Anda di halaman 1dari 13

REFERAT

Diagnosis dan Penanganan Batuk Kronik Berulang

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Pendidikan Dokter Umum


Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta

Pembimbing :

dr. Aloysius Septiarko, Sp.A


dr. Hj. Elief Rohana, Sp. A., M. Kes

Oleh :
Jean Stevany Suryana Putri
J 510 145 076

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


RSUD KARANGANYAR
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015
LEMBAR PENGESAHAN

REFERAT

Diagnosis dan Penanganan Batuk Kronik Berulang

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Pendidikan Dokter Umum


Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta

Oleh :
Jean Stevany Suryana Putri
J 510 145 076

Disetujui dan disahkan pada tanggal Mei 2015

Pembimbing :
dr. Aloysius Septiarko, Sp.A (.........................................................)

Pembimbing :
dr. Hj. Elief Rohana, Sp. A., M. Kes (.........................................................)

Mengetahui
Ka Program Profesi
dr. D. Dewi Nirmalawati (...................................................)
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Batuk merupakan masalah umum yang sering terjadi pada anak. Batuk
pada anak dapat merupakan suatu respon tubuh nonspesifik untuk mengeluarkan
benda asing ataupun mengindikasikan adanya kelainan di sistem pernapasan mulai
dari hidung sampai dengan alveoli ataupun masalah di luar sistem pernapasan.
Batuk pada anak menimbulkan kecemasan bagi orang tua dan dapat mengganggu
aktivitas sehari-hari anak, mengurangi nafsu makan, dan pada akhirnya dapat
mengganggu proses tumbuh kembang.
Batuk dalam bahasa latin disebut tussis adalah refleks yang dapat terjadi
secara tiba-tiba dan sering berulang-ulang yang bertujuan untuk membantu
membersihkan saluran pernapasan dari lendir, iritasi, partikel asing dan mikroba.
Batuk kronik merupakan episode batuk yang terjadi lebih dari 4 minggu. Istilah
lain yang berdekatan dengan batuk kronik, yaitu batuk berulang (recurrent
cough). Batuk kronik berulang (BKB) adalah keadaan klinis oleh berbagai
penyebab dengan gejala batuk yang berlangsung selama 2 minggu atau lebih
dan/atau batuk yang berulang sedikitnya 3 episode dalam 3 bulan berturut, dengan
atau tanpa disertai gejala respiratorik atau non-respiratorik lainnya.
Batuk masih menjadi masalah kesehatan masyarakat hampir pada semua
negara di dunia, dengan prevalensi yang cukup tinggi terutama pada anak.
Penelitian epidemiologi BKB pada anak sulit dilakukan karena definisi periode
batuk kronik yang bervariasi dan perbedaan pemahaman antara orangtua dan
tenaga medis mengenai batuk normal yang diharapkan dengan batuk yang
patologis. Penelitian kuisioner prevalensi kejadian batuk pada anak Australia dan
Nigeria, menghasilkan prevalensi batuk kronik lebih dari tiga minggu sebesar
37% pada anak Australia kelompok usia 5-7 tahun, 40% pada anak Australia
kelompok usia 8-11 tahun dan 50% pada anak Nigeria kelompok usia 8-11 tahun.
Di Indonesia penelitian yang dilakukan di poliklinik anak RSCM pada tahun .
Penyebab terjadinya batuk kronik berulang pada anak diakui berbeda dengan
batuk yang terjadi pada orang dewasa sehingga penanganan batuknya pun menjadi
berbeda Batuk kronik pada anak bukan merupakan suatu diagnosis melainkan
suatu gejala sehingga tatalaksana batuk kronik bergantung kepada penegakan
etiologinya.

B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah cara mendiagnosis dan penanganan dari batuk kronik
berulang pada anak ?

C. Tujuan
Tujuan penulisan referat ini adalah untuk mengetahui lebih lanjut
mengenai diagnosis dan penanganan batuk kronik berulang pada anak.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
BKB menurut Kelompok Pulmonologi Anak dalam Kongres
Nasional Ilmu Kesehatan Anak (KONIKA) V tahun 1981 didefinisikan
sebagai keadaan klinis oleh berbagai penyebab dengan gejala batuk yang
berlangsung selama 2 minggu atau lebih dan / atau batuk yang berulang
sedikitnya 3 episode dalam 3 bulan berturut, dengan atau tanpa disertai
gejala respiratorik atau non-respiratorik lainnya.

B. Mekanisme terjadinya batuk


Batuk timbul apabila terdapat rangsangan pada reseptor batuk yang
terdapat di laring, trakea, bronkus, telinga, lambung, hidung, sinus
paranasal, faring, perikardium dan diafragma. Dari reseptor batuk, impuls
diteruskan ke pusat batuk di medula oleh saraf aferen yaitu cabang nervus
vagus, nervus trigeminus, nervus glosofaringeus dan nervus frenikus.
Pusat batuk mengirimkan impuls lewat saraf eferen yaitu nervus vagus,
nervus frenikus, interkostal dan lumbalis ke efektor yaitu otot-otot laring,
trakea, bronkus, diafragma, interkostal, abdominal dan lumbal.
Zat yang dapat merangsang batuk antara lain mediator inflamasi
seperti histamin, bradikinin, dan prostaglandin, iritan kimia seperti nikotin,
sulfur dioksida, klor, asam sitrat dan asam asetat, aerosol, mekanik seperti
debu, udara dingin atau panas, instrumentasi di saluran napas dan larutan
osmotik seperti larutan natrium klorida hipertonik, larutan gula dan larutan
urea.
Proses batuk terjadi didahului inspirasi maksimal, penutupan
glotis, peningkatan tekanan intra toraks lalu glotis terbuka dan dibatukkan
secara eksplosif untuk mengeluarkan benda asing yang ada pada saluran
respiratorik. Inspirasi diperlukan untuk mendapatkan volume udara
sebanyak-banyaknya sehingga terjadi peningkatan tekanan intratorakal.
Selanjutnya terjadi penutupan glotis yang bertujuan mempertahankan
volume paru pada saat tekanan intratorakal besar. Pada fase ini terjadi
kontraksi otot ekspirasi karena pemendekan otot ekspirasi sehingga selain
tekanan intratorakal tinggi tekanan intraabdomen pun tinggi. Setelah
tekanan intratorakal dan intraabdomen meningkat maka glotis akan
terbuka yang menyebabkan terjadinya ekspirasi yang cepat, singkat, dan
kuat sehingga terjadi pembersihan bahan-bahan yang tidak diperlukan
seperti mukus dan lain-lain. Setelah fase tersebut maka otot respiratorik
akan relaksasi yang dapat berlangsung singkat atau lama tergantung dari
jenis batuknya. Apabila diperlukan batuk kembali maka fase relaksasi
berlangsung singkat untuk persiapan batuk.

C. Etiologi
Berdasarkan usia, etiologi batuk dibagi menjadi :

Berdasarkan kondisi klinis anak Batuk Kronik Berulang (BKB) dibagi


menjadi :

D.
Diagnosis
Penegakan diagnosis BKB dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik,
dan pemeriksaan penunjang.
1. Anamnesis
Berbagai pertanyaaan yang perlu ditanyakan saat anamnesis
diantaranya meliputi kapan batuk, apakah lebih sering terjadi dari pada
biasa, apakah timbul pada malam hari, apakah mengganggu tidur,
bagaimana bunyi batuk, apakah ada gejala penyerta (demam, mengi,
sesak), apakah sebelumnya pernah terjadi dengan pola yang sama? Hal
lain yang perlu digali, apakah ada hal yang memperberat atau
meringankan gejala. Secara khusus tanyakan pencetus yang lazim pada
asma (aktivitas, tertawa, menangis, pajanan udara dingin, perubahan
cuaca, debu, asap, atau rontokan bulu binatang) dan apakah
memperburuk gejala. Pertanyaan lain meliputi terapi apa yang pernah
didapat, dan bagaimana hasilnya. Gejala lain yang menyertai batuk,
apakah anak mengalami gangguan tumbuh kembang, apakah batuk
mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup anak.
Batuk yang terjadi pada bayi baru lahir kemungkinan besar
penyebabnya adalah defek kongenital yang mengganggu proses
menelan sehingga terjadi aspirasi respiratorik. Lahir prematur dan
pemakaian ventilator meningkatkan risiko kelainan saluran pernapasan.
Kista, lesi di saluran napas, dan trakeomalasia yang ada sejak lahir
dapat menyebabkan rangsangan kronik terhadap reseptor batuk.
Batuk karena aspirasi makanan atau penyakit refluk gastro
esofagus (RGE) dapat dicurigai bila ada riwayat tersedak dan muntah
saat makan. Batuk dan sesak karena aspirasi benda asing terjadi pada
anak yang sebelumnya sehat yang dicurigai bermain dengan benda kecil
atau bermain di lingkungan yang berpasir atau berdebu.
Batuk yang bersifat produktif atau berdahak dengan keluhan sesak
mengindikasikan batuk yang spesifik. Batuk spesifik adalah batuk
dengan penyakit yang mendasarinya. Batuk lama yang disertai gejala
obstruksi saluran napas atas yang parsial seperti mengorok, mengi,
apneu sementara, somnolen, gelisah, dan nafas berbau harus dipikirkan
adanya aspirasi makanan atau benda asing yang tidak terdeteksi. Batuk
disertai suara serak dapat terjadi pada papiloma laring atau
laringomalasia. Batuk yang terjadi dengan keluhan sakit kepala dan
nyeri pada wajah, hidung tersumbat, ingus purulen atau post nasal drip
syndrome dapat dipikirkan diagnosis (rino)sinusitis. Batuk yang terjadi
saat aktivitas dengan riwayat mudah lelah atau riwayat biru harus
dipikirkan adanya kelainan jantung. Sedangkan batuk yang dipengaruhi
atau dicetuskan oleh perubahan posisi kemungkinan disebabkan
penyakit RGE.
Riwayat atopi, alergi dan asma pada pasien dan keluarganya harus
ditelusuri untuk mencari kemungkinan batuk dengan etiologi asma atau
alergi. Jika ada riwayat asma, harus ditanyakan terapi yang pernah
didapat, waktu dan cara pemberiannya dan bagaimana hasilnya.
Riwayat penurunan berat badan yang drastis, gangguan tumbuh
kembang, pembesaran kelenjar getah bening, keringat malam, riwayat
kontak dengan penderita TB perlu ditanyakan untuk menggali
kemungkinan TB paru. Riwayat batuk berdarah, batuk lebih dari 6
bulan harus ditanyakan untuk menelusuri kemungkinan aspirasi benda
asing atau makanan yang tidak terdeteksi, bronkiektasis atau TB paru.
2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik yang harus dikenali pertama kali adalah
tipe batuk. Batuk kering atau berdahak dan produktif dengan suara
nafas yang khas merupakan petunjuk adanya batuk kronik berulang
yang spesifik. Adanya mengi atau krepitasi menunjukkan adanya asma
atau aspirasi benda asing.
Pembesaran tonsil, adenoid, polip nasi, dan otitis media supuratif
dapat juga menimbulkan batuk kronik berulang. Adanya serumen atau
benda asing dalam liang telinga dapat menyebabkan batuk kronik
karena sebagian orang memiliki Arnold nerve di liang tengah telinga
yang akan meneruskan rangsangan mekanik ke pusat batuk. Jari tabuh,
sianosis sentral atau perifer, retraksi napas maupun murmur jantung
harus diperiksa untuk menelusuri kemungkinan kelainan atau payah
jantung sebagai penyebab batuk.
3. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan radiologik
Foto toraks perlu dibuat pada semua pasien batuk kronik. Foto
toraks perlu dibuat pada hampir semua anak dengan batuk kronik
untuk menyingkirkan kelainan respiratorik bawah dan patologi
kardiovaskular.
b. Pemeriksaan penunjang lain
Uji fungsi paru dilakukan pada anak-anak yang sudah dapat
melaksanakannya sebelum dan setelah pemakaian bronkodilator.
Uji tuberkulin perlu dilakukan pada anak-anak, terlebih dengan
gejala batuk kronik. Bila dicurigai adanya refluks gastro-esofagus,
perlu dilakukan pemeriksaan monitoring 24 jam pH esofagus, bila
perlu dilakukan pemeriksaan endoskopi.
Foto sinus paranasalis dindikasikan pada pasien dengan
infeksi respiratorik akut (IRA) disertai sekret purulen, batuk yang
bertambah pada posisi telentang, nyeri daerah frontal, dan nyeri
tekan / ketok di atas sinus. CT scan sinus lebih dianjurkan terutama
untuk anak kecil yang sinusnya belum berkembang sepenuhnya.
Pemeriksaan imunologis (IgG, IgE, IgM, IgA) perlu
dilakukan pada kasus batuk yang berhubungan dengan otitis
berulang, bronkiektasis, atau batuk produktif yang tidak responsif
dengan antibiotik. Pada pasien yang diduga penyebabnya alergi
atau dalam keluarga dijumpai adanya riwayat alergi maka perlu
dilakukan pemeriksaan IgE dan mungkin dianjurkan untuk
pemeriksaan uji kulit.

E. Tatalaksana
Tata laksana untuk batuk kronik harus ditujukan kepada
penyebabnya. Etiologi batuk kronik pada anak juga ternyata seringkali
berbeda dengan etiologi pada orang dewasa. Tatalaksana batuk kronik
pada anak dianjurkan untuk melakukan watch, wait, and review.
1. Farmakologik
Tatalaksana farmakologi pada batuk dikenal sebagai obat utama dan
obat suportif. Yang termasuk obat utama adalah antibiotik, bronkodilator,
dan antiinflamasi, sedangkan yang termasuk obat suportif adalah
mukolitik dan antitusif. Pada batuk kronik dengan penyebab utama infeksi
bakteri maka pengobatan utamanya adalah antibiotik. Jenis antibiotik yang
diberikan tergantung dugaan etiologinya, misalnya pada faringitis yang
diduga bakteri maka pilihan utama adalah golongan penisilin sedangkan
pada rinosinusitis sebagai pilihan utama adalah kombinasi amoksisilin dan
asam klavulanat .
Penyebab batuk kronik yang sering adalah asma sehingga
pengobatan utama pada saat serangan asma adalah bronkodilator.
Bronkodilator yang digunakan sebaiknya dalam bentuk inhalasi karena
mempunyai awitan yang cepat, langsung menuju sasaran, dosis kecil, dan
efek samping kecil. Pada serangan asma, bronkodilator yang digunakan
adalah yang termasuk dalam golongan short acting sedangkan pada
tatalaksana jangka panjang digunakan long acting beta-2 agonist (sebagai
adjuvan terhadap obat pengendali utama yaitu steroid inhalasi).
Bronkodilator yang sering digunakan pada serangan asma adalah
salbutamol, terbutalin, prokaterol, dan ipratropium bromida, sedangkan
pada tatalaksana jangka panjang adalah formoterol, salmeterol, dan
bambuterol.
Pada batuk kronik yang didasari inflamasi sebagai faktor etiologi
seperti rinitis alergika dan asma pemberian antiinflamasi merupakan
pilihan utama. Pada rinitis alergika antiinflamasi yang dianjurkan adalah
kortikosteroid intranasal selama 4-8 minggu. Penggunaan antiinflamasi
untuk asma terbagi dalam 2 kelompok besar, yaitu untuk tatalaksana
serangan asma dan tatalaksana di luar serangan asma. Untuk mengatasi
serangan asma, antiinflamasi (kortikosteroid) yang digunakan umumnya
sistemik yaitu pada serangan asma sedang dan serangan asma berat. Pada
serangan asma ringan umumnya tidak diberikan kortikosteroid kecuali
pernah mengalami serangan berat yang memerlukan perawatan
sebelumnya. Pemberian kortikosteroid pada asma di luar serangan
diberikan secara inhalasi yaitu pada asma episodik sering dan asma
persisten. Pada keadaan tersebut umumnya kortikosteroid inhalasi
dikombinasikan dengan long acting beta-2 agonist.
Selain pengobatan utama beberapa kasus diberikan obat suportif
seperti ekspektoran, mukolitik dan antitusif. Ekspektoran adalah obat yang
bekerja meningkatkan sekresi saluran pernapasan. Yang sering digunakan
adalah gliseril guaikolat. Guaikol disamping sebagai ekspektoran juga
bekerja mengencerkan sekret.
Mukolitik adalah obat yang dapat mengurangi viskositas lendir yang
kental sehingga mudah dibatukkan misalnya asetil sistein. Cara kerja
mukolitik ada beberapa mekanisme yaitu mengubah viskositas lapisan gel,
menurunkan kelengketan lapisan gel, dan meningkatkan kerja silia. Selain
bekerja dengan mekanisme tersebut di atas mukolitik dapat pula memecah
ikatan mukoprotein atau ikatan disulfid dari sputum sehingga sputum
mudah untuk dikeluarkan.
Antitusif adalah obat yang bekerja menekan refleks batuk baik
secara sentral maupun perifer pada reseptor batuk contohnya
dektrometorfan hidrobromid (non narcotic antitussive) dan kodein posfat
(narcotic antitussive). Antitusif digunakan pada batuk non produktif (batuk
kering), tidak boleh digunakan pada batuk supuratif dan hipersekresi
lendir. Antitusif merupakan obat suportif lain yang diberikan pada batuk
kronik tetapi penggunaan antitusif terutama bagi anak-anak harus
dipertimbangkan secara hati-hati. Pemberian antitusif justru akan membuat
sputum tidak dapat keluar karena menekan refleks batuk yang dibutuhkan
untuk mengeluarkan sputum. Pada asma pemberian antitusif merupakan
kontraindikasi karena akan memperberat keadan asmanya.
2. Non Farmakologik
Fisioterapi merupakan salah satu pengobatan non farmakologik bersifat
suportif. Pada anak dimana terdapat banyak sekret dalam saluran
pernapasan maka drainage postural, diatermi sangat membantu.
F. Pencegahan
Pada penyakit yang hanya timbul akibat adanya pajanan alergen
maka faktor pencegahan terhadap alergen merupakan hal yang harus
dilakukan misalnya pencegahan terhadap asap rokok, tungau debu rumah,
atau makanan tertentu yang menyebabkan alergi. Selain itu pengaturan
lingkungan seperti kebersihan lingkungan dan pengaturan suhu serta
kelembaban merupakan hal yang perlu diperhatikan. Dengan suasana
lingkungan yang baik maka tatalaksana batuk kronik menjadi lebih baik.

BAB III
Kesimpulan

Batuk kronik berulang merupakan suatu keadaan klinis oleh berbagai


penyebab dengan gejala batuk yang berlangsung selama 2 minggu atau lebih dan /
atau batuk yang berulang sedikitnya 3 episode dalam 3 bulan berturut, dengan
atau tanpa disertai gejala respiratorik atau non-respiratorik lainnya.
Penyebab batuk tersering pada anak disebakan oleh infeksi respiratorik
akut dimana sebagian besar penyebabnya adalah virus. Namun banyak sekali
penyakit dan kelainan di sistem respiratorik baik atas ataupun bawah serta
penyakit di luar sistem respiratorik dapat menyebabkan gejala batuk. Oleh karena
itu dokter harus melakukan upaya pencarian etiologi agar dapat melakukan
tatalaksana dengan tepat.
Pendekatan diagnosis untuk batuk mengikuti alur baku diagnosis medis
yaitu melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Manajemen batuk pada anak berbeda dengan orang dewasa karena banyak faktor
yang berperan mulai dari aspek tumbuh kembang, fisiologi dan mekanisme batuk
pola penyakit serta pertimbangan lainnya.
Tatalaksana batuk mencakup terapi farmakologi dan non farmakologi.
Terapi farmakologi diantaranya mencakup pemberian antibiotik pada kasus-kasus
batuk yang penyebabnya adalah bakteri, antiinflamsi, dan pemberian obat batuk
seperti ekspektoran, mukolitik, dan antitusif. Antitusif pada anak pemberiannya
dikontraindikasikan karena dapat menekan reflek batuk untuk mengeluarkan
sputum.

DAFTAR PUSTAKA

Boediman I. Patofisiologi batuk. Dalam: Trihono PP, Kurniati N,


penyunting. Strategi Pendekatan Klinis Secara Profesional Batuk pada Anak.
Edisi ke-1. Jakarta: Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM; 2006.h.1-6.

Irwin RS, Madison JM. The diagnosis and treatment of cough. NJEM.
2000;343:1715-21

Lubis HM., 2005. Batuk Kronik dan Berulang (BKB) pada Anak.
Sumatera : FK USU.

Setyanto DB., 2004. Batuk Kronik pada Anak: masalah dan tata laksana.
Sari Pediatri, Vol. 6, No. 2, September 2004: 64-70.

Setyanto DB., 2006. Pendekatan Diagnosis Etiologi Batuk dalam Strategi


Pendekatan Klinis Secara Profesional Batuk pada Anak. Jakarta : FK UI.

Supriyanto, Bambang., 2010. Batuk Kronik Pada Anak. Majalah


Kedokteran Indonesia, Volume: 60, Nomor: 6, Juni 2010.