Anda di halaman 1dari 37

1

JABARAN SKENARIO

Pasien laki-laki berusia 29 tahun datang ke klinik dengan keluhan patah gigi depan karena
kecelakaan motor 3 bulan yang lalu dan ingin dibuatkan gigi tiruan. Pasien ingin memperbaiki
penampilan. Pasien tidak mau terlihat ompong dan ingin gigi tiruan yang tidak bisa dilepas
pasang.

Dari pemeriksaan dan anamnesis disimpulkan keadaan umum baik.

Pemeriksaan intra oral : gigi 21 fraktur mahkota 1/3 - 1/2 servikoinsisal, labioversi, vital, tidak
ada gambaran radiolusen atau kelainan periapikal, perbandingan mahkota dengan akar 1 :
2. Gigi 12 vital, tidak ada gambaran radiolusen atau kelainan periapikal, perbandingan
mahkota dengan akar 1 : 2. Gigi 11 fraktur akar horizontal di 1/3 tengah akar. Gigitan ada
dan stabil, anterior : tumpang gigit 1mm, jarak gigit 2 mm. Artikulasi cuspid protected pada sisi
kiri dan grup function pada sisi kanan.

2
SASARAN BELAJAR

1. Macam-macam, tujuan, serta indikasi pembuatan gigi tiruan cekat sementara

2. Syarat-syarat gigi tiruan cekat sementara yang optimal

3. Macam-macam teknik dan tahap pembuatan gigi tiruan cekat sementara beserta material
yang digunakan

4. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan teknik pembuatan gigi tiruan
cekat sementara

5. Macam pontik pada gigi tiruan jembatan sementara untuk pertimbangan estetik

6. Pemilihan material sementasi untuk gigi tiruan cekat sementara

3
1. MACAM-MACAM, INDIKASI, SERTA TUJUAN PEMBUATAN GIGI
TIRUAN CEKAT SEMENTARA
Dibuat oleh Isnaini Aisyah Naser

Sumber :

- Shillingburg HTJ, Hobo S, Whitsett LD, Jacobi R, Brackett SE. Fundamental of Fixed
Prosthodontics, 3rd ed. Chicago: Quintessence Publishing Co. Inc 1997.
- Rosentiel SF, Land MF, Fujimoto J. Contemporary Fixed Prosthodontics, 4th ed. Elsevier,
St. Louis. 2006.

Gigi tiruan cekat sementara merupakan gigi tiruan yang dibuat pada pertemuan pertama,
untuk gigi yang telah dipreparasi dan sedang dalam tahap menunggu proses laboratorium
selesai. Kurang lebih setelah 2 minggu dari pertemuan pertama, gigi tiruan sementara akan
diganti dengan gigi tiruan cekat permanen.

Meskipun hanya bersifat sementara, pembuatan restorasi harus dibuat sebaik mungkin seakan-
akan membuat gigi tiruan cekat permanen. Hal ini disebabkan adanya kejadian-kejadian tak
terduga yang memungkinkan penjadwalan ulang pertemuan kedua (jarak pertemuan pertama
dan kedua lebih dari 2 minggu) seperti keterlambatan pembuatan restorasi definitif di
laboratorium ataupun pasien berhalangan hadir, untuk mengganti gigi tiruan cekat sementara
menjadi gigi tiruan cekat permanen. Jadi, berapa lama pun jeda waktu antara gigi tiruan cekat
sementara dengan restorasi definitifnya, gigi tiruan cekat sementara harus mampu
mempertahankan kesehatan dental pasien.

Macam - Macam Gigi Tiruan Cekat Sementara

Berdasarkan tipe restorasi definitif :

GTC Sementara

Mahkota Tiruan Mahkota Tiruan Gigi Tiruan


Penuh Sementara Pasak Sementara Jembatan
Sementara

4
Ketiga jenis gigi tiruan cekat sementara ini dibuat untuk gigi yang sudah dipreparasi sesuai
prosedur preparasinya masing-masing dengan tujuan melindungi gigi hingga gigi tiruan cekat
permanen selesai dibuat di laboratorium.

Berdasarkan teknik pembuatannya:

Fabricated/custom made

Custom-made crown dapat dibuat disesuaikan dengan bentuk preparasi gigi pasien, dibuat
dengan berbagai macam resin dengan variasi metode berupa:

- Direct technique
- Indirect technique
- Kombinasi (indirect-direct technique)

Pre-fabricated/ready made

Mahkota siap pakai sudah dijual bebas di pasaran, namun mahkota jenis ini jarang memenuhi
syarat restorasi sementara. Biasanya, mahkota ini membutuhkan beberapa modifikasi seperti
pembebasan batas internal, rekontur dinding aksial dan occlusal adjustment. Pembuatan
restorasi interim (sementara) lebih banyak menggunakan teknik customized dibanding restorasi
siap pakai.

Material yang digunakan, antara lain :

- Polikarbonat

Warna paling natural. Walaupun hanya tersedia


dalam 1 warna, tetapi dapat dimodifikasi hingga
batas tertentu oleh warna resin yang melapisinya.
Tersedia untuk gigi insisivus, kaninus, dan premolar.

5
- Asetat selulosa

Material ini tipis, transparan, tersedia dalam semua tipe gigi dan banyak ukuran. Warna
seluruhnya tergantung pada resin. Resin tidak secara kimiawi atau mekanis terikat pada
permukaan dalam ESF, karena itu setelah polimerisasi, ESF dikelupas untuk mencegah
staining pada perbatasannya. Melepas ESF memiliki kerugian yaitu harus menambah resin
untuk membentuk ulang kontak proksimal.

- Aluminium dan tin silver

Cocok untuk gigi posterior. Bentuk yang paling baik


memiliki bentuk oklusal dan aksial yang anatomis.
Bentuk yang paling dasar dan murah ialah seperti
silinder menyerupai kaleng. Cangkang silindris non-
anatomis memiliki harga yang sangat murah, namun,
memerlukan modifikasi untuk mencapai bentuk oklusal
dan permukaan aksial yang bisa diterima. Lebih
efisien untuk menggunakan mahkota yang telah
dibentuk (preformed) sebagai gigi posterior
individual

- Nikel kromium

Digunakan terutama untuk anak dengan gigi susu yang


rusak parah. Ia tidak dilapisi resin namun dipotong dan
diadaptasikan dengan tang, lalu dilekatkan dengan
semen kekuatan tinggi. Dapat diaplikasikan pada gigi
permanen namun lebih cocok untuk gigi susu dimana perlu
untuk tahan lama. Alloy nikel kromium keras sehingga
dapat digunakan untuk waktu yang lama.

6
Tujuan Pembuatan Gigi Tiruan Cekat Sementara

Pada dasarnya, tujuan dari pembuatan gigi tiruan cekat sementara adalah untuk melindungi
gigi yang telah dipreparasi dan untuk memberikan kenyamanan pada pasien selama restorasi
definitif masih dalam proses pembuatan. Adapun tujuan spesifik dari pembuatan gigi tiruan
cekat sementara adalah sebagai berikut :

7
- Mencegah hipersensitivitas gigi yang telah dipreparasi dan iritasi pulpa lanjut akibat
pembuangan lapisan dentin gigi. Gigi tiruan cekat sementara harus dapat menjaga
kesehatan pulpa
- Menjaga kesehatan jaringan periodontal yang difasilitasi dengan margin restorasi
sementara yang fit, kontur tepat
- Menjaga gigi yang dipreparasi dari fraktur karena lapisan gigi yang tersisa lebih tipis
- Menjaga posisi gigi yang dipreparasi agar tidak drifting dalam kasus gigi tiruan jembatan,
dimana terdapat daerah edentulus di antara gigi yang dipreparasi
- Menyedikan kompatibilitas oklusal dengan gigi antagonis dan gigi tetangga, apabila tidak
terdapat kontak proksimal yang tepat dengan gigi tetangga dan antagonis, terdapat
pergerakan gigi supraerupsi atau pergerakan lateral
- Menjaga kesejajaran antar gigi abutment pada kasus gigi tiruan jembatan
- Menjaga beban fungsional yang diterima gigi yang dipreparasi untuk dapat menyebarkan
beban merata ke gigi tetangga selama proses pengunyahan
- Keperluan estetis terhadap gigi yang telah dipreparasi

2. MACAM-MACAM TEKNIK PEMBUATAN GIGI TIRUAN CEKAT


SEMENTARA BESERTA MATERIAL YANG DIGUNAKAN
Dibuat oleh Kartika Devy Pragitara
Sumber :

- Rosentiel SF, Land MF, Fujimoto J. Contemporary Fixed Prosthodontics. 4th ed. Louis
Mosby Inc 2006. pg 470-489.
- Diktat GTC drg. Odang, 2004

Material

Karakteristik Material Interim yang Ideal


- Mudah digunakan
o Adequate working time
o Easy molding
o Rapid setting time

8
- Biokompatibel
o Nontoxic
o Nonallergic
o Nonexothermic

- Dimensi tetap stabil saat melewati fase pengerasan/solidification

- Mudah dikontur dan dipoles

- Kuat dan memiliki resistensi terhadap abrasi

- Menghasilan tampilan yang baik :


o Translusen
o Color controllable
o Color stable

- Dapat diterima oleh pasien


o Tidak menyebabkan iritasi
o Tidak berbau

- Dapat dengan mudah ditambah atau diperbaiki

- Bahan kimianya kompatibel dengan bahan luting

Material Restorasi Interim


Material restorasi interim dibagi menjadi empat grup resin :
1. Polymethyl methacrylate
2. Polyethyl methacrylate
3. Microfilled composite
4. Light cured

Material untuk restorasi interim mengandung empat unsur :


1. Pigment Material
2. Monomer
3. Filler
4. Initiator
9
Monomer merupakan material paling penting dalam restorasi internim. Monomer adalah
material yang menyebabkan bahan restorasi memiliki kemampuan untuk berubah menjadi
polimer setelah dibentuk sesuai yang diinginkan, lalu setting menjadi bentuk yang solid dan
tahan dalam kondisi lingkungan mulut. Secara umum, semakin besar ukuran monomer, maka
semakin kecil panas yang dihasilkan dari reaksi polimerisasi, namun semakin kecil pula physical
strength nya.

Monomer yang paling banyak digunakan adalah :


1. Methyl methacrylate
2. Ethyl methacrylate
3. Isobuthyl methacrylate
4. Bisphenol A-diglycidylether methacrylate (bis-GMA)
5. Urethane dimethacrylate

Masing- masing atau kombinasi dari monomer ini berubah menjadi polimer dengan cara free
radical polimerization.

Free Radical Polimerization


Proses polimerisasi dibutuhkan untuk mengubah monomer (yang secara biologis berbahaya)
menjadi polimer yang bersifat inert secara biologis sehingga aman bagi rongga mulut.
Dalam proses polimerisasi, terjadi :
- Peningkatan suhu, reaksi polimerisasi bersifat exothermic yang menyebabkan material
menjadi panas sebelum mengeras. Panas dalam reaksi polimerisasi ini dapat menyebabkan
trauma irreversible pada pulpa.
- Perubahan dimensi, akibat densitas polimer lebih besar daripada monomer. Perubahan
dimensi yang terjadi pada material yaitu berupa shrinkage sehingga menyebabkan
marginal discrepancy/open margin terutama saat digunakannya teknik direct (fig 15-24).

10
Proses free radical polimerization meliputi :
1. Inisiasi
Proses free radical polimerization dimulai dengan pembentukan free radical, proses aktivasi,
lalu pencampuran bahan monomer dan free radical. Free radical dibentuk dari dekomposisi
bahan inisiator. Contoh bahan inisiator adalah benzoyl peroxide dan camphoroquinone.

2. Propagasi
Propagasi merupakan saat proses polimerisasi berlangsung dan makin banyak monomer
yang saling berikatan. Dalam proses propagasi:
- Densitas setting material bertambah, dan menyebabkan kontraksi.
- Suhu, rigidity, strength, dan resistensi meningkat

3. Terminasi
Terminasi terjadi karena posisi rantai molekul yang acak pada campuran memungkinkan
beberapa dari rantai molekul itu bergabung (stabil) lalu menghentikan proses. Terminasi
juga dapat terjadi dari reaksi campuran dengan eugenol, hydroquinone, atau oxygen,
sehingga untuk mendapatkan working time yang panjang, kontak dengan zat-zat tersebut
sebisa mungkin dihindari.

Selain pigmen, monomer, dan inisiator, restorasi interim juga mengandung filler. Tingginya
kandungan filler dapat mengurangi suhu eksotermik dan kontraksi, sekaligus meningkatkan
kekuatan hasil restorasi setelah setting. Namun, terlalu banyak filler juga dapat meningkatkan
porositas dan kesulitan bagi dokter untuk membentuk restorasi.

11
Dari tabel 15-3 dapat dilihat bahwa tidak ada material yang superior pada semua
kategori. Sehingga dalam pemilihan material restorasi internim, dokter gigi harus
mempertimbangkan kondisi yang ada.

Prosedur Pembuatan Gigi Tiruan Cekat Sementara


Ruang cetakan gigi tiruan cekat sementara dibuat oleh bagian kontur eksternal mahkota
(external surface form) dan permukaan gigi yang dipreparasi (tissue surface form) serta area
kontak dengan edentulous.

External Surface Form (ESF)


Custom ESF merupakan cetakan negatif dari gigi pasien sebelum dipreparasi. Caranya adalah
dengan membuat cetakan menggunakan bahan cetak hidrokoloid ireversibel, silikon, moldable-
putty (tanpa menggunakan tray dan bersifat fleksibel), thermoplastic sheets (dipanaskan dan
diadaptasikan ke stone cast dengan tekanan udara ketika bahan masih bersifat fleksibel;
transparan; terbuat dari bahan asetat selulosa/polypropylene dengan ketebalan 0,5 mm dan
biasanya diisi resin dan dilakukan dengan teknik direk dengan pasien diinstruksikan untuk oklusi
sentrik), atau baseplate wax.

12
Tissue Surface Form (TSF)

Prosedur Indirek (dilakukan di luar rongga mulut pasien)


Keuntungan :
- Tidak ada kontak monomer bebas pada gigi yang telah dipreparasi dan gingiva karena
monomer dapat menimbulkan reaksi alergi dan kerusakan jaringan.
- Mencegah gigi yang sudah dipreparasi terekspos dengan panas saat resin berpolimerisasi
karena panas tersebut dapat menimbulkan trauma pada pulpa yang ireversibel. Biasanya
resin dilepaskan dari gigi saat rubber stage (2-3 menit setelah insersi pada gigi).
- Marginal fit di stone cast jauh lebih baik dan stone cast dapat mencegah resin yang
shrinkage dibandingkan dengan teknik direk.
- Dokter gigi dapat melakukan tugasnya dengan bebas dan memberi waktu pasien untuk
istirahat.

Prosedur Direk
TSF langsung dilakukan pada gigi yang telah dipreparasi dan jaringan gingiva.
Kerugian : dapat berpotensi terjadi trauma pada jaringan dan marginal fit tidak terlalu baik.
Jika ada waktu untuk melakukan teknik indirek, maka teknik tersebut lebih baik dilakukan
dibandingkan teknik direk.

Prosedur Direk-Indirek
Komponen indirek merupakan ESF yang membentuk shell, sedangkan setelah gigi dipreparasi,
shell dilapisi dengan resin dan membentuk komponen direk yaitu TSF.
Keuntungan :
- Waktu kunjungan berkurang
- Lebih sedikit panas yang terekspos di dalam rongga mulut karena resin yang digunakan
dalam volume sedikit
- Kontak monomer resin terhadap jaringan lunak minimal
Kerugian : perlu penyesuaian untuk penempatan shell pada gigi yang sudah dipreparasi.

13
Tahap Pembuatan Gigi Tiruan Cekat Sementara : Indirek
1. Setelah pemilihan warna dan preparasi gigi, ambil sendok cetak untuk material cetak
irreversible hydrocolloid.

2. Retraksi gingiva jika diperlukan untuk mengekspos margin cavosurface.

3. Buat cetakan irreversible hydrocolloid dari gigi yang telah dipreparasi dan dicor dengan
gipsum.

4. Sambil menunggu model kerja setting, buat ESF dari hasil diagnostic waxing. ESF bisa dibuat
menggunakan cetakan negatif gigi atau menggunakan lembaran termoplastik. Kemudian
cobakan ESF pada TSF (hasil cor dengan gipsum : model kerja).

5. Setelah model kerja selesai di preparasi, lapisi permukaannya menggunakan separating


medium (vaselin atau semacamnya)

6. Ambil bahan resin akrilik, campurkan, kemudian masukkan ke syringe. Kemudian dengan
menggunakan syringe, isikan resin akrilik ke ESF. Pengisian dilakukan dari satu sisi ke sisi
lain dan dilakukan sampai batas gingiva dari ESF.

7. ESF diposisikan pada TSF. Kemudian tunggu sampai akrilik setting.

8. Setelah itu lepaskan ESF dari cured resin acrylic.

9. Buang kelebihan akrilik. Rapikan daerah tepian restorasi, kemudian bentuk daerah pontik
sesuai desain pontik yang ditetapkan.

10. Bersihkan semua permukaan restorasi sementara dari sisa gipsum. Poles restorasi sementara
menggunakan bubuk pumice. Bersihkan restorasi sementara menggunakan prosedur kontrol
infeksi yang baik.

11. Pasangkan restorasi sementara ke pasien. Kemudian cek marginal fit, kontak proksimal,
kontur dan oklusinya, bila perlu lakukan penyesuaian oklusi.

14
Tahap Pembuatan Gigi Tiruan Cekat Sementara : Direk
Teknik direk adalah teknik yang digunakan pada pembuatan GTC sementara dimana GTC
langsung dibuat di mulut pasien, sehingga memerlukan waktu yang relatif lebih sedikit
dibandingkan teknik indirek.
Teknik direk biasa digunakan pada pembuatan 1 gigi tiruan atau pembuatan bridge. Gigi
pasien yang sudah dipreparasi beserta jaringan gingiva berperan langsung sebagai TSF.
Sedangkan ESF-nya dapat berupa baseplate wax impression, lembar asetat yang di-vacuum,
polycarbonate shell yang sudah jadi (preformed), dan lain-lain. Karena merupakan teknik yang
langsung dilakukan di dalam mulut, langkah-langkah dan teknik indirek tidak digunakan.
1. Sebelum dilakukan preparasi, bila gigi mengalami karies atau fraktur maka pada model
studi diperbaiki atau dibangun dengan malam (wax up) atau gutta perca, sampai didapat
bentuk yang sesuai.
2. Daerah rahang yang akan dipreparasi pada model studi dicetak dengan alginat.
3. Preparasi gigi dilakukan.
4. Setelah preparasi gigi selesai, cetakan negatif tadi diisi dengan self-curing acrylic untuk
mahkota sementara. Pemberian self-curing tidak terlalu banyak, cukup pada gigi yang
dipreparasi.
5. Gigi yang dipreparasi diberi separating medium, juga gigi tetangganya agar bahan self-
curing tidak melekat dan menyebabkan iritasi pada gigi.
6. Cetakan negatif dan self-curing dimasukan pada rahang yang bersangkutan.
7. Sebelum bahan self-curing mengeras, cetakan dilepas perlahan-lahan dari rahang pasien,
bila sukar dilepas maka hal ini dikarenakan bahan self-curing masuk daerah interdental
(undercut) dan harus cepat dibuang/digunting.
8. Cetakan tersebut kemudian dimasukan kembali ke rahang pasien untuk mendapatkan
fitness yang baik.
9. Setelah bahan mengeras, cetakan dikeluarkan dan mahkota sementara dirapihkan.

15
Tahap Pembuatan Gigi Tiruan Cekat Sementara : Indirek-Direk
1. Preparasi gigi abutment pada diagnostic cast di artikulator.
Preparasi harus mempertahankan jaringan lebih banyak
dibandingkan pada gigi asli dan memiliki margin
supragingiva. Hasil diagnostic cast ini disebut sebagai
diagnostic TSF Fig.15-37
2. Cetak diagnostic cast dengan hidrokoloid ireversibel dan
cor stone Fig. 15-38
3. Lapisi diagnostic TSF dengan medium pemisah
4. Lakukan prosedur diagnostic waxing pada cast. Langkah ini
merupakan fase rencana perawatan. ESF dilakukan dari
hasil waxing pada cast. Jika thermoplastic sheet digunakan,
hasil waxing pada cast harus diduplikat menjadi stone
karena panas dapat melelehkan wax Fig. 15-39
5. Periksa kesesuaian ESF dan TSF Fig. 15-40

16
6. Gunakan syringe, masukkan resin ke dalam ESF dan
cegah adanya udara terjebak dalam resin dengan
cara syringe berkontak secara konstan pada resin.
Cetakan tidak boleh overfilled; hanya mencapai
ketinggian gingiva Fig. 15-29
Taruh ESF yang telah diisi ke TSF dan dapat
difiksasi dengan karet.
Masukkan ke dalam air hangat 40 C dengan
tekanan 0,13 Mpa. Pressure curing dapat
mengurangi porositas resin. Angkat setelah 5 menit. - Fig. 15-30

17
Pisahkan ESF dari resin dan tetap berkontak dengan TSF. Trim stone dengan
carborundum disk. - Fig. 15-31 s.d. 15-32

Eliminasi lapisan tipis resin dengan acrylic-trimming bur dan fine-grit garnet paper disk
(semacam kertas abrasif)
Kontur area pontik sesuai dengan desain. - Fig.
15-41

7. Jika wax telah dibuang dari diagnostic cast setelah diduplikasi, gigi tiruan sementara
dicobakan dan dioklusikan dengan artikulator.
8. Selesaikan gigi tiruan semetara dengan wet pumice. Bagian servikal dapat menggunakan
Robinson brush.
9. Periksa dan buang sisa-sisa stone pada bagian internal resin.
10. Bersihkan gigi tiruan sementara dengan prosedur kontrol infeksi pada preparasi untuk
clinical try-in.
18
11. Preparasi gigi pasien.
12. Lakukan try-in ESF. Jika tidak sesuai dengan oklusi,
permukaan internal ESF dibebaskan sampai oklusi
dapat diterima. Penyesuaian harus dilakukan terus
menerus. Lalu dilakukan lining dalam prosedur
direk untuk menghasilkan adaptasi internal dan
marginal. Resin yang digunakan adalah polyethyl
methacrylate untuk prosedur direk karena
berpotensi trauma jaringan kecil - Fig. 15-42

13. Aplikasikan petrolatum secara merata pada gigi


abutment yang telah dipreparasi, jaringan gingiva, dan permukaan eksternal ESF. - Fig. 15-
43 A

14. Buat lubang ventilasi di bagian oklusal atau lingual pada setiap retainer. - Fig. 15-43 B
15. Isi retainer dengan resin, pasangkan ke gigi. Tutup lubang ventilasi dengan jari. Jika terlihat
sedikit kelebihan resin keluar dari sekitar margin, buka ventilasi agar udara yang terjebak
dan kelebihan resin keluar. Resin yang keluar dari permukaan oklusal dapat dibersihkan
sebelum setting. - Fig. 15-43 C D

19
16. Angkat saat rubbery stage (sekitar 2 menit) dan masukkan ke dalam air hangat (37C)
17. Setelah 3-5 menit, tandai margin dengan pensil dan eliminasi resin berlebih dengan acrylic
resin-trimming bur atau carborandum disk. Fine-grit garnet paper disk digunakan untuk
pembentukan aksial. Biasanya lapisan tipis yang ada pada bagian marginal dapat
dibuang dengan tangan - Fig. 15-44, 15-45
18. Periksa oklusi dan marginal fit, lalu finishing dan polishing bila diperlukan dan sementasi
restorasi sementara - Fig. 15-46

20
3. FAKTOR-FAKTOR YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM
PEMILIHAN TEKNIK PEMBUATAN GIGI TIRUAN CEKAT SEMENTARA
Dibuat oleh Jesica Uli

Sumber : Rosentiel SF, Land MF, Fujimoto J. Contemporary Fixed Prosthodontics 4th ed. Louis:
Mosby Inc, 2006. p. 475-478

Waktu
Waktu pembuatan gigi tiruan sementara pada teknik direk lebih cepat karena tidak
memerlukan prosedur pengecoran cetakan dan juga prosedur indirek lainnya. Akan tetapi,
apabila pasien mengalami kehilangan gigi tiruan sementaranya dan pembuatan sebelumnya
menggunakan teknik indirek, dokter gigi dapat membuatkan segera pengganti gigi tiruan
sementara yang hilang dari model gipsum pasien yang sudah ada tanpa pasien harus datang.
Hal tersebut dapat mempersingkat waktu pertemuan pasien dengan dokter gigi pada teknik
indirek. Pada teknik indirek-direk, waktu yang diperlukan saat pengerjaan lebih sedikit karena
kebanyakan prosedur sudah selesai sebelum pertemuan dengan pasien, tetapi terkadang
memerlukan waktu yang banyak untuk penyesuaian kedudukan dengan gigi yang sudah
dipreparasi. Penggunaan gigi tiruan sementara preformed juga lebih cepat, tetapi tidak selalu
sesuai dengan preparasi dan ukuran gigi pasien.

Faktor Biomekanis dan Keadaan Jaringan Lunak Sekitarnya


Gigi yang telah dipreparasi dan jaringan yang mendukung harus berkondisi sehat dan dapat
dipelihara agar tetap sehat. Perlu dipertimbangkan pemilihan bahan dalam membuat gigi
tiruan cekat sementara sehingga dapat dipilih teknik indirek atau direk. Adanya kontak
monomer dengan gigi dan gingiva pada teknik direk memungkinkan terjadinya kerusakan
jaringan dan alergi atau sensitisasi. Pada teknik indirek tidak melibatkan perubahan panas
pada gigi yang telah dipreparasi saat polimerisasi resin yang dapat menyebabkan kematian
pulpa. Pada teknik indirek-direk juga tidak terlalu melibatkan perubahan temperatur pada
gigi dan volume resin yang digunakan juga lebih sedikit dibanding teknik direk. Restorasi harus
biokompatibel dan dibuat dengan sedemikian rupa serta dipoles sehingga tidak mudah
terjadinya pengumpulan plak.

21
Estetik
Marginal fit pada teknik direk lebih buruk daripada teknik indirek karena adanya gerakan
saat dikeluarkan dari mulut. Margin fit yang tidak baik tidak hanya mengurangi faktor estetis
gigi tiruan cekat sementara, tetapi juga dapat melukai jaringan lunak di sekitar atau menjadi
tempat berkumpulnya plak. Secara umum, estetik dari ketiga teknik pembuatan gigi tiruan
sementara hampir sama. Namun, gigi tiruan sementara yang paling estetis adalah teknik
indirek-direk karena pembuatan luar mahkotanya sudah jadi mirip dengan preformed
polycarbonate crown.

Finansial
Keadaan sosial-ekonomi serta tingkat pendidikan harus disesuaikan dengan pemilihan bahan
dan teknik untuk gigi tiruan cekat sementara. Pasien perlu diberikan edukasi gunanya gigi tiruan
sementara, material, dan teknik yang akan digunakan agar pasien dapat memilih sesuai
dengan biaya yang dimilikinya. Teknik indirek dan direk-indirek membutuhkan biaya lebih
banyak daripada teknik direk dapat dilihat dari jumlah bahan yang digunakannya.

22
4. MACAM PONTIK PADA GIGI TIRUAN JEMBATAN SEMENTARA
UNTUK PERTIMBANGAN ESTETIK: IMMEDIATE BRIDGE DENGAN
PONTIK OVATE SERTA PROSES PEMBUATANNYA
Dibuat oleh Jesslyn Rusli

Sumber:

- Shillingburg HTJ, Hobo S, Whitsett LD, Jacobi R, Brackett SE. Fundamental of Fixed
Prosthodontics, 3rd ed. Chicago: Quintessence Publishing Co. Inc 1997: p 488-491
- Rosentiel SF, Land MF, Fujimoto J. Contemporary Fixed Prosthodontics, 4th ed. Elsevier,
St. Louis. 2006. P 625-630

Saddle (ridge lap)


- Pontik jenis saddle memiliki permukaan fitting (yang bersentuhan dengan residual ridge)
yang cekung, overlap dengan residual ridge secara bukolingual, menirukan kontur dan
emergence profile dari gigi yang hilang dari kedua sisi residual ridge.
- Tidak disarankan, karena tidak dapat dibersihkan dengan dental floss sehingga
menyebabkan inflamasi jaringan.

Modified ridge lap


- Tipe ini mengkombinasikan hygienic dengan desain saddle pontic (mengkombinasikan sifat
estetik dan mudah dibersihkan).

23
- Permukaan fasial overlap dengan residual ridge untuk
mendapatkan penampilan gigi yang muncul dari gingiva.
Sedangkan pada bagian lingual, pontik tidak menyentuh ridge.
- Agar kontrol plak dapat optimal, permukaan gingiva tidak
boleh terdapat depresi atau rongga tetapi aspek mesial dan
distalnya harus secembung mungkin (semakin cembung, semakin
mudah dibersihkan).
- Tissue contact harus menyerupai huruf T, dimana lengan vertikal
berakhir di crest of the ridge.

- Desain modified ridge lap umumnya digunakan pada area gigi yang kelihatan ketika
berfungsi (gigi anterior maksila dan mandibula, premolar dan molar pertama maksila)

Ovate
- Merupakan desain round-end yang sekarang sering digunakan jika estetik menjadi
perhatian utama. Bagian dari ovate pontic yang berkontak dengan jaringan sangat bulat
tumpul, dan dimasukkan ke bagian konkaf dari ridge.
Konkavitas dapat dibuat dengan meletakkan gigi tiruan
cekat sementara dan pontik dimasukkan secara langsung
ke soket setelah diekstraksi atau dapat dibuat juga dengan
proses surgical.
- Pontik memberikan penampilan seakan muncul dari ridge.
- Mudah untuk menggunakan dental floss

24
Conical (egg-shaped/bullet-shaped/heart-shape)
- Bentuknya bulat dan dapat dibersihkan
- Pontik dibuat secembung mungkin, dengan hanya 1 titik kontak
di residual ridge. Kontur di fasial dan lingual bergantung pada
lebar dari residual ridge; jika residual ridge berbentuk knife-
edged, buat konturnya lebih flat dengan daerah kontaknya lebih
sempit
- Cocok untuk mandibular ridge yang tipis. Tetapi jika digunakan
pada ridge yang luas dan rata, akan menghasilkan triangular
embrasure yang besar sehingga mempunya kecenderungan
untuk akumulasi debris. (untuk kasus residual ridge yang luas,
lebih baik digunakan sanitary atau hygienic pontic)
- Terbatas untuk zona non-appearance.

Hygienic (sanitary pontic)


- Tidak terdapat kontak dengan edentulous ridge, dan
digunakan pada zona non-appearance, khusunya
menggantikan molar 1 mandibular. Hygienic pontic
mengembalikan fungsi oklusi dan stabilitas gigi tetangga dan
lawannya.
- Ketebalan pontik minimal 3 mm dan harus terdapat space
yang cukung dibawahnya untuk memfasilitasi cleaning.
- Biasanya dibuat dengan semua sisi konveks, baik secara fasiolingual dan mesiodistal.
- Undersurface dari pontik dibuat bulat (dikenal dengan istilah fish belly) agar lebih mudah
di flossing. Undersurface yang rata dan tajam akan lebih susah untuk dilewati dental floss.

25
Modified sanitary pontic (Perel pontic)
- Sebuah alternatif desain dari sanitary pontic, dimana
pontik dibuat dengan archway konkaf secara
mesiodistal. Undersurface pontic dibuat konveks secara
fasiolingual, memberikan permukaan tissue-facing dari
pontik sebuah hyperbolic paraboloid.
- Geometri ini menambahkan ukuran konektor dan
mengurangi stress pada konektor serta pontik.

5. SYARAT-SYARAT GIGI TIRUAN CEKAT SEMENTARA YANG


OPTIMAL
Dibuat oleh Joceline Tania
Sumber : Rosentiel SF, Land MF, Fujimoto J. Contemporary Fixed Prosthodontics. 4th ed.
Louis Mosby Inc 2006: 466-470

26
Biologis

Proteksi pulpa

Restorasi cekat sementara harus bisa melindungi gigi


yang dipreparasi dari lingkungan oral untuk mencegah
sensitivitas dan iritasi lebih lanjut pada pulpa.
Lingkungan sekitar dentin harus dikontrol dengan hati-
hati karena bisa berpengaruh pada pulpa juga. Pada
situasi yang parah, celah bisa menyebabkan irreversible
pulpitis yang harus dilakukan perawatan saluran akar.

Kesehatan periodontal
Untuk memfasilitasi pelepasan plak yang baik, restorasi cekat sementara harus memiliki
marginal fit yang baik, kontur yang pas, dan permukaan yang halus. Hal ini penting khususnya
bila margin mahkota diletakkan apikal dari margin gingiva. Jika restorasi cekat sementara
tidak adekuat dan kontrol plak buruk, kesehatan gingiva dapat menurun.

Mempertahankan kesehatan gingival sangat dibutuhkan, karena jaringan gingiva yang


inflamasi atau pendarahan membuat tahap selanjutnya (pencetakan dan sementasi) menjadi

27
sulit. Semakin lama restorasi cekat sementara dipasangkan, semakin besar defisiensi pada fit
dan kontur. Ketika jaringan gingival tertekan, iskemia dapat terjadi. Hal ini dapat terdeteksi
dengan memucatnya warna gingiva. Jika tidak dibetulkan, dapat terjadi inflamasi lokal atau
nekrosis.

Kompatibilitas oklusal dan posisi gigi

Restorasi cekat sementara harus memiliki kontak yang baik dengan gigi sebelah dan gigi
seberangnya. Kontak yang tidak baik akan menyebabkan supraerupsi dan gerakan horizontal.
Supraerupsi terdeteksi saat pertemuan evaluasi, ketika terlihat adanya kontak prematur pada
restorasi definitif. Perbaikan pada kasus ini memakan waktu dan dapat menyebabkan restorasi
memiliki bentuk oklusal dan fungsi yang lebih buruk lagi. Gerakan horizontal menyebabkan
kontak proksimal yang berlebihan atau defisien. Defisiensi dapat diatasi dengan penambahan
metal atau ceramic pada sisi yang defisiensi melalui prosedur laboratorium. Meski begitu, kontur
proksimal mahkota sudah distorsi. Defisiensi kontak proksimal ini bisa menyebabkan
pergerakan akar gigi sekaligus memperburuk oral hygiene.

Pencegahan dari fraktur enamel


Restorasi cekat sementara harus dapat memproteksi gigi
yang sudah melemah oleh preparasi. Hal ini khususnya
pada desain yang menutupi sebagian dimana margin
preparasi dekat dengan permukaan oklusal gigi dan
dapat rusak saat pengunyahan. Sedikit bagian enamel
saja yang fraktur dapat membuat restorasi tidak
memuaskan dan memakan waktu untuk dibuat ulang.
28
Mekanis

Fungsi

Beban terbesar pada restorasi cetak sementara adalah saat pengunyahan. Kekuatan resin
polymethyl methacrylate sekitar 1/20 dari alloy metal keramik sehingga lebih mudah fraktur.
Fraktur biasanya bukan masalah pada mahkota penuh selama gigi telah direduksi secara
adekuat. Biasanya pecah terjadi pada restorasi partial-coverage dan partial fixed dental
protheses. Restorasi partial-coverage sangat lemah
karena tidak mengelilingi keseluruhan gigi.

Partial fixed dental prostheses harus berfungsi sebagai


balok (beam) yang tekanan oklusal substansial
ditransmisikan ke gigi abutment. Hal ini membuat stress
tinggi pada konektor, yang biasa sering menjadi letak
kegagalan. Untuk mengurangi risiko kegagalan, ukuran
konektor harus ditingkatkan pada restorasi sementara
dibandingkan dengan restorasi definitif. Kekuatan
yang lebih baik dapat dicapai dengan mengurangi
kedalaman dan ketajamanan dari embrasure. Hal ini
meningkatkan daerah cross-sectional pada konektor
saat mengurangi konsentrasi stress berkaitan dengan
sharp internal line angles. Persyaratan biologis dan
estetik melimitasi seberapa besar konektor dibuat.
Untuk menghindari bahaya kesehatan periodontal,
mereka tidak boleh overkontur dekat gingival. Akses
baik untuk kontrol plak sudah menjadi prioritas.

Pada kasus tertentu, restorasi sementara cast metal atau heat-processed resin bisa memberikan
kenyamanan pada operator dan pasien, mengirit waktu, dan menghindari kemungkinan
pembuatan ulang restorasi.

29
Perpindahan/displacement

Perpindahan dicegah melalui preparasi gigi yang benar dan restorasi sementara dengan
permukaan internal yang teradaptasi dengan baik. Ruang berlebih antara restorasi dan gigi
akan menyebabkan kebutuhan luting agent yang lebih banyak, yang mana memiliki kekuatan
lebih rendah daripada semen biasa dan tidak dapat menoleransi beban tambahan. Untuk hal
ini dan untuk aspek biologis, mahkota preformed yang tidak di-lining (unlined preformed crowns)
harus dihindari.

Removal for reuse

Restorasi sementara sering dibutuhkan untuk digunakan kembali sehingga tidak boleh rusak
saat dilepaskan dari gigi. Dalam kasus tertentu, jika semen cukup lemah dan restorasi
sementara sudah difabrikasi dengan baik, restorasi tersebut tidak akan rusak saat dilepaskan.

Estetis

Penampilan dari restorasi cekat sementara penting untuk gigi insisor, kaninus, dan terkadang
premolar. Meskipun tidak memungkinkan untuk menduplikasi persis penampilan dari gigi
natural, kontur, warna, translusensi, dan tekstur gigi adalah atribut yang penting.

Ada beberapa resin yang diskolorasi seiring berjalannya waktu di dalam oral, maka stabilitas
warna menjadi pertimbangan pemilihan material apabila membutuhkan waktu perawatan
yang lama.

Restorasi sementara sering digunakan sebagai panduan untuk mendapatkan estetik optimum
pada restorasi definitif. Prostodontik cekat yang digunakan pada bagian anterior sangat
mempengaruhi penampilan dan pasien harus diberikan kesempatan untuk berpendapat.
Kecantikan dan penampilan pribadi merupakan hal subjektif dan sulit untuk dikomunikasikan
secara verbal, dan protesa jiplakan memainkan peran penting dalam konsiderasi pasien
mengenai estetik dan efek protesis terhadap penampilannya. Restorasi sementara yang akurat
adalah cara praktikal untuk mendapatkan umpan balik desain restorasi definitif. Restorasi
sementara sendiri harus dibentuk dan dimodifikasi hingga penampilannya diterima pasien dan
operator.

30
6. PEMILIHAN MATERIAL SEMENTASI UNTUK GIGI TIRUAN CEKAT
SEMENTARA
Dibuat oleh Julia Dharmawan, dilengkapi oleh Lily Sutanto
Sumber yang digunakan oleh Julia :
1. Rosentiel SF, Land MF, Fujimoto J. Contemporary Fixed Prosthodontics 4th edition.
Mosby 2007.
2. Shilinburg HTJ, Hobo S Fundamental of Fixed Prosthodontics 3rd ed. Chicago:
Quintessance Publishing Co.
3. Powers JM Sakaguchi RL. (2006) Craigs Restorative Dental Material 12th ed. St. Louis:
Mosby Elsevier

Sumber yang digunakan oleh Lily :


1. Yu H, Zheng M, Chen R, Cheng H. Proper selection of contemporary dental cements.
OHDM. 2014 March;13(1):54-9.
2. Craig R, Powers J. Restorative dental materials. 11th ed. St. Louis, MO: Mosby; 2002.
3. Anusavice K, Phillips R, Shen C, Rawls H. Phillips' science of dental materials. 12th ed.
Philadelphia: Elsevier Saunders; 2012.

Luting agent dapat diklasifikasikan berdasarkan lama waktu yang diharapkan dari material
tersebut untuk digunakan, yaitu provisional dan definitif. Semen provisional (temporary)
diindikasikan untuk memfiksasi restorasi yang digunakan diantara appointment ketika restorasi
definitif sedang dikerjakan. Fungsi utama dari interim luting agent adalah untuk menyediakan
seal, mencegah leakage dan juga iritasi pada pulpa.

Syarat khusus : material yang digunakan memiliki sifat fisik yang rendah agar mudah
dibongkar dan kemudian disementasi tetap

Material yang Digunakan untuk Sementasi Sementara

Semen Zinc Oxide Eugenol (ZOE)


Komposisi :

Bubuk Zinc Oxide, magnesium oksida dan silica.

31
Cairan asam lemah yaitu eugenol (4-allyl-2-methoxy phenol) , H2O, asam astetat, zinc
asetat, dan kalsium klorida.

- Eugenol pada ZOE menghambat polimerisasi akrilik


- Eugenol bersifat opak, bila digabung dengan sifat opak akrilik dapat membuat gigi
tampak sangat putih dan mencolok.
- Paling sering digunakan

Semen Zinc Oxide non-Eugenol (ZOnE)


Komposisi sama dengan ZOE, namun cairannya menggunakan asam alipatik atau asam aryl-
substitued butyric
- ZOnE dapat digunakan pada resin akrilik karena tidak mengandung eugenol yang dapat
menghambat polimerisasi dan melunakan akrilik.
- Semen ini kurang beradhesi baik dengan restorasi metal dan setting time-nya lebih lama

Free eugenol dapat bertindak sebagai plasticizer pada methacrylate resin. Selain itu juga
dapat menyebabkan pengurangan hardness permukaan. Pada situasi dimana preparasi gigi
menyebabkan kurangnya retensi, maupun penggunaan yang dalam jangka waktu yang lama,
akan lebih baik untuk menggunkan semen yang memiliki kekuatan yang lebih tinggi, contoh:
Reinforced ZOE.

Semen ZOE tergolong memiliki sifat biokompatibel karena sifat nya yang memiliki pH netral,
antibacterial action, dan efek anodyne pada jaringan pulpa yang mengalami hiperemia.
Karakteristik tersebut diasosiasikan dengan sealing marginal yang baik pada pulpa yang
dalam proses recovery.

Zinc phosphate

Powder terdiri dari 75% zinc oxide dan 13 magnesium oxide, dicampur dengan bubuk radiopak.
Liquid terdiri dari asam fosfat.

Zinc phosphate memiliki sifat :

- Semakin kecil ukuran powder, semakin cepat semen setting.


32
- Penambahan air pada liquid akan mempercepat reaksi
- Untuk memperlama working time dapat dilakukan :
o Pengurangan rasio P/L
o Mencampurkan powder dan liquid secara sedikit-sedikit.
o Memperlama spatulasi karena dapat menghancurkan matrix yang telah terbentuk
- Zinc phosphate mendapatkan retensi secara mekanikal dan bukan secara kimiawi.
- Memiliki compressive strength sebesar 104 MPa
- Memiliki tensile strength sebesar 5.5 Mpa
- Memiliki elastic modulus 13 GPa
- Solubilitas yang rendah di dalam air

Zinc polycarboxylate

Zinc polycarboxylate menggunakan sistem powder-liquid


dengan acid-base reaction. Powder terdiri dari zinc
oxide, magnesia, tin oxide, bismuth oxide, dan/atau
alumina. Sedangkan liquid terdiri dari larutan asam
poliakrilik atau kopolimer dari asam akrilik dengan
asam karboksilat.

Zinc polycarboxylate memiliki sifat :

- Lebih tidak asam dibandingkan zinc phosphate (1.7),


dan akan meningkat hingga 6 saat setting.
- Setting time antara 6-9 menit, merupakan jarak yang baik sebagai luting cements.
- Memiliki ikatan terhadap struktur gigi yang baik. Lebih mengikat enamel dibandingkan
dentin.
- Memiliki retensi yang lebih rendah dibandingkan zinc phosphate.
- Dalam pemakaian, crown harus dilapisi dengan petroleum jelly.
- Memiliki compressive strength yang lebih rendah dibandingkan zinc phosphate.
- Lebih elastik dibandingkan zinc phosphate, sehingga lebih sulit untuk menghilangkan semen
yang berlebihan setelah setting.
- Iritasi minimal pada pulpa.

33
- Ukuran molekul asam poliakrilik yang lebih besar dibandingkan asam fosforik menahan
penetrasi molekul ke dalam tubulus dentin, sehingga lebih biokompatibel.

Semen resin

Semen resin memiliki sifat :

- Viskositas rendah
- Tidak larut dalam cairan mulut
- Resisten terhadap wear
- Setting-nya bisa secara kimiawi, light, atau dual-cure.
- Dapat mengiritasi pulpa jika ketebalan dentin kurang dari 0.5 mm

Semen resin penemuan terbaru menggunakan acidic group yang sudah ada dalam semen resin
dan akan berikatan dengan ion kalsium ketika berkontak dengan gigi, sehingga disebut
sebagai self-adhesive resin cement.

Alat

A. Interim luting agent

B. Mixing pad

C. Cement spatula

D. Plastic filling

E. Petrolatum

F. Kaca mulut dan sonde

G. Dental floss

H. Gauge

34
Tahapan

1. Oleskan permukaan luar restorasi dengan petrolatum untuk mempermudah ketika


melepaskan semen yang berlebih

2. Campurkan pasta dan aplikasikan sejumlah kecil pada oklusal ke margin cavosurface.

3. Letakkan restorasi dan biarkan semen untuk setting

4. Ambil kelebihan semen dengan sonde dan dental floss secara hati-hati

35
PEMBAHASAN KASUS
Gigi 11

Pada kasus gigi 11 mengalami fraktur akar horizontal di 1/3 tengah akar mengindikasikan
bahwa gigi ini perlu diekstraksi. Kemudian harus digantikan dengan gigi tiruan jembatan
dengan gigi 21 dan 12 sebagai abutment.

Gigi 21
- Pada kasus gigi 21 mengalami fraktur 1/3-1/2 servikoinsisal namun tetap
vital (Berdasarkan pemeriksaan radiografis fraktur tidak mencapai pulpa dan
pemeriksaan vitalitas masih vital) memerlukan perawatan mahkota tiruan
penuh, yang sekaligus mendukung alasan mengapa gigi ini dapat menjadi gigi
abutment bagi gigi 11 yang diekstraksi.
- Pada gigi 21 tidak dilakukan restorasi komposit langsung, sebab gigi 21
mengalami fraktur cukup besar, mencapai 1/3 servikal, yang dikhawatirkan
jika hanya menggunakan resin komposit, restorasi tidak cukup adekuat untuk
menerima beban kunyah insisal.

Gigi 12
Pada kasus ini gigi 12 vital dan tidak terdapat kelainan radiolusensi di apical
dengan perbandingan mahkota:akar 1:1 jadi gigi tersebut dipilih untuk dijadikan
abutment bersama gigi 21. Karena jika hanya gigi 21 saja yang menjadi abutment
(cantilever bridge) memungkinkan gaya yang diterima pada cantilever bridge hanya
pada 1 sisi, sehingga mengakibatkan ketidakseimbangan yang dapat memicu gigi
abutment mengalami tipping ataupun rotasi.

Pada kasus ini jenis GTJ yang digunakan yaitu immediate bridge tipe interim dengan cara
pembuatan berupa custom made dengan teknik indirek-direk dengan menggunakan bahan
polymethyl methacrylate, dengan alasan :

- Pembuatan gigi tiruan jemabatan sementara dan mahkota tiruan penuh tersebut
membutuhkan waktu dan pasien tidak ingin terlihat ompong, maka perlu dibuatkan GTJ
sementara dengan teknik indirek-direk. Karena teknik indirek-direk ini mempunyai
36
keuntungan yaitu tidak melakukan polimerisasi di dalam mulut sehingga tidak melukai gigi
dan jaringan lunak serta waktu kunjungan pasien dapat dikurangi karena hampir seluruh
prosedur dibuat sebelum kunjungan pasien sehingga gigi pasien tidak terlihat ompong.
- Immediate bridge adalah protesa lepasan fabricated yang digunakan untuk penempatan
langsung setelah pencabutan gigi asli. Immediate bridge yang dipakai di kasus ini adalah
jenis interim, karena digunakan sebagai gigi tiruan sementara menunggu gigi tiruan
jembatan hasil lab telah jadi dan pasca ekstraksi diharapkan terjadinya healing pada
jaringan lunak.
- Polymethyl methacrylate digunakan karena memiliki marginal fit yang baik untuk gigi
anterior, kekuatan, dan ketahanan yang baik. Polymethyl methacrylate baik digunakan
untuk teknik indirek-direk karena dapat mentoleransi kekurangan dari polymethyl
methacrylate ini, yakni mempunyai volume penyusutan yang tinggi.

Pontik yang digunakan sesuai dengan kasus ini untuk menggantikan gigi 11 yang dicabut
adalah adalah jenis ovate pontic dengan menggunakan material all resin, karena pada kasus
ini pasien mementingkan penampilan sehingga sesuai dengan indikasi ovate pontic. Dengan
menggunakan ovate pontic, residual ridge gigi 11 yang baru dicabut akan terbentuk sesuai
dengan desain ovate pontic yang dibuat sehingga perlekatan antara pontik dan jaringan
lunak yang ada terlihat baik dan sesuai kontur pontik.

Material sementasi sementara yang digunakan untuk pembuatan GTJ sementara dengan
bahan polymethyl methacrylate ini adalah Zinc Oxide Non-Eugenol karena adanya efek
penghambat pada eugenol saat luting composite polimerisasi, maka dimodifikasi dengan free
eugenol. Zinc oxide Non-Eugenol ini bisa digunakan pada polymethyl methacrylate karena
tidak melunakkan akrilik. Semen Zinc oxide Non-Eugenol dapat digunakan untuk sementasi
sementara dan cocok untuk pasien yang sensitif terhadap eugenol.

37