Anda di halaman 1dari 19

LABORATORIUM PILOT PLANT

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2017/2018

PRAKTIKUM PILOT PLANT


MODUL : Cooling tower
PEMBIMBING : Ayu Ratna Permanasari, ST, MT

Praktikum :5 September 2017


Penyerahan : 17 September 2017
(Laporan)

Oleh :

Kelompok : VII dan VIII


Nama : 1. Muhamad Faizal 151411051
2. Muhammad Ikhsan 151411052
3. Radian Zulmar Dwi K 151411053
4. Rani Dewi Eryani 151411054
Kelas : 3B

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Cooling tower system merupakan sarana sirkulasi air pendingin yangsangat berperan
dalam berbagai industri. Air pendingin dalam cooling towersystem didistribusikan ke
beberapa media antara lain ke mesin chiller, cooler, heat exchanger, dan unit lainnya
(Maharani, 2010). Jika aliran air digunakan untukmendinginkan suatu unit mesin maka hal
ini akan menyebabkan air pendingin tersebut akan naik temperaturnya. Fungsi cooling tower
adalah untuk mendinginkan kembali temperatur dan proses tersebut berulang secara terus
menerus.
Dalam dunia industri, cooling tower merupakan salah satu peralatan yang harus dijaga
operasionalnya dengan perawatan yang rutin agar bisa bekerja secara optimal.
Penanggulangan kualitas air pendingin yang kurang memadai menyebabkan mesin seperti
unit heat exchanger akan mengalami korosi atau terbentuk kerak. Heat exchanger yang
mengalami korosi menyebabkan tingkat efisiensi sistem alih panas yang rendah dan
menyebabkan konsumsi energi yang cukup besar (Musalam, 2006). Pada sistem air pendingin
tertutup maupun sistem air pendingin terbuka, kedua sistem tersebut sama akan menimbulkan
masalah seperti korosi. Pada sistem air pendingin terbuka, akan selalu ditambahkan air baru,

sehingga memungkinkan jumlah padatan terlarut, O2, CO2, dan mineral biologi lain akan

bertambah dan terbawa pada sistem pendingin.


1.2 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini ialah sebagai berikut.
1. Menentukan kelembaban bagian atas dan bawah Cooling Tower melalui pengukuran
suhu bola basah dan bola kering.
2. Menentukan efisiensi Cooling Tower.
3. Mengevaluasi kinerja Cooling Tower Laboratorium Teknik Kimia Bawah melalui
massa yang teruapkan dari efisiensi Cooling Tower.
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Menara Pendingin (Cooling tower)


Cooling tower adalah suatu alat yang digunakan untuk mendinginkan air proses
(cooling water) dengan cara mengontakkan air tersebut dengan udara. Fungsi cooling tower
adalah merubah cooling water panas menjadi cooling water dingin sehingga dapat digunakan
kembali dan tidak menjadi polusi lingkungan. Cooling tower ini beroperasi menurut prinsip
difusi, dimana adanya perubahan temperatur dapat mengakibatkan perbedaan besarnya
laju perpindahan massa dan panas yang terjadi.
Di dalam sistem cooling towerterdapat cooling tower, distribution system, spray
nozzle (springkel), cooling tower(packing), basin dan pump. Air panas yang masuk ke
cooling towerdialirkan dengan cara spray melalui nozzle (springkel). Air mengalami
perubahan temperatur dari panas ke dingin melalui cooling toweratau ruang pengisi. Di
dalam cooling tower udara panas ditarik dan dibuang ke atmosfer dengan bantuan cooling
tower. Air yang telah berubah temperaturnya dari keluaran cooling tower masuk ke basin
(kolam air dingin sementara). Air penambahan (make up water) pada cooling
towerditambahkan dalam basin. Air penambahan dari PDAM ini untuk menambahkan
volume air dalam kolam yang terjadi karena sebagian air hilang akibat penguapan. Air dingin
yang telah ditampung di dalam basin.
2.2 Prinsip Kerja Menara Pendingin
Prinsip kerja menara pendingin berdasarkan pada pelepasan kalor dan perpindahan
kalor. Dalam menara pendingin, perpindahan kalor berlangsung dari air ke udara. Menara
pendingin menggunakan penguapan dimana sebagian air diuapkan ke aliran udara yang
bergerak dan kemudian dibuang ke atmosfir. Sebagai akibatnya, air yang tersisa didinginkan
secara signifikan seperti gambar 2.1 sebagai berikut.
Gambar 2.1 Skema Menara Pendingin (Sumber: Sembiring, 2010)
Prinsip kerja menara pendingin dapat dilihat pada gambar diatas. Air dari bak/basin
dipompa menuju heater untuk dipanaskan dan dialirkan ke menara pendingin. Air hangat
yang keluar tersebut secara langsung melakukan kontak dengan udara sekitar yang bergerak
secara paksa karena pengaruh isapan atau dorongan fan/blower yang terpasang pada menara
pendingin, lalu mengalir jatuh ke bahan pengisi (filler). Air yang sudah mengalami
penurunan suhu ditampung ke dalam bak/basin. Pada menara pendingin juga dipasang katup
make up water untuk menambah kapasitas air pendingin jika terjadi kehilangan air (drift
loses) ketika proses evaporative cooling tersebut sedang berlangsung.

Cooling tower ini beroperasi menurut prinsip difusi, dimana adanya perubahan
temperatur dapat mengakibatkan perbedaan besarnya laju perpindahan massa dan panas yang
terjadi. Besarnya laju perpindahan massa dan panas dipengaruhi oleh luas daerah kontak
antara fluida panas dengan fluida dingin, waktu kontak, kecepatan fluida dan temperatur
fluida. Sedangkan cooling water adalah air pendingin yang digunakan untuk mendinginkan
peralatan. Pendinginannya air terjadi didalam cooling tower.

Macam-Macam Cooling tower

Pada dasarnya cooling tower terbagi beberapa macam antara lain, yaitu:

1). Berdasarkan arah aliran udara masuk

a). Cross flow.

b). Counter current flow.


2). Berdasarkan cara pemakaian alat bantu seperti cooling tower atau blower

a). Induced draft (alat bantu berada dibagian puncak tower)

b). Force draft (alat bantu berada dibagian bawah tower)

3). Berdasarkan kondisi aliran udara bebas tanpa alat pembantu

a). Atmosphere (udara pada kondisi atmosphereric mengalir bebas tanpa memakai
penutup tower).

b). Natural draft (udara mengalir dalam udara pendinginan dari tower namun kondisi
udara belum tentu atmospheric).

2.2 Air Pendingin (Cooling Water)

Peralatan-peralatan yang digunakan untuk pengolahan/ penyediaan cooling water


adalah:

1) Cooling tower (Basin, ID cooling tower).

2) Pompa Cooling Water.

3) Sistem Injeksi bahan kimia.

Cooling water atau air pendingin adalah suatu media air yang berfungsi sebagai suatu
media air yang berfungsi untuk mengambil panas dari suatu proses atau equipment dengan
jalan perpindahan panas (heat transfer). Cooling water sistem pada garis besarnya dibagi
menjadi 2 (dua) tipe, yaitu:

1). Recirculation Type.

a) Open type, yaitu dimana sebagian air setelah mengalami pemanasan akan diuapkan
untuk proses pendinginannya kembali.

b) Close type, yaitu dimana pendingin kembali airnya tanpa penguapan. Type ini biasanya
dipakai untuk internal engine combustion system.
2) Once Through Type (tergantung penggunaannya).

Cooling water sangat penting gunanya untuk pabrik, karena apabila ada gangguan
cooling waterakan menyebabkan terjadinya pengurangan produksi atau akan menyebabkan
kerusakan alat baik langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu Cooling Water System
harus dikontrol dengan sebaik-baiknya, minimal mampu beroperasi tanpa gangguan selama
1-2 tahun. Adapun tujuan digunakannya cooling water adalah:

1) Korosi yang terjadi dalam peralatan dapat dihindari sekecil mungkin.

2) Deposit yang terjadi didalam peralatan dapat dihindari sekecil mungkin.

3) Pertumbuhan bakteri, jamur, lumut terkendali.

4) Menaikkan efisiensi alat pendingin.

5) Tidak merusak lingkungan.

Beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap cooling water adalah sebagai
berikut:

1) Make Up Air Pendingin

Sebagai make up adalah filter water. Hal ini mempunyai pengaruh yang besar karena
filter water membawa beberapa komponen yang dapat mengakibatkan timbulnya deposit
maupun korosif.

2) Lingkungan Sekitar

Karena sebagai media pendingin dari air pendingin di cooling water adalah udara
yang diambil dari sekitarnya, maka tidak lepas dari kotoran atau benda asing lainnya yang
dibawa udara masuk kesistem air pendingin, akibatnya terkontaminasi.

3) Proses yang terkait

Yang dimaksud proses terkait adalah bentuk atau macam fluida yang didinginkan, Hal
ini biasanya terjadi karena kebocoran dari peralatan. Misalnya Heat Exchanger untuk
pelumas gas ammoniak atau gas sintesa apabila terjadi kebocoran akan mengakibatkan
kontaminasi air pendingin.

4) Bahan Kimia

Penggunaan bahan kimia melalui injeksi tidak terkontrol menimbulkan efek samping,
pengaruh ini lebih dominan bilamana jumlahnya semakin besar.
BAB III

METODELOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Bahan

- Air proses dalam suhu panas dari penggunaan praktikum di Laboratorium Pilot Plant.

3.1.2 Alat

- Satu unit peralatan cooling tower

- Termometer bola basah bola kering 1 buah

- Termometer raksa 1 buah

- Stopwatch 1 buah

3.2 Skema Cooling Tower

Gambar 3.1 Skema Rangkaian Alat Cooling Tower


Gambar 3.2 Bagian-Bagian Cooling Tower
Gambar 3.3 Titik Pengambilan Sampel pada Cooling Tower

3.3 Langkah Kerja

Pengukuran suhu Pengukuran suhu


air masuk dan bola basah dan
keluar cooling bola kering
tower (udara)

Pengukuran
dilakukan pada
saat tertentu

3.4 Keselamatan Kerja

1. Wajib Menggunakan Alat Pelindung Diri


2. Berhati hati dalam mengukur suhu air panas dalam Cooling Tower
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4. 1 Tabel Hasil Percobaan

4.1.1 Tabel Hasil Pengukuran Suhu Air Panas dan Dingin di Cooling Tower
Suhu Air Panas Masuk Cooling Tower Suhu Air Dingin di Dalam Cooling Tower
23 OC 21 OC

4.1.2 Tabel Hasil Percobaan Cooling Tower


Suhu bola basah Suhu bola kering Entalpi Kelembaban
(0C) (0C) (Kj/kg)
Lubang Bagian Atas 23 28 68,5 67,5%

Lubang Bagian 20,5 25,5 59,5 65%


Bawah

4.1.3 Tabel Penentuan Efisiensi Cooling Tower


Range Approach Efisensi
2 OC 0,5 OC 80 %

Grafik 4.1 Grafik Psikometrik untuk Penentuan Kelembaban dan Entalpi Cooling Tower
4.2 Pembahasan

4.2.1 Muhammad Faizal (151411051)

Cooling tower adalah rangkaian alat yang digunakan untuk menurunkan suhu air yang
sudah digunakan sebagai kondenser yang mengalami kenaikan suhu. Prinsip kerja cooling
tower yaitu mendinginkan suhu aliran air dengan cara air yang masuk ke cooling tower
dikontakkan dengan udara dingin yang didorong oleh cooling tower dari udara. Mekanisme
cooling tower sendiri adalah penjenuhan adiabatik.Air dikontakkan dengan udara dan secara
otomatis massa air berpindah ke udara karena air dikontakkan terus menerus dengan udara,
udara menjadi jenuh secara adiabatis dan suhu air mengalami penurunan. Tujuan praktikum
kali ini adalah mengevaluasi kinerja cooling tower melalui efisiensi cooling tower.

Berdasarkan hasil praktikum, pada bagian atas dan bawah yang menjadi tempat
O
pengukuran terjadi penurunan suhu air sebesar 2 C dan data entalpi yang diperoleh dari
pengukuran suhu bola basah dan kering yang diplotkan ke grafik, terjadi penurunan entalpi
yang cukup besar. Berdasarkan kedua data tersebut bahwa proses difusi air dan kalor telah
terjadi pada cooling tower sehingga terjadi penurunan suhu dan entalpi di dua titik.

Berdasarkan perhitungan, nilai efisiensi cooling tower sebesar 80%. Nilai tersebut
sudah mendekati efisiensi berdasarkan literatur, yaitu sekitar 90%. Berdasarkan pengamatan
terdapat perbedaan sebesar 2,5% nilai kelembaban bagian atas dan bawah pada cooling
tower, dimana bagian bawah lebih rendah daripada bagian atas, hal ini menandakan
terjadinya pelepasan molekul air atau terlepasnya uap air ketika kontak dengan udara.

4.2.2 Muhammad Ikhsan (151411052)

Cooling tower atau menara pendingin merupakan unit utilitas yang memiliki fungsi
untuk menurunkan suhu air yang telah digunakan pada unit proses. Dalam menara pendingin,
perpindahan kalor berlangsung dari air ke udara. Menara pendingin menggunakan penguapan
dimana sebagian air diuapkan ke aliran udara yang bergerak dan kemudian dibuang ke
atmosfir. Sehingga air yang tersisa didinginkan secara signifikan.

Prinsip kerja cooling tower ini adalah air yang memiliki suhu panas masuk ke
menara pendingin dengan menggunakan pompa melalui bagian atas, lalu dihamburkan
dengan nozzle membentuk butiran-butiran air. Di bagian dalam cooling tower terdapat filler
yang merupakan sebuah bahan terbuat plastik serta berpola rumit yang menyebabkan waktu
tinggal air dalam menara pendingin lebih lama serta, air yang telah di hamburkan di nozzle
akan jatuh di filler menyebabkan terjadinya pembentukan film di bagian filler sehingga
proses perpindahan panas lebih optimum. Udara yang digunakan sebagai pendingin
merupakan udara lingkungan, udara lingkungan akan kontak dengan lapisan film, sehingga
terjadi perpindahan panas paling besar di bagian filler.

Berdasarkan praktikum yang sudah dilakukan, didapatkan beberapa informasi yang


menunjukkan performa dari menara pendingin Laboratorium Pilot Plant. Pengurangan suhu
air yang melalui cooling tower sebesar 2,0 oC. Salah satu yang mempengaruhi pengurangan
ini adalah dimensi menara pendingin yang digunakan (design alat). Meskipun pengurangan
suhu yang dihasilkan terbilang rendah jika dibandingkan dengan penggunaan menara
pendingin pada skala industri. Namun, performa menara pendingin yang digunakan terbilang
baik. Hal ini dapat diamati pada approach atau perbedaan antara suhu air dingin keluar menar
dan effisiensi cooling tower. Dalam percobaan ini approach sebesar 0,5 oC. Seiring dengan
nilai approach, adalah efisiensi. Berdasarkan perhitungan dan data percobaan efisiensi
cooling tower jurusan teknik kimia sebesar 80%. Efisiensi cooling tower sudah mendekati
efisiensi berdasarkan literatur, yaitu sekitar 90%.

Berdasarkan pengamatan kelembaban antara bagian atas dan bagian bawah cooling
tower terdapat perbedaan sebesar 2,5%, dimana bagian bawah lebih rendah daripada bagian
atas, Hal ini menandakan terjadinya pelepasan molekul air atau terlepasnya uap air ketika
kontak dengan udara.

4.2.3 Radian Zulmar Dwi Kuncahyo (151411053)

Pada praktikum kali ini, dilakukan percobaan cooling tower yang bertujuan
mengevaluasi kinerja cooling tower laboratorium teknik kimia atas politeknik negeri bandung
melalui efisiensi cooling tower. Evaluasi dilakukan dengan mengamati kondisi udara
lingkungan dan kelembaban cooling tower pada bagian atas dan bawah. Cooling tower yang
digunakan berjenis induced draft cooling tower yang memiliki fan pada bagian puncak
menara. Pengukuran suhu bola basah dan kering dilakukan sekali pada dua titik berbeda.
Titik pertama pada lubang di bagian atas samping dan titik kedua pada bagian dalam tengah
cooling tower seperti pada Gambar 3.3.
Cooling tower adalah rangkaian alat yang digunakan untuk menurunkan suhu air yang
sudah digunakan oleh proses sebagai air kondenser yang kemudian mengalami kenaikan
suhu. Prinsip kerja cooling tower mendinginkan air panas yang masuk dari atas cooling tower
dan mengkontakkannya dengan udara yang ditarik dari bagian bawah menara oleh fan.
Mekanisme cooling tower merupakan penjenuhan adiabatik. Air dikontakkan dengan udara
dan terjadi perpindahan massa air (difusi). Dengan air yang dikonakkan secara terus menerus
dengan udara, udara menjadi jenuh secara adiabatis dan suhu air mengalami penurunan.

Berdasarkan data percobaan, terjadi penurunan suhu air pada bagian atas dan bagian
bawah sebesar 2 OC. Serta berdasarkan data entalpi yang didapat dari pengukuran suhu bola
basah dan kering kedua bagian didapat terjadi penurunan entalpi yang cukup besar. Dari
kedua data percobaan dapat dikatakan bahwa proses difusi air dan kalor telah terjadi pada
cooling tower sehingga terjadi penurunan suhu dan entalpi di dua titik. Sedangkan pada data
humiditas relatif terjadi penurunan sebesar 2%. Hal ini dikarenakan kelembaban pada bagian
atas/puncak cooling tower lebih tinggi karena hasil penguapan terbawa ke atas menara.

Berdasarkan nilai efektivitas atau efisiensi cooling tower, didapat hasil yang cukup
sesuai dengan literatur dimana efisiensi cooling tower seharusnya lebih dari 90% untuk
kelembaban 80%. Berdasarkan data percobaan didapat efisiensi cooling tower sebesar 80%
untuk range pendinginan 2 OC dengan kelembaban 65%. Hal ini menandakan efisiensi
cooling tower pada percobaan cukup tinggi yang dikarenakan range pendinginan yang kecil.

4.2.4 Rani Dewi Eryani (151411054)


Praktikum ini memiliki tujuan untuk menentukan kelembaban bagian atas dan bawah
cooling tower melalui pengukuran suhu bola basah dan bola kering, menentukan efisiensi
cooling tower, mengevaluasi kinerja cooling tower melalui massa yang teruapkan dari
efisiensi Cooling tower.
Prinsip kerja dari cooling tower adalah dehumidifikasi. Perpindahan panas yang
terjadi berlangsung dari air yang mempunyai suhu lebih tinggi ke udara yang mempunyai
suhu lebih rendah. Pada praktikum yang digunakan adalah cooling tower tipe direct atau open
cooling tower dimana air panas dipancarkan dari atas melewati bahan pengisi untuk
meningkatkan kontak area, dan udara dihembuskan ke atas. Bahan pengisi berupa filler yang
merupakan sebuah bahan terbuat plastik serta berpola rumit yang menyebabkan waktu tinggal
air dalam menara pendingin lebih lama. Semakin banyak kontak antara air dengan udara
maka akan semakin besar nilai humidity. Bila semakin besar kontak maka akan semakin
banyak terjadinya perpindahan panas maupun massa. Uap air akan terbawa oleh udara keluar
cooling tower, air pendingin jatuh ke kolam penampung dan disirkulasi ulang ke atas
sebagian dan ke alat proses yang membutuhkan. Perpindahan panas yang terjadi adalah panas
sensibel dari air panas ke udara yang lebih dingin yang mengakibatkan turunnya temperatur
air. Proses perpindahan panas terjadi antara panas yang dibawa oleh air dan panas yang
dibawa udara agar dapat menguapkan kandungan uap air dari fasa air. Perpindahan massa
terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi
Tempeatur bola basah adalah suhu yang didapat apabila udara didinginkan pada
tekanan konstan hingga jenuh oleh penguapan air yang panas laten untuk penguapan air
berasal dari udara tersebut. Sedangkan temperature bola kering adalah suhu udara
sesugguhnyatidak dipengaruhi oleh kelembeban. Dengan pengukuran menggunakan
thermometer bola kering dan basah dapat diketahui kelembaban approach serta efesiensi dari
cooling tower.
Dari hasil praktikum melalui perhitungan diketahui bahwa range cooling tower adalah
2oC, nilai ini kecil jika dibandingkan dengan nilai range cooling tower pada umumnya. Hal
ini disebabkan air panas yang masuk pada cooling tower hanya memiliki suhu sebesar 230C
yang mana memiliki nilai yang tidak jauh dari suhu lingkungan, dikarenakan cooling tower
adalah alat pendingin yang dilakukan dan memanfaatkan pendinginan dari suhu lingkungan
(walaupun dibantu dengan alat blower) maka pendinginan untuk air masuk tidak bisa jauh
lebih kecil dari suhu ingkunagn yang ada.
Namun effesien dari cooling tower memiliki nilai yang cukup tinggi yaitu 80%.
Berdasarkan literature efisiensi cooling tower seharusnya lebih dari 90% untuk kelembaban
80%. Pada praktikum diketahui nilai kelembaban adalah 65%, ini menandakan bahwa kinerja
dari cooling tower yang diamati cukup baik. Hal ini ditandai dengan adanya perbedaan
kelembaban sebesar 2.5% dari bagian dan bawah cooling tower, artinya terjadinya pelepasan
molekul air atau terlepasnya uap air ketika kontak dengan udara.
BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh simpulan sebagai berikut:

1. Kelembaban cooling tower bagian atas sebesar 67% (relative humidity) sedangkan
kelembaban coolin tower bagian bawah lebih rendah sedikit yakni sebesar 65%.
2. Efisiensi cooling tower laboratorium teknik kimia bawah Politeknik Negeri Bandung
berdasarkan perhitungan sebesar 80%
3. Kinerja cooling tower dalam mendinginkan air dipengaruhi oleh laju alir air masuk,
suhu air masuk/keluar, dan suhu bola basah/kering.

5.2 Saran

Setelah dilakukannya praktikum ini, saran yang dapat dilakukan untuk praktikum
yang selanjutnya yaitu :

1. Modul jobsheet praktikum seharusnya disediakan oleh pihak jurusan teknik kimia
untuk praktikum cooling tower agar terdapat keselarasan tujuan dan langkah
percobaan.
2. Pengukuran seharusnya dilakukan beberapa kali dengan beberapa titik waktu
pengukuran agar data yang dihasilkan lebih presisi.
DAFTAR PUSTAKA

Nasution, Dian Morfi, 2011, Penelitian Kinerja Induced Draft Cooling tower Dengan
Potongan Pipa PVC 1 Inci Sebagai Filling Material, Universitas Sumatera Utara,
http://repository.usu.ac.id [diunduh pada tanggal 11 Oktober 2017].

Sembiring, Ferry, 2010, Pengaruh Penggunaan Media Bahan Pengisi (Filler) PVC dengan
Tinggi 22,5 cm dan Diameter 70 cm terhadap Kinerja Menara Pendingin Jenis Induced-Draft
Counterflow, Universitas Sumatera Utara, http://repository.usu.ac.id [diunduh pada tanggal
11 Oktober 2017].

Sujana, Deni Soleh, 2012, Potensi Daun Lamtoro (Leucaena Leucocephala) Sebagai
Inhibitor Korosi Baja Karbon Unit Heat Exchanger Pada Proses Cooling tower System,
Universitas Pendidikan Indonesia, http://repository.upi.ac.id [diunduh pada tanggal 11
Oktober 2017]
LAMPIRAN
A. Pengolahan Data
Perhitungan Range
Range (OC) = Temperatur Air Masuk CT Temperatur Air Keluar CT
= 23 OC 21 OC
= 2 OC
Perhitungan Approach
Approach (OC) = Temperatur Air Keluar CT Temperatur Bola Basah Bawah
= 21 OC 20,5 OC
= 0,5 OC
Perhitungan Efisiensi

Efisiensi Cooling Tower = + 100%
2
= 2+0,5 100%

= 80 %
B. Prosedur Kerja Lengkap

Mempersiapkan alat ukur (termometer bola basah-kering


dan termometer raksa)

Mengukur suhu air masuk dan air keluar cooling tower


menggunakan termometer raksa.

Mengukur suhu air bagian atas cooling tower,


pengukuran dilakukan pada bagian lubang atas samping
CT menggunakan termometer bola basah-kering

Mengukur suhu bola basah-kering bagian bawah


cooling tower, pengukuran dilakukan di bagian dalam
CT

Mencatat Hasil Pengukuran

Anda mungkin juga menyukai