Anda di halaman 1dari 64

ASPEK SARAF PENDENGARAN DAN ASPEK SARAF PENGLIHATAN

REVISI MAKALAH
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Biofisika
Yang dibina oleh Ibu Vita Ria Mustikasari, S.Pd., M.Pd. dan Ibu Novida Pratiwi, S.Si., M.Sc.

Disusun Oleh :
Kelompok 2
1. Nadia Nurmalita (150351600597)
2. Fatricia Parenden (150351606069)
3. Nurmaula Idba Safrina (150351605311)
4. Sarah Sarah Salsabila (150351600338)

Offering B 2015

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
SEPTEMBER 2017
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kami panjatkan ke-hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat rahmat dan karunia Nya lah, revisi makalah ini dapat terselesaikan dengan
baik, tepat pada waktunya. Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk
memenuhi Tugas Mata kuliah Biofisika. Dengan membuat tugas ini kami
diharapkan mampu untuk lebih memahami tentang materi aspek saraf pendengaran
dan aspek saraf penglihatan.
Kami sadar, sebagai seorang mahasiswa yang masih dalam proses
pembelajaran, penulisan revisi makalah ini masih banyak kekurangannya. Oleh
karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif,
guna penulisan karya ilmiah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.
Harapan kami, semoga revisi makalah yang sederhana ini, dapat memberi
manfaat dan pemahaman yang lebih jelas lagi dari makalah sebelumnya bagi kita
semua.

Malang, 26 September 2017

Kelompok 2

DAFTAR ISI
Halaman Judul......................................................................................................... i
Kata Pengantar ....................................................................................................... ii
Daftar Isi ................................................................................................................ iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................................................................1

2
1.2 Rumusan Masalah ..............................................................................................1
1.3 Tujuan ................................................................................................................2

BAB II
PEMBAHASAN
Indera Pendengaran / Telinga ........................................................................ 3-33
1. Anatomi Telinga ....................................................................................... 3-13
1.1 Telinga Luar ........................................................................................... 3-4
1.2 Telinga Tengah........................................................................................ 4-5
1.3 Telinga Dalam ...................................................................................... 6-13
1.4 Respon Frekuensi ......................................................................................13
2. Fisiologi Telinga ..................................................................................... 13-25
2.1 Sel Rambut di Organ Corti .................................................................. 16-19
2.2 Saraf Pendengaran .....................................................................................19
2.3 Neurotransmitter .......................................................................................20
2.4 Lokalisasi Bunyi ................................................................................. 20-25
3. Mekanisme Kerja Telinga .............................................................................25
4. Telinga sebagai Alat Keseimbangan ........................................................ 26-28
5. Prinsip Fisika yang sama dengan Telinga ......................................................28
6. Macam-Macam Alat Bantu Dengan......................................................... 29-33

Indera Penglihatan / Mata............................................................................. 34-58


1. Bagian-Bagian Mata dan Fungsinya .................................................... 34-39
2. Anatomi Fisiologi Air Mata ................................................................. 39-41
3. Cara Kerja Indera Penglihatan ............................................................. 41-43
4. Mata dan Proses Penglihatan
serta Perlindungan Bola Mata dan Bagiannya ..................................... 43-44
5. Selubung Bola Mata ...................................................................................44
6. Lintasan Berkas Cahaya .............................................................................44
7. Otot-Otot Mata ..................................................................................... 45-47
8. Saraf Mata ............................................................................................ 47-48
9. Conjunctiva dan Apparatus Lacrimalis ................................................ 48-49
10. Proses Terbentuknya Kotoran Mata ...........................................................50
11. Proses Terjadinya Red Eye .................................................................. 50-51
12. Daya Akomodasi pada Mata ................................................................ 51-52
13. Penyimpangan Penglihatan .................................................................. 52-53
14. Tanggap Cahaya .........................................................................................54
15. Pembentukan Cahaya oleh Retina ....................................................... 55-56
16. Penyesuaian terhadap Gelap dan Terang ............................................ 56-58

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan ................................................................................................59
3.2 Saran ...........................................................................................................59
Daftar Pustaka 60

3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Saraf indera penglihatan dan saraf indera pendengaran sangatlah penting untuk
diketahui. Mengenai anatomi dan fisiologi serta prinsip kerja dalam sehari hari
beserta kajian fisika yang mengkaitkannya, berupa otot dan sistem kerja dari
sistem penglihatan dan pendengaran itu sendiri. Terdapat banyak sekali rincian
ulasan dari anatomi sistem pendengaran dan sistem penglihatan yang belum
diketahui secara umum kaitan ilmu biologi dan fisika nya. Dalam matakuliah
ini, kami kelompok dua berusaha untuk menyelaraskan jalan antara kaitan
ilmu biologi dan fisika serta prinsip prinsip yang telah di aplikasikan dalam
kehidupan sehari hari.

1.2 Rumusan masalah


1. Apa yang dimaksud dengan indera pendengaran?
2. Jelaskan bagian-bagian telinga dan fungsinya?
3. Bagaimana sistematik pendengaran telinga?
4. Otot apa saja yang bekerja pada sistem pendengaran?
5. Bagaimana fungsi dari otot-otot sistem pendengaran?
6. Bagaimana prinsip fisika yang sama dengan kerja telinga ?
7. Apa yang dimaksud dengan indera penglihat (mata)?
8. Jelaskan bagian-bagian mata dan fungsinya?
9. Bagaimana sistematik penglihatan dari mata?
10. Otot apa saja yang bekerja pada sistem penglihatan?
11. Bagaimana fungsi dari otot-otot mata?
12. Bagaimana prinsip kerja mata dan fungsi otot dalam kajian fisika?
13. Adakah prinsip lain dalam sehari-hari yang menggunakan kiblat prinsip
kerja mata?

4
Tujuan :
1. Menjelaskan Apa yang dimaksud dengan indera pendengaran
2. Menjelaskan anatomi dan fisiologi telinga
3. Menjelaskan sistematik pendengaran pada telinga
4. Menjelaskan otot-otot yang terdapat pada sistem pendengaran
5. Menjelaskan fungsi dari otot-otot pendengaran
6. Menjelaskan prinsip fisika yang sama dengan kerja telinga
7. Menjelaskan Apa yang dimaksud dengan indera penglihat (mata)
8. Menjelaskan bagian-bagian mata dan fungsinya
9. Menjelaskan sistematik penglihatan dari mata
10. Menjelaskan otot-otot yang terdapat pada sistem penglihatan
11. Menjelaskan fungsi dari otot-otot mata
12. Menjelaskan prinsip kerja mata dan fungsi otot dalam kajian fisika
13. Menjelaskan prinsip kerja kamera yang menyerupai prinsip kerja mata

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. INDERA PENDENGARAN / TELINGA


1. ANATOMI TELINGA

Telinga sebagai indera pendengar terdiri dari tiga bagian yaitu telinga luar, telinga
tengah dan telinga dalam. Struktur anatomi telinga seperti diperlihatkan pada
gambar.

1.1 TELINGA LUAR


Telinga luar terdiri atas daun telinga (auricle/pinna), liang telinga luar (meatus
accus-ticus externus) dan gendang telinga (membran timpani).
Daun telinga /aurikula disusun oleh tulang rawan elastin yang ditutupi oleh kulit
tipis yang melekat erat pada tulang rawan. Dalam lapisan subkutis terdapat beberapa
lembar otot lurik yang pada manusia rudimenter (sisa perkembangan), akan tetapi
pada binatang yang lebih rendah yang mampu menggerakan daun telinganya, otot
lurik ini lebih menonjol.
Liang telinga luar merupakan suatu saluran yang terbentang dari daun telinga
melintasi tulang timpani hingga permukaan luar membran timpani. Bagian
permukaannya mengandung tulang rawan elastin dan ditutupi oleh kulit yang
mengandung folikel rambut, kelenjar sebasea dan modifikasi kelenjar keringat yang

6
dikenal sebagai kelenjar serumen. Sekret kelenjar sebacea bersama sekret kelenjar
serumen merupakan komponen penyusun serumen. Serumen merupakan materi
bewarna coklat seperti lilin dengan rasa pahit dan berfungsi sebagai pelindung.
Membran timpani menutup ujung dalam meatus akustiskus eksterna. Permukaan
luarnya ditutupi oleh lapisan tipis epidermis yang berasal dari ectoderm, sedangkan
lapisan sebelah dalam disusun oleh epitel selapis gepeng atau kuboid rendah turunan
dari endoderm. Di antara keduanya terdapat serat-serat kolagen, elastis dan fibroblas.
Gendang telinga menerima gelombang suara yang di sampaikan lewat udara lewat
liang telinga luar. Gelombang suara ini akan menggetarkan membran timpani.
Gelombang suara lalu diubah menjadi energi mekanik yang diteruskan ke tulang-
tulang pendengaran di telinga tengah.

1.2 TELINGA TENGAH

Telinga tengah atau rongga telinga adalah suatu ruang yang terisi udara yang
terletak di bagian petrosum tulang pendengaran. Ruang ini berbatasan di sebelah
posterior dengan ruang-ruang udara mastoid dan disebelah anterior dengan faring
melalui saluran (tuba auditiva) Eustachius.
Epitel yang melapisi rongga timpani dan setiap bangunan di dalamnya merupakan
epitel selapis gepeng atau kuboid rendah, tetapi di bagian anterior pada pada celah
tuba auditiva (tuba Eustachius) epitelnya selapis silindris bersilia. Lamina propria
tipis dan menyatu dengan periosteum.

7
Di bagian dalam rongga ini terdapat 3 jenis tulang pendengaran yaitu tulang
maleus, inkus dan stapes. Ketiga tulang ini merupakan tulang kompak tanpa rongga
sumsum tulang. Tulang maleus melekat pada membran timpani. Tulang maleus dan
inkus tergantung pada ligamen tipis di atap ruang timpani. Lempeng dasar stapes
melekat pada tingkap celah oval (fenestra ovalis) pada dinding dalam. Ada 2 otot kecil
yang berhubungan dengan ketiga tulang pendengaran. Otot tensor timpani terletak
dalam saluran di atas tuba auditiva, tendonya berjalan mula-mula ke arah posterior
kemudian mengait sekeliling sebuah tonjol tulang kecil untuk melintasi rongga
timpani dari dinding medial ke lateral untuk berinsersi ke dalam gagang maleus. Tendo
otot stapedius berjalan dari tonjolan tulang berbentuk piramid dalam dinding posterior
dan berjalan anterior untuk berinsersi ke dalam leher stapes. Otot-otot ini berfungsi
protektif dengan cara meredam getaran-getaran berfrekuensi tinggi.
Tingkap oval pada dinding medial ditutupi oleh lempeng dasar stapes, memisahkan
rongga timpani dari perilimf dalam skal vestibuli koklea. Oleh karenanya getaran-
getaran membrana timpani diteruskan oleh rangkaian tulang-tulang pendengaran ke
perilimf telinga dalam. Untuk menjaga keseimbangan tekanan di rongga-rongga
perilimf terdapat suatu katup pengaman yang terletak dalam dinding medial rongga
timpani di bawah dan belakang tingkap oval dan diliputi oleh suatu membran elastis
yang dikenal sebagai tingkap bulat (fenestra rotundum). Membran ini memisahkan
rongga timpani dari perilimf dalam skala timpani koklea.
Tuba auditiva (Eustachius) menghubungkan rongga timpani dengan
nasofarings lumennya gepeng, dengan dinding medial dan lateral bagian tulang
rawan biasanya saling berhadapan menutup lumen. Epitelnya bervariasi dari epitel
bertingkat, selapis silindris bersilia dengan sel goblet dekat farings. Dengan
menelan dinding tuba saling terpisah sehingga lumen terbuka dan udara dapat
masuk ke rongga telinga tengah. Dengan demikian tekanan udara pada kedua sisi
membran timpani menjadi seimbang.

8
1.3 TELINGA DALAM

Telinga dalam adalah suatu sistem saluran dan rongga di dalam pars petrosum
tulang temporalis. Telinga tengah di bentuk oleh labirin tulang (labirin oseosa)
yang di da-lamnya terdapat labirin membranasea. Labirin tulang berisi cairan
perilimf sedangkan labirin membranasea berisi cairan endolimf.

LABIRIN TULANG
Labirin tulang terdiri atas 3 komponen yaitu kanalis semisirkularis, vestibulum,
dan koklea tulang. Labirin tulang ini di sebelah luar berbatasan dengan endosteum,
sedangkan di bagian dalam dipisahkan dari labirin membranasea yang terdapat di
dalam labirin tulang oleh ruang perilimf yang berisi cairan endolimf.
Vestibulum merupakan bagian tengah labirin tulang, yang berhubungan dengan
rongga timpani melalui suatu membran yang dikenal sebagai tingkap oval (fenestra
ovale). Ke dalam vestibulum bermuara 3 buah kanalis semisirkularis yaitu kanalis
semisirkularis anterior, posterior dan lateral yang masing-masing saling tegak lurus.
Setiap saluran semisirkularis mempunyai pelebaran atau ampula. Walaupun ada 3

9
saluran tetapi muaranya hanya lima dan bukan enam, karena ujung posterior saluran
posterior yang tidak berampula menyatu dengan ujung medial saluran anterior yang
tidak bermapula dan bermuara ke dalam bagian medial vestibulum oleh krus
kommune. Ke arah anterior rongga vestibulum berhubungan dengan koklea tulang
dan tingkap bulat (fenestra rotundum).
Koklea merupakan tabung berpilin mirip rumah siput. Bentuk keseluruhannya
mirip kerucut dengan dua tiga-perempat putaran. Sumbu koklea tulang di sebut
mediolus. Tonjolan tulang yang terjulur dari modiolus membentuk rabung spiral
dengan suatu tumpukan tulang yang disebut lamina spiralis. Lamina spiralis ini
terdapat pembuluh darah dan ganglion spiralis, yang merupakan bagian koklear
nervus akustikus.

LABIRIN MEMBRANASEA
Labirin membransea terletak di dalam labirin tulang, merupakan suatu sistem
saluran yang saling berhubungan dilapisi epitel dan mengandung endolimf. Labirin
ini dipisahkan dari labirin tulang oleh ruang perilimf yang berisi cairan perilimf.
Pada beberapa tempat terdapat lembaran-lembaran jaringan ikat yang mengandung
pembuluh darah melintasi ruang perilimf untuk menggantung labirin membranasea.
Labirin membranasea terdiri atas:
1. Kanalis semisirkularis membranasea
2. Ultrikulus
3. Sakulus
4. Duktus endolimfatikus merupakan gabungan duktus ultrikularis dan duktus
sakularis.
5. Sakus endolimfatikus merupakan ujung buntu duktus endolimfatikus
6. Duktus reuniens, saluran kecil penghubung antara sakulus dengan duktus
koklearis
7. Duktus koklearis mengandung organ Corti yang merupakan organ
pendengaran.
Terdapat badan-badan akhir saraf sensorik dalam ampula saluran semisirkularis
(krista ampularis) dan dalam ultrikulus dan sakulus (makula sakuli dan
ultrikuli) yang berfungsi sebagai indera statik dan kinetik.

10
SAKULUS DAN ULTRIKULUS
Dinding sakulus dan ultrikulus dibentuk oleh lapisan jaringan ikat tebal yang
mengandung pembuluh darah, sedangkan lapisan dalamnya dilapisi epitel selapis
gepeng sampai selapis kuboid rendah. Pada sakulus dan ultrikulus terdapat reseptor
sensorik yang disebut makula sakuli dan makula ultrikuli. Makula sakuli terletak
paling banyak pada dinding sehingga berfungsi untuk mendeteksi percepatan
vertikal lurus sementara makula ultrikuli terletak kebanyakan di lantai /dasar
sehingga berfungsi untuk mendeteksi percepatan horizontal lurus.
Makula disusun oleh 2 jenis sel neuroepitel (disebut sel rambut) yaitu tipe I dan
II serta sel penyokong yang duduk di lamina basal.Serat-serat saraf dari bagian
vestibular nervus vestibulo-akustikus (N.VIII) akan mempersarafi sel-sel
neuroepitel ini.
Sel rambut I berbentuk seperti kerucut dengan bagian dasar yang membulat
berisi inti dan leher yang pendek. Sel ini dikelilingi suatu jala terdiri atas badan
akhir saraf dengan beberapa serat saraf eferen, mungkin bersifat penghambat/
inhibitorik. Sel rambut tipe II berbentuk silindris dengan badan akhir saraf aferen
maupun eferen menempel pada bagian bawahnya. Kedua sel ini mengandung
stereosilia pada apikal, sedangkan pada bagian tepi stereosilia terdapat kinosilia.
Sel penyokong (sustentakular) merupakan sel berbentuk silindris tinggi, terletak
pada lamina basal dan mempunyai mikrovili pada permukaan apikal dengan
beberapa granul sekretoris.
Pada permukaan makula terdapat suatu lapisan gelatin dengan ketebalan 22
mikrometer yang dikenal sebagai membran otolitik. Membran ini mengandung
banyak badan-badan kristal yang kecil yang disebut otokonia atau otolit yang
mengandung kalsium karbonat dan suatu protein. Mikrovili pada sel penyokong
dan stereosilia serta kinosilia sel rambut terbenam dalam membran otolitik.
Perubahan posisi kepala mengakibatkan perubahan dalam tekanan atau tegangan
dalam membran otolitik dengan akibat terjadi rangsangan pada sel rambut.
Rangsangan ini diterima oleh badan akhir saraf yang terletak di antara sel-sel
rambut.

11
KANALIS SEMISIRKULARIS
Kanalis semisirkularis membranasea mempunyai penampang yang oval. Pada
permukaan luarnya terdapat suatu ruang perilimf yang lebar dilalui oleh trabekula.
Pada setiap kanalis semisirkularis ditemukan sebuah krista ampularis, yaitu
badan akhir saraf sensorik yang terdapat di dalam ampula (bagian yang melebar)
kanalis (Gb-8). Tiap krista ampularis di bentuk oleh sel-sel penyokong dan dua tipe
sel rambut yang serupa dengan sel rambut pada makula. Mikrovili, stereosilia dan
kinosilianya terbenam dalam suatu massa gelatinosa yang disebut kupula serupa
dengan membran otolitik tetapi tanpa otokonia.
Dalam krista ampularis, sel-sel rambutnya di rangsang oleh gerakan endolimf
akibat percepatan sudut kepala. Gerakan endolimf ini mengakibatkan tergeraknya
stereosilia dan kinosilia. Dalam makula sel-sel rambut juga terangsang tetapi
perubahan posisi kepala dalam ruang mengakibatkan suatu peningkatan atau
penurunan tekanan pada sel-sel rambut oleh membran otolitik.

KOKLEA
Koklea tulang berjalan spiral dengan 23/4 putaran sekiitar modiolus yang juga
merupakan tempat keluarnya lamina spiralis. Dari lamina spiralis menjulur ke
dinding luar koklea suatu membran basilaris. Pada tempat perlekatan membran
basilaris ke dinding luar koklea terdapat penebalan periosteum yang dikenal sebagai
ligamentum spiralis. Di samping itu juga terdapat membran vestibularis (Reissner)
yang membentang sepanjang koklea dari lamina spiralis ke dinding luar. Kedua
membran ini akan membagi saluran koklea tulang menjadi tiga bagian yaitu
1. Ruangan atas (skala vestibuli)
2. Ruangan tengah (duktus koklearis)
3. Ruang bawah (skala timpani).
Antara skala vestibuli dengan duktus koklearis dipisahkan oleh membran
vestibularis (Reissner). Antara duktus koklearis dengan skala timpani dipisahkan
oleh membran basilaris. Skala vesibularis dan skala timpani mengandung perilimf
dan di dindingnya terdiri atas jaringan ikat yang dilapisi oleh selapis sel gepeng
yaitu sel mesenkim, yang menyatu dengan periosteum disebelah luarnya. Skala
vestibularis berhubungan dengan ruang perilimf vestibularis dan akan mencapai

12
permukaan dalam fenestra ovalis. Skala timpani menjulur ke lateral fenestra
rotundum yang memisahkannya dengan ruang timpani. Pada apeks koklea skala
vestibuli dan timpani akan bertemu melalui suatu saluran sempit yang disebut
helikotrema.
Duktus koklearis berhubungan dengan sakulus melalui duktus reuniens tetapi
berakhir buntu dekat helikotrema pada sekum kupulare.
Pada pertemuan antara lamina spiralis tulang dengan modiolus terdapat
ganglion spiralis yang sebagian diliputi tulang. Dari ganglion keluar berkas-berkas
serat saraf yang menembus tulang lamina spiralis untuk mencapai organ Corti.
Periosteum di atas lamina spiralis menebal dan menonjol ke dalam duktus koklearis
sebagai limbus spiralis. Pada bagian bawahnya menyatu dengan membran basilaris.
Membran basilaris yang merupakan landasan organ Corti dibentuk oleh serat-
serat kolagen. Permukaan bawah yang menghadap ke skala timpani diliputi oleh
jaringan ikat fibrosa yang mengandung pembuluh darah dan sel mesotel.
Membran vestibularis merupakan suatu lembaran jaringan ikat tipis yang
diliputi oleh epitel selapis gepeng pada bagian yang menghadap skala vestibuli.

DUKTUS KOKLEARIS
Epitel yang melapisi duktus koklearis beragam jenisnya tergantung pada
lokasinya, diatas membran vestibularis epitelnya gepeng dan mungkin mengandung
pigmen, di atas limbus epitelnya lebih tinggi dan tak beraturan. Di lateral epitelnya
selapis silindris rendah dan di bawahnya mengandung jaringan ikat yang banyak
mengandung kapiler. Daerah ini disebut stria vaskularis dan diduga tempat sekresi
endolimf.
Sel-sel saraf: Dua jenis sel saraf ditemukan di telinga - aferen dan eferen. Serat
aferen adalah saraf-saraf yang membawa informasi dari telinga ke otak. Serat eferen
biasanya membawa informasi dari otak ke telinga. Sel-sel rambut batin yang
terhubung terutama oleh serat aferen, sehingga mereka tampaknya terutama
bertanggung jawab untuk mengirimkan informasi ke otak. Sel-sel rambut luar
memiliki sel aferen sangat sedikit dan sel eferen banyak. Sel-sel rambut luar
tampaknya berfungsi dalam beberapa cara untuk mengontrol biomekanik dari
telinga. Hal ini diyakini bahwa otak mengirimkan sinyal kembali ke sel-sel rambut

13
luar dalam bentuk umpan balik aktif. Hal ini diduga untuk membantu menyaring
suara yang tidak penting, dan mengendalikan penafsiran terarah. Hal ini dapat
menjelaskan mengapa Anda dapat berkonsentrasi ("fokus") di salah satu
percakapan di ruangan yang ramai berisik.

ORGAN CORTI
Organ Corti terdiri atas sel-sel penyokong dan sel-sel rambut. Sel-sel yang
terdapat di organ Corti adalah
1. Sel tiang dalam merupakan sel berbentuk kerucut yang ramping dengan bagian
basal
yang lebar mengandung inti, berdiri di atas membran basilaris serta bagian leher
yang
sempit dan agak melebar di bagian apeks.
2. Sel tiang luar mempunyai bentuk yang serupa dengan sel tiang dalam hanya
lebih
panjang. Di antara sel tiang dalam dan luar terdapat terowongan dalam.
3. Sel falangs luar merupakan sel berbentuk silindris yang melekat pada membrana
basilaris. Bagian puncaknya berbentuk mangkuk untuk menopang bagaian basal
sel
rambut luar yang mengandung serat-serat saraf aferen dan eferen pada bagian
basalnya yang melintas di antara sel-sel falangs dalam untuk menuju ke sel-sel
rambut
luar. Sel-sel falangs luar dan sel rambut luar terdapat dalam suatu ruang yaitu
terowongan Nuel. Ruang ini akan berhubungan dengan terowongan dalam.
4. Sel falangs dalam terletak berdampingan dengan sel tiang dalam. Seperti sel
falangs
luar sel ini juga menyanggah sel rambut dalam.
5. Sel batas membatasi sisi dalam organ corti
6. Sel Hansen membatasi sisi luar organ Corti. Sel ini berbentuk silindris terletak
antara
sel falangs luar dengan sel-sel Claudius yang berbentuk kuboid. Sel-sel
Claudius ter-

14
letak di atas sel-sel Boettcher yang berbentuk kuboid rendah.
Permukaan organ Corti diliputi oleh suatu membran yaitu membrana tektoria
yang merupakan suatu lembaran pita materi gelatinosa. Dalam keadaan hidup
membran ini menyandar di atas stereosilia sel-sel rambut.

GANGLION SPIRALIS
Ganglion spiralis merupakan neuron bipolar dengan akson yang bermielin dan
berjalan bersama membentuk nervus akustikus. Dendrit yang bermielin berjalan
dalam saluran-saluran dalam tulang yang mengitari ganglion, kehilangan mielinnya
dan berakhir dengan memasuki organ Corti untuk selanjutnya berada di antara sel
rambut. Bagian vestibular N VIII memberi persarafan bagian lain labirin.
Ganglionnya terletak dalam meatus akustikus internus tulang temporal dan
aksonnya berjalan bersama dengan akson dari yang berasal dari ganglion spiralis.
Dendrit-dendritnya berjalan ke ketiga kanalikulus semisirkularis dan ke makula
sakuli dan ultrikuli.
Telinga luar menangkap gelombang bunyi yang akan diubah menjadi getaran-
getaran oleh membran timpani. Getaran-getaran ini kemudian diteruskan oleh
rangkaian tulang tulang pendengaran dalam telinga tengah ke perilimf dalam
vestibulum, menimbulkan gelombang tekanan dalam perilimf dengan pergerakan
cairan dalam skala vestibuli dan skala timpani. Membran timpani kedua pada
tingkap bundar (fenestra rotundum) bergerak bebas sebagai katup pengaman dalam
pergerakan cairan ini, yang juga agak menggerakan duktus koklearis dengan
membran basilarisnya. Pergerakan ini kemudian menyebabkan tenaga penggunting
terjadi antara stereosilia sel-sel rambut dengan membran tektoria, sehingga terjadi
stimulasi sel-sel rambut. Tampaknya membran basilaris pada basis koklea peka
terhadap bunyi berfrekuensi tinggi , sedangkan bunyi berfrekuensi rendah lebih
diterima pada bagian lain duktus koklearis.
Tindakan otot-otot ini diperkirakan melayani sejumlah fungsi yang berguna, seperti:
a. Melindungi telinga bagian dalam dari kerusakan b. Memberikan kontrol
keuntungan otomatis untuk keras, suara frekuensi rendah c. karena mereka
kontrak karena suara, atau gerakan tubuh, mereka mengurangi persepsi diri
yang dihasilkan suara (seperti suara Anda sendiri, atau suara karena gerakan)

15
d. karena suara frekuensi rendah dapat menutupi suara frekuensi tinggi (lebih
lanjut tentang ini nanti), redaman selektif frekuensi rendah dapat
meningkatkan persepsi kompleks rangsangan, seperti pidato.

1.4 RESPON FREKUENSI

Keuntungan tekanan dari rantai tulang pendengaran menunjukkan karakteristik


bandpass seperti yang ditunjukkan pada gambar terlampir. Ini sebenarnya data untuk
kucing, yang mirip dengan manusia. Tekanan diukur tepat di belakang jendela oval
di dalam koklea untuk tekanan suara konstan pada membran timpani.
Ketidakteraturan sekitar 4 KHz ini disebabkan oleh resonansi dari rongga telinga
tengah.

2. FISIOLOGI TELINGA

Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun


telinga dalam bentuk gelombang yang dihantarkan melalui udara atau tulang ke
koklea. Getaran tersebut menggetarkan membran timpani dan diteruskan ke telinga
tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan memperkuat getaran
melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran
timpani dan foramen ovale. Energi getar yang teiah diperkuat ini akan diteruskan
ke stapes yang menggerakkan foramen ovale sehingga cairan perilimfe pada skala
vestibuli bergerak. Getaran akibat getaran perilimfe diteruskan melalui membran
Reissner yang akan mendorong endolimfe, sehingga akan terjadi gerak relatif antara
membran basilaris dan membran tektoria. Proses ini merupakan rangsang mekanik
yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion
terbuka dan terjadi penglepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini
menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmiter
ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu
dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39 - 40) di
lobus temporalis.
Mekanisme Pendengaran Gelombang bunyi merupakan suatu gelombang
getaran udara yang timbul akibat getaran suatu obyek. Bunyi yang didengar oleh
setiap orang muda antara 20 dan 20.000 siklus per detik. Akan tetapi, batasan bunyi

16
sangat tergantung pada intensitas. Bila intesitas kekerasan 60 desibel di bawah 1
dyne/cm2 tingkat tekanan bunyi, rentang bunyi menjadi 500 sampai 5000 siklus per
detik. Pada orang yang lebih tua rentang frekuensi yang bisa didengarnya akan
menurun dari pada saat seseorang berusia muda, frekuensi pada orang yang lebih
tua menjadi 50 sampai 8000 siklus perdetik atau kurang.
Kekerasan bunyi ditentukan oleh sistem pendengaran yang melalui tiga
cara. Cara yang pertama di mana ketika bunyi menjadi keras, amplitudo getaran 16
membran basiler dan sel-sel rambut menjadi meningkat sehingga akan mengeksitasi
ujung saraf dengan lebih cepat. Kedua, ketika amplitudo getaran meningkat akan
menyebabkan sel-sel rambut yang terletak di pinggir bagian membran basilar yang
beresonansi menjadi terangsang sehinga menyebabkan penjumlahan spasial implus
menjadi transmisi yang melalui banyak serabut saraf. Ketiga, sel-sel rambut luar
tidak akan terangsang secara bermakna sampai dengan getaran membran basiler
mencapai intensitas yang tinggi dan perangsangan sel-sel ini tampaknya yang
menggambarkan pada sistem saraf bahwa tersebut sangat keras.
Jaras persarafan pendengaran utama menunjukan bahwa serabut saraf dari
ganglion spiralis Corti memasuki nukleus koklearis dorsalis dan ventralis yang
terletak pada bagian atas medulla. Serabut sinaps akan berjalan ke nukleus olivarius
superior kemudian akan berjalan ke atas melalui lemnikus lateralis. Dari lemnikus
lateralis ada beberapa serabut yang berakhir di lemnikus lateralis dan sebagian besar
lagi berjalan ke kolikus inferior di mana tempat semua atau hampir semua serabut
pendengaran bersinaps. Jaras berjalan dari kolikus inferior ke nukleus genikulum
medial, kemudian jaras berlanjut melalui radiasio auditorius ke korteks auditorik
yang terutama terletak pada girus superior lobus temporalis.1 Jaras saraf
pendengaran ditampilkan pada gambar.

17
Pada batang otak terjadi persilangan antara kedua jaras di dalam korpus
trapezoid dalam komisura di antara dua inti lemniskus lateralis dan dalam
komnisura yang menghubungkan dua kolikulus inferior. Adanya serabut kolateral
dari traktus auditorius berjalan langsung ke dalam sistem aktivasi retikuler di batang
otak. Pada sistem ini akan mengaktivasi seluruh sistem saraf untuk memberikan
respon terhadap bunyi yang keras. Kolateral lain yang menuju kevermis serebelum
juga akan di aktivasikan seketika jika ada bunyi keras yang timbul mendadak.
Orientasi spasial dengan derajat tinggi akan dipertahankan oleh traktus serabut yang
berasal dari koklea sampai ke korteks.

18
2.1 SEL RAMBUT DI ORGAN CORTI
Organ corti, yang terletak di atas membran basilaris di seluruh panjangnya,
mengandung sel rambut yang merupakan reseptor suara. Sekitar 30.000 ujung saraf
dan sebanyak 16.000 sel rambut di dalam masing-masing koklea tersusun menjadi
empat baris sejajar di seluruh panjang membran basilaris: satu baris sel rambut
dalam dan tiga baris sel rambut luar. Dari permukaan masing-masing sel rambut
menonjol sekitar 100 rambut yang dikenal sebagai stereosilia. Sel rambut
menghasilkan sinyal saraf jika rambut permukaannya mengalami perubahan bentuk
secara mekanik akibat gerakan cairan di telinga dalam.Stereosilia ini berkontak
dengan membrane tektorium, suatu tonjolan mirip tenda yang menutupi organ corti
di seluruh panjangnya. Gerakan stapes yang mirip piston terhadap jendela oval
memicu gelombang tekanan di kompartemen atas. Karena cairan tidak dapat
mengalami penekanan, maka tekanan disebarkan melalui dua cara ketika stapes

menyebabkan jendela oval menonjol ke dalam: (1) penekanan jendela bundar dan
(2) defleksi membran basilaris.Pada bagian-bagian awal jalur ini, gelombang
tekanan mendorong maju perilimfe di kompartemen atas, kemudian mengelilingi
helikotrema, dan masuk kedalam kompartemen bawah, tempat gelombang tersebut
menyebabkan jendela bundar menonjol keluar mengarah kerongga telingga tengah
untuk mengkompensasi peningkatan tekanan. Sewaktu stapes bergerak mundur dan
menarik jendela oval kearah luar ke telinga tengah, perilimfe mengalir kearah
berlawanan, menyebabkan jendela bundar menonjol ke dalam.

19
Gelombang tekanan frekuensi-frekuensi yang berkaitan dengan penerimaan
suara mengambil jalan pintas. Gelombang tekanan di kompartemen atas
disalurkan melalui membran vestibularis yang tipis, menuju duktus kokhlearis, dan
kemudian melalui membran basilaris di kompartemen bawah, tempat gelombang
ini menyebabkan jendela bundar menonjol ke luar masuk bergantian. Perbedaan
utama pada jalur ini adalah bahwa transmisi gelombang tekanan melalui membran
basilaris menyebabkan membran ini bergerak naik-turun, atau bergetar sesuai
gelombang tekanan. Karena organ corti berada di atas membran basilaris maka sel-
sel rambut juga bergetar naik-turun sewaktu membran basilaris bergetar.

20
Gerakan cairan di dalam perilimfe yang ditimbulkan oleh getaran jendela oval.

Angka-angka menunjukkan frekuensi (dalam siklus perdetik) getaran


maksimal berbagai bagian membran basilaris. Resonansi frekuensi tinggi dari
membran basilaris terjadi dekat basis, tempat gelombang suara memasuki koklea
melalui jendela oval dan resonansi frekuensi rendah terjadi dekat apeks, terutama
karena perbedaan dalam kekakuan serat (serat kaku dan pendek dekat jendela oval
koklea bergetar pada frekuensi tinggi sedangkan serat panjang dan lentur dekat
ujung koklea/helikotrema mempunyai kecendrungan untuk bergetar pada frekuensi
rendah) tetapi juga karena peningkatan pengisian membran basilaris dengan massa
cairan ekstra yang semestinya bergetar bersama membran pada apeks.

PERAN SEL RAMBUT DALAM


Sel rambut dalam adalah sel yang mengubah gaya mekanik suara (getaran
cairan koklea) menjadi impuls listrik pendengaran (potensial aksi yang
menyampaikan pesan pendengaran ke korteks serebri). Karena berkontak dengan
membran tektorium yang kaku dan stasioner, maka stereosilia sel-sel reseptor ini
tertekuk maju-mundur ketika membran basilaris mengubah posisi relatif terhadap
membran tektorium. Deformasi mekanis majumundur rambut-rambut ini secara
bergantian membuka dan menutup saluran ion berpintu mekanis di sel rambut
sehingga terjadi perubahan potensial depolarisasi dan hiperpolarisasi yang

21
bergantian. Sel rambut dalam berhubungan melalui suatu sinaps kimiawi dengan
ujung serat-serat saraf aferen yang membentuk nervus auditorius (kokhlearis).
Lintasan impuls auditori selanjutnya menuju ganglion spiralis korti, saraf VIII,
nukleus koklearis di medula oblongata, kolikulus superior, korpus genukulatum
medial, korteks auditori di lobus temporalis serebri.

PERAN SEL RAMBUT LUAR


Sementera sel-sel rambut dalam mengirim sinyal auditorik ke otak melalui serat
aferen, sel rambut luar tidak memberi sinyal ke otak tentang suara yang datang. Sel-
sel rambut luar secara aktif dan cepat berubah panjang sebagai respons terhadap
perubahan potensial membran, suatu perilaku yang dikenal sebagai
elektromotilitas. Sel rambut luar memendek pada depolarisasi dan memanjang pada
hiperpolarisasi.

2.2 SARAF PENDENGARAN


Syaraf pendengaran terdiri dari dua bagian. Salah satunya pengumpulan
sensibilitas dari bagian verstibulerrongga telinga dalam yang memiliki hubungan
dengan keseimbangan. Serabut- serabut saraf ini bergerak menuju nukleus
vestibularis yang berada pada titik pertemuan antara pons dan medula oblongata,
kemudian bergerak menuju serebelum. Bagian koklea pada saraf pendengaran
adalah saraf sebenarnya. Serabut saraf mula-mula dipancarkan pada sebuah nukleus
khusus yang berada tepat dibelakang talamus, kemudian dilanjutkan ke pusat
penerima dalam korteks yang terletak pada baagian bawah lobus temporalis.

22
2.3 NEUROTRANSMITTER
Neurotransmitter dilepaskan dari ujung saraf ketika datang impuls saraf (potensial
aksi). Potensial aksi menyebabkan influks K+ yang menyebabkan vesikel sinaptik
bergabung dengan membran prasinaptik. Kemudian neurotransmitter dikeluarkan
ke celah sinaps. Ketika berada di celah sinaptik, neurotransmiter mencapai
sasarannya dengan meningkatkan atau menurunkan potensial istirahat (resting
potential) pada membrane pascasinaptik untuk waktu yang singkat.
Efekneurotransmitter dipengaruhi oleh destruksi atau reabsorpsi neurotransmitter
tersebut. Misalnya pada asetilkolin, efeknya dibatasi oleh
enzim asetilkolinesterase (AChE) dengan mendegradasi asetilkolin. Namun,
efek katekolamin dibatasi dengan kembalinya neurotransmitter ke ujung-ujung
saraf prasinaps. Neurotransmitter ini dikirimkan pada celah yang di kenal sebagai
sinapsis. Neurotransmiter paling mempengaruhi sikap, emosi, dan perilaku
seseorang yang ada antara lain Asetil kolin, dopamin, serotonin, epinefrin,
norepinefrin.

2.4 LOKALISASI BUNYI

Penentuan keras bunyi di tentukan oleh amplitudo suatu getaran suatu


membran basilaris dan sel-sel rambut. Peningkatan amplitudo getaran merangsang
ujung saraf lebih cepat dan dapat menyebabkan sel-sel rambut pada mambrana
basiler yang bergetar mulai terangsang akibatnya menyebabkan sumasi ruang bagi
implus. Pada tiap telinga memiliki keseragaman sensitivitas keseragaman pada
rentan pendengaran yang berbeda-beda. Sensitivitas terbaiknya berfrekuensi 2
sampai 5 kHz. Pada telinga yang baik membutuhkan intesitas lebih dari 0 dB unuk
mendeteksi bunyi berfrekuensi 100 dari pada bunyi berfrekuensi 1000 siklus per
detik (Hertz /Hz).
Lokalisasi bunyi membutuhkan kerjasama kedua telinga. Seseorang dapat
menentukan bunyi pada arah horizontal melalui perbedaan waktu antara masuknya
bunyi ke dalam suatu telinga dengan frekuensi di bawah 2000 Hz dan masuk ke
dalam telinga yang lain.Perbedaan antara intensitas bunyi dalam pada kedua telinga
bekerja paling baik bila frekuensi bunyi yang lebih tinggi, karena kepala bertindak
sebagai sawar bunyi yang lebih baik terhadap frekuensi lainnya. Mekanisme

23
perbedaan waktu dalam membedakan arah jauh lebih baik dari pada mekanisme
intesitas, karena mekanisme ini tidak bergantung pada faktor-faktor luar, melainkan
bergantungpada interval waktu yang tepat antara dua sinyal akustik.1, 10 Perbedaan
waktu datangnya gelombang bunyi pada telinga kanan telinga kiri digunakan untuk
mendeteksi sumber bunyi pada bidang datar. Pada bunyi dengan frekuensi kurang
dari 2000 Hz struktur bunyi dapat diketahui dengan proses Interaural Time
Differences (ITD). Pada frekuensi yang lebih besar dari 2000 Hz, efek dari
bayangan kepala meningkatkan perbedaan intensitas bunyi antara telinga kanan
dan telinga kiri. Perbedaan ini digunakan untuk melokalisasi sumber bunyi.

Apabila seseorang melihat lurus ke arah sumber bunyi maka bunyi akan
mencapai kedua telinga dengan jarak waktu yang bersamaan. Sedangkan jika
telinga kanan lebih dekat dengan bunyi dari pada telinga kiri maka sinyal bunyi
yang berasal dari telinga sebelah kanan akan memasuki otak lebih dahulu dari pada
telinga sebelah kiri.

24
Bayangan kepala atau bayangan akustik adalah area di mana terjadi
perlemahan amplitudo bunyi akibat terhalang oleh kepala. Bunyi berjalan
menembus dan mengelilingi kepala untuk mencapai telinga. Adanya halangan oleh
kepala menyebabkan terjadinya perlemahan amplitudo yang merupakan filter bunyi
yang menuju ke telinga. Efek filter ini sangat penting dalam menentukan lokasi
sumber bunyi. Telinga yang tertutup bayangan kepala menerima bunyi 0,7 mili
detik lebih lambat dibanding telinga yang tidak tertutup bayangan kepala.
Mekanisme Saraf untuk Deteksi Arah Bunyi Destruksi korteks pendengaran
pada kedua sisi otak, baik yang terjadi pada manusia atau pada mamalia yang lebih
rendah menyebabkan kehilangan sebagian besar kemampuan mendeteksi asal

bunyi. Jaras pendengaran yang berperan dalam lokalisasi bunyi ditampilkan pada
gambar.

Mekanisme saraf bunyi berlangsung mulai pada nukleus olivarius superior


di dalam batang otak. Nucleus olivarius dibagi menjadi nucleus olivarius superior
medial dan nucleus superior lateral. Nucleus superior lateral untuk mendeteksi arah
sumber bunyi dan nukeus superior medial untuk mendeteksi perbedaan waktu
antara sinyal akustik yang memasuki kedua telinga.

25
Bila bunyi masuk pada satu telinga maka telinga pertama akan menghambat
neuron-neuron pada nukleus olivarius superior lateral dan penghambatan
berlangsung selama kurang lebih satu mili detik. Nukleus terdiri atas sejumlah besar
neuron yang mempunyai dua dendrit utama, satu yangmenonjol ke kanan dan satu
yang menonjol ke kiri. Sinyal pada akustik dari telinga kanan mengenai dendrit
kanan, dan sinyal dari telinga kiri mengenai dendrit kiri. Intensitas eksitasi setiap
neuron sangat sensitiv terhadap perbedaan waktu spesifik antara dua sinyal akustik
yang berasal dari kedua telinga. Neuron yang di dekat dengan perbatasan nukleus
berespon secara maksimal terhadap perbedaan waktu yang singkat, sedangkan
neuron di dekat perbatasan yang berlawan berespon terhadap perbedaan waktu yang
sangat panjang dan di antara perbedaan waktu yang sangat singkat dan panjang
terdapat perbedaan waktu yang sedang, sehingga pola spasial stimulasi neuron
berkembang dalam nukleus superior medial.
Bunyi yang datang langsung dari arah depan kepala menstimulasi satu
perangkat neuron olivarius secara maksimal dan bunyi yang sudut berbeda
menstimulasi perangkat neuron pada sisi yang berlawanan di depan neuron.
Orientasi spasial dijalarkan pada seluruh jalur ke korteks auditorius, di mana arah
bunyi ditentukan oleh lokus neuron yang dirangsang secara maksimal. Sinyal pada
penentuan arah bunyi dijalarkan melalui jaras yang merangsang lokus dalam
korteks serebral. Mekanisme untuk mendeteksi arah datangnya bunyi kembali
menunjukan bagaimana informasi dalam sinyal sensorik diputuskan ketika sinyal
melalui tingkat aktivitas neuron yang berbeda dalam kualitas arah sumber
dipisahkan dari kualitas gaya bunyi pada tingkat nukleus olivarius superior.
Gangguan Pendengaran Gangguan pendengaran dapat meliputi telinga luar,
telinga tengah dan telinga dalam. Pada karya tulis ilmiah ini tinjauan tentang
gangguan pendengaran dibatasi pada gangguan telinga luar. Telinga luar
mempunyai fungsi untuk mengumpulkan dan menghantarkan gelombang bunyi ke
struktur- struktur telinga tengah. Gangguan pada telinga luar di daerah liang telinga.
a. Penutup telinga
Penggunaan penutup telinga, topi, helm ataupun pakaian yang menutup
telinga dapat menyebabkan gangguan transmisi bunyi untuk masuk

26
menuju telinga tengah dan dalam sehingga menimbulkan gangguan
fungsi pendengaran yang sifat tidak permanen.
b. Serumen
Merupakan kelenjar sekret kelenjar sebasea dan apokrin yang terdapat
pada bagian kartilaginosa liang telinga. Pada keadaan normal serumen
terdapat di sepertiga luar liang telinga. Serumen mempunyai fungsi
sebagai sarana pengangkut debris epitel kontaminan untuk dikeluarkan
dari membarana timpani, serumen sebagai pelumas dan dapat mencegah
kekeringan dan pembentukan fisura pada epidermis. Serumen memiliki
dua tipe konsistensinya yang bersifat basah yang bersifat dominan
sehingga terlihat basah, lengket dan berwarna madu yang dapat
mengubah warna menjadi gelap bila terpapar dan biasanya banyak
terjadi pada ras Kaukasia dan tipe konsistensi serumen kering, bersisik
dan terdapat pada ras Mongoloid.Serumen yang membentuk gumpalan
yang menumpuk di liang telinga dapat menimbulkan gangguan
pendengaran berupa tuli konduktif. Terutama ketika telinga masuk air
sewaktu mandi dan berenang, serumen akan menjadi mengembang dan
menimbulkan rasa yang tertekan dan dapat terjadi gangguan pada
pendengaran.
c. Benda Asing
Benda asing yang biasa ditemukan pada liang telinga berupa benda yang
hidup seperti larva, kupu-kupu, anak kecoa sedangkan benda mati yang
bisa ditemukan pada liang telinga berupa mainan, manik-manik, kacang
hijau, ujung kapas pada cotton bud yang patah sering ditemukan
terutama pada orang dewasa. Terdapatnya benda asing pada liang
telinga akan mengganggu fungsi dari pendengaran.
d. Otitis Eksterna
Merupakan radang telinga akut maupun kronis yang dapat disebabkan
oleh infeksi bakteri, jamur dan virus. Faktor yang dapat mempermudah
terjadinya radang pada telinga luar adalah perubahan pH di liang telinga.
Normal pH pada liang telinga asam, jika terdapatnya pH yang berubah
menjadi basa karena proteksi terhadap infeksi menurun. Pada keadaan

27
udara yang sangat hangat dan lembab, kuman dan jamur akan
mempermudah untuk menjadi tumbuh di liang telinga.
e. Keratosis Obturans dan Kolesteatoma eksterna
Pada keratosis obturans terdapatnya gumpalan epidermis pada liang
telinga yang dapat menyebabkan terbentuknya sel epitel yang
berlebihan dan tidak bermigrasi ke arah telinga luar. Keratosis obturans
terdapat tuli yang konduktif pada seorang pasien sehingga ia akan
merasakan nyeri yang hebat, liang telinga yang lebar, membran timpani
lebih tebal dan jarang dapat menemukan sekresi telinga dan sering
ditemukan pada kedua liang telinga atau bilateral dan sering ditemukan
pada usia muda.
Pada kolesteatoma sering menyebabkan otore dan nyeri tumpul yang
menahun karena invasi kolesteatoma ke tulang yang menimbulkan
periositetis. Pendengaran dan membran timpani masih normal.
Kolesteatoma eksterna lebih sering ditemukan pada satu sisi telinga atau
unilateral dan lebih sering pada usia tua

3. MEKANISME KERJA TELINGA


1) Gelombang bunyi diterima daun telinga.
2) Gelombang bunyi disalurkan masuk oleh liang telinga.
3) Gelombang bunyi menggetarkan gendang telinga.
4) Getaran tersebut diteruskan oleh tulang-tulang pendengaran (osikel).
5) Getaran diteruskan ke tingkat jorong dan menggetarkan cairan limfe di
dalam kokhlea.
6) Getaran cairan limfe di dalam kokhlea menggerakkan sel reseptor organ
korti, yang menghasilkan impuls untuk dihantarkan oleh saraf pendengar
ke otak untuk diartikan.
7) Getaran cairan limfe juga menggerakkan tingkap bulat bergerak keluar
masuk untuk mengatur tekanan udara di dalam agar seimbang dengan
tekanan di luar.

28
4. TELINGA SEBAGAI ALAT KESEIMBANGAN

Dua macam alat keseimbangan pada bagian telinga, yaitu : alat keseimbangan dinamis (krista
ampularis) dan alat keseimbangan statis (makula akustika) .
Krista ampularis, terletak di dalam ampula. Jadi pada setiap telinga kita memiliki tiga krista ampularis
yang posisinya saling tegak lurus satu sama lain. Krista ampularis merupakan jaringan yang
melengkung dan mengandung sel-sel reseptor. Setiap sel reseptor memiliki dua kelompok rambut,
pertama kelompok yang terdiri dari banyak mikrovilli yang disebut stereosilia, dan kedua hanya terdiri
dari satu silium yang disebut kinosilium. Rambut-rambut sel reseptor tadi secara bersama dilapisi oleh
zat gelatin, sehingga secara keseluruhan bagian ini berupa tudung yang disebut kupula. Jadi kupula
menonjol ke ruang ampula yang berisi endolimfe. Dibagian dasar sel-sel resepor melekat ujung-ujung
dendrit saraf sensoris.
Perputaran kepala menyebabkan endolimfe di dalam (paling tidak salah satu) saluran semi sirkularis
bergerak. Aliran endolimfe tersebut akan mendorong kapula sehingga kupula akan condong ke arah
tertentu. Gerakan kupula ini akan menggerakkan pula rambut sel-sel reseptor. Apabila gerakan rambut
condong kearah kinosilium, maka pada sel reseptor akan terjadi depolarisasi, dan bila arah gerakan
rambut condong menjauhi kinosilium, maka pada sel reseptor akan terjadi hiperpolarisasi

29
Depolarisasi pada sel reseptor akan diikuti dengan dilepaskannya neurotransmitter, yang selanjutnya
akan membangkitkan impuls pada ujung saraf sensoris. Impuls tersebut selanjutnya disampaikan ke
pusat keseimbangan di dalam otak. Posisi krista ampularis saling tegak lurus satu sama lain, dan
masing-masing berpasang-pasangan pada telinga kanan dan kiri. Setiap gerakan kepala akan dideteksi
oleh paling tidak dua krista ampularis, dimana sel-sel reseptor salah satu krista akan mengalami
depolarisasi dan sel-sel reseptor yang satunya akan mengalami hiperpolarisasi. Akibat dari mekanisme
ini, maka setiap gerakan rotasi pada kepala dan tubuh akan disadari, sehingga keseimbangan kita waktu
bergerak akan terjaga.
Makula akustika, terletak didalam sakulus dan utrikulus. Makula akustika merupakan alat
keseimbangan statis, yang memberitahukan posisi kepala pada saat kita diam atau melakukan gerak
lurus beraturan. Setiap makula terdiri dari sekumpulaj sel-sel reseptor yang strukturnya mirip reseptor
pada krista ampularis. Seperti pada krista ampularis, rambut sel reseptor makula yang berupa silia dan
mikrovilli dilapisi oleh zat gelatinous. Diatas lapisan gelatin tersebut terdapat sejumlah kristal kalsium
karbonat, yang dikenal sebagai otolit (otolith). Otolit tersebut menyebabkan lapisan gelatin lebih berat
dari cairan disekitarnya. Meskipun reseptor dalam sakulus dan utrikulus pada dasarnya sama, namun
masing-masing berorientasi terhadap arah yang berbeda

30
Bila seseorang dalam dalam posisi tegak, maka rambut sel reseptor dalam utrikulus berorientasi
vertikal dan rambut sel reseptor dalam sakulus berorientasi horizontal. Untuk menjelaskan kerja dari
alat keseimbangan statis ini, kita ambil contoh makula dalam utrikulus bila kepala kita tundukkan.
Karena gaya berat, maka lapisan gelatin akan melengkung ke depan (gambar b). Dalam utrikulus pada
setiap sisi kepala, sebagian rambut sel reseptor terdepolarisasi dan sebagian yang lain hiperpolarisasi.
Sel reseptor yang terdepolarisasi akan membebaskan neurotransmitter yang selanjutnya diikuti
terjadinya impuls pada ujung saraf sensoris untuk diteruskan ke pusat keseimbangan di otak. Dengan
demikian kita sadar akan posisi kepala kita pada saat diam. Rambut reseptor dalam utrikulus juga
mengalami perubahan bila kita melakukan gerak lurus horizontal (gambar c).

5.PRINSIP FISIKA YANG SAMA DENGAN TELINGA


ALAT BANTU DENGAR (HEARING AID)
Alat bantu dengar merupakan suatu alat elektronik yang dioperasikan dengan batere, yang
berfungsi memperkuat dan merubah suara sehingga komunikasi bisa berjalan dengan lancar.
Alat bantu dengar terdiri dari:
Microphone, merubah suara menjadi signal elektronik, signal elektronik ini kemudian
diperkeras oleh amplifier.
Amplifier, berfungsi untuk memperkeras elektronik signal dari mikrofon menjadi signal yang
lebih besar.

31
Receiver atau loudspeaker, merubah elektronik signal yang sudah diperkeras menjadi suara.
Berdasarkan hasil tes fungsi pendengaran, seorang audiologis bisa menentukan apakah
penderita sudah memerlukan alat bantu dengar atau belum (audiologis adalah seorang profesional
kesehatan yang ahli dalam mengenali dan menentukan beratnya gangguan fungsi pendengaran).
Alat bantu dengar sangat membantu proses pendengaran dan pemahaman percakapan pada
penderita penurunan fungsi pendengaran sensorineural.
Dalam menentukan suatu alat bantu dengar, seorang audiologis biasanya akan mempertimbangkan hal-
hal berikut:
kemampuan mendengar penderita
aktivitas di rumah maupun di tempat bekerja
keterbatasan fisik
keadaan medis
penampilan
harga.

6.MACAM MACAM ALAT BANTU DENGAR

1. Alat Bantu Dengar Hantaran Udara


Alat ini paling banyak digunakan, biasanya dipasang di dalam saluran telinga dengan sebuah
penutup kedap udara atau sebuah selang kecil yang terbuka.
Alat Bantu Dengar Yang Dipasang Di Badan

Digunakan pada penderita tuli dan merupakan alat bantu dengar yang paling kuat.Alat
ini disimpan dalam saku kemeja atau celana dan dihubungkan dengan sebuah kabel ke alat

32
yang dipasang di saluran telinga. Alat ini seringkali dipakai oleh bayi dan anak-anak karena
pemakaiannya lebih mudah dan tidak mudah rusak. Cara kerja alat ini sama dengan alat bantu
dengar yang lain. Tetapi yang membedakan adalah amplifier dan mikrofon pada alat ini bisa
ditaruh di saku berbentuk kotak biasanya,dan dihubungkan dengan kabel ke telinga.
Alat ini seringkali dipakai oleh bayi dan anak-anak karena pemakaiannya lebih mudah
dan tidak mudah rusak.
Alat Bantu Dengar Yang Dipasang Di Belakang Telinga
Digunakan untuk penderita gangguan fungsi pendengaran sedang sampai berat.
Alat ini dipasang di belakang telinga dan relatif tidak terlihat oleh orang lain misalnya BTE.
CROS (contralateral routing of signals)
Alat ini digunakan oleh penderita yang hanya mengalami gangguan fungsi pendengaran
pada salah satu telinganya.
Mikrofon dipasang pada telinga yang tidak berfungsi dan suaranya diarahkan kepada
telinga yang berfungsi melalui sebuah kabel atau sebuah transmiter radio berukuran mini.
Dengan alat ini, penderita dapat mendengarkan suara dari sisi telinga yang tidak
berfungsi.
BICROS (bilateral CROS)
Jika telinga yang masih berfungsi juga mengalami penuruna fungsi pendengaran yang
ringan, maka suara dari kedua telinga bisa diperkeras dengan alat ini.

2. Alat Bantu Dengar Hantaran Tulang


Alat ini digunakan oleh penderita yang tidak dapat memakai alat bantu dengar hantaran udara,
misalnya penderita yang terlahir tanpa saluran telinga atau jika dari telinganya keluar cairan (otore).
Alat ini dipasang di kepala, biasanya di belakang telinga dengan bantuan sebuah pita elastis. Suara
dihantarkan melalui tulang tengkorak ke telinga dalam.
Beberapa alat bantu dengar hantaran tulang bisa ditanamkan pada tulang di belakang telinga.

BERBAGAI CONTOH HEARING AID


Hearing aid atau alat bantu pendengaran pada saat ini tersedia dalam beberapa jenis. Tipe yang
terbaik untuk dipilih tergantung pada tingkat kehilangan pendengaran, bentuk telinga, gaya hidup dan
kebutuhan akan pendengaran. Setelah mengevaluasi tingkat pendengaran, seorang ahli THT dapat
menolong kita untuk menentukan pilihan yang tepat. Berikut ada empat jenis alat bantu pendengaran

33
1. Behind The Ear (BTE)
Jenis alat bantu pendengaran ini diletakkan di belakang telinga dan dikaitkan di bagian atas
daun telinga. Alat ini ditahan oleh bentuk telinga sesuai dengan kanal telinga sehingga suara dari alat
bantu pendengaran ini diteruskan ke gendang telinga. Jenis ini mudah untuk dimanipulasi dan segala
tipe rangkaian dapat sesuai dengan model ini. Seluruh hearing aid, tanpa memperhatikan jenisnya,
dibuat dengan bagian dasar yang sama. Pada Hearing Aid jenis BTE,seperti yang ditunjukkan dibawah
ini, anda dapat mengamati mikrofon, tone hook, volume control, saklar on/off,dan baterai.
Mikrofon mengambil suara - suara dari sekitarnya dan mengirimnya ke prosessor yang
memperkuat sinyal tersebut. Hearing Aid akan memperkuat beberapa frekuensi dari suara yang masuk
lebih dari berbagai ketergantungan atas kehilangan pendengaran anak anda. Ahli suara anda
menggunakan hearing aid's tone controls untuk menghasilkan penguatan suara yang sesuai untuk
kehilangan pendengaran pada anak anda.
Setelah suara tersebut diperkuat, kemudian suara tersebut diarahkan melalui hearing aid tone
hook ke sebuah earmold yang mana dibuat berdasarkan kebiasaan untuk setiap anak. Tone hook
adalah sebuah lempengan plastic kecil yang terkait diatas dan belakang telinga bagian luar pada anak
(pinna). Earmold mempengaruhi hearing aid dalam telinga anak dan mengarahkan suara dari hearing
aid ke dalam kanal telinga. Earmolds terbuat dari bahan materi lunak setelah sebuah cetakan diambil
dari telinga anak anda. Earmolds dibuat tersendiri untuk setiap anak dan dipaskan dengan sempit dalam
kanal telinga. Selama seorang bayi tumbuh, earmolds perlu untuk diganti sesuai pada bentuk dasar.

2. In The Ear (ITE)

34
Jenis ini diletakkan di dalam daun telinga. Alat ini akan menutup saluran telinga sepenuhnya.
Seperti halnya BTE, jenis tipe ini mudah dioperasikan dapat sesuai dengan kebanyakan rangkaian yang
dikembangkan.

3. In The Canal (ITC)


Jenis ini diletakkan di dalam saluran kanal telinga dan tidak terlalu tampak kelihatan
dibandingkan dengan jenis BTE ataupun ITE. Karena bentuknya yang lebih kecil sehingga jenis ini
pasti lebih sukar untuk dimodifikasi dan tidak semua tipe rangkaian dapat pas untuk model ini.

4. Completely-in-the-Canal (CIC)
Jenis alat bantu dengar yang satu ini dipasang jauh di dalam saluran kanal telinga dan umumnya
tidak dapat dilihat. Karena bentuknya yang begitu kecil sehingga tidak semua tipe rangkaian dapat
sesuai dengan model ini. Jenis ini sangat sesuai untuk penderita yang amat parah. Pada dasarnya cara
kerja alat pendengaran ini sama dengan jenis BTE melainkan letaknya saja yang berbeda.

35
5. Bone Anchored Hearing Aids (BAHA)
Jenis alat bantu dengar tipe ini dipasang permanen di dalam kulit di belakang telinga, yaitu
sebuat lempeng titanium dan prossesor. Prinsip kerjanya yaitu lempeng titanium menerima rangsang
dari luar kemudian diolah di prosessor dan dilanjutkan ke telinga bagian dalam melalui tulang.

6. Cochlear implant
Cochlear implant adalah alat pendengaran buatan yang dirancang untuk menghasilkan sensasi
pendengaran yang berguna yang secara elektrikal merangsang saraf - saraf dalam pusat telinga. The
cochlear implant dirancang untuk simpangan bagian bagian rusak dari bagian dalam telinga dan
mengirim rangsangan listrik secara langsung ke saraf pendengar dimana rangsangan tersebut kemudian
ditafsirkan sebagai suara oleh otak. Alat ini menyediakan kemampuan untuk sensasi pendengaran yang
berguna dan memperbaiki kemampuan berkomunikasi bagi orang yang kehilangan pendengaran yang
parah. Cochlear implants adalah sebuah pilihan penting bagi individu yang memperoleh sedikit atau
tidak ada keuntungan dari sebuah hearing aid konvensional. Prinsip kerja dari cochlear implant :
a) Gelombang suara masuk pada mikrofon yang ditempatkan pada headpiece.
b) Suara dikirim ke speech processor melalui sebuah kabel tipis yang menghubungkan
headpiece ke speech processor.
c) The speech processor mengubah suara tersebut menjadi sebuah sinyal khusus yang dapat
ditafsirkan oleh otak. Perubahan ini diselesaikan dengan suatu program yang disebut
speech processing strategies.
d) Sinyal khusus tersebut dikirim kembali melalui kabel yang sama ke headpiece dan dikirim
melewati kulit melalui gelombang radio ke alat yang ditanam tersebut.
e) Sinyal tersebut berjalan melalui barisan elektroda di dalam pusat telinga dan merangsang
saraf pendengaran.

36
f) Saraf pendengaran kemudian mengirim sinyal sinyal listrik ke otak dimana siyal sinyal
listrik tersebut ditafsirkan sebagai suara.

B. INDERA PENGLIHATAN / MATA


Indera adalah kumpulan dari reseptor yang membentuk organ atau alat khusus, sedangkan
reseptor adalah ujung syaraf yang berfungsi untuk menerima rangsang, propioseptor adalah kumpulan
reseptor yang tidak membentuk alat khusus.
Mata adalah alat indera penglihat yang di dalamnya terdapat jaringan-jaringan indera
penglihatan. Alat indera penglihat pada manusia adalah mata. Indera penglihat (mata) disebut juga
fotoreseptor karena mata sangat peka terhadap rangsangan cahaya. Mata memiliki sejumlah reseptor
khusus untuk mengenali perubahan sinar dan warna.

1.1 Bagian-Bagian Mata dan Fungsinya


Menurut ilmu anatomi, mata manusia terbagi menjadi dua bagian yaitu bagian luar dan bagian
dalam.
Bagian Luar

37
1. Bulu Mata
Bulu mata yaitu rambut-rambut halus yang terdapat ditepi kelopak mata.
Bulu mata berfungsi untuk menjaga mata dari masuknya benda-benda asing berukuran kecil
seperti debu atau pasir.
2. Alis Mata (Supersilium)
Alis yaitu rambut-rambut halus yang terdapat diatas mata.
Alis berfungsi menahan air keringat atau air yang jatuh dari kening (dahi) agar tidak masuk ke
dalam mata. Beberapa orang mencukur alisnya, padahal secara logika mencukur alis sebetulnya
tidak baik.
3. Kelopak Mata (Palpebra)
Kelopak mata merupakan 2 buah lipatan atas dan bawah kulit yang terletak di depan bulbus okuli.
Kelopak mata berfungsi untuk menjaga bola mata dari masuknya benda asing dari luar mata
seperti debu, goresan, pasir, atau asap. Selain itu, bagian mata ini juga berfungsi untuk menyapu
bola mata dengan cairan dan mengatur jumlah cahaya yang masuk menuju mata. Fungsi-fungsi
dari kelopak mata ini ditunjang oleh mekanisme buka tutup (berkedip) oleh otot kelopak.
4. Kelenjar Air Mata

38
Kelenjar lakrima atau kelenjar air mata adalah bagian mata yang berfungsi menghasilkan air mata.
Air mata bermanfaat untuk melembabkan mata, membersihkan mata dari debu, serta mematikan
kuman yang masuk ke mata.
5. Kelenjar Meibom
Kelenjar Meibom adalah kelenjar sebasea yang membujur di kelopak mata yang melepaskan
sekresi lemak berminyak untuk membentuk bagian luar sebagian besar lapisan film air mata, mencegah
penguapan air mata.
Bagian dalam mata
a. Konjungtiva

Konjungtiva adalah membran tipis bening yang melapisi permukaan bagian dalam kelopak mata
dan dan menutupi bagian depan sklera (bagian putih mata), kecuali kornea.Konjungtiva
mengandung banyak sekali pembuluh darah.

b. Sklera

Skle
ra

Sklera merupakan selaput jaringan ikat yang kuat dan berada pada lapisan terluar mata yang
berwarna putih. Bagian ini memiliki ketebalan rata-rata sekitar 1 mm, akan tetapi ia juga dapat
menebal hingga 3 mm karena adanya otot irensi.

39
c. Kornea

Kornea (korneos) adalah bagian mata yang terletak di lapisan paling luar. Bagian ini berupa selaput
bening yang bersifat tembus pandang (transparan). Sifat kornea ini membuat cahaya dapat masuk
ke dalam sel-sel penerima cahaya di bagian dalam bola mata. Selain berfungsi melindungi mata
dari benda-benda asing dari luar, kornea juga berfungsi dalam melakukan refraksi di lensa mata.
d. Koroid
Koroid adalah selaput tipis dan lembab merupakan bagian belakang tunika vaskulosa ( lapisan
tengah dan sangat peka oleh rangsangan)
e. Iris

Iris

Iris adalah bagian mata yang berfungsi mengatur besar kecilnya pupil. Bagian ini jugalah yang
memberi warna pada mata. Sebagai contoh, orang Asia memiliki mata dengan warna hitam hingga
coklat, orang Eropa memiliki mata berwarna biru hingga hijau, dan lain sebagainya.

f. Pupil

40
Pupil

Pupil adalah bagian mata yang berupa sebuah lubang kecil yang berfungsi mengatur jumlah cahaya
yang masuk ke bola mata. Besar kecilnya pupil diatur oleh iris. Ketika cahaya yang datang terlalu
terang, pupil akan mengecil. Sedangkan saat cahaya yang datang terlalu redup, pupil akan
membesar. Mekanisme kerja pupil ini membentu mata agar dapat menerima cahaya dalam jumlah
tepat.
g. Lensa
Lensa adalah organ focus utama, yang membiaskan berkas-berkas cahaya yang terpantul dari
benda-benda yang dilihat, menjadi bayangan yang jelas pada retina. Lensa mata dapat menipis atau
menebal sesuai dengan jarak mata dengan benda yang dilihatnya. Saat jarak benda terlalu dekat,
lensa mata akan menipis, sedangkan saat jarak benda terlalu jauh, lensa mata akan menebal.

h. Retina
Retina adalah bagian mata berupa lapisan tipis sel yang terletak di bagian belakang bola mata.
Bagian ini berfungsi menangkap bayangan yang dibentuk lensa mata kemudian mengubahnya
menyadi sinyal syaraf. Retina merupakan bagian mata yang sangat sensitif cahaya karena ia
memiliki 2 sel fotoreseptor, yaitu rods dan cones.

i. Aqueous humor

41
Aqueus humor adalah cairan yang menyerupai plasma berlendir transparandengan konsentrasi protein
yang rendah. Aqueous humor diproduksi oleh silia tubuh dan berfungsi sebagai struktur pendukung
lensa.

j. Vitreus humor (Badan Bening)


Badan bening ini terletak dibelakang lensa. Bentuknya berupa zat transparan seperti jeli(agar-agar)
yang jernih. Zat ini mengisi pada mata dan membuat bola mata membulat.

k. Bintik Kuning
Bintik kuning adalah bagian mata yang paling sensitif terhadap cahaya. Saat bayangan benda jatuh
pada bagian mata ini, benda tersebut akan sangat terlihat jelas, sementara jika bayangan benda jatuh
sebelum atau sesudah bintik kuning, maka benda tersebut tidak terlihat jelas (lamur).

l. Saraf Optik
Saraf optik adalah bagian mata yang berfungsi meneruskan informasi bayangan benda yang diterima
retina menuji otak. Melalui saraf inilah sebetulnya kita dapat menentukan bagaimana bentuk suatu
benda yang kita lihat. Jika syaraf optik ini rusak, itu berarti kita tidak dapat melihat alias buta.

m. Otot Mata

42
Otot-otot yang melekat pada mata :
Muskulus levator palpebralis superior inferior, fungsinya mengangkat kelopak mata
Muskulus orbikularis okuli otot lingkar mata, fungsinya untuk menutup mata
Muskulus rektus okuli inferior (otot disekitar mata), berfungsi menggerakkan bola mata ke bawah
dan ke dalam
Muskulus rektus okuli medial (otot disekitar mata) berfungsi untuk menggerakkan mata dalam (bola
mata)
Muskulus obliques okuli superior, fungsinya memutar mata ke atas, ke bawah dan ke luar

2. Anatomi Fisiologi Air Mata

Air mata adalah kelenjar yang diproduksi oleh poses lakrimasi untuk membersihkan mata. Kata
lakrimasi juga dapat digunakan merujuk pada menangis. Emosi yang kuat juga dapat menyebabkan
menangis, walupun kebanyakan mamalia darat memiliki system lakrimasi untuk membiarkan mata
mereka basah manusia adalah mamalia satu-satunya yang memiliki emosi airmata. Lapisan air mata
berfungi untuk menyediakan permukaan refraktif dalam menjaga tajam penglihatan untuk melindungi

43
Permukaan bola mata. Air mata mengandung A sekretarius dan fosfolipase A2 yang berperan sehingga
dapat melindungi permukaan bola. Lapisan air mata juga berfungsi menyediakan nutrisi dan oksigen
untuk kornea yang avaskular. Lapisan ini membuat lingkungan lembab bagi sel epitel, melicinkan
permukaan bola mata sekaligus melarutkan stimulus yang mengganggu.
Air mata terdiri dari tiga lapisan, yaitu lipid, aqueous, dan musin. Ketebalan lapisan air mata
sekitar 8-9 m. Lapisan lipid merupakan lapisan superfisial dengan ketebalan sekitar 0,1-0,2 m.
Lapisan aqueous di bagian tengah dengan ketebalan 7-8 m dan lapisan musin di bagian basal dengan
ketebalan 1 m. Lapisan lipid dihasilkan oleh kelenjar meibom yang berfungsi untuk mencegah
penguapan air mata dan mempertahankan stabilitas air mata. Lapisan aqueous dihasilkan oleh kelenjar
lakrimal utama yang terletak dalam orbita maupun kelenjar lakrimal tambahan seperti seperti kelenjar
Krause dan Wolfring pada konjungtiva. Lapisan ini berfungsi sebagai pelarut nutrisi, penyedia
oksigen, antibakterial dan antiviral, serta menjaga regularitas 24 kornea.
Lapisan musin yang kaya akan glikoprotein kontak dengan permukaan epitel kornea berperan
sebagai barier dari perlekatan maupun penetrasi partikel asing
atau bakteri ke permukaan bola mata. Musin diproduksi oleh sel goblet.17 Hampir seluruh ketebalan
lapisan air mata diisi oleh lapisan aqueous.Lapisan ini mengandung air, elektrolit dan protein. Lapisan
aqueous dihasilkan terutama oleh kelenjar lakrimal selain dari kelenjar Krause dan kelenjar Wolfring.
Kelenjar lakrimal merupakan kelenjar eksokrin yang berlokasi dalam fossa lakrimal. Fossa ini
dibentuk oleh tulang frontal pada kuadran supero-lateral orbita. Kelenjar lakrimal dibagi menjadi dua
bagian oleh aponeurosis levator, yaitu bagian palpebra dan bagian orbita. Bagian palpebra terletak
dekat dengan bola mata dan tampak saat dilakukan pelipatan palpebra (eversi) yaitu pada superolateral
konjungtiva. 18 Kelenjar Krause dan Wolfring disebut juga kelenjar lakrimal tambahan yang
menghasilkan 10% dari seluruh lapisan aqueous. Kelenjar Krause berlokasi sebagian besar pada
forniks superior bagian lateral selain di forniks inferior. Kelenjar Wolfring terdapat sepanjang tarsus.

Kelenjar lakrimal memproduksi lapisan aqueous air mata yang selanjutnya


akan membasahi seluruh permukaan bola mata melalui proses berkedip. Setelah itu, air mata akan
menuju ke pungtum lakrimal yang berbentuk lubang kecil 25 pada bagian dalam palpebra medial di
superior dan inferior. Air mata akan
diekskresikan ke sakus lakrimal melalui kanalis lakrimal. Dari sakus, air mata turun ke duktus
nasolakrimal menuju meatus inferior.

44
3. Cara Kerja Indera Penglihatan
Mata manusia memiliki cara kerja otomatis yang sempurna, mata dibentuk dengan 40 unsur
utama yang berbeda dan kesemua bagian ini memiliki fungsi penting dalam proses melihat. kerusakan
salah satu fungsi bagiannya saja akan menjadikan mata mustahil dapat melihat. Lapisan tembus cahaya
di bagian depan mata adalah kornea, tepat dibelakangnya terdapat iris, selain member warna pada mata
iris juga dapat merubah ukurannya secara otomatis sesuai kekuatan cahaya yang masuk, dengan
bantuan otot yang melekat padanya. Misalnya ketika berada di tempat gelap iris akan membesar untuk
memasukkan cahaya sebanyak mungkin. Ketika kekuatan cahaya bertambah, iris akan mengecil untuk
mengurangi cahaya yang masuk ke mata. Ketika cahaya mengenai mata sinyal saraf terbentuk dan
dikrimkan ke otak, untuk memberikan pesan tentang keberadaan cahaya, dan kekuatan cahaya. Lalu
otak mengirim balik sinyal dan memerintahkan sejauh mana otot disekitar iris harus mengerut. Bagian
mata lainnya yang bekerja bersamaan dengan struktur ini adalah lensa. Lensa bertugas memfokuskan
cahaya yang memasuki mata pada lapisan retina di bagian belakang mata. Karena otot-otot disekeliling
lensa cahaya yang datang ke mata dari berbagai sudut dan jarak berbeda dapat selalu difokuskan ke
retina.
Semua system yang telah kami sebutkan tadi berukuran lebih kecil, tapi jauh lebih unggul
dari pada peralatan mekanik yang dibuat untuk meniru desain mata dengan menggunakan teknologi
terbaru, bahkan system perekaman gambar buatan paling modern di dunia ternyata masih terlalu
sederhana jika dibandingkan mata. Jika kita renungkan segala jerih payah dan pemikiran yang
dicurahkan untuk membuat alat perekaman gambar buatan ini kita akan memahami betapa jauh lebih
unggulnya teknologi penciptaan mata. Jika kita amati bagian-bagian lebih kecil dari sel sebuah mata
maka kehebatan penciptaan ini semakin terungkap. Anggaplah kita sedang melihat mangkuk Kristal
yang penuh dengan buah-buahan, cahaya yang datang dari mangkuk ini ke mata kita menembus kornea
dan iris kemudian difokuskan pada retina oleh lensa jadi apa yang terjadi pada retina, sehingga sel-sel
retina dapat merasakan adanya cahaya ketika partikel cahaya yang disebut foton mengenai sel- sel
retina. Ketika itu mereka menghasilkan efek rantai layaknya sederetan kartu domino yang tersusun
dalam barisan rapi. Kartu domino pertama dalam sel retina adalah sebuah molekul bernama 11-cis
retinal. Ketika sebuah foton mengenainya molekul ini berubah bentuk dan kemudian mendorong
perubahan protein lain yang berikatan kuat dengannya yakni rhodopsin. Kini rhodopsin berubah
menjadi suatu bentuk yang memungkinkannya berikatan dengan protein lain yakni transdusin.
Transdusin ini sebelumnya sudah ada dalam sel namun belum dapat bergabung dengan rhodopsin

45
karena ketidak sesuaian bentuk. Penyatuan ini kemudian diikuti gabungan satu molekul lain yang
bernama GTP kini dua protein yakni rhodopsin dan transdusin serta 1 molekul kimia bernama GTP
telah menyatu tetapi proses sesungguhnya baru saja dimulai senyawa bernama GDP kini telah
memiliki bentuk sesuai untuk mengikat satu protein lain bernama phosphodiesterase yang senantiasa
ada dalam sel. Setelah berikatan bentuk molekul yang dihasilkan akan menggerakkan suatu mekanisme
yang akan memulai serangkaian reaksi kimia dalam sel.
Mekanisme ini menghasilkan reaksi ion dalam sel dan menghasilkan energy listrik energy
ini merangsang saraf-saraf yang terdapat tepat di belakang sel retina. Dengan demikian bayangan yang
ketika mengenai mata berwujud seperti foton cahaya ini meneruskan perjalanannya dalam bentuk
sinyal listrik. Sinyal ini berisi informasi visual objek di luar mata.Agar mata dapat melihat sinyal listrik
yang dihasilkan dalam retina harus diteruskan dalam pusat penglihatan di otak. Namun sel-sel saraf
tidak berhubungan langsung satu sama lainada celah kecil yang memisah titik-titik sambungan mereka
lalu bagaimana sinyal listrik ini melanjutkan perjalanannya disini serangkaian mekanisme rumit terjadi
energy listrik diubah menjadi energy kimia tanpa kehilangan informasi yang sedang dibawa dan
dengan cara ini informasi diteruskan dari satu sel saraf ke sel saraf berikutnya. Molekul kimia
pengangkut ini yang terletak pada titik sambungan sel-sel saraf berhasil membawa informasi yang
datang dari mata dari satu saraf ke saraf yang lain. Ketika dipindahkan ke saraf berikutnya sinyal ini
diubah lagi menjadi sinyal listrik dan melanjutkan perjalanannya ke tempat titik sambungan lainnya
dengan cara ini sinyal berhasil mencapai pusat penglihatan pada otak disini sinyal tersebut
dibandingkan informasi yang ada di pusat memori dan bayangan tersebut ditafsirkan akhirnya kita
dapat melihat mangkuk yang penuh buah-buahan sebagaimana kita saksikan sebelumnya karena
adanya system sempurna yang terdiri atas ratusan kompenen kecil ini dan semua rentetan peristiwa
yang menakjubkan ini terjadi pada waktu kurang dari 1 detik. Secara singkat Mekanisme melihat
adalah :
1) Cahaya masuk ke dalam mata melalui pupil.
2) Lensa mata kemudian memfokuskan cahaya sehingga bayangan benda
yang dimaksud jatuh tepat di retina mata.
3) Kemudian ujung saraf penglihatan di retina menyampaikan bayangan
benda tersebut ke otak.
4) Otak kemudian memproses bayangan benda tersebut sehingga kita dapat
melihat benda tersebut

46
Kita dapat melihat benda karena benda itu memantulkan cahaya atau sinar ke mata
kita. Bagaimana caranya? Mata kita yang tampak dari luar berupa bulatan putih dengan bagian
tengah yang bulat dan seringkali berwarna hitam ternyata memiliki bagian-bagian. Bagian-bagian
bola mata itu adalah :
1. Selaput tanduk (kornea) yaitu selaput bening di bagian depan bola mata yangberguna untuk
melewatkan cahaya yang masuk dari luar.
2. Selaput pelangi (iris) adalah bagian mata yang mengandung zat warna (hitam, cokelat, hijau,
atau biru).
3. Anak mata (pupil) yaitu lubang pada bagian tengah iris yang berguna dalam mengatur besar
kecilnya cahaya yang masuk.
4. Lensa mata, dapat menjadi cembung atau pipih berguna dalam mengatur pembentukan
bayangan.
5. Selaput keras (sklera) yaitu bagian terluar dari bola mata yang berguna untuk melindungi
bagian dalam bola mata.
6. Selaput koroid yaitu bagian tengah bola mata yang berupa selaput tipis, di dalamnya terdapat
banyak saluran darah. Berwarna cokelat karena banyak mengandung zat warna (pigmen).
7. Selaput jala (retina) yaitu bagian terdalam dari bola mata, berguna untuk menangkap
bayangan.
8. Bintik kuning yaitu daerah yang sangat mudah menerima cahaya yang masuk.

4. Mata dan Proses Penglihatan serta Perlindungan Bola Mata dan Bagian-
bagiannya
Pada embrio, mata berkembang sebagai suatu penonjolan dari otak. Mata merupakan organ yang
sangat rentan dan lunak, sehingga perlu perlindungan yang kuat. Bangunan-bangunan berikut ini
berperan dalam melindungi mata:
1. Tulang-tulang tengkorak menyusun rongga mata (orbita) dan melindungi lebih dari separuh bagian
dorsal bola mata.

2. Pelupuk dan bulu mata membuat perlindungan di bagian anterior.

3. Air mata yang membersihkan keluar benda kecil asing yang masuk ke mata.

47
4. Kantung yang dilapisi membrana epitelial memisahkan bagian depan mata dengan bola mata
sesungguhnya, berperan membantu dalam penghancuran bakteri patogen yang mungkin masuk ke
mata.

5. Selubung Bola Mata


Bola mata mempunyai tiga selubung yang terpisah (tunica).
1. Lapisan paling luar yang disebut sclera terbuat dari jaringan ikat yang kuat. Lapisan ini sering
disebut sebagai 'bagian putih mata'.

2. Lapisan disebut choroid dari anyaman jaringan ikat yang rapat diselingi oleh banyak pembuluh
darah, dan mengandung banyak pigmen coklat gelap.

3. Lapisan paling dalam disebut retina yang tersusun atas 10 lapis sel-sel saraf, termasuk sel-sel yang
disebut sel batang (bacillus) dan sel kerucut (conus). Sel-sel tersebut merupakan reseptor untuk indera
penglihatan. Sel batang sangat sensitif terhadap cahaya sehingga berfungsi dalam keremangan tapi
tidak memberi gambaran yang sangat tajam. Sel kerucut berfungsi pada cahaya yang terang dan peka
terhadap warna.

6. Lintasan Berkas Cahaya


Cahaya melewati serangkaian bagian mata yang transparan tak berwarna. Dalam perjalannya
cahaya mengalami pembelokan atau refraksi, dengan demikian dimungkinkan bagi cahaya dari areal
yang luas difokuskan pada suat permukaan yang sempit, yaitu retina, sebagai tempat reseptor berada.
Media refraksi dari luar ke dalam berturut-turut berupa:
1. Cornea, suatu lanjutan ke depan dari sclera tetapi transparan dan tak berwarna

2. Humor aqueous, cairan encer yang mengisi bagian bola mata di depan lensa dan menopang
pemeliharan kecembungan cornea.

3. Lensa crystallina, bangunan bundar terbuat dari bahan seperti jeli.

4. Corpus vitreum, substansi seperti jeli yang mengisi seluruh ruang di belakang lensa dan memelihara
bola mata pada bentuknya yang bulat.

7. Otot-Otot Mata
Otot-ctot mata dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu

48
otot intrinsik yang berada di dalam bola mata, dan

otot ekstrinsik yang berada di luar bola mata dan melekat ke tulang orbita atau sclera.

Otot intrinsik mata bersifat involuntar, yakni kerjanya tidak dikendalikan keasadaran, dapat
ditemukan pada dua struktur melingkar berikut:
1. Iris, bagian mata yang berwarna atau berpigmen, tersusun oleh dua jenis otot. Ukuran dari
bagian terbuka di sentral, yang disebut pupil, ditentukan Oleh kerja dari kedua otot tersebut. Satu otot
diantaranya tersusun melingkar (sirkular) disebut m. sphincter pupillae, bila kontraksi akan
menyempitkan pupil. Otot yang lain terentang seperti jari-jari (radial) disebut m.dilatator pupillae
yang dapat meluaskan pupil.

2. Corpus ciliare dengan bentuk menyerupai cincin pipih dan lubangnya seluas batas luar iris.
Bangunan otot ini merupakan penggantung lensa dan mempengaruhi kecembungan lensa pada saat
akomodasi.

Peran iris adalah untuk mengatur jumlah cahaya yang masuk ke dalam mata. Bila cahaya yang
kuat memancar ke mata maka m.sphincter kontraksi dan pupil akan menyempit. Sebaliknya bila
cahaya sangat redup maka otot involuntar yang radial akan kontraksi sehingga pembukaan pupil akan
tertarik keluar dan meluas atau dilatasi. Ukuran pupil juga berubah bergantung apakah seseorang
sedang melihat sesuatu dengan jarak yang pendek atau jauh. Melihat sesuatu yang dekat menyebabkan
pupil lebih sempit, melihat jauh akan meluaskan pupil. Otot corpus ciliare arah dan cara kerjanya
serupa dengan otot radial pada pupil. Ketika m.ciliaris kontraksi akan mendorong ke depan dan
menghilangkan tegangan dari ligamentum suspensorium yang menahan lensa pada tempatnya, dengan
demikian lensa yang elastis akan menjadi lebih cembung. Ketika m.ciliaris relaksasi lensa menjadi
lebih pipih; kerja otot tersebut mempengaruhi kemampuan refraksi lensa.
Proses akomodasi melibatkan perubahan yang dikoordinasikan pada mata untuk
memungkinkan seseorang memfokuskan pada benda yang dekat. Corpus ciliare kontraksi sehingga
mencembungkan lensa, serabut otot yang melingkari iris (m.sphincter pupillae) kontraksi sehingga
menyempitkan lubang pupil. Pada orang muda lensa masih elastis, maka kecembungannya dapat
disesuaikan dengan keperluan penglihatan dekat maupun jauh. Dengan bertambahnya usia lensa
berkurang elastisitasnya sehingga menurun kemampuannya untuk menyesuaikan pada penglihatan
benda yang dekat. Kondisi ini disebut presbyopi.

49
Otot extrinsik mata ada enam yang bentuknya seperti pita pada tiap bola mata dan bersifat
voluntar (dapat dikendalikan oleh kesadaran). Kesemua otot itu berasal dari puncak ruang orbita dan
terentang ke depan, satu ujung melekat ke tulang orbita dan ujung lainnya melekat ke sclera. Otot otot
tersebut, empat m.rectus di sisi superior, medius, inferior dan la teralis, dan dua m.obliquus superior
dan inferior bekerja mengemudikan bola mata secara terkoordinasi sehingga kedua mata dapat
bergerak untuk memusat pada satu lapangan pandang. Selain itu ada satu lagi otot yang terdapat di
pelupuk atas (m.levatoris palpebrae superior). Bila otot ini kontraksi maka mata akan tetap terbuka.

No. Nama Otot Fungsi Otot


1 Levator Palpebralis Mengangkat kelopak mata
2 Orbikularis Okuli Menutup kelopak mata
3 Rektus Okuli Inferior Mengangkat bola mata kebawah
4 Rektus Okuli Superior Mengangkat bola mata keatas
5 Rektus Okuli Medial Gerakan mata ke arah medial / dalam
6 Rektus Okuli Lateral Gerakan mata ke arah lateral / samping
7 Oblique Inferior Memutar bola mata ke samping atas
8 Oblique Superior Memutar bola mata ke samping dalam

50
Kelumpuhan salah satu otot mata akan timbul gejala yang disebut strabismus (mata juling)
8. SARAF MATA
Ada dua saraf sensorik yang memasok mata yaitu
1. N.opticus (n.carnialis II) membawa impuls penglihatan yang dipicu oleh sel batang dan sel kerucut
pada retina menuju ke otak.

2. N.ophthalmicus, cabang dari n.trigeminus (n.cranialis V) membawa impuls nyeri, rabaan dan suhu
dari mata dan sekitarnya menuju ke otak.

N.opticus muncul dari retina sedikit ke arah sisi medial / nasal mata. Impuls penglihatan dirambatkan
dari retina dan kemudian berakhir di lobus occipitalis cortex cerebralis. Pada retina dckat area serabut
n.opticus tidak ada sel batang maupun kerucut, maka daerah bundar keputihan ini disebut 'bintik buta'
atau discus n.opticus. Sedikit ke arah lateral / temporal dari discus terdapat 'bintik kuning' atau macula
lutea dan ditengahnya terdapat lembah disebut foveola centralis, yang mengandung sangat banyak sel
kerucut tapi tanpa sel batang sehingga berfungsi untuk detil penglihatan saat secara khusus melihat
suatu benda.

51
Selain saraf sensorik, terdapat tiga saraf yang membawa impuls motorik ke otot bola mata.
1. N.oculomotorius (n.cranialis III) adalah yang terbesar dan memasok semua otot involuntar dan
voluntar pada mata kecuali dua otot berikut

2. N.trochlearis (n.cranialis IV) menginervasi m.obliquus superior

3. N.abduscens (n.cranialis VI) menginervasi m.rectus lateralis.

9. Conjunctiva dan Apparatus lacrimalis


Conjunctiva adalah membran mukosa yang membatasi kelopak (palpebra) dan menutupi
bagian depan sclera. Pada perpindahan conjunctiva palpebra dan conjunctiva bulbi terbentuk kantung
(sacus / recessus). Glandula lacrimalis memproduksi air mata untuk memelihara agar conjunctiva tetap
basah. Bersamaan dengan aliran air mata dari kelenjar yang terletak di bagian lateral atas orbita ke
seluruh mata, partikel kecil yang tertimbun di sacus conjunctiva dapat ikut terbawa. Air mata kemudian
dibawa ke ductus di dekat sudut mata sebelah nasal kemudian disalirkan lewat ductus nasolacrimalis
ke rongga hidung.

Ada tiga komponen mata pada pengindraan penglihatan :


1. Mata memfokuskan bayangan pada retina
2. Sistem saraf mata yang memberi informasi ke otak
3. Korteks penglihatan salah satu bagian yang menganalisa penglihatan tersebut
Keterangan bagian-bagian mata:
1. Retina : terdapat rod/batang dan kones/kerucut
Fungsi rod untuk melihat pada malam hari sedangkan kone untuk melihat pada siang hari. Dari
retina akan dilanjut ke saraf optikus
2. Forvea sentralis : daerah cekung yang berukuran 0,25mm, ditengah-tengahnya terdapat makula
lutea (bintik kuning)
3. Kornea dan lensa : kornea merupakan lapisan mata yang paling depan dan berfungsi
memfokuskan benda dengan cara refraksi, tebalnya 0,5mm sedangkan lensa terdiri dari kristal
mempunyai dua permukaan dengan jari-jari kelengkungan 7.8mm fungsinya adalah
memfokuskan obyek pada berbagai jarak.

52
4. Pupil : ditengah-tengah iris terdapat pupil yang fungsinya mengatur cahaya yang masuk.
Apabila cahaya terang pupil menguncup demikian sebaliknya
Tabel indeks bias kornea dan bagian-bagian lain dari mata
Bagian Mata Indeks
Refraksi
Kornea 1.37
Aqueous Humor 1.33
Vitreous Humor 1.33
Penutup lensa 1.38
Tengah tengah lensa 1.41
Sistem optik mata serupa dengan kamera TV bahkan lebih mahal karena:
1. Mata bisa mengamati obyek dengan sudut yang sangat besar
2. Tiap mata mempunyai kelopak mata dan ada cairan lubrikasi
3. Dalam satu detik dapat memfokuskan objek yang berjarak 20cm
4. Mata sangat efektif pada intensitas cahaya 1010 : 1
5. Diafragma mata diatur secara otomatis oleh iris
6. Kornea terdiri dari sel-sel hidup namun tidak mendapat vaskularisasi
7. Tekanan bola mata diatur secara otomatis sehingga mencapai 20 mmHg
8. Tiap mata dilindungi oleh tulang
9. Bayangan yang terbentuk oleh mata akan diteruskan ke otak

53
10. PROSES TERBENTUKNYA KOTORAN MATA

Alat indra merupakan bagian tubuh yang dikhususkan untuk menerima rangsanganyang
berasal dari luar tubuh. Salah satu alat indra adalah indra penglihat. Alat penglihat memiliki reseptor
yang peka terhadap rangsangan cahaya (fotoreseptor). Indra penglihat manusia yaitu mata,memiliki
susunan yang terdiri atas alis, kelopak mata bulu mata,bola mata dan kelenjar air mata. Kelenjar air
mata yang menghasilkan air mata berfungsi untuk mencegah mata menjadi kering. Air mata ini
melembabkan permukaan mata, dialirkan kekantong air mata yang ada diujung kelopak mata (dekat
dengan hidung), dan dialirkan kehidung sedikit demi sedikit melalui saluran sempit yang
menghubungkan air mata dan hidung. Meskipun air mata selalu dihasilkan, tetapi tidak keluar dari
kelopak mata karena dialirkan kehidung. Terbentuknya kotoran mata
disebabkan dibagian dalam kelopak mata ada kelenjar yang mengeluarkan cairan yang agak
lengket. Cairan itu bercampur dengan air mata, melembabkan permukaan mata, mencuci mata dari
kotoran halus dan bakteri dan mengalirkannya keluar mata. Cairan dan kotoran tersebut lalu mengeras
yang akan menjadi kotoran mata. Saat terjadi konjungtivis, sakit mata dan sebagainya, kotoran mata
menjadi banyak,bahkan ada yang sampai melekatkan kelopak mata sehingga mata sulit dibuka. Selain
itu munculnya kotoran mata bisa juga disebabkan oleh tesumbatnya saluran yang menghubungkan air
mata ke-hidung sehingga tidak bisa mencuci dan mengalirkan kotoran dan lainnya dari mata.

11. PROSES TERJADINYA RED EYE

Red eye dapat terjadi ketika ada benda yang ingin dibidik (contoh manusia) berada dalam
intensitas cahaya yang kurang, entah itu remang-remang atau cenderung gelap maka ada proses yang
terjadi saat kamera melepaskan sinar flash dan mengenai Pupil mata. Dimana pupil akan secara reflek
membesar secara otomatis karena paparan cahaya yang diterima. Ketika Pupil membesar dan ada
cahaya yang masuk secara cepat tidak dibarengi dengan menutupnya pupil mata secara cepat pula.
Akibatnya Jumlah cahaya yang masuk akan terefleksi oleh pembuluh darah merah dari Koroid. Koroid
sendiri merupakan pembuluh darah yang terletak di antara sklera dan Retina. Pada prosesnya, ketika
cahaya mengenai retina dan merefleksi pembuluh darah mengakibatkan adanya efek merah pada mata
di hasil jepretan.
Tidak semua hasil bidikan kamera dengan bantuan lampu flash di malam hari bisa
menyebabkan efek merah padda mata, karena di beberapa gadget atau smartphone sudah dibekali
dengan adanya fitur anti red eye yang berfungsi menghilangkan hasil jepretan dengan mata memerah

54
di dalam ruang yang gelap. Ada juga fitur Pre-flash yang berfungsi untuk menyalakan flash terlebih
dahulu yang kemudian diikuti dengan pengambilan gambar, dimana memberi kesempatan retina mata
yang membesar untuk kembali mengecil sebelum proses bidikan berlangsung.

12. DAYA AKOMODASI PADA MATA


Dalam hal memfokuskan objek pada retina, lensa mata memegang peranan penting. Kornea mempnyai
fungsi memfokuskan objek secara tetap, demikian pula bola mata. (diameter bola mata 20-23 mm).
Kemampuan lensa mata untuk memfokuskan objek disebut daya akomodasi. Selama mata melihat
jauh, tidak terjadi akomodasi. Makin dekat benda yang dilihat, semakin kuat mata/lensa berakomodasi.
Daya akomodasi bergantung pada umur. Usia makin tua daya akomodasi semakin menurun. Hal ini
diakibatkan kekenyalan lensa/elastisitas lensa semakin berkurang.
Tabel korelasi antara jarak titik dekat dengan berbagai usia
Umur (tahun) Titik Dekat (cm)
10 7
20 10
30 14
40 22
50 40
60 200

Jarak terdekat dari benda agar masih dapat terlihat dengan jelas dikatakan benda terletak pada titik
dekat / punctum proksimum. Jarak punctum proksimum terhadap mata dinyatakan P (dalam meter)
1
maka disebut Ap (aksial proksimum); pada saat ini mata berakomodasi sekuat-kuatnya (mata

berakomodasi maksimum). Jarak terjauh bagi benda agar masih dapt melihat sejelas-jelasnya
dikatakan benda terletak pada titik jauh / punctum remotum. Jarak punctum remotum terhadap mata
1
dinyatakan r (dalam meter) maka disebut Ar (Aksial Proksimum), pada saat ini mata tidak

berakomodasi/lepas akomodasi. Selisih Ap dengan Ar disebut lebar akomodasi, dapat dinyatakan :


Ac= Ap Ar
Ac = lebar akomodasi yaitu perbedaan antara akomodasi maksimal dengan lepas akomodasi maksimal.

55
Bertambah jauhnya titik dekat akibat umur disebut mata presbiopi. Presbiopi ini bukan merupakan
cacat penglihatan. Ada satu dari sekian jumlah orang tidak mempunya lensa mata. Mata demikian
disebut mata afasia.

13. PENYIMPANGAN PENGLIHATAN


Mata yang memiliki titik jauh / punctum remotum terhingga akan memberi bayangan benda secara
tajam pada selaput retina, dikatakan mata emetropia. Sedangkan mata yang memiliki titik jauh yang
bukan tak terhingga, mata disebut disebut mata ametropia. Mata emetropia mempunyai punctum
proksimum sekitar 25cm, disebut mata normal,nsedangkan mata amatropia yang memiliki punctum
proksimum lebih dari 25 cm disebut mata presbiopia. Mata ametropia mempunyai dua buah bentuk,
yaitu
a. Miopia (Penglihatan dekat) mempunyai P dan r terlalu kecil. Mata miopi berbentuk terlalu
lonjong maka benda berjauhan tak terhingga akan tergambar tajam didepan retina. Mata
seperti ini dapat melihat tajam benda pada titik dekat tanpa akomodasi. Dengan akomodasi
kuat akan terlihat benda yang lebih dekat lagi.
b. Hipermetropi (penglihatan jauh) mempunyai P dan r terlalu besar. Jika diperhatika bola mata
hipermetropi maka akan terlihat bola mata yang agak gepeng dari normal. Mata yang demikian
itu tanpa akomodasi bayangan tak terhingga akan terletak dibelakan retina, tetapi kadang kala
dengan akomodasi akan terlihat benda yang jauh tak terhingga secara tajam bahkan dapat
melihat benda-benda berada dekat didepan mata.
Astigmatisma terjadi apabila salah satu komponen sistem lensa menjadi bentuk telur pada sferis.
Tambahan pula kornea atau lensa kristaline menjadi memanjang kesalah satu arah. Dengan demikian
radius kurvatura menjadi lebih besar pada arah memanjang. Sebagai konsekuensi berkas cahaya yang
masuk lewat kurvatura yang memanjang akan difokuskan di depan retina. Dengan kata lain mata
tersebut mempunyai pandangan jauh terhadap beberapa berkas cahaya dan berpandangan dekat
terhadap sisa cahaya. Dengan demikian mata seseorang penderita astigmatisma tidak dapat
memfokuskan setiap objek dengan jelas.

56
57
14. TANGGAP CAHAYA
Bagian mata yang tanggap cahaya adalah retina. Ada dua tipe fotoreseptor pada retina, yaitu Rod
(batang) dan Cone (kerucut). Rod dan Kone tidak terletak pada permukaan retina, melainkan beberapa
lapis dibelakang jaringan saraf.
a. Kone (kerucut)
Tiap mata mempunyai 6,5 juta kone yang berfungsi untuk melihat siang hari (fotopik).
Melalui kone kita dapat menganal berbagai warna, tetapi kone tidak sensitif terhadap semua
warna, ia hanya sensitif terhadap warna kuning, hijau (panjang gelombang 550nm). Kone
terletak pada fovea sentralis
b. Rod (batang)
Dipergunakan pada waktu malam atau disebut pengliatan skotopik dan merupakan ketajaman
penglihatan. Dipergunakan untuk melihat ke samping. Setiap mata ada 120 juta batang.
Distribusi pada retina tidak merata, pada sudut 20 derajat terdapat kepadatan yang maksimal.
Batang ini sangat peka terhadap cahaya biru, hijau (510 nm)
Tetapi rod dan kone sama-sama peka terhadap warna merah (650-700 nm), tetapi penglihatan kone
lebih baik terhadap cahaya merah jika dibandingkan dengan rod.

58
15. PEMBENTUKAN BAYANGAN OLEH RETINA
Pembentukan bayangan oleh retina membutuhkan 4 proses dasar, yang semua bersangkutan dengan
pemfokusan cahaya.
1. Refraksi cahaya
2. Akomodasi lensa
3. Kontriksi pupil
4. Konvergensi bola mata

1. Refraksi
Bila cahaya merambat dari suatu medium transparan, misalnya udara, ke medium transparan kedua
yang kerapatannya berbeda, misalnya air, maka cahaya dibelokkan. Dalam keadaan demikian
dikatakan cahaya mengalami refraksi. Mata memiliki 4 media refarksi yaitu kornea, aqueus humor,
lensa, dan vitreus humor. Cahaya lurus dari udara yang masuk mata akan direfraksi pada titik-titik
berikut
- Pada permukaan anterior kornea, begitu cahaya berpindah dari udara yang lebih renggang ke
kornea yang lebih rapat
- Pada permukaan posterior kornea, begitu cahaya berpindah dari kornea ke aqueus humor yang
kurang rapat
- Pada permukaan anterior lensa, begitu cahaya berpindah dari aqueus humor ke lensa yang lebih
rapat
- Pada permukaan posterior lensa, begitu cahaya berpindah dari lensa ke vitreous humor yang
kurang rapat.
Bila kita melihat suatu benda yang berjarak 6 meter atau lebih dari kita, maka cahaya lurus akan
dipantulkan dari benda tersebut hampir paralel satu dengan yang lain.
2. Akomodasi Lensa
Dengan mengalami 4 kali refraksi, maka bayangan benda akan jatuh tepat pada fovea sentralis, dimana
bayangan akan nampak paling jelas. Agar supaya bayangan benda jatuh tepat pada fovea sentralis,
maka dari keempat proses refraksi, yang masih dimungkinkan untuk diatur adalah refraksi ketiga dan
keempat, yaitu dengan menebalkan atau memipihkan lensa mata melalui kontraksi-relaksasi otot
penggantung mata. Aktivitas menebal dan memipihkan lensa mata ini dikenal sebagai akomodasi lensa

59
3. Kontriksi Pupil
Kontriksi pupil menghasilkan penyempitan pada pupil. Tujuannya adalah untuk membatasi cahaya
tepi agar tidak masuk ke bagian tepi lensa. Cahaya tepi ini akan menghasilkan bayangan buram, karena
tidak dapat difokuskan ke retina. Biasanya kontriksi pupil ini terjadi bersamaan dengan akomodasi
lensa.
4. Konvergensi Bola Mata
Burung mampu melihat dua benda di sebelah kanan dan kiri matanya dalam waktu bersamaan. Hal ini
berarti bahwa burung mampu memfokuskan kedua bola mata kepada dua obyek yang berbeda pada
saat bersamaan. Hal demikian tidak dapat dilakukan oleh manusia. Manusia pada saat melihat suatu
benda, kedua bola matanya akan terfokus pada satu benda tersebut. Keadaan demikian dikenal sebagai
single binocular vision . single binocular vision adalah kemampuan mengarahkan cahaya dari sutu
benda agar jatuh pada titik-titik sesuai (corresponding points) pada retina kedua mata. Bila kita melihat
benda yang relatif jauh, maka cahaya yang datang melewati pupil akan dapat langsung sampai ke titik
sesuai pada kedua retina mata tanpa menggerakkan kedua bola mata ke medial, sebab cahaya yang
datang relatif sejajar. Bila benda kita dekatkan mata, agar supaya bayangan jatuh pada titik-titik sesuai
, maka kedua bola mata harus diputar kearah medial. Menggerakkan kedua bola mata kearah medial
ini disebut konvergensi bola mata.

16. PENYESUAIAN TERHADAP GELAP DAN TERANG


Dari ruangan gelap masuk ke ruangan terang, manusia mengalami kesulitan dalam penglihatan. Tetapi
apabila dari ruangan terang masuk ke dalam ruangan gelap akan tampak kesulitan dalam penglihatan
dan diperlukan waktu tertentu agar memperoleh penyesuaian. Apabila kepekaan retina cukup besar,
seluruh objek/benda akan merangsang rod secara maksimum sehingga setiap benda bahkan yang gelap
pun akan terlihat terang putih. Tetapi apabila kepekaan retina sangat lemah, ketika masuk kedalam
ruangan gelap tidak ada bayangan yang benderang yang merangsang rod dengan akibat tidak ada suatu
objekpun yang terlihat. Perubahan sensitivitas retina secara automatis ini dikenal sebagi=ai fenomena
penyesuaian terang dan gelap.

60
- Mekanisme Penyesuaian Terang (cahaya)Pada sel kerucut dan sel batang terjadi perubahan
dibawah pengaruh energi sinar yang disebut fotokimia. Dibawah pengaruh fotokimia ini
rhodopsin akan pecah, masuk kedalam retina dan skotopsine. Retina akan tereduksi menjadi
vitamin A dibawah pengaruh enzim alkohol dehydrogenase dan koenzim DPN H + H+

(=DNA) dan terjadi proses timbal balik (visa versa)


Rushton ( 1955) telah membuktikan adanya rhodopsin dalam retina mata manusia, ternyata konsentrasi
rhodopsin sesuain dengan distribusi rod. Penyinaran dengan energi cahaya yang besar dan dilakukan
secara terus menerus konsentrasi rhodopsin di dalam rod akan sangat menurun sehingga kepekaan
retina terhadap cahaya akan menurun.

61
- Mekanisme Penyesuaian GelapSeseorang masuk kedalam ruangan gelap yang tadinya berada
di ruangan terang, jumlah rhodopsin didalam rod sangat sedikit sebagai akibat orang tersebut
tidak dapat melihat apa-apa didalam ruangan gelap. Selama berada di ruangan gelap,
pembentukan rhodopsin di dalam rod sangatlah perlahan-lahan, konsentrasi rhodopsin akan
mencapai kadar yang cukup dalam beberapa menit berikutnya sehingga akhirnya rod akan
terangsang oleh cahaya dalam waktu singkat. Selama penyesuaian gelap, kepekaan retina akan
meningkat mencapai nilai 1000 hanya dalam waktu beberapa menit saja. Kepekaan retina
mencapai nilai 100.000 waktu yang diperlukan 1 jam. Sedangkan kepekaan retina akan
menurun dari nilai 100.000 apabila seseorang dari ruangan gelap ke ruangan terang. Proses

penururnan kepekaan retina hanya diperlukan waktu 1 sampai 10 menit.


Penyesuaian gelap ini ternyata sel kerucut bekerja leih cepat dari pada rod. Dalam waktu kira-kira 5
menit fovea sentralis telah mencapai tingkat kepekaan. Kemudian dilanjutkan penyesuaian gelap oleh
rod sekitar 30 sampai 60 menit, rata-rata terjadi pada 15 menit pertama.

Sebelum masuk ke kamar gelap (misalnya ruang rontgen) biasanya dianjurkan memakai kaca mata
merah atau salah satu mata dipejamkan dalam beberapa saat (kurang lebih 15 menit)

62
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Telah kita pelajari bersama, indera pendengaran dan penglihatan, anatomi, fisiologi, mekanisme kerja
dan prinsip dalam kajian fisika yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

3.2 Saran

Dengan mengucap syukur Alhamdulillah pada Allah SWT, penulis dapat menyelesaikan
makalah ini dengan baik, dan tentunya masih jauh dari harapan. Oleh karena itu, masih perlu kritik
dan saran yang membangun serta bimbingan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan
penulis.

63
DAFTAR PUSTAKA
Indera Pendengaran
1. Wonodirekso, S dan Tambajong J (editor) (1990), Organ-Organ Indera Khusus dalam

Buku Ajar Histologi Leeson and Leeson (terjemahan), Edisi V, EGC, Jakarta,
Indonesia Hal.574-583.
2. Fawcett, D.W (1994), The Ear in: A Textbook of Histology (Bloom and Fawcett), 12th

edition, Chapman and Hall, New York, USA, pp. 919-941


3. diFiore, MSH (1981), Organs of Special Sense and Associated Structures, in Atlas of

Human Histology, 5th edition, Lea and Febiger, Philadelphia, USA, pp.256-257.
4. Young, B and Heath, J.W. (2000), Special Sense Organs in Wheaters Functional

Histology, 4th edition, Churchill Livingstone, London, UK, pp 380-405


5. Gartner, LP and Hiatt, J.L. (1997), Special Senses in: Color Textbook of Histology,

W.B. Saunder Company, USA, pp. 422-442


6. Cameron John R, Skofronick James G, Medical Physics, pp 17, John Willy & Sons Inc, New
York.

Indera Penglihatan
1. Cambell, dkk. 2003. Biologi. Jakarta : Erlangga.
2. Darmodjo, Hendro. 1992. Pendidikan IPA 1. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
3. Murray, R. K., Granner, D. K., & Rodwell, V. W. Biokimia harper (27 ed.). Jakarta: Buku
Kedokteran EGC; 2009
4. Ganong, W. F. Buku ajar fisiologi kedokteran (22 ed.). Jakarta: Buku Kedokteran EGC; 2008
5. Drs. Soewolo, dkk . 2005. Fisiologi Manusia. Malang : UM Press
6. E-book . Elisa. Organ Sensorik Indera dan Mekanisme Sensorik. Universitas Gajah Mada.
Diakses pada 15 Oktober 2015
7. Dr. Gabriel, J.F . 1996. Fisika Kedokteran. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran (EGC)

64