Anda di halaman 1dari 12

REFERAT

RHINITIS VASOMOTOR

PEMBIMBING :
dr. Dumasari Siregar, Sp.THT-KL

DISUSUN OLEH :
Noversly Saerang
030.10.208

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT THT


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH
PERIODE 27 FEBRUARI-1 APRIL 2017
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
BAB I
PENDAHULUAN

Gangguan vasomotor adalah terdapatnya gangguan fisiologik lapisan mukosa hidung


yang disebabkan oleh bertambahnya aktivitas parasimpatis. Rinitis vasomotor adalah gangguan
pada mukosa hidung yang ditandai dengan adanya edema yang persisten dan hipersekresi
kelenjar pada mukosa hidung apabila terpapar oleh iritan spesifik.

Rinitis ini digolongkan menjadi non-alergi bila adanya alergi/alergen spesifik tidak
dapat diidentifikasi dengan pemeriksaan alergi yang sesuai (anamnesis, tes cukitkulit, kadar
antibodi IgE spesifik serum). Kelainan ini disebut juga vasomotor catarrh, vasomotor rinorhea,
nasal vasomotor instability,atau juga non-allergic perennial rhinitis.

Pada umumnya pasien mengeluhkan gejala hidung tersumbat, secret yang banyak dan
encer serta bersin-bersin walaupun jarang. Etiologi yang pasti belum diketahui, tetapi diduga
sebagai akibat gangguan keseimbangan fungsi vasomotor dimana sistem saraf parasimpatis
relatif lebih dominan. Keseimbangan vasomotor ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti
emosi, posisi tubuh, kelembaban udara, perubahan suhu luar, latihan jasmani yang pada
keadaan normal faktor-faktor tadi tidak dirasakan sebagai gangguan oleh individu tersebut.

Diagnosis dapat ditegakkan dengan anamnesis yang cermat, pemeriksaanTHT serta


beberapa pemeriksaan yang dapat menyingkirkan kemungkinan jenisrinitis lainnya.
Penatalaksanaan rinitis vasomotor bergantung pada berat ringannya gejala dan dapat dibagi
atas tindakan konservatif dan operatif.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI1

Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah yaitu pangkal
hidung (bridge),batang hidung (dorsum nasi), puncak hidung (tip), ala nasi, Columela dan
lubang hidung (nares anterior). Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan
yang dilapisioleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan
atau menyempitkan lubang hidung.

Kerangka tulang terdiri dari tulang hidung (os nasal), prosesus frontalis os maksila, dan
prosesus nasalis os frontal. Sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang
tulang rawan yang terletak di bagian bawah hidung yaitu sepasang kartilago nasalis lateralis
superior, sepasang kartilago nasalis lateralis inferior yang disebut juga sebagai kartilago alar
mayor dan tepi anterior kartilago septum.

Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang di pisahkan
oleh septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri.Pintu atau lubang
masuk kavum nasi bagian depan disebut nares anterior dan lubang belakang disebut nares
posterior (koana) yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring.Bagian dari kavum nasi
yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat di belakang nares anterior, disebut vestibulum.

Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yangmempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-
rambut panjang disebut vibrise.Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding, yaitu dinding
medial, lateral,inferior dan superior. Dinding medial hidung ialah septum nasi. Septum
dibentuk oleh tulang dan tulang rawan. Bagian tulang adalah lamina perpendikularis os
etmoid,vomer, krista nasalis os maksila dan krista nasalis os palatina. Bagian tulang
rawanadalah kartilago septum (lamina kuadrangularis) dan kolumela. Septum dilapisi oleh
perikondrium pada bagian tulang rawan dan periosteum pada bagian tulang, sedangkan di
luarnya dilapisi oleh mukosa hidung.

Pada dinding lateral terdapat 4 buah konka. Yang terbesar dan letaknya paling bawah ialah
konka inferior, kemudian yang lebih kecil ialah konka media, lebih kecil lagi ialah konka
superior, sedangkan yang terkecil disebut konka suprema.
Konka suprema ini biasanya disebut rudimenter. Konka inferior merupakan tulang tersendiri
yang melekat pada os maksila danlabirin etmoid, sedangkan konka media, superior dan
suprema merupakan bagian dari labirin etmoid.

Diantara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang disebut
meatus. Tergantung dari letak meatus, ada tiga meatus yaitu meatus inferior,medius dan
superior. Meatus inferior terletak di antara konka inferior dengan dasar hidung dan dinding
lateral rongga hidung. Pada meatus inferior terdapat muara (ostium) duktus nasolakrimalis.
Meatus medius terletak di antara konka media dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus
medius terdapat muara sinus frontal, sinus maksila dan sinus etmoid anterior. Pada meatus
superior yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka media, terdapat muara sinus
etmoid posterior dan sinus sfenoid.

Batas rongga hidung terdiri dari dinding inferior yang merupakan dasar rongga hidung dan
dibentuk oleh os maksila dan os palatum. Dinding superior atau atap hidung sangat sempit dan
dibentuk oleh lamina kribriformis, yang memisahkan rongga tengkorak dari rongga hidung.
Lamina kribriformis merupakan lempeng tulang berasal dari os etmoid, tulang ini berlubang-
lubang (kribrosa = saringan) tempat masuknya serabut-serabut saraf olfaktorius. Dibagian
posterior, atap rongga hidung dibentuk oleh os sfenoid.

2.2 FISIOLOGI HIDUNG1

Berdasarkan teori struktural, teori revolusioner dan teori fungsional, maka fungsi fisiologis
hidung dan sinus paranasal adalah :

1) fungsi respirasi untuk mengatur kondisi udara (air conditioning), penyaring udara,
humidifikasi,penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan mekanisme imunologik lokal

2) fungsi penghidu, karena terdapatnya mukosa olfaktorius (penciuman) dan reservoir udara

untuk menampung stimulus penghidu

3) fungsi fonetik yang berguna untuk resonansi suara, membantu proses berbicara dan
mencegah hantaran suara sendiri melalui konduksi tulang

4) fungsi statistik dan mekanik untuk meringankan beban kepala, proteksi terhadap trauma
dan pelindung panas

5) refleks nasal

2.3 DEFINISI RINITIS VASOMOTOR2

Rinitis vasomotor merupakan suatu keadaan idiopatik yang didiagnosis tanpa adanya
infeksi, alergi, eosinophilia, perubahan hormonal (kehamilan, hipertiroid), dan pajanan obat
(kontrasepsi oral, anti hipertensi, B-bloker, aspirin, klorpromazin dan obat topical hidung
dekongestan). Rinitis ini digolongkan menjadi non-alergi bila adanya alergi/ allergen spesifik
tidak dapat diidentifikasi dengan pemeriksaan alergi yang sesuai (anamnesis, tes cukit kulit,
kadar antibody IgE spesifik serum)

2.2 EPIDEMIOLOGI2

Pada penelitian yang dilakukan oleh Mygind (1988), seperti yang dikutip oleh Sunaryo
(1998), memperkirakan sebanyak 30 60 % dari kasus rhinitis sepanjang tahun merupakan
kasus rhinitis vasomotor dan lebih banyak dijumpai pada usia dewasa terutama pada wanita.
Secara umum prevalensi rinitis vasomotor bervariasi antara 7 21%.

Sedangkan pada tahun 1989, dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Jessen dan
Janzon dijumpai sebanyak 21% menderita keluhan hidung non alergi dan hanya 5% dengan
keluhan hidung yang berhubungan dengan alergi. Prevalensi tertinggi dari kelompok non
alergi dijumpai pada dekade ke 3.

Pada tahun 2008, Sunaryo, dkk meneliti terdapat 2383 kasus rinitis selama 1 tahun di
RS Sardjito Yogyakarta dengan kasus rinitis vasomotor sebanyak 33 kasus (1,38 %) sedangkan
pasien dengan diagnosis banding rinitis vasomotor sebanyak 240 kasus (10,07 %).

2.3 ETIOLOGI3

Etilogi pasti rinitis vasomotor belum diketahui dan diduga akibatgangguan keseimbangan
sistem saraf otonom yang dipicu oleh zat-zat tertentu.

Beberapa faktor yang mempengaruhi keseimbangan vasomotor adalah :

1. Obat-obatan yang menekan dan menghambat kerja saraf simpatis, sepertiergotamin,


chlorpromazin, obat anti hipertensi dan obat vasokonstriktor topikal.
2. Faktor fisik, seperti iritasi oleh asap rokok, udara dingin, kelembaban udarayang tinggi
dan bau yang merangsang
3. Faktor endokrin, sepeti keadaan kehamilan, pubertas, pemakaian pil anti hamildan
hipotiroidisme.
4. Faktor psikis, seperti stress, ansietas dan fatigue

2.4 PATOFISIOLOGI2

Sistem saraf otonom mengontrol aliran darah ke mukosa hidung dan sekresi dari kelenjar.
Diameter resistensi pembuluh darah di hidung diatur oleh sistem saraf simpatis sedangkan
parasimpatis mengontrol sekresi kelenjar. Pada rinitis vasomotor terjadi disfungsi sistem saraf
otonom yang menimbulkan peningkatan kerja parasimpatis yang disertai penurunan kerja saraf
simpatis. Baik sistem simpatis yang hipoaktif maupun sistem parasimpatis yang hiperaktif,
keduanya dapat menimbulkan dilatasi arteriola dan kapiler disertai peningkatan permeabilitas
kapiler, yangakhirnya akan menyebabkan transudasi cairan, edema dan kongesti.
Teori lain mengatakan bahwa terjadi peningkatan peptide vasoaktif dari sel-sel seperti sel
mast. Termasuk diantara peptide ini adalah histamin, leukotrin,prostaglandin, polipeptide
intestinal vasoaktif dan kinin. Elemen-elemen ini tidak hanya mengontrol diameter pembuluh
darah yang menyebabkan kongesti, tetapijuga meningkatkan efek asetilkolin dari sistem saraf
parasimpatis terhadap sekresi hidung, yang menyebabkan rinore. Pelepasan peptide-peptide ini
tidak diperantaraioleh Ig-E (non-Ig E mediated) seperti pada rinitis alergi.

Adanya reseptor zat iritan yang berlebihan juga berperan pada rhinitis vasomotor. Banyak
kasus yang dihubungkan dengan zat-zat atau kondisi yang spesifik. Beberapa diantaranya
adalah perubahan temperatur atau tekanan udara, parfume, asap rokok, polusi udara dan stress
( emosional atau fisik ).

2.5 MANIFESTASI KLINIS2,3

Pada rhinitis vasomotor, gejala sering dicetuskan oleh berbagai rangsangan non spesifik,
seperti asap rokok, bau yang menyengat, parfunm, minuman alcohol, makanan pedas, udara
dingin, pendingin, pemanas ruangan, perubahan suhu luar, kelelahan, stress ataupun emosi.
Pada keadaan normal faktor-faktor tadi tidak dirasakan sebagai gangguan oleh individu
tersebut. Kelainan ini mempunyai gejala yang mirip dengan rhinitis alergi, namun gejala yang
dominan adalah hidung tersumbat, bergantian kiri dan kanan, tergnatung pada posisi pasien.
Selain itu, dapat ditemukan rinore yang mucoid atau serosa. Keluhan ini jarang disertai dengan
gejala mata. Gejala dapat memburuk pada waktu pagi hari waktu bangun tidur oleh karena
perbahan suhu yang ekstrim, udara lembab, juga oleh karena asap rokok dan sebagainya.

Berdasarkan gejala yang menonjol, kelainan ini dibedakan dalam 3 golongan yaitu :

a. Golongan bersin (sneezers) gejala biasanya memberikan respon yang baik dengan
terapi antihistamin dan glukokortikosteroid topical
b. Golongan rinore (runners) gejala dapat diatasi dengan pemberian anti kolinergik topical
c. Golongan tersumbat (blockers) kongesti umumnya memberikan respons yang baik
dengan terapi glokukortikosteroid topical dan vasokonstriktor oral.
2.6 DIAGNOSIS2,3,4

Dalam anamnesis dicari faktor yang mempengaruhi keseimbangan vasomotordan


disingkirkan kemungkinan rinitis alergi Biasanya penderita tidak mempunyai riwayat alergi
dalam keluarganya dan keluhan dimulai pada usia dewasa. Beberapa pasien hanya
mengeluhkan gejala sebagai respon terhadap paparan zat iritan tertentu tetapi tidak mempunyai
keluhan apabila tidak terpapar.

Pada pemeriksaan rinoskopi anterior tampak gambaran klasik berupa edema mukosa
hidung, konka hipertrofi dan berwarna merah gelap atau merah tua (karakteristik ), tetapi dapat
juga dijumpai berwarna pucat. Permukaan konka dapatlicin atau berbenjol ( tidak rata ). Pada
rongga hidung terdapat sekret mukoid,biasanya sedikit. Akan tetapi pada golongan rinore,
sekret yang ditemukan bersifat serosa dengan jumlah yang banyak.

Pada rinoskopi posterior dapat dijumpai post nasal drip. Pemeriksaan laboratorium
dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan rinitis alergi. Test kulit ( skin test ) biasanya
negatif, demikian pada test RAST, serta kadar Ig E total dalam batas normal. Kadang- kadang
ditemukan juga eosinofil pada sekret hidung, akan tetapi dalam jumlah yang sedikit. Infeksi
sering menyertai yang ditandai dengan adanya sel neutrofil dalam secret. Pemeriksaan
radiologik sinus memperlihatkan mukosa yang edema dan mungkin akan tampak gambaran
cairan dalam sinus apabila sinus telah terlibat

2.7 PENATALAKSANAAN4,5,6

Berdasarkan atas patofisiologinya, maka penatalaksanaan rhinitis vasomotor bertujuan untuk :

1. Meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatis.


2. Mengurangi aktivitas sistem saraf parasimpatis.
3. Mengurangi pelepasan vasoaktive peptida.
4. Mengidentifikasi dan menjauhi faktor-faktor yang dapat mencetuskan gejala
Secara umum penatalaksanaan dari rhinitis vasomotor ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok
besar :
- Non medikamentosa
Jika penyebabnya sudah diketahui, terapi yang terbaik adalah pencegahan yaitu
menghindarinya dan jika belum diketahui penyebabnya,membersihkan mukosa rongga
hidung secara teratur dapat membantu.2.
- Medikamentosa :
a. Antihistamin
Obat-obat antihistamin akan sangat membantu penderita dengan golongan
rhinorrhea. Obat ini bekerja menekan pelepasan mediator-mediator oleh sel mast,
sehingga dapat mengurangi kongesti dan pembentukan sekret. Obat antihistamin
generasi I selain bersifat antihistamin juga bersifat antikolinergic.

b. Anti kolinergic
Obat-obat golongan anti kholinergic juga efektif pada penderita golongan
rhinorrhea.Contoh obat golongan ini adalah Ipratroprium bromide. Efek samping
yang ditimbulkannya adalah pengelihatan kabur, konstipasi dan retensiurine.

c. Kortikosteroid
Kortikosteroid topikal dapat menekan reaksi radang lokal yang disebabkan oleh
vasoaktive mediator dengan cara menghambat phospholipase A2, mengurangi
aktivitas reseptor Ach dan mengurangi jumlah basophil, mast cel dan eosinofil di
mukosa rongga hidung.Obat-obat golongan kortikosteroid topikal ini tidak bisa
digunakan secara singkat. Contoh obat golongan ini adalah Beclomethasone,
Flunisolide, Fluticasone. Budesonid

d. Dekongestan
Penggunaan dekongestan secara oral ditujukan untuk mengatasi kongesti dari
pembuluh darah di mukosa rongga hidung. Contohnya adalah Pseudoephedrine,
Phenylpropanolamine, Phenylephrine dan Oxymetazoline (bentuk spray hidung).
Obat-obat golongan ini bekerja sebagai agonis alpha reseptor sehingga akan
mengakibatkan vasokonstriksi pembuluh darah dimukosa rongga hidung. Pada
penggunaan dekongestan topikal sepertipada Oxymetazoline, harus berhati-hati
sebab dapat menyebabkan suatu rhinitis Medicamentosa, yaitu suatu rebound
kongesti, jika digunakan lebih dari 5 hari. Efek samping dekongestan oral antara
laininsomnia, mudah terangsang (irritability) dan kesulitan berkemih (khususnya
pada pria dewasa). Kontraindikasi penggunaan obat iniadalah mereka dengan
tekanan darah tinggi. Pada penderita dengantekanan darah yang normal, obat
golongan ini tidak mempengaruhi tekanan darahnya

- Operatif
Tindakan operatif dilakukan bila terapi secara konservatif /medikamentosa belum
memuaskan.
Tindakan operatif yang dianjurkan antara lain :
a. Elektrokauterisasi konkha.
b. Konkhotomi parsial konkha inferior yang memberikan efektivitas mengurangi
keluhan sampai dengan 88,9%

c. Frozen section konkha.

d. Vidian neurectomy.

Cara ini merupakan prosedur yang sangat efektif untuk menghentikan gejala rhinitis
vasomotor, terutama pada kasus yangsangat berat dan tidak hilang dengan pengobatan
konservatif dan sudah menghabiskan biaya yang cukup besar serta mengganggu kualitas
hidup. Namun operasi ini tidak mudah dan juga dapat menimbulkan komplikasi seperti
sinusitis, diplopia, buta, gangguan lakrimasi, neuralgia atau anastesis supraorbita dan
anastesis palatum.
BAB III

KESIMPULAN

Rhinitis vasomotor merupakan suatu sidrom klinik hidung yang terdiridari gejala
hidung tersumbat berulang, disertai dengan ingus yang encer dan bersin bersin. Faktor
pencetus dari rhinitis vasomotor ini bisa terjadi pada seseorang dengan aktifitas parasimpatis
yang berlebih, diantaranya faktor fisik, faktorpsikis, faktor endokrin dan faktor penggunaan
obat-obatan simpatolitik.

Aktivitas yang berlebihan dari saraf parasimpatis akan menyebabkan dilatasi dari
arteri-arteri dan kavernosa pada hidung, yang berdampak sebagaipenyempitan dari caavum
nasi. Disamping ini akan memberikan penampakan mukosa hidung yang hiperemi serta
sekresi kelenjar yang meningkat.Gejala yang sering didapatkan pada rhinitis vasomotor ini
adalah hidung tersumbat yang dominan yang bisa disertai dengan rinore dan bersin-bersin.

Diagnosis banding dari rhinitis vasomotor antara lain rhinitis alergika,rhinitis


medikamentosa dan rhinitis akut infeksiosa. Sedangkan komplikasi yang sering timbul pada
rhinitis vasomotor adalah sinusitis paranasalis, polipnasi serta otitis media.
Penatalaksanaannya dapat berupa konservatif (medis dan non medis) ataupun tindakan
pembedahan
DAFTAR PUSTAKA

1. Boies, Lowrence R. JR. M.D. et al, Buku Ajar Penyakit THT edisi 6, AlihBahasa :
Caroline Wijaya, Editor : Harjanto Effendi, dkk, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta 1994 : 218-220.

2. Connell, John T. Nasal Disease. In : Settipane, Guy A., ed., Rhinitis.Providence, Rhode
Island. Oceaniside Publications Inc., 1991 :161- 4.

3. Efiaty Arsyad Soepardi, dr Sp THT, Nurbaiti Iskandar Prof. Dr. Sp THT,Buku Ajar Ilmu
Kesehatan THT Fakultas Kedokteran UI, Edisi IV,Jakarta 2000 : 107-8
.
4. Gluckman, Jack L. and Stegmoyer, Robert. Nonallergic Rhinitis. In :Paparalla, Michael
M., Shumrick, Donald A., Meyerhoff, William,eds., Otolaryngology, Volume III, Head
and Neck. W. B. SaundersCo., 1991, pp. 1889-98.

5. Kimmelan, Charles P. and Ali, G. H. A. Vasomotor Rhinitis. In : Sataloff,Robert T., ed.,


The Otoloryngologic Clinics of North America. Vol 19, Number 1. W. B. Sauders Co.,
Feb. 1986, pp 65

6. Suardana W, dr. Sp THT Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB) ke-


II,Penatalaksanaan Rhinitis Alergi Secara Komprehensif, Denpasar2000 : 2-3