Anda di halaman 1dari 46

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat serta
hidayah Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah Basic Science2. Makalah ini
dibuat guna memenuhi tugas Semester pendek basic science 2 yang di berikan oleh dosen
atau kordinator mata kuliah sebagai tugas semester pendek program SI Keperawatan Fakultas
Kedokteran Universitas Brawijaya.

Makalah ini saya harapkan dapat memberikan wawasan kepada pembaca.Untuk itu
saya sangatlah mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kelancaran
tugas dan kemajuan pengetahuan kita kedepan. Penyelesaian makalah ini tidak lepas dari
bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, untuk itu saya selaku penulis mengucapkan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah
ini. Saya harapkan mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi saya
sendiri dan umumnya bagi semua mahasiswa Fakultas KedokteranUniversitas Brawijaya
serta bagi pembaca.

Malang, 20 Juli 2013

Tim Penyusun

i
DAFTAR ISI

Halaman
Kata pengantar..................................................................................................................... i

Daftar isi.............................................................................................................................. ii

BAB 1 PATALOGI ANATOMI

1.1 Prinsip Reaksi Radang........................................................................................................ 1

1.2 Penyakit Infeksi.................................................................................................................. 6

BAB II PATOLOGI KLINIK

2.1 Phlebotomi dan Peran Perawat.......................................................................................... 8

2.2 Tehnik Pelaksanaan Phlebotomi........................................................................................ 8

BAB III RADIOLOGI

3.1 Prinsip Radiasi dan Komplikasi........................................................................................ 18

BAB IV FARMAKOLOGI

4.1 Eliminasi Obat.................................................................................................................. 26

BAB V MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI

5.1 Metabolisme Mikroba...................................................................................................... 33

5.2 Pertumbuhan Mikroba..................................................................................................... 37

Daftar Pustaka........................................................................................................................ 43

ii
BAB 1
PATOLOGI ANATOMI

1.1. Prinsip Reaksi Radang

Reaksi radang ( imflamasi) merupakan reaksi respon tubuh yang ditimbulkan


oleh cedera atau kerusakan jaringan karena invasi mikroorganisma atau partikel asing yang
berfungsi menghancurkan, mengurangi, atau mengurung (sekuestrasi) baik agen pencedera
maupun jaringan yang cedera. Reaksi peradangan merupakan reaksi defensif (pertahanan
diri) sebagai respon terhadap cedera berupa reaksi vaskular yang hasilnya merupakan
pengiriman cairan, zat-zat yang terlarut dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan
interstitial pada daerah cedera atau nekrosis. Peradangan dapat juga dimasukkan dalam suatu
reaksi non spesifik, dari hospes terhadap infeksi. Hasil reaksi peradangan adalah netralisasi
dan pembuangan agen penyerang, penghancuran jaringan nekrosis, dan pembentukan
keadaan yang dibutuhkan untuk perbaikan dan pemulihan.

Syarat reaksi radang adalah :

1. Jaringan harus hidup.

2. Memiliki mikrosirkulasi fungsional.

Bentuk peradangan dapat timbul didasarkan atas jenis eksudat yang terbentuk, organ atau
jaringan tertentu yang terlibat dan lamanya proses peradangan. Tata nama proses peradangan
memperhitungkan masing-masing variabel ini. Berbagai eksudat diberi nama deskriptif,
berdasarkan lamanya respon peradangan disebut akut, subakut dan kronik. Lokasi reaksi
peradangan disebut dengan akhiran -tis yang ditambahkan pada nama organ (misalnya;
apendisitis, tonsillitis, gastritis dan sebagainya). Peradangan dan infeksi itu tidak sinonim.
Pada infeksi ditandai adanya mikroorganisme dalam jaringan, sedang pada peradangan belum
tentu, karena banyak peradangan yang terjadi steril sempurna.

1
1. Radang akut

Radang akut adalah respon yang cepat dan segera terhadap cedera yang didesain
untuk mengirimkan leukosit ke daerah cedera. Leukosit membersihkan berbagai mikroba
yang menginvasi dan memulai proses pembongkaran jaringan nekrotik. Terdapat 2
komponen utama dalam proses radang akut, yaitu perubahan penampang dan struktural dari
pembuluh darah serta emigrasi dari leukosit. Perubahan penampang pembuluh darah akan
mengakibatkan meningkatnya aliran darah dan terjadinya perubahan struktural pada
pembuluh darah mikro akan memungkinkan protein plasma dan leukosit meninggalkan
sirkulasi darah. Leukosit yang berasal dari mikrosirkulasi akan melakukan emigrasi dan
selanjutnya berakumulasi di lokasi cedera.

Segera setelah jejas, terjadi dilatasi arteriol lokal yang mungkin didahului oleh vasokonstriksi
singkat. Sfingter prakapiler membuka dengan akibat aliran darah dalam kapiler yang telah
berfungsi meningkat dan juga dibukanya anyaman kapiler yang sebelumnya inaktif.
Akibatnya anyaman venular pasca kapiler melebar dan diisi darah yang mengalir deras.
Dengan demikian, mikrovaskular pada lokasi jejas melebar dan berisi darah terbendung.
Kecuali pada jejas yang sangat ringan, bertambahnya aliran darah (hiperemia) pada tahap
awal akan disusul oleh perlambatan aliran darah, perubahan tekanan intravaskular dan
perubahan pada orientasi unsur-unsur berbentuk darah terhadap dinding pembuluhnya.
Perubahan pembuluh darah dilihat dari segi waktu, sedikit banyak tergantung dari parahnya
jejas. Dilatasi arteriol timbul dalam beberapa menit setelah jejas. Perlambatan dan bendungan
tampak setelah 10-30 menit.

Peningkatan permeabilitas vaskuler disertai keluarnya protein plasma dan sel-sel


darah putih ke dalam jaringan disebut eksudasi dan merupakan gambaran utama reaksi
radang akut. Vaskulatur-mikro pada dasarnya terdiri dari saluran-saluran yang
berkesinambungan berlapis endotel yang bercabang-cabang dan mengadakan anastomosis.
Sel endotel dilapisi oleh selaput basalis yang berkesinambungan.

Pada ujung arteriol kapiler, tekanan hidrostatik yang tinggi mendesak cairan keluar ke
dalam ruang jaringan interstisial dengan cara ultrafiltrasi. Hal ini berakibat meningkatnya
konsentrasi protein plasma dan menyebabkan tekanan osmotik koloid bertambah besar,
dengan menarik kembali cairan pada pangkal kapiler venula. Pertukaran normal tersebut akan

2
menyisakan sedikit cairan dalam jaringan interstisial yang mengalir dari ruang jaringan
melalui saluran limfatik.

Penimbunan sel-sel darah putih, terutama neutrofil dan monosit pada lokasi jejas,
merupakan aspek terpenting reaksi radang. Sel-sel darah putih mampu memfagosit bahan
yang bersifat asing, termasuk bakteri dan debris sel-sel nekrosis, dan enzim lisosom yang
terdapat di dalamnya membantu pertahanan tubuh dengan beberapa cara. Beberapa produk
sel darah putih merupakan penggerak reaksi radang, dan pada hal-hal tertentu menimbulkan
kerusakan jaringan yang berarti.

Dalam fokus radang, awal bendungan sirkulasi mikro akan menyebabkan sel-sel darah merah
menggumpal dan membentuk agregat-agregat yang lebih besar daripada leukosit sendiri.
Menurut hukum fisika aliran, massa sel darah merah akan terdapat di bagian tengah dalam
aliran aksial, dan sel-sel darah putih pindah ke bagian tepi (marginasi). Mula-mula sel darah
putih bergerak dan menggulung pelan-pelan sepanjang permukaan endotel pada aliran yang
tersendat tetapi kemudian sel-sel tersebut akan melekat dan melapisi permukaan endotel.

Emigrasi adalah proses perpindahan sel darah putih yang bergerak keluar dari
pembuluh darah. Tempat utama emigrasi leukosit adalah pertemuan antar-sel endotel.
Walaupun pelebaran pertemuan antar-sel memudahkan emigrasi leukosit, tetapi leukosit
mampu menyusup sendiri melalui pertemuan antar-sel endotel yang tampak tertutup tanpa
perubahan nyata.

Setelah meninggalkan pembuluh darah, leukosit bergerak menuju ke arah utama


lokasi jejas. Migrasi sel darah putih yang terarah ini disebabkan oleh pengaruh-pengaruh
kimia yang dapat berdifusi disebut kemotaksis. Hampir semua jenis sel darah putih
dipengaruhi oleh faktor-faktor kemotaksis dalam derajat yang berbeda-beda. Neutrofil dan
monosit paling reaktif terhadap rangsang kemotaksis. Sebaliknya limfosit bereaksi lemah.
Beberapa faktor kemotaksis dapat mempengaruhi neutrofil maupun monosit, yang lainnya
bekerja secara selektif terhadap beberapa jenis sel darah putih. Faktor-faktor kemotaksis
dapat endogen berasal dari protein plasma atau eksogen, misalnya produk bakteri.

Setelah leukosit sampai di lokasi radang, terjadilah proses fagositosis. Meskipun sel-
sel fagosit dapat melekat pada partikel dan bakteri tanpa didahului oleh suatu proses
pengenalan yang khas, tetapi fagositosis akan sangat ditunjang apabila mikroorganisme

3
diliputi oleh opsonin, yang terdapat dalam serum (misalnya IgG, C3). Setelah bakteri yang
mengalami opsonisasi melekat pada permukaan, selanjutnya sel fagosit sebagian besar akan
meliputi partikel, berdampak pada pembentukan kantung yang dalam. Partikel ini terletak
pada vesikel sitoplasma yang masih terikat pada selaput sel, disebut fagosom. Meskipun pada
waktu pembentukan fagosom, sebelum menutup lengkap, granula-granula sitoplasma
neutrofil menyatu dengan fagosom dan melepaskan isinya ke dalamnya, suatu proses yang
disebut degranulasi. Sebagian besar mikroorganisme yang telah mengalami pelahapan mudah
dihancurkan oleh fagosit yang berakibat pada kematian mikroorganisme. Walaupun beberapa
organisme yang virulen dapat menghancurkan leukosit.

2. Radang kronis

Radang kronis dapat diartikan sebagai inflamasi yang berdurasi panjang (berminggu-
minggu hingga bertahun-tahun) dan terjadi proses secara simultan dari inflamasi aktif, cedera
jaringan, dan penyembuhan. Perbedaannya dengan radang akut, radang akut ditandai dengan
perubahan vaskuler, edema, dan infiltrasi neutrofil dalam jumlah besar. Sedangkan radang
kronik ditandai oleh infiltrasi sel mononuklir (seperti makrofag, limfosit, dan sel plasma),
destruksi jaringan, dan perbaikan.

Radang kronik dapat timbul melalui satu atau dua jalan. Dapat timbul menyusul
radang akut, atau responnya sejak awal bersifat kronik. Perubahan radang akut menjadi
radang kronik berlangsung bila respon radang akut tidak dapat reda, disebabkan agen
penyebab jejas yang menetap atau terdapat gangguan pada proses penyembuhan normal. Ada
kalanya radang kronik sejak awal merupakan proses primer. Sering penyebab jejas memiliki
toksisitas rendah dibandingkan dengan penyebab yang menimbulkan radang akut. Terdapat 3
kelompok besar yang menjadi penyebabnya, yaitu infeksi persisten oleh mikroorganisme
intrasel tertentu (seperti basil tuberkel, Treponema palidum, dan jamur-jamur tertentu),
kontak lama dengan bahan yang tidak dapat hancur (misalnya silika), penyakit autoimun. Bila
suatu radang berlangsung lebih lama dari 4 atau 6 minggu disebut kronik. Tetapi karena
banyak kebergantungan respon efektif tuan rumah dan sifat alami jejas, maka batasan waktu
tidak banyak artinya. Pembedaan antara radang akut dan kronik sebaiknya berdasarkan pola
morfologi reaksi.

4
3. Radang Kronis Eksaserbasi Akut

Radang kronis eksaserbasi akut adalah radang yang merupakan peningkatan keparahan dari
suatu gejala penyakit. Tanda-tanda klinis radang akut kembali timbul pada radang ini, seperti:

Rubor (Kemerahan)

Terjadi karena jaringa yang meradang mengandung banyak darah akibat

kapiler-kapilernya melebar dan kapiler-kapiler yang tadinya kosong menjadi berisi darah juga

Calor (Panas)

Juga terjadi akibat sirkulasi darah yag meningkat. Naiknya suhu ini tidak melebihi suhu
rektum sehingga diambil kesimpulan bahwa peningkatan metabolisme tidak seberapa
menyebabkan suhu ini.

Tumor (Bengkak)

Disebabkan sebagian oleh hiperemi dan sebagian besar oleh eksudat yag terjadi pada radang.

Dolor (Nyeri)

Agaknya disebabkan olehpengaruh zat pada ujung saraf perasa yang dilepaskan oleh sel yang
cedera, zat ini mungkin histamin. Rasa nyeri juga agaknya disebabkan oleh tekanan yang
meninggi dalam jaringan akibat terjadinya eksudat.

Functio laesa (Hilang fungsi)

Perbedaan radang akut dan radang kronik dimana radang akut di tandai dengan
adanya vaskuler, edema dan impiltrasi neutrofi dalam jumlah yaang besar. Sedangkan radang
kronik di tandai oleh infiltrasi sel mononuklir, seperti makrofak, limfosit, dan sel plasma,
destruksi jaringan, dan perbaikan. Perubahan radang akut menadi radang kronik berlangsung

5
apabila respon radang akut tidak dapat reda, disebabkan agen penyebab jejas yang menetap
atau terjadapat gangguan pada proses penyembuhan normal.

Mediator kimia peradangan, bhan kimia yang berasal dari plasma maupun jaringan
merupakan rantai penting antara terjadinya jejas dengan fenomenaa radang. Cukup banyak
subtansi yang dikeluarkan secara endogen sebagai mediator dari respon peradangan, yaitu :

Golongan amino vasoaktif (histamin daan serotonin)


Protease plasma ( sistem kinin, komplemen, dan koagulasi fibrinolitik )
Metabolit asam arakidonat ( leukrotien dan prostaglandin )
Produk leukosit (enzim lisosom dan limfokin )

1.2 Penyakit Infeksi

Infeksi bakteri mekanisme pertahanan terhadap bakteri tergantung pada struktur bkteri
dan pada patogenesis bakteri tersebut. Struktur bakteri adalah lapisan lipid ganda (lipid
bilayer) terluar baakteri gram negatif rentan terhadap mekanisme yang daapat melisis
membran, seperti komplemen dan sel sitotoksisk tertentu, ssedangkan pemusnahan bakteri
lain seringkali menggunakan mekanisme fagosistosis. Mekanisme patogenesis bakteri
dimana ada dua pola patogenessis bakteri yaitu toksisitas tanpa invasi dan invasi tanpa
toksisitas. Kebanyakan baakteri mempunyai kedua pola patogenesis tersebut, yakni bersifat
invasif di bantu toksin lokal dan faktor penyebaraan atau enzim perusak jaringan.

Infeksi parasit penyakit yang ditimbulkan oleh investasi parasit sangatlah beraneka
ragam, begitu pula respon imun yang efektif terhadap setiap jenis parasit. Mekanisme
pertahana terhadap infeksi parasit memeprlukan antibodi, sel T, dan makrofag yang
distimulus sel T.

Infeksi virus proses infekssi virus pada sel dimulai dengan menempelnya virus
infektiv pada reseptor yang ada di permukaan sel. Suatu virus bersifat patogen pada hospes
tertentu jika virus tersebut dapat menginfeksi dan menimbulkan penyyakit pada hospes
terssebut. Beberapa kemungkinan inveksi viru dan hubungan kliniknya :

Infeksi produktif dengan gejala klinik akut. Contohnya adalah cacar, influenza dan
DBD.

6
Infeksi akut dan penyakit akut dilanjutkan dengan infeksi persisten dengan serangan-
serngan klinis akut intermitten dan nfeksi laten pada masa antara serangan.
Contohnya, Herpes labialis oleh virus herpes simplex.
Infeksi persisten produktif adalah dengan gejala kronik. Contohnya, Hepatitis B
kronik persisten.
Infeksi persisten produktif adalah dengan gejala klinik kronik. Contohnya adalah
servisitis uteri karena virus papiloma.

Mekanisme terjadinya penyakit, keadaannya dengan penderitaan yang ditimbulkannya seiring


perjalanan waktu, yaitu :

Progresif ( bertambah parah ) bila kekuatan pengaruh penyebabnya melebihi


kemampuan reaksi tubuh.
Stassioner ( menetap), bila kekuatan yang menyebabkan penyakit tersebut menjadi
seimbang dengan kemampuan reaksi tubuh.
Remisi ( menghilang ) dengan di dapatinya kesembuhan penderitaannya.
Eksaserbasi ( kambuh timbul kembali ) setelah melewati masa keredaannya.

7
BAB 11

PATOLOGI KLINIK

2.1 Plebotomi dan Peran Perawat

Flebotomi ( bhs Ingris : Phlebotomy ) berasal dari kata Yunani phleb dan omia. Phleb
berarti pembuluh darah vena dan tomia berarti mengiris/ memotong ( cutting ) jadi
plebotomi adalah insisi atau membuat sayatan pada pembuluh darah agar darah dapat
mengalir dan dikumpulkan. Flebotomis adalah seorang tenaga medis yang telah
mendapatkan latihan untuk mengeluarkan dan menampung specimen darah dari pembuluh
darah pena, arteri atau kapiler

Di dalam praktek, flebotomi di rumah sakit atau di laboratorium dapat dilakukan oleh
perawat atau analis laboratorium atau orang yang dilatih khusus untuk itu, yang selanjutnya
akan disebut sebagai teknisi flebotomi. Peran perawat dalam proses pelaksanan plebotomi
adalah sebagai flebotomis yaitu penghubung penting antara pasien dengan laboratorium
klinik.

Pasien diminta mengambil posisi yang menyamankan tubuhnya. Kursi yang dirancang
khusus dengan ketinggian dan sandaran yang bias diatur akan menciptakan suasana santai
bagi pasien selama proses pengambilan darah dilakukan.

Semua alat yang akan dipakai sudah harus tersedia diatas meja-kerja, siap-pakai dan
diletakkan sedemikian rupa sehingga posisinya mudah dijangkau oleh tangan. Pemilihan
ukuran semprit/ vacutainer atau lancet harus sesuai dengan jenis (-jeis) tes laboratorium yang
diminta. Demikian juga urutan tipe vacutainer perlu dilakukan guna menghindari terjadinya
kontaminasi silang antar tabung/ vacutainer.

2.2 Teknik Pelaksanaan Flebotomi

Pemilihan Vena

Cari 3 vena yang paling mudah ditemukan di daerah antikubiti dengan cara melihat atau
dengan cara palpasi. Vena mediana, vena cubiti mediana, dan vena cephalica mediana, secara

8
tipikal berada ditengah daerah antikubiti. Vena cephalica berada di lateral dan vena basilica
berada di medial.

Pemilihan vena berdasarkan beberapa alasan, yaitu :

1. Dekat-vena mediana paling dekat dengan permukaan kulit, sehingga mudah diakses.
2. Tidak bergerak vena mediana merupakan vena yang paling tidak bergerak ketika
jarum menusuk sehingga tusukan dapat berhasil dengan sukses.
3. Aman tusukan pada vena mediana kurang beresiko
4. Nyaman vena mediana tidak terlalu membuat rasa tidak nyaman saat ditusuk

Tempat Tusukan Alternatif

Pada mayoritas pasien, pengambilan specimen pada daerah antekubiti tidak memungkinkan
untuk beberapa sebab, antara lain :

Kegagalan saat menentukan vena yang dicari


Infus terpasang distal daerah antekubiti
Daerah antikubiti memar berlebihan akibat prosedur tusukan yang sebelumnya
Adanya udem pada daerah antikubiti
Luka parut yang berlebihan
Kondisi kulit seperti ruam, infeksi, luka baker
Mastektomi

Beberapa tempat alternative selain daerah antekubiti adalah bagian dorsal tangan, bagian
lateral pergelangan tangan,kaki, dan tumit( dengan ijin dokter), vena kulit kepala( neonatus) ,
dan alteri Femoralis ( hanya oleh dokter).

Pengambilan Spesimen Pada Pediatri

Pada kelompok pediatric perlu dikelompokkan lagi atas bayi ( infants and neonatus) dan anak
anak ( small children). Untuk anak yang lebih besardengan vena juga sudah relative besar
dan mudah terlihat, prosedurnya sama dengan tuukan vena pada orang dewasa. Saat

9
melakukan pengambilan specimen pada pediatric, beberapa hal yang perlu diperhatikan
adalah:

1. Persiapan diri Flebotomis


2. Mempersiapkan anak dan orang tua- salah satu poin penting adalah meyakinkan orang
tuanya bahwa tindakan yang akan dilakukan benar0benar diperlukan dalam rangka
diagnostic dan terapi yang tepat.
3. Prosedur Flebotami pediatric Jelaskan secara sederhana teknik yang akan
digunakan. Bila perlu dijelaskan bahwa kemungkinan ditusuk bisah lebih dari satu
kali karena pembuluh darahnya masih halus/ kecil. Prosedur flebotomi yang akan
digunakan sangat tergantung pada usia dan besar/ kecilnya si anak.

Pembuluah darah vena pada kelompok umur ini belum berkembang dengan sempurna.
Sampel kapiler harus diambil kecuali dokter secara khusus meminta pengambilan yang
perifer. Jika tusukan vena diminta untuk kebutuhan jumlah darah, vena pada tangan lebih
berkembang dan lebih mudah di akses daripada daerah antikubiti. Pengambilan melalui vena
harus dilakukan dengan jarum yang kecil atau wing needle. Asisten dibutuhkan untuk
menstabilitasi lengan atau tangan anak-anak.

Pengambilan Spesimen Pada Geriatri

Pada pasien geriatric ( lanjut usia) tidak diperlukan teknik atau metode khusus untuk
mendapatkan specimen darah. Yang menjadi bahan pertmbangan adalah adanya penurunan
Fungsi-fungsi organ akibat proses penuaan. Metode penusukan kulit/ kapiler, wing nidle
maupun dengan vacutiner biasa merupakan alternative pilihan tergantung kondisi fisiknya.

Tusukan kulit/ kapiler dilakukan terutama karena penipisan dan penurunan elastisitas/
kelenturan kulit. Keadaan tersebut mengakibatkan pengambilan specimen lebih sulit karena
vena menjadi mobile pada saat dilakukan penusukan. Elastisitas kulit yang menurun juga
menyebabkan mudah terjadi pendarahan atau hematom. Pada lansia pembuluh darah juga
mengalami aterosklerotik sehingga relative lebih sulit pada saat tusukan vena.

Pengambilan specimen tidak boleh dilakukan pada vena0vena yang melebar ( varises). Darah
yang diperoleh pada varises tidak menggambarkan biokimiawi tubuh yang sebenarnya karena

10
darah yang diperoleh adalah darah yang mengalami stasis. Resiko lainnya adalah
kecendrungan untuk terjadi konfilkasi pendarahan dan infeksi.

Pengambilan Darah Kapiler

Pengambilan darah kapiler biasanya dilakukan pada pasien dengan keadaan seperti dibawah
ini ;

Pasien dengan luka bakar hebat


Pasien dengan obesitas berat
Pasien dengan kecendrungan trombotik
Pasien lansia atau pasien yang memiliki vena superficial yang rapuh
Pasien yang menjalanin tes dirumah
Point-of-care testing (POCT )
Tes pada neonatus
Pasien yang takut pada jarum suntik

Lokasi pengambilan darah kapiler seharusnya mempertimbangkan usia pasien, daerah yang
mudah diakses, dan tes yang diperlukan.

1. Bayi sampai umur 12 bulan _ hanya tusukan pada medial atau lateral permukaan
plantar yang dapat dilakukan. Kedalaman tusukan tidak melebihi 2.0 mm.
2. 1 tahun sampai dewasa pengambilan darah kapiler biasanya dilakukan pada bagian
tebal jari ke tiga atau keempat kaki. Hindari ibu jari karena kulitnya terlalu tipis.
Hindari juga jari kelingking karena tidak terlalu tebal dan dapat melukai tulang.

Komplikasi Flebotomi

Komplikasi berkenaan dengan tindakan Flebotomi

Syncope

Syncope adalah keadaan dimana pasien kehilangan kesadarannya beberapa saat/ sementara
waktu sebagai akibat menurunnya tekanan darah. Gejala dapat berupa rasa pusing, keringat
dingin, nadi cepat, pengelihatan kabur/ gelap, bahkan bisa sampai muntah.

11
Hal ini biasanya terjadi karena adanya perasaan takut atau akibat pasien puasa terlalu lama.
Rasa takut atau cemas bisa juga timbul karena kurang percaya diri Itulah sebabnya
mengapa perlu memberikan penjelasan kepada pasien tentang tujuan pengambilan darah dan
prosedur yang akan dialaminya.

Penampilan dan prilaku seorang Flebotomis juga bisa mempengaruhi keyakinan pasien
sehingga timbul rasa curiga/ was-was ketika proses pengambilan darah akan dilaksanakan.
Oleh sebab itu penampilan dan prilaku seorang flebotomis harus sedemikian rupa sehingga
tampak berkompetensi dan Fropesional

Cara mengatasi

1. Hentikan pengambilan darah


2. Baringkan pasien ditempat tidur, kepala dimiringkan kesalah satu sisi
3. Tungkai bawah ditinggikan ( lebih tinggi dari posisi kepala )
4. Longgarkan baju yang sempit dan ikat pinggang
5. Minta pasien menarik nafas panjang
6. Hubungi dokter
7. Pasien yang tidak sempat dibaringkan , diminta menundukan kepala diantara kedua
kakinya dan menarik nafas panjang

Cara Pencegahan

1. Pasien diajak bicara supaya perhatiannya dapat dialihkan


2. Pasien yang akan dirawat syncope sebaiknya dianjurkan berbaring pada waktu
pengambilan darah
3. Kursi pasien mempunyai sandaran dan tempat/ sandaran tangan

Rasa Nyeri

Rasa nyeri berlangsung tidak lama sehingga tidak memerlukan penanganan khusus. Nyeri
bisa timbul alibat alkosol yang belum kering atau akibat penarikan jarum yang terlalu kuat

12
Cara pencegahan

1. Setelah disinfeksi kulit, yakin dulu bahwa alcohol sudah mongering sebelum
pengambilan darah dilakukan.
2. Penarikan jarum tidak terlalu kuat
3. Penjelasan/ Menggambarkan sifat nyeri yang sebenarnya ( memberi contoh )

Hematoma

Hematoma dalah terkumpulnya massa darah dalam jaringan ( dalam Hal Flebotomi : jaringan
dibawah kulit ) sebagai akibat robeknya pembuluh darah. Faktor penyebab terletak pada
teknik pengambilan darah :

1. Jarum terlalu menungkik sehingga menembus dinding vena


2. Penusukan jarum dangkal sehingga sebagian lubang jarum berada diluar vena
3. Setelah pengambilan darah, tempat penusukan kurang ditekan atau kurang lama
ditekan
4. Pada waktu jarum ditarik keluar dari vena, tourniquet ( tourniket) belum dikendurkan
5. Temapat penusukan jarum terlalu dekat dengan tempat turniket.

Cara mengatasi

Jika dalam proses pengambilan darah terjadi pembengkakan kulit disekitar tempat penusukan
jarum segera 1. Lepaskan turniket dan jarum 2. Tekan tempat penusukan jarum dengan kain
kasa 3. Angkat lengan pasien lebih tinggi dari kepala (+- 15 menit) 4. Kalau perlu kompres
untuk mengurangi rasa nyeri

Pendarahan

Komplikasi pendarahan lebih sering terjadi pada pengambilan darah alteri. Pengambilan
darah kapiler lebih kurang resikonya.

Pendarahan yang berlebihan ( atau sukar berhenti ) terjadi karma terganggunya system
kouglasi darah pasien. Hal ini bisa terjadi karena :

1. Pasien mengalami pengobatan dengan obat antikougulan sehingga menghambat


pembekuan darah.

13
2. Pasien menderita gangguan pembekuan darah ( trombositopenia, defisiensi factor
pembeku darah (misalnya hemofilia )
3. Pasien mengidap penyakit hati yang berat ( pembentukan protrombin, fibrinogen
terganggu )

Cara mengatasi:

1. Tekan tempat pendarahan


2. Panggil perawat/dokter untuk penanganan selanjutnya

Cara pencegahan

1. Perlu anamnesis ( wawancara) yang cermat denga pasien


2. Setelah pengambilan darah, penekanan tempat penusukan jarum perlu ditekan lebih
lama

Allergi

Alergi bisa terjadi terhadap bahan- bahan yang dipakai dalam flebotom, misalnya terhadap
zat antiseptic/ desinfektan, latex yang ada pada sarung tangan, turniket atau plester.

Gejala alergi bisa ringan atau berat, berupa kemerahan, rhinitis, radang selaput mata; kadang-
kadang bahkan bisa (shock)

Cara mengatasi :

1. Tenangkan pasien, beri penjelasan


2. Panggil dokter atau perawat untuk penanganan selanjutnya

Cara pencegahan

1. Wawan cara apa ada riwayat allergi


2. Memakai plester atau sarung-tangan yang tidak mengandung latex

Trombosis

Terjadi karena pengambilan darah yang berulang kali ditempat yang sama sehingga
menimbulkan kerusaka dan peradangan setempat dan berakibat dengan penutupan ( occlusion

14
) pembuluh darah. Hal ini juga terlihat pada kelompok pengguna obat ( narcotics ) yang
memakai pembuluh darah vena.

Cara pencegahan

1. Hindari pengambilan berulang ditempat yang sama


2. Pembinaan peninap narkotika

Radang Tulang

Penyakit ini sering terjadi pada bayi karena jarak kulit-tulang yang sempit dan pemakaian
lanset yang berukuran panjang

Cara mengatasi:

Mengatasi peradangan tulang

Cara Pencegahan:

Menggunakan lanset yang ukurannya sesuai. Saat ini sudah dipasarkan lanset dalam
berbagai ukuran disesuaikan dengan kelompok usia.

Setiap kejadian komplikasi Flebotomi harus dilaporkan kepada dokter kepalda dan dicatat
dalam buku catatan tersendiri dengan mencantumkan identitas pasien selengkapnya, tanggal
dan jam kejadian, dan tindakan yang diberikan.

Amnesia

Pada bayi, terutama bayi baru lahir dimana volume darah sedikit, pengambilan darah
berulang dapat menyebabkan anemia. Selain itu pengambilan darah kapiler pada bayi
terutama yang bertulang dapat menyebabkan selulitis, abses, osteomielitis, jaringan parut dan
nodul klasifikasi. Nodul klasifikasi tersebut mula-mula tampak seperti lekukan yang 4-12
bulan kemudian akan menjadi nodul dan menghilang dalam 18-20 bulan.

Komplikasi neuologis

15
Komplikasi neurologist dapat bersifat local karena tertusuknya syaraf dilokasi penusukan,
dan menimbulkan keluhan nyeri atau kesemutan yang menjalar ke lengan, seperti yang sudah
dijelaskan sebelumnya. Walaupun jarang, serangan kejang ( seizures) dapat pula terjadi.

Penanganan :

Pasien yang mengalami serangan saat pengambilan darah harus dilindungi dari
perlukaan.
Hentikan pengambilan darah, baringkan pasien dengan kepala miringkan ke satu sisi,
bebaskan jalan nafas, hindari agar lidah tidak tergigit.
Segera mungkin aktifkan perlengkapan keselamatan, hubungi dokter
Lakukan penekanan secukupnya di daerah penusukan sambil membatasi pergerakan
pasien.

Kegagalan pengambilan darah

Faktor yang dapat menyebabkan antara lain karena jarum kurang dalam. Jarum terlalu
dalam/tembus, lubang jarum menempel didinding pembuluh darah, vena kolap atau tabung
tidak vakum. Vena kolaps dapat terjadi bila menarik penghisap dengan cepat, menggunakan
tabung yang terlalu besar atau jarum terlalu kecil.

Hemokonsentrasi

Hemoknsentrasi terjadi karena pembendungan / pemasangan turniket yang ketat dan lama ( >
1 menit), atau mengepal telapak tangan dengan pemijatan atau massage. Hal ini akan
menyebabkan peningkatan kadar hematokrit dan elemen seluler lainnya, protein
total,GTO,lipid total, kolestrol dan besi (Fe). Mengepalkan tangan berulang akan
meningkatkan kalium, Flosfat dan lakat.

Hemodilusi

Terjadi karena pengambilan darah dilengan dimana terdapat pemberian cairan intra vena
(infus ). Pengambilan darah di sisi influs harus di hindari sebisanya, jika tidak

16
memungkinkan, hentikan infuse 3-5 menit, ambil darah dibagian distal tempat infuse dan
buang 3-5 cc darah yang pertama diambil. Beberapa hal yang dapat menyebabkan hemodilusi
antara lain :

Kontaminasi oleh cairan interstitial / cairan jaringan pada pengambilan darah didaerah
udem atau pada pasien obeis.
Kontaminasi alcohol yang belum kering pada pengambilan darah kapiler
Rasio darah : antikoagulan yang tidak sesuai

Hemolisis

Terjadi karena pengambilan darah dengan jarum yang terlalu kecin, pengambilan darah yang
sulit dimana dilakukan manpulasi jarum, menarik penghisap terlalu cepat,

Mengeluarkan darah dari jarum dengan menekan secara keras/kasar, mengocok tabung
dengan kuat, kontaminasi alcohol dan pemakaian torniket terlalu lama. Hemolisis akan
menyebabkan peninggian analit-analit yang banyak terdapat intrasel seperti LDH, kalium,
magnesium, Fe dan Fosfor anorganik.

Masuknya factor jaringan

Pengambilan darah yang sulit seperti pada vena yang kecil, orang tua, anak kecil dan pasien
dengan udem atau obesitas, atau manupulasi terlalu banyak akan menyebabkan pelepasan
factor jaringan yang akan mengaktifkan factor pembekuan darah dan mengakibatkan
perubahan nilai pemeriksaan hemostasisi. Sebaiknya pengambilan darah untuk koagulasi
dilakukan dengan dua tabung.

Kontaminasi

Pada pemeriksaan kultur darah, tindakan asepsis yang tidak adekuat atau pengambilan darah
pada lokasi yang mengalami peradangan akan menimbulkan kontaminasi.

17
BAB III

RADIOLOGI

3.1 Prinsip Radiasi dan Komplikasi

Radiasi pengion adalah radiasi yang dapat menimbulkan terjadinya ionisasi atau
pengionan sebagai proses pelepasan satu atau lebih elektron dari suatu atom/molekul, baik
dalambentuk gelombang elektromagnetik (radiasi gamma dan sinar-X) atau partikel (alpa,
beta atau elektron,dan neutron). Kedua jenis radiasi diatas mempunyai daya rusak yang
berbeda terhadap materi biologis karena mempunyai kemampuan yang berbeda dalam
menimbulkan tingkat pengionan dan dalamjarak lintasan yang dapat ditempuh. Radiasi
partikel mempunyai tingkat pengionan yang jauh lebih tinggi dan jarak lintasan yang jauh
lebih pendek dari radiasi elektromagnetik. Dengan demikian partikel alpa dan beta (elektron)
mempunyai daya rusak per satuan jarak lintasan yang besar tetapi daya tembusnya rendah.
Sedangkan radiasi gamma dan sinar-X meskipun mempunyai daya rusak yang rendah tetapi
mempunyai jarak tempuh yang jauh.

Pajanan radiasi dari sumber radiasi yang berada di luar tubuh akan menimbulkan efek
radiasi eksterna. Jenis radiasi yang berpotensi menimbulkan efek eksterna ini adalah sinar
gamma dan sinar-X. Sedangkan bila tubuh kemasukan atau terkontaminasi bahan radioaktif
maka akan terjadi efek radiasi interna. Radiasi partikel merupakan jenis radiasi yang paling
berbahaya dalammenimbulkan efek radiasi interna. Efek radiasi dapat dibedakan atas efek
deterministik dan efek stokastik.

Efek deterministik merupakan konsekuensi dari kematian sel sebagai akibatdari


pajanan radiasi yang mengubah fungsi jaringan terpajan. Efek deterministik timbul bila dosis
yang diterima tubuh melebihi dosis ambang (threshold dose) dan umumnya timbul beberapa
saat setelah terpajan. Tingkat keparahannya meningkat dengan semakin besar dosis yang
diterima. Tetapi sebenarnya, tidak ada batasan dosis ambang untuk dapat menimbulkan
perubahan pada sistembiologik. Serendah apapun dosis radiasi selalu terdapat kemungkinan
untuk menimbulkan perubahan pada sistembiologik baik pada tingkat molekul maupun
seluler. Dengan demikian radiasi dapat pula tidak membunuh sel tetapi merubah sel dengan
fungsi yang berbeda. Semua efek yang terjadi akibat terjadinya proses modifikasi atau

18
transformasi pada sel disebut efek stokastik. Kedua efek radiasi ini dapat terjadi sebagai
akibat dari pajanan radiasi pada bagian tubuh tertentu (lokal) atau pada seluruh tubuh.

Sindroma radiasi akut (SRA) adalah sekumpulan sindromklinik yang terjadi dalam
waktu beberapa detik sampai 3 hari setelah pajanan radiasi pengion akut pada seluruh tubuh
dengan dosis relatiftinggi (1 Gy). Perkembangan SRA meliputi reaksi inisial (sindroma
prodromal) periode laten, manifestasi kerusakan, dan fase pemulihan atau kematian.
Bergantung pada dosis radiasi, SRA merupakan konsekuensi dari kerusakan pada 3
sistemutama pada tubuh. Manifestasi utama SRA meliputi depresi komponen hematopoitik
dengan risiko infeksi dan hemorrhage. Sindroma intestinal, toxemia dan cerebral terjadi
akibat dosis lebih besar berupa timbulnya diare, kehilangan cairan, toxemia, tekanan darah
turun drastis, dan perubahan fungsi dan struktur otak. Akibat pajanan dosis akut sangat tinggi
pada kepala atau badan, korban akan kehilangan kesadaran. Jika dosis rerata seluruh tubuh
atau jika dosis pada sebagian besar tubuh adalahkurang dari 10 20 Gy, SRA biasanya
sebagai kombinasi kerusakan radiasi lokal yang terjadi pada kulit, mata, paru, usus halus dan
ekstremitas.

Perbedaan pajanan jenis radiasi menimbulkan perbedaan dalammanifestasi SRA. Pada


pajanan kombinasi radiasi gamma dengan beta, menimbulkan kerusakan pada kulit dan
mukosa sebagai penyebab utama mortalitas dan morbiditas. Pada kebanyakan kasus pajanan
radiasi yang tidak homogen,akan terjadi kombinasi sindromhaematopoitik atau sumsum
tulang (SST) dan sindromkutaneus (SK). Pada kecelakaan dengan radiasi gamma dosis
rendah, kerusakan kulit seringterbatas pada daerah permukaan tetapi dapat berkembang ke
organ dalambergantung pada bagian tubuh yang terpajan. Biasanya keparahan SRA
dideterminasi oleh kerusakan lokal dan juga sindroma hematologik. Pajanan gamma-neutron
sebagai karakteristikkecelakaan kritikalitas menimbulkan variasi kerusakan lokal dan
kerusakan seluruh tubuh. Bagian penting dari SK adalah kerusakan jaringan seluler
subkutaneus dan pembuluh darah.

Pada kecelakaan radiasi, sangat penting untuk memperkirakan dosis yang


diterimapara korban untuk merencanakan tindakan medis yang tepat. Perbedaan rentang dosis
seluruh tubuh menyebabkan perbedaan manifestasi kerusakan. Selain itu, pada sebagian
kasus kecelakaan, dosimetri fisik dosis serap adalah tidak mungkin. Meskipun bila
memungkinkan, dosimetri fisik sangat penting untuk dikonfirmasi dengan dosimetri klinis
dan biologis. Parameter yang dapat digunakan relatif segera untuk memperkirakan keparahan

19
korban, adalah gejala klinis yaitusaat timbuldan tingkat keparahan sindroma prodromal
khususnya muntah, dan perubahan komponen darah khususnya jumlah limfosit absolut dan
aberasi kromosomdisentrik pada sel darah tepi melalui analisa sitogenetik.

Dalam penggunaan radiasi dalam berbagai keperluan ada ketentuan yang harus di patuhi
untuk mencegah peneriman dosis yang tidak seharusnya terhadap seseoraang. Ada 3 prinsip
yang direkomendasikan oleh Internasional Commisssion Radiological Protection (ICRP)
yaitu :

Justifikasi setiap pemakaian zat radioaktif atau sumber radiasi lainnya harus
didasarkan pada azas manfaat. Suatu kegiatan yang mencakup paparan atau potensi
paparan radiasi hanya disetujui jika kegiatan itu akan menghasilkan keuntungan yang
lebih besar bagi individu atau masyarakat dibandingkan dengan kerugian atau bahaya
yang timbul terhadap kesehatan.
Limitasi dosis ekivalen yang diterima oleh pekerja radiasi atau masyarakat tidak
boleh melampaui Nilai Batas Dosis (NBD) yang ditetapkan pemerintah (Bapeten).
Batas dosis yang ditetapkan bagi pekerja dimaksudkan untuk mencegah munculnya
efek non stokastik (deterministik) dan mengurangi peluang terjadinya efek stokastik.
Nilai Batas Dosis bagi anggota masyarakat, ditentukan hampir sama dengan dosis
radiasi dari sumber radiasi alam atau biasa dikenal dengan radiasi latar belakang.
Optimasi Semua penyinaran harus diusahakan serendah-rendahnya (as low as
reasonably achieveable - ALARA), dengan mempertimbangkan faktor ekonomi dan
sosial. Kegiatan pemanfaatan tenaga nuklir harus direncanakan dan sumber radiasi
harus dirancang dan dioperasikan untuk menjamin agar paparan radiasi yang terjadi
dapat ditekan serendah-rendahnya

3.2 Komplikasi dan Peran Perawat


Radioaktivitas : suatu proses dimana mineral yang mempunyai nucleus atau inti yang
tidak stabil mengalami disintegrasi spontan dengan melepaskan energi. Proses disintegrasi
disertai atau ditandai adanya emisi radiasi seperti : partikel alpha, beta, dan sinar gama.
Sinar radioaktif sangat berbahaya bagi kesehatan karena merusak sel dan jaringan tubuh,
mulai dari yang sangat ringan seperti rontok rambut sampai pada kanker. Lebih berbahaya

20
lagi apabila sinar tadi mengenai sel-sel genetic karena dapat menimbulkan sterilitas dan
mutasi. Efek yang terjadi pada sel somatic sangat tergantung dosis yang diterima.

Jika radiasi mengenai tubuh manusia, ada 2 kemungkinan yang dapat terjadi: berinteraksi
dengan tubuh manusia, atau hanya melewati saja. Jika berinteraksi, radiasi dapat
mengionisasi atau dapat pula mengeksitasi atom. Setiap terjadi proses ionisasi atau eksitasi,
radiasi akan kehilangan sebagian energinya.

Energi radiasi yang hilang akan menyebabkan peningkatan temperatur (panas) pada
bahan (atom) yang berinteraksi dengan radiasi tersebut. Dengan kata lain, semua energi
radiasi yang terserap di jaringan biologis akan muncul sebagai panas melalui peningkatan
vibrasi (getaran) atom dan struktur molekul. Ini merupakan awal dari perubahan kimiawi
yang kemudian dapat mengakibatkan efek biologis yang merugikan.

Satuan dasar dari jaringan biologis adalah sel. Sel mempunyai inti sel yang
merupakan pusat pengontrol sel. Sel terdiri dari 80% air dan 20% senyawa biologis
kompleks. Jika radiasi pengion menembus jaringan, maka dapat mengakibatkan terjadinya
ionisasi dan menghasilkan radikal bebas, misalnya radikal bebas hidroksil (OH), yang terdiri
dari atom oksigen dan atom hidrogen. Secara kimia, radikal bebas sangat reaktif dan dapat
mengubah molekul-molekul penting dalam sel.

DNA (deoxyribonucleic acid) merupakan salah satu molekul yang terdapat di inti sel,
berperan untuk mengontrol struktur dan fungsi sel serta menggandakan dirinya sendiri.

Setidaknya ada dua cara bagaimana radiasi dapat mengakibatkan kerusakan pada sel.
Pertama, radiasi dapat mengionisasi langsung molekul DNA sehingga terjadi perubahan
kimiawi pada DNA. Kedua, perubahan kimiawi pada DNA terjadi secara tidak langsung,
yaitu jika DNA berinteraksi dengan radikal bebas hidroksil. Terjadinya perubahan kimiawi
pada DNA tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat menyebabkan efek
biologis yang merugikan, misalnya timbulnya kanker maupun kelainan genetik.

Pada dosis rendah, misalnya dosis radiasi latar belakang yang kita terima sehari-hari,
sel dapat memulihkan dirinya sendiri dengan sangat cepat. Pada dosis lebih tinggi (hingga 1
Sv), ada kemungkinan sel tidak dapat memulihkan dirinya sendiri, sehingga sel akan

21
mengalami kerusakan permanen atau mati. Sel yang mati relatif tidak berbahaya karena akan
diganti dengan sel baru. Sel yang mengalami kerusakan permanen dapat menghasilkan sel
yang abnormal ketika sel yang rusak tersebut membelah diri. Sel yang abnormal inilah yang
akan meningkatkan risiko tejadinya kanker pada manusia akibat radiasi.

Efek radiasi terhadap tubuh manusia bergantung pada seberapa banyak dosis yang
diberikan, dan bergantung pula pada lajunya; apakah diberikan secara akut (dalam jangka
waktu seketika) atau secara gradual (sedikit demi sedikit).

Sebagai contoh, radiasi gamma dengan dosis 2 Sv (200 rem) yang diberikan pada
seluruh tubuh dalam waktu 30 menit akan menyebabkan pusing dan muntah-muntah pada
beberapa persen manusia yang terkena dosis tersebut, dan kemungkinan satu persen akan
meninggal dalam waktu satu atau dua bulan kemudian. Untuk dosis yang sama tetapi
diberikan dalam rentang waktu satu bulan atau lebih, efek sindroma radiasi akut tersebut
tidak terjadi.

Contoh lain, dosis radiasi akut sebesar 3,5 4 Sv (350 400 rem) yang diberikan
seluruh tubuh akan menyebabkan kematian sekitar 50% dari mereka yang mendapat radiasi
dalam waktu 30 hari kemudian. Sebaliknya, dosis yang sama yang diberikan secara merata
dalam waktu satu tahun tidak menimbulkan akibat yang sama.

Selain bergantung pada jumlah dan laju dosis, setiap organ tubuh mempunyai kepekaan yang
berlainan terhadap radiasi, sehingga efek yang ditimbulkan radiasi juga akan berbeda.

Sebagai contoh, dosis terserap 5 Gy atau lebih yang diberikan secara sekaligus pada
seluruh tubuh dan tidak langsung mendapat perawatan medis, akan dapat mengakibatkan
kematian karena terjadinya kerusakan sumsum tulang belakang serta saluran pernapasan dan
pencernaan. Jika segera dilakukan perawatan medis, jiwa seseorang yang mendapat dosis
terserap 5 Gy tersebut mungkin dapat diselamatkan. Namun, jika dosis terserapnya mencapai
50 Gy, jiwanya tidak mungkin diselamatkan lagi, walaupun ia segera mendapatkan perawatan
medis.

Jika dosis terserap 5 Gy tersebut diberikan secara sekaligus ke organ tertentu saja (tidak ke
seluruh tubuh), kemungkinan besar tidak akan berakibat fatal. Sebagai contoh, dosis terserap

22
5 Gy yang diberikan sekaligus ke kulit akan menyebabkan eritema. Contoh lain, dosis yang
sama jika diberikan ke organ reproduksi akan menyebabkan mandul.

Efek radiasi yang langsung terlihat ini disebut Efek Deterministik. Efek ini hanya muncul
jika dosis radiasinya melebihi suatu batas tertentu, disebut Dosis Ambang.

Efek deterministik bisa juga terjadi dalam jangka waktu yang agak lama setelah terkena
radiasi, dan umumnya tidak berakibat fatal. Sebagai contoh, katarak dan kerusakan kulit
dapat terjadi dalam waktu beberapa minggu setelah terkena dosis radiasi 5 Sv atau lebih.

Jika dosisnya rendah, atau diberikan dalam jangka waktu yang lama (tidak sekaligus),
kemungkinan besar sel-sel tubuh akan memperbaiki dirinya sendiri sehingga tubuh tidak
menampakkan tanda-tanda bekas terkena radiasi. Namun demikian, bisa saja sel-sel tubuh
sebenarnya mengalami kerusakan, dan akibat kerusakan tersebut baru muncul dalam jangka
waktu yang sangat lama (mungkin berpuluh-puluh tahun kemudian), dikenal juga sebagai
periode laten. Efek radiasi yang tidak langsung terlihat ini disebut Efek Stokastik.

Efek stokastik ini tidak dapat dipastikan akan terjadi, namun probabilitas terjadinya
akan semakin besar apabila dosisnya juga bertambah besar dan dosisnya diberikan dalam
jangka waktu seketika. Efek stokastik ini mengacu pada penundaan antara saat pemaparan
radiasi dan saat penampakan efek yang terjadi akibat pemaparan tersebut. Kecuali untuk
leukimia yang dapat berkembang dalam waktu 2 tahun, efek pemaparan radiasi tidak
memperlihatkan efek apapun dalam waktu 20 tahun atau lebih.

Salah satu penyakit yang termasuk dalam kategori ini adalah kanker. Penyebab
sebenarnya dari penyakit kanker tetap tidak diketahui. Selain dapat disebabkan oleh radiasi
pengion, kanker dapat pula disebabkan oleh zat-zat lain, disebut zat karsinogen, misalnya
asap rokok, asbes dan ultraviolet. Dalam kurun waktu sebelum periode laten berakhir, korban
dapat meninggal karena penyebab lain. Karena lamanya periode laten ini, seseorang yang
masih hidup bertahun-tahun setelah menerima paparan radiasi ada kemungkinan menerima
tambahan zat-zat karsinogen dalam kurun waktu tersebut. Oleh karena itu, jika suatu saat
timbul kanker, maka kanker tersebut dapat disebabkan oleh zat-zat karsinogen, bukan hanya
disebabkan oleh radiasi. Efek radiasi pada sistem, organ atau jaringan:

1. Darah dan Sumsum Tulang Merah

23
Darah putih merupakan komponen seluler darah yang tercepat mengalami perubahan
akibat radiasi. Efek pada jaringan ini berupa penurunan jumlah sel. KompOnen seluler darah
yang lain ( butir pembeku dan darah merah ) menyusun setelah sel darah putih. Sumsum
tulang merah yang mendapat dosis tidak terlalu tinggi masih dapat memproduksi sel-sel darah
merah, sedang pada dosis yang cukup tinggi akan terjadi kerusakan permanen yang berakhir
dengan kematian ( dosis lethal 3 5 sv). Akibat penekanan aktivitas sumsum tulang maka
orang yang terkena radiasi akan menderita kecenderungan pendarahan dan infeksi, anemia
dan kekurangan hemoglobinefek stokastik pada penyinaran sumsum tulang adalah leukemia
dan kanker sel darah merah.

2. Saluran Pencernaan Makanan


Kerusakan pada saluran pencernaan makanan memberikan gejala mual, muntah,
gangguan pencernaan dan penyerapan makanan serta diare. kemudian dapat timbul karena
dehidrasi akibat muntah dan diare yang parah. Efek stokastik yang dapat timbul berupa
kanker pada epithel saluran pencernaan.

3. Organ Reproduksi
Efek somatik non stokastok pada organ reproduksi adalah sterilitas, sedangkan efek
genetik (pewarisan) terjadi karena mutasi gen atau kromosom pada sel kelamin.

4. Sistem Syaraf
Sistem syaraf termasuk tahan radiasi. Kematian karena kerusakan sistem syaraf terjadi
pada dosis puluhan sievert.

5. Mata
Lensa mata peka terhadap radiasi. Katarak merupakan efek somatik non stokastik yang
masa tenangnya lama (bisa bertahun-tahun).

6. Kulit
Efek somatik non stokastik pada kulit bervariasi dengan besarnya dosis, mulai dengan
kemerahan sampai luka bakar dan kematian jaringan. efek somatik stokastik pada kulit adalah
kanker kulit.

24
7. Tulang
Bagian tulang yang peka terhadap radiasi adalah sumsum tulang dan selaput dalam serta
luar pada tulang. kerusakan pada tulang biasanya terjadi karena penimbunan stontium-90 atau
radium-226 dalam tulang. Efek somatik stokastik berupa kanker pada sel epithel selaput
tulang.

8. Kelenjar Gondok
Kelenjar gondok berfungsi mengatur metabolisme umum melalui hormon tiroxin yang
dihasilkannya. Kelenjar ini relatif tahan terhadap penyinaran luar namun mudah rusak karena
kontaminasi internal oleh yodium radioaktif.

9. Paru-paru
Paru-paru pada umumnya menderita kerusakan akibat penyinaran dari gas, uap atau
partikel dalam bentuk aerosol yang bersifat radioaktif yang terhirup melalui pernafasan.

Peran seorang perawat dalam persiapan pemberian radiasi kepada klien adalah :
Menjelaskan tentang syarat radiasi
Menjelaskan yang tidak boleh dilakukan oleh klien
Menjelaskan tentang kemungkinan efek samping yang terjadi
Memberi keterangan tentang sinar tambahanyang di diperlukan.

25
BAB IV
FARMAKOLOGI

4.1 Eliminasi Obat

Farmakologi adalah ilmu mengenai pengaruh senyawa terhadap sel hidup, lewat
proses kimia khususnya lewat reseptor. Dalam ilmu kedokteran senyawa tersebut disebut
obat, dan lebih menekankan pengetahuan yang mendasari mafaat dan resiko penggunaan
obat. Farmakologi terutama terfokus pada dua sub disiplin, yaitu farmakodinamik dan
farmakokinetik. Farmakokinetik adalah apa yang dialami obat yang diberikan pada suatu
makhluk, yaitu absorpsi, distribusi, biotransformasi, dan ekskresi.

Kesuksesan dari terapi obat adalah sangat tergantung pada pilihan produk obat dan
obat dan pada desain pengaturan dosis. Pilihan produk obat dan obat, misalnya, intermediete
release (ini sediaan konvensional seperti tablet, kapsul, dsb) vs modified release (seperti
transdermal), ini berdasar pada karakteristik pasien dan farmakokinetika obat. Dengan
merancang pengaturan dosis mencoba untuk mencapai konsentrasi spesifik obat pada reseptor
untuk menghasilkan respon optimal dengan efek samping yang minimal.

Variasi individu di dalam farmakokinetika dan farmakodinamik membuat desain


pengaturan dosis menjadi sulit. Oleh karena itu, aplikasi farmakokinetika untuk desain
pengaturan dosis harus diatur dengan benar pada evaluasi klinis pasien dan pemantauan. Di
sinilah imu farmakokinetik berbicara, salah satu disiplin ilmu sebagi tools dalam
memprediksi nasib obat dalam badan meliputi ADME-nya (Absorpsi, Distribusi,
Metabolisme, dan Ekskresi).

Eliminasi obat artinya ekskresi/pembuangan obat dari tubuh. Sebagian besar obat
dibuang dari tubuh oleh ginjal dan melalui urin. Obat juga dapat dibuang melalui paru-paru,
eksokrin (keringat, ludah, payudara), kulit dan taraktusintestinal.
Proses eliminasi bertanggung jawab atas durasi atau lamanya obat berefek dengan cara
mengusahakan agar obat dapat segera dikeluarkan dari tubuh, temasuk ke dalam alat eksresi
seperti ginjal, hati dan paru. Agar obat mudah dieksresi, kadang-kadang obat harus diubah
lebih dahulu menjadi senyawa lain yang bersifat tidak mudah larut dalam lemak baru
dieksresi. Proses metabolisme dan eksresi secara merupakan proses eliminasi

26
Metabolisme atau biotransformasi obat adalah proses perubahan struktur perubahan
kimia yang tejadi dalam tubuh dan dikatalisis oleh enzim. Pada poses ini molekul obat diubah
menjadi lebih polar (lebih mudah larut dalam air) dan kurang larut dalam lemak sehingga
mudah dieksresi melalui ginjal .

Kebanyakan obat diubah di hati dalam hati, kadang-kadang dalam ginjal dan lain-lain.
Kalau fungsi hati tidak baik maka obat yang biasanya diubah dalam hati tidak mengalami
peubahan atau hanya sebagian yang diubah. Hal tesebut menyebabkan efek obat berlangsung
lebih lama dan obat menjadi lebih toxic .

Metabolisme obat di hepar terganggu oleh adanya zat hepatotoksik atau pada sirosis
hepatis kaena pada keadaan-keadaan tesebut terjadi kerusakan sel parenim hati serta enzim-
enzim metabolismenya. Dalam hal ini dosis obat yang eliminasinya terutama melalui
metabolism di hati harus disesuaikan atau dikurangi. Demikian juga penurunan alir darah
hepar, baik oleh obat maupun gangguan kardiovaskular, akan mengurangi metabolisme obat
di hati.

Organ yang paling penting untuk ekskresi obat adalah ginjal. Obat diekskresikan
dalam struktur tidak berubah atau sebagai metabolit. Jalan lain yang utama adalah eliminasi
obat melalui system empedu masuk ke dalam usus kecil, obat atau metabolitnya dapat
mengalami reabsorbsi (siklus enterohepatik) dan eliminasi dalam feses (kotoran manusia).
Jalur ekskresi yang jumlah obat sedikit adalah melalui air ludah dan air susu merupakan suatu
rute yang menimbulkan masalah bagi bayi yang disusui. Zat yang menguap seperti gas
anestesi berjalan melalui epitel paru-paru. Eliminasi obat dapat berlangsung melalui dua cara,
yaitu ekskresi dan metabolisme ( biotransformasi ). Tetapan laju eliminasi ( K ) adalah
jumlah tetapan laju metabolisme order kesatu ( Km ) dan tetapan laju ekskresi order kesatu (
Ke ) K = Ke + Km

Adalah hal penting untuk mempertimbangkan apakah fraksi obat dieliminasi melalui
metabolisme dan apakah fraksi di eliminasi melaui ekskresi. Obat obat yang di metabolisme
dalam jumlah besar menunjukkan perbedaan waktu paruh eliminasi yang besar pada berbagai
orang. Tidak seperti ekskresi ginjal, yang sangat bergantung pada laju filtrasi glomerulus,
metabolisme bergantung pada aktivitas intrinsic dari enzim biotransformasi, yang dapat
berubah oleh genetic dan faktor lingkungan.

27
1. Biotransformasi / Metabolisme Obat

Biotransformasi atau lebih dikenal dengan metabolisme obat, adalah perubahan dari suatu
senyawa menjadi senyawa lain yang lebih polar, lebih mudah larut dalam air, dan terionisasi
sehingga dapat dieliminasi lebih mudah. Proses perubahan struktur kimia obat ini terjadi
dalam tubuh dan dikatalisis oleh enzim.

Metabolisme dapat terjadi di beberapa tempat, terutama di hepar, sedikit dalam ginjal,
empedu, jaringan otot, dan dinding usus. Enzim-enzim yang berperan dalam metabolisme
terdapat dalam mitokondria atau fraksi mikrosomal. Selain itu, di dalam darahpun
metabolisme beberapa obat dapat terjadi, karena adanya enzim yang diproduksi oleh sel
darah. Enzim yang berperan dalam biotransformasi obat dibedakan berdasar letak dalam sel,
yaitu Enzim Mikrosom terdapat dalam reticulum endoplasma halus dan Enzim Non
Mikrosom.

Kedua Enzim Mikroson dan Enzim Non Mikrosom, aktifitasnya ditentukan oleh
faktor genetic, sehingga kecepatan metabolisme obat antar individu bervariasi. Aksi fisiologis
terpenting dari enzim metabolisme adalah mengubah senyawa yang bersifat lipofilik menjadi
metabolit yang larut dalam air sehingga mudah diekskresi.

Metabolisme obat umumnya dibagi menjadi fase I dan fase II. Metabolisme obat pada
fase I meliputi reaksi oksidasi, reduksi, hidolisis dan dehalogenasi. Fase II berupa reaksi
konjugasi. Pada fase I biasanya terbentuk senyawa dengan gugus baru yang bersifat cukup
polar, yaitu gugus OH, NH2, SH. Namun senyawa (metabolit) yang terbentuk ini belum tentu
dapat dieliminasi. Untuk mempermudah eliminasinya, senyawa tadi kemudian mengalami
reaksi fase II dengan substrat endogen yaitu glukoronat, sulfat, asetat atau asam amino
sehingga terbentuk senyawa baru yang sangat polar.

Efek penting metabolisme obat:

Obat menjadi lebih hidrofilik -> mempercepat ekskresinya melalui ginjal


Metabolit umumnya kurang aktif daripada obat asalnya. Akan tetapi, kadang-kadang
metabolit sama aktifnya dengan obat aslinya.

Hati merupakan organ utama dalam metabolisme obat dan terlibat dalam 2 tipe reaksi obat:

28
1. Reaksi fase I : biotransformasi suatu obat menjadi metabolit yang lebih polar. Reaksi
ini biasanya berupa oksidasi, reduksi, atau hidrolisis.
2. Reaksi fase II : metabolit fase I yang tidak cukup polar untuk bisa diekskresi cepat
oleh ginjal dibuat lebih hidrofilik melalui konjugasi dengan senyawa endogen di hati.

Faktor yang mempengaruhi Metabolisme obat :

o Induksi enzim
o Inhibisi enzim
o Polimorfisme genetik -> faktor penentu genetik mempengaruhi kerja obat
o Usia -> semakin tua, metabolisme obat di tubuh semakin menurun

Faktor Pengaruh Respon Tubuh Terhadap Kerja Obat Adanya perbedaan kerja obat karena
farmakogenetik disebabkan karena :

1. Adanya perbedaan individual baik jumlah reseptor maupun affinitas obat untuk dapat
terikat pada reseptor tersebut.
2. Adanya perbedaan pola absorpsi, distribusi, biotransformasi maupun ekskresi obat,
hingga dosis yang sama dapat menyebabkan berbedanya kadar obat dalam plasma
pasien bersangkutan. Perbedaan genetik ini biasanya disebabkan polimorfismus
enzim-enzim tertentu, di mana terbentuk isoenzim dengan aktivitas enzim yang
berbeda.

Selain farmakogenetik, aspek farmakokinetik, makanan dan minuman, keadaan penyakit, dan
kontak dengan senyawa kimia tertentu juga mempengaruhi perbedaan respon tubuh terhadap
kerja obat yang berbeda terhadap masing-masing individu. (Widianto, 1985)

Jalur pemberian obat :

Oral. Obat yang cukup larut dalam lemak untuk dapat diabsorbsi secara oral dengan
cepat terdistribusi ke seluruh kompartemen cairan tubuh.
Suntikan intravena. Obat langsung masuk ke sirkulasi tanpa melewati sawar
intravena. Obat masuk ke dalam darah dan secara cepat terdistribusi ke jaringan.
Suntikan intramuscular dan subkutan.
Jalur lain: inhalasi dan topikal. Pemberian obat secara sublingual dan rektal digunakan
untuk menghindari sirkulasi portal.

29
2. Ekskresi Oba

Obat yang bersifat polar akan diekskresi melalui organ ekskresi dalam bentuk tidak
berubah dan yang bersifat non-polar dimetabolisme terlebih dahulu agar menjadi lebih polar
dan kurang larut dalam lipid sehingga mudah diekskresi.

Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam bentuk metabolit
hasil biotransformasi atau dalam bentuk asalnya. Obat atau metabolit polar lebih cepat
diekskresi daripada obat larut lemak, kecuali yang melalui paru.

Ekskresi obat terjadi pada :

1. Ginjal
2. Empedu
3. Usus
4. Paru-paru
5. Kulit
6. Saliva
7. ASI

Tujuan ekskresi obat : untuk menghilangkan efek farmakologi obat melalui penurunan kadar
obat dan atau metabolitnya dalam tubuh.

Ekskresi obat dan atau metabolitnya bergantung pada :

1. Sifat fisika kimia


2. Aliran darah organ
3. Ikatan obat dengan protein
4. Kondisi organ eliminasi

Ekskresi obat dari tubuh dapat melalui berbagai cara, namun demikian ekskresi obat
yang utama adalah melalui ginjal. Ginjal merupakan organ ekskresi yang terpenting dan
ekskresi disini resultante dari 3 proses, yaitu filtrasi di glomerulus, sekresi aktif di tubuli
proksimal, dan reabsorpsi pasif di tubuli proksimal dan distal. Ekskresi obat dapat juga
melalui empedu, intestinum, paru atau air susu pada wanita menyusui.

30
Ekskresi obat melalui ginjal dipengaruhi oleh sifat fisika kimia obat, ikatan protein
plasma dan faal ginjal. Jumlah obat yang diekskresi ke dalam urin merupakan hasil filtrasi,
sekresi dan reabsorpsi. Filtrasi dan sekresi memperbesar jumlah obat, sedangkan reabsorpsi
mengurangi jumlah obat. Dengan kata lain kecepatan ekskresi = kecepatan filtrasi +
kecepatan sekresi kecepatan

Ginjal merupakan organ ekskresi yang penting . ekskresi merupakan resultante dari 3
proses antara lain :

a. Filtrasi di glumerolus
Glumerolus merupakan jaringan kapiler dapat melewatkan semua zat yang lebih kecil
dari albumin melalui cela antara sel endotelnya sehingga semua obat yang tidak terikat
protein plasma mengalami filtrasi disana.

b. Sekresi aktif di tubuli proksimal


Banyak obat diangkut melaui tubuli proksimal secara aktif ke dalam urine yang ada di
tubuli dan disebut sekresi tubuli aktif. Sekresi obat dapat ditunjukan bila kecepatan
pembuangan urine melebihi kecepatan filtrasi glomeruli.

c. Reabsorbsi pasif di tubuli proksimal dan distal

Di tubuli proksimal dan distal terjadi reabsorbsi pasif untuk bentuk non ion. Oleh
karena itu untuk obat berupa elektrolit lemah, proses reabsorbsi ini bergantung pada pH
lumen tubuli yang menentukan derajat ionisasi. Bila urine lebih basa, asam lemah terionisasi
lebih banyak sehingga reabsorbsinya berkurang, akibatnya ekskresinya meningkat.
Sebaliknya bila urine lebih asam, ekskresi asam lemah berkurang. Keadaan yang berlawanan
terjadi dalam ekskresi basa lemah.

Banyak metabolit obat yang berbentuk di hati di ekskresi ke dalam usus melalui
empedu, kemudian dibuang melalui feses, tetapi lebih sering diserap kembali di saluran cerna
dan akhirnya diekskresi melalui ginjal.

31
Ekskresi obat juga terjadi melalui keringat, liur, air mata, air susu dan rambut, tetapi
dalam jumlah yang relative kecil sekali sehingga tidak berarti dalam pengakhiran efek obat.
Liur dapat digunakan sebagai pengganti darah untuk menentukan kadar obat tertentu. Jika
suatu obat ekskresinya melalui ginjal diberikan bersama obat-obat yang dapat meruak ginjal,
maka akan terjadi akumulasi obat tersebut yang dapat menimbulkan efek toksik .

Contoh : digoksin diberikan bersamaan dengan obat yang dapat merusak ginjal
(aminoglikosida, siklosporin) mengakibatkan kadar digoksin naiksehingga timbul efek toksik.

Jika di tubulus ginjal terjadi kompetisi antara obat dan metabolit obat untuk sistem
trasport aktif yang sama dapat menyebabkan hambatan ekskresi.

Contoh : jika penisilin diberikan bersamaan probenesid maka akan menyebabkan


klirens penisilin turun, sehingga kerja penisilin lebih panjang.

Bila terjadi perubahan pH urin maka akan menyebabkan perubahan klirens ginjal. Jika
harga pH urine naik akan meningkatkan eliminasi obat-obat yang bersifat asam lemah,
sedangkan jika harga pH turun akan meningkatkan eliminasi obat-obat yang bersifat basa
lemah.
Contoh : pemberian pseudoefedrin (obat basa lemah) diberikan bersamaan ammonium
klorida maka akan meningkatkan ekskresi pseudoefedrin. Terjadi ammonium klorida akan
mengasamkan urin sehingga terjadi peningkatan ionisasi pseudoefdrin dan eliminasi dari
pseudoefedrin meningkat.

32
BAB V
MIKROBIOLOGI DAN PARSITOLOGI

5.1 Metabolisme Mikroba

Dalam kehidupan, mahluk hidup memerlukan energi yang diperoleh dari proses
metabolisme. Metabolisme terjadi pada semua mahluk hidup termasuk kehidupan mikroba.
Pada hewan atau tumbuhan yang berderajat tinggi enzim yang disediakan untuk keperluan
metabolisme reatif stabil, selama terjadi perkembangan individu memang terjadi perubahan
susunan enzim, akan tetapi pada pergantian lingkungan perubahan itu sangat kecil.
Metabolisme merupakan serentetan reaksi kimia yang terjadi dalam sel hidup (Bibiana W.
Lay, 1992 dalam Darkuni, 2001).

Metabolisme adalah reaksi kimia yang berlangsung di dalam organisme hidup dan
merupakan reaksi yang sangat terkordinasi, mempunyai tujuan, serta mencakup berbagai
kerja sama dari banyak sistem multi enzim. Metabolisme mempunyai empat fungsi spesifik,
yaitu :
1. Untuk memperoleh energi kimia dari degradasi makanan yang kaya akan energi dari
lingkungan atau dari energi solar
2. Untuk mengubah molekul nutrisi menjadi precursor unit pembangun bagi makromolekul sel
3. Untuk menggabungkan unit- unit pembangunan asam nukleat, lipid, protein, polisakarida, dan
komponen sel lainnya
4. Untuk membentuk dan mendegradasi biomolekul yang diperlukan dalam fungsi khusus sel.
Dalam metabolisme ada dua fase yaitu katabolisme (merupakan proses penguraian
bahan organik kompleks menjadi bahan organik sederhana, atau bahan anorganik, dan
menghasilkan energi. Misalnya adenosid trifosfat (ATP) atau guanosin trifosfat (GTP) ) dan
anabolisme (yaitu proses sintesis makromolekul kompleks misalnya asam nukleat, lipid, dan
polisakarida serta penggunaan energi).
Metabolisme ini selalu terjadi dalam sel hidup karena di dalam sel hidup terdapat
enzim yang diperlukan untuk membantu berbagai reaksi kimia yang terjadi. Suatu proses
reaksi kimia yang terjadi dapat menghasilkan energi dan dapat pula memerlukan energi untuk
membantu terjadinya reaksi tersebut.
Menurut Darkuni (2001) bila dalam suatu reaksi menghasilkan energi maka disebut
reaksi eksergonik dan apabila untuk dapat berlangsungnya suatu reaksi diperlukan energi,

33
reaksi ini disebut reaksi endergonik. Kegiatan metabolisme meliputi proses perubahan yang
dilakukan untuk sederetan reaksi enzim yang berurutan. Secara singkat kegiatan proses ini
disebut tansformasi zat. Hasil kegiatan ini akan dihasilkan nutrien sederhana seperti glukosa,
asam lemak berantai panjang atau senyawa-senyawa aromatik yang dapat digunakan sebagai
bahan untuk proses neosintetik, bahan sel. Menurut Anonimous (2008) enzim sangat di
pengaruhi oleh beberapa hal yaitu :

Konsentrasi enzim
Konsentrasi substrat
pH
Suhu

Setiap enzim berfungsi optimal pada pH dan temperatur tertentu. Suhu yang sangat
rendah dapat menghentikan aktivitas enzim tetapi tidak menghancurkannya.
Pengendalian katalis secara langsung pengendalian genetik Proses metabolisme akan
menghasilkan hasil metabolisme yang berfungsi menghasilkan sub satuan makromolekul dari
hasil metabolisme yang berguna sebagai penyediaan tahap awal bagi komponen-komponen
sel menghasilkan dan menyediakan energi yang dihasilkan dari ATP lewat ADP dengan
fosfat. Energi ini sangat penting untuk kegiatan proses lain yang dalam prosesnya hanya bisa
berlagsung kalau tersedia energi.
Bentuk-bentuk Metabolisme Pada Mikroba Fotosintesis adalah proses penyusunan
atau pembentukan dengan menggunakan energi cahaya atau foton. Sumber energi cahaya
alami adalah matahari yang memiliki spektrum cahaya infra merah (tidak kelihatan), merah,
jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu dan ultra ungu (tidak kelihatan) (Anonim, 2000).
Kebanyakan Bakteria tidak mempunyai klorofil, namun ada juga beberapa spesies yang
mempunyai pigmen fotosintesis yang dinamakan bakterioklorofil. Fotosintesis bakteri terjadi
dengan cara yang sama seperti pada tumbuhan hijau, kecuali bahwa bakteri tidak mempunyai
fotosistem II untuk fotolisis air. Sehinggga air tidak pernah merupakan sumber reduktan dan
oksigen tidak pernah terbentuk sebagai produk.

Persamaan reaksi fotosintesis pada bakteri adalah sebagai berikut :


nCO2+2nH2A(CH2O)n+nH2O+2nA
dimana : H2A = hydrogen donor (dapat berupa H2S atau asam-asam organik).

34
Satu sifat penting fotosintesis bakteri yang tidak dapat di jumpai pada fotosintesis
tumbuhan hijau adalah bahwa fotosintesis bakteri hanya dapat berlangsung dalam keadaan
sama sekali tanpa oksigen.
Metabolit adalah hasil dari metabolisme. Metabolisme dibedakan menjadi 2
macam, yaitu :

1. Metabolit Primer
Adalah suatu metabolit atau molekul yang merupakan produk akhir atau produk antara
proses metabolisme makhluk hidup yang fungsinya sangat esensial bagi kelangsungan hidup
organisme tersebut. Contohnya : protein, lemak, karbohidrat dan DNA. Pada umumnya
metabolit primer tidak diproduksi berlebihan. Pada sebagian mikroorganisme, produksi
metabolit yang berlebihan dapat menghambat pertumbuhan, dan kadang- kadang dapat
mematikan mikroorganisme tersebut, proses metabolisme untuk membentuk metabolit primer
disebut metabolisme primer.

Ciri- ciri metabolit primer :


1. Terbentuk melalui metabolisme primer
2. Memiliki fungsi yang esensial dan jelas bagi kelangsungan hidup organisme penghasilnya
(merupakan komponen esensial tubuh , misalnya asam amino, vitamin, nukleutida, asam
nukleat, dan lemak.
3. Sering berhubungan dengan pertumbuhan organisme penghasilnya
4. Bersifat tidak spesifik (ada pada hampir semua makhluk hidup )
5. Dibuat dan disimpan secara intraseluler
6. Dibuat dalam kuantitas yang cukup banyak
7. Hasil akhir dari metabolisme, energi dan etanol

Strategi untuk meningkatkan produksi metabolit mikroorganisme dilakukan dengan


cara sebagai berikut :
1. Mengisolasi mikroorganisme muatan yang tidak menghasilkan hasil akhir yang bersifat
inhibitor atau repressor umpan balik. Contohnya adalah produk silisin oleh muatan auksotrof
Coryenebacterium glutamicum.
2. Memanipulasi enzim- enzim pengatur sehingga tidak lagi dapat mengenali metabolit yang
bersifat inhibitor (muatan resisten terhadap pengaturan umpan balik)

35
3. Memodifikasi permiabilitas dinding sel mikroorganisme, sehingga hasil akhir yang bersifat
inhibitor atau resepsor dapat di ekskresikan keluar sel.
2. Metabolit Sekunder.
Adalah suatu molekul atau produk metabolit yang dihasilkan oleh proses metabolisme
sekunder mikroorganisme dimana produk metabolit tersebut bukan merupakan kebutuhan
pokok mikroorganisme untuk hidup dan tumbuh. Meskipun tidak dibutuhkan untuk
pertumbuhan, namun metabolit sekunder dapat juga berfungsi sebagai nutrisi darurat untuk
bertahan hidup.
Fungsi metabolit sekunder bagi mikroorganisme penghasil itu sendiri sebagian besar
belum jelas.metabolisme dibuat dan disimpan secara ekstraseluler. Metabolit sekunder
banyak bermanfaat bagi menusia dan makhluk hidup lain karna banyak diantaranya bersifat
sebagai obat, pigmen, vitamin, ataupun hormon. Contohnya adalah Chlorafenicol dari
Streptomyces venezuellae, Penisillin dari Penicillium notatum, serta papaverin yang
dihasilakan oleh Papaver sp.

Ciri- ciri metabolit sekunder adalah :


Dibuat melalui proses metabolisme sekunder
Diproduksi selama fase stasioner
Fungsi bagi organisme penghasil belum jelas, diduga tidak berhubungan dengan sintesis
komponen sel atau pertumbuhan
Dibuat dan disimpan secara ekstraseluller
Umumnya diproduksi oleh fungi filamentus dan bakteri pembentuk spora
Merupakan kekhasan bagi spesies tertentu
Biasanya berhubungan dengan aktivitas anti mikroba enzim spesifik penghambatan,
pendorongan pertumbuhan, dan sifat- sifat farmakologis
Beberapa komponen yang dapat memberikan efek induksi enzim pada biosintesis
metabolit sekunder adalah sebagai berikut :

1. Triptofan
Senyawa ini diduga berkaitan dengan induksi sintesis enzim yang dibutuhkan untuk
produksi alkaloid pada claviceps.

36
2. Metionin
Disamping sebagai donor sulfur , metionin juga menginduksi pembentukan enzim yang
dibutuhkan untuk sintesis sefalosporin

3. Dietilbalbiturat
Dietilbarbiturat berperan pada sintesis rifamisin oleh Nocardia mediteranei.

5.2 Pertumbuhan Mikroba

Pertumbuhan adalah pertambahan teratur semua komponen suatu organisme.


Dengan demikian, pertambahan ukuran yang diakibatkan oleh bertambahnya air atu karena
deposit lipid bukan merupakan pertumbuhan sejati.
Zat makanan yang diserap bakteri sebagian akan digunakan untuk membangun
protoplasmanya, sehingga tumbuh mencapai besar tertentu, kemudian membelah diri
(berkembang biak).
Pertumbuhan mikroorganisme lebih ditunjukkan oleh adanya peningkatan jumlah
mikroorganisme dan bukan peningkatan sel individu. Pada dasarnya ada dua macam tipe
pertumbuhan yaitu : pembelahan inti tanpa diikuti pembelahan sel sehingga dihasilkan
peningkatan ukuran sel (misalnya pada mikroorganisme Koenositik) dan pembelahan inti
yang diikuti pembelahan sel sehingga dihasilkan peningkatan jumlah sel serta pembesaran
ukuran sel diikuti pembelahan membentuk dua progeni yang kurang lebih berukuran sama.
Bakteri berkembang biak dengan cara membelah diri, 1 (satu) menjadi dua, dua
menjadi empat, dan seterusnya. Interval waktu yang dibutuhkan bakteri untuk membelah diri,
berbeda antara satu dengan yang lainnya, misalnya:

a. Escherchia coli membelah diri setiap 15- 29 menit


b. Salmonella typhy membelah diri setiap 23- 24 menit
c. Staphylococcus aureus membelah diri setiap 27- 30 menit
d. Mycobacterium tuberculosis membelah diri setiap 792- 932 menit
e. Treponema pallid membelah diri setiap 1980 menit

Bila suatu jenis bakteri dalam keadaan yang baik dan makanan yang cukup dan
membelah diri setiap 30 menit, maka dari satu bakteri yang membelah mulai jam 09.00, maka

37
pada jam 12.00 akan menjadi 64. Pada jam 24.00 menjadi 17.000.000 dan pada jam 09.00
besok harinya menjadi 280 triliun. Ciri khas reproduksi bakteri adalah pembelahan biner
(Binary fussion), dimana dari satu sel bakteri dapat dihasilkan dua sel anakan yang sama
besar. Bila sel tunggal bakteri berproduksi dengan pembelahan biner, maka populasi bakteri
bertambah secara geometrik.
Pengukuran pertumbuhan mikroorganisme dapat diukur dengan dua cara, yaitu :

1. Secara Langsung, pengukuran ini dapat dilakukan dengan cara :


Pengukuran dengan menggunakan bilik hitung (counting chamber).
Pada pengukuran ini, untuk bakteri digunakan petroff Hausser, sedangkan untuk
mikroorganisme eukariotik digunakan hemosetometer.
Pengukuran menggunakan electronic counter.
Pada pengukuran ini suspense mikroorganisme dialirkan melalui lubang kecil dengan bantuan
aliran listrik.
Pengukuran dengan plating technique.
Metode ini merupakan metode perhitungan jumlah sel tampak dan didasarkan pada asumsi
bahwa bakteri hidup akan tumbuh, membelah , dan memproduksi satu koloni tunggal.
Pengukuran dengan menggunakan teknik filtrasi membran
Pada metode ini sampel dialirkan pada suatu sistem filter membran dengan bantuan vacuum.

2. Secara tidak langsung, dapat dilakukan dengan cara :

Pengukuran kekeruhan turbidity


Bakteri yang bermultiplikasi pada media cair akan menyebabkan media menjadi keruh.
Pengukuran aktivitas metabolit
Metode ini didasarkan pada asumsi bahwa jumlah produk metabolit tertentu, misalnya asam
atau CO2 menunjukkan jumlah organisme yang terdapat di dalam media .
Pengukuran berat sel kering (BSK)
Metode ini umum digunakan untuk mengukur pertumbuhan fungi berfilamen.

Fase pertumbuhan bakteri:


a. Fase initial

38
Pada fase ini jumlah bakteri tidak bertambah bahkan berkurang. Hal ini disebabkan
oleh bakteri harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru yang terlalu tua atau
terlalu muda akan mati. Tingal bakteri bakteri yang kuat dan sehat, tetapi bermultiplikasi
karena semua kegiatannya untuk mempertahankan hidupnya, sehinga secara keseluruhan
jumlah bakterinya tetap, bahkan berkurang.

b. Fase logaritmis (fase Log)


Pada fase ini jumlah bakteri bertambah dengan sangat cepat. Hal ini disebabkan bakteri
bermultiplikasi 1menjadi 2, 2 menjadi 4, dan seterusnya. Sedangkan yang berkembang biak
itu adalah bakteri pilihan, jumlah makanan dan lingkungannya masih bersih. Akan
tetapi,suatu saat fase ini akan mencapai puncaknya, karena:
Zat-zat makanan semakin berkurang sedangkan jumlah bakteri yang memakannya
semakin banyak.
Sisa- sisa metabolit yang beracun semakin lama semakin bertambah banyak
c. Fase Stationer
Pada fase ini jumlah bakteri tidak bertambah ataupun berkurang karena jumlah bakteri
yang baru lahir sama dengan yang mati. Pada fase ini terjadi perjuangan bakteri untuk
mempertahankan jumlahnya. Perjuangan untuk memperebutkan makanan, perjuangan untuk
menghadapi sisa sisa metabolit yang beracun.
d. Fase Deklinasi
Pada fase ini jumlah bakteri makin lama makin berkurang karena jumlah bakteri yang
mati jauh lebih banyak dari pada yang baru lahir. Hal ini diseabkan jumlah makanan sedikit
sedangkan sisa metabolit yang beracun semakin banyak. Pada akhirnya seluruh bakteri
perbenihan akan mati juga. Fase deklinasi ini berlangsung berhari- hari, berbulan- bulan
bahkan bertahun- tahun, bergantung pada jenis bakterinya, pengaruh lingkungan pada
pertumbuhan, dan perkembangan bakteri.
Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan :
a. Pengaruh Suhu
Tiap jenis bakteri mempunyai suhu optimum dimana pertumbuhannya paling baik.
Bakteri- bakteri pathogen pada manusia termasuk bakteri mesophil. Suhu optimumnya sama
dengan suhu tubuh manusia 37oC.
b. Cahaya

39
Sebagian besar bakteri ada chemotrophe, karena itu pertumbuhannya tidak bergantung
pada cahaya matahari. Pada beberapa spesies, cahaya matahari dapat membunuhnya karna
pengaruh sinar ultra violet.
c. Kelembaban
Air sangat penting bagi perkembangan bakteri karena bakteri hanya dapat mengambil
makanan dari luar dalam bentuk larutan (holophytis). Semua bakteri tumbuh baik pada media
yang basah dan udara yang lembab dan dasar pengawetan makanan dengan pengeringan.
Pada suasana kering ini, bakteri tidak dapat merombak bahan mkanan yang ditempatinya.
Dilaboratorium bakteri atau virus dapat dipertahankan hidup dalam keadaan kering, bila
perbenihan dibekukan secara cepat kemudian dikeringkan secara cepat pula dalam ruangan
vacuum (hampa udara). Cara ini penting dalam pembuatan stock (cadangan) bakteri, virus,
enzim, toxin, dan plasmadarah yang biasanya dibuat dalam bentuk serbuk. Serbuk ini sangat
lyophil (suka air) karna itu pembuatannya disebut proses lyophil.
d. Keasaman
Umumnya asam mempunyai pengaruh buruk terhadap pertumbuhan bakteri.
Kebanyakan bakteri lebih baik hidup dalam suasana netral (pH 7,0) atau sedikit basah (pH
7,2- 7,4) tetapi pada umumnya dapat hidup pada pH 6,5- 7,5. Bakteri bakteri pada manusia
tumbuh baik pada pH 6,8- 7,4 yaitu sama dengan pH darah. Beberapa bakteri dapat hidup
pada suasana asam, misalnya bakteri yang hidup pada gusi manusia yaitu Streptococcus
mutans.
e. Pengaruh O2 dan udara
Untuk melangsungkan hidupnya, manusia dan binatang membutuhkan O2 (oksigen)
yang diambil dari udara melalui penapasan. Fungsi O2 ini sudah jelas, yaitu untuk
pembakaran zat-zat makanan dalam jaringan sehingga dihasilkan panas dan tenaga. Pada
tumbuhan mulai dari tumbuhan tingkat tinggi sampai tumbuhan yang bersel satu, termasuk
bakteri juga membutuhkan oksien untuk melangsungkan hidupnya. Kehidupan semacam itu,
yaitu hidup dalam lingkungan yang mengandung oksigen dalam jumah yang normal disebut
hidup secara aerob. Organisme yang tidak dapat hidup dalam lingkungan yang mengandung
oksigen bebas disebut organisme anaerob.

Berdasarkan responnya terhadap O2 bebas ini, bakteri dapat dibagi menjadi 3


gololngan, yaitu:

1. Bakteri aerob (obligate aerob)

40
Yaitu bakteri bebas yang hanya hidup di dalam lingkungan yang mengandung O2 bebas.
Contohnya: Vibrio cholera, Corynebacterium diphtheria, dan Bacillus anthracis.

2. Bakteri anaerob (obligate anaerob)


Yaitu bakteri yang hanya dapat hidup di dalam lingkungan yang tidak mengandung O 2 bebas.
Contohnya: Clostridium tetani dan Treponema pallid.

3. Fakultatif aerob
Yaitu bakteri yang hidup di dalam lingkungan baik yang mengandung O2 bebas ataupun
tidak. Contohnya: Salmonella typhi, Neisseria meningitides, dan Streptococcus pyogenes.
Bakteri- bakteri fakultatif aerob pada umumnya akan lebih baik tumbuh pada lingkungan
yang mengandung sedikit O2 bebas karena itu tepat bila dinamakan bakteri microaerophil.

f. Pengaruh tekanan osmotik


Untuk kelangsungan hidupnya, bakteri tidak mudah dipengaruhi oleh tekanan osmotik
cairan disekitarnya, karena mempunyai membran cytoplasma yang secara aktif mengatur
keluar masuknya zat kedalam sel bakteri termasuk air. Akan tetapi, larutan hypertonis
disekitar bakteri akan menyebabkan bakteri sukar atau sama sekali tidak dapat tumbuh
bahkan dapat membunuhnya. Kenyataan ini dalam kehidupan sehari- hari digunakan dalam
pengawetan ikan asin dan dendeng.

g. Pengaruh mikroorganisme di sekitarnya


Kehidupan mikroorganisme di alam tidak dapat dipisahkan dari adanya
mikroorganisme lain, seperti halnya manusia tidak dapat hidup bila tidak ada tumbuhan
maupun hewan. Organisme-organisme ini di alam berada dalam suatu keseimbangan yang
disebut keseimbangan biologis. Demikian pula dengan bakteri di alam selalu bercampur
dengan bakteri yang lainnya.

h. Pengaruh zat kimia (desinfektan) terhadap mikroba, antara lain :


Mengubah permeabilitas membran sitoplasma sehingga lalu lintas zaz- zat yang keluar
masuk sel mikroba menjadi kacau.
Memblokir beberapa reaksi kimia misalnya preparat sulfa memblokir sintesa folic acid di
dalam sel mikroba.
Hydrolysa asam atau basa kuat dapat menghydrolysasikan struktur sel sehingga hancur.

41
Mengubah sifat colloidal protoplasma sehingga menggumpal dan selnya mati.

i. Nutrisi
Merupakan substansi yang diperlukan untuk biosintesis dan pertumbuhan energi.

42
DAFTAR PUSTAKA

1. Ernest Mutschler. Dinamika Obat edisi V. Penerbit ITB. 2009


2. Mutschler, E., 2008, Dynamika Obat farmakologi dan Toksikologi , 88-93,
Penerbit ITB, bandung
3. Sulistika, dkk, 2007, Farmakologi dan Terapi, 862-872, Jakarta
4. Pratiwi. Sylvia.2008. MIKROBIOLOGI FARMASI. Erlangga. Jakarta
5. Mokosuli Yeremia.2009.Pengantar Mikrobiologi.FMIPA INIMA.Tondano
6. Setiawan, Duyeh, 2010, Radiokomia Teori Dasar dan Aplikasi Teknik Nuklir,
Bandung: Widya Padjadjaran
7. Anonymus, 2006, Radioactive Iodine (I-131) Therapy, North America
8. BATAN, 2007; Materi Diklat Petugas Proteksi Radiasi Bidang Radiodiagnostik,
Jakarta Posted in: Eksitasi,Ionisasi,Radiasi
9. Rukmono. Radang. Dalam: ed. Himawan S. Patologi Anatomi. Jakarta: Universitas
Indonesia, 2006: 46-54.
10. Dorland, W.A Newman. 2008. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta: EGC.
11. Anonim 2009. Pemeriksaan laboratorium.
12. Rikawati,2010.Kompetensi Profesional Flebotomi.Samarinda:Analis Group
13. Ratnaningsih,2009.Bagian patologi Klinik Fak.Kedokteran UGM.Flebotomi.
Jogjakarta.
14. Mycek.2007.Farmakologi Ulasan Bergambar.Widya Medika : Jakarta
15. A Y, Sutedjo. 2008. Mengenal Obat-obatan Secara Mudah. Yogyakarta: Amara
Books.
16. Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK UI. 2007. Farmakologi dan Terapi Edisi
5. Jakarta: Bagian Farmakologi FK UI.
17. Mutschler, E. 2008. Dinamika Obat. Bandung: Penerbit ITB.
18. Schlegel, H. 2007. Mikrobiologi Umum Edisi Keenam. Gajah Mada University Press.
Yogyakarta.
19. Handayani Wiwik & Andi Sulistyo Haribowo. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien
dengan Gangguan Sistem Hematologi. Jakarta: Salemba Medika.
20. Rubenstein David, dkk. Editor Safitri Amalia .2005. Lecture Notes Kedokteran
Klinis. Edisi keenam. Jakarta: Erlangga.

43
21. Pratiwi, Silvia T. 2008. MikrobiologiFarmasi. FakultasFarmasiUGM : Yogyakarta.
22. Sumanti, Debby dkk. 2008. Diktat Penuntun Praktikum Mikrobiologi Pangan .
Universitas Padjajaran, Jatinangor.

44