Anda di halaman 1dari 13

1

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab hasil penelitian ini akan menguraikan tentang hasil penelitian dan
pembahasan mengenai hubungan kadar HbA1c dengan kadar LDL-C pada
penderita Diabetes Melitus tipe 2 di Medan pada bulan juni 2017 dan selanjutnya
dilakukan pemeriksaan kadar HbA1c dan kadar LDL-C di laboratorium klinik
Prodia Jl. S. Parman No.17/223G, Medan setelah selesai seminar proposal.
Dengan menggunakan teknik Consecutive Sampling diperoleh 10 orang subjek
penderita diabetes melitus tipe 2 yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak
memenuhi kriteria ekslusi sebagai subjek penelitian yang terdiri dari 6 orang
perempuan dan 4 orang laki-laki.

4.1. Hasil Penelitian


4.1.1. Karakteristik Subjek
Karakteristik subjek dalam penelitian ini hanya meliputi umur dan jenis
kelamin
4.1.1.1. Karakteristik Subjek Berdasarkan Umur
Umur subjek dalam penelitian ini dikelompokkan kedalam 4 kelompok
yakni kelompok umur 45-50 tahun, 51-55 tahun, 56-60 tahun dan >60 tahun
dengan distribusi frekuensi sebagai berikut ;
Tabel 4.1.
Karakteristik Subjek Berdasarkan Umur
No Kelompok Umur Jumlah (n) Persentase (%)
1 45-50 tahun 2 20.0
2 51-55 tahun 2 20.0
3 56-60 tahun 3 30.0
4 >60 tahun 3 30.0
Total 10 100.0
Sumber : Hasil penelitian 2017 (data diolah)
2

Tabel 4.1 memperlihatkan bahwa dari 10 subjek, 2 orang (20.0%) berumur


antara 45-55 tahun, 2 orang (20.0%) berumur antara 51-55 tahun, 3 orang (30.0%)
berumur antara 56-60 tahun dan 3 orang (30.0%) berumur lebih dari 60 tahun.
Dengan demikian, mayoritas subjek memiliki umur antara 55-60 tahun dan >60
tahun yakni masing masing sebanyak 3 orang (30.0%).

4.1.1.2. Karakteristik Subjek Berdasarkan Jenis kelamin


Karakteristik subjek berdasarkan jenis kelamin dalam penelitian ini dapat
dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.2.
Karakteristik Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Jumlah (n) Persentase (%)
1 Laki-laki 4 40.0
2 Perempuan 6 60.0
Total 10 100.0
Sumber : Hasil penelitian 2017 (data diolah)

Tabel 4.2 memperlihatkan bahwa dari 10 subjek, 4 orang (40.0%) adalah


laki-laki dan 6 orang (60.0%) perempuan.

4.1.1.3. Kadar HbA1c


Kadar HbA1c dalam penelitian ini dibagi kedalam 3 (tiga) kategori yakni
baik (<6,5%); sedang (6.5-8%); dan buruk (>8.0%) dengan distribusi frekuensi
sebagai berikut :
3

Tabel 4.3.
Kadar HbA1c
Subjek Jenis Usia HbA1c (%) Kategori
kelamin (Tahun)
1 LK 50 10.4 Buruk
2 LK 53 9.7 Buruk
3 PR 60 8.9 Buruk
4 LK 63 8.8 Buruk
5 PR 62 9.4 Buruk
6 PR 47 11.5 Buruk
7 PR 58 11.7 Buruk
8 PR 54 9.2 Buruk
9 PR 58 9.6 Buruk
10 LK 63 8 Sedang
Sumber : Hasil penelitian 2017 (data diolah)
Tabel 4.3 memperlihatkan bahwa dari 10 subjek, tidak ada subjek yang
memiliki kadar HbA1c baik , 1 orang (10.0%) memiliki kadar HbA1c sedang, dan
9 orang (90.0%) memiliki kadar HbA1c buruk. Dengan demikian, mayoritas
subjek penelitian memiliki kadar HbA1c buruk yakni sebanyak 9 orang (90.0%).
Berikut ini adalah grafik komposisi subjek berdasarkan kadar HbA1c.

Komposisi Subjek Berdasarkan Kadar HbA1c


90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
BAIK SEDANG BURUK

Gambar 4.3.
Grafik Kadar HbA1c Subjek Penelitian
4

4.1.1.4. Kadar LDL-C


Kadar LDL-C dalam penelitian ini dikategorikan kedalam 5 kategori
yakni optimal (<100 mg/dl), mendekati optimal (100-129 mg/dl), batas tinggi
(130-159 mg/dl), tinggi (160-189) dan sangat tinggi (>190 mg/dl) dengan
distribusi frekuensi sebagai berikut ;
Tabel 4.4.
Komposisi Subjek Berdasarkan Kadar LDL-C
No Subjek Jenis Usia (Tahun) LDL-C Kategori
kelamin (mg/dL)
1 LK 50 151 Batas tinggi
2 LK 53 124 Mend.optimal
3 PR 60 149 Batas tinggi
4 LK 63 172 Tinggi
5 PR 62 153 Batas tinggi
6 PR 47 191 Sangat tinggi
7 PR 58 176 Tinggi
8 PR 54 136 Batas tinggi
9 PR 58 148 Batas tinggi
10 LK 63 112 Mend.optimal
Sumber : Hasil penelitian 2017 (data diolah)

Tabel 4.4 memperlihatkan bahwa dari 10 subjek, tidak ada yamg memiliki
kadar LDL-C yang optimal, 2 orang (20.0%) memiliki kadar LDL-C mendekati
normal, 5 orang (50.0%) memiliki kadar LDL-C batas tinggi, 2 orang (20.0%)
memiliki kadar LDL-C tinggi dan 1 orang (10.0%) memiliki kadar LDL-C sangat
tinggi. Dengan demikian, mayoritas subjek memiliki kadar LDL-C batas tinggi
yakni sebanyak 5 orang (50.0%). Berikut ini adalah grafik komposisi subjek
berdasarkan kadar LDL-C.
5

Komposisi Subjek Berdasarkan Kadar LDL-C

50
45
40 Optimal
35 Mendekati
30 optimal
Batas tinggi
25
20 Tinggi

15
10
5
0

Gambar 4.4.
Grafik Komposisi Subjek berdasarkan Kadar LDL-C

4.1.2.5. Nilai Rata-rata Kadar HbA1c dan Kadar LDL-C


Berdasarkan Umur

Nilai rata-rata Kadar HbA1c dan kadar LDL-C berdasarkan umur dapat
dilihat pada tabel berikut ;
Tabel 4.5.
Nilai Rata-rata Kadar HbA1c dan Kadar LDL-C Berdasarkan Umur
No Umur Kadar HbA1c Kadar LDL-C
(tahun) (%) (mg/dl)
1 45-50 10.95 0.77 171.00 28.28
2 51-55 9.45 0.35 130.00 8.48
3 56-60 11.10 10.06 157.66 15.88
4 >60 8.73 0.70 145.66 30.66
Sumber : Hasil penelitian 2017 (data diolah)
Tabel 4.4 memperlihatkan bahwa subjek penelitian umur 45-50 tahun,
memiliki kadar HbA1c sebesar 10.95 0.77 dan kadar LDL-C tertinggi yakni
6

sebesar 171.00 28.28, sedangkan subjek kelompok umur 51-55 tahun memiliki
nilai rata-rata kadar HbA1c sebesar 9.45 0.35 dan kadar LDL-C terendah
yakni sebesar 130 8.48 mg/dl, kelompok umur 56-60 tahun memiliki kadar
HbA1c rata-rata tertinggi yakni sebesar 11.10 10.06 dan kadar LDL-C sebesar
157.66 15.88. Sedangkan kelompok umur >60 tahun, memiliki kadar HbA1c
rata-rata terendah yakni sebesar 8.73 0.70 dan kadar LDL-C sebesar 145.66
30.66.

4.2. Analisis Data


4.2.1. Uji Normalitas Data
Sebelum melakukan uji hipotesis dengan uji Korelasi untuk mengetahui
hubungan antara variabel bebas (HbA1c) dengan variabel terikat (Kadar LDL-C),
perlu dilakukan uji normalitas data untuk mengetahui apakah data penelitian
berdistribusi normal atau tidak dengan menggunakan uji Kolmogorov Sminrnov
dan uji Shapiro Wilk. Tetapi, karena subjek penelitian kurang dari 50, yakni
hanya 10 subjek, maka uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji
Shapiro Wilk dengan hasil sebagai berikut ;
Tabel 4.6
Hasil Uji Normalitas Data Kadar Hb1Ac dan Kadar LDL-C
Parameter/variabel Shapiro-Wilk Kesimpulan
Statistic df Sig.
HbA1C (%) .932 10 .469 Berdistribusi Normal
LDL-C(mg/dL) .973 10 .917 Berdistribusi Normal
Sumber : Hasil penelitian 2017 (data diolah)

Tabel 4.6 di atas memperlihatkan bahwa nilai signifikansi (p-value)


untuk kedua variabel penelitian secara berturut turut adalah 0.469 dan 0.917,
lebih besar dari 0.05, sehingga dapat disimpulkan bahwa data penelitian
berdistribusi normal sehingga uji hipotesis dilakukan dengan uji korelasi Pearson.
7

4.2.2. Uji Korelasi Pearson


Uji korelasi Pearson dilakukan untuk mengetahui hubungan antara 2
variabel numerik, dimana dalam penelitian ini kedua variabel adalah kadar
HbA1c dan Kadar LDL-C dimana hasil uji korelasi Pearson memperlihatkan
hasil sebagai berikut :
Tabel 4.7.
Hasil Uji Korelasi Pearson Hubungan antara Kadar HbA1c dengan Kadar
LDL-C Pada Penderita Diabetes Melitus tipe-2
Pearson Correlations
HbA1C (%) LDL-C(mg/dL)
Pearson Correlation 1 .704*
HbA1C (%) Sig. (2-tailed) .023
N 10 10
Pearson Correlation .704* 1
LDL-C(mg/dL) Sig. (2-tailed) .023
N 10 10
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
Tabel 4.7 di atas memperlihatkan bahwa nilai signifikansi korelasi antara
HbA1c dengan kadar LDL-C adalah 0.023, lebih kecil dari 0.05, sehingga dapat
disimpulkan bahwa kadar HbA1c memiliki hubungan signifikan dengan kadar
LDL-C. Selanjutnya, untuk mengetahui kekuatan korelasi tersebut, dipergunakan
tabel interpretasi korelasi berikut :
Tabel 4.8
Interpretasi Koefisien Korelasi
No Interval Koefisien Tingkat Kekuatan Korelasi
1 0.00-0.19 Sangat rendah
2 0.20-0.39 Rendah
3 0.40-0.59 Sedang
4 0.60-0.79 Kuat
5 0.80-1.00 Sangat kuat
8

Berdasarkan tabel tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa nilai


koefisien korelasi antara HbA1c dengan Kadar LDL-C sebesar 0.704 tersebut di
atas setelah dibandingkan dengan tabel konfirmasi korelasi maka diketahui bahwa
r-hitung (0.704) berada diantara 0.60 -0.79. Hal ini berarti kadar HbA1c memiliki
hubungan korelasi kuat dengan kadar LDL-C.

4.2.3. Scatter Diagram


Hubungan korelasi antara kadar HbA1c dengan kadar LDL-C di atas juga
dapat dikonfirmasi dengan gambar scatter diagram berikut :

Grafik Hubungan Kadar HbA1c (%) dengan Kadar LDL-


C(mg/dL)

250 y = 14.423x + 10.868


Kadar LDL-C

200 R2 = 0.4872
(mg/dL)

150
100
50
0
0 5 10 15
Kadar HbA1c(%)

Gambar 4.5.
Scatter Diagram Hubungan Antara HbA1c dengan Kadar LDL-C
Gambar 4.5 scatter diagram memperlihatkan bahwa persamaan garis linier
antara variabel X (Kadar HbA1c) dengan variabel Y (LDL-C) adalah sebagai
berikut :
Y = a + bX
Y = 11.726 + 14.349X dengan besar pengaruh sebesar 0.4957.
Dimana: Y = variabel dependent (kadar HbA1c)
X = variabel independent (kadar LDL-C)
a = konstanta
b = koefisien regresi
9

BAB V
PEMBAHASAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar HbA1c


dengan kadar LDL-C pada penderita diabetes melitus tipe 2. Dengan jumlah
sabjek sebanyak 10 orang yang terdiri dari 6 orang perempuan dan 4 orang laki-
laki.
Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan didapati hasil
analisis kuantitatif dengan uji korelasi Pearson memperlihatkan bahwa kadar
HbA1c memiliki hubungan korelasi signifikan dengan kadar LDL-C dengan
kekuatan hubungan yang kuat (r-hitung = 0.704) dengan nilai signifikansi 0.023
(p<0.05). Hal ini berarti bahwa ada hubungan linier signifikan dan kuat antara
kadar HbA1c dengan kadar LDL-C. Dengan kata lain, semakin tinggi kadar
HbA1c semakin tinggi pula kadar LDL-C.
Hasil analisis kuantitatif memperlihatkan bahwa dari 10 subjek, 1 orang
(10.0%) memiliki kadar HbA1c sedang, dan 9 orang (90.0%) memiliki kadar
HbA1c buruk. Hal ini berarti bahwa, mayoritas subjek penelitian memiliki kadar
HbA1c buruk yakni sebanyak 9 orang (90.0%).
Ditinjau dari faktor umur, subjek penelitian umur 44-50 tahun memiliki
kadar HbA1c sebesar 10.95 0.77. Subjek kelompok umur 51-55 tahun memiliki
nilai rata-rata kadar HbA1c sebesar 9.45 0.35. Subjek kelompok umur 56-60
tahun memiliki kadar HbA1c rata-rata tertinggi yakni sebesar 11.10 10.06 dan
subjek kelompok umur >60 tahun memiliki kadar HbA1c rata-rata terendah yakni
sebesar 8.73 0.70.

Sedangkan hasil analisis kuantitatif pada kadar LDL-C memperlihatkan


bahwa dari 10 subjek, 2 orang (20.0%) memiliki kadar LDL-C mendekati
optimal, 5 orang (50.0%) memiliki kadar LDL-C batas tinggi, 2 orang (2.0%)
memiliki kadar LDL-C tinggi dan 1 orang (1.0%) memiliki kadar LDL-C sangat
tinggi. Dengan demikian, mayoritas subjek memiliki kadar LDL-C batas tinggi
yakni sebanyak 5 orang (50.0%).
10

Ditinjau dari faktor umur, subjek penelitian umur 44-50 tahun memiliki
kadar LDL-C tertinggi yakni sebesar 171.00 28.28. Subjek kelompok umur 51-
55 tahun memiliki nilai rata-rata kadar LDL-C terendah yakni sebesar 130
8.48 mg/dl. Kelompok umur 56-60 tahun memiliki kadar LDL-C sebesar 157.66
15.88 dan subjek kelompok umur >60 tahun memiliki kadar LDL-C sebesar
145.66 30.66.
Hasil analisis kuantitatif dengan uji korelasi Pearson memperlihatkan
bahwa kadar HbA1c memiliki hubungan korelasi signifikan dengan kadar LDL-C
dengan kekuatan hubungan yang kuat (r-hitung = 0.704) dengan nilai signifikansi
0.023 (p<0.05). Hal ini berarti bahwa ada hubungan linier signifikan dan kuat
antara kadar HbA1c dengan kadar LDL-C. Dengan kata lain, semakin tinggi
kadar HbA1c semakin tinggi pula kadar LDL-C.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan
oleh Muraliswaran (2016) yang dilakukan oleh Departemen Biokimia Universitas
Kedokteran Sri Venkeshwaraa, Pududcherry, India pada 84 orang partisipan yang
didiagnosa Diabetes Melitus Tipe 2. Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan
yang signifikan dan kuat antara HbA1c dengan LDL-C didapati nilai r sebesar
0,773 dan p = 0.001.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
Mubashra et all (2017) dengan judul Lipid Profile Patterns And Assosiation
Between Glycated Haemoglobin(HbA1c) And Atherogenic Index Of Plasma
(AIP) In Diabetes Patiens At A Tertiary Care Hospital In Malaysia pada 72
orang partisipan yang didiagnosa Diabetes Melitus Tipe 2. Penelitian ini
menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dan sangat kuat antara HbA1c
dengan LDL-C didapati nilai r sebesar 0.98 dan p= 0.002.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan
oleh singh and kumar (2011) yang dilakukan dikabupaten Puala dari Punjabi,
India pada 120 orang partisipan yang didiagnosis DM tipe 2. Penelitian ini
menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dan sedang antara HbA1c dengan
LDL-C didapati nilai r sebesar 0,5 dan p sebesar 0.004.
11

Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian


sebelumnya yang dilakukan oleh Glorya S dkk Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado dengan judul Hubungan
Kadar HbA1c dengan Kadar Profil Lipid pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di
Poliklinik Endokrin & Metabolisme RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado pada
tahun 2013 dan dengan menggunakan uji korelasi membuktikan bahwa kadar
HbA1c memiliki hubungan positif yg kuat dan tidak signifikan dengan kadar
LDL-C didapati nilai r sebesar 0,733 dan p = 0.116.

Penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan Yasis


Bashir (2012) di RS Militer Omdurman dan Zenan pusat diabetes di negara
Khartoum, Sudan dengan jumlah subjek sebanyak 40 orang diaberes melitus tipe
2 . penelitian ini menunjukakan korelasi positif lemah dan tidak signifikan antara
HbA1c dengan LDL-C (r = 0,283dan p = 0,124).

American Diabetes Association merekomendasikan tujuan terapi diabetes nilai


HbA1c <7% , dan harus melakukan tindakan perawatan bila nilai HbA1c >8%.
Untuk memahami makna klinis Glycated hemoglobin (HbA1c), DCCT telah
menetapkan kenaikan 1% pada HbA1C mengakibatkan perubahan konsentrasi
glukosa plasma sekitar 2 mmol / L (35 mg /dL ). Peningkatan HbA1c dianggap
sebagai faktor risiko independen untuk penyakit jantung koroner (PJK) dan stroke
pada orang dengan atau tanpa diabetes.
Dalam keadaan hipergikemia, oksidasi LDL-C berlangsung lebih cepat. Hal
ini diakibatkan oleh peningkatan kadar glukosa darah kronis. Pada pasien DM
yang tidak terkontrol, terjadinya glikasi LDL lebih cepat. Struktur LDL-C pada
DM menjadi termodifikasi, teroksidasi, glikasi, menjadi kecil dan padat sehingga
makin bersifat aterogenik (Noviyanti et all, 2011).
Partikel yang sangat aterogenik ini mudah melewati barier endotel dan mudah
teroksidasi, yang kemudian diambil oleh scavender receptor. Setiap kenaikan
kolesterol LDL sebanyak 1% meningkatkan kejadian koroner sebesar 2% (Lim et
all, 2014).
12

Dengan demikian kita perlu menjaga agar kadar HbA1c tetap terkontrol sehingga
kadar LD-C juga dapat terkontrol, sehingga kita dapat mengurangi resiko
peningkatan kejadian koroner dan kompilkasi-komplikasi lainnya.
13

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan tentang
hubungan kadar HbA1c dengan kadar LDL-C pada penderita diabetes melitus tipe
2 di Medan dapat disimpulkan bahwa :
1. Mayoritas subjek penelitian memiliki kadar HbA1c buruk yakni
sebanyak 9 orang (90.0%) dan mayoritas subjek memiliki kadar
LDL-C batas tinggi yakni sebanyak 5 orang (50.0%).
2. Terdapat korelasi signifikan antara kadar HbA1c dengan kadar LDL-
C. Hal ini diindikasikan oleh nilai sig-p = 0.023 (p<0.05)
3. Terdapat korelasi kuat antara kadar HbA1c dengan kadar LDL-C
penderita DM tipe 2. Hal ini diindikasikan oleh nilai koefisien korelasi
r-hitung =0.704 yang berada diantara 0.6 0.79

6.2. S a r a n
Kadar HbA1c dapat meningkatkan kadar LDL-C, sehingga agar kadar
LDL-C tetap dalam batas normal, berikut ini disampaikan saran saran sebagai
berikut;
1. Kepada penderita DM tipe 2, disarankan untuk menjaga pola makan
sehingga tidak sampai menimbulkan peningkatan kadar HbA1c yang
dapat menimbulkan penngkatan kadar LDL-C
2. Kepada peneliti lain disarankan untuk melakukan penelitian dengan
skala penelitian yang lebih luas untuk mendapatkan hasil penelitian
yang lebih akurat .