Anda di halaman 1dari 33

1

REFERAT TRIKOTILOMANIA

Disusun Oleh:
Putri Rachmawati (1102013234)

Pembimbing:
dr. H. Marsudi, SpKj

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN JIWA


RSUD SOREANG
2017
2 PENDAHULUAN

Trikotilomania ini ditandai dengan


Trikotilomania telah dikenal sejak adanya kerontokan rambut yang
hampir dua abad yang lalu dan mencolok dan tidak disebabkan oleh
diperkenalkan pertama kali oleh ahli kelainan kulit kepala atau rambut lain
kulit asal Prancis Henri Hallopeau atau kegiatan stereotip yang lain (Grant
(Bhandare dkk., 2016). dkk., 2017)
3
DEFINISI

v Trikotilomania adalah hilangnya rambut sebagai akibat dari


dorongan yang kuat untuk menarik-narik rambut. Hilangnya
rambut bisa membentuk suatu bercak bundar atau tersebar
di kulit kepala (James dan Alcott, 2010).

v Keadaan ini paling sering ditemukan pada anak-anak, tetapi


kebiasaan ini bisa menetap sepanjang hidup penderita
(James dan Alcott, 2010).
4
ETIOLOGI

Teori biologi juga mengacu pada perbedaan metabolik dalam


sistem serotonin dan opioid (James dan Alcott, 2010).

Anggota keluarga pasien dengan trikotilomania sering memiliki


riwayat tic, gangguan pengendalian impuls, dan gangguan
obsesif kompulsif, yang menyokong kemungkinan predisposisi
genetik (James dan Alcott, 2010).
5
ETIOLOGI

Depresi sering dinyatakan sebagai faktor predisposisi tetapi tidak


ada ciri atau gangguan kepribadian tertentu atau yang khas pada
pasien trikotilomania (James dan Alcott, 2010).

Gangguan hubungan ibu dan anak, rasa takut ditinggal sendirian


dan kehilangan objek yang belum lama seringkali dinyatakan
sebagai faktor penting yang berperan dalam gangguan ini
(Bhandare dkk., 2016).
6
PATOFISIOLOGI

Hingga saat ini penyebab trikotilomania itu sendiri masih belum


jelas. Menurut teori neuro-kognitif, gangguan ini disebabkan
oleh adanya kelainan pada ganglia basalis pasien.
Sebagaimana diketahui bahwa ganglia basalis memiliki peran
dalam membentuk kebiasaan. Kegagalan lobus frontal dalam
menghambat kebiasaan tertentu juga diperkirakan bagian dari
patofisiologi gangguan ini (Huynh dkk., 2013).
7
PATOFISIOLOGI (2)

Sebuah studi pencitraan menggunaan Magnetic Resonance


Image (MRI) juga menyatakan bahwa substansi grisea (gray
matter) pasien dengan trikotilomania lebih meningkat
kapasitasnya dibandingkan yang tidak memiliki penyakit ini.
Peranan genetik terhadap penyakit ini pun tidak luput dari
perhatian peneliti (Bhandare dkk., 2016).
8
MANIFESTASI KLINIS

Trikotilomania didefinisikan sebagai berikut (Lochner dkk., 2012):

Perilaku menarik rambut sendiri secara berulang yang


mengakibatkan hilangnya rambut

Perasaan ketegangan sebelum menarik atau ketika


mencoba untuk menolak perilaku

Kesenangan yang terkait dengan perilaku


9
MANIFESTASI KLINIS (2)

Perilaku tersebut tidak termasuk kondisi medis lain (dermatologis)


atau masalah psikiatri (seperti skizofrenia)

Menarik rambut mengarah distress atau kerusakan yang signifikan


dalam satu atau lebih bidang kehidupan seseorang (sosial atau
pekerjaan)
10
MANIFESTASI KLINIS (3)
11
MANIFESTASI KLINIS (4)
12
MANIFESTASI KLINIS (5)
13
MANIFESTASI KLINIS (6)
14
MANIFESTASI KLINIS (7)
15
MANIFESTASI KLINIS (8)
16
DIAGNOSIS

Semua daerah tubuh dapat terkena, paling sering adalah kulit


kepala. Area lain yang dikenai alis, bulu mata dan jenggot; batang
tubuh, ketiak dan area pubis jarang dikenai. Rambut yang hilang
sering ditandai ditemukannya helaian pendek dan putus-putus,
bersamaan dengan rambut yang normal dan panjang di area yang
terkena. Tidak ada kelainan pada kulit atau kulit kepala (Grant dkk.,
2017).
17
DIAGNOSIS (2)

Kriteria Diagnosis menurut PPDGJ-III (Maslim, 2013):

Peningkatan
Mencabut rambut
perasaan tegang
sendiri secara
segera sebelum Rasa senang, puas
rekuren yang
mencabut rambut atau lega jika
menyebabkan
atau jika berusaha mencabut rambut
kebotakan yang
untuk menahan
jelas.
perilaku tersebut.
18
DIAGNOSIS (2)

Kriteria Diagnosis menurut PPDGJ-III (Maslim, 2013):

Gangguan yang Gangguan


tidak dapat menyebabkan Diagnosis ini jangan
diterangkan baik penderitaan yang dibuat apabila
oleh gangguan bermakna secara sebelumnya sudah
mental lain dan klinis atau ada peradangan
bukan karena gangguan dalam kulit, atau apabila
kondisi medis fungsi sosial, pencabutan rambut
umum (misalnya, pekerjaan atau adalah respons
kondisi fungsi penting terhadap waham
dermatologis). lainnya. atau halusinasi.
19
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Perubahan histopatologi yang khas pada folikel rambut, yang


dikenal sebagai trikomalasia, ditunjukkan dengan biopsi yang
membantu membedakan trikotilomania dengan penyebab
alopesia lainnya (Grant dkk., 2017).

Pemeriksaan dengan lampu wood maupun pemeriksaan dengan


mikroskop pada sediaan langsung rambut yang rusak dengan
menggunakan larutan KOH 20% (Bhandare dkk., 2016).
20
PEMERIKSAAN PENUNJANG (2)

Pemeriksaan dermoskopi telah terbukti sangat berguna untuk


membedakan kondisi trikotilomania dari alopesia areata. Adanya
garis patahan rambut yang khas pada dermoskopi merupakan
indikasi dari trikotilomania, sedangkan adanya sisa rambut seperti
tanda seru (exclamation mark hair) mengindikasikan suatu
alopesia areata (Bhandare dkk., 2016).
21
PEMERIKSAAN PENUNJANG (3)
22
DIAGNOSIS BANDING

Trikotilomania Alopesia Areata


Riwayat penyakit Anak berusia sekitar 3 tahun, Anak lebih dari 3 tahun,
semua jenis kelamin, gejala perempuan, penyakit
cemas autoimun, penyakit tiroid
(40%)
Pemeriksaan klinis Bercak alopesia tidak simetris, Bercak alopesia bulat
geometris, atau bentuknya atau oval
tidak biasa (terutama di regio
parietal dan vertex), tergores
dan berdarah

(Woods dan Houghton, 2014)


23
DIAGNOSIS BANDING (2)

Tes tarik rambut Negatif Positif sepanjang tepi lesi


aktif
Pengobatan Penjelasan tentang diagnosis, Terutama imunoterapi lokal
psikoterapi dan anti inflamasi atau
agen imunosupresif
Prognosis Jinak dan sembuh sendiri jika Jinak dan sembuh sendiri
dimulai sebelum usia 6 tahun dalam waktu satu tahun,
jika terlokalisasi. Prognosis
buruk: riwayat keluarga
dan penyakit autoimun

(Woods dan Houghton, 2014)


24
DIAGNOSIS BANDING (3)
25
KORMOBIDITAS

Individu dengan trikotilomania mempunyai prevalensi gangguan


mood yang meningkat (gangguan depresi mayor, gangguan
dysthymic) dan gejala anxietas (gangguan obsesif kompulsif,
gangguan anxietas menyeluruh dan fobia sosial), gangguan
penggunaan zat, gangguan makan, gangguan kepribadian
(gangguan ambang dan obsesif-kompulsif) serta retardasi mental
(James dan Alcott, 2010).
26
TATALAKSANA

Cognitif Behaviour Therapy (CBT)

Untuk mengubah pikiran dan perilaku dalam meningkatkan


kehidupan, dapat membantu seseorang belajar untuk rileks,
mengatasi stres, memerangi pikiran negatif dan mencegah perilaku
merusak (James dan Alcott, 2010).
27
TATALAKSANA (2)

SSRI (Serotonin-selective reuptake inhibitors) berperan sebagai


antidepresan yang akan meningkatkan neurotransmisi serotonin dalam
otak dengan cara menghambat reuptake serotonin pada membran
presinaptik (Huynh dkk., 2013).

Selain itu psikofarmakologi yang telah digunakan adalah steroid topikal


dan hydroxyzine hydrochloride (vistaril), suatu ansiolitik dengan sifat
antihistamin, antidepresan, agen serotonergik dan antipsikotik (Huynh dkk.,
2013).
28
TATALAKSANA (3)

Agen anti depresan dapat memberikan perbaikan dermatologis.


Antidepresan, seperti fluoxetine (Prozac), fluvoxamine (Luvox), sertraline
(Zoloft) dan venlafaxine (Effexor), sering digunakan untuk mengobati
trikotilomania (Woods dan Houghton, 2014),

Obat antipsikotik olanzapine, (Zyprexa) juga telah menunjukkan efektivitas


dalam mengobati trikotilomania (Woods dan Houghton, 2014).
29
KOMPLIKASI

Obstruksi usus jika mulut


Kebotakan permanen
digunakan untuk
karena kerusakan folikel
menarik rambut dan
rambut (Lochner dkk.,
tertelan (Lochner dkk.,
2012).
2012).

Carpal tunnel syndrome


dapat terjadi karena Gangguan emosi dan
gerakan berulang kecemasan sosial
menarik rambut (Lochner (Lochner dkk., 2012).
dkk., 2012).
30
PROGNOSIS

Onset rata-rata munculnya trikotilomania adalah pada masa


remaja awal dan sering ditemukan pada usia sebelum 17 tahun
namun onset pada usia lebih lanjut pun dapat terjadi. Perjalanan
gangguan tidak diketahui dengan baik, bentuk kronis maupun
remiten sama-sama dapat terjadi (Grant dkk., 2017).

Pada onset dini (kurang dari usia 6 tahun) cenderung lebih mudah
sembuh, dan lebih berespons pada saran, dukungan, dan strategi
perilaku (Woods dan Houghton, 2014).
31
PROGNOSIS (2)

Onset lanjut (setelah usia 13 tahun) dikaitkan dengan


meningkatnya kemungkinan terjadinya kekronisan dan prognosis
yang lebih buruk daripada onset dini (Woods dan Houghton, 2014).
32
DAFTAR PUSTAKA
Bhandare S, Kotade K, Bhavar S, Bhangale C, Wagh V 2016. Trichitillomania: A Hair Pulling
Disorder. World Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Science. Vol.5(5). Pp. 596 615.
Viewed 23 September 2017, from https://www.wjpps.com/download/article/1461929730.pdf
Grant J, Redden S, Leppink E, Chamberlain S 2017. Trichotillomania and Co-Occuring Anxiety.
Department of Psychiatry and Behavioral Neuroscience University of Chicago. Vol.72. Pp. 1-5.
Viewed 23 September 2017, from
https://www.comppsychjournal.com/article/S0010-440X(16)30307-8/pdf
Huynh M, Gavino A, Magid M 2013. Trichotillomania. Semin Cutan Med Surg. Vol.3(2). Pp. 88 94.
Viewed 23 September 2017, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24049966
James B, Alcott V. 2010. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis Edisi 2. Jakarta: EGC. Hal. 359
361.
Lochner C, Grant J, Odlaug B, Woods D, Keuthen N, Stein D 2012. DSM 5 Field Survey: Hair
Pulling Disorder. Depresion and Anxiety. Vol. 29(12). Pp. 1025 1031. Viewed 23 September 2017,
from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23124891
Maslim R. 2013. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ III dan DSM
5. Jakarta: Universitas Unika Atma Jaya. Hal. 110.
Woods D, Houghton D 2014. Diagnosis, Evaluation and Management of Trichotillomania.
Vol.37(3). Pp. 301 317. Viewed 23 September 2017, from
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4143797/
33
TERIMA KASIH