Anda di halaman 1dari 3

Discourse Analysis

Istilah discourse analysis merupakan sesuatu yang sangat


membingungkan. Saya sering menggunakan kata itu dalam
buku ini yang merujuk kepada keseluruhan analisis bahasa
secara alamiah yang berhubungan dengan wacana berbahasa
dan menulis. Sepintas, kata ini merujuk kepada upaya-upaya
dalam mempelajari pengelompokkan bahasa berdasarkan
kalimat atau klausa, selebihnya untuk mempelajari bagian-
bagian linguistic secara luas, seperti cara bercakap atau
menulis. Hal itu mengarahkan bahwa discourse analysis juga
memperhatikan konteks penggunaan bahasa dalam
berinteraksi atau berdialog antara beberapa pembicara. Karena
istilah discourse analysis sangat membingungkan, saya akan
menjelaskan secara detail dengan memperkenalkan definisi
hingga akhir bagian bab ini.

1. Bahasa, tindakan, pengetahuan dan suasana.


Banyak daya pikat dari discourse analysis yang muncul dari
perolehan bahasa, tindakan dan pengetahuan merupakan
dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pengetahuan yang
paling mendasar, seperti yang telah dijelaskan oleh J. L.
Austin dalam perkuliahannya 1955 di Universitas Harvard,
bahwasannya ujaran merupakan suatu tindakan (Austin,
1962). Beberapa tindakan dapat diperlihatkan secara
langsung melalui bahasa (misalnya, permohonan maaf),
sementara hal-hal yang lainnya dapat ditunjukkan melalui
bahasa atau tindakan (mislanya, ancaman). selanjutnya,
kita akan mulai mempelajari bagaimana bagasa digunakan
dalam berhubungan social, hal ini menjelaskan bahwa
komunikasi mustahil terjadi tanpa mempertukarkan
pengetahuan dan asumsi-asumsi antara pembicara dan
pendengar.
Hal ini juga mengisaratkan bahwa bahasa dan situasi
merupakan suatu hal yang tak terpisahkan. Keduanya
memiliki hubungan yang tidak terpisahkan, tentu, kecuali
dalam situasi yang sangat ritual. Dalam beberapa
permainan, upacara-upacara atau upacara formal, bentuk
nyata dari kata mungkin diletakkan sebagai bagian dari
rangkaian kegiatan, tetapi umumnya penggunaan bahasa
sangat luas dan fleksibel. Menggambarkan suatu situasi
sosial seperti suatu perkampungan dagang, hal itu
memungkinkan untuk memprediksi hubungan erat
tentang isi, fungsi dan cara bahasa digunakan di sana.
Banyak bahasa yang mungkin menjadi bahasa komunikasi
atau bertransaksi, yang berhubungan dengan jual-beli.
Bagaimanapun, baru-baru ini saya mengunjungi sebuah
pasar lokal untuk memperlihatkan cara lain dalam
berkomunikasi: untuk mengkomplain apa yang telah di
beritakan dalam sebuah Koran, dan meminta petunjuk
tentang keadaan setempat. Meskipun demikian, kami
mengetahui jenis bahasa apa yang tidak harus digunakan
dalam situasi tertentu;