Anda di halaman 1dari 2

KEDUDUKAN HUKUM PAJAK DALAM TATANAN HUKUM NASIONAL

Indonesia merupakan Negara hukum yang berdasarkan pancasila dan uud 1945. Artinya
bahwa kekuasaan tertinggi bukan lagi manusia atau masyarakat Indonesia. Kehidupan dan
kelangsungan Negara Indonesia harus sesuai dengan Hukum yang kita kenal dengan Undang-
Undang. Sama implementasinya ketika Negara Indonesia melakukan pemungutan pajak harus
berdasarkan Undang-Undang dan tidak boleh dilakukan sewenang-wenang tanpa memperhatikan
konsep keadilan. Dasar pemungutan pajak ditetapkan dalam pasal 23 ayat (2) UUD 1945 yang
berbunyi Segala pajak untuk keperluan negaa berdasarkan Undang-Undang.
Menurut R. Santoso Brotodiharjo, S.H. hukum pajak atau hukum fiskal, adalah
keseluruhan dan peraturan-peraturan yang meliputi wewenang pemerintah, untuk mengambil
kekayaan seseorang dan menyerahkannya kembali kepada masyarakat dengan melalui Kas
Negara, sehingga ia merupakan bagian dari Hukum Publik, yang mengatur hubungan-hubungan
hukum antar Negara dan orang-orang atau badan-badan(hukum) yang berkewajiban membayar
pajak (selanjutnya disebut Wajib Pajak).
Sistem hukum di Indonesia terdiri dari Hukum Perdata (arti luas) dan Hukum Publik.
Hukum Perdata (arti luas) terdiri dari Hukum Perdata dan Hukum Dagang. Sedangkan Hukum
Publik terdiri dari hukum Tata Negara, Hukum Tata Usaha Negara, Hukum Pajak dan Hukum
Pidana. Jadi, dari pengertian dan penjelasan tersebut diketahui bahwa kedudukan Hukum Pajak
dalam Sistem Hukum di Indonesia, merupakan bagian dari Hukum Publik.
Hukum Pajak dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Hukum Pajak Formal
Adalah Hukum Pajak yang memuat adanya ketentuan-ketentuan dasar dalam
rangka mewujudkan hukum pajak material dapat terlaksana dengan baik. Contoh :
Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
2. Hukum Pajak Material
Adalah Hukum Pajak yang memuat tentang ketentuan-ketentuan terhadap subjek
dan objek pajak serta tata cara penghitungannya. Contoh Undang-Undang Pajak
Penghasilan dan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan ata
Barang Mewah
Hubungan Serta Pengaruh Hukum Pajak Terhadap Hukum Perdata
Meskipun hukum pajak dan hukum perdata berbeda penggolongannya sebagaimana
penjelasan di atas, akan tetapi 2 hukum tersebut ternyata saling terkait atau bisa dibilang hukum
perdata dapat dipengaruhi oleh hukum pajak. Hubungan tersebut timbul karena dalam hukum
pajak banyak menggunakan istilah-istilah yang terkandung dalam hukum perdata. Misalnya istilah
tempat tinggal atau domisili, diatur baik dalam hukum pajak maupun hukum perdata. Hukum pajak
mencari dasar pemungutan ajak berdasarkan peristiwa (kelahiran, pendirian, kematian,
pembubaran), keadaan (kekayaan), perbuatan (jual beli, sewa menyewa) sebagaimana diatur di
dalam hukum perdata. Hukum yang bersifat khusus mengesampingkan hukum yang bersifat umum
atau kita kenal dengan sebutan Lex Spesialis Derogat Lex Generate. Maksudnya adalah hukum
pajak (yang bersifat khusus) mengesampingkan hukum perdata (yang bersifat umum). Contohnya
adalah sebidang tanah milik seseorang yang menurut perjanjian sebelumnya digunakan sebagai
jaminan hutang. Orang tersebut tidak dapat melunasi hutang yang menyebabkan tanah tersebut
disita oleh kreditur. Sementara seseorang tersebut juga memiliki hutang pajak yang belum dilunasi
hingga lewat jatuh tempo. Karena aset yang dimiliki hanya tanah, maka atas tanah tersebut
dilelang. Nah, hasil pelelangan harus melunasi utang pajak terlebih dahulu jika ada sisa baru
melunasi hutang ke pihak kreditur. Jadi, dari contoh tersebut hukum pajak harus didahulukan di
samping hukum yang lain (dalam hal ini hukum perdata).
Hubungan Serta Pengaruh Hukum Pajak Terhadap Hukum Pidana
Selain KUHP yang mengatur mengenai ancaman pidana, di dalam hukum pajak juga
mengatur mengenai sanksi pidana apabila terbukti melakukan pelanggaran maupun kejahatan di
bidang perpajakan. Ada beberapa faktor khusus hukum pajak yang menyebabkan timbul hukum
pidana. Di dalam Undang-Undang RI Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata
Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang RI Nomor 16 Tahun
2009 yang mengatur tentang sanksi pidana di bidang perpajakan yaitu Pasal 36A sampai dengan
pasal 44. Salah satu pasal menerangkan bahwa Setiap orang yang dengan sengaja tidak
menyampaikan Surat Pemberitahuan dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam)
bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang
yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang
tidak atau kurang dibayar. Hubungan antara hukum pajak dan hukum pidana ini saling
melengkapi, artinya hal-hal atau ketentuan-ketentuan mengenai pelanggaran/kejahatan di bidang
perpajakan yang diatur di dalam Undang-Undang KUP merupakan turunan daripada dalil Undang-
Undang KUHP