Anda di halaman 1dari 15

Penegakan Diagnosis Okupasi Pneumokoniosis akibat Kerja

Verdi Danutirto
102012018
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara no.6
Jakarta 11510
filipusverdi@gmail.com

Pendahuluan
Kemajuan sektor industri di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun, peningkatan ini
sejalan dengan peningkatan taraf ekonomi negara. Meskipun perkembangan industri yang pesat
dapat meningkatkan taraf hidup, tetapi berbagai dampak negatif juga bisa terjadi pada
masyarakat Salah satu dampak negatif adalah timbulnya penyakit akibat kerja, terutama kerja
yang menahun, yang dapat menjadi ancaman serius. Salah satunya pneumokoniosis.1

Pneumokoniosis adalah penyakit paru menahun yang disebabkan karena menghirup


berbagai bentuk partikel debu, khususnya di perindustrian. Tingkat keparahan dan jenis
pneumokoniosis tergantung pada partikel debu, misalnya, sejumlah kecil zat tertentu, seperti
abses dan silika, dapat menyebabkan reaksi yang serius. Jenis paling umum pneumokoniosis
adalah pneumokoniosis pekerja batu bara, silikosis, dan asbestosis. Prevalensi berkisar antara
3,9-0,8 kasus per 1000 pemeriksaan medis.2

Debu yang non-fibrogenik (tidak menimbulkan reaksi jaringan paru) contohnya debu
besi, kapur, timah. Debu-debu ini dulunya dianggap tidak merusak paru, di sebut juga debu
inert. Namun akhir-akhir ini diketahui bahwa tidak ada debu yang benar-benar inert. Dalam
jumlah banyak semua debu bersifat merangsang dan menimbulkan reaksi walau ringan. Reaksi
itu dapat berupa produksi lendir yang berlebih, bila terus menerus berlangsung dapat terjadi
hiperplasia kelenjar mukus. Jaringan paru juga dapat berubah dengan terbentuknya jaringan ikat
retikulin. Penyakit ini disebut pneumokoniosis non-kolagen. Sedang debu fibrogenik dapat
menimbulkan reaksi jaringan paru sehingga terbentuk fibrosis (jaringan parut). Penyakit ini

1
disebut Pneumokoniosis kolagen. Yang termasuk debu fibrogenik adalah debu silika bebas debu
batu bara, dan asbes.

Skenario

Seorang laki-laki pekerja tambang usia 45 tahun datang ke klinik perusahaan dengan keluhan
batuk sejak 1 tahun terakhir. Pasien batuk terus menerus disertai lender, ada bercak darah, ada
keringat malam, demam, berat badan menurun drastis. Kerja di tambang sudah 10 tahun, bukan
perokok. Diberi obat anti TBC selama 3 bulan belum ada perbaikan.

Diagnosis Penyakit Akibat Kerja

Untuk dapat mendiagnosis Penyakit Akibat Kerja (PAK) pada individu perlu dilakukan
suatu pendekatan sistematis untuk mendapatkan informasi yang diperlukan dan
menginterpretasikannya dengan tepat. Pendekatan tersebut dapat disusun menjadi 7 langkah
yang dapat digunakan sebagai pedoman: 3,4

1. Diagnosis Klinis
a. Anamnesis

Wawancara harus jelas, teliti dan cermat mengenai:


Riwayat penyakit paru dan kesehatan umum3,5
Ada keluhan: sesak napas, batuk, batuk berdahak, mengi, kesulitan bernapas
Ada riwayat merokok
Masalah pernapasan sebelumnya dan obat yang dikonsumsi
Apakah ada hari-hari tidak dapat masuk kerja dan alasannya
Kapan keluhan-keluhan mulai dan apakah ada hubungannya dengan pekerjaan
Riwayat penyakit terdahulu5,6
Apakah sebelumnya pernah menderita: sesak nafas, asma, atopi, penyakit
kardiorespirasi
Paparan bahan-bahan yang pernah diterimanya: kebisingan, getaran, radiasi, zat
kimiawi, debu organik dan fibrogenik

2
Riwayat pekerjaan5
Daftar pekerjaan yang pernah dilakukan sejak awal
Aktifitas kerja dan material yang digunakan
Barang yang diproduksi/dihasilkan
Lama dan intensitas paparan
APD yang digunakan
Kecukupan ventilasi ruang kerja
Apakah ada pekerja-pekerja lain yang juga terkena paparan dan berefek pada
kesehatannya
Tugas tambahan lainnya
Paparan lain diluar tempat kerja
Penyakit-penyakit yang ada hubungannya dengan paparan bahan ditempat kerja atau
lingkungan

b. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik tergantung dari stadium penyakit tersebut.7-9

Inspeksi
Bentuk dada
Normal: diameter Anterior Posterior transversal = 1:2
Pigeon chest/dada burung: sternum menonjol kedepan, diameter Anterior-
Posterior > transversal
Barrel Chest: Anterior Posterior : transversal = 1:1
Funnel Chest: anterior Posterior mengecil, sternum menonjol ke dalam
Sifat pernafasan : pernafasan dada dan perut
Frekuensi pernafasan:
Normal: 16-20 x/menit
>20x/menit: tachypnea
<16x/menit: bradipnea

3
Ritme pernafasan
Eupnea: irama normal
Kussmaul: cepat dan dalam
Hiperventilasi: pernafasan dalam, kecepatan normal
Cheyne-stokes: bertahap dangkal lebih cepat dan dalam lambat apnea
(kerusakan saraf)

Palpasi
Nyeri dada tekan :kemungkinan fraktur iga
Taktil fremitus
Letakkan tangan sama dengan cara pemeriksaan ekspansi dada
Anjurkan pasien menyebut tujuh-tujuh / enem-enam, rasakan getaran
Kurang bergetar: pleural effusion, pneumothoraks

Perkusi
Paru normal: sonor/resonan
Pneumothoraks: hipersonor
Jaringan padat (jantung, hati): pekak/datar
Daerah yang berongga: timpani

Auskultasi
Suara nafas vesikuler
Terdengar disemua lapang paru normal
Bersifat halus, nada rendah
Inspirasi lebih panjang dari ekspirasi

Suara nafas bronchovesikuler


Ruang interkostal pertama dan kedua area interskapula
Nada sedang, lebih kasar dari vesikuler
Inspirasi sama dengan ekspirasi

4
Suara nafas bronchial
Terdengar di atas manubarium,
Bersifat kasar, nada tinggi
Inspirasi lebih pendek dari ekspirasi

Suara tambahan

Ronchi (ronchi kering)


Suara yang tidak terputus, akibat adanya getaran dalam lumen saluran pernafasan
karena penyempitan: ada sekret kental/lengket

Rales (ronchi basah)


Suara yang terputus, akibat aliran udara melewati cairan dan terdengar pada saat
inspirasi

Wheezes wheezing (mengi)


Suara terdengar akibat obstruksi jalan napas, terjadi penyempitan sehingga ekspirasi
dan inspirasi terganggu, sangat jelas terdengar saat ekspirasi

C. Pemeriksaan Penunjang
Rontgen thorax:

Dokter mungkin memesan x-ray dada jika memiliki salah satu dari gejala berikut:8

batuk terus-menerus
Dada cedera
Nyeri dada
Batuk darah
Kesulitan bernapas

Hal ini juga dapat dilakukan jika Anda memiliki tanda-tanda tuberkulosis , kanker paru-paru ,
atau dada atau penyakit paru-paru. Sebuah rontgen thorax seri (diulang) dapat digunakan untuk
mengevaluasi atau memantau perubahan ditemukan pada dada x-ray sebelumnya.9

5
Test Spirometri

Dalam tes spirometri, anda bernapas ke dalam mulut yang terhubung ke sebuah alat yang
disebut spirometer. Spirometer mencatat jumlah dan laju udara yang anda hirup masuk dan
keluar selama periode waktu. Untuk beberapa pengukuran pengujian, anda dapat bernafas
dengan normal dan tenang. Tes lainnya memerlukan inhalasi paksa atau pernafasan setelah
napas dalam-dalam. Tes fungsi paru dilakukan untuk:4,10

Diagnosa jenis tertentu dari penyakit paru-paru (terutama asma , bronkitis , dan
emfisema)
Menemukan penyebab sesak napas
Mengukur apakah paparan kontaminan di tempat kerja mempengaruhi fungsi paru-paru

Spirometri mengukur aliran udara. Dengan mengukur berapa banyak udara Anda
mengeluarkan napas, dan seberapa cepat, spirometri dapat mengevaluasi berbagai penyakit paru-
paru. Volume paru-paru mengukur jumlah udara di paru-paru tanpa paksa meniup. Beberapa
penyakit paru-paru (seperti emfisema dan bronkitis kronis) dapat membuat paru-paru berisi
udara terlalu banyak. Penyakit paru-paru lainnya (seperti fibrosis paru-paru, bisinosis
dan asbestosis ) membuat paru-paru terluka dan lebih kecil sehingga mereka berisi udara terlalu
sedikit.10 Pengujian kapasitas difusi memungkinkan dokter untuk memperkirakan seberapa baik
paru-paru memindahkan oksigen dari udara ke dalam aliran darah.

2. Pajanan yang Dialami

Asbes

Asbes merupakan campuran fibrosa silikat yang sangat resisten terhadap


degradasi. Serat-seratnya mempunyai lebar 1-2m, tetapi panjangnya sampai 50 m
(asbes biru) atau 2 cm (asbes putih). Oleh karena itu, asbes mudah terperangkap dalam
paru. Asbes biru jauh lebih berbahaya. Adanya asbes dalam gedung dan interval panjang
antara pajanan dan perkembangan penyakit terkait asbes akan terjadi sewaktu-waktu.
Badan asbes (serat yang dilapisi protein) dalam paru merupakan indikasi adanya pajanan,
tetapi bukan penyakit. Jenis dan luas penyakit sebagian besar bergantung pada pajanan.

6
Asbestosis adalah penyakit paru fibrosis yang berkembang sampai 10 tahun setelah
pajanan berat. Pasien datang dengan dispnea progresif, ronki basah di basal pada inspirasi
dan kadang-kadang jari tabuh. Terdapat defek restriktif dungsi paru dengan bayangan
difus bergaris-garis pada foto toraks dan menebalnya pleura viseralis. Paru sarang lebah
sering menonjol pada lobus bawah.11-13

Batu bara

Penyakit terjadi akibat penumpukan debu batubara di paru dan menimbulkan reaksi
jaringan terhadap debu tersebut. Penyakit ini terjadi bila paparan cukup lama , biasanya
setelah pekerja terpapar >10 tahun. Berdasarkan gambaran foto Thorax dibedakan atas
bentuk simple dan complicated. Simple Coal Workers Pneumoconiosis (Simple CWP)
terjadi karena inhalasi debu batubara saja. Gejalanya hampir tidak ada, dan bila paparan
tidak berlanjut maka penyakit ini tidak akan memburuk. Penyakit ini dapat berkembang
menjadi bentuk complicated. Complicated Coal Workers Pneumoconiosis atau Fibrosis
Masif Progresif (PMF) ditandai adanya daerah fibrosis yang luas hampir selalu terdapat
di lobus atas. Pada daerah fibrosis dapat timbul kavitas dan ini bisa menyebabkan
pneumotoraks; foto thorax pada PMF sering mirip tuberkulosis, tetapi sering ditemukan
bentuk campuran karena terjadi emfisema. Tidak ada korelasi antara kelainan faal paru
dan luasnya lesi pada foto thorax. Gejala awal biasanya tidak khas. Batuk dan sputum
menjadi lebih sering, dahak berwarna hitam (melanoptisis). Kerusakan yang luas
menimbulkan sesak napas yang makin bertambah, pada stadium lanjut terjadi kor
hipertensi pulmonal, gagal ventrikel kanan dan gagal napas.

Silika

Pada silikosis, inhalasi berlebih atau dalam jangka waktu lama dari partikel silica
bebas (silicon dioksida) pada rentang 0,3-5 mm menyebabkan terbentuknya bulatan kecil
yang opak (nodul silikotik) di sepanjang paru. Prevalensinya tergolong rendah di negara
maju. Kalsifikasi di hilus paru bagian tepi (eggshell kalsifikasi) merupakan temuan
radiografi yang tidak umum namun dapat menunjukkan adanya suatu silikosis. Silikosis
simpel biasanya asimptomatik dan tidak memberikan gejala pada pemeriksaan faal paru.
Pada silikosis yang berat, dapat ditemukan densitas bergumpal di paru bagian atas dan

7
sering disertai dengan sesak serta obstruksi dan restriksi paru. Insidens TB paru
meningkat pada pasien dengan silikosis. Seluruh pasien dengan silikosis sebaiknya
melakukan tes tuberculin dan foto radiologi toraks. Pekerjaan yang merupakan risiko
meliputi pekerja pertambangan, tukang batu, pembuat amplas, pengecor logam, dan
pekerja di pabrik kaca. Secara klinis terdapat 3 bentuk silikosis, yakni silikosis akut,
silikosis kronik, silikosis terakselerasi.

Silikosis Akut

Penyakit dapat timbul dalam beberapa minggu, bila pekerja terpapar dengan
konsentrasi sangat tinggi. Perjalanan penyakit sangat khas, yaitu gejala sesak napas yang
progresif, demam, batuk dan penurunan berat badan setelah paparan silika konsentrasi
tinggi dalam waktu relatif singkat. Lama paparan silika berkisar antara beberapa minggu
hingga 4 atau 5 tahun. Kelainan Faal paru yang timbul adalah restriksi berat dan
hipoksemia disertai penurunan kapasitas difusi.

Silikosis Kronik

Kelainan pada penyakit ini mirip dengan pneumokoniosis pekerja tambang batubara,
yakni terdapat nodul yang biasanya dominan di lobus atas. Bentuk silikosis kronik paling
sering ditemukan, terjadi setelah paparan 20 hingga 45 tahun oleh kadar debu yang relatif
rendah. Pada stadium simple, nodul di paru biasanya kecil dan tanpa gejala/ minimal.
Walaupun paparan tidak ada lagi, namun kelainan paru dapat menjadi progresif sehingga
terjadi fibrosis yang masif.

Pada silikosis kronik yang sederhana, foto toraks menunjukkan nodul terutama di
lobus atas dan mungkin disertai kalsifikasi. Pada bentuk lanjut terdapat massa yang besar
yang tampak seperti sayap malaikat (angels wing). Sering terjadi reaksi pleura pada lesi
besar yang padat. Kelenjar hilus biasanya membesar dan membentuk bayangan egg shell
calcification. Jika fibrosis masif progresif terjadi, volume paru berkurang dan bronkus
mengalami distorsi. Faal paru menunjukkan gangguan restriksi, obstruksi atau
campuran. Kapasitas difusi dan komplian menurun. Timbulnya gejala sesak napas,
biasanya disertai batuk dan produksi sputum. Sesak pada awalnya terjadi saat aktivitas,
kemudian pada waktu istirahat dan akhirnya timbul gagal kardiorespirasi.

8
Silikosis Terakselerasi

Bentuk kelainan ini serupa dengan silikosis kronik, hanya saja perjalanan penyakit
lebih cepat dari biasanya, menjadi fibrosis masif, sering terjadi infeksi mikobakterium
tipikal/atipik. Setelah paparan 10 tahun sering terjadi hipoksemia yang berakhir dengan
gagal napas.

3. Hubungan Pajanan dengan Penyakit


Patofisiologi terjadinya pneumoconiosis (berlaku untuk semua debu):

Debu dari batu bara terinhalasi. Debu yang berukur 5-10 m akan tertahan oleh
silia epithelium saluran nafas, dan debu yang berukuran 1-3 m akan masuk sampai
ke struktur aciner paru (alveoli, sakus alveoli, ductus alveoli, bronkiolus
respiratorius). Debu yang masuk ini merangsang sel-sel leukosit, terutama makrofag,
untuk mobilisasi ke alveolinya untuk mengusir partikel-partikel debut tersebut.
Makrofag atau dust cell ini akan memfagosit debu, kemudian akan di dorong keluar
oleh silia bronkiolar dan keluar melalui sputum. Debu yang tertinggal akan
mempenetrasi membrane respirasi untuk dibawa oleh makrofag ke saluran limfe.
Makrofag akan tersangkut oleh elemen jaringan kemudian akan menstimulasi
pembentukan agregasi limfoid di dalam saluran limfe intrapulmonair, ruang
perivaskular dan ruang peribronkial. Jika jumlah debu yang terinhalasi jauh lebih
banyak dibandingkan dengan yang dapat difagosit makrofag, maka dengan stasisnya
alveolar, makrofag yang mengandung debu akan hancur sehingga terjadi pelepasan
debu kembali. Debu ini akan mempenetrasi membrane alveolar kemudain masuk ke
parenkim paru, pembuluh darah, bronkus, dan struktur paru lainnya. Setelah
penetrasi, sebagian debu ini akan dibawa oleh cairan interstitial dan cairan limfe ke
limfonodus terdekat. Dimana pun partikel debu berakhir (tidak bisa bergerak
kemanapun lagi), jika tidak terfagosit oleh makrofag, maka akan merangsang
pembentukan agregat nodul yang kemudian akan mengalami kolagenasi dan hialinasi

9
membentuk fibrosis sebagai respon tubuh. Fibrosis ini bersifat menarik jaringan
sekitar.

Sebenarnya, jika debunya adalah debu dari batu bara, maka jarang menimbulkan
batuk yang produktif. Biasanya batuk yang terjadi adalah batuk non-produktif.
Namun, lama-kelamaan, jika debu semakin menumpuk, maka dapat terjadi batuk
produktif di mana sputum yang dihasilkan akan sangat kental karena mengandung
partikel yang berat dan hanya dapat dikeluarkan melalui batuk yang kencang.

Pada silicosis, debu silica bersifat toksik sehingga bila difagosit oleh makrofag
dapat membuat makrofag mati. Makrofag yang mati ini dapat memanggil
makrofag-makrofag yang lain, dan makin banyak makrofag yang mati. Oleh
makrofag merupakan bagian dari mekanisme defense awal, dan makrofag banyak
yang mati, orang yang terpapar dengan debu silica akan menjadi rentan untuk terkena
infeksi oleh bakteri, virus, dll.

4. Jumlah Pajanan Cukup Besar dapat mengakibatkan Penyakit


Observasi Tempat/Lingkungan Kerja
Untuk menegakkan diagnosis penyakit akibat kerja, harus ditinjau dari tempat
atau lingkungan pasien bekerja. Pada penyakit pneumokoniosis dapat dilihat bagaimana
pekerja tambang mendapatkan pajanan berupa debu asbes/batu bara/silika yang
terhirup/terhisap selama durasi jam bekerja. Akumulasi pajanan tersebut dapat
mengakibatkan terganggunya sistem pernapasan, seringkali batuk atau sesak nafas,
terutama pada orang perokok.
Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD)
Pada umumnya di tambang, para pekerja diwajibkan memakai alat pelindung diri
dari pajanan berupa debu seperti masker. Tambang tersebut seharusnya menyediakan
masker kepada para pekerjanya. Terjadinya pneumokoniosis dapat terjadi jika pabrik
tidak memberikan masker atau juga akibat kelalaian para pekerja yang tidak memakai
masker. Pemakaian masker pada pekerja tambang dapat menurunkan resiko terkena
penyakit pneumokoniosis.

10
5. Faktor Individu

Status kesehatan fisik :


Apakah ada penyakit alergi yang diderita?
Bagaimana gizi serta pola makannya?
Adakah kebiasaan berolah-raga?
Adakah kebiasaan merokok?
Status kesehatan mental
Kebersihan perorangan

6. Faktor Lain Diluar Pekerjaan


Apakah ada faktor lain yang dapat merupakan penyebab penyakit? Apakah penderita
mengalami pajanan lain yang diketahui dapat merupakan penyebab penyakit. Meskipun
demikian, adanya penyebab lain tidak selalu dapat digunakan untuk menyingkirkan
penyebab di tempat kerja.
Hobi: kegiatan seseorang dapat mempengaruhi keadaan kesehatannya, seperti
berolahraga
Kebiasaan: merokok, minum beralkohol, tidur telat
Pajanan di rumah
Pajanan pada pekerjaan sambilan

7. Diagnosis Okupasi
Setelah menerapkan ke enam langkah di atas perlu dibuat suatu keputusan
berdasarkan informasi yang telah didapat yang memiliki dasar ilmiah. Seperti telah
disebutkan sebelumnya, tidak selalu pekerjaan merupakan penyebab langsung suatu
penyakit, kadang-kadang pekerjaan hanya memperberat suatu kondisi yang telah ada
sebelumnya. Hal ini perlu dibedakan pada waktu menegakkan diagnosis. Suatu
pekerjaan/pajanan dinyatakan sebagai penyebab suatu penyakit apabila tanpa melakukan
pekerjaan atau tanpa adanya pajanan tertentu, pasien tidak akan menderita penyakit tersebut
pada saat ini. Sedangkan pekerjaan dinyatakan memperberat suatu keadaan apabila penyakit

11
telah ada atau timbul pada waktu yang sama tanpa tergantung pekerjaannya, tetapi
pekerjaannya/pajanannya memperberat/mempercepat timbulnya penyakit.

Dari uraian di atas dapat dimengerti bahwa untuk menegakkan diagnosis Penyakit
Akibat Kerja diperlukan pengetahuan yang spesifik, tersedianya berbagai informasi yang
didapat baik dari pemeriksaan klinis pasien, pemeriksaan lingkungan di tempat kerja (bila
memungkinkan) dan data epidemiologis. Hasilnya diagnosis akibat kerja yang dapat
digolongkan menjadi Penyakit Akibat Kerja/Penyakit Akibat Hubungan Kerja/Penyakit
Diperberat Kerja/perlu data tambahan.

Penatalaksanaan

Terapi Medikamentosa

Oksigen dan bronkodilator dapat diberikan jika dibutuhkan. Berhenti merokok sangat
direkomendasikan terhadap pasien dengan pneumoconiosis. Pertimbangkan kemungkinan
infeksi superimposed mycobacterium pada pasien dengan penurunan berat badan tanpa
sebab, batuk kronis, demam atau keringat malam.14

Terapi Non Medikamentosa


o Memberikan penyuluhan dan pengetahuan kepada pekerja mengenai bahaya dari
debu-debu organic tersebut serta tentang penggunaan APD yang benar
o Memberi kebijakan untuk pindah bagian kerja selain di pemintalan dan
penenunan, atau pindah shift kerja bila itu berpengaruh pada pasien

Pencegahan
a. Primer
Memberi penyuluhan kepada pekerja tentang bahaya dari debu dan pajanan lain di
pabrik tempat mereka bekerja
Memberi dan memfasilitasi para pekerja pabrik dengan Alat Pelindung Diri (APD)
seperti masker, sarung tangan dan sebagainya
Mengadakan acara senam/olahraga secara teratur untuk pekerja pabrik dan staff

12
Meningkatkan gizi para pekerja dengan membuat kantin sendiri dengan makanan
yang sehat dan bervariasi.15

b. Sekunder

Melalui peraturan dan administrasi yang dibuat pemerintah, menteri, dan perusahaan
sendiri yang menjamin kesehatan dan keselamatan tenaga kerja
Subsitusi dengan bahan lainnya yang lebih aman bagi kesehatan pekerja
Penurunan kadar debu di udara tempat kerja, misal memakai exhaust fan
Ventilasi yang baik baik umum maupun local
o Ventilasi umum: mengalirkan udara ke ruang kerja melalui pintu dan jendela
o Ventilasi local: pompa ke luar setempat yaitu dengan menghisap debu dari
sumber debu yang dihasilkan dan mengurangi sedapat mungkin debu didaerah
kerja para pekerja. Ini manfaatnya besar dalam melindungi pekerja.

c. Tersier
Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja juga berguna untuk tidak menerima
penderita-penderita dengan sakit paru untuk ditempatkan pada tempat yang penuh
debu.
Pemeriksaan berkala untuk menemukan penderita-penderita pneumokoniosis sedini
mungkin yang kemudian dapat dipindahkan pekerjaan agar kecacatan dapat dicegah.

Prognosis
Gejala biasanya membaik setelah menghentikan paparan debu. Paparan terus dapat
menyebabkan fungsi paru-paru berkurang. Gejala simtomatik dapat diberikan terapi simtomatik.
Bila ada kecurigaan tuberculosis, segera terapi dengan obat anti tuberculosis.

Kesimpulan

Sebenarnya, jika debunya adalah debu dari batu bara, batuk yang terjadi adalah batuk
non-produktif. Namun, lama-kelamaan, jika debu semakin menumpuk, maka dapat terjadi batuk
produktif di mana sputum yang dihasilkan akan sangat kental karena mengandung partikel yang
berat dan hanya dapat dikeluarkan melalui batuk yang kencang.

13
Pada silicosis, debu silica bersifat toksik sehingga bila difagosit oleh makrofag dapat
membuat makrofag mati dan menurunkan sistem imun tubuh. Orang yang terpapar dengan debu
silica akan menjadi rentan untuk terkena infeksi oleh bakteri, virus, terutama infeksi
Mycobacterium.

Asbestosis seperti halnya silikosis, dapat berkembang walaupun sudah disingkirkan dari
pajanan. Pengobatan bersifat simtomatis. Tindakan pencegahan dimulai dari tindakan substitusi
asbes menggunakan bahan lain, penutupan lokasi pengolahan, pemasangan ventilasi lokal, dan
proteksi respirasi. Pasien yang terpajan disarankan untuk berhenti merokok untuk memperkecil
efek gabungan terhadap paru dan risiko kanker paru.

Daftar Pustaka

1. Yunus F, Rasmin M, Hudoyo A, Mulawarman A, Swidarmoko B, editor. Pulmonologi klinik.


Jakarta: Balai penerbit FKUI; 1992. P.205-214.
2. Kleiner AI, Makotchenko VM, Efremova VA, Kashin LM, Mangasarova SN, Klimenko TA.
Epidemiology of pneumoconiosis and dust bronchitis in machine-building industry workers. Gig
Tr Prof Zabol. 1991;(7):10-2.
3. Ridley J. Iktisar Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Erlangga: Jakarta. 2006. Hal : 253-6
4. K3 SP ITB. Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Edisi Januari 2009. Tersedia dari
URL http://kesehatandankeselamatankerja.blogspot.com/2009/01/pengertian-kesehatan-dan-
keselamatan.html. Diunduh tanggal 11 Oktober 2015.
5. Sumamur, PK. Higine Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Sagung Seto: Jakarta .2009. Hal: 245-
59.
6. Yunus F. Dampak Debu Industri pada Paru Pekerja dan Pengendaliannya. Cermin Dunia
Kedokteran :Jakarta.2007. Hal : 45-50.
7. Rahmatullah P. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Pneumonitis dan Penyakit Paru Lingkungan.
Jilid II Edisi keempat.FK UI : Jakarta. 2007. Hal 103-6
8. Levy, S. Barry. Wegman, David H. Occupational Health : Regocnizing and Preventing Work
Related Disease and Injury. 4th Edition. Lippincott Williams & Wilkin : USA. 2005. Hal : 477-
502
9. Ridley J. Iktisar Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Erlangga : Jakarta. 2006. Hal : 253-6

14
10. MedicaStore. Penyakit Paru dan Saluran Nafas: Pneumokoniosis. Edisi 2008. Tersedia dari
http://medicastore.com/penyakit/424/Pneumokoniosis_(Penyakit_Paru-paru_Hitam).html.
Diunduh tanggal 11 Oktober 2015.
11. McPhee SJ, Papadakis MA. Occupational Pulmonary Disease. In: Current Medical Diagnose and
Treatment. New York: Mc Graw Hill; 2009. p 271-3
12. Faunci et al. Environmental Lung Diseases. In: Harisons Manual of Medicine. New York: Mc
Graw Hill; 2009. p 756-9
13. Jeremy et al. Penyakit paru terkait lingkungan dan pekerjaan. In: At a Galance Sistem Respirasi.
Jakarta: Erlangga Medical Series; 2008. p 70-1
14. Khan FJ. Coal workers pneumoconiosis treatment and management. Edisi 2014. Tersedia di
http://emedicine.medscape.com/article/297887-treatment. Diunduh 12 Oktober 2015.
15. Rahmatullah P. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Pneumonitis dan Penyakit Paru Lingkungan.
Jilid II Edisi keempat. FKUI : Jakarta. 2007. Hal 103-6.

15