Anda di halaman 1dari 11

FILSAFAT, AGAMA, ETIKA DAN HUKUM

ABD. KADIR JAELANI 2014 30 259

YAYASAN PENDIDIKAN BONGAYA UJUNG PANDANG


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI MAKASSAR
TAHUN 2017

1
PEMBAHASAN

1. Hakikat Filsafat

Filsafat bersal dari dua kata yunani phlio dan sophia, yang mana phlio berarti berarti
cinta dan sophia berarti bijaksana. Dengan demikian philosophia berarti cinta kepada
kebijaksanaan.(Puad Farid Ismail dan Abdul Hamid Mutawalli 2003).

Karaktereristik utama berpikir filsafat adalah sifatnya yang menyeluruh, sangat


mendasar, dan spekulatif. Sifatnya yang menyeluruh artinya mempertanyakan hakikat
keberadaan dan kebenaran tentang keberadaan itu sendiri sebagai satu kesatuan secara
keseluruhan, bukan dari perspektif bidang perbidang, atau sepotong-sepotong. Sifatnya
yang mendasar bearti bahwa filsafat tidak begitu saja percaya bahwa ilmu adalah benar .
Sifat yang spekulatif karena filsafat selalu ingin mencari jawab bukan saja pada suatu hal
yang sudah diketahui tetapi juga pada suatu hal yang belum diketahui.

Objek filsafat bersifat universal dan mencakup segala sesuatu yang dialami manusia.
Selanjutnya Abdul Kadir Muhamad menjelaskan filsafat dengan melihat unsur-unsur
sebagai berikut :

a. Kegiatan intelektual (pemikiran)


b. Mencari makna yang hakiki (interpretasi)
c. Segala fakta dengan gejala (objek)
d. Dengan cara refleksi, metodis dan sistematis.
e. Untuk kebahagian manusia (tujuan)

Tabel 2 .1. 1 Perbedaan filsafat dengan ilmu

No Aspek Filsafat Ilmu


1. 1. Ontologis Segala sesuatu yang bersifat Segala sesuatu yang bersifat
fisik dan nonfisik, baik yang fisik dan yang dapat di
dapat di rekam melalui rekam melalui indra.
indra maupun yang tidak
2. 2. Epistemologis Pendekatanyang bersifat
Pendekatan ilmiah,
reflektif atau rasional-
menggunakan pendekatan
dedukatif dedukatif dan indukatif
secara saling melengkapi.
3. 3. Aksiologis Sangat abstrak bermanfaat Sangat konkret, langsung
tetapi tidak secara langsung dapat dimanfaaatkan bagi
bagi umat manusia. kepentingan umat manusia.

2
2. Hakikat Agama

Untuk memperolah pemahaman tentang agama, dibawah ini dikutip beberapa


pengertian dan definisi tentang agama.

Agus M. harjana (2005) mengutip pengertian agama dari Ensiklopedi Indonesia karangan
Hasan Shandily.agama berasal dari bahasa sangsakerta : a berarti tidak , gam berarti pergi,
dan a besifat atau keadaan. Jadi istialah agama berarti : bersifat tidak pergi, tetap lestari,
kekal dan tidak berubah. Dengan demikian agama adalah pegangan atau pedoman bagi
manusia utuntuk mencapai hidup kekal.

Faud farid ismail dan Abdul Hamid Mutawalli (2003) menjelaskan bahwa agama adalah
satu bentuk ketetapan Ilahi yang mengarahkan mereka yang berakal dengan pilihan
mereka sendiri terhadap ketetapan Ilahi itu tersebut kepada kebaikan hidup didunia dan
kabahagian hidup di akhirat.

Abdul Kadir Muhammad (2006) memberikan dua rumusan agama, yaitu : (a) menyangkut
hubungan antara manusia dengan suatu kesukaan luar yang lain dan lebih dari pada yang
dialami oleh manusia, dan (b) apa yang disyariatakan Allah dengan perantara para nabi-
Nya, berupa perintah dan laranga-Nya serta petunjuk untuk kebaikan di dunia dan di
akhirat.

Dari beberapa definisi diatas, dapat dirinci rumusan agama berdasar unsur-unsur penting
sebagai berikut :

1. Hubungan manusia degan suatu yang tak terbatas, yang transcendental, yang Ilahi
(Tuhan Yang Maha Esa ).
2. Berisi pedoman dan tingka laku (dalam bentuk larangan dan perintah), nilai-nilai dan
norma-norma yang diwahyukan langsung oleh Ilahi melalui Nabi-nabi.
3. Untuk kebahagian hidup manusia di dunia dan hidup kekal di akhirat.

Sebenarnya dalam pengertian agama tercakup unsure-unsur utama sebagai berikut :

1. Ada kitab suci.


2. Kitab suci ditulis oleh Nabi berdasarkan wahyu langsung dari Tuhan.
3. Ada suatu lembaga yang membina, menuntun umat manusia, dengan menafsirkan
kitap suci bagi kepentingan umatnya.
4. Setiap agama berisi tentang ajaran dan pedoman penting :
a. Tatwa, dogma, doktrin, atau filsafat tentang ketuhanan.
b. Susila, upacara, atau tata etika.
c. Ritual,upacara, atau tata cara beribadat.
d. Tujuan agama.

3
3. Hakekat Etika

Etika barasal dari kata yunani yaitu berasal dari kata ethos (bentuk tunggal) yang
berarti tempat tinggal, padang, rumput, kadang, kebiasaan, adat, watak, perasaan, sikap,
cara berpikir, bentuk jamaknya adalah ta etha, yang berarti adat istiadat. Dalam hal ini
kata etika sama dengan moral. Moral berasal dari kata latin: mos ( bentuk tunggal ), atau
mores ( bentuk jamak ) yang berarti adat istiadat, kebiasaan, kelakuan, watak, tabiat,
akhalk, cara hidup, (Kanter, 2001).

Untuk memperoleh pemahaman lebih lanjut mengenai etika , dibawah ini dikutip
beberapa pengertian etika:

1. Ada dua pengertian etika; sebagai praksis dan sebagai refleksi. Sebagai praksis etika
berarti nilai-nilai dan norma-norma moral baik yang diperaktikan atau justru tidak
diperaktekan, walaupun seharusnya diperaktikan. Tidak boleh dilakukan, pantas
dilakukan, dan sebagainya. Etika sebagai refleksi adalah pemikiran moral (Bartnes,
2001 ).
2. Etika secara etimologis dapat diartikan sebagai ilmu tentang apa yang dilakukan, atau
tentang adat istiadat yang berkenaan dengan hidup yang baik dan yang buruk (
kanter,2001).
3. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Departemen Pendidikan
Dan Kebudayaan (1988), etika dirumuskan dalam pengertian sebagai berikut :
a. Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk, dan tentang hak dan kewajiban moral
(akhlak);
b. Kupulan asas atau nilai yang berkenan dengan akhlak;
c. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

Dari uraian diatas , dapat diketahui bahwa ternyata etika mempunyai banyak arti. Namun
demikian, setidaknya arti etika dapat dilihat dari dua hal berikut:

a. Etika sebagai peraksis; sama dengan moral atau moralitas yang berarti adat istiadat,
kebiasaan, nilai-nilai, dan norma-norma yang berlaku dalam kelompok atau
masyarakat.
b. Etika sebagai ilmu atau tata susila adalah pemikiran/penilaian moral. Etika sebagai
pemikiran moral bisa saja mencapai taraf ilmiah bila proses penalaran terhadap
moralitas tersebut bersifat kritis, metodis, dan sistematis

4
4. Hakikat Nilai
Untuk memahami pengertian nilai secara lebih mendalam, dibawah ini dikutip
beberapa definisi tentang nilai.
Doni Koesoema A. (2007) mendefinisikan nilai sebagai kualitas suatu hal yang
menjadikan hal itu dapat disukai, diinginkan, berguna, dan dihargai sehingga dapat
menjadi semacam objek bagi kepentingan tertentu. Nilai juga merupakan sesuatu yang
memberi makna dalam hidup, yang berikan titik tolak, isi, dan tujuan dalam hidup.
Faud Farid Ismail dan Abdul Hamid Mutawalli (2003) merumuskan nilai sebagai standar
atau ukuran (norma) yang kita gunakan untuk mengukur segala sesuatu. Ada nilai
materialis yang berkaitan dengan ukuran harta pada diri kita, ada nilai kesehatan yang
mengungkapkan tentang siknifikasi kesehatan dalam pandangan kita, ada nilai ideal yang
mengungkapkan kedudukan keadilan dan kesetiaan dalam hati kita, serta ada nilai
sosiologis yang menunjukan signifikasi kesuksesan dalam kehidupan praktis, dan nilai-
nilai yang lain.
Dari penjelasan tetang nilai tersebut, sebenarnya dapat disimpulakn tiga hal, yaitu:
a. Nilai selalu dikaitkan dengan sesuatu (benda, orang, hal).
b. Ada bermacam-macam (gugus) nilaiselain nilai uang (ekonomis) yang sudah cukup
dikenal.
c. Gugus-gugus nilai membentuk semacam heararki dari yang terendah sampai yang
tertinggi.

5. Hubungan Agama, Etika, Dan Nilai


Semua agama melalui kitab sucinya msing-masing mengajarkan tentang tiga hal
pokok, yaitu:
a. Hakikat Tuhan ( God Allah, Gusti Allah, Budha, Brahma, kekuatan tak terbatas, dan
lain-lain).
b. Etika, tata susila dan
c. Rritual, tata cara beribadat.
Jelas sekali bahwa antara agama dan etika tidak dapat dipisahkan. Tidak ada agama yang
tidak mengajarkan etika/moralitas. Kualitas keimanan (spritualitas) seseorang ditentukan
bukan saja oleh kualitas peribadatan (kualitas hubungan manusia dengan tuhan), tetapi
juga oleh kulaitas moral/etika (kualitas hubungan manusia dangan manusia lain dalam

5
masyarakat dan dengan alam). Dapat dikatakan bahwa nilai ibadah menjadi sia-sia tanpa
dilandasi oleh nilai-nilai moral.
Akhirnya, tingkat kenyakinan dan kepasrahan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, tingkat
kualitas peribadatan, dan tingkat kualitas/ moral seseorang akan menentukan
gugus/herarki nilai kehidupan yang telah dicapai. Tujuan agama untuk merealisasikan
nilai tertinggi, yaitu hidup kekal diakhirat (agama hindu menyebut moksa, agama budha
menyebut nirwana). Dari sudut pandang semua agama, pencapain nilai-nilai kehidupan
duniawi (nilai-nilai yang lebih rendah) bukan merupakan tujuan akhir, tetapi hanya
merupakan tujuan sementara atau tujuan antara, dan hanya dianggap sebagai media atau
alat (means) untuk mendukung pencapain tujuan akhir (nilai tertinggi kehidupan).

6. Hukum, Etika, Dan Etiket


Tabel 2 .6. 1 Persamaan dan perbedaan hukum , etika, dan etike
No Hukum Etika Etiket
1. Persamaan : sama-sama mengatur prilaku manusia
2. Perbedaan :
A. A. Sumber hukum : Sumber etika: Sumber etiket :
Negara, pemerintahan Masyarakat Golongan masyarakat
B. B. Sifat pengaturan : Sifat pengaturan: Sifat pengaturan:
Tertulis berupa undang- Ada yang lisan Lisan
undang, peraturan (berupa adat
pemerintah, dan kebiasaan) dan
sebagainya yang tertulis
(berupa kode etik)
C. C. Objek yang di atur : Obek yang di Objek yang di atur :
Bersifat lahiriah atur: bersifat lahiriah,
(misalnya hukum Bersifat rohaniah, misalnya tata cara
warisan, hukum agraria, misalnya : prilaku berpakaian (untuk
hukum tata negara) dan etis ( bersikap pesta, sekolah
rohaniah (misalnya jujur dan tidak pertemuan , dll) tata
hukum pidana) menipu juga cara menerima tamu,
bertanggung tata cara berbicara
jawab) dan dengan orang tua dan
prilaku tidak etis sebagainya.
(korupsi, mencuri,
dan berzina)

6
7. Paradigma Manusia Utuh

7. 1 Karakter Dan Kepribadian

Istilah kepribadian (personality) dan karakter banyak dijumpai dalam ilmu


psikologi. Soedarasono (2002) misalnya mendefenisikan kepribadian sebagai totalitas
kejiwaan seseorang yang menampilkan sisi yang didapat dari keturunan (orang tua)
leluhur dan sisi yang di dapat dari pendidikan, pengalaman hidup, serta lingkungan.
Karakter adalah sisi kepribadian yang di dapat dari pengalaman, pendidikan, dan
lingkungan sehingga bisa di katakan bahwa karakter adalah bagian dari kepribadian. Oleh
karena itu Lilik Agung (2007) mendefinisikan karakter sebagai kompetensi yang harus di
miliki oleh seseorang yang berkaitan dengan kinerja terbaik agar ia mampu menghadapi
tantangan realita / kenyataan yang selalu berubah dan mampu meraih kesuksesan yang
bersifat langgeng.
Dapat di tarik kesimpulan pengertian dari karakter sebagai berikut :
a. Karakter adalah korapetensi yang harus di miliki oleh seseorang.
b. Karakter menentukan keberhasialan seseorang.
c. Karakter dapat di ubah, dibentuk, di pelajari melalui pendidikan dan pelatihan tiada
henti serta melalui pengalaman hidup.Tingkat keberhasilan seseorang di tentukan oleh
tingkat kecocokan karakter yang dimilikinya dengan di tuntun kenyataan/realita.

7. 2 Kecerdasan, Karakter, Dan Etika

Wahyuni Nafis melalui pemahamannya atas ajarn tradisional islam dan di inspirasi oleh
beberapa pemikiran Stephan R Covery ia menyebut tiga jenis kecerdasan dengan tiga
golongan etika : yang di jelaskan dalam tabel berikut :
Tabel 2.7.2. 1 Etika dan karakter
Golongan etika Karakter utama
1. Teo etika 9. Takwa (pasrah diri)
Saling ketergantungan 8. Ikhlas (tulus)
Masalah aku dengan tuhan 7. Tawakal (tahan uji)
2. Sosio etika 6. Silahturahmi (tali kasih)
Ketergantungan 5. Amanah (integritas)
Masalah aku dengan orang lain 4. Huznuzan (baik sangka)
3. Psiko etika 3. Twaduk
Kemandirian 2. Syukur
Masalah aku dengan aku 1. Sabar

7
Tabel 2.7.2. 2 Hubungan Kecerdasaan, Karakter, Sel Dan Etika

Empat Kecerdasan Sepuluh Sifat/Karakter Sel Etika Nafis


Covery Chopra
PQ Efisiensi (setiap sel Psiko Etika
menerima energi untuk
mempertahahnkan hidup)

IQ Kesadaran(kemampuanbera Psiko Etika


daptasi)
Keabadian(meneruskan
penetahuan dan talenta
kepada sel-sel generasi
berikutnya)
EQ Penerimaan (menerima Sosio Etika
kehadiran dan
ketergantungan dengan sel-
sel lain)
Memberi (membantu
integrasi sel-sel lainya)
Pembentukan ikatan
SQ Maksud yang lebih tinggi Teo Etika
Kesatuan
Kreatifitas
Keberadaan

8
7. 3 Karakter Dan Paradigma Pribadi Utuh

Covery telah mengingatkan bahwa untuk membangun manusia berkarakter, di


perlukan pengembangan kompetensi secara utuh dan seimbang terhadap empat
kemampuan manusia yaitu : tubuh (PQ), intelektual (IQ), hati (EQ), dan jiwa (SQ).
Sementara cloud (2007) mengatakan bahwa kunci pembangunan karakter adalah
integritas. Pemahaman atas integritas tidak sekedar berarti jujur atau mempunyai
prinsip moral, tetapi terkandan juga pengertian : utuh dan tidak terbagi, menyatu,
berkonsentrasi kukuh, serta mempunyai konsistensi.

7. 4 Karakter Dan Proses Transformasi Kesadaran Spiritual

Belum banyak ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu mengkaji ranah
spritual melalui pendekatan rasional / ilmiah. Ilmu psikologi mencoba memasuki ranah
kejiwaan, namun dalam perkembanganya ilmu ini justru membatasi kajianya hanya
pada lapisan pikiran (mental/emotional) dan tidak ada upaya untuk masuk lebih dalam
ke ranah roh (kesadaran spritual/transdental). Sementara ajaran agama yang seharusnya
dapat di jadikan panduan dan pengembangan /olahan batin, dalam perjalananya sering
kali pengajaranya lebih bersifat indoktrinasi, sekedar menjalankan praktik berbagai
ritul, serta kurang mengedepankan pendekatan melalui proses nalar, pengalaman, dan
pengalaman langsung melalui refleksi diri. Akibatnya, ajaran agama yang mulia itu
tiidak mampu memberikan pencerahan kepada umatnya.

7. 5 Pikiran, Meditiasi, Dan Gelombang Otak

Olah pikir (brainware management) adalah suatu konsep dan keterampilan untuk
mengatur gelombang otak manusia yang paling sesuai dengan aktifitasnya sehingga
mencapai hasil optimal (Sentanu, 2007) . gelombang otak dapat di golongkan ke dalam
empat golongaan sebagai berikut

9
Tabel 2.7.5. 1 Empat Kategori Gelombang Otak

Nama Ciri-ciri
Beta (14-100 Hz) Kognitif, analisis, logika, otak kiri,
konsentrasi, prasangka, pikiran sadar
aktif, cemas, was-was, khawatir dll
Alpha (8-13,9 Hz) Khusyuk, relaksasi, moditatif, focus-
alaretness, akses naluri bawah sadar,
ikhlas nyaman, tenang, dll
Theta (4-7,9 Hz) Sangat khusyuk, deep mediation ,
mimpi, intuisi, nurani bawah sadar,
ikhlas, kreatif dll
Delta (0,1-3,9 Hz) Tidur lelap, nurani bawah sadar
kolektif, tidak ada pikiran dan
perasaan, celluler regneratiaon, HGH.

Ketika pikiran berada dalam keadaan sadar berarti pikiran sedang berada dalam
gelombang beta. Dalam gelombang ini pikiran sangat aktif sehingga akan memaksa
otak untuk mengeluarkan hormon kortisol dan norepinephirin yang menyebabkan
timbulnya rasa cemas, khawatir, gelisah dan sejenisnya. Oleh karena itu, pikiran harus
selalu di latih untuk memasuki gelombang alpha Untuk membangun karakter positif,
seperti tenang, sabar, nyaman, ikhlas, bahagia dan sejenisnya.

8. Model Pembangunan Manusia Utuh


Berdasarkan konsep yang telah di jelaskan sebelumnya dapat dibuat dua model
tentang hakikat keberadaan manusia.
Menjelaskan suatu model hakikat manusia yang di landasi dengan paradigma tidak
utuh (paradigma materialisme) sehingga menimbulkan berbagai permasalahan yang
memunculkan ketidakbahagian. Pada model ini manusia tujuan manusia hanya mengejar
kekayaan, kesenangan, dan kekuasaan duniawi. Kecerdasaan yang dikembangkan hanya
IQ dan kesehatan fisik sehingga praktis kurang atau bahkan lupa mengembangkan EQ dan
SQ.

10
Model yang di kembangkan untuk kembali pada paradigma tentang manusia secara
seutuhnya. Karakter positif hanya dapat di kembangkan melalui pengembangan hakikat
manusia secara utuh. Dalam pengembangan manusia secara utuh perlu di kembangkan
juga secara seimbang kecerdasan emosional dan spritual di samping kecerdasaan
intelektual dan kesehatan fisik.
Untuk mengatasi hal ini, perlu dikembangkan oaradigma hakikat manusia seutuhnya
dengan mengembangkan sikap dan perilaku hidup etis dalam arti luas, yaitu dengan
memadukan dan menyeimbangkan kualitas kesehatan fisik, pengetahuan intelektual (psiko
etika), kematangan emosional dan kerukunan social (sosio etika), dan kesadaran spiritual
(teo etika). Meditasi, zikir, retret, dan sejenisnya terbukti dapat melengkapi praktik
keagamaan guna meningkatkan kecerdasan emosional dan spiritual. Meditasi/zikir melatih
pikiran memasuki gelombang alpha.Transformasi karakter akan terjadi bila pikiran
memasuki gelombang yang sama dengan energy tak terbatas. Pelatihan dan praktik
meditasi,zikir dan retret akan mengembangkan lapisan emosional dan spiritual serta
melengkapi pengembangan melalui iptek dan kesehatan fisik yang diperoleh melalui olah
raga dan makanan sehat.

11