Anda di halaman 1dari 29

Tugas Makalah Fisika Modern

Transformasi Lorentz dan Kontraksi Lorentz

Disusun Oleh : Kelompok 2


1. Anisa (A1E015019)
2. Melva Oktaviana (A1E015021)
3. Agung Jayadi (A1E015035)

Semester : V (Lima)
Dosen Pengampu : Dr. Nyoman Rohadi, M.Sc

UNIVERSITAS BENGKULU
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
TAHUN AJARAN 2016/2017
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, berkat limpahan Rahmat dan
Taufiq-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat dan salam semoga selalu
tercurah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw., beserta keluarga, sahabat dan
pengikut beliau sampai akhir zaman.

Penulis mengucapkan dan menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada Dosen Pengampu Mata Kuliah Fisika Modern, yakni Dr. Nyoman
Rohadi, M.Sc, yang telah memberikan pengetahuan kepada penulis terutama tentang mata
kuliah ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan waktunya.

Walaupun penulis berusaha semaksimal mungkin untuk menyempurnakan makalah ini,


penulis menyadari betul bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan
kemampuan dan ilmu yang penulis miliki. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran serta
masukan yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Akhirnya hanya kepada Allah kita berserah diri dan semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua, dan penulis khususnya, dan mudah-mudahan Allah selalu
memberikan Ridho-Nya, Amien Ya Rabbal 'Alamin.

Bengkulu, 11 September 2017

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...........................................................................................................i

KATA PENGANTAR ..........................................................................................................ii

DAFTAR ISI ........................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................1

1.1 Latar Belakang........................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................................2

1.3 Tujuan Penulisan.....................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN .....................................................................................................3

2.1 Sejarah Timbulnya Transformasi Lorentz ..............................................................3

2.2 Bentuk Persamaan Transformasi Lorentz...............................................................3

2.3 Kontraksi Lorentz...................................................................................................14

BAB III PENUTUP..............................................................................................................20

3.1 Kesimpulan.............................................................................................................20

3.2 Saran.......................................................................................................................21

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................................22


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Teori Relativitas Einstein adalah teori yang sangat terkenal, tetapi sangat sedikit yang kita
pahami. Utamanya, teori relativitas ini merujuk pada dua elemen berbeda yang bersatu ke dalam
sebuah teori yang sama: relativitas umum dan relativitas khusus. Kedua teori ini diciptakan untuk
menjelaskan bahwa gelombang elektromagnetik tidak sesuai dengan gerak Newton. Gelombang
elektromagnetik dibuktikan bergerak pada kecepatan yang konstan, tanpa dipengaruhi gerakan
sang pengamat. Inti pemikiran dari kedua teori ini adalah bahwa dua pengamat yang bergerak
relatif terhadap masing-masing akan mendapatkan waktu dan interval ruang yang berbeda untuk
kejadian yang sama, namun isi hukum fisika akan terlihat oleh keduanya. Teori relativitas khusus
telah diperkenalkan dulu, dan kemudian berdasar atas kasus-kasus yang lebih luas diperkenalkan
teori relativitas umum.

Pada masa masa permulaan, jutaan triliun nukleoaktivitas terbentuk disepanjang kolong
langit dengan berbagai ukuran. Merekalah cikal bakal semua benda langit, mulai dari planet,
satelit, sampai pada galaksi yang paling besar. Reaksi-reaksi pada selubung nukleoaktivitas
menyebabkan evolusi pada jagat raya. Pada awalnya, selubung itu berbentuk plasma dengan
temperatur yang luar biasa panas seperti pada permukaan bintang.

Cahaya dan gelombang elektromagnetik yang terlepas dari reaksi fusi dan fisi
bisa bergerak leluasa dalam media plasma, sehingga akhirnya tercerai-berai ke segala penjuru
yang salah satunya sampai ke bumi. Oleh pengamat di bumi, panjang gelombang cahaya tampak
ditangkap retina mata, sehingga tampaklah benda langit itu bersinar.

Pada makalah ini, kami akan membahas mengenai materi tentang transformasi Lorentz
dan Kontraksi Lorentz. Transformasi Lorentz sebenarnya pertama kali telah diperkenalkan oleh
Joseph Larmor pada 1897. Versi yang sedikit berbeda telah diperkenalkan pada beberapa dekade
sebelumnya oleh Woldemar Voigt, tetapi versinya memiliki bentuk kuadrat pada persamaan
dilatasi waktu. Tetapi, persamaan dilatasi waktu kedua versi tersebut dapat ditunjukkan sebagai
invarian dalam persamaan Maxwell.

Seseorang Matematikawan dan fisikawan Hendrik Antoon Lorentz mengusulkan gagasan


waktu lokal untuk menjelaskan relatif simultanitas pada 1895, walaupun dia juga bekerja
secara terpisah pada transformasi yang sama untuk menjelaskan hasil nol pada percobaan
Michelson dan Morley. Dia mengenalkan transformasi koordinatnya pada 1899 dan
menambahkan dilatasi waktu pada 1904.

Pada 1905 Henri Poincare memodifikasi formulasi aljabar dan menyumbangkannya


kepada Lorentz dengan nama Transformasi Lorentz formulasi Poincare pada transformasi
tersebut pada dasarnya identik dengan apa yang digunakan Einstein.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana Sejarah Timbulnya Transformasi Lorentz ?
1.2.2 Bagaimana Bentuk Persamaan Transformasi Lorentz ?
1.2.3 Bagaimana Bentuk Persamaan Kontraksi Lorentz ?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Untuk Mengetahui Sejarah Timbulnya Transformasi Lorentz
1.3.2 Untuk Mengetahui Bentuk persamaan Transformasi Lorentz
1.3.3 Untuk Mengetahui Bentuk Persamaan Kontraksi Lorentz

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Timbulnya Transformasi Lorentz


. Transformasi Lorentz sebenarnya pertama kali telah diperkenalkan oleh Joseph Larmor
pada 1897. Versi yang sedikit berbeda telah diperkenalkan pada beberapa dekade sebelumnya
oleh Woldemar Voigt, tetapi versinya memiliki bentuk kuadrat pada persamaan dilatasi waktu.
Tetapi, persamaan dilatasi waktu kedua versi tersebut dapat ditunjukkan sebagai invarian dalam
persamaan Maxwell.
Seseorang Matematikawan dan fisikawan Hendrik Antoon Lorentz mengusulkan gagasan
waktu lokal untuk menjelaskan relatif simultanitas pada 1895, walaupun dia juga bekerja
secara terpisah pada transformasi yang sama untuk menjelaskan hasil nol pada percobaan
Michelson dan Morley. Dia mengenalkan transformasi koordinatnya pada 1899 dan
menambahkan dilatasi waktu pada 1904.

Pada 1905 Henri Poincare memodifikasi formulasi aljabar dan menyumbangkannya


kepada Lorentz dengan nama Transformasi Lorentz formulasi Poincare pada transformasi
tersebut pada dasarnya identik dengan apa yang digunakan Einstein.

2.2 Bentuk Persamaan Transformasi Lorentz


Cahaya merambat dengan kecepatan tertentu, dalam ruang hampa sebesar c.
Bagaimanapun cepatnya, untuk mencapai jarak tertentu cahaya memerlukan waktu tertentu juga.
Jika jarak OP OP, maka cahaya dari O tidak akan sampai dalam waktu yang sama di titik P
dan P. Jika jarak OP > OP seperti yang digambarkan dalam gambar 1 berikut, dan jika waktu
tiba cahaya di P adalah t1 dan waktu tiba cahaya di P adalah t2, maka bisa disimpulkan bahwa
t2 > t1.
Gambar 1 : Sebaran Cahaya Memerlukan Waktu Perambatan

Karenanya jika ada materi yang bergerak dari koordinat P ke P, pada saat cahaya
merambat dari O ke P atau P, kita akan selalu bisa menemukan bahwa materi tersebut sudah
bergerak lebih lama dari waktu. Karenanya materi tersebut akan memiliki jarak dengan
koordinat P. Konsekuensinya, materi tersebut akan sampai pada suatu titik dimana jarak materi
tersebut ke P saat t1 akan lebih dekat dibanding jarak materi tersebut ke P saat t2.

Begitu juga dengan benda yang bergerak dari koordinat O. Ketika cahaya tiba di P dalam
waktu t1, benda tersebut sudah bergerak dalam waktu yang lebih lama dari waktu. Karenanya
benda tersebut akan memiliki jarak dengan koordinat O. Dan saat cahaya sampai di P dalam
waktu t2, benda tersebut akan berada dalam jarak yang lebih jauh dari O.

Sekarang kita analisa transformasi Lorentz menggunakan arah sebaran cahaya dalam
salah satu sumbu ruang, misalnya sumbu x, seperti dalam gambar 2 berikut. Posisi O menurut
pengamat P yang diam adalah x dan posisi O menurut pengamat P yang bergerak adalah x.

Gambar 2 : Transformasi Lorentz


Sama halnya dengan transformasi Galileo, ia ,mengkaitkan dengan koordinat dari suatu
peristiwa (x, y, z, t) sebagaimana diamati dari kerangka acuan O dengan koordinat peristiwa
yang sama (x y z t) yang diamati dari kerangka acuan O yang bergerak dengan kecepatan u
terhadap O. Seperti didepan, kita menganggap bahwa gerak relatifnya sepanjang arah x (atau x)
positif (O bergerak menjauhi O). Bentuk persamaan transformasi Lorentz adalah

Seperti disarankan dalam RSTR, dalam pembahasan gerak relative, kita harus
memperhatikan fakta bahwa cahaya menyebar dari objek menuju pengamat. Dengan
memperhatikan arah sebaran cahaya dari objek menuju pengamat, kita bisa melihat bahwa dalam
transformasi Lorentz yang selama ini dikenal, terdapat kesalahan fundamental dalam hal
pengabaian arah sebaran cahaya. Pengabaian ini membuat titik temu P yang bergerak dianggap
sebagai titik temu dari kejadian Vp.t dan c.t, meskipun kedua kejadian tersebut berada dalam
waktu yang berbeda.

Sesuai dengan prinsip dilasi waktu, untuk pengamat dan objek yang bergerak, jika t dan
t dimulai dari waktu 0 yang sama, maka t t. Konsekuensinya, titik temu P akan menyalahi
konsep titik temu koordinat ruang dan waktu seperti dipaparkan dalam pembahasan dibagian
awal tulisan ini. Untuk mengatasi ini, Lorentz memperkenalkan variable k sebagai penyama
persamaan, sedemikian hingga bisa dituliskan persamaan berikut :

c.t = k(c.t vp.t) (1)

Tetapi walau bagaimanapun hal ini tidak akan menghasilkan kesimpulan yang valid,
karena titik P yang bergerak tidak bisa disebut sebagai titik temu dalam dimensi ruang dan
waktu untuk dua kejadian Vp.t dan c.t karena t t. P hanya akan merupakan titik temu dari dua
kejadian dalam waktu yang berbeda, jika dan hanya jika P diam. Selain itu sesuai dengan konsep
titik materi dalam koordinat ruang dan waktu, jika P adalah pengamat yang semula dalam satu
koordinat dengan P, tentu P adalah P itu sendiri. Konsekuensinya ketika P berada dalam
koordinat ruang yang berbeda dengan P, maka tentu P berada dalam waktu yang berbeda dengan
P. Karenanya penggambaran O dan O dalam transformasi Lorentz dalam rentang waktu yang
sama dengan P dan P, hanya akan berada dalam koordinat ruang yang sama jika dan hanya jika
O adalah diam. Dalam kondisi ini, transformasi Lorentz akan menjadi seperti digambarkan
dalam gambar 6 berikut.

Gambar 3 : Transformasi Lorenz valid untuk kondisi P dan O diam.

Dalam kondisi P dan O diam atau relative diam, sesuai dengan gambar 3, maka
persamaan (1) konsep dasar transformasi Lorentz akan menjadi :

c.t = k(c.t) .(2)

Dan k akan bernilai 1, sehingga persamaan (2) akan menjadi :

t = t ..(3)

Dengan demikian menurut RSTR, bisa disimpulkan bahwa penurunan transformasi Lorentz
hanya valid untuk kondisi pengamat dan objek yang diam.

Dalam penggambaran penurunan transformasi Lorentz, seperti dalam gambar 3, jika posisi P
dalam waktu yang berbeda berada dalam koordinat yang berbeda (P), maka untuk objek O yang
bergerak maka O harus berada dalam koordinat ruang yang berbeda juga. Hal ini bisa
digambarkan seperti dalam gambar 4 berikut.
Gambar 4 : Koreksi transformasi Lorentz jika objek bergerak.

Vp adalah kecepatan inersia P, Vo adalah kecepatan inersia O, t adalah waktu inersia yang
berlaku sama bagi P dan O, dan t adalah waktu pengamatan. Dengan demikian untuk gerak
dalam sumbu tersebut, akan didapatkan persamaan :

Vp.t+c.t = c.t+vo.t ..(4)

Sebagai pengganti persamaan (1) yang merupakan dasar penurunan transformasi Lorentz
untuk sumbu yang sama. Dengan cara ini, transformasi Lorentz yang semula mengabaikan arah
gerak sebaran cahaya dari objek kepada pengamat, bisa direvisi.

Dengan menganggap bahwa ketika berada pada kerangka acuan S dan mendapatkan
koordinat suatu kejadian pada saat t ialah x, y, z. Pengamat yang berada pada kerangka acuan
yang lain S yang bergerak terhadap S dengan kecepatan tetap v akan mendapatkan bahwa
kejadian yang sama terjadi pada saat t dan berkoordinat x, y, z. (untuk menyederhanakannya,
maka ambil v dalam arah + x, seperti dalam gambar 1-10).

Jika kita tidak menyadari efek relativitas khusus, jawabannya kelihatannya cukup jelas.
Jika waktu kedua sistem diukur dari saat ketika titik-aral S dan S berimpit, pengukuran dalam
arah x yang dilakukan di S akan melebihi yang di S dengan vt, yang menyatakan jarak yang
ditempuh Sdalam arah x. Jadi,

1.25 x ' = x - vt

Tidak terdapat gerak relative dalam arah y dan z, sehingga

1.26 y'= y
1.27 z'= z
Dalam hal tak terdapat indikasi yang bertentangan dengan pengalaman sehari-hari, kita anggap

1.28 t'=t

Himpunan persamaan 1.25 hingga 1.28 dikenal sebagai transformasi galilei.

Untuk mengubah komponen kecepatan yang diukur dalam kerangka S ke kuantitas setara
dalam kerangka S menurut transformasi galilei, kita diferensiasi x, y dan z terhadap waktu

dx '
1.29 v 'x = = vx - v
dt '

dy '
1.30 v 'y = = vy
dt '

dz '
1.31 v 'z = = vz
dt '
Transformasi galilei dan transformasi kecepatan menghasilkan sesuatu yang sesuai
dengan ekspektasi intuitif kita, tetapi transformasi itu melanggar postulat relativitas khusus.
Postulat pertama mensyaratkan persamaan yang sama untuk fisika dalam kedua kerangka acuan
S dan S, tetapi ternyata persamaan pokok dalam kelistrikan dan kemagnetan mengambil bentuk
yang sangat berbeda bila kita pakai transformasi galilei untuk mengubah kuantitas yang terukur
pada suatu kerangka acuan ke kuantitas yang setara dalam kerangka acuan yang lain. Postulat
kedua mensyaratkan harga yang sama untuk kelajuan cahaya c baik ditentukan dari S maupun S.
Jika kita ukur kelajuan cahaya dalam arah x dalam sistem S ternyata c, dalam sistem S akan
menjadi

c' = c -v
Menurut persamaan 1.29. Jelaslah transformasi yang berbeda diperlukan bila postulat relativitas
khusus harus dipenuhi. Kita harapkan keduanya pemuaian waktu dan pengerutan panjang
mengikuti secara wajar dari transformasi baru ini.

Suatu terkaan yang nalar yang menyatakan hubungan yang benar antara x dan x ialah

1.32 x ' = k ( x - vt )
Kaitan antara x dan x yang rasional adalah memenuhi

x = k (x-vt)

dengan k menyatakan factor pembanding yang tak bergantung dari besaran x atau t tetapi dapat
merupakan fungsi v. Pemilihan persamaan diatas sebagai alternatif transformasi dalah didasarkan
pada pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

1. Persamaan tersebut linear terhadap x dan x, sehingga suatu kejadian dalam kerangka S
bersesuaian dengan kejaian tunggal dalam kerangka S, seperti seharuusnya.
2. Bentuk persamaan tersebut sangat sederhana, sehingga pemecahannya mudah dipahami.
3. Persamaan tersebut dapat direduksi menjadi bentuk persamaan dari transformasi Galileo
x= x-vt yang dapat dibuktikan kebenarannya dalam persamaan-persamaan mekanika
klasik.
Berpijak pada postulat pertama relativitas khusus maka persamaan fisika harus berbentuk
sama dalam kerangka S dan S, sehingga kaitan x sebagai fungsi x dan t dapat dinyatakan
dalam persamaan:
x = k (x+ vt)

koordinat t dan t tidak sama, hal ini dapa dilihat dengan mensubtitusi x yaitu:
Dengan k merupakan faktor pembanding yang tak bergantung dari x atau t, tetapi dapat
merupakan fungsi dari V . Pemilikan persamaan 1.32 mengikuti beberapa perkembangan:

1. Persamaan itu linear terhadap x dan x, sehingga suatu kejadian dalam kerangka S
bersesuaian dengan kejadian tunggal dalam kerangka S, seperti seharusnya.
2. Persamaannya sederhana, dan suatu pemecahan sederhana dari suatu persoalan sudah
sepantasnya didahulukan eksplorasinya.
3. Persamaan itu dapat direduksi menjadi persamaan 1.25 yang diketahui kebenarannya
dalam mekanika klasik.

Karena persamaan fisika harus berbentuk sama dalam kedua kerangka S dan S, kita hanya
memerlukan untuk mengganti tanda v (supaya memperhitungkan perbedaan arah relatif ) untuk
menuliskan persamaan yang bersesuaian untuk x dinyatakan dalam x dan t:

1.33 x = k ( x '+ vt ')


Faktor k harus sama dalam kedua kerangka karena tidak terdapat perbedaan antara S dan S
kecuali tanda v.

Seperti dalam kasus transformasi galilei tidak ada alasan untuk membedakan antara
koordinat y, y ', dan z , z ' yang normal pada arah v. Jadi kita ambil

1.34 y' = y

1.35 z'= z
Namun, koordinat t dan t tidak sama. Kita dapat melihat hal ini dengan mnsubsitusikan
x yang didapat dari persamaan 1.32 ke persamaan 1.33. Kita dapatkan

x = k 2 ( x - vt ) + kvt '
Dari sini kita dapatkan

1- k 2

1.36 t ' = kt + x
kv

Persamaan 1.32 dan 1.34 hingga 1.36 merupakan transformasi koordinat yang memenuhi
postulat relativitas khusus.

Postulat kedua dari relavititas memungkinkan kita untuk mencari k. pada t=0, titik asal
kedua kerangka S dan Sberada tempat yang sama, menurut persyrataan awal, maka t=0 juga,
dan pengamat pada masing-masing kordinat meneruskan pengukuran kelanjutan cahaya yang
memancar dari titik itu. Kedua pengamat harus mendapatkan kelajuan yang sama c (gambar 1-1),
yang berarti bahwa dalam kerangka S

1.37 x = ct

Sedangkan dalam kerangka S

1.38 x = ct

Substitusi x dan t pada pers. 1.38 dengan pertolongan pers 1.32 dan 1.36, didapatkan
1 - k 2
k ( x - vt ) = ckt + cx
kv

v
k+ k
ckt + vkt c
x= = ct
1- k
2
1- k 2
k - c k -
c
kv kv

Dan mencari x,
v
1+
= ct c
1 c
1 - 2 - 1

k v

Rumusan untuk x ini akan sama dengan yang diberikan dalam persamaan 1.37, yaitu
x = ct jika kuantitas dalam tanda kurung sama dengan 1. Jadi,

v
1+
c =1
1 c
1 - 2 - 1
k v

Dan

1
1.39 k=
1 - v2 / c2

Dengan memasukkan k dalam persamaan 1.35 dan 1.39, kita dapatkan transformasi
lengkap dari pengukuran suatu kejadian dalam S terhadap pengukuran yang sesuai yang
dilakukan dalam S, memenuhi persamaan:

x - vt
1.40 x' =
1 - v2 c2
1.41 y=y

1.42 z=z
vx
t-
1.43
t'= c2
1 - v2 / c2

Persamaan tersebut merupakan transformasi lorent. Persamaan itu pertama kali


ditemukan oleh seorang fisikawan belanda H.A.lorent yang menunjukkan bahwa rumusan dasar
dari keelegtromagnetan sama dalam semua kerangka acuan yang dipakai. Baru bertahun-tahun
Eistein menemukan arti penting sesungguhnya dari persamaan itu. Jelaslah bahwa transformasi
Lorent tereduksi menjadi transformasi galilei jika kelanjutan relatif v kecil dibandingkan dengan
kelajuan cahaya c.

Dalam persoalan di atas koordinat ujung-ujung tongkat yang bergerak diukur dari kerangka

diam S pada saat t, dan dengan mudah kita dapat memakai persamaan 1.40 untuk melalui L0 dan

v. jika kita ingin melihat pemuaian waktu melalui persamaan 1.43, ternyata tidak mudah, kerana
t1 dan t2 yang merupakan awal dan akhir suatu selang waktu harus diukur bila lonceng yang

bergeraknya berada dalam kedudukan yang berada x1 dan x2 . Dalam keadaan seperti ini lebih
mudah jika dipakai transformasi lorent balik, yang mengkonvensikan pengukuran yang dibuat
dalam koordinat bergerak S ke koordinat setaranya dalam S. Untuk memperoleh transformasi
baliknya, kuantitas beraksen dan tanpa aksen dalam persamaan 1.40 hingga 1.43 dipertukarkan,
dan v diganti dengan v

x '+ vt '
1.44 x=
1 - v2 / c2
1.45 y = y

1.46 z = z

vx '
t '+
1.47
t= c2
1 - v2 / c2
Dengan adanya transformasi Lorentz, maka masalah perbedaan pengukuran panjang, massa,

dan waktu, antara dibumi dapat terpecahkan.

2.3 Kontraksi Lorentz

Kontraksi panjang adalah fenomena memendeknya sebuah objek yang diukur oleh pengamat

yang sedang bergerak pada kecepatan bukan nol relative terhadap objek tersebut. Kontraksi

ini(resminya adalah kontraksi Lorentz atau kontraksi Lorentz-FitzGerald dari Hendrik Lorentz

dan George FitzGerald) biasanya hanya dapat dilihat ketika mendekati kecepatan cahaya.

Kontraksi panjang hanya terlihat pada arah parallel dengan arah dimana benda yang diamati

bergerak. Efek ini hampir tidak terlihat pada kecepatan sehari-hari dan diabaikan untuk semua

kegiatan umum. Hanya pada kecepatan sangat tinggi dapat terlihat. Pada kecepatan 13.400.000

m/s (30 juta mph, 0.0447c) kontraksi panjangnya adalah 99,9% dari panjang saat diam; pada

kecepatan 42.300.000 m/s (95 juta mph, 0.141c), panjangnya masih 99%. Ketika semakin

mendekati kecepatan cahaya, maka efeknya semakin kelihatan, seperti pada rumus:

L0
L= = L0 1 - u 2 / c 2
g (u )
0
Dimana : L = panjang diam (panjang objek ketika diam)

L = panjang yang dilihat pengamat pada gerak relative terhadap objek,

v = kecepatan relative antara pengamat dan benda bergerak

c = kecepatan cahaya

dan faktor Lorentz, (v), didefinisikan dengan

1
g (u ) =
1 - u 2 / c2

Dalam persamaan ini diasumsikan bahwa objek paralel dengan garis perpindahannya. Untuk

pengamat dengan gerak relatif, panjang objek diukur dengan mengurangkan secara simultan

jarak kedua ujung objek. Untuk konversi yang lebih umum, lihat transformasi Lorentz. Pengamat

pada keadaan diam melihat objek yang bergerak mendekati kecepatan cahaya akan melihat

panjang objek tersebut mendekati nol. Pengukuran panjang seperti halnya pengukuran selang

waktu juga dipengaruhi oleh gerak relatif. Panjang L benda yang bergerak terhadap pengamat

0
kelihatannya lebih pendek dari panjang L bila diukur dalam keadaan diam terhadap pengamat.

0
Gejala ini dikenal sebagai pengerutan Lorentz Fitz Gerald. Panjang L suatu benda dalam

kerangka diam-nya disebut sebagai panjang proper.


Perhatikan sebatang tongkat berada dalam keadaan diam di S dengan satu ujung di x2

dan ujung lain di x1. Panjang tongkat dalam kerangka ini ialah panjang propernya Lo= x2- x1.

Panjang tongkat dalam kerangka S didefinisikan sebagai L= x2- x1, dengan x2 merupakan posisi

satu ujung pada suatu waktu t2 dan x1 dalam t1= t2 sebagaimana yang diukur di kerangka S.

Contoh gejala fisis yang memenuhi pengerutan panjang ini adalah terbentuknya muon. Muon

adalah partikel tak stabil yang tercipta pada tempat tinggi oleh zarah cepat dalam sinar kosmik

yang datar dari angkasa luar sewaktu terjadi tumbukan dengan inti atom dalam atmosfer bumi.

Muon akan meluruh menjadi elektron atau positron setelah umur rata-ratanya 2 s.

Muon dalam sinar kosmik berkelajuan 0,998 c dan mencapai permukaan laut dalam jumlah

besar. Muon menembus tiap cm persegi permukaan bumi rata-rata lebih dari 1 kali tiap

menit. Dalam umur rata-rata muon tersebut jarak yang dapat ditempuh sebelum meluruh

adalah:
8 -6s
0 0
h = vt = (2,994.10 m/s)(2.10 ) = 600m

Sedangkan muon tercipta pada ketinggian 6000 m atau lebih. Untuk memecahkan paradoks

ini maka tinjau bahwa umur muon 2s didapat oleh pengamat yang dalam keadaan diam
terhadap muon. Karena muon bergerak ke arah kita yang berada di bumi maka umurnya

akan memanjang terhadap kerangka acuan kita dengan pemuaian waktu. Fitz Gerald dan Lorentz

membayangkan bahwa penggaris-penggaris yang pejal dimampatkan oleh tekanan belitan eter.

Menurut Einstein, gerak itu sendirilah yang menyebabkan kontraksi panjang dan

memuainya waktu. Dalam hal ini terdapat cara lain untuk melihat peristiwa kekonstanan

kelajuan cahaya. Jika penggaris yang bergerak menjadi lebih pendek dan arloji yang bergerak

berdetak lebih lambat sehingga pengamat yang bergerak akan mengukur kelajuan cahaya dengan

sebuah penggaris yang lebih pendek (jarak lintasan cahaya lebih pendek) dan sebuah arloji yang

lebih lambat iramanya (membutuhkan waktu lebih lama) dari pada pengamat yang diam. Setiap

pengamat akan menganggap penggaris dan arlojinya sangat normal dan sempurna, sehingga

kedua pengamat akan memperoleh kelajuan cahaya sama dengan c.

Inilah buah awal dari asumsi-asumsi dasar Einstein (prinsip kekonstanan kelajuan cahaya

dan prinsip relativitas. Pertama, Sebuah objek yang bergerak tampak memendek lintasannya

ketika kelajuannya bertambah, pada kelajuan cahaya, objek akan objek akan lenyap. Kedua,

sebuah arloji yang bergerak bergerak lebih lambat dari pada arloji yang diam, dan terus
melambat iramanya ketika kelajuannya bertambah, pada kelajuan arloji sama dengan kelajuan

cahaya, arloji akan berhenti berdetak, seperti tampak pada gambar

Efek-efek ini hanya terlihat oleh seorang pengamat yang diam, yakni pengamat yang

diam terhadap arloji dan penggaris yang bergerak. Efek-efek ini tidak terlihat oleh pengamat

yang bergerak bersama dengan arloji dan penggaris. Untuk menerangkan hal ini Einstein

memperkenalkan istilah proper (benar) dan relatif. Panjang penggaris yang kita ukur ketika kita

diam terhadap penggaris disebut panjang proper. Selang waktu yang kita ukur ketika kita diam

terhadap arloji disebut waktu proper. Panjang proper dan waktu proper terlihat normal. Panjang

yang kita amati ketika mistar bergerak terhadap kita disebut panjang relatif. Demikian pula

selang waktu yang kita ukur ketika arloji bergerak terhadap kita disebut waktu relatif. Panjang

relatif selalu lebih pendek dibandingkan panjang sebenarnya (panjang proper). Waktu relatif

selalu lebih lama dibandingkan waktu sebenarnya (waktu proper). Waktu yang kita lihat pada
arloji kita sendiri adalah waktu proper, dan waktu yang kita lihat pada arloji orang yang bergerak

terhadap kita adalah waktu relatif (menurut penglihatan kita, bukan penglihatan orang yang

bergerak terhadap kita).

Panjang mistar di tangan kita sendiri adalah panjang sebenarnya, dan panjang mistar di

tangan orang lain yang 13 bergerak terhadap kita adalah panjang relatif. Dari kerangka acuan

orang yang bergerak terhadap kita, maka orang tersebut diam dan kita bergerak, dan sebaliknya.

Bayangkan kita sedang naik sebuah pesawat luar angkasa untuk melakukan eksplorasi. Kita

diharuskan menekan sebuah tombol setiap lima belas menit sekali untuk mengirimkan sebuah

sinyal ke bumi. Ketika kecepatan pesawat terus-menerus bertambah, rekan-rekan kita di bumi

melihat bahwa sinyal-sinyal yang kita kirim ke bumi mulai berinterval tujuh belas menit, dan

kemudian dua puluh menit. Setelah beberapa hari rekan-rekan kita di bumi mulai keheranan

mendapati bahwa sinyal-sinyal yang kita kirim datang setiap dua hari sekali. Ketika kecepatan

pesawat terus bertambah, sinyal-sinyal yang kita kirim datang ke bumi dalam interval waktu

tahunan.
Akhirnya sinyal-sinyal kita datang setiap satu, dua generasi dan seterusnya. Sementara itu

di pesawat, kita sama sekali tidak mengetahui kebingungan rekan-rekan kita di bumi. Sejauh

pengetahuan kita, semuanya berjalan sesuai dengan rencana, meskipun kita menjadi bosan

dengan rutinitas menekan tombol setiap lima belas menit sekali. Ketika kita kembali ke bumi

beberapa tahun kemudian (waktu kita sendiri), kita mendapati bahwa kita telah berkelana,

menurut waktu bumi selama berabadabad (waktu relatif). Tepatnya lama waktu itu bergantung

pada kecepatan pesawat.

Contoh lain waktu proper dan waktu relatif dapat dikemukakan sebagai berikut: misalnya

kita berada di stasiun luar angkasa untuk mengamati seorang astronot yang meluncur dengan

kecepatan 161 kilo mil per detik terhadap kita. Ketika kita melihatnya, kita mendapati

kelembaman tertentu dalam gerakannya, seolah-oleh astronot tersebut bergerak pelan (slow

motion). Kita juga mendapati bahwa semua yang ada di dalam pesawat tampak bergerak pelan.

Rokok si astronot, sebagai contoh, tersisa dua kali lebih panjang dibandingkan rokok kita.

Tentu saja kelembamannya itu disebabkan oleh fakta bahwa astronot itu dengan cepat semakin

jauh jaraknya dari kita, dan dalam setiap 14 momentum, pesawatnya semakin jauh jangkauannya
dari kita. Meski demikian setelah menghitung lama waktu penerbangannya, kita masih

mendapati bahwa astronot itu bergerak lebih lambat dari biasanya. Akan tetapi bagi astronot, kita

lah yang menyalipnya dengan kecepatan 161 kilo mil per detik, dan setelah mengetahui yang

sebenarnya, dia mendapati bahwa kita lah yang bergerak lambat. Rokok kita masih tersisa dua

kali lebih panjang dibandingkan rokoknya. Peristiwa ini merupakan ilustrasi yang paling tepat

tentang bagaimana rumput di hamalan sebelah selalu lebih hijau. Rokok setiap orang tersisa dua

kali lebih panjang dari pada rokok orang lain. Waktu yang kita alami dan ukur sendiri adalah

waktu kita sendiri. Rokok kita bakar habis sesuai dengan lama waktu normalnya. Waktu yang

kita ukur adalah waktu relative bagi astronot.

Rokok astronot lebih panjang dua kali dari pada rokok kita karena waktunya berjalan dua

kali lebih lambat dari pada waktu kita. Ini menggambarkan panjang proper dan panjang relatif.

Dari sudut pandang kita, rokok astronot, ini menunjukkan arah yang dituju pesawatnya, lebih

panjang dari rokok kita sendiri. Dari cara pandang yang lain, astronot tersebut melihat dirinya

diam dan rokoknya normal. Dia juga melihat kita meluncur dengan kecepatan 161 kilo mil per

detik terhadapnya, dan rokok kita lebih panjang dar pada rokoknya dan terbakar lebih lambat.
Contoh :

1. Seorang astronot berada dalam pesawat angkasa yang bergerak dengan laju 2.108 m/s
terhadap kerangka acuan bumi. Jika menurut pengamat di bumi astronot telah melakukan
perjalanan itu memakan waktu 12 jam, maka menurut jam yang dipakai astronot
perjalanan itu telah memakan waktujam
Jawab :
t = 12 jam
t0 = .???
C = 3 X 108

t = t0

12 = t0

t0 = 4

2. Seorang astronot sedang berada dalam perjalanan luar angkasa dengan pesawat
berkecepatan 0,8 C terhadap acuan bumi. Jika waktu di pesawat menunjukkan bahwa
astronot telah melakukan perjalanan selama 3 tahun, maka jarak yang telah ditempuh
astronot menurut pengamat di bumi adalah.tahun cahaya
Jawab :
t0 = 3 tahun

= = =

t = t0 = (3)

= 5 tahun
L0 = Vt
= 0,8C X 5 Tahun
= 4 Tahun cahaya

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan materi tentang transformasi Lorentz dan kontraksi Lorentz, maka

dapat disimpulkan bahwa :

3.1.1 Cahaya merambat dengan kecepatan tertentu, dalam ruang hampa sebesar c.
Bagaimanapun cepatnya, untuk mencapai jarak tertentu cahaya memerlukan waktu
tertentu juga.
3.1.2 Bentuk gambar pada transformasi Lorentz yaitu Posisi O menurut pengamat P yang
diam adalah x dan posisi O menurut pengamat P yang bergerak adalah x.
3.1.3 Persamaan transformasi lorent, yaitu :
vx
t-
t'= c2
1 - v2 / c2
yang menunjukkan bahwa rumusan dasar dari keelegtromagnetan sama dalam
semua kerangka acuan yang dipakai.

3.1.4 Kontraksi panjang (Kontraksi Lorentz) adalah fenomena memendeknya sebuah

objek yang diukur oleh pengamat yang sedang bergerak pada kecepatan bukan nol

relative terhadap objek tersebut dan biasanya hanya dapat dilihat ketika mendekati

kecepatan cahaya. Ketika semakin mendekati kecepatan cahaya, maka efeknya

semakin kelihatan, seperti pada rumus:

L0
L= = L0 1 - u 2 / c 2
g (u )

3.2 Saran
Makalah ini masih jauh dari kata kesempurnaan jadi diharapkan kritik dan saran yang
membangun agar makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA

Beiser,Arthur.2002.Concepts of Modern Physic Sixth Edition.

https://agussuroso102.wordpress.com/2017/04/20/transformasi-lorentz/

http://dilayolanda.blogspot.co.id/2015/06/teori-maxwell-transformasi-lorentz-dan.html

https://books.google.co.id/books?
id=ub2Ss0jukcC&pg=PT295&lpg=PT295&dq=KONTRAKSI+fitzLORENTZ&source=bl&ots=
oSf71Ncxug&sig=AMUNAiedhzt7LXLKjBQ6wg5wGRE&hl=ban&sa=X&ved=0ahUKEwijioz
yZrWAhVPOrwKHcovC_Q4ChDoAQgwMAU#v=onepage&q=KONTRAKSI%20fitz-
LORENTZ&f=false

https://id.wikipedia.org/wiki/Kontraksi_panjang

http://zulda.blogspot.co.id/2012/05/lks-fisika-modern-relativitas.html