Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan

pelayanan kesehatan perseorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan

rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat. Tujuan rumah sakit adalah mewujudkan

derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi semua lapisan masyarakat, adapun

pendekatan yang dilakukan meliputi pemeliharaan kesehatan, pencegahan

penyakit, penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan yang dilaksanakan

secara menyeluruh sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku

(Permenkes No.56, 2014). Rumah sakit merupakan sarana upaya kesehatan yang

menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan dengan mengutamakan

penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan secara kompleks. Pelayanan yang

kompleks perlu dikelola secara profesional terhadap sumber daya manusianya.

Salah satu tenaga penyedia jasa pelayanan di rumah sakit adalah tenaga perawat

(Depkes, 2011).

Perawat sebagai tenaga profesional mempunyai peranan yang penting guna

mendapatkan kualitas pelayanan keperawatan yang optimal. Keperawatan adalah

kegiatan memberikan asuhan kepada individu, keluraga, kelompok, atau

masyarakat baik dalam keadaan sakit maupun sehat (UU No.38, 2014). Perawat

memberikan pelayanan dirumah sakit selama 24 jam sehari, serta mempunyai

kontak yang konstan dengan pasien. Pelayanan keperawatan menjadi salah satu

faktor penentu kualitas pelayanan dan citra rumah sakit dimata masyarakat. Hasil
penelitian Suas Robi Cahyadi (2014) menunjukan bahwa kepuasaan pasien

terhadap perawatan yang diberikan perawat selama di rawat inap mempengaruhi

mutu rumah sakit itu sendiri. Melihat pentingnya tugas dan fungsi perawat maka

rumah sakit membutuhkan tenaga perawat yang profesional dalam memberikan

asuhan keperawatan. Profesionalisme kerja perawat tidak terlepas dari dorongan

atau semangat dalam diri atau lingkungan tempat bekerja, dorongan atau semangat

tersebut sering disebut sebagai motivasi (Marquis & Huston, 2010).

Motivasi kerja merupakan suatu kondisi/keadaan yang mempengaruhi

seseorang untuk terus meningkatkan, mengarahkan serta memelihara perilakunya

yang berhubungan baik secara langsung dengan lingkungan kerjanya. Motivasi

yang dimiliki oleh seseorang berkaitan dengan upaya untuk memenuhi kebutuhan,

maka kuatnya motivasi seseorang bergantung pada besar atau kecilnya keyakinan

dalam diri individu itusendiri bahwa ia akan berhasil dalam memenuhi

kebutuhannya (Zulfan Saam, 2012). Seseorang yang termotivasi dalam bekerja

biasanya akan melaksanakan upaya substansial guna menunjang tujuan-tujuan

produksi kesatuan kerjanya dan organisasi tempat bekerja, sedangkan seseorang

yang tidak termotivasi hanya memberikan upaya minimum dalam hal bekerja

(Duha, 2016). Sama halnya seperti perawat, perawat yang tidak termotivasi dalam

bekerja maka akan memberikan upaya yang minimum juga dalam melakukan

asuhan keperawatan. Motivasi yang baik akan menghasilkan kinerja yang baik, hal

ini dibuktikan dari hasil penelitian Mulyono, Hamzah, & Abdullah (2012) di

Ambon yang menyatakan 64.29% motivasi kerja perawat tidak baik dengan hasil

kinerjanya yang tidak baik pula. Penelitian lain yang dinyatakan oleh Wahyuni

2
(2012) bahwa ada hubungan motivasi kerja dengan kinerja perawat pelaksana di

Rumah Sakit Bhayangkara Medan dengan nilai p=0.006. Motivasi kerja menjadi

faktor penting dan motor penggerak dalam menentukan tingkat prestasi kerja dan

mutu pencapaian tujuan organisasi (Duha, 2016).

Banyak faktor yang mempengaruhi motivasi seorang perawat dalam

memberikan asuhan keperawatan kepada pasien menurut Sitorus & Panjaitan

(2011) menyatakan bahwa motivasi kerja perawat dipengaruhi oleh dua faktor,

faktor intrinsik yaitu faktor staf dan faktor ekstrinsik yaitu lingkungan kerja dan

kepemimpinan. Namun, motivasi kerja seseorang juga dapat dipengaruhi oleh

karakteristik individu sendiri seperti umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan

lama bekerja. Karakteristik perawat mempengaruhi motivasi kerja perawat dalam

memberikan pelayanan keperawatan secara maksimal, hal ini sejalan dengan

penelitian Jovita Greis, dkk (2013) yang menyatakan bahwa salah satu yang

mempengaruhi motivasi kerja perawat adalah faktor instrinsik salah satunya

karakteristik individu seperti umur, jenis kelamin, lama kerja dan status pendidikan.

Robbins, S.P (2008), menyatakan bahwa karakteristik individu seperti umur, masa

kerja, dan status pernikahan dapat mempengaruhi motivasi individu.

Faktor usia berpengaruh pada motivasi perawat dilihat dari sejumlah kualitas

positif yang dibawa para pekerja lebih tua pada pekerjaan mereka. Tetapi para

pekerja lebih tua juga dipandang kurang memiliki fleksibilitas dan sering menolak

teknologi baru (Robbins, S.P, 2008). Karakteristik seorang perawat berdasarkan

umur sangat berpengaruh terhadap kinerja dalam praktik keperawatan, dimana

semakin tua umur perawat maka dalam menerima sebuah pekerjaan akan semakin

3
bertanggung jawab dan berpengalaman. Usia yang semakin meningkat akan

meningkatkan pula kebijaksanaan seseorang dalam mengambil keputusan, berpikir

rasional, mengendalikan emosi, dan bertoleransi terhadap pandangan orang lain,

sehingga berpengaruh terhadap peningkatan kinerjanya (Robbins & Judge, 2008).

Robbins & Judge (2008) menyatakan bahwa orang-orang yang memiliki

pendidikan yang lebih tinggi akan memiliki pengetahuan yang lebih tinggi pula jika

dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki pendidikan yang rendah dan

melalui pendidikan seseorang dapat meningkatkan kematangan intelektual

sehingga dapat membuat keputusan dalam bertindak. Salah satu faktor yang dapat

meningkatkan produktifitas adalah pendidikan, dimana memberikan pengetahuan

bukan saja yang langsung dengan pelaksanaan tugas, tetapi juga landasan untuk

mengembangkan diri serta kemampuan memanfaatkan semua sarana yang ada di

sekitar kita untuk kelancaran tugas. Tenaga keperawatan yang berpendidikan tinggi

motivasi kerjanya akan lebih baik karena telah memiliki pengetahuan dan wawasan

yang lebih luas dibandingkan dengan perawat yang berpendidikan rendah.

Menurut Nursalam (2012) bahwa semakin banyak masa kerja perawat maka

semakin banyak pengalaman perawat tersebut dalam memberikan asuhan

keperawatan yang sesuai dengan standar atau prosedur tetap yang berlaku.

Kenyataan menunjukkan makin lama tenaga kerja bekerja, makin banyak

pengalaman yang dimiliki tenaga kerja yang bersangkutan. Sebaliknya, makin

singkat masa kerja, makin sedikit pengalaman yang diperoleh. Pengalaman bekerja

banyak memberikan keahlian dan keterampilan kerja. Sebaliknya, terbatasnya

pengalaman kerja mengakibatkan tingkat keahlian dan keterampilan yang dimiliki

4
makin rendah. Hal ini dibuktikan dari hasil penelitian berdasarkan lama kerjanya,

dimana perawat dengan masa kerja lebih dari 3 tahun memiliki pengetahuan lebih

baik dibandingkan perawat yang memiliki masa kerja kurang dari 3 tahun, yang

membuat kinerja perawat tersebut lebih memuaskan (Fisella Wilfin, 2014).

Robbins & Judge (2008) memandang bahwa wanita yang telah menikah

memiliki kecenderungan secara tradisi bertanggung jawab pada perawatan

keluarga, maka wanita biasanya mengambil cuti atau libur pada saat ada anggota

keluarga yang sakit, sehingga terlihat bahwa wanita memiliki tingkat

ketidakhadiran lebih tinggi dibandingkan dengan pria. Penelitian yang dilakukan

oleh Fisella Wilfin, dkk (2014) dimana perawat yang sudah menikah (55%)

memiliki motivasi baik lebih besar dari perawat yang belum menikah (45%) ini

membuktikan bahwa individu yang telah menikah akan terdapat peningkatan

tanggung jawab dan pekerjaan tetap menjadi lebih berharga dan penting. Mayoritas

pekerja yang loyal dan puas terhadap pekerjaannya adalah pekerja yang telah

menikah.

Sebagai tenaga kesehatan, perawat memiliki sejumlah peran di dalam

menjalankan tugasnya sesuai dengan hak dan kewenangan yang ada (Asmadi,

2008). Salah satu peran perawat adalah sebagai pemberi asuhan keperawatan atau

care provider. Peran perawat sebagai care provider harus dilaksanakan secara

komprehensif atau menyeluruh, tidak hanya berfokus pada tindakan promotif tetapi

juga pada tindakan preventif seperti pelaksanaan personal hygiene. Peran perawat

sebagai care provider dalam pelaksanaan personal hygiene ini akan lebih dominan

apabila dilaksanakan pada pasien dengan imobilisasi fisik (Andarmoyo, 2012).

5
Keadaan imobilisasi ini menyebabkan pasien tidak dapat memenuhi kebutuhannya

secara mandiri sehingga memerlukan bantuan perawat maupun keluarga dalam

pemenuhan kebutuhannya termasuk dalam pemenuhan kebutuhan kebersihan diri.

Menurut Respati (2014), Personal hygiene merupakan hal yang sangat penting

dan harus diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari karena kebersihan dapat

mempengaruhi kesehatan. Personal hygiene yaitu tindakan untuk memelihara

kesehatan seseorang atau pasien untuk kesejahteraan fisiknya agar terhindar dari

berbagai penyakit. Dalam membantu pasien untuk pelaksanaan personal hygiene

perawat perlu melakukan pendekatan kepada pasien supaya bisa menciptakan

tindakan yang efisien dan efektif menjaga hubungan saling percaya antara perawat

dengan pasien. Apabila personal hygiene tidak dilakukan maka pasien akan tidak

merasa nyaman dan merasa gelisah karena tidak hygienisnya badan pasien dan akan

berakibat menimbulkan kegelisahan, letih lesu dan malas dan terkadang akan

terjadinya gangguan penyakit seperti gatal dan juga bisa terjadinya lesi

(Andarmoyo, 2012). Klien yang mengalami keterbatasan kebersihan selalu

membutuhkan personal hygiene untuk kebersihan diri demi terhindar dari kuman di

ruangan setiap rumah sakit, seperti gosok gigi, mandi, cuci muka, cuci rambut dan

lain lain sebagainya (Tarwoto & Wartonah, 2010).

Terpenuhinya pelaksanaan personal hygiene oleh perawat dapat dinilai dari

tingkat kepuasan pasien , hal ini sejalan dengan penelitian Ketut Suardana (2007

tentang Hubungan tingkat pemenuhan kebersihan diri dengan tingkat kepuasan

pasien imobilisasi di RSUP Sanglah yang menunjukkan hasil tingkat pemenuhan

kebersihan diri rata-rata 0,54 kali yang berarti pasien kadang dimandikan dan

6
kadang-kadang tidak dipenuhi kebersihan dirinya oleh perawat sehingga tingkat

kepuasan pasien rendah. Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Sulistiyowati

dan Handayani (2012) tentang peran perawat dalam pelaksanaan personal hygiene

menurut persepsi pasien imobilisasi fisik didapatkan bahwa sebanyak 77 responden

(54,6 %) mengatakan baik dan sebanyak 64 responden (45,4 %) mengatakan buruk.

Hasil ini menunjukkan bahwa sebenarnya masih ada 45,4% pasien yangmemiliki

personal higiene rendah akibat dari peran perawat masih kurang dalam pelaksanaan

personal hygiene pada pasien.

Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar merupakan rumah sakit

rujukan utama Provinsi Bali, NTB dan NTT yang memiliki visi menjadi rumah sakit

unggulan dalam bidang pelayanan, pendidikan dan penelitian tingkat nasional dan

internasional. Ruang Ratna dan Ruang Medical Surgical RSUP Sanglah merupakan

ruang rawat inap di IGD yang difungsikan sebagai ruang observasi pasien dengan

kasus kegawatan yang berisiko tinggi dan mengancam kehidupan sehingga

memerlukan terapi intensif segera dan pemantauan alat-alat canggih yang dipasang

pada tubuh klien (Kepmenkes RI No. 834 tahun 2010). Kondisi pasien di Ruang

Ratna dan Ruang Medical Surgical termasuk pada kelompok ketergantungan tinggi

karena membutuhkan perhatian dan bantuan yang lebih spesifik dibandingkan

pasien-pasien lain serta keadaan umum pasien dengan observasi ketat. Pasien-

pasien yang dirawat adalah pasien kasus neuro, bedah, dan interna yang

memerlukan observasi ketat.

Dari hasil studi pendahuluan yang peneliti lakukan di Ruang rawat inap

Medical Surgical dan Ratna RSUP Sanglah pada bulan Januari 2017 kepada Kepala

7
Ruangan Ruang Rawat Inap Medical Surgical dan Ratna didapatkan data sebagai

berikut: jumlah perawat di di ruang rawat inap Medical Surgical sebanyak 31 orang

dan di ruang rawat inap Ratna sebanyak 36 orang dengan pembagian jumlah

perawat pershiftnya yaitu delapan orang shift pagi, enam orang shift sore, tujuh

orang shift sore dan enam orang libur dan jumlah kapasitas tempat tidur di ruang

rawat inap Medical Surgical sebanyak 34 TT dan ruang rawat inap Ratna sebanyak

40 TT. Setiap perawat baik di ruang rawat inap Medical Surgical dan Ratna rata-

rata rasio perbandingannya dengan jumlah pasien yaitu 1:6 dengan tingkat WLI

nilai rata-rata 7 sampai 8 perhari di ruang rawat inap Medical Surgical dan Ruang

Rawat Inap Ratna nilai rata-rata perhari 6 sampai 8 ini menyatakan beban kerja

perawat dikedua ruang rawat inap ini tinggi. Pendidikan rata-rata di kedua ruangan

adalah S1 dan D3, di ruang rawat inap Medical Surgical perawat berpendidikan S1

(19,3%) dan D3 (80,7%), sedangkan di ruang rawat inap Ratna perawat

berpendidikan S1 (25 %) dan D3 (75%). Persentase perawat laki-laki di ruang rawat

inap Medical Surgical (22.5%) dan perempuan (77.5%), sedangkan di ruang rawat

inap Ratna laki-laki (16.7%) dan perempuan (83.3%). Rentang usia perawat di di

ruang rawat inap Medical Surgical yaitu usia 26-35 tahun (45.2%), usia 36-45 tahun

(50%) dan >45 tahun (4.8%), di ruang rawat inap Ratna yaitu 26-35 tahun dan usia

36-45 tahun (41.7%) sedangkan usia >45 tahun (16.6%).

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti ke Bagian Humas

RSUP Sanglah dan didapatkan hasil 80%, hal ini menunjukkan bahwa pelayanan di

RSUP Sanglah sudah cukup baik. Pada tahun 2016 juga diadakan penilaian tentang

Standar Asuhan Keperawatan (SAK) disertai dengan penyebaran kuisioner tentang

8
kepuasan perawatan diseluruh ruang rawat inap oleh Bidang Keperawatan RSUP

Sanglah, dimana dalam kuisioner tersebut salah satu pertanyaan berhubungan

dengan kepuasan terhadap pemenuhan kebersihan diri pasien oleh perawat ruangan

dengan hasil 50% menjawab kurang puas. Menanggapi hasil tersebut, peneliti

kemudian melakukan wawancara terhadap pasien dan keluarga di Ruang rawat inap

Medical Surgical dan Ratna tentang kepuasaan terhadap pelaksanaan perawatan

kebersihan diri di ruangan, didapatkan sebesar 60% mengatakan masih kurang puas

dan 40% orang mengatakan sudah puas terhadap pelaksanaan perawatan kebersihan

diri di ruangan. Hal ini menunjukkan motivasi kerja perawat dalam melakukan

perawatan kebersihan diri pada pasien diruangan masih kurang baik, dilihat dari

tingkat kepuasan pasien terhadap pemenuhan kebersihan diri yang dilakukan

perawat.

Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka peneliti tertarik untuk

mengidentifikasi Hubungan Karakteristik Perawat dengan Motivasi Perawat dalam

Pemenuhan Kebutuhan Kebersihan Diri Pasien di Ruang Rawat Inap Medical

Surgical dan Ratna RSUP Sanglah Denpasar.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, penulis dapat merumuskan suatu

masalah yang dapat diangkat dalam penelitian sebagai berikut Apakah ada

Hubungan Karakteristik Perawat dengan Motivasi Perawat dalam Pemenuhan

Kebutuhan Kebersihan Diri Pasien di Ruang Rawat Inap Medical Surgical dan

Ratna RSUP Sanglah Denpasar

9
1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan umum

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Hubungan Karakteristik Perawat

dengan Motivasi Perawat dalam Pemenuhan Kebutuhan Kebersihan Diri Pasien di

Ruang Rawat Inap Medical Surgical dan Ratna RSUP Sanglah Denpasar.

1.3.2. Tujuan khusus

1.3.2.1 Mengidentifikasi karakteristik perawat di Ruang Rawat Inap Medical

Surgical dan RatnaRSUP Sanglah Denpasar.

1.3.2.2 Mengidentifikasi motivasi perawat dalam pemenuhan kebutuhan

kebersihan diri pasien di Ruang Rawat Inap Medical Surgical dan Ratna

RSUP Sanglah Denpasar.

1.3.2.3 Menganalisa hubungan karakteristik perawat dengan motivasi perawat

dalam pemenuhan kebutuhan kebersihan diri pasien di Ruang Rawat Inap

Medical Surgical dan Ratna RSUP Sanglah Denpasar.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan (Rumah Sakit)

Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi bagi rumah

sakit sebagai dasar untuk menentukan kebijakan, sebagai media informasi bagi

institusi, dan evaluasi, serta sebagai masukan guna meningkatkan kinerja perawat

dalam pelaksanaan pemenuhan kebutuhan kebersihan diri yang dilakukan oleh

perawat.

1.4.2 Bagi Perawat

Sebagai masukan bagi perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan

10
yang efektif (khususnya dalam hal pelaksanaan pemenuhan kebutuhan kebersihan

diri) pada pasien rawat inap dan sebagai evaluasi jalannya pelaksanaan asuhan

keperawatan pemenuhan kebutuhan kebersihan diri.

1.4.3 Bagi Institusi Pendidikan

Manfaat yang bisa diperoleh bagi institusi pendidikan adalah diharapkan

dapat memberi informasi untuk pengembangan pendidikan keperawatan

khususnya tentang kebersihan diri. Penelitian ini dapat digunakan sebagai salah

satu media pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik dan diharapkan

dalam pelaksanaan perkuliahan memperbanyak latihan atau simulasi dalam

penerapan kebersihan diri sehingga peserta didik dapat termotivasi nantinya untuk

menerapkan dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien.

1.4.4 Bagi Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan dapat

sebagai dasar penelitian yang berkaitan dengan motivasi dan kebersihan diri.

1.5 Keaslian Penelitian

Peneliti belum pernah menemukan penelitian dengan judul yang sama, namun

terdapat penelitian yang memiliki judul yang serupa dilakukan oleh :

1.5.1 Siti Annisa Zakiyyah Noordin 2012 dengan judul Gambaran Faktor

Motivasi Perawat dalam Pemenuhan Kebutuhan Kebersihan diri Pasien di

Ruang Rawat Inap RSUD Sumedang . Tujuan penelitian ini adalah untuk

melihat faktor motivasi apa yang paling banyak muncul terhadap perawat

dalam pemenuhan kebutuhan kebersihan diri. Penelitian ini menggunakan

metode deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel secara total sampling

11
sebanyak 65 orang perawat. Analisa data menggunakan Modus (Mo) dengan

hasil penelitian faktor motivasi yang paling banyak adalah motivasi intrinsik

(75,4%) yang mana hasil tersebut dikatakan baik karena faktor intrinsik

merupakan motivasi dari dalam diri individu yang mengarah kepada kepuasan

individu dalam bekerja, menyelesaikan tugas, dan kemajuan mereka selagi

mereka bekerja di instansi tersebut. Peneliti ingin melakukan penelitian terkait

namun dengan variabel karakteristik perawat sebagai variabel independen dan

motivasi dalam pelaksanaan pemenuhan kebutuhan kebersihan diri sebagai

variabel dependen, sedangkan tempat penelitian sekarang bertempat di ruang

rawat inap RSUP Sanglah. Selanjutnya pada teknik analisa data, penelitian

sekarang menggunakan rank spearman dengan pengambilan sampel secara

total sampling.

1.5.2 Ervina Novi Susanti 2013 dengan judul Hubungan Karakteristik Perawat

Pelaksana dengan Motivasi Perawat dalam pemenuhan kebutuhan kebersihan

diri pasien di Ruang Rawat Inap RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso. Tujuan

penelitian untuk menganalisis hubungan karakteristik perawat pelaksana

dengan motivasi perawat dalam pemenuhan kebutuhan kebersihan diri. Desain

penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi korelasi, dengan

jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan

cross sectional. Populasi pada penelitian ini sebanyak 71 perawat pelaksana

yang merupakan perawat diruang rawat inap RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso

dengan jumlah sampel 46 perawat pelaksana. Teknik pemilihan sampel yang

digunakan adalah probability sampling. Penelitian dilakukan di RSU dr. H.

12
Koesnadi Bondowoso dan sumber data yang digunakan adalah sumber data

primer yang diperoleh dari kuesioner sebagai alat pengumpul data dan sumber

data sekunder yang diperoleh dari data mengenai perawat pelaksana di RSU

dr. H. Koesnadi Bondowoso. Hasil analisis data karakteristik perawat

pelaksana (usia) dengan motivasi perawat menunjukkan ada hubungan yang

signifikan dengan p value (0,001) < =0,05. Hasil analisis data karakteristik

perawat (jenis kelamin) dengan motivasi perawat menunjukkan tidak ada

hubungan yang signifikan dengan p value (0, 846) > =0,05. Hasil analisis data

karakteristik perawat (tingkat pendidikan) dengan motivasi perawat

menunjukkan ada hubungan yang signifikan dengan p value (0,000) < =0,05.

Hasil analisis data karakteristik perawat (lama bekerja) dengan motivasi

perawat menunjukkan ada hubungan yang signifikan dengan p value (0,006) <

=0,05. Peneliti ingin melakukan penelitian terkait namun dengan variabel

karakteristik perawat sebagai variabel independen dan motivasi dalam

pelaksanaan pemenuhan kebutuhan kebersihan diri sebagai variabel dependen,

sedangkan tempat penelitian sekarang bertempat di ruang rawat inap RSUP

Sanglah. Selanjutnya pada teknik analisa data, penelitian sekarang

menggunakan rank spearman dengan pengambilan sampel secara total

sampling.

13