bertujuan melaksanakan konservasi Atlantik. (Likadja dan Frans E 1988)
terhadap jenis ikan southern bluefin tuna (SBT) di
semua samudera. Secara historis negara pelaku Perkembangan RFMO mengacu kepada
utama pemanfaatan jenis ikan ini adalah Jepang, sifat ikan yang selalu bergerak (bermigrasi) dan
Australia dan New Zealand. Keikutsetaan melintasi batas wilayah antar negara
Indonesia dalam CCSBT ini sangat penting, karena (transboundary). RFMO dibentuk atas kesadaran
sebagai negara yang memiliki pantai yang sangat bahwa kegiatan penangkapan ikan di suatu
panjang diperkirakan merupakan tempat negara, dapat mempengaruhi sumber daya dan
berpijahnya ikan jenis ini terutama pada selatan kinerja armada penangkapan negara lain yang
Jawa. Indonesia juga berkepentingan dalam memanfaatkan sumber daya ikan yang sama.
WCPFC, karena Indonesia sebagai negara yang Keinginan untuk meningkatkan produksi,
kaya dengan jenis ikan tuna. Dengan menyebabkan sumber daya ikan serta usaha
Keanggotaannya pada WCPFC, Indonesia dapat perikanan yang dimiliki suatu negara bisa
akses ke pasar internasional. terancam keberlanjutannya. Andrianto (2005)
Kategori IUU (Ilegal Unreported and Unregulated)
Fishing berdasarkan RFMO:
METODOLOGI
Metodologi yang digunakan dalam a. Melakukan penangkapan dan/atau
menyusun jurnal ini adalah dengan studi pustaka pengangkutan ikan tuna dan spesies
dari beberapa jurnal dan penelitian. seperti tuna di Laut Lepas dan/atau
wilayah pengelolaan RFMO tanpa
HASIL DAN PEMBAHASAN memiliki Izin.
RFMO adalah kerjasama antar negara
(regional cooperation) untuk melakukan tindakan b. Melakukan penangkapan dan/atau
pengangkutan ikan tuna dan spesies
konservasi dan pengelolaan Highly Migratory Fish
Stocks dan Straddling Fish Stocks, guna menjamin seperti tuna di Laut Lepas dan/atau
wilayah pengelolaan RFMO sebelum
pemanfaatan sumber daya tuna secara
berkelanjutan, oleh beberapa anggotanya adalah tercantum dalam RFMO- Record of
Vessels Authorized to Fish or to Operate.
Australia, Belize, China, Prancis, India, Indonesia,
Iran, Jepang, Korea, Madagaskar, Malaysia, c. Melakukan penangkapan tuna dan spesies
Philiphina, Singapura, South Africa, Thailand, dll. seperti tuna di wilayah pengelolaan
RFMO dibagi dalam beberapa zona RFMO, ketika negara bendera kapal tidak
mempunyai kuota dan/atau terkena
a. Indian Ocean Tuna Commission (IOTC)
pembatasan ikan hasil tangkapan
yang mengelola Laut lepas Samudera
dan/atau alokasi upaya penangkapan
Hindia
(effort) berdasarkan tindakan pengelolaan
b. Convention on Conservation of Southern dan konservasi yang diadopsi oleh RFMO.
Bluefin Tuna (CCSBT) yang mengelola
d. Tidak mencatat atau tidak melaporkan
ikan hasil tangkapan di wilayah laut lepas
dan/atau wilayah pengelolaan RFMO a. Melarang melakukan pemindahan ikan
sesuai dengan persyaratan pelaporan hasil tangkapan dari dan/atau kepada
yang ditetapkan RFMO atau membuat kapal penangkap ikan dan/atau kapal
laporan hasil tangkapan palsu. pengangkut ikan lainnya di seluruh wilayah
Indonesia, baik di laut maupun di
e. Melakukan penangkapan atau
pelabuhan.
mendaratkan tuna dan spesies seperti
tuna yang berukuran belum cukup, yang b. Melarang melakukan pendaratan dan/atau
bertentangan dengan tindakan konservasi memindahkan ikan hasil tangkapan ke
yang diadopsi oleh RFMO. kapal lain, mengisi bahan bakar, mengisi
logistik atau terlibat dalam transaksi
f. Melakukan penangkapan ikan selama
perdagangan lainnya.
musim penangkapan ikan ditutup atau
dalam wilayah penangkapan ikan yang c. Melarang setiap orang dan/atau badan
tertutup, yang bertentangan dengan hukum Indonesia menyewa setiap kapal
tindakan konservasi yang diadopsi RFMO. yang tercantum dalam daftar provisional
IUU Vessel List danIUU Vessels List.
g. Menggunakan alat penangkapan ikan
yang dilarang, yang bertentangan dengan d. Melarang setiap orang dan/atau badan
tindakan konservasi yang diadopsi RFMO. hukum Indonesia membeli ikan dan/atau
melakukan impor ikan yang berasal dari
h. Memindahkan ikan hasil tangkapan, atau
kapal yang tercantum dalam provisional
turut serta dalam operasi penangkapan
IUU Vessel List dan IUU Vessels List.
ikan gabungan/bersama seperti
memberikan pasokan logistik atau e. Melarang perubahan bendera dan nama
pasokan bahan bakar kepada kapal-kapal kapal. (Likadja dan Frans E 1988)
yang tercantum dalam daftar kapal yang
Keanggotaan RFMO lebih
telah melakukan kegiatan IUU Fishing
memprioritaskan kepada lokasi aktivitas
dan/atau kapal yang tercantum dalam IUU
penangkapan ikan yang dilakukan oleh kapal suatu
Vessel List.
negara dan bukan kedekatan posisi geografisnya.
i. Melakukan penangkapan tuna dan spesies Keterlibatan Indonesia dalam RFMO selaras
seperti tuna di perairan dibawah yurisdiksi dengan amanat United Nations Convention on the
negara lain tanpa memiliki izin dan/atau Law of the Sea (UNCLOS).
bertentangan dengan peraturan
Tujuan Indonesia bergabung dengan
perundang-undangan yang berlaku di
RFMO adalah memfasilitasi warga negaranya
negara pantai.
mengakses sumber daya ikan di laut lepas dan
j. Melakukan penangkapan tuna di wilayah bukan sebagai pencitraan diri untuk menunjukkan
konvensi RFMO tanpa kebangsaan kapal. kepada dunia, bahwa Indonesia merupakan
bangsa yang berperan aktif terhadap pengelolaan
k. Terlibat dalam penangkapan tuna,
perikanan berkelanjutan secara global. Menurut
termasuk alih muatan (transhipment),
(Koeshendrajana 2013), secara umum manfaat
pengisian bahan bakar dan/atau logistik
Indonesia menjadi anggota RFMO yaitu:
dengan cara yang bertentangan dengan
tindakan konservasi dan pengelolaan. 1. mendorong terwujudnya pengelolaan
penangkapan bertanggung jawab
Setiap kapal yang melakukan kegiatan
yang termasuk dalam IUU Fishing baik sendiri- 2. mendukung kebijakan nasional bagi upaya
sendiri maupun secara bersama-sama, akan konservasi dan peningkatan produksi
dicantumkan dalam IUU Vessel List dan akan perikanan
mendapat tindakan dari Negara peserta RFMO
3. memperkuat hubungan baik serta
(berdasarkan Resolusi RFMO) berupa:
memperkokoh posisi pemerintah pada
forum regional dan internasional
4. mendorong pertumbuhan stabilitas 3. Penyusunan Peraturan Menteri No
ekonomi yang berkelanjutan, PER.03/MEN/2009 tentang penangkapan
meningkatkan daya saing, meningkatkan ikan dan/atau pengangkutan ikan di Laut
kemampuan ilmu pengetahuan dan Lepas.
teknologi, meningkatkan kapasitas dan
4. dapat turut aktif melakukan kegiatan
produksi nasional, serta mempertahankan
penangkapan tuna di wilayah statistik
dan memperluas akses pasar global dalam
FAO.
rangka pencapaian pembangunan
nasional 5. Merupakan media kerjasama penelitian
dan pengumpulan data perikanan TAC
5. mempermudah pertukaran informasi,
(total allowable cacth), MSC (monitoring,
data, dan alih teknologi sesama negara
controlling, surveilance) dan penegakan
anggota.
hukum, serta pengelolaan dan konservasi
Indonesia mempunyai hak akses dan yang sangat menguntungkan Indonesia.
kesempatan turut memanfaatkan potensi Semua kegiatan ini membutuhkan tenaga
kesediaan ikan yang beruaya jauh (highly ahli, waktu dan biaya yang sangat mahal
migratory fish stock) dan kesediaan ikan beruaya jika dilakukan sendiri tanpa menjadi
terbatas (straddling fish stock) di laut lepas. anggota.
Dimana jenis perikanan ini membutuhkan
6. Terhindar dari embargo atas ekspor tuna
pengelolaan yang berorientasi pada kepentingan
dari Indonesia.
jangka panjang, hal ini diperluakan karena
berbagai kasus pencurian ikan dan penangkapan 7. Dapat ikut serta mengatur pengelolaan
ikan yang berlebih (over fishing) yang sumberdaya ikan tuna di perairan
menyebabkan krisis perikanan nasional. Samudera Hindia.
Pengelolaan yang bertanggung jawab dan
berkelanjutan diperlukan guna melindungi 8. Menanggulangi IUU fishing.
sumberdaya perikanan dari kepunahan. 9. Pengembangan armada perikanan
Keikutsertaan Indonesia di RFMO Indonesia akan lebih terbuka untuk
merupakan sebuah komitmen Indonesia untuk berpartisipasi dalam pemanfaatan
berperan secara aktif dalam kerjasama dengan sumberdaya perikanan di Laut Lepas
negara-negara lain melaksanakan konservasi dan Samudera Hindia. (Satria 2008)
pemanfaatan sumberdaya ikan, khususnya tuna di Selanjutnya kewajiban sebagai anggota
laut lepas Samudera Hindia. Saat ini RFMO RFMO adalah melakukan pengawasan melalui
memiliki anggota sebanyak 28 negara full member tindakan pemantauan kapal perikanan. Pemantau
dan 3 negara non-cooprating member, dimana Penangkapan Ikan dan Pengangkutan Ikan
setiap anggota berkewajiban untuk menerapkan ditugaskan oleh Direktur Jenderal pada kapal
keputusan-keputusan IOTC dalam berbagai penangkap ikan yang menggunakan alat
resolusi dalam sistem hukum nasional, sebagai penangka ikan purse seine dan long line untuk
anggota ke-27 Indonesia telah melaksanakan kapal yang beroperasi di laut lepas; dan kapal
perubahan kegiatan antara lain: penangkap ikan yang beroperasi di WPP-NRI
1. Program revitalisasi dan menjaga kelestarian dengan menggunakan alat penangkapan ikan
sumberdaya perikanan tuna kelompok: pancing, jaring lingkar, jaring angkat,
dan jaring insang; dan pukat tarik dan pukat hela.
2. Penyampaian informasi kepada kapal pengangkut ikan yang beroperasi di WPPRI
sekretariat RFMO tentang kapal yang dan laut lepas, Hal ini merupakan implementasi
telah mendapatkan sertifikat legal dari ketentuan Konvensi yang mengikat Indonesia
melakukan penangkapan tuna dan sebagai anggota RFMO, baik pada IOTC, CCSBT
menentukan kouta atas jumlah hasil maupun WCPFC. (Hasyim djalal 1979)
tangkapan ikan tuna maupun ekspor ikan
tuna
KESIMPULAN Likadja, Frans E.988. Hukum Laut dan Undang-
Peran keanggotaan Indonesia dalam Undang Perikanan. Ghalia Indonesia. Jakarta
RFMO dapat dilihat dari industri perikanan
nasional dan dari pengembangan hukum Irawati. 2015. Implikasi Keanggotaan Indonesia
perikanan nasional. Dari industri perikanan dalam RFMO terhadap Pengembangan Hukum
nasional dengan keanggotaan Indonesia dalam Perikanan Nasional.
RFMO, ekspor ikan khususnya tuna Indonesia
semakin berkembang karena Indonesia dapat Yogi Ignatius, Bambang Riyanto. 2014. Upaya
mengekspor ikan ke berbagai negara anggota Negara Indonesia Dalam Menangani Masalah
RFMO. Dari pengembangan hukum perikanan Illegal Fishing Di Zona Ekonomi Eksklusif
nasional, hukum perikanan nasional semakin Indonesia
memperhatikan konservasi perikanan tuni di
samudra hindia. Wijayanti Tri, Fachri Yuli. 2011. Kebijakan
Indonesia masuk Keangotaan IOTC (Indian Ocean
Tuna Commision).
DAFTAR PUSTAKA
Hasyim Djalal, 1979. Perjuangan Indonesia Di Pramoda radityo, Triyanti R. 2014. Kajian Hukum
Bidang Hukum Laut. Penerbit Binacipta. Jakarta. Kebijakan Keanggotaan Indonesia dalam Indian
Ocean Tuna Commision (studi kasus di Benoa-
Koers, Albert W. diterjemahkan oleh Rudi M. Rizal Bali). Jurnal Borneo Administrator Volume 10 No 3
dan Wahyuni Bahar .1991. Konvensi Perserikatan 2014.
Bangsa-Bangsa Tentang Hukum Laut. Gadjah
Mada University Press. Yogyakarta
PENGARUH PERGERAKAN KAPAL DI LAUT
Azlimsyah Rambun Pamenan dan Bagus Hadi Prakoso

Program Studi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran
Korespondensi : azlimsyah@gmail.com

Abstrak
Abtrask berisi intisari dari keseluruhan tulisan pada setiap paper yang disusun. Ditulis rata kanan kiri dan
maksimal 200 kata. Setiap 1 tema maksimal 5 halaman.

Kata kunci : berisi kata kunci dari paper ini dan disusun sesuai abjad, maksimal 5
misal : bed, hasil tangkapan, laut, ted, trawl

PENDAHULUAN
Berisi mengenai mengapa anda perlu .
belajar hasil tangkapan alat tangkap trawl. tujuan .
dan manfaat dari paper yang anda buat. .
. .
. .
. .
. .
.. .
. dst
.
.
. HASIL DAN PEMBAHASAN
. Berisi mengenai hasil tangkapan dari alat
. tangkap tersebut. Sitasi yang dijadikan rujukan,
. misal:
. a. satu penulis ditulis oleh nama keluarga dan
. tahun : Dewanti (2009) atau (Dewanti 2009)
. b. dua penulis : Dewanti dan Apriliani (2008) atau
. (Dewanti dan Apriliani 2008)
. c. tiga penulis atau lebih : Dewanti et al. (2008)
. atau (Dewanti et al. 2008)
. .
. .
dst .
.
.
METODOLOGI .
Berisi mengenai metode yang anda lakukan .
dalam menyusun paper ini yaitu studi pustaka. .
. dst
.
.
. KESIMPULAN
. Berisi mengenai kesimpulan dari satu apper yang
. telah anda susun.
. .
. Iriana D, Dewanti LP, Apriliani IM. 2015. Navigasi
. Perikanan. Unpad Press. Bandung.
.
b. Skripsi, Tesis, Disertasi
. Dewanti LP. 2009. Tingkat Keramahan
. Lingkungan Alat Tangkap. Skripsi. Universitas
dst Padjadjaran.

c. Jurnal
DAFTAR PUSTAKA Iriana D, Dewanti LP, Apriliani IM. 2015. Perikanan
penulisan daftar pustaka : Waduk Cirata. Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol.
a. Buku 2 No. 1 Maret 2015.