Anda di halaman 1dari 19

REFERAT

TRIKOTILOMANIA

Disusun Oleh:
Putri Rachmawati (1102013234)

Pembimbing:
dr. H. Marsudi, SpKj

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN JIWA


RSUD SOREANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Trikotilomania telah dikenal sejak hampir dua abad yang lalu dan istilah
trikotilomania itu diperkenalkan pertama kali oleh ahli kulit asal Prancis Franois
Henri Hallopeau. Penyakit ini dapat dikategorikan berdasarkan onset menjadi: pra-
sekolah, pra-remaja, dewasa muda, dewasa (Bhandare dkk., 2016).
Trikotilomania adalah salah satu bentuk gangguan kompulsif yang ditandai
dengan kegiatan menarik-narik rambut berulang (di kepala, alis, bulu mata, ketiak,
pubis) yang didahului dengan ketegangan kemudian diikuti dengan rasa puas atau
lega setelahnya. Kegiatan ini ditandai dengan adanya kerontokan rambut yang
mencolok dan tidak disebabkan oleh kelainan kulit kepala atau rambut lain atau
kegiatan stereotip yang lain (Grant dkk., 2017).
Penyakit ini dapat dikategorikan berdasarkan onset menjadi: prasekolah,
praremaja, dewasa muda, dan dewasa. Dari klasifikasi tersebut didapatkan
perbedaan gejala dan respon terapi dimana pada pasien prasekolah dan dewasa
muda yang memiliki kebiasaan menarik rambut otomatis dan tanpa disadari
memiliki respon yang baik terhadap pengobatan konservatif. Pada pasien dewasa
biasanya memiliki kecenderungan menarik rambut sebagai bentuk dari fokus
penderita terhadap kebiasaan tersebut, sebagai bagian rutinitas yang disadari
termasuk dalam memilah jenis rambut tertentu untuk dicabuti misalnya yang
memiliki ujung bulat dan pipih, yang kasar atau pun karena letaknya yang salah.
Respon terapi konservatif pada pasien dewasa biasanya lebih buruk mengingat
kebiasaan menarik rambut ini dapat disertai gangguan psikis lain yang memerlukan
tenaga spesialis dalam menanganinya (Huynh dkk., 2013).
Berdasarkan data epidemiologi didapatkan bahwa puncak onset trikotilomania
ini berkisar antara usia 12-13 tahun. Pada anak-anak tidak ada perbandingan yang
berarti antara populasi laki-laki atau pun perempuan yang terkena trikotilomania.
Pada orang dewasa ditemukan adanya prevalensi sebesar 0.6-3.4% dengan
kecenderungan lebih banyak pada perempuan dibandingkan laki-laki. Namun data

2
ini masih dikacaukan dengan tipikal pencarian pertolongan yang cenderung dimiliki
perempuan dibandingkan laki-laki (Bhandare dkk., 2016).

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Trikotilomania


Trikotilomania adalah hilangnya rambut sebagai akibat dari dorongan yang
kuat untuk menarik-narik rambut. Hilangnya rambut bisa membentuk suatu bercak
bundar atau tersebar di kulit kepala. Trikotilomania merupakan suatu perilaku
kompulsif, yang mungkin berasal dari adanya stres emosional maupun stres fisik.
Paling sering ditemukan pada anak-anak, tetapi kebiasaan ini bisa menetap
sepanjang hidup penderita (James dan Alcott, 2010).
Pedoman Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (Edisi 4) dari American
Psychiatric Association, trikotilomania didefinisikan sebagai lima kriteria berikut
(Lochner dkk., 2012):
1. Perilaku menarik rambut sendiri secara berulang yang mengakibatkan
hilangnya rambut.
2. Perasaan ketegangan sebelum menarik atau ketika mencoba untuk menolak
perilaku.
3. Kesenangan, gratifikasi, yang terkait dengan perilaku.
4. Perilaku tersebut tidak termasuk kondisi medis lain (dermatologis) atau
masalah psikiatri (seperti skizofrenia).
5. Menarik rambut mengarah ke distress atau kerusakan yang signifikan dalam
satu atau lebih bidang kehidupan seseorang (sosial atau pekerjaan).

2.2 Etiologi Trikotilomania


Trikotilomania semakin sering dipandang memiliki asal yang ditentukan secara
biologis yang dapat mencerminkan aktivitas motorik yang disalurkan secara tidak
tepat. Teori biologi juga mengacu pada perbedaan metabolik dalam sistem
serotonin dan opioid. Anggota keluarga pasien dengan trikotilomania sering
memiliki riwayat tic, gangguan pengendalian impuls, dan gangguan obsesif
kompulsif, yang menyokong kemungkinan predisposisi genetik (James dan Alcott,
2010).

4
Depresi sering dinyatakan sebagai faktor predisposisi tetapi tidak ada ciri atau
gangguan kepribadian tertentu atau yang khas pada pasien trikotilomania. Beberapa
ahli melihat stimulasi terhadap diri sendiri merupakan tujuan utama perilaku
mencabut rambut (James dan Alcott, 2010).
Meskipun dianggap ditentukan oleh banyak hal, onsetnya dihubungkan pada
situasi yang penuh stress. Gangguan hubungan ibu dan anak, rasa takut ditinggal
sendirian dan kehilangan objek yang belum lama seringkali dinyatakan sebagai
faktor penting yang berperan dalam gangguan ini. Penyalahgunaan zat mungkin
mendorong perkembangan gangguan (Bhandare dkk., 2016).

2.3 Epidemiologi
Prevalensi trikotilomania berkisar antara 0,5-3,5 % dengan onset usia rata-rata
10 sampai 13 tahun. Penyakit ini 7 kali lebih sering terjadi pada anak-anak
dibandingkan orang dewasa dan anak perempuan 2,5 kali lebih sering daripada anak
laki-laki (Grant dkk., 2017).
Tidak ada informasi mengenai riwayat familial, tetapi satu studi melaporkan
bahwa 5 dari 19 orang anak memiliki riwayat keluarga yang mengalami beberapa
bentuk alopesia. Gangguan yang berhubungan adalah obsesif kompulsif,
kepribadian ambang dan gangguan depresif (Woods dan Houghton, 2014).
Jumlah pasien yang mengalami trikotilomania di masyarakat secara relatif
masih sedikit yang diketahui. Secara klinis, mencabut-cabut rambut yang cocok
dengan kriteria trikotilomania ditemukan pada 0.6%-3.9% mahasiswa yang
disurvei. Penelitian lain menunjukkan perbedaan tingkat trikotilomania dalam
pengobatan ditemukan 4.4% pada pasien psikiatri yang rawat inap dan 4.6% pada
pasien gangguan obsesif-kompulsif (James dan Alcott, 2010).

2.4 Patofisiologi
Hingga saat ini penyebab trikotilomania itu sendiri masih belum jelas. Menurut
teori neuro-kognitif, gangguan ini disebabkan oleh adanya kelainan pada ganglia
basalis pasien. Sebagaimana diketahui bahwa ganglia basalis memiliki peran dalam
membentuk kebiasaan. Kegagalan lobus frontal dalam menghambat kebiasaan

5
tertentu juga diperkirakan bagian dari patofisiologi gangguan ini (Huynh dkk.,
2013).
Sebuah studi pencitraan menggunaan Magnetic Resonance Image (MRI) juga
menyatakan bahwa substansi grisea (gray matter) pasien dengan trikotilomania
lebih meningkat kapasitasnya dibandingkan yang tidak memiliki penyakit ini.
Peranan genetik terhadap penyakit ini pun tidak luput dari perhatian peneliti
(Bhandare dkk., 2016).
Pada suatu penelitian ditemukan adanya mutasi pada gen SLITRK1 sedangkan
pada penelitian lainnya mendapatkan adanya perbedaan pada reseptor gen serotonin
2A. Mutasi gen HOXB8 juga menunjukkan perubahan kebiasaan pada tikus dalam
menarik-narik rambut. Pendekatan ilmiah terhadap gen ini merupakan fenomena
baru namun masih belum dapat ditentukan apakah memang ada hubungan genetik
dalam menyebabkan penyakit ini (Grant dkk., 2017).

Gambar 1. Geometric patch pada incomplete alopecia pada remaja laki-laki


(Grant dkk., 2017).

Gambar 2. Bizarre-patterned lesion yang tertutupi dengan rambut pendek


pada anak perempuan berusia 11 tahun (Lochner dkk., 2012).

6
Gambar 3. Typical geometric shape trichotillomania pada anak laki-laki
berusia 7 tahun. Tipe alopesia ini jarang terjadi pada usia ini (Huynh dkk.,
2013).

Gambar 4. Pada gangguan trikotilomania yang terkena dibagian alis mata


(Grant dkk., 2017).

Gambar 5. Wanita dengan lesi kebotakan pada trikotilomania kronis (Grant


dkk., 2017).

7
Trikotilomania juga biasa disebut trikotilosis atau TTM. Orang dengan
trikotilomania memiliki dorongan yang sangat kuat untuk menarik rambut. Tidak
hanya rambut di kepala, penderita trikotilomania juga kerap merasakan kepuasan
dan kenikmatan setelah mencabut rambut di bagian tubuh yang lain, seperti rambut
kemaluan, rambut ketiak dan sebagainya. Selain kecenderungan yang kuat untuk
menarik rambut berulang-ulang, penderita sering kali merasakan peningkatan
ketegangan sebelum mencabut rambut atau saat mencoba melawan keinginan
mencabut rambut. Kesenangan, kepuasan atau lega tercipta ketika menarik keluar
rambut (Bhandare dkk., 2016).
Bila diperhatikan, penderita trikotilomania kerap meninggalkan jejak buruk
terutama pada bagian yang ditumbuhi rambut. Yang sangat jelas adalah kebotakan.
Beberapa orang juga terlihat memiliki alis atau bulu mata yang tipis, bahkan tidak
ada, karena terlalu sering dicabut. Rambut pada penderita trikotilomania tidak
berkembang dengan baik. Sering kali ditemukan helai-helai rambut lama yang
rusak ujungnya. Helai-helai rambut patah dengan ujung yang tak rata.
Trikotilomania akan menyebabkan pertumbuhan rambut baru dengan ujung
meruncing (Grant dkk., 2017).

2.5 Manifestasi Klinis Trikotilomania


Menurut The American Psychiatric Associations Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5), trikotilomania termasuk
dalam kategori gangguan obsesif kompulsif dan gangguan terkait. Gangguan ini
ditandai dengan suatu tindakan khusus berupa kebiasaan menarik rambut.
Kebiasaan ini terjadi baik dalam keadaan santai maupun keadaan yang penuh
tekanan (Lochner dkk., 2012).
Kriteria diagnosis menurut DSM V, antara lain (Maslim, 2013):
Mencabut rambut sendiri secara rekuren yang menyebabkan kebotakan
yang jelas.
Peningkatan perasaan tegang segera sebelum mencabut rambut atau
jika berusaha untuk menahan perilaku tersebut.
Rasa senang, puas atau reda jika mencabut rambut.

8
Gangguan yang tidak dapat diterangkan baik oleh gangguan mental lain dan
bukan karena kondisi medis umum (misalnya, kondisi dermatologis).
Gangguan menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau
gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lainnya.

Gambaran yang esensial dari gangguan ini adalah (Maslim, 2013):


1. Kerontokan rambut kepala yang tampak jelas (noticeable) disebabkan oleh
berulangkali gagal menahan diri terhadap impuls untuk mencabut rambut.
2. Pencabutan rambut biasanya didahului oleh ketegangan yang meningkat dan
setelahnya diikuti dengan rasa lega atau puas.
Diagnosis jangan dibuat apabila sebelumnya ada inflamasi kulit atau
apabila pencabutan rambut dilakukan akibat suatu waham atau halusinasi. Periode
transien menarik rambut pada anak usia dini dapat dianggap suatu "kebiasaan"
ringan dengan jangka waktu terbatas (Grant dkk., 2017).
Individu dengan trikotilomania kronis di masa dewasa sering melaporkan onset
masa remaja awal. Beberapa individu memiliki gejala terus menerus selama
beberapa dekade. Bagi yang lain, gangguan tersebut dapat datang dan pergi dalam
minggu, bulan atau tahunan. Tempat-tempat menarik rambut dapat bervariasi dari
waktu ke waktu (Woods dan Houghton, 2014).
Banyak individu dengan trikotilomania mencabut rambut dari kepala mereka,
bulu mata, alis, kaki, lengan, wajah, dan daerah kemaluan. Mereka menarik helai
rambut dengan jumlah yang yang cukup banyak, menjadikan kerontokan rambut
menjadi terlihat. Hal ini menyebabkan banyak ketidaknyamanan, terutama dalam
situasi sosial, dimana mereka akan dapat diamati. Akibatnya, individu dengan
masalah ini berusaha keras untuk menyembunyikan kehilangan rambut ini dengan
memakai topi, wig, kemeja lengan panjang, atau dengan menutup area kebotakan
dengan make up (Grant dkk., 2017).
Individu trikotilomania bahkan mungkin tidak menyadari bahwa mereka
menarik rambut mereka dan kebanyakan mengatakan bahwa mereka merasa bosan
atau gugup sebelum mencabut rambut mereka, tapi setelah menariknya keluar,
mereka merasa bersalah, sedih atau marah. Ada juga yang melaporkan bahwa

9
mereka mencabut rambut mereka ketika sedang menonton televisi, membaca,
berbicara di telepon atau membawa kendaraan (Huynh dkk., 2013).

Gambar 6. Biasanya pada trichotilomania menunjukan kombinasi rambut yang


baru tumbuh, rambut yang rusak, black dots, area yang kosong, dan panjang
rambut yang tidak sama (Grant dkk., 2017).

Gambar 7. Menggunakan Contrast card examination yang membantu


menunjukkan kebotakan natural (Lochner dkk., 2012).

2.6 Diagnosis
Semua daerah tubuh dapat terkena, paling sering adalah kulit kepala. Area lain
yang dikenai alis, bulu mata dan jenggot; batang tubuh, ketiak dan area pubis jarang
dikenai. Rambut yang hilang sering ditandai ditemukannya helaian pendek dan
putus-putus, bersamaan dengan rambut yang normal dan panjang di area yang
terkena. Tidak ada kelainan pada kulit atau kulit kepala (Grant dkk., 2017).

10
Kriteria Diagnosis menurut PPDGJ-III (Maslim, 2013):
1. Mencabut rambut sendiri secara rekuren yang menyebabkan kebotakan yang
jelas.
2. Peningkatan perasaan tegang segera sebelum mencabut rambut atau jika
berusaha untuk menahan perilaku tersebut.
3. Rasa senang, puas atau lega jika mencabut rambut
4. Gangguan yang tidak dapat diterangkan baik oleh gangguan mental lain dan
bukan karena kondisi medis umum (misalnya, kondisi dermatologis).
5. Gangguan menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau
gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lainnya.
Diagnosis ini jangan dibuat apabila sebelumnya sudah ada peradangan kulit,
atau apabila pencabutan rambut adalah respons terhadap waham atau halusinasi.

Pemeriksaan Penunjang
Perubahan histopatologi yang khas pada folikel rambut, yang dikenal
sebagai trikomalasia, ditunjukkan dengan biopsi yang membantu membedakan
trikotilomania dengan penyebab alopesia lainnya (Grant dkk., 2017).
Pemeriksaan dengan lampu wood maupun pemeriksaan dengan mikroskop
pada sediaan langsung rambut yang rusak dengan menggunakan larutan KOH 20%.
Pemeriksaan dermoskopi telah terbukti sangat berguna untuk membedakan kondisi
trikotilomania dari alopesia areata. Adanya garis patahan rambut yang khas pada
dermoskopi merupakan indikasi dari trikotilomania, sedangkan adanya sisa rambut
seperti tanda seru (exclamation mark hair) mengindikasikan suatu alopesia areata
(Bhandare dkk., 2016).

Gambar 8. Dermoskopi pada pasien dengan trikotilomania (kiri) dan alopesia


areata (kanan) (Grant dkk., 2017).

11
2.7 Diagnosis Banding
Perilaku mencabut rambut mungkin suatu keadaan yang sepenuhnya ringan
atau dapat terjadi di dalam konteks beberapa gangguan jiwa berat. Fenomenologi
trikotilomania dan gangguan obsesifkompulsif bertumpang-tindih. Seperti
gangguan obsesif-kompulsif, trikotilomania sering bersifat kronis dan dikenali oleh
pasien sebagai sesuatu yang tidak diinginkan. Tidak seperti pasien dengan
gangguan obsesif-kompulsif, pasien dengan trikotilomania tidak mengalmai pikiran
obsesif dan aktifitas kompulsif terbatas pada satu tindakan, yaitu mencabut rambut
(Grant dkk., 2017).
Pasien yang memilki gangguan buatan dengan tanda fisik serta gejala yang
dominan secara aktif mencari bantuan medis dan pasien memerankan serta
memalsukan penyakit secara sengaja untuk tujuan ini (Huynh dkk., 2013).
Pasien dengan malingering atau dengan gangguan buatan dapat melukai diri
sendiri untuk mendapatkan perhatian medis, tanpa memahami dampak lesi yang
mereka ciptakan (Bhandare dkk., 2016).
Pasien dengan gangguan buatan streotipik memilki gerakan ritmik dan
sterotipik, dan mereka biasanya tidak tampak menderita karena perilakunya. Biopsi
mungkin penting untuk membedakan trikotilomania dengan alopesia areata dan
tinea kapitis (Grant dkk., 2017).

Gambar 9. Diagnosis banding antara trikotilomania dan alopesia areata (Woods


dan Houghton, 2014).

12
Selain itu trikotilomania juga dapat di diagnosis banding dengan alopesia
areolaris. Pada sifilis stadium II dapat terjadi kerontokan rambut. Alopesia areolaris
merupakan alopesia yang terjadi pada sifilis stadium II lanjut. Kerontokan terjadi
setempat-setempat, tampak sebagai bercak-bercak yang ditumbuhi oleh rambut-
rambut yang tipis, seolah-olah seperti digigit ngengat (moth eaten appearance).
untuk menyingkirkan diagnosis banding ini dapat dilakukan pemeriksaan
penunjang tes VDRL, yang akan menunjukkan hasil positif kuat pada pasien
dengan sifilis stadium II (James dan Alcott, 2010).

Gambar 10. Alopesia areolaris pada pasien sifilis stadium II. Tampak
gambaran moth eaten appearance (Grant dkk., 2017).

2.8 Komorbiditas
Individu dengan trikotilomania mempunyai prevalensi gangguan mood yang
meningkat (gangguan depresi mayor, gangguan dysthymic) dan gejala anxietas
(gangguan obsesif kompulsif, gangguan anxietas menyeluruh dan fobia sosial),
gangguan penggunaan zat, gangguan makan, gangguan kepribadian (gangguan
ambang dan obsesif-kompulsif) serta retardasi mental (James dan Alcott, 2010).

2.9 Tatalaksana
Penelitian tentang pengobatan untuk gangguan kebiasaan dan impuls sebagian
besar berfokus pada penggunaan terapi perilaku kognitif dan obat-obatan. Terapi
perilaku kognitif (Cognitif Behaviour Therapy, CBT) menggabungkan unsur-unsur
dari kedua terapi kognitif dan terapi perilaku. Terapi kognitif meneliti cara pikiran
orang tentang diri mereka sendiri, orang lain dan dunia yang mempengaruhi
kesehatan mental mereka. Terapi perilaku menyelidiki cara tindakan masyarakat
mempengaruhi kehidupan mereka sendiri dan interaksi mereka dengan orang lain.

13
Dengan menggabungkan kedua terapi tersebut, CBT meneliti cara orang agar dapat
mengubah pikiran mereka dan perilaku dalam rangka meningkatkan kehidupan
mereka. Terapi perilaku kognitif dapat membantu seseorang belajar untuk rileks,
mengatasi stres, memerangi pikiran negatif dan mencegah perilaku merusak. Dalam
penelitian kecil, jenis pengobatan ini telah terbukti efektif untuk kleptomania, judi
patologis, trikotilomania dan isu-isu seksualitas kompulsif (James dan Alcott,
2010).
Terapi perilaku yang berhasil, seperti biofeedback, pengawasan diri sendiri,
desensitisasi sendiri dan pembalikan kebiasaan telah dilaporkan, tetapi sebagian
besar laporan adalah kasus individual atau sejumlah kecil penelitian dengan periode
follow up yang relatif singkat. Trikotilomania kronis yang berhasil diterapi adalah
dengan psikoterapi berorientasi pada tilikan. Hipnoterapi dan terapi perilaku telah
dinyatakan berpotensi efektif dalam terapi gangguan dermatologis dengan
keterlibatan faktor psikologis karena kulit telah terbukti rentan terhadap saran
hipnotik (Lochner dkk., 2012).
Berdasarkan saran Trichotillomania Impact Project, penggunaan
farmakoterapi dengan SSRI (Serotonin-selective reuptake inhibitors) merupakan
terapi yang paling sering digunakan bahkan lebih dianjurkan penggunaannya
dibandingkan Clomiperamine. Namun bila pasien dengan respon buruk dengan
SSRI dapat membaik dengan tambahan pimozide (Orap), suatu antagonis reseptor
dopamine. SSRI berperan sebagai antidepresan yang akan meningkatkan
neurotransmisi serotonin dalam otak dengan cara menghambat reuptake serotonin
pada membran presinaptik (Huynh dkk., 2013).
Selain itu psikofarmakologi yang telah digunakan adalah steroid topikal dan
hydroxyzine hydrochloride (vistaril), suatu ansiolitik dengan sifat antihistamin,
antidepresan, agen serotonergik dan antipsikotik. Bila terdapat depresi, agen anti
depresan dapat memberikan perbaikan dermatologis. Antidepresan, seperti
fluoxetine (Prozac), fluvoxamine (Luvox), sertraline (Zoloft) dan venlafaxine
(Effexor), sering digunakan untuk mengobati trikotilomania, kleptomania dan judi
patologis. Obat antipsikotik olanzapine, (Zyprexa) juga telah menunjukkan
efektivitas dalam mengobati trikotilomania (Woods dan Houghton, 2014).

14
Bukti terkini dengan kuat menunjukkan efektivitas obat yang mengubah
pergantian serotonin sentral. Pasien yang memberikan respon buruk terhadap SSRI,
dapat membaik dengan tambahan pimozide (Orap), suatu antagonis reseptor
dopamin. Sebuah laporan mengenai keberhasilan terapi litium untuk trikotilomania
menyatakan kemungkinan efek obat terhadap agresi, impulsivitas, dan
ketidakstabilan mood sebagai penjelasannya. Lithium juga memiliki aktivitas
serotonergic. Terdapat laporan kasus mengenai keberhasilan terapi dengan
buspirone, clonazepam (klonipin) dan trazodone. Pada studi control plasebo, pasien
yang mengonsumsi naltrexone mengalami pengurangan keparahan gejala (James
dan Alcott, 2010).
Selain itu, ada beberapa teknik perawatan yang terbukti ampuh. Perawatan
dengan terapi perilaku pada banyak kasus bisa mengenali dorongan mencabut
rambut sebelum nantinya dorongan tersebut sangat susah dilawan. Penderita bisa
belajar untuk melawan dorongan tersebut seperti mengupayakan agar tangan selalu
sibuk dengan aktivitas (meremas-remas, merajut sambil menonton televisi dan
sebagainya) pada saat dorongan untuk menarik rambut semakin kuat. Dengan
demikian dorongan tersebut semakin melemah dan tidak tertutup kemungkinan
hilang sama sekali (Bhandare dkk., 2016).
Penatalaksanaan utama pada trikotilomania adalah dengan terapi pengendalian
perilaku, namun obat-obatan juga dapat membantu. Terapi medikamentosa tidak
dapat menyembuhkan penyakit ini, tujuan pemberian obat-obatan hanya untuk
mengurangi gejala pada pasien sehingga pasien dapat menahan keinginan untuk
tidak mencabut rambutnya lagi. FDA (Food and Drug Administration) belum
menetapkan rekomendasi untuk terapi medikamentosa pada trikotilomania,
pengobatan biasanya bersifat empiris atau berdasarkan pengalaman klinis dari
dokter. Selain pengobatan di bidang psikiatri, terdapat obat-obatan di bidang
dermatologi yang dapat diberikan terutama untuk mengurangi gejala yang dapat
menyebabkan pasien mencabuti rambutnya. Rasa gatal dapat dikurangi dengan
pemberian kortikosteroid topikal atau dengan pemberian obat anti histamin.
Minoxidil 2 % topikal, fasilitator kanal kalium yang telah lama digunakan sebagai
stimulan pertumbuhan rambut secara general pada alopesia androgenetik, juga
dapat digunakan pada alopesia lain. Terapi imunosupresi yang telah teruji terdiri

15
dari injeksi triamcinolone acetonide intradermal (5-10 mg/mL) diberikan tiap 2-6
minggu. Agen ini menstimulasi pertumbuhan kembali pada 60-67% kasus. Efek
samping seperti nyeri, atropi kulit setempat, dan depigmentasi, serta relaps sering
terjadi setelah terapi dihentikan. Glukokortikoid topikal poten banyak digunakan,
khususnya pada anak-anak dan dewasa yang mengalami kerontokan kulit kepala <
50% (James dan Alcott, 2010).

Pencegahan
Referensi pencegahan gangguan trikotilomania belum banyak, kemungkinan
dengan tata laksana pada kondisi ketegangan yang dialami penderita bisa membuat
hal ini tidak terjadi. Teknik terapi perilaku yang dikenal sebagai "substitusi
perilaku" atau teknik "pengganti perilaku". Ini merupakan cara yang baik. Selain
itu hindari faktor pencetus seperti stress dan depresi dengan berupaya untuk rileks,
perhatian orang tua juga berperan penting dalam pencegahan trikotilomania ini
(Grant dkk., 2017).

2.10 Komplikasi (Lochner dkk., 2012)


1. Obstruksi usus jika mulut digunakan untuk menarik rambut dan tertelan.
2. Kebotakan permanen karena kerusakan folikel rambut.
3. Carpal tunnel syndrome dapat terjadi karena gerakan berulang menarik rambut.
4. Gangguan emosi dan kecemasan sosial.

2.11 Prognosis
Trikotilomania merupakan penyakit kronik. Terapi farmakologi maupun
pendekatan psikoterapi sampai saat ini belum menunjukkan bukti yang nyata,
meskipun beberapa diantaranya menunjukkan perbaikan (James dan Alcott, 2010).
Onset rata-rata munculnya trikotilomania adalah pada masa remaja awal dan
sering ditemukan pada usia sebelum 17 tahun namun onset pada usia lebih lanjut
pun dapat terjadi. Perjalanan gangguan tidak diketahui dengan baik, bentuk kronis
maupun remiten sama-sama dapat terjadi (Grant dkk., 2017).
Pada onset dini (kurang dari usia 6 tahun) cenderung lebih mudah sembuh, dan
lebih berespons pada saran, dukungan, dan strategi perilaku. Onset lanjut (setelah

16
usia 13 tahun) dikaitkan dengan meningkatnya kemungkinan terjadinya kekronisan
dan prognosis yang lebih buruk daripada onset dini (Woods dan Houghton, 2014).
Kurang lebih sepertiga orang yang datang untuk terapi melaporkan durasi
selama 1 tahun atau kurang, sedangkan pada beberapa kasus gangguan ini
berlangsung selama lebih dari dua dekade (Bhandare dkk., 2016).

17
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
1.1 Kesimpulan
Trikotilomania adalah salah satu bentuk gangguan kompulsif yang ditandai
dengan kegiatan menarik-narik rambut berulang (di kepala, alis, bulu mata, ketiak,
pubis) yang didahului dengan ketegangan kemudian diikuti dengan rasa puas atau
lega setelahnya. Kegiatan ini ditandai dengan adanya kerontokan rambut yang
mencolok dan tidak disebabkan oleh kelainan kulit kepala atau rambut lain atau
kegiatan stereotip yang lain.
Berdasarkan data epidemiologi didapatkan bahwa puncak onset trikotilomania
ini berkisar antara usia 12-13 tahun. Pada anak-anak tidak ada perbandingan yang
berarti antara populasi laki-laki atau pun perempuan yang terkena trikotilomania.
Pada orang dewasa ditemukan adanya prevalensi sebesar 0.6-3.4% dengan
kecenderungan lebih banyak pada perempuan dibandingkan laki-laki. Namun data
ini masih dikacaukan dengan tipikal pencarian pertolongan yang cenderung dimiliki
perempuan dibandingkan laki-laki.
Kriteria Diagnosis Trikotilomania dapat dilihat pada PPDGJ-III. Diagnosis
banding trikotilomania antara lain obsesif kompulsif, pasien dengan gangguan
buatan, pasien dengan malingering, dan Alopesia areata dan tinea kapitis.
Saran Trichotillomania Impact Project, penggunaan farmakoterapi dengan
SSRI merupakan terapi yang paling sering digunakan bahkan lebih dianjurkan
penggunaannya dibandingkan Clomiperamine. Namun pasien dengan respon buruk
terhadap SSRI dapat membaik dengan tambahan pimozide (Orap), suatu antagonis
reseptor dopamine. SSRI berperan sebagai antidepresan yang akan meningkatkan
neurotransmisi serotonin dalam otak dengan cara menghambat reuptake serotonin
pada membran presinaptik.

1.2 Saran
1. Perlunya pemahaman untuk membedakan Trikotilomania dengan gangguan
kulit, gangguan buatan dan gangguan lainnya.
2. Perlunya pengetahuan untuk mendiagnosis Trikotilomania.

18
DAFTAR PUSTAKA

Bhandare S, Kotade K, Bhavar S, Bhangale C, Wagh V 2016.


Trichitillomania: A Hair Pulling Disorder. World Journal of Pharmacy and
Pharmaceutical Science. Vol.5(5). Pp. 596 615. Viewed 23 September 2017, from
https://www.wjpps.com/download/article/1461929730.pdf

Grant J, Redden S, Leppink E, Chamberlain S 2017. Trichotillomania and


Co-Occuring Anxiety. Department of Psychiatry and Behavioral Neuroscience
University of Chicago. Vol.72. Pp. 1-5. Viewed 23 September 2017, from
https://www.comppsychjournal.com/article/S0010-440X(16)30307-8/pdf

Huynh M, Gavino A, Magid M 2013. Trichotillomania. Semin Cutan Med


Surg. Vol.3(2). Pp. 88 94. Viewed 23 September 2017, from
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24049966

James B, Alcott V. 2010. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis Edisi
2. Jakarta: EGC. Hal. 359 361.

Lochner C, Grant J, Odlaug B, Woods D, Keuthen N, Stein D 2012. DSM


5 Field Survey: Hair Pulling Disorder. Depresion and Anxiety. Vol. 29(12). Pp.
1025 1031. Viewed 23 September 2017, from
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23124891

Maslim R. 2013. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas


dari PPDGJ III dan DSM 5. Jakarta: Universitas Unika Atma Jaya. Hal. 110.

Woods D, Houghton D 2014. Diagnosis, Evaluation and Management of


Trichotillomania. Vol.37(3). Pp. 301 317. Viewed 23 September 2017, from
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4143797/

19