Anda di halaman 1dari 3

Judul: Jenghis Khan, Legenda Sang Penakluk dari Mongolia

Penulis: John Man


Penerjemah: Kunti Saptoworini
Penyunting: Indi Aunullah
Penerbit: Alvabet, 2008
-----------------------

Buku ini merupakan kajian komprehensif yang mampu memadukan


pendekatan sosiologis, antropologis, bahkan historis mengenai seorang sosok
legendaris dunia, yang oleh sebagian orang dicaci tapi oleh sebagian lainnya
justru dipuji. Sosok tersebut adalah Jenghis Khan.

Ada dua fakta yang tak dapat dibantah bahwa Jenghis Khan merupakan orang
yang bertanggung jawab atas kematian jutaan orang, termasuk kaum Muslim,
kurun 1209 - 1227. Pun di Negara-negara taklukan lainnya. Namun, dia juga
adalah orang pertama yang menghubungkan perdagangan antara dataran
Cina dan bangsa-bangsa di kawasan Eurasia melalui jalur sutra. Dia adalah
pria yang menjamin keamanan dan perdamaian di sepanjang jalur tersebut.

Buku karya John Man ini dibuka dengan laporan sebuah artikel pada Maret
2003, di American Journal of Human Genetics. Artikel tersebut menceritakan
bahwa dari sebanyak 2.000 pria di seluruh Eurasia yang diuji DNA-nya,
ditemukan beberapa lusin pria di antaranya mempunyai struktur genetik yang
mirip.

Struktur yang juga dimiliki tidak kurang dari 16 kelompok populasi yang
menyebar antara Laut Kaspia dan Samudera Pasifik. Fakta tersebut
membuktikan terdapat keluarga yang sangat besar yang berasal dari satu gen.
Penelitian pun terus dilanjutkan dan berhenti pada satu kesimpulan bahwa
gen tersebut berasal dari seorang pria bernama Jenghis Khan, seseorang yang
pernah berkuasa di daerah tersebut sekitar abad ke-12 yang dalam setiap
penaklukannya, wanita cantik merupakan bagian dari harta rampasan dalam
peperangan dan merupakan persembahan dari perwira bawahan sebagai
sebuah pernyataan kepemimpinannya.

Dari rasa penasaran itulah buku ini beranjak menuju penelitian lapangan,
hendak menyusuri tanah kelahiran Jenghis Khan di Mongol sembari
membuka pelbagai referensi prihal Jenghis Khan. Alkisah, petualangan
Jenghis Khan dalam melakukan ekspansinya adalah dimulai dari daratan Cina
pada 1211. Dan untuk mengepung Kota Terlarang itu dia menggunakan kuda
dan busur kecil yang dapat melontarkan anak panah berkilo-kilo meter.
Adapun cara melakukan koordinasi antarpasukan, dia menggunakan kurir
yang mampu mengantarkan pesan berjarak ratusan kilometer dalam sehari.
Selain itu, dia juga mengadaptasi alat pelontar batu, busur raksasa, serta
tangga besar yang digunakannya dalam setiap pengepungan kota.

Keberhasilannya dalam menaklukan dataran Cina mengantarkan dia sebagai


salah satu bapak pendiri dinasti di Cina. Tak lain itu merupakan efek dari
penyerangan tersebut yang efektif dan elegan.

Pada 1218, Jenghis mulai bergerak ke wilayah barat. Ada hal baru dari analisa
John Man yang sedikit melawan pendapat main stream, bahwa pembantaian
jutaan kaum muslim di Khwarazem (sekarang Baghdad), oleh Jenghis Khan
adalah karena sikap pimpinan kota Khwarazem lah yang terlalu paranoid
dengan kedatangan Jenghis Khan sampai membunuh utusan Jenghis.
Kronologinya adalah saat utusan pimpinan bangsa Mongol mendekati
pimpinan Khwarazem yang sebetulnya berniat menawarkan kerja sama dalam
bidang perdagangan dengan membuka jalur sutra, malah dibunuh oleh
pimpinan Khwarazem.

Jenghis yang sangat mengagungkan kesetiaan akhirnya membalas dendam


atas penghinaan itu dengan membantai hampir 1,3 juta Muslim. Jadi, sama
sekali tidak benar jika ada anggapan bahwa pembantaian tersebut
berdasarkan agama atau rasisme.

Jenghis Khan bukanlah sebuah nama, melainkan sebuah gelar kebesaran


bangsa Mongol yang berarti sang pemimpin. Istilah Jenghis Khan sendiri
diawali dari seorang anak jalanan bernama Temujin. Dia seorang pesakitan
yang terus hidup dengan dendam dari orang-orang yang pernah menyiksa dan
menganiayanya.

Singkat cerita, seiring waktu dan pencapaiannya selama 10 tahun menyatukan


bangsa Mongol yang terpisah-pisah karena kesukuan, Temujin diangkat
menjadi Jenghis Khan (sang pemimpin). Perang saudara memang sudah biasa
terjadi di antara suku-suku di Mongol. Oleh karena itu, dia ingin membuat
hukum dan menyatukan bangsa Mongol di bawah kendalinya. Hukum itulah
yang kemudian membawanya ke tampuk kepemimpinan. Nampaknya segala
beban dan pengalaman hidup pahit masa kecil itulah yang menyumbang
banyak dalam pembentukan karakternya kelak.

Dalam kepemimpinannya, Jenghis Khan merupakan pemimpin yang sangat


loyal atas bawahannya. Sebelum menuntut kesetiaan pada bawahannya, ia
sendiri memberi teladan terlebih dahulu untuk setia pada mereka. Maka,
terjadilah hubungan yang kokoh antara Jenghis Khan dan bawahannya.
Semua bawahannya hampir dipastikan tidak ada yang berontak atas
kepemimpinannya. Semua jenderalnya merasa puas atas kepemimpinannya.
Hal itu juga ia lakukan atas suku-suku yang bergabung dengan dirinya dengan
sebuah kesetiaan yang tinggi.

Di saat sakit dan mendekati ajalnya, Jenghis berwasiat kepada para


jenderalnya untuk merahasiakan kematiannya kelak agar rencana-rencana
penaklukannya bisa terus berjalan melalui penggantinya. Dan sepeninggalnya,
Jenghis Khan telah membangun sebuah kerajaan yang mampu menguasai
kawasan dari Laut Kaspia hingga Samudera Pasifik. Dia adalah orang yang
menaklukkan daratan Cina hingga sebagian Eurasia.
Sesuai penelitiannya, John Man berani mengatakan bahwa daerah kekuasaan
Jenghis empat kali lebih besar dari Alexander Agung, dan dua kali lebih besar
dari imperium Roma.

Jenghis Khan juga tercatat sebagai pemimpin jenius yang melakukan


pembaharuan sistem pemerintahan sangat maju untuk zamannya. Ia
mengenalkan penggunaan bubuk mesiu, uang kertas, serta kitab hukum yang
mengatur tentang pemerintahan, dan undang-undang, Yassa Agung.

Namun, terlepas dari segala prestasi yang diukirnya (termasuk pemberani


dalam medan perang), terdapat fakta bahwa Jenghis Khan ternyata sangat
takut pada anjing.