Anda di halaman 1dari 17

Asuhan Keperawatan Thypoid Aplikasi NIC, NOC,

NANDA
A. Masalah Yang lazim muncul pada klien
1. Hipertemia b/d proses infeksi salmonella thyposa
2. Resiko defisit volume cairan b/d pemasukan yang kurang, mual, muntah/pengeluaran yang
berlebihan, diare, panas tubuh
3.Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake kurang akibat mual,
muntah, anoreksia, atau output yang berlebihan akibat diare.
4.Gangguan pola defeksi : diare b/d proses peradangan pada dinding usus halus
5.Perubahan pola defeksi : konstipasi b/d proses peradangan pada dinding usus halus,
6.Resiko tinggi trauma fisik b/d gangguan mental, delirium/psikosis

B. Discharge Planning
1. Berikan informasi tentang kebutuhan melakukan aktivitas sesuai dengan tngkat perkembangan
dan kondisi fisik anak
2. Jelaskan terapi yang diberikan : dosis, efek samping
3. Menjelaskan gejala gejela kekambuhan penyakit dan hal yang harus dilakukan untuk mengatasi
hal tersebut
4. Tekankan untukmelakukan kontrol sesuai waktu yang ditentukan

No Diagnosa keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi


Hasil

1 Hipertemia b/d proses NOC : NIC :


infeksi salmonella Thermoregulation Fever treatment
thyposa Kriteria Hasil : Monitor suhu sesering mungkin
Suhu tubuh dalam Monitor IWL
Definisi : suhu tubuh naik rentang normal Monitor warna dan suhu kulit
diatas rentang normal Nadi dan RR dalam Monitor tekanan darah, nadi dan RR
rentang normal Monitor penurunan tingkat
Batasan Karakteristik: kesadaran
Tidak ada perubahan
kenaikan suhu tubuh diatas Monitor WBC, Hb, dan Hct
warna kulit dan tidak Monitor intake dan output
rentang normal ada pusing, merasa
serangan atau konvulsi Kolaborasi pemberian anti piretik
nyaman Berikan pengobatan untuk
(kejang)
mengatasi penyebab demam
kulit kemerahan
Selimuti pasien
pertambahan RR
Lakukan tapid sponge
takikardi Kolaboraikan dengan dokter
saat disentuh tangan terasa mengenai pemberian cairan
hangat intravena sesuai program
Faktor faktor yang Kompres pasien pada lipat paha
berhubungan : dan aksila
- penyakit/ trauma Tingkatkan sirkulasi udara
- peningkatan metabolisme Berikan pengobatan untuk
- aktivitas yang berlebih mencegah terjadinya menggigil
- pengaruh medikasi/anastesi
- ketidakmampuan/penurunan Temperature regulation
kemampuan untuk Monitor suhu minimal tiap 2 jam
berkeringat Rencanakan monitoring suhu
- terpapar dilingkungan panas secara kontinyu
- dehidrasi Monitor TD, nadi, dan RR
- pakaian yang tidak tepat Monitor warna dan suhu kulit
Monitor tanda-tanda hipertermi dan
hipotermi
Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
Selimuti pasien untuk mencegah
hilangnya kehangatan tubuh
Ajarkan pada pasien cara
mencegah keletihan akibat panas
Diskusikan tentang pentingnya
pengaturan suhu dan
kemungkinan efek negatif dari
kedinginan
Beritahukan tentang indikasi
terjadinya keletihan dan
penanganan emergency yang
diperlukan
Ajarkan indikasi dari hipotermi dan
penanganan yang diperlukan
Berikan anti piretik jika perlu

Vital sign Monitoring


Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
Catat adanya fluktuasi tekanan darah
Monitor VS saat pasien berbaring,
duduk, atau berdiri
Auskultasi TD pada kedua lengan
dan bandingkan
Monitor TD, nadi, RR, sebelum,
selama, dan setelah aktivitas
Monitor kualitas dari nadi
Monitor frekuensi dan irama
pernapasan
Monitor suara paru
Monitor pola pernapasan abnormal
Monitor suhu, warna, dan
kelembaban kulit
Monitor sianosis perifer
Monitor adanya cushing triad
(tekanan nadi yang melebar,
bradikardi, peningkatan sistolik)
Identifikasi penyebab dari perubahan
vital sign

2 Resiko defisit volume NOC: Fluid management


cairan b/d pemasukan Fluid balance Timbang popok/pembalut jika
yang kurang, mual, Hydration diperlukan
muntah/pengeluaran Nutritional Status : Food Pertahankan catatan intake dan
yang berlebihan, diare, and Fluid Intake output yang akurat
panas tubuh Monitor status hidrasi (
Kriteria Hasil :
Mempertahankan urine kelembaban membran mukosa,
Definisi : Penurunan cairan nadi adekuat, tekanan darah
intravaskuler, interstisial, output sesuai dengan
ortostatik ), jika diperlukan
dan/atau intrasellular. Ini usia dan BB, BJ urine
Monitor vital sign
mengarah ke dehidrasi, normal, HT normal
Monitor masukan makanan /
kehilangan cairan dengan Tekanan darah, nadi, suhu cairan dan hitung intake kalori
pengeluaran sodium tubuh dalam batas harian
normal Lakukan terapi IV
Batasan Karakteristik : Tidak ada tanda tanda Monitor status nutrisi
- Kelemahan dehidrasi, Elastisitas
Berikan cairan
- Haus turgor kulit baik,
Berikan cairan IV pada suhu
- Penurunan turgor kulit/lidah membran mukosa ruangan
- Membran mukosa/kulit kering lembab, tidak ada rasa
- Peningkatan denyut nadi, Dorong masukan oral
haus yang berlebihan Berikan penggantian nesogatrik
penurunan tekanan darah,
penurunan volume/tekanan sesuai output
nadi Dorong keluarga untuk membantu
- Pengisian vena menurun pasien makan
- Perubahan status mental Tawarkan snack ( jus buah, buah
- Konsentrasi urine meningkat segar )
- Temperatur tubuh meningkat Kolaborasi dokter jika tanda
- Hematokrit meninggi cairan berlebih muncul meburuk
- Kehilangan berat badan Atur kemungkinan tranfusi
seketika (kecuali pada third Persiapan untuk tranfusi
spacing)
Faktor-faktor yang
berhubungan:
- Kehilangan volume cairan
secara aktif
- Kegagalan mekanisme
pengaturan

3 Resiko NOC : Nutrition Management


ketidakseimbangan Nutritional Status : food Kaji adanya alergi makanan
nutrisi kurang dari and Fluid Intake Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
kebutuhan tubuh b/d Kriteria Hasil : menentukan jumlah kalori dan
intake kurang akibat nutrisi yang dibutuhkan pasien.
mual, muntah, Adanya peningkatan berat Anjurkan pasien untuk meningkatkan
anoreksia, atau output badan sesuai dengan intake Fe
yang berlebihan akibat tujuan Anjurkan pasien untuk meningkatkan
diare. Berat badan ideal sesuai protein dan vitamin C
dengan tinggi badan Berikan substansi gula
Yakinkan diet yang dimakan
Definisi : Intake nutrisi tidak Mampu mengidentifikasi
mengandung tinggi serat untuk
cukup untuk keperluan kebutuhan nutrisi mencegah konstipasi
metabolisme tubuh. Tidak ada tanda tanda Berikan makanan yang terpilih (
malnutrisi sudah dikonsultasikan dengan ahli
Batasan karakteristik : Tidak terjadi penurunan gizi)
- Berat badan 20 % atau lebih berat badan yang berarti
Ajarkan pasien bagaimana membuat
di bawah ideal
catatan makanan harian.
- Dilaporkan adanya intake
Monitor jumlah nutrisi dan
makanan yang kurang dari kandungan kalori
RDA (Recomended Daily Berikan informasi tentang kebutuhan
Allowance)
nutrisi
- Membran mukosa dan
Kaji kemampuan pasien untuk
konjungtiva pucat
mendapatkan nutrisi yang
- Kelemahan otot yang
dibutuhkan
digunakan untuk
menelan/mengunyah
- Luka, inflamasi pada rongga
mulut Nutrition Monitoring
- Mudah merasa kenyang, BB pasien dalam batas normal
sesaat setelah mengunyah Monitor adanya penurunan berat
makanan badan
- Dilaporkan atau fakta adanya Monitor tipe dan jumlah aktivitas
kekurangan makanan yang biasa dilakukan
- Dilaporkan adanya Monitor interaksi anak atau orangtua
perubahan sensasi rasa selama makan
- Perasaan ketidakmampuan Monitor lingkungan selama makan
untuk mengunyah makanan Jadwalkan pengobatan dan
- Miskonsepsi tindakan tidak selama jam makan
- Kehilangan BB dengan Monitor kulit kering dan perubahan
makanan cukup pigmentasi
- Keengganan untuk makan Monitor turgor kulit
- Kram pada abdomen Monitor kekeringan, rambut kusam,
- Tonus otot jelek dan mudah patah
- Nyeri abdominal dengan atau Monitor mual dan muntah
tanpa patologi Monitor kadar albumin, total protein,
- Kurang berminat terhadap Hb, dan kadar Ht
makanan Monitor makanan kesukaan
- Pembuluh darah kapiler Monitor pertumbuhan dan
mulai rapuh perkembangan
- Diare dan atau steatorrhea Monitor pucat, kemerahan, dan
- Kehilangan rambut yang kekeringan jaringan konjungtiva
cukup banyak (rontok) Monitor kalori dan intake nuntrisi
- Suara usus hiperaktif Catat adanya edema, hiperemik,
- Kurangnya informasi, hipertonik papila lidah dan cavitas
misinformasi oral.
Catat jika lidah berwarna magenta,
Faktor-faktor yang scarlet
berhubungan :
Ketidakmampuan
pemasukan atau mencerna
makanan atau
mengabsorpsi zat-zat gizi
berhubungan dengan
faktor biologis, psikologis
atau ekonomi.

4 Gangguan pola defeksi : NOC: NIC :


diare b/d proses Bowel elimination Diarhea Management
peradangan pada Fluid Balance Evaluasi efek samping pengobatan
dinding usus halus Hydration terhadap gastrointestinal
Electrolyte and Acid base Ajarkan pasien untuk
Balance menggunakan obat antidiare
Kriteria Hasil : Instruksikan pasien/keluarga
untukmencatat warna, jumlah,
Feses berbentuk, BAB
frekuenai dan konsistensi dari
sehari sekali- tiga hari feses
Menjaga daerah sekitar Evaluasi intake makanan yang
rectal dari iritasi masuk
Tidak mengalami diare Identifikasi factor penyebab dari
Menjelaskan penyebab diare
diare dan rasional
Monitor tanda dan gejala diare
tendakan Observasi turgor kulit secara rutin
Mempertahankan turgor Ukur diare/keluaran BAB
kulit Hubungi dokter jika ada kenanikan
bising usus
Instruksikan pasien untukmakan
rendah serat, tinggi protein dan
tinggi kalori jika memungkinkan
Instruksikan untuk menghindari
laksative
Ajarkan tehnik menurunkan stress
Monitor persiapan makanan yang
aman

5 Resiko tinggi trauma NOC: NIC :


fisik b/d gangguan Knowlwdge : personel Environmental
mental, delirium/psikosis safety Management safety
Safety behavior : falls Sediakan lingkungan
Prevention yang aman untuk pasien
Safety Behavior : Falls Identifikasi kebutuhan
Occurance keamanan pasien, sesuai dengan
Safety behavior : Physical kondisi fisik dan fungsi
injury kognitif pasien dan riwayat
penyakit terdahulu pasien
Menghindarkan
lingkungan yang berbahaya
(misalnya memindahkan
perabotan)
Memasang side rail
tempat tidur
Menyediakan tempat
tidur yang nyaman dan bersih
Menempatkan saklar
lampu ditempat yang mudah
dijangkau pasien.
Membatasi pengunjung
Memberikan penerangan
yang cukup
Menganjurkan keluarga
untuk menemani pasien.
Mengontrol lingkungan
dari kebisingan
Memindahkan barang-
barang yang dapat
membahayakan
Berikan penjelasan pada
pasien dan keluarga atau
pengunjung adanya perubahan
status kesehatan dan penyebab
penyakit

6 Perubahan pola defeksi : NOC: NIC: Constipation/


konstipasi b/d proses Bowel elimination Impaction Management
peradangan pada Hydration Monitor tanda dan gejala konstipasi
dinding usus halus, Kriteria Hasil : Monior bising usus
Mempertahankan Monitor feses: frekuensi, konsistensi
bentuk feses lunak dan volume
setiap 1-3 hari Konsultasi dengan dokter tentang
penurunan dan peningkatan bising
Bebas dari
usus
ketidaknyamanan dan Mitor tanda dan gejala
konstipasi ruptur usus/peritonitis
Mengidentifikasi Jelaskan etiologi dan rasionalisasi
indicator untuk tindakan terhadap pasien
mencegah konstipasi Identifikasi faktor penyebab dan
kontribusi konstipasi
Dukung intake cairan
Kolaborasikan pemberian laksatif
KONSEP DASAR PENYAKIT1 Defenisi

Hypertensi Pulmonary

atau yang biasa disebut Hipertensi Paru merupakan kondisi yang tidak terlihatsecara klinis sampai pada
tahap lanjut kemajuan penyakitnya. Penyakit ini ditandai denganpeningkatan tekanan darah pada
pembuluh darah arteri paru-paru yang menyebabkan sesak nafas,pusing dan pingsan pada saat
melakukan aktivitas. Berdasar penyebabnya hipertensi pulmonal dapatmenjadi penyakit berat yang
ditandai dengan penurunan toleransi dalam melakukan aktivitas dangagal jantung kanan. Penyakit ini
pertama kali ditemukan oleh Dr Ernst von Romberg pada tahun1891. Awalnya PH diklasifikasikan
menjadi hipertensipulmonal idiopatik (IPAH, atau hipertensipulmonal primer) dan Hipertensi
pulmonalsekunder.a. Hipertensi pulmonal Primer Merupakan hipertensi pulmonal yang tidakdiketahui
penyebabnya. Keadaan ini palingsering terjadi pada usia 20 tahun sampai 40tahun. Dan biasanya fatal
dalam 5 tahundiagnosis. Hipertensi pulmonal primer lebihsering didapatkan pada perempuan
denganperbandingan 2:1, angka kejadian pertahunsekitar 2-3 kasus per 1 juta penduduk, dengan

mean survival

dari awitan penyakit sampaitimbulnya gejala sekitar 2-3 tahun.b. Hipertensi Pulmonal Sekunder
Merupakan bentuk yang lebih umum dan diakibatkan oleh penyakit paru atau jantung yang dideritaoleh
klien. Penyebab yang paling umum dari hipertensi pulmonal sekunder adalah konstriksi arteripulmonar
akibat hipoksia karena penyakit paru obstruksi kronik (PPOK), obesitas, inhalasi asap dankelainan
neuromuskular.

2 Etiologi

a. Hipertensi pulmonal pasif Agar darah dapat mengalir melalui paru dan kemudian masuk ke dalam
vena pulmonalis, maka tekandalam arteri pulmonalis harus lebih tinggi daripada vena pulmonalis.
Dengan demikian, maka setiapkenaikan tekanan dalam vena pulmonalis seperti pada stenosis mitral,
insufisiensi mitral dan ventrikelkiri yang hipertrofi akan menyebabkan peningkatan tekanan dalam arteri
pulmonalis pula.b. Hipertensi pulmonal reaktif Sebagai reaksi akibat peningkatan dalam vena pulmonalis
maka pada beberapa penderita terjadivasokonstriksi arteriol pulmonal yang aktif. Vasokonstriksi ini
menyebabkan resistensi terhadappengaliran darah melalui paru bertambah besar dan tekanan dalam
arteri pulmonalis meningkat, misalpada penderita dengan stenosis mitral yang berat dan kadang-kadang
pada penderita denganinsufisiensi mitral atau dengan gagal jantung kiri. Faktor penyebab ini
dihubungkan pula dengan faktor

familial.c. Aliran darah dalam paru yang meningkatPeningkatan aliran darah paru yang sedang, bila
disertai dengan dilatasi pembuluh darah paru danterbukanya lubang saluran yang sebelumnya telah
menutup, maka dapat berlangsung tanpa terjadipeningkatan tekanan dalam arteri pulmonalis. Kalau
aliran darah itu lebih besar misalnya sampai lebih3 kali yang normal, maka akan diperlukan tekanan
yang lebih besar dalam paru agar pengaliran darahdapat berlangsung.d. Vaskularisasi paru yang
berkurang Bila dua pertiga atau lebih dari vaskularisasi paru mengalami obliterasi maka diperlukan
peningkatantekanan dalam arteri pulmonalis supaya tetap ada aliran yang adekuat, misalnya pada
kelainandengan embolus paru yang berulang-ulang sehingga menyumbat arteri dan arteriol dalam paru.
Padapenyakit paru yang luas seperti enfisema, fibrosis pada paru yang luas dan pada hipertensi
pulmonalidiopatik.

3 Manifestasi Klinis

.Sesak nafas yang timbul secara bertahap , ntuk meningkatkan secara bertahap atau mendadak
nafasdan kebutuhan udara bagi tubuh, pasien mengalami nafas pendek dan haus udara.
Terjadihiperventalasi (napas cepat dan dalam) , kelemahan, batuk tidak produktif, Pasien
mengeluhberkunang-kunang, telinganya mendenging atau sering pingsan. Munculnya memar-memar
menunjukkan episode sinkop. Wajah pasien merah panas dan merasa lemah lesu , kemudian
terjadiedema perifer yaitu pembengkakan pada tungkai terutama tumit dan kaki , terutama pada pagi
haridan sore hari mengalami perbaikan.Pada pasien Hipertensi pulmonal, juga terjadi k elainan
hepatomegali karena peningkatan kerja jantung kanan untuk memompakan darah ke paru melalui
resistensi arteri pulmonal yang meningkat,sehingga terjadi hipertrofi dan dilatasi dari ventrikel kanan .
Karena pada hipertensi pulmonal, curah jantung berkurang maka terjadi penimbunan darah yang
abnormal dalam ventrikel kanan sehinggakemungkinan untuk mengalami gagal jantung kanan dapat
terjadi setiap saat. Kelelahan, dispnoe,angina pektoris, kejang dan sinkop merupakan gejala yang
umumnya ditemukan. Edema biasanyaterlihat pada keadaan yang lanjut, sedangkan hemoptisis terjadi
akibat adanya infark atau robeknyapembuluh darah yang abnormal dalam paru. Pada pemeriksaan fisis
ditemukan anggota gerak yangdingin, sianosis perifer, nadi dengan amplitudo yang kecil, tekanan vena
jugularis meningkat, aktivitasdaerah jantung kanan bertambah, komponen pulmonal bunyi jantung II
mengeras, terdengar pula

pulmonary ejection click

dan bising sistolik ejeksi, bising pansistolitik pada daerah tricuspid, bisingmid-diastolik pada sisi tulang
sternum sebelah kiri dan terdapatnya irama derap atrium pada daerahtricuspid.

4 Patofisiologi

Hipertensi pulmonal dapat menyebabkan pengerasan pembuluh darah pada dan di dalam paru.Hal ini
memperberat kerja jantung dalam memompa darah ke paru. Lama-kelamaan pembuluh darahyang
terkena akan menjadi kaku dan menebal hal ini akan menyebabkan tekanan dalam pembuluhdarah
meningkat dan aliran darah juga terganggu. Hal ini akan menyebabkan bilik jantung kananmembesar
sehingga menyebabkan suplai darah dari jantung ke paru berkurang sehigga terjadi suatukeadaan yang
disebut dengan gagal jantung kanan. Sejalan dengan hal tersebut maka aliran darah ke jantung kiri juga
menurun sehingga darah membawa kandungan oksigen yang kurang dari normaluntuk mencukupi
kebutuhan tubuh terutama pada saat melakukan aktivitas

5 Pemeriksaan penunjang

a. Pemeriksaan Non Invasif Pertama kali mencurigai klinis hipertensi pulmonal, harus melakukan
pemeriksaan konfirmasi danpemeriksaan untuk mengeklusi tipe lain penyebab hipertensi pulmonal,di
samping untuk menentukanberatnya atau prognosis.Baru-baru ini suatu konsensus merekomendasikan
pemeriksaan untukhipertensi pulmonal.1) Ekokardiograf Pada pasien yang secara klinis dicurigai
hipertensi pulmonal, untuk diagnosis sebaiknya dilakukanekokardiografi. Ekokardiografi dapat
mendeteksi kelainan katup, disfungsi ventrikel kiri,

shunt

jantung.Untuk menilai tekanan sistolik ventrikel kanan dengan ekokardiografi harus ada regurgitasi
trikuspid.

Bila pada pasien dengan hipertensi pulmonal tidak ada regurgitasi trikuspid untuk menilai
tekananventrikel kanan secara kuantitatif, dapat dipakai nilai kualitatif. Tanda-tanda kualitatif tersebut
yaitupembesaran atrium dan ventrikel kanan serta septum yang cembung atau rata. Adanya efusi
perikardmenunjukkan beratnya penyakit dan prognosis yang kurang baik.2) Tes berjalan 6
menitPemeriksaan yang sederhana dan tidak mahal untuk keterbatasan fungsional klien
hipertensipulmonal adalah dengan tes ketahanan berlajan 6 menit (6WT). Ini digunakan sebagai
pengukur kapasitas fungsional klien dengan sakit jantung, memiliki prognostik yang signifikan dan
telahdigunakan secara luas dalam penelitian untuk evaluasi klien hipertensi pulmonal yang diterapi.
6WTtidak memerlukan ahli dalam penilaian.3) Tes fungsi paruPengukuran kaasitas vital paksa (FVC) saat
istirahat, volume ekspirasi paksa 1 detik (FEV1), ventilasivolunter maksimum (MW), kapasitas difusi
karbon monoksida, volume alveolar efektif, dan kapasitasparu total adalah komponen penting dalam
pemeriksaan Hhipertensi pulmonal, yang dapatmengidentifikasi secara significan obstruksi saluran atau
defek mekanik sebagai faktor kontribusihipertensi pulmonal. Tes fungsi paru juga secara kuantitatif
menilai gangguan mekanik sehubungandengan penurunan volume paru pada HP.4) Radiografi Torak (Ro
Torak)Khas parenkim paru pada hipertensi pulmonal bersih. Foto torak dapat membantu diagnosis
ataumembantu menemukan penyakit lain yang mendasari hipertensi pulmonal. Gambaran khas foto
torakspada hipertensi pulmonal ditemukan bayangan hilar, bayangan arteri pulmonalis dan pada foto
torakslateral pembesaran ventrikel kanan.5) ElektrokardiografiGambaran tipikal EKG pada klien HP
sering menunjukkan pembesaran atrium dan ventrikel kanan,terkadang dapat memperkirakan tekanan
arteri pulmonal, strain ventrikel kanan ,dan pergeseranaksis ke kanan, yang juga memliki nilai
prognostik. Elektrokardiogram menunjukkan perubahanhipertrofi ventrikel kanan (panah panjang)
dengan regangan pada pasien dengan hipertensi pulmonalprimer. Deviasi sumbu kanan (pendek panah),
peningkatan amplitudo gelombang P pada lead II(panah hitam), dan tidak lengkap blok cabang berkas
kanan (panah putih) yang sangat spesifik tetapitidak memiliki kepekaan untuk mendeteksi hipertrofi
ventrikel kanan.6) CT Scan Resolusi TinggiCT Scan dilakukan hanya untuk membedakan apakah termasuk
hipertensi pulmonal primer atauhipertensi pulmonal sekunder. Tanpa zat kontras untuk menilai
parenkim paru seperti bronkiektasi,emfisema, atau penyakit interstisial. Dengan zat kontras untuk
mendeteksi dan melihat penyakittromboemboli paru.b. Pemeriksaan Invasif 1) Kateterisasi
jantungKateterisasi jantung dapat mengukur dengan tepat tekanan di ventrikel kanan dan mengukur
resistensipembuluh darah di paru. Tes vasodilator dengan obat kerja singkat (seperti : adenosin, inhalasi
nitricoxide atau epoprosteno) dapat dilakukan selama kateterisasi, respons vasolidatif positif
biladidapatkan penurunan tekanan arteri pumonalis dan resistensi vaskular paru sedikitnya 20%
daritekanan awal.2) Tes vasodilator Vasoreaktivitas adalah suatu bagian penting untuk evaluasi klien
hipertensi pulmonal, klien yangrespon dengan vasodilator terbukti memperbaiki survival dengan
mengunakan blok kanal kalsium(CCB) jangka panjang. Definisi respon adalah penurunan rata-rata
tekanan arteri pulmonal < 10mmHg dengan penignkatan kardiak output. Tujuan primer tes vasodilator
adalah untuk menentukanapakah klien bisa diterapi dengan CCB oradenganzl.3) Biopsi paruJarang
dilakukan karena riskan pada klien hipertensi pulmonal, biopsi paru di indikasikan bila klienyang diduga
hipertensi pulmonal primer dengan pemeriksaan standar tidak kuat untuk diagnosisdefinitif

6 Penatalaksanaan

a. PengobatanPengobatan hipertensi pulmonal bertujuan untuk mengoptimalkan fungsi jantung kiri


denganmenggunakan obat-obatan seperti : diuretik, beta-bloker dan ACE inhibitor atau dengan
caramemperbaiki katup jantung mitral

atau katup aorta (pembuluh darah utama). Pada hipertensi pulmonalpengobatan dengan perubahan
pola hidup, diuretik, antikoagulan dan terapi oksigen merupakan suatuterapi yang lazim dilakukan,
tetapi berdasar dari penelitian terapi tersebut belum pernah dinyatakanbermanfaat dalam mengatasi
penyakit tersebut.b. Obat-obatan vasoaktif Obat-obat vasoaktif yang digunakan pada saat ini antara lain
adalah antagonis reseptor endotelial,PDE-5 inhibitor dan derivat prostasiklin. Obat-obat tersebut
bertujuan untuk mengurangi tekanandalam pembuluh darah paru. Sildenafil adalah obat golongan PDE-
5 inhibitor yang mendapatpersetujuan dari FDA pada tahun 2005 untuk mengatasi hipertensi pulmonalc.
Terapi bedahPembedahan sekat antar serambi jantung (atrial septostomy) yang dapat menghubungkan
antaraserambi kanan dan serambi kiri dapat mengurangi tekanan pada jantung kanan tetapi kerugian
dariterapi ini dapat mengurangi kadar oksigen dalam darah (hipoksia). Transplantasi paru
dapatmenyembuhkan hipertensi pulmonal namun komplikasi terapi ini cukup banyak dan angka
harapanhidupnya kurang lebih selama 5 tahun.d. Transplantasi paru-paruHipertensi pulmonal primer
biasanya progresif dan akhirnya berakibat fatal. Tranplantasi paru adalahsuatu pilihan pada beberapa
pasien lebih muda dari 65 tahun yang memiliki hipertensi pulmonal yangtidak merespon manajemen
medis. Menurut AS tahun 1997 transplantasi laporan registri, 24 penerimatransplantasi paru-paru
dengan hipertensi pulmonal primer memiliki tingkat ketahanan hidup dari 73persen pada satu tahun, 55
persen di tiga tahun dan 45 persen pada lima tahun. Penguranganlangsung tekanan arteri paru-paru
dikaitkan dengan perbaikan dalam fungsi ventrikel kanan.Kambuhnya hipertensi pulmonal primer
setelah transplantasi paru-paru belum dilaporkan

B.

ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS CA PARU

1. Pengkajian

a. IdentitasNama, tempat tanggal lahir, umur, jenis kelamin, agama/ suku, warga Negara, bahasa
yangdigunakan, dan penanggung jawab yang meliputi nama, alamat, dan hubungan dengan klien.b.
Keluhan utamaDispnea, nyeri dada substernalc. Riwayat kesehatan sekarangSering tidak menunjukkan
gejala yang spesifik. Dispnea saat aktivitas, fatique dan sinkop.d. Riwayat kesehatan dahuluGagal
jantung kiri, HIV, peny autoimun,
sirosis

hati, anemia sel sabit, peny bawaan, peny tiroid,PPOK, peny paru intertisial,

sleep apnea

, emfisemae. Pemeriksaan FisikBerdasarkan surve umum dan pengkajian neurologi menunjukkan


manifestasi kerusakan organ. Otak sakit kepala, mual, muntah, epistaksis, kesemutan pada
ekstremitas, enchepalopati,hipertensis ( mengantuk, kejang atau koma) Mata retinopati ( hanya dapat
dideteksi dengan penggunaan oftalmuskop, yang akanmenunjukkan hemoragie retinal dan eksudat
dengan papiledema), penglihatan kabur Jantung gagal jantung (dispnea pada pergerakan tenaga,
takhikardia) Ginjal penurunan keluaran urine dalam hubungannya dengan pemasukan cairan,
penambahanberat badan tiba-tiba, dan edema.f. Review of Sistem pada klien hipertensi pulmonal
Pernafasan B1 (breath)Sesak nafas yang timbul secara bertahapKelemahanBatuk tidak produktif Gejala
yang jarang timbul adalah hemoptisis

Nyeri (pada hipertensi pulmonal akut) Kardiovaskular B2 (blood)Tekanan dalam pembuluh darah
meningkat dan aliran darah tergangguGagal jantung kananOksigen yang kurang dari normalEdema
perifer (pembengkakan pada tungkai terutama tumit dan kaki)Distensi vena jugularisHepatomegali
Persyarafan B3 (brain)Pusing Perkemihan B4 (bladder)Normal Pencernaan B5 (bowel)Normal
Muskuloskeletal/integument B6 (bone)Penurunan toleransi dalam melakukan aktivitasKelemahan

2. Diagnosa

Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada hipertensi pulmonal antara lain:a. Gangguan pertukaran
gas b.d kerusakan jaringan parub. Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan paruc. Kelebihan
volume cairan b.d edema perifer

3. IntervensiNODIAGNOSANOCNIC

Gangguanpertukarangas b/dkerusakan jaringan paru

NOC :

v Respiratory Status : Gas exchangev Respiratory Status : ventilationv Vital Sign Status

Kriteria Hasil :

v Mendemonstrasikan peningkatanventilasi dan oksigenasi yang adekuatv Memelihara kebersihan paru


paru danbebas dari tanda tanda distresspernafasanv Mendemonstrasikan batuk efektif dansuara nafas
yang bersih, tidak adasianosis dan dyspneu (mampumengeluarkan sputum, mampu bernafasdengan
mudah, tidak ada pursed lips)v Tanda tanda vital dalam rentangnormal

NIC

Airway Management

- Buka jalan nafas, guanakanteknik chin lift atau jaw thrust bilaperlu- Posisikan pasien
untukmemaksimalkan ventilasi- Identifikasi pasien perlunyapemasangan alat jalan nafasbuatan- Pasang
mayo bila perlu- Keluarkan sekret denganbatuk atau suction- Lakukan suction pada mayo- Berika
bronkodilator bial perlu- Monitor respirasi dan statusO2

Respiratory monitoring

- Monitor rata rata,kedalaman, irama dan usaharespirasi- Monitor pola nafas :bradipena, takipenia,
kussmaul,hiperventilasi, cheyne stokes, biot- Catat lokasi trakea- Auskultasi suara nafas, catatarea
penurunan / tidak adanyaventilasi dan suara tambahan- Tentukan kebutuhan suctiondengan
mengauskultasi crakles danronkhi pada jalan napas utama- Uskultasi suara paru setelahtindakan untuk
mengetahui hasilnya

Nyeriberhubungandengankerusakan jaringan paru

NOC :

Pain Level,

Pain control,

Comfort level

Kriteria Hasil :

Mampu mengontrol nyeri (tahupenyebab nyeri, mampu menggunakantehnik nonfarmakologi untuk


menguranginyeri, mencari bantuan)

Melaporkan bahwa nyeri berkurangdengan menggunakan manajemen nyeri

Mampu mengenali nyeri (skala,intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)


Menyatakan rasa nyaman setelahnyeri berkurang

Tanda vital dalam rentang normal

NIC :Pain Management

Lakukan pengkajian nyerisecara komprehensif termasuklokasi, karakteristik, durasi,frekuensi, kualitas


dan faktor presipitasi

Observasi reaksi nonverbal dariketidaknyamanan

Gunakan teknik komunikasiterapeutik untuk mengetahuipengalaman nyeri pasien

Kontrol lingkungan yang dapatmempengaruhi nyeri seperti suhuruangan, pencahayaan dankebisingan

Kurangi faktor presipitasi nyeri

Pilih dan lakukan penanganannyeri (farmakologi, non farmakologidan inter personal)

Kaji tipe dan sumber nyeri untukmenentukan intervensi

Ajarkan tentang teknik nonfarmakologi

Berikan analgetik untukmengurangi nyeri

Evaluasi keefektifan kontrolnyeri


Tingkatkan istirahat

Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeritidak berhasil

Monitor penerimaan pasiententang manajemen nyeri

Analgesic Administration

Tentukan lokasi, karakteristik,kualitas, dan derajat nyeri sebelumpemberian obat

Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi

Cek riwayat alergi

Pilih analgesik yang diperlukanatau kombinasi dari analgesik ketikapemberian lebih dari satu

Tentukan analgesik pilihan, rutepemberian, dan dosis optimal

Pilih rute pemberian secara IV,IM untuk pengobatan nyeri secarateratur

Monitor vital sign sebelum dansesudah pemberian analgesikpertama kali

Berikan analgesik tepat waktuterutama saat nyeri hebat

Evaluasi efektivitas analgesik,tanda dan gejala (efek samping)


kelebihanvolumecairan b/dedemaperiver

NOC :

Electrolit and acid base balance

Fluid balance

Hydration

Kriteria Hasil:

Terbebas dari edema, efusi,anaskara

Bunyi nafas bersih, tidak adadyspneu/ortopneu

Terbebas dari distensi vena jugularis,reflek hepatojugular (+)

Memelihara tekanan vena sentral,tekanan kapiler paru, output jantung danvital sign dalam batas
normal

NIC :Fluid management

Timbang popok/pembalut jika diperlukan

Pertahankan catatan intakedan output yang akurat

Pasang urin kateter jikadiperlukan


Monitor hasil lAb yangsesuai dengan retensi cairan (BUN ,Hmt , osmolalitas urin )

Monitor status hemodinamiktermasuk CVP, MAP, PAP, danPCWP

Monitor vital sign

Monitor indikasi retensi /kelebihan cairan (cracles, CVP ,edema, distensi vena leher, asites)

Kaji lokasi dan luas edema

Monitor masukan makanan/ cairan dan hitung intake kaloriharian

Berikan diuretik sesuaiinteruksi

Batasi masukan cairanpada keadaan hiponatrermi dilusidengan serum Na < 130 mEq/l

Kolaborasi dokter jika tandacairan berlebih muncul memburuk

Fluid Monitoring

Tentukan riwayat jumlahdan tipe intake cairan dan eliminaSi

Tentukan kemungkinanfaktor resiko dari ketidakseimbangan cairan (Hipertermia,terapi diuretik,


kelainan renal, gagal jantung, diaporesis, disfungsi hati,dll )

Monitor berat badan


Monitor serum dan elektroliturine

Monitor serum danosmilalitas urine

Monitor BP, HR, dan RR

Monitor tekanan darahorthostatik dan perubahan irama jantung

Monitor adanya distensileher, rinchi, eodem perifer danpenambahan BB

Monitor tanda dan gejaladari odema

Beri obat yang dapatmeningkatkan output urinJangan Lupa Baca artikel lainya juga :D tentang laporan
pendahulan dan askep aplikasi nada nic noc..Laporan Pendahuluan dan Askep

CHRONIC KIDNEY DISEASE aplikasi nanda nic noc

Laporan Pendahuluan dan Askep

CONGESTIVE HEART FAILURE ( CHF ) aplikasi nanda nic noc

Anda mungkin juga menyukai