Anda di halaman 1dari 3

Pembahasan

Pada resep 3, diminta membuat sediaan serbuk bagi(pulveres). Serbuk bagi adalah serbuk yang
dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus menggunakan bahan pengemas yang coock
untuk sekali minum (Depkes RI, 1979). Resep ini merupakan resep obat yang diracik atau dibuat
menjadi sediaan pulveres (serbiuk terbagi) dengan gabungan beberapa zat aktif seperti Asetosal yang
mempunyai khasiat sebagai Analgetik (pereda rasa nyeri) dan Antipiretikum (menurunkan demam).
Ditambah dengan Codein sebagai antitusivum (menekan respon batuk), Efedrin sebagai
simpatomimetikum (mengaktifkan kerja sistem syaraf simpatik), Teofilin sebagai spasmolitikum
bronkial () serta Luminal sebagai hipnotikum dan sedativum (Depkes RI, 1979).

Dari komposisi obatnya, terdapat bahan obat yang tergolong narkotika yaitu Codein sehingga dalam
pengerjaannya, bahan obat yang mengandung narkotika ditimbang satu per satu untuk memastikan
bobotnya sama rata. Selain itu, terdapat pula obat golongan psikotropika yaitu luminal yang memilki
indeks terapi sempit dan dalam pengerjaannya luminal juga harus ditimbang satu per satu agar
kesesuaiannya terjaga, agar tidak menggumpal dan harus ditambahkan terakhir. Bobot Codein dan
Efedrin kurang dari 50 mg sehingga dilakukan pengenceran. Terdapat bahan obat yang overdose dan
underdose untuk anak 6 bulan. Bahan obat yang overdose adalah dosis Asetosal sedangkan dosis
codein, teofilin, dan efedrin underdose untuk anak 6 bulan. Untuk meningkatkan dan menurunkan
dosis agar berada pada rentang terapeutik sebaiknya agar dikonsultasikan kepada dokter yang
membuat resep.

Pada resep, bahan obat Asetosal mudah terhidrolisis dan akan berbau asam apabila digerus kuat
dapat dicecah dengan menggerus Asetosal secara perlahan- lahan agar tidak menimbulkan bau
asam. Pulveres yang dibuat berwarna merah sedangkan bahan- bahan obatnya tidak ada yang
berwarna merah sehingga dapat ditambahkan carmyn saat pembuatannya. Bahan obat efedrin
adalah bahan obat tak tersatukan apabila dicampurkan dengan luminal dan asetosal. Dalam
pengerjaannya, efedrin dapat diganti dalam bentuk garamnya yaitu efedrin hidroklorida.

Pada praktikum pembuatan pulveres ini, bobot satu bungkus serbuk yang diperoleh adalah 255 mg
untuk anak 6 bulan. Dilihat dari bobot satu bungkus serbuk diapat dihitung Sacharum Lactis yang
gunakan. Obat ini digunakan untuk pemakaian dalam dan tergolong obat yang mengandung narkotika
sehingga perlu diperhatikan aturan pakai dan tidak boleh diulang tanpa resep dokter tetapi harus
dengan resep baru (Syamsuni, 2006)

.
Pembahasan

Pada resep, terdapat 7, diminta membuat sediaan berupa linimenta. Linimenta adalah sediaan cair
atau kental, mengandung analgetik dan zat yang mempunyai sifat Rubefacient untuk melemaskan
otot atau menghangatkan, digunakan sebagai obat luar yang dioleskan pada kulit menggunakan kain
flanel dan diurut (Syamsuni,2006). Bahan- bahan obat yang digunakan adalah Acidum oleinicum
crudam, oleum sesami dan amonia. Acid oleinicum yaitu berfungsi sebagai zat tambahan dalam
sediaan , sama dengan oleum sesami keduanya merupakan zat tambahan.

Pada praktikum ini, terdapat permasalahan yaitu bahan obat Amonia mudah mengalami penguapan
sehingga saat melakukan penimbangan, Amonia dapat ditimbang di botol timbang dan saat
pengerjaannya dilakukan dalam wadah tertutup. Bau yang dimiliki amonia juga khas dan menusuk
dimana saat pengambilannya harus digunakan aluminium foil agar dapat menahan baunya dan agar
tidak mudah menguap juga. Sediaan yang diminta adalah sediaan yang cair namun terdapat bahan
obat berupa minyak dan ada bahan obat yang bersifat polar. Dalam pengerjaan dapat diatasi dengan
sediaan dibuat dalam bentuk emulsi dengan memanfaatkan reaksi antara bahan obat bersifat asam
dan Amonia yang bersifat basa atau memanfaatkan reaksi penabunan antara asam oleat dan
amonia.

Pada resep terjadi reaksi penyabunan yaitu hidrolisis minyak atau lemak dengan basa. Reaksi
penyabunan dibuat dengan menggojok oleum sesami yang telah ditambahi dengan acidum
oleinicum dengan amonia dalam botol (Anief, 2010). Dalam penggunaannya, linimenta tidak umum
digunakan pada kulit yang pecah atau lecet sebab mungkin menimbulkan iritasi yang berlebihan
(Ansel, 2011).
Pembahasan

Pada resep 9, diminta membuat sediaan elixir. Elixir adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai
rasa dan bau sedap, mengandung selain obat, juga zat tambahan seperti gula dan atau zat pemanis
lainnya, zat warna, zat pewangi dan zat pengawet, digunakan sebagai obat dalam. Sebagai pelarut
utama digunakan etanol yang dimaksudkan untuk mempertinggi kelarutan obat. Dapat ditambahkan
gliserol, sorbitol dan propilenglikol sebagai konsolven(pelarut) lain (Depkes RI, 1979). Pada resep,
elixir yang dibuat adalah elixir acetaminophen. Bahan- bahan obat yang digunakan adalah
Acetaminophen, Glyserolum, propilenglikolum, sorbitoli solutio 70%, aethanolum dan aqua
destillata. Eliksir Acethaminophen digunakan untuk mengurangi/ menghilangkan nyeri dan
menurunkan demam teruatama pada pasien yang tidak tahan terhadap aspirin. Eliksir terutama
digunakan untuk pasien anak- anak (Ansel, 2011).

Pada resep, terdapat bahan obat yang mudah menguap walaupun pada suhu rendah yaitu
Aethanolum. Dapat diatasi dengan menambahkan cairan yang mudah menguap terakhir untuk
menghindari kekurangan bobot. sediaan yang diminta pada resep sebanyak 60 ml tetapi pada resep
standar hanya terdapat pembuatan elixir tiap 5 ml. Permasalahan tersebut dapat diatasi sat
perhitungan pada penimbangan, jumlah bahan semua dikalikan 12 kali sehingga bobot bahan akan
pas untuk membuat elixir sebanyak 60 mL.

Pada penimbangan Glyserolum, Propylenglikol dan sorbitol solutio 70% digunakan gelas ukur. Ketika
melakukan penimbangan pada larutan tersebut menggunakan miniskus bawah karena volume
konsolven tersebut tidak berwarna ataupun larutan berwarna tetapi masih bening. Sehingga, skala
pada alat ukur masih terlihat jelas dan terbentuk seperti cekung ke bawah pada larutan, maka batas
bawah cekung itu yang di baca.

Pada praktikum ini, tidak digunakan miniskus atas karena miniskus atas itu adalah garis yang tepat
berhimpit dengan larutan bagian atas. garis tersebut tidak membentuk cekung ke bawah, melainkan
akan lurus tepat berhimpit dengan garis skala pada alat ukur yang di pakai. Sehingga penggunaan
miniskus atas hanya untuk larutan yang berwarna pekat atau gelap.