Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Kemiskinan adalah masalah yang pelik, di samping universal juga


aksiomatis. Universal dalam arti bisa mengenai siapa saja, terjadi di mana
saja dalam berbagai skala, mulai dari skala global hingga yang hanya
skala rumah tangga. Aksiomatis, karena keberadaannya niscaya.
Ia menjadi bagian dari kodrat bahwa semua yang ada diciptakan
berpasang-pasangan. Sebagaimana siang dan malam, laki-laki dan
perempuan. Sehingga adanya kalangan miskin seolah sebagai pasangan
serasi dari kalangan kaya.
Kata miskin cukup lama menjadi kata yang berbahaya
di Indonesia. Sejak awal Orde Baru (1967), pemerintah amat sensitif
dengan kata tersebut karena kata tersebut pernah dipolitisasi oleh Partai
Komunis Indonesia untuk menarik simpati lapisan masyarakat bawah.
Kendati sejak Pembangunan Lima Tahun (PELITA) I, sudah banyak ahli
yang mengungkap fakta dan masalah kemiskinan. Penanganan
kemiskinan telah diupayakan sejak lama. Upaya penanganan kemiskinan
yang dilakukan pemerintah telah menjangkau berbagai pelosok tanah air.
Out-putnya, secara kuantitatif menunjukkan hasil yang signifikan. Hal ini
terlihat pada data statistik yang menunjukkan, ketika dimulainya
pembangunan lima tahunan (PELITA) pada akhir 1960-an, kurang lebih
60% penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan, dan
kemudian pada 1996-an menjadi sekitar 12% dari total penduduk
Indonesia (BPS, 1997). Tetapi, ketika terjadi badai krisis (ekonomi) pada
1997-an telah mengecilkan pencapaian prestasi pembangunan nasional
pada umumnya dan penurunan angka kemiskinan pada khususnya. Krisis
tersebut (sebagaimana banyak di expose berbagai media, baik media

elektronik maupun media Massa) menyebabkan melonjaknya angka


kemiskinan mencapai 40% dari total penduduk Indonesia.
Masalah kemiskinan yang dihadapi sangatlah kompleks.
Kemiskinan merupakan masalah dalam pembangunan yang bersifat
multidimensional, yang berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi, budaya,
dan aspek lainnya. Seringkali pemikiran mengenai kemiskinan lebih
banyak menekankan pada segi-segi emosional atau perasaan yang
diselimuti oleh aspek moral dan kemanusiaan, ataupun masih bersifat
partisan karena bersangkut paut dengan alokasi sumber daya, sehingga
usaha memahami hakekat kemiskinan itu sendiri menjadi kabur. Akibat
yang dialami dengan keadaan seperti ini adalah, usaha penanggulangan
kemiskinan bersifat parsial, tidak komprehensif, serta hasil yang dicapai
dari segala upaya penanggulangan tersebut menjadi tidak tepat sasaran.
Untuk menanggulangi masalah kemiskinan diperlukan upaya yang
memadukan berbagai kebijakan dan program pembangunan yang
tersebar di berbagai sektor.
Karakteristik kemiskinan seperti tersebut di atas dan krisis ekonomi
yang terjadi telah menyadarkan semua pihak bahwa pendekatan dan cara
yang dipilih dalam penanggulangan kemiskinan selama ini perlu
diperbaiki, yaitu ke arah pengokohan kelembagaan masyarakat.
Keberdayaan kelembagaan masyarakat ini dibutuhkan dalam rangka
membangun organisasi masyarakat warga yang benar-benar mampu
menjadi wadah perjuangan kaum miskin, yang mandiri dan berkelanjutan
dalam menyuarakan aspirasi serta kebutuhan mereka dan mampu
mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan
kebijakan publik di tingkat lokal, baik aspek sosial, ekonomi maupun
lingkungan, termasuk perumahan dan permukiman.
Hampir di semua komunitas masyarakat, pertemuan warga dalam
memusyawarahkan berbagai persoalan yang terjadi di lingkungannya
sudah sejak lama sering kita jumpai. Namun dalam memecahkan
permasalahan kemiskinan masyarakat sering tidak diajak dalam

merumuskannya, hanya menerima apa yang telah diputuskan pemerintah,


baik dalam menetapkan kriteria miskin, siapa saja yang miskin dan
bantuan apa yang dibutuhkan. Padahal persoalan kemiskinan di wilayah
tersebut, hanya warga setempatlah yang lebih tahu.
Permasalahan kemiskinan bukan hanya menjadi tanggung jawab
pemerintah, dan tidak selayaknya hanya dibebankan pada pemerintah
saja. Kemiskinan adalah suatu permasalahan yang dapat menjadi sebuah
bom waktu yang dapat meledak di masyarakat, sehingga korbannya
bukan hanya si miskin itu sendiri melainkan seluruh masyarakat. Oleh
karena itu, akan cukup bijak bila mulai sekarang permasalahan
kemiskinan menjadi tanggung jawab bersama seluruh komponen
pembangunan. Sudah seharusnya masyarakat dapat menempatkan
dirinya sebagai subyek dari penanggulangan kemiskinan.
Permasalahannya sekarang adalah bagaimana strategi penanganan
kemiskinan efektif yang seharusnya disusun dan dilaksanakan oleh
masyarakat dan seluruh komponen pembangunan secara proaktif,
sedangkan dalam komponen pembangunan itu sendiri masih terdapat gap
(kesenjangan) komunikasi yang cukup lebar. Untuk itu, diperlukan sebuah
forum yang mampu menjadi wahana penyatuan visi dan menjadi sebuah
tempat untuk belajar bersama seluruh komponen masyarakat dalam
merencanakan strategi pembangunan dan penanggulangan kemiskinan
yang komprehensif secara utuh menyeluruh.
Permasalahan kemiskinan merupakan permasalahan yang sangat
kompleks karena merupakan masalah multi dimensi dimana masalah
internal (budaya miskin) dan masalah eksternal (ekonomi, sosial,
lingkungan, politik) saling kait mengkait. Upaya-upaya pemecahan
masalah ini tergantung dari cara pandang pelaku-pelaku yang terlibat
terhadap permasalahan kemiskinan.
Artinya dalam upaya penanggulangan kemiskinan, sangat penting
untuk terlebih dahulu bersama-sama menggali akar penyebab kemiskinan
untuk membangun cara pandang yang sama, agar upaya yang dilakukan

tidak hanya mengatasi gejala masalahnya saja tetapi langsung


memecahkan masalah sampai ke akar-akarnya.
Proses ini dapat dilakukan dengan membuat analisis kritis terhadap
permasalahan kemiskinan yang dihadapi masyarakat, untuk membuka
seluk beluk dan keterkaitan masalah yang tersembunyi di dalamnya. Apa
yang terlihat dari luar seringkali berbeda dengan kenyataan yang
sebenarnya. Untuk melihat kenyataan yang sebenarnya hanya bisa
dilakukan dengan proses analisis sosial.
Untuk menumbuhkan kesadaran kritis (olah pikir) masyarakat
terhadap akar penyebab masalah kemiskinan karena selama ini seringkali
dalam berbagai program, masyarakat ditempatkan sebagai objek.
Seringkali masyarakat diajak untuk melakukan berbagai upaya
pemecahan masalah tanpa mengetahui dan menyadari masalah yang
sebenarnya.
Oleh sebab itu penanggulangan kemiskinan akan lebih berarti
apabila:
1. Upaya penanggulangan kemiskinan tidak akan dapat diatasi dengan
penanganan yang bersifat sporadis dan sektoral (sepotong-sepotong,
sebagian saja). Upaya dalam penanggulangan kemiskinan tidak akan
mampu ditangani dengan mengandalkan semata-mata bantuan
pemerintah atau dari luar masyarakat.
2. Upaya penanggulangan kemiskinan harus dimulai dengan
penanganan akar penyebab kemiskinan, yakni pembangunan
manusianya sebagai pondasi menumbuhkembangkan kemandirian
dan kebersamaan masyarakat (modal sosial), pemerintahan yang baik
(good governance), dan pembangunan berkelanjutan (sustainable
development).
Dalam rangka penanggulangan kemiskinan, pemerintah telah
melakukan berbagai cara alternatife dan meluncurkan berbagai Inpres.
Seperti Bangdes yang sekarang menjadi Inpres Desa Tertinggal (IDT),
Inpres Kesehatan, Inpres Perhubungan, Inpres Pasar, Peningkatan

Pendapatan Petani dan Nelayan Kecil (P4K), Program Tabungan dan


Kredit Usaha Kesejahteraan Rakyat (Takesra-Kukesra), Program
Pengembangan Kecamatan (PPK), Program Pembangunan Prasarana
Pendukung Desa Tertinggal (P3DT), Program Bantuan Langsung Tunai
(BLT), Program Beras Miskin (RASKIN), Jaringan Pengaman Sosial
(JPS), Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP). Pada
saat ini, program pemerintah yang dilakukan di Kota Tebing Tinggi adalah
Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP).
Terkait dengan itu, Proyek Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan
(P2KP) yang mengedepankan strategi pemberdayaan berbasis institusi
lokal, muncul sebagai salah satu alternatif penanganan kemiskinan
perkotaan. Pemecahan masalah yang dilakukan oleh P2KP tentu saja
berdasarkan masalah-masalah yang sudah dianalisa sebelumnya.
Kemiskinan adalah konsep yang cair, tidak pasti, dan multidimensional.
Oleh karena itu, banyak terdapat terminologi kemiskinan baik yang
dikemukakan oleh pakar secara individu maupun secara kelembagaan.
Konsep P2KP adalah program pemberdayaan masyarakat miskin
perkotaan. Program ini menggunakan pendekatan bottom up. Masyarakat
dituntut aktif dalam menentukan perjalanan proyek ini. P2KP merupakan
awal dari serangkaian upaya menguatkan kelembagaan masyarakat yang
menjadi dasar dari pembentukan masyarakat madani, civil society.
Masyarakat yang tertib, terorganisir, tahu tujuannya, visi dan sebagainya.
Organisasi, tidak mungkin ujug-ujug dibikin, harus ada proses. P2KP
adalah proses yang membutuhkan kemauan baik (political will), baik dari
pemerintah (sebagai unsur pendukung) maupun dari seluruh komponen
masyarakat. (www.P2KP.org,Minggu,13 Januari 2008)
Menurut Marnia Nes dalam Modul II P2KP (2005:1), bahwa proses
menemukenali penyebab kemiskinan dan akar masalah kemiskinan pada
dasarnya merupakan akibat dari sikap mental para pelaku pembangunan
yang negatif dan pandangan-pandangan yang merugikan kelompok

masyarakat tertentu (warga miskin). Apabila diuraikan secara lebih rinci


kedua masalah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Tidak semua masyarakat terlibat dalam proses pembangunan dari
mulai menemukenali kebutuhan sampai memutuskan pemecahan
masalah. Banyak program-program untuk masyarakat disusun oleh
orang luar bukan oleh masyarakat setempat, sehingga banyak yang
tidak tepat sasaran dan tidak tepat guna (jadi mubazir dan tidak
berkelanjutan);
2. Adanya pandangan umum bahwa masyarakat tidak mampu
memecahkan masalah sendiri, tidak mempunyai pengalaman, kurang
pengetahuan sehingga masyarakat tidak diberi kesempatan untuk
memecahkan masalahnya sendiri;
3. Kesempatan membangun hanya diberikan pada kelompok tertentu
begitu juga hasilnya hanya bisa dinikmati oleh kelompok tertentu,
artinya tidak semua masyarakat mendapatkan hak yang sama (tidak
ada kesetaraan);
4. Melemahnya solidaritas sosial yang menyebabkan memudarnya
modal sosial masyarakat;
5. Sikap mental dan perilaku masyarakat yang masih menggantungkan
diri pada bantuan pihak luar, kurang bekerja keras, apatis, tidak
percaya pada kemampuan sendiri;
6. Memudarnya kebersamaan, banyak pihak yang mempunyai
pandangan bahwa masalah kemiskinan hanya tanggungjawab
pemerintah dan orang miskin, sehingga banyak yang tidak peduli;
7. Pada umumnya masyarakat, tidak mempunyai wadah (lembaga) yang
betul-betul memperjuangkan kepentingan masyarakat khususnya
warga miskin, karena pelaku-pelaku pengambil kebijakan pada suatu
lembaga yang ada cenderung mementingkan diri sendiri, tidak peduli
dan tidak jujur.

Berdasarkan permasalahan di atas perlu perubahan dari kondisi


yang sekarang (permasalahan) ke arah yang lebih baik untuk mencapai
kesejahteraan. Artinya perlu dilakukan proses perubahan sebagai upaya
pemecahan masalah di atas.
Terlepas dari benar tidaknya konsep pemikiran P2KP tersebut, satu
hal yang memang tidak dapat kita pungkiri, yaitu telah lunturnya nilai-
nilai luhur manusia dalam masyarakat kita. Hal ini ditandai dengan sulitnya
untuk menemukan orang yang jujur, amanah, bertanggung jawab, dan
orang yang ikhlas menolong sesama. Bahkan sifat dan sikap gotong
royong yang menjadi kebanggaan kita pun kini sulit untuk dilihat.

P2KP dengan idealismenya, hadir di tengah-tengah krisis, tampil


beda dari program-program JPS (Jaringan Pengaman Sosial), ternyata
juga menghadapi berbagai tantangan yang tidak kecil, kendati pujian
atasnya juga tak terelakkan. Hadirnya P2KP sejak diluncurkan
19 Desember 1999 lalu telah merajut semangat baru yang diilhami oleh
nilai-nilai pemberdayaan masyarakat melaui prinsip-prinsip: demokrasi,
partisipasi; transparansi; akuntabilitas dan desentralisasi dengan
menawarkan dua sasaran strategis yakni penguatan kelembagaan lokal
melalui institusi BKM/KSM dan penanggulangan kemiskinan berbasis
community development. Program yang ditawarkan pun cukup strategis
dan dipilah dalam dua kategori yakni hibah ataupun bergulir bagi
kegiatan-kegiatan yang diusulkan KSM dalam bidang pengembangan
prasarana lingkungan, bidang ekonomi produktif maupun bidang
pengembangan sumber daya manusia.
Pemerintah menggulirkan P2KP untuk pertama kalinya pada
November 1999 dan berakhir November 2001. Ini adalah P2KP I tahap I,
sedangkan P2KP I tahap II dimulai Agustus 2002 hingga Juli 2004.
Sedangkan di Kota Tebing Tinggi, P2KP dimulai pada tahun 2007 sampai
2008 yang akan datang. Berarti, di Kota Tebing Tinggi dimulai dari P2KP I
tahap IV.
Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP)
yaitu, merupakan program pemerintah yang secara substansi
berupaya dalam penanggulangan kemiskinan melalui konsep
memberdayakan masyarakat dan pelaku pembangunan lokal
lainnya, termasuk Pemerintah Daerah dan kelompok peduli
setempat, sehingga dapat terbangun "gerakan kemandirian
penanggulangan kemiskinan dan pembangunan berkelanjutan",
yang bertumpu pada nilai-nilai luhur dan prinsip-prinsip universal.
[Dikutip dari : Buku Pedoman Umum P2KP-3, Edisi Oktober 2005].

Implementasi P2KP akan lebih efektif bila dapat dilakukan oleh


masyarakat dan pemerintah daerah setempat secara mandiri dan
berkelanjutan. Masyarakat ditempatkan sebagai pelaku utama, mulai dari
tahap perencanaan, pelaksanaan, pengawasan bahkan pada tingkat

pengambilan keputusan. Pemerintah Daerah dalam hal ini, tidak hanya


menjalankan fungsi monitoring, koordinasi serta legitimasi semata, namun
juga didorong agar dapat berperan sebagai fasilitator, dinamisator,
narasumber dan pelaksana kegiatan pada tingkat tertentu. Peran ini
tentunya harus dijalankan dengan optimal jika mengharapkan tercapainya
tujuan yang diinginkan.
Beberapa permasalahan eksternal yang datang dari P2KP sendiri
sebagai titik lemahnya yang berpotensi mengurangi laju optimalitas
sekaligus mengurangi hakekat dan substansi pelaksanaan P2KP.
Pertama, munculnya P2KP setelah Program Jaring Pengaman
Sosial (JPS), dimana sudah menjadi rahasia umum, pengembalian dana
oleh masyarakat gagal total. Image yang selama ini tertanam bahwa
proyek yang datang ke masyarakat di era multi krisis ini adalah proyek
bagi-bagi uang gratis suka tidak suka telah menghinggapi pelaksanaan
P2KP.
Kedua, program JPS, sepenuhnya dikelola oleh institusi
formal/aparat pemerintah secara hierarkhis dari level atas hingga yang
terbawah. Sementara, P2KP sepenuhnya dikelola oleh masyarakat
melalui BKM. Akibat kebijakan itu (dadakan/seperti membalik telapak
tangan), muncul kecemburuan aparat khususnya (kelurahan/desa), yang
pada gilirannya kurang mendukung P2KP.
Penguatan kelembagaan masyarakat yang dimaksud terutama juga
dititikberatkan pada upaya penguatan perannya sebagai motor penggerak
dalam melembagakan' dan membudayakan' kembali nilai-nilai
kemanusiaan serta kemasyarakatan (nilai-nilai dan prinsip-prinsip di
P2KP), sebagai nilai-nilai utama yang melandasi aktivitas
penanggulangan kemiskinan oleh masyarakat setempat. Melalui
kelembagaan masyarakat tersebut diharapkan tidak ada lagi kelompok
masyarakat yang masih terjebak pada lingkaran kemiskinan, yang pada
gilirannya antara lain diharapkan juga dapat tercipta lingkungan kota
dengan perumahan yang lebih layak huni di dalam permukiman yang lebih

responsif, dan dengan sistem sosial masyarakat yang lebih mandiri


melaksanakan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.
Kepada kelembagaan masyarakat tersebut yang dibangun oleh dan
untuk masyarakat, selanjutnya dipercaya mengelola dana abadi P2KP
secara partisipatif, transparan, dan akuntabel. Dana tersebut
dimanfaatkan oleh masyarakat untuk membiayai kegiatan-kegiatan
penanggulangan kemiskinan, yang diputuskan oleh masyarakat sendiri
melalui rembug warga, baik dalam bentuk pinjaman bergulir maupun dana
waqaf bagi stimulan atas keswadayaan masyarakat untuk kegiatan yang
bermanfaat langsung bagi masyarakat, misalnya perbaikan prasarana
serta sarana dasar perumahan dan permukiman.
Model tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi untuk
penyelesaian persoalan kemiskinan yang bersifat multi dimensional dan
struktural, khususnya yang terkait dengan dimensi-dimensi politik, sosial,
dan ekonomi, serta dalam jangka panjang mampu menyediakan aset yang
lebih baik bagi masyarakat miskin dalam meningkatkan pendapatannya,
meningkatkan kualitas perumahan dan permukiman mereka maupun
menyuarakan aspirasinya dalam proses pengambilan keputusan. Untuk
mewujudkan hal-hal tersebut, maka dilakukan proses pemberdayaan
masyarakat, yakni dengan kegiatan pendampingan intensif di setiap
kelurahan sasaran.
Melalui pendekatan kelembagaan masyarakat dan penyediaan
dana bantuan langsung ke masyarakat kelurahan sasaran, P2KP cukup
mampu mendorong dan memperkuat partisipasi serta kepedulian
masyarakat setempat secara terorganisasi dalam penanggulangan
kemiskinan. Artinya, Program penanggulangan kemiskinan berpotensial
sebagai gerakan masyarakat, yakni: dari, oleh dan untuk masyarakat.
Apabila kita tanyakan kepada masyarakat, apa yang menjadi penyebab
kemiskinan? Jawaban-jawaban yang muncul biasanya kondisi yang kasat
mata dan langsung dapat diihat seperti: kurangnya pendidikan, tidak
punya penghasilan tetap, pengangguran, tidak punya usaha, dan

sebagainya. Akan tetapi kalau kita telusuri lebih jauh ternyata hal-hal
tersebut hanya merupakan gejala masalahnya saja. Apabila kita dalami
jawaban-jawaban yang biasanya muncul mengapa pendidikan kurang,
mengapa tidak punya usaha, mengapa menganggur? jawabannya bisa
karena biaya mahal, tidak punya modal, tidak ada lapangan pekerjaan.
Bila jawaban tersebut dikelompokkan, maka ada dua faktor besar yaitu
faktor eksternal dengan faktor internal, dimana kedua faktor tadi
menyangkut masalah ekonomi, sosial, lingkungan dan budaya.
P2KP diharapkan benar-benar mampu untuk mengatasi
permasalahan kemiskinan dengan berpijak pada konsep pemberdayaan
masyarakat dan institusi lokal. Kedua hal inilah yang merupakan syarat
utama menuju terbentuknya masyarakat yang mampu mengatasi
permasalahan kemiskinan yang dihadapinya secara mandiri dan
berkelanjutan.
Berdasarkan uraian di atas, penulis melihat betapa pentingnya
Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) bagi perbaikan
dan peningkatan taraf hidup masyarakat miskin di kota. Untuk itulah kajian
terhadap program ini harus senantiasa dilakukan guna menginventarisir
kendala/masalah, menemukan solusi dan memperkaya strategi sebagai
upaya penyempurnaan lebih lanjut terhadap P2KP itu sendiri. Beranjak
dari pemikiran inilah, penulis terdorong untuk mengangkat topik ini dengan
maksud untuk mengetahui sejauh mana P2KP telah dilaksanakan selama
ini terutama sebagai upaya pengentasan kemiskinan, dengan judul:
IMPLEMENTASI PROGRAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN
PERKOTAAN (P2KP) DI KELURAHAN LALANG KOTA TEBING
TINGGI.

1.2. Permasalahan
1.2.1. Identifikasi Masalah

Secara umum dapat ditegaskan bahwa P2KP bertujuan mengatasi


kemiskinan melalui kegiatan penyediaan dana untuk pengembangan

10

usaha produktif, pembukaan lapangan kerja baru, pembangunan sarana


dan prasarana lingkungan hidup yang mendukung kegiatan usaha
produktif dengan berbasis pada kemitraaan dan usaha kelompok.
Program ini juga dilaksanakan dengan pendekatan pemberdayaan baik
di tingkat masyarakat maupun institusi lokal yang ada dalam masyarakat.
Dalam tataran teori, hal tersebut mungkin untuk diwujudkan,
sehingga apa yang menjadi cita-cita, yaitu pengentasan kemiskinan
di masyarakat dapat tercapai. Namun, dalam tataran operasional, suatu
program akan berhadapan dengan sebuah proses yang senantiasa
melalui tahapan-tahapan mulai dari perencanaan, pelaksanaan,
pengendalian sampai dengan pelestarian program sebagai satu rangkaian
yang tidak dapat dipisahkan.
Pada akhirnya, keberhasilan pelaksanaan P2KP tidak hanya
disebabkan oleh ketepatan dalam pelaksanaan program tetapi
dipengaruhi juga oleh faktor lain. Faktor tersebut ada yang bersifat intern
seperti faktor pelaksana yaitu sumber daya manusia, dana,
sarana/prasarana dan juga faktor ekstern seperti keadaan lingkungan
geografis, ekonomi, sosial budaya dan situasi politik.
Berdasarkan uraian di atas, penulis mengidentifikasi masalah
pelaksanaan Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP)
sebagai salah satu upaya pengentasan kemiskinan di Kelurahan Lalang
Kota Tebing Tinggi sebagai berikut:
1. Panjangnya prosedur tahapan P2KP sehingga membuat masyarakat
awam tidak terlalu mengerti
2. Kurang berjalannya program sebagaimana diharapkan. Karena
pelatihan bagi pengurus BKM tidak dilakukan sejak dini (sebelum
operasionalisasi kegiatan BKM), yang terjadi adalah pelatihan bagi
pengurus BKM dilakukan setelah operasionalisasi kegiatan BKM
3. Kurang tepatnya sasaran pemberian bantuan BLM P2KP kepada
masyarakat miskin, sehingga munculnya kecemburuan dari
masyarakat lain yang tidak mendapatkannya

11

4. Tidak adanya sarana yang berkelanjutan setelah mendapatkan


bantuan pelatihan dari P2KP
5. Belum terpupuknya kesadaran masyarakat tentang kesejahteraan
keluarga sehingga kurang mampu untuk meningkatkan taraf hidupnya
6. Masih sempitnya pemikiran masyarakat untuk menjadi lebih baik dan
berkembang
7. Masih lambannya upaya tindak lanjut terhadap hasil temuan
pengawasan (monitoring) dan penyelesaian masalah yang ditemui
dalam pelaksanaan P2KP.
Alasan pemilihan obyek di kelurahan ini adalah untuk mendapatkan
hasil serta kesimpulan implementasi P2KP selama ini di Kelurahan Lalang
berdasarkan tahapan-tahapan yang telah digariskan oleh pemerintah.
Mulai dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan, tahap monitoring dan
evaluasi dan tahap penyiapan keberlanjutan program.

1.2.2. Pembatasan Masalah

Masalah yang dibahas dalam ruang lingkup penelitian ini dibatasi


pada Implementasi Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan
(P2KP) di Kelurahan Lalang Kota Tebing Tinggi.

1.2.3. Perumusan Masalah

Adapun masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:


1. Bagaimana tahap dan proses implementasi pelaksanaan program
penanggulangan kemiskinan perkotaan (P2KP) di Kelurahan Lalang?
2. Apa yang menjadi target dalam pelaksanaan implementaasi program
penanggulangan kemiskinan perkotaan (P2KP) di kelurahan Lalang?
3. Faktor-faktor apa yang menjadi penghambat dan bagaimana upaya
untuk mengatasi faktor-faktor penghambat tersebut dalam
mengimplementasikan pelaksanaan program penanggulangan
kemiskinan perkotaan (P2KP) di Kelurahan Lalang?

12

1.3. Tujuan dan Kegunaan


1.3.1. Tujuan

Adapun tujuan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:


1. Mengetahui tahap dan proses Implementasi Program Penanggulangan
Kemiskinan Perkotaan (P2KP) di Kelurahan Lalang;
2. Mengetahui target dalam pelaksanaan Implementasi Program
Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) di Kelurahan Lalang;
3. Mengetahui faktor penghambat dan upaya untuk mengatasinya dalam
mengimplementasikan Program Penanggulangan Kemiskinan
Perkotaan (P2KP) di Kelurahan Lalang.

1.3.2. Kegunaan
1.3.2.1. Kegunaan Teoritis

1. Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmu


untuk melakukan penelitian dan pengkajian yang luas;
2. Melalui penelitian ini, mampu mendekati kebijakan pembangunan
penelitian yang bekerja dengan penjelasan kemiskinan;
3. Sebagai bahan kajian studi banding antara pengetahuan-pengetahuan
bersifat teoritis yang telah diperoleh selama mengikuti pendidikan
dengan kenyataan-kenyataan yang dihadapi di lapangan.

1.3.2.2. Kegunaan Praktis

1. Sebagai bahan masukan dan sumbangan pemikiran serta bahan


kajian yang diharapkan bermanfaat bagi Pemerintah Daerah Kota
Tebing Tinggi dalam menanggulangi masalah kemiskinan di perkotaan;
2. Bagi organ P2KP, penelitian ini diharapkan mampu memberikan
masukan bagi pemecahan permasalahan yang selama ini dihadapi
dalam pelaksanaan P2KP serta sebagai upaya penyempurnaan
strategi maupun metode P2KP di masa yang akan datang;

13

3. Bagi penulis sendiri dapat menambah pengetahuan untuk bekal dalam


bekerja, serta sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan
pendidikan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri.

14