Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRATIKUM FISIKA DASAR

METODE PENGAMATAN LAGRANGE

KELOMPOK: 4

NAMA : I Gede Dwian Julihartadi


NIM : 1613521049
DOSEN : I Wayan Gede Astawa Karang, S.Si.,M.Si.,Ph.D
I Gede Hendrawan, S.Si.,M.Si.,Ph.D
ASISTEN DOSEN : I Putu Irpan Aditanaya

PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


FAKULTAS KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2016
I. Tujuan
Adapun tujuan dalam praktikum Lagrange, yaitu sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengukuran arus laut dengan menggunakan metode
Lagrange.
2. Untuk mengetahui kecepatan rata-rata arus laut di Pantai Melasti.
II. Dasar Teori

2.1 Arus

Arus merupakan gerakan horizontal atau vertikal dari suatu massa air
sehingga massa air tersebut mencapai kestabilan. Gerakan tersebut merupakan
resultan dari beberapa gaya yang bekerja dan beberapa faktor yang
mempengaruhinya. Terdapat dua gaya yang berperan dalam arus yaitu: gaya
primer dan gaya sekunder. Gaya primer berperan dalam menggerakkan arus dan
menentukan kecepatannya. Gaya primer ini terdiri dari gravitasi, gesekan angin
(wind stress), gaya dorong ke atas dan ke bawah (bouyancy), serta tekanan
atmosfir. Gaya sekunder mempengaruhi arah gerakan dan kondisi aliran arus.
Gaya sekunder meliputi gaya Coriolis dan gesekan lapisan air laut itu sendiri
(Pond and Pickard, 1983)
Menyebutkan fungsi arus dalam perairan diantaranya ialah: untuk keperluan
perencanaan analisis dampak lingkungan di suatu perairan yang membutuhkan
data tentang pola arus;untuk perencanaan struktur pantai atau pelabuhan agar
proses pengerjaannya efisien dan efektif serta menghasilkan daya tahan yang
tinggi;untuk studi rute pelayaran; untuk keperluan wisata laut; serta menjelaskan
proses sedimentasi, erosi pantai, sebaran organisme dan pola penyebaran limbah
pencemar (Herunadi, 1998 dalam Oli 2003).
Berdasarkan gaya-gaya pembangkit arus Gross (1990) dan Brown et al (1989)
membagi arus menjadi beberapa jenis, yaitu:
a. Arus Ekman, yaitu arus yang disebabkan oleh gesekan angin
b. Arus Pasang Surut, yaitu arus yang disebabkan oleh adanya gaya
pembangkit pasut
c. Arus Thermohaline, yaitu arus yang disebabkan karena adanya perbedaan
densitas air laut
d. Arus Geostrofik, yaitu arus yang disebabkan karena adanya gradien
tekanan mendatar dan gaya Coriolis
e. Wind Driven Current, yaitu arus yang dibangkitkan oleh angin, seperti
sirkulasi sebagian besar samudera di lapisan atas, gelombang permukaan
dan up-weling
f. Arus Inersia, yaitu suatu gerakan air dimana terjadi gesekan yang sangat
kecil (diasumsikan nol) dan gaya yang masih bekerja hanya gaya Coriolis
sehingga menyerupai kurva. Arus inersia yang terjadi di sekitar garis
lintang akan membentuk lingkaran (circular). Arah rotasi pada lingkaran
inersia adalah searah jarum jam dibelahan bumi utara dan berlawanan arah
jarum ja di belahan bumi selatan (Pond dan Pickard, 1983)
2.2 Lagrange
Metode Lagrange adalah suatu cara mengukur arus laut dengan cara melepas
benda apung atau drifter ke laut, kemudian diukur jarak dan vektor
perpindahannya. Metode ini ditemukan oleh Joseph Lagrange (1736-1811),
seorang matematikawan Prancis. (Johnson D Pattiaratchi 2004)

Kelebihan dari metode lagrange adalah instrument yang digunakan seperti


bola duga dapat sendiri dan harganya lebih ekonomis jika dibandingkan dengan
isntrument yang modern. Turunan instrument modern Lagrange adalah The
Swallow dimana merupakan pelampung jenis apung netral, yang berarti bahwa
massa mengembang ini disesuaikan sebelum meluncur sehingga akan tenggelam
ke area dengan besar densitas yang dapat ditentukan. Kerapatan air laut
sebenernya adalah fungsi tekanan primarilya. Karena kompresibilitas air laut
menyebabkan densitas menjadi lebih besar dari pada suhu atau salinitas. The
Swallow mengambang mengirimkan pulsa suara pada interval tertentu, yang
diikuti dengan mendengarkan hydrophone dari kapal yang mengejar float
(pelampung) dan sekaligus menentukan posisinya sendiri. (Sudarto, et al, 2013)
Metode ini dilakukan dengan cara terjun langsung ke lapangan dan
mengambil data jarak, lokasi, dan waktu pengukuran. Pada hal ini float tracking
dibuat dengan menggunakan bola atau benda yang dapat mengapung lain dan
diberi bendera di bagian atas tiang, agar arus di permukaan diketahui
pergerakannya. Pada bagian bawah float tracking juga dibuat seperti kincir
dimana arus di kolom air dapat membawa float tracking untuk bergerak. Metode
ini digunakan untuk mencari vektor atau arah arus bergerak yang berada di bawah
permukaan. (Johnson D Pattiaratchi, 2004)

Dalam proses pengambilan data jarak, arah, dan waktu, setidaknya dibutuhkan
GPS dan alat penunjuk waktu atau stop watch untuk menandai stasiun setiap
interval waktu. Melalui waktu dan jarak, maka akan diketahui kecepatan arus
pada suatu perairan.Arah arus sendiri dapat diketahui melalu plotting stasiun dari
GPS. (Pond and Pickard, 1983)

III. Alat dan Bahan


3.1 Alat
Adapun alat yang digunakan untuk menghitung arus laut adalah sebagai
berikut:

No. Alat Kegunaan

1. Drifter buoy Untuk mengukur kecepatan arus

2. Stopwatch Untuk menghitung waktu

3. Pemberat Sebagai pemberat pada alat lagrange

4. Alat tulis Untuk menulis hasil pengamatan

5. Tali Untuk mengukur jarak

6. Triplek Untuk bahan uji coba

7. Gergaji Untuk memotong suatu benda


IV. Cara Kerja
4.1 Cara Kerja Pembuatan Alat
Adapun cara kerja untuk membuat alat dalam praktikum ini adalah sebagai
berikut:
1. Diukur triplek dengan ukuran 60 x 45 dan dipotong menggunakan gergaji.
2. Dipotong bagian tengah triplek lalu dikaitkan membentuk baling baling.
3. Direkatkan di kayu menggunakan paku.
4. Dibagian atas diikatkan tali yang diberikan botol bekas sebagai pelampung.
5. Dibagian bawah diikatkan tali juga yang diberikan botol bekas ukuran
besar dengan diisi pasir dan air sebagai pemberat.
4.2 Cara Kerja Perhitungan Arus Laut
Adapun cara kerja untuk menghitung arus laut dalam praktikum ini adalah
sebagai berikut:
1. Drifter dirangkai sesuai dengan ketentuan yang diberikan.
2. Drifter dibawa turun ke laut.
3. Dilepas drifter sampai dengan jarak 10 m sambil dihitung waktunya
menggunakan stopwatch.
4. Dicatat waktu yang tertera di stopwatch.
5. Diulang 3 kali pengulangan sebanyak 10 kali dengan selang waktu 30
menit.
V. Data Pengamatan
Adapun data hasil percobaan metode lagrange adalah sebagai berikut :
5.1 Data hasil percobaan dengan menggunakan metode lagrange.

Percobaan I
Lokasi : Pantai Melasti
Hari/tanggal : Rabu, 14-12-2016
Pukul : 17.58 WITA
Keadaaan air laut : Pasang
Cuaca : Hujan deras
Percobaan Panjang tali (m) Waktu (s)
1 10 75
2 10 31
3 10 51
4 10 72
5 10 61
6 10 109
7 10 52
8 10 100
9 10 85
10 10 70
Percobaan II
Lokasi : Pantai Melasti
Hari/tanggal : Kamis, 15-12-2016
Pukul : 15.49 WITA
Keadaaan air laut : Surut
Cuaca : Panas
Percobaan Panjang tali (m) Waktu (s)
1 10 68
2 10 63
3 10 107
4 10 62
5 10 74
6 10 101
7 10 105
8 10 93
9 10 74
10 10 60
Percobaan III
Lokasi : Pantai Melasti
Hari/tanggal : Kamis, 15-12-2016
Pukul : 17.04 WITA
Keadaaan air laut : Surut
Cuaca : Panas
Percobaan Panjang tali (m) Waktu (s)
1 10 112
2 10 75
3 10 63
4 10 96
5 10 108
6 10 64
7 10 81
8 10 77
9 10 111
10 10 63

VI. Analisa Data


6.1 Perhitungan
Adapun rumus pada praktikum ini yaitu sebagai berikut :

= Keterangan : v = kecepatan (m/s)

t = waktu (s)

s = jarak (m)
Percobaan I pada tanggal 14 Desember pukul 17,58 WITA

Percobaan Panjang tali (m) Waktu (s) Kecepatan (v)

1 10 m 75 0,133

2 10 m 31 0,322

3 10 m 51 0,192

4 10 m 72 0,138

5 10 m 61 0,163

6 10 m 109 0,091

7 10 m 52 0,192

8 10 m 100 0,1

9 10 m 85 0,117

10 10 m 70 0,142

Rata-rata 0,240

Percobaan II pada tanggal 15 Desember pukul 15.49 WITA

Percobaan Panjang tali (m) Waktu (s) Kecepatan (v)

1 10 m 68 0,147

2 10 m 63 0,158

3 10 m 107 0,093

4 10 m 62 0,161

5 10 m 74 0,135

6 10 m 101 0,099
7 10 m 105 0,095

8 10 m 93 0,107

9 10 m 74 0,135

10 10 m 60 0,166

Rata-rata 0,129

Percobaan III pada tanggal 15 Desember pukul 17,04 WITA

Percobaan Panjang tali (m) Waktu (s) Kecepatan (v)

1 10 m 112 0,089

2 10 m 75 0,133

3 10 m 63 0,158

4 10 m 96 0,104

5 10 m 108 0,092

6 10 m 64 0,156

7 10 m 81 0,123

8 10 m 77 0,129

9 10 m 111 0,090

10 10 m 63 0,158

Rata-rata 0,123
6.2 Ralat Nisbi
Adapun ralat nisbi pada percobaan lagrange ini, yaitu dengan rumus sebagai
berikut:

Keterangan:

() = ( )
=
Xi = jumlah kecepatan

= rata rata kecepatan

Percobaan I pada tanggal 14 Desember pukul 17,58 WITA

n = 10
= 0,240
( ) = (0,133 0,240) + (0,322 0,240) + (0,192 0,240) + (0,138
240) + (0,163 0,240) + (0,091 0,240) + (0,192 0,240)
+ (0,001 0,240) + (0,117 0,240) + (0,142- 0,240)
= -0,107 +0,082 - 0,048 - 0,102 0,163 - 0,077 - 0,149- 0,239
- 0,123 -0,098
= -0,164

(0,164)2
X =
(10)

0,026
=
10

= 0,0026

= 0,050

Maka: = 0,240 0,050


Presentase :

0,0,050
100 % 100%
0,240

= 100 % 0,208 %

= 99,792 %

Percobaan II pada tanggal 15 Desember pukul 15.49 WITA


n = 10
= 0,129
( ) = (0,147 0,129) + (0,158 0,129) + (0,093 0,129) + (0,161
0,129) + (0,133 0,129) + (0,99 0,129) + (0,095
0,129) + (0,107 0,129) + (0,135 0,129) + (0,166-
0,129)
= -0,018 - 0,029 + 0,036 - 0,032 - 0,006 + 0,033 - 0,034 +
0,022 0,006 0,037
= -0,003

(0.003)2
X =
(10)

910
=
10

= 0,910

= 0,00948

Maka: = 0,129 0,00948


Presentase :

0.070
100 % 100%
0,079

= 100 % 0,0734 %

= 99,9269 %

Percobaan III pada tanggal 15 Desember pukul 17,04 WITA


n = 10
= 0,123
( ) = (0,089 0,123) + (0,133 0,123) + (0,158 0,123) + (0,104
0,123) + (0,092 0,123) + (0,156 0,123) + (0,123
0,123) + (0,129 0,123) + (0,090 0,123) + (0,0158-
0,123)
= -0,034 + 0,001- 0,035 - 0,019 -0,031 + 0,031 + 0 + 0,006 -
0,033 + 0,035
= -0,304

(0.304)2
X =
(10)

0,0924
=
10

= 0,00924

= 0,961

Maka: = 0,123 0,961


Presentase :

0,961
100 % 100%
0,123

= 100 % 0,7813 %

= 99,2187 %

VII. Pembahasan
Dalam praktikum ini digunakan metode lagrange, dan alat yang digunakan adalah
drifter buoy. Metode lagrange atau lagrangian adalah suatu cara mengukur aliran massa
air dengan melepas benda apung atau drifter ke laut, dan kemudian mengikuti gerakan
aliran massa air laut tersebut. Pertamanya alat drifter buoy dimasukkan ke dalam air dan
setelah itu dilepas sampai tali berjarak 10 meter, dan kemudian kita akan mengetahui
waktu yang digunakan untuk drifter buoy mencapai jarak tali 10 meter. Setelah mendapat
waktu yang diperlukan, kita dapat menghitung kecepatan dari arus tersebut dengan
menggunakan rumus kecepatan:

=

Praktikum metode pengamatan lagrange ini dilakukan untuk mengukur kecepatan
arus. Praktikum ini dilakukan 2 hari yakni pada hari Rabu, 14 Desember 2016 pukul
17.58 WITA dan Kamis, 15 Desember 2016 pukul 15.49 WITA dan 17.04 WITA di
Pantai Melasti. Dimana alat lagrange ini di lemparkan ke pantai yang memiliki arus yang
kemudian alat ini akan tenggelam hingga terbawa arus sejauh 10 meter jika sudah tarik
kembali lagrange ini. Adapun kecapatan rata-rata yang di dapat dalam praktikum metode
lagrange di Pantai Melasti adalah pada percobaan 1 pukul 17:58 WITA pada hari rabu 14
Desember 2016 dengan keadaan air laut pasang dan cuaca hujan deras diperoleh
kecepatan rata-rata arus sebesar 0,240 m/s dan didapat ralat nisbi sama dengan 0,050
dengan persentase kebenaran sama dengan 99,792 %. Pada percobaan 2 pukul 15:49
WITA pada hari kamis 15 Desember 2016 dengan keadaan air laut surut dan cuaca panas
diperoleh kecepatan rata-rata arus sebesar 0,129 m/s dan didapat ralat nisbi sama dengan
0,00948 dengan persentase kebenaran sama dengan 99,9269 %. Pada percobaan 3 pukul
17:04 WITA pada hari kamis 15 Desember 2016 dengan keadaan air laut surut dan cuaca
panas diperoleh kecepatan rata-rata arus sebesar 0,123 m/s dan didapat ralat nisbi 0,961
dengan persentase sama dengan 99,2187 %.

VIII. Kesimpulan
1. Dalam mengukur kecepatan arus ada beberapa metode yang dapat dilakukan,
salah satunya metode Lagrange dengan menggunakan alat yang bernama
Drifter buoy. Metode Lagrange adalah suatu cara mengukur aliran massa air
dengan melepas Drifter buoy ke laut, kemudian mengikuti gerakan aliran
massa air laut.
2. Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan di Pantai Melasti dengan dua
hari yg berbeda percobaan pertama pada sore hari rabu tanggal 14 desember
2016, percobaan kedua dan ketiga pada sore hari kamis tanggal 15 desember
2016, tiap percobaan dilakukan 10 kali pengulangan, dengan menggunakan
tali sepanjang 10 meter. Didapatkan kecepatan rata-rata arus di Pantai Melasti
sebagai berikut: Pada percobaan 1 dengan keadaan air laut pasang dan cuaca
hujan deras diperoleh kecepatan rata-rata arus sebesar 0,240 m/s. Pada
percobaan 2 dengan keadaan air laut surut dan cuaca panas diperoleh
kecepatan rata-rata arus sebesar 0,129 m/s. Pada percobaan 3 dengan keadaan
air laut cerah dan cuaca cerah diperoleh kecepatan rata-rata arus sebesar 0,123
m/s.
DAFTAR PUSTAKA

Brown et al, 1989. Data Analysis Methods is Physical Oceanography.UK :Elsevier


Science Publisher.

Gross MG.1990. Oceanography. Sixth edition. New York: Macmillan Publishing


Company.
Johnson D, Pattiaratchi C. 2004. Application, Modelling and Validation of Surfzone
Drifters. Coastal Engineering Journal.
Oli A. 2003. Kajian faktor fisik yang mempengaruhi distribusi ichthyoplankton (awal
daur hidup ikan)
Pond, S dan G.L Pickard. 1983. Introductory dynamical Oceanography. Second
edition. Pergamon Press. New York
Sudarto, et al, 2013. Kondisi Arus Permukaan Di Perairan Pantai: Pengamatan
Dengan Metode Lagrangian. Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan
Tangkap. 1 (3) : 98-102.
LAMPIRAN