Anda di halaman 1dari 15

Kontroversi

Kebatinan dan Agama

Kebatinan Dan Agama

Dalam kehidupan manusia di negara maju dan berkehidupan modern, agama dan kebatinan
merupakan hal yang bersifat pribadi dan perbedaan-perbedaan pandang di dalamnya tidak
dipermasalahkan selama tidak menyentuh langsung privacy mereka. Mereka menekankan pada
kehidupan yang rasional, menghargai privacy, dan tidak mempermasalahkan kehidupan religi dan
kepercayaan seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka tidak membawa-bawa urusan agama
atau urusan pribadi lainnya, tetapi lebih menekankan kepentingan bersama dan kemampuan
manusia sendiri untuk mengatur dan mengusahakan jalan hidupnya sendiri. Jati diri dan kepribadian
mereka sudah mapan.

Tetapi di Indonesia, kepribadian masyarakatnya masih labil. Kepribadian masyarakatnya campur


aduk. Sebagian masyarakatnya masih hidup dengan memelihara budaya lama. Agama dan kebatinan
merupakan bagian hidupnya. Sebagian lagi menggantikan kehidupan budaya lama dengan
kehidupan yang agamis dan ada yang "memaksakan" agamanya kepada negara atau orang lain.
Sebagian lagi berusaha untuk hidup rasional, tidak terkekang dalam urusan fanatisme agama.
Sebagian lagi tidak peduli dengan urusan agama ataupun budaya, hidup menurut jalan dan prinsip
hidupnya sendiri.

Di Indonesia sebagian masyarakatnya tidak menghargai privacy, tidak menghargai kehidupan religi
dan kepercayaan orang lain, tidak menghargai hidup rukun dan kebersamaan, memaksakan egoisme
pribadinya terhadap orang lain yang tidak sejalan. Konflik kesukuan dan agama sering terjadi karena
adanya orang-orang yang memaksakan egoismenya. Fanatisme memuliakan agama tidak dilakukan
dengan perbuatan-perbuatan yang mulia, malah banyak orang yang berperilaku rendah dan
meyakini perbuatan-perbuatannya yang rendah sebagai perbuatan memuliakan agama.

Selain ada yang mencerca agama lain, sebagian kalangan agamis mencerca kehidupan berkebatinan
sebagai haram, menganggapnya sebagai jalan kepercayaan yang rendah, yang harus diberantas,
karena dianggap beerpotensi meracuni iman dan agama. Banyak kalangan yang mengatakan bahwa
kebatinan adalah aliran kepercayaan di Indonesia yang tidak termasuk sebagai agama yang diakui
seperti Islam, Kristen, Katolik, Budha dan Hindu. Tapi sebenarnya itu adalah persepsi yang dangkal
dan keliru, karena orang hanya memandang secara harfiah saja, hanya memandang dari kulit dan
"bungkus kemasan" formalitasnya saja, karena kebatinan tidak sesempit itu maknanya, tetapi lebih
dalam dan luas. Kebatinan memiliki banyak makna dan definisi, tergantung dari sudut mana kita
memandang.

Jika kebatinan hanya dipandang secara harfiahnya saja, hanya dipandang dari sisi bentuk formalnya
saja, maka manusia telah memandang kebatinan secara dangkal. Seharusnya manusia bisa berpikir
dan bersikap lebih kritis, jangan segala sesuatu hanya dipandang secara dangkal, jangan hanya dari
kulitnya saja. Manusia harus belajar memandang dari sisi hakekatnya, arti dan makna di dalamnya.

Kebatinan tidak hanya terkait dengan keilmuan kebatinan, atau ketuhanan dan aliran kepercayaan,
tetapi bersifat universal, berkaitan dengan segala sesuatu yang dirasakan manusia pada batin yang
paling dalam. Kebatinan melandasi kehidupan manusia sehari-hari. Di dalam kebatinan masing-
masing manusia terkandung keyakinan dan kepercayaan pribadi, pandangan dan pendapat pribadi,
prinsip dan sikap hidup pribadi, yang semuanya itu menjadi bagian dari kepribadian seseorang dan
juga tercermin dan melandasi perbuatan dan perilakunya sehari-hari.

Di dalam sikap hidup berkebatinan ada laku-laku dan ritual yang dilakukan manusia, seperti laku dan
ritual dalam peribadatan agama atau laku-laku yang dilakukan dalam kepercayaan dan tradisi,
seperti laku dan ritual yang dilakukan masyarakat dalam budaya dan kepercayaan kejawen, atau laku
memperingati / merayakan hari-hari besar agama, atau laku-laku pribadi dan kelompok sesuai
kepercayaan kebatinan masing-masing orang, seperti puasa mutih, puasa senin-kamis, wiridan /
zikir, pengajian, doa bersama, tahlilan, selametan, dsb. Tetapi sikap dan laku dalam berkebatinan
tidak selalu harus ditunjukkan dengan laku-laku tertentu yang kelihatan mata, karena kebatinan
terutama berisi sikap hati dan pandangan-pandangan pribadi yang semuanya tidak selalu terwujud
dalam laku dan ritual yang kelihatan mata. Termasuk sikap hidup rasional manusia yang hidup di
negara-negara maju dan modern, itu adalah sikap kebatinan mereka dalam hidup mereka sehari-
hari.

Selain yang berbentuk agama, sebagian besar pemahaman kebatinan dan aliran kebatinan yang ada
(di seluruh dunia) adalah bersifat kerohanian dan keagamaan, berisi upaya penghayatan
kepercayaan manusia terhadap Tuhan (Roh Agung Alam Semesta) dengan cara pemahaman mereka
masing-masing. Tujuan tertinggi penghayatan kebatinan mereka adalah untuk mencapai kesatuan
dan keselarasan dengan pribadi tertinggi (Tuhan). Oleh sebab itu penganut golongan kebatinan
berusaha mencapai tujuan utamanya, yaitu menyatu dengan Tuhan, menyelaraskan jiwa manusia
dengan Tuhan, melalui olah batin, laku rohani dan keprihatinan, menjauhi kenikmatan hidup
keduniawian, dan menyelaraskan hidup mereka dengan sifat-sifat Tuhan.
Kebatinan adalah segala sesuatu yang dirasakan manusia pada batinnya yang paling dalam, dalam
bidang apapun, termasuk dalam hal berkeagamaan dan berketuhanan, dan itu terjadi pada siapa
saja, termasuk pada orang-orang yang sangat tekun beribadah dan murni dalam agamanya. Dan
mungkin tidak banyak orang yang menyadari bahwa setiap agama pun mengajarkan juga kebatinan
dalam berkeagamaan, tentang apa yang dirasakan hati dan batin, mengajarkan untuk selalu
membersihkan hati, bagaimana harus berpikir dan bersikap, dsb. Dalam masing-masing firman dan
sabda terkandung makna kebatinan yang harus dihayati dan diamalkan oleh para penganutnya.
Bahkan panggilan yang dirasakan seseorang untuk beribadah, itu juga batin. Dan dalam batin itu
tersimpan sebuah kekuatan yang besar jika dilatih dan diolah. Kekuatan batin menjadi kekuatan hati
dalam menjalani hidup dan memperkuat keimanan seseorang.

Pengertian kebatinan bersifat luas. Kebatinan terutama berisi pengimanan / penghayatan seseorang
terhadap apa yang dirasakannya di dalam batinnya, apapun agama atau kepercayaannya, dan di
dalam masing-masing agama dan kepercayaan juga terkandung suatu kebatinan yang harus dihayati
dan diamalkan oleh para penganutnya. Dalam masing-masing firman dan sabda terkandung makna
kebatinan yang harus dihayati dan diamalkan oleh para penganutnya. Sayangnya, sikap kebatinan
dalam berkeagamaan ini sudah banyak yang meninggalkannya, digantikan dengan ajaran tata ibadah
saja atau dogma dan doktrin ke-Aku-an agama. Orang lebih memilih menjalani kehidupan formal
agamis dan hanya menjalankan sisi peribadatan yang bersifat formal dan wajib saja. Sisi kebatinan
dari agamanya sendiri seringkali tidak ditekuni.

Seringkali orang memandang istilah kebatinan secara dangkal, membabi-buta menyamaratakan


semuanya sebagai aliran kebatinan atau aliran kepercayaan dan mempertentangkannya dengan
agama. Perilaku kebatinan (misalnya kejawen) yang dilakukan oleh seseorang yang beragama,
seringkali memang menjadi objek yang dipertentangkan orang, dianggap bertentangan dengan
agama, atau juga dianggap sebagai aliran / ajaran yang bisa merusak keimanan seseorang.

Jika kebatinan dipandang sesuai hakekatnya, sesuai arti dan maknanya seperti disebut di atas, maka
yang selama ini disebut sebagai aliran-aliran agama, sekte-sekte, kelompok-kelompok agama dan
agamis yang tokoh-tokohnya memiliki pengikut, dsb, adalah bentuk-bentuk formal dari aliran
kebatinan yang masing-masing memiliki pemahaman kebatinan sendiri-sendiri dan berbeda, tidak
persis sama, antara satu dengan lainnya, walaupun masih dalam wadah agama yang sama. Karena
adanya paham kebatinan yang berbeda, pandangan-pandangan dan pendapat yang berbeda, maka
di dalam suatu agama terbentuklah kelompok-kelompok di dalamnya yang mewujud dalam bentuk
aliran-aliran agama, sekte-sekte, lembaga-lembaga agama, ormas-ormas, dsb. Hanya saja karena
kelompok dan paham kebatinan mereka masih dalam lingkup agama yang sama dan berlatar-
belakangkan agama keberadaannya tidak dipermasalahkan orang-orang yang seagama.

Masing-masing kelompok itu bisa juga disebut sebagai aliran kebatinan, atau aliran kepercayaan, di
bawah payung agama. Masing-masing paham kebatinan keagamaan di dalam kelompok-kelompok
itu berbeda, tidak persis sama, dan tidak mau dikatakan sama, dengan kelompok-kelompok yang
lain, walaupun masih dalam wadah agama yang sama. Apalagi jika kelompok-kelompok itu berbeda
agama, atau malah diperbandingkan dengan kelompok / aliran kepercayaan yang bukan agama, ya
sudah pasti berbeda.

Walaupun pengertian kebatinan bersifat luas, tetapi dunia kebatinan pada masa sekarang memang
sudah termasuk "haram" untuk diperbincangkan, karena orang berpandangan sempit dan dangkal
tentang kebatinan. Kebatinan dalam berkeagamaan saja jarang orang yang menekuni, karena orang
lebih suka menjalani sisi agama yang formal saja. Sekalipun banyak orang hafal dan fasih ayat-ayat
suci, tetapi tidak banyak orang yang mengerti sisi dan makna kebatinan dan spiritual di dalamnya,
sehingga pencitraan, pengkultusan, dan dogma dalam kehidupan beragama terasa sekali mengisi
kehidupan beragama, akibatnya banyak sekali terjadi perbedaan pandang dan pertentangan di
kalangan mereka sendiri. Banyaknya aliran dan sekte dalam suatu agama adalah bentuk dari ketidak-
seragaman kebatinan dan spiritual dari para penganut agama itu sendiri.

Tetapi sebenarnya jika orang mau mengakui, seseorang yang memandang kebatinan dan aliran
kebatinan sebagai "haram", yang menjadikannya alasan dianggap "haram" sebenarnya adalah bukan
karena kebatinan atau aliran kebatinan itu sendiri, tetapi karena aliran kebatinan itu tidak
merupakan bagian dari agamanya, posisi aliran kebatinan itu sama dengan agama lain yang "haram"
baginya yang tidak diterima dan tidak diakui oleh pandangan agamanya. Sekalipun seseorang
menganggap agamanya sendiri mulia, tetapi, jika semua orang memandang "haram" agamanya
orang lain, maka agamanya itu sendiri adalah "haram" bagi orang lain yang tidak sama agamanya
dengannya.

Sisi Kebatinan Dalam Beragama


Aliran kebatinan ketuhanan pada dasarnya adalah sekelompok manusia yang bersatu dalam tujuan
membina pemahaman dan penghayatan kepercayaan manusia terhadap Tuhan. Kelompok
penghayat ketuhanan itu tidak selalu berbentuk agama atau ada dalam wadah suatu agama, tetapi
seseorang beragama yang menjalaninya justru bisa mendapatkan pemahaman yang dalam tentang
agamanya dan Tuhan setelah mempelajari kebatinan tersebut, dan seseorang bisa mendapatkan
pencerahan tentang agamanya sendiri, walaupun pencerahan itu didapatkannya dari luar agamanya.

Perilaku berkebatinan, termasuk berkebatinan dalam agama, apapun agama dan kepercayaannya,
baik sekali dilakukan, supaya seseorang mengerti betul ajaran yang dianutnya, supaya tidak dangkal
pemahamannya, apalagi hanya ikut-ikutan saja, tetapi materinya harus diperhatikan dan di"filter",
memiliki kebijaksanaan untuk memilih yang baik dan membuang yang tidak baik, sehingga kemudian
dapat menjadi pribadi yang mengerti agama dan kepercayaannya dengan benar dan mendalam,
supaya tidak mudah dibodohi, dihasut, atau bahkan diperdaya (ditunggangi / diperalat).

Tetapi pada jaman sekarang sudah banyak terjadi "pendangkalan". Ajaran kebatinan dalam agama
sudah digantikan dengan ajaran tatalaku ibadah saja, kulitnya saja. Keimanan juga dipandang secara
dangkal, hanya diukur dari kerajinan ibadah saja. Padahal manusia dinilai bukan hanya dari amal
atau ibadahnya saja, tetapi juga dari akhlaknya, sedangkan perbuatan amal dan ibadah hanya
sebagian saja dari akhlak.

Pemahaman kemuliaan dalam agama sudah banyak digantikan dengan dogma dan doktrin ke-Aku-
an agama. Banyak kotbah yang berisi ajaran dan aturan-aturan keagamaan, formalitas keagamaan,
kewajiban beribadah, dogma dan doktrin amal dan dosa, surga dan neraka, tetapi tidak
mengedepankan ajaran budi pekerti, bahkan banyak yang menghasut, memfitnah, menghalalkan
segala cara asalkan tujuan "keagamaan" mereka terlaksana. Itulah sebabnya banyak orang yang
hidupnya sangat agamis dan fanatis, ternyata perilakunya tidak berbudi pekerti dan jauh dari
perilaku mulia, malah banyak yang menjadi musuh kemanusiaan. Akibatnya, banyak orang beragama
yang sehari-harinya perilakunya tidak menunjukkan budi pekerti yang baik, karena menganggap
urusan agama dan keimanan hanya terkait dengan perbuatan amal, ibadah, pahala dan dosa, dan
menganggap budi pekerti hanyalah masalah tradisi sopan santun dan tata krama dalam pergaulan,
menganggap budi pekerti hanyalah masalah duniawi yang tidak berhubungan langsung dengan
agama.

Anda rajin beribadah, tapi anda kerap mencuri ayam tetangga, apakah anda merasa diri anda
berakhlak baik ?

Anda rajin beribadah, tapi anda kerap mencuri uang kantor, apakah anda merasa diri anda berakhlak
baik ?
Anda rajin beribadah, tapi anda kerap memarahi dan mengucapkan sumpah serapah kepada anak /
istri / suami, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ? Seharusnya kita bisa membedakan
perbuatan memarahi yang bertujuan menegur, menyadarkan dan mendidik, dengan perbuatan
mengumbar kemarahan dan kebencian.

Anda rajin beribadah, tapi anda kerap liar di jalan raya, melanggar aturan lalu-lintas, menerobos
lampu merah, menyerobot / potong-memotong jalan orang, anda bisa lewat tetapi menambah
kemacetan jalan raya, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?

Anda rajin beribadah, tapi anda kerap menekan mengebiri upah pekerja anda, sehingga anda bisa
mendapatkan hasil usaha yang lebih banyak, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?

Anda rajin beribadah, tapi anda kerap tidak membayar pajak, menggelapkan pajak, atau menipu
perhitungan pajak, sehingga anda dapat menghemat pengeluaran, apakah anda merasa diri anda
berakhlak baik ?

Manusia tidak menyadari bahwa budi pekerti adalah dasar dari akhlak dan pribadi yang mulia, dasar
dari perilaku manusia mulia yang telah mengenal Tuhan dan agama.

Manusia harus menyadari bahwa budi pekerti yang baik adalah dasar dari akhlak dan pribadi yang
mulia.

Budi pekerti yang baik, perbuatan-perbuatan yang mulia, ditambah pengenalan akan Tuhan dan
agama akan mengantarkan manusia menjadi berakhlak mulia, menjadi pribadi yang mulia, menjadi
manusia mulia.

Walaupun rajin beribadah, bagaimana seseorang yang tidak berbudi pekerti, yang perbuatan-
perbuatannya tidak mulia bisa dianggap sebagai orang yang berakhlak mulia ?

Apakah jika seseorang menunjukkan perilaku yang agamis, rajin beribadah, maka dia juga pasti
berakhlak mulia ?
Semua perintah Tuhan, dalam agama apapun, selalu berkenaan dengan aturan budi pekerti yang
harus dijalankan manusia dalam hidupnya sebagai manusia yang telah mengenal iman dan Tuhan.
Larangan berbuat dosa, larangan menyalahi orang lain, larangan memfitnah, larangan berdusta,
larangan berzinah, cabul dan asusila, larangan mencuri, larangan membunuh, larangan menganiaya,
larangan bersikap tamak, larangan menguntungkan diri sendiri dengan merugikan orang lain,
perintah beribadah, perintah menolong orang lain, perintah menjaga kesucian hati dan kesucian
perbuatan, dsb, adalah perintah-perintah budi pekerti sebagai dasar dari akhlak yang mulia, yang
mengantarkan manusia menjadi mahluk mulia di mata Tuhan. Tidak ada perintah Tuhan yang
bertentangan dengan ajaran budi pekerti.

Perilaku berbudi pekerti, yang diterapkan dengan mematuhi aturan dan hukum dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara, adalah pondasi dasar dari kemampuan sebuah bangsa dan negara
untuk meningkatkan kualitas peradabannya. Peradaban yang berisi manusia-manusia liar tidak
berbudi pekerti, yang hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak akan mampu meningkatkan
kualitas peradabannya menjadi lebih maju dan modern, bangsa itu akan banyak bergantung pada
peranan bangsa lain yang membantu meningkatkan kualitas peradabannya.

Sejak munculnya agama manusia terkotak-kotak menjadi kelompok-kelompok yang membenarkan


dirinya sendiri, kelompoknya sendiri, dan menyalahkan / merendahkan kelompok yang lain,
termasuk antar kelompok manusia walaupun dalam agama yang sama. Keberadaan agama telah
gagal total untuk bisa menggabungkan semua umat manusia dalam suasana rukun dan damai.
Jangankan damai antar penganut agama yang berbeda, antar kelompok atau aliran dalam satu
agama yang sama pun tidak.

Tidak ada jaminan bahwa rakyat pasti akan hidup dengan aman dan damai ketika negara sudah
menjadi sebuah negara agama dan rakyatnya sudah menganut satu agama yang sama. Dari dulu
sampai sekarang sejarah dunia sudah membuktikan ! Selalu saja ada penindasan, pembunuhan dan
perebutan kekuasaan. Agama, walaupun sudah satu agama, tidak bisa menghilangkan perilaku
negatif orang-orang yang berambisi pada kekuasaan dan kekayaan, tidak bisa menghilangkan watak
dan perilaku asusila. Agama hanya dijadikan tunggangan saja untuk menuju kekuasaan, dijadikan
alat menciptakan dogma dan doktrin untuk menghakimi orang lain dan lawan-lawan politik. Bahkan
lebih buruk lagi, karena agama dan dengan dalih dan nama agama, hati manusia menjadi penuh
kebencian, manusia menindas, menganiaya dan membunuhi manusia lainnya !
Dan terhadap orang-orang yang berbeda agama, atau masih satu agama tetapi berbeda aliran,
mengapa pula harus menghasut, menganiaya dan membunuhi orang lain karena berbeda
pandangan dan keyakinan ?

Semua mahluk adalah ciptaan Tuhan dan semuanya ditempatkan di bumi untuk hidup bersama.
Apakah kita akan membunuhi semua mahluk ciptaanNya yang tidak sejalan dengan kita ? Siapa yang
memberi kita kuasa untuk membunuh ? Tuhan ? ataukah iblis di dalam diri kita sendiri ?

Seorang anak yang ingin dikasihi oleh orang tuanya haruslah ia bersikap berbakti, patuh dan dekat
kepada orang tuanya, bukannya menganiaya dan membunuhi anak-anak yang lain supaya ia
kemudian menjadi anak orang tuanya satu-satunya, walaupun itu dilakukannya dengan
mengatasnamakan orang tuanya. Semua anggota keluarga harus menerima bahwa mereka adalah
satu kesatuan yang harus hidup bersama di dalam keluarga.

Apakah anda akan memuliakan seorang anak anda yang menindas dan membunuhi anak-anak anda
yang lain karena berbeda pandangan dan karena dia ingin menjadi anak anda satu-satunya ?

Apakah kemudian anda akan berkata : "Inilah anakku satu-satunya yang berbakti kepadaku" ?

Apakah anda setuju dengan perbuatannya yang membunuhi anak-anak anda yang lain ?

Siapakah yang memberinya kuasa untuk membunuh ? Anda kah ? ataukah iblis di dalam dirinya
sendiri ?

Janganlah kita membodohi diri dengan menganggap sesuatunya sudah benar karena kita sudah
beragama, atau karena kita beribadah. Iblis hadir dimana-mana. Jangan sampai kita disesatkan atau
malah menumbuhsuburkan sifat-sifat iblis dalam diri kita : kebencian dan tipu daya. Jangan hidup di
bawah kungkungan sifat-sifat iblis. Bersihkanlah hidup kita dari sifat-sifat iblis, bersih lahir, hati dan
batin. Jangan sampai terulang cerita jatuhnya Adam dan Hawa ke dalam dosa. Jangan juga terulang
cerita Kain membunuh saudaranya Habil. Mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Tuhan,
tetapi iblis tetap saja punya kesempatan untuk menyesatkan manusia. Jangan sampai karena
kesombongan agama kemudian kita malah menjadi bala tentara iblis di dunia. Jangan biarkan kuasa
kegelapan menguasai kita.
Jangan mudah dihasut dan disesatkan. Jangan mudah diperdaya orang. Jangan mudah disesatkan
setan. Jangan mengkiblatkan agama dan iman kepada seseorang, karena kiblat iman dan agama
adalah kepada Tuhan !

Agama hanya bermanfaat bagi orang-orang yang mau menerima, mengimani dan menjalankannya
dengan benar. Adanya keberagaman kehidupan mahluk ciptaan Tuhan yang bermacam-macam itu
justru menjadi ajang pembuktian apakah dalam kehidupan ini seseorang termasuk sebagai mahluk
Tuhan yang mulia berdasarkan keimanan, kepribadian, dan perilakunya, ataukah, walaupun
beragama dan beribadah, tetapi termasuk sebagai mahluk liar dan berakhlak rendah yang tak
berharga di mata Tuhan.

Mudah-mudahan ini bisa menjadi kebijaksanaan bagi kita, menjadi kebijaksanaan yang bersifat
kesepuhan.

Tuhan tidak bisa diklaim sebagai milik seseorang atau segolongan orang, atau diklaim sebagai milik
agama tertentu, apalagi sampai mengkafirkan atau menganiaya dan membunuhi orang lain dengan
dalih agama atau mengatasnamakan Tuhan.

Tuhan yang berkuasa atau semua mahluk ciptaanNya, bukan kita yang berkuasa memiliki atau
menguasai Tuhan.

Tuhan tidak berada di bawah agama, Tuhan ada di atas agama. Justru agama diberikan supaya
manusia dapat mengenal Tuhan.

Mengapa agama gagal total ?

Sebenarnya kesalahannya tidak terletak pada agamanya, tetapi manusianya. Manusia yang
berpikiran dangkal, yang menghayati dan mengamalkan agama hanya secara sempit. Manusia yang
menjalankan ajaran agama berdasarkan kesombongan agama, dogma dan doktrin agama dan
fanatisme sempit, ke-Aku-an beragama dan cinta diri, dan manusia-manusia yang memper-Tuhan-
kan dirinya sendiri, yang menganggap pemikiran dan kata-katanya adalah kebenaran mutlak yang
harus diikuti oleh orang lain dan akan mengatai orang lain sebagai murtad / kafir jika tidak sejalan
dengan kata-katanya, yang menghalalkan segala cara untuk berkuasa atas agama dan menunggangi
agama untuk hasratnya berkuasa dan memaksakan kuasanya itu kepada orang lain.
Hubungan manusia dengan Tuhan tidak bisa dicapai dengan doktrinasi agama, atau pun
menghafalkan dan mem-beo segala macam doa dan ayat, atau juga membunuhi manusia lain yang
tidak sejalan. Segala macam laku ibadah yang kelihatan mata tidaklah dapat dijadikan ukuran
keimanan seseorang. Keimanan harus terlihat dari akhlaknya yang baik dan dari perbuatannya yang
juga baik, yang mencerminkan manusia yang berpribadi mulia dan berakhlak mulia, yang
mencerminkan hidup manusia yang telah mengenal Allah. Dengan demikian agama dan hubungan
manusia dengan Tuhannya akan menjadi bersifat pribadi. Orang-orang yang telah dalam
pemahaman kebatinannya tentang agamanya dan Tuhan akan menemukan bahwa agama adalah
bersifat pribadi antara dirinya dengan Tuhan, sehingga agama tidak dapat dipaksakan kepada orang
lain.

Kegagalan agama terletak pada kegagalannya, melalui pemuka-pemuka agamanya, dalam membina
kebatinan para pemeluknya. Kegagalan yang justru menjauhkan manusia dari sikap arif bijaksana
dan berbudi luhur. Seringkali kegagalan itu juga menyebabkan para penganutnya menjadi munafik,
selain karena adanya kekurangan yang tidak didapatkannya dari agamanya, mereka menutup-nutupi
keberatannya atas aturan agama atau aturan-aturan dari pemuka agama yang membelenggunya,
dan berusaha mempercantik diri supaya itu tidak tampak di hadapan orang lain, karena takut
disebut kafir atau tidak beriman.

Bahkan karena adanya ketidak-seragaman kebatinan pada para pemuka-pemuka agama itu pula
yang telah memunculkan banyaknya aliran / sekte di dalam suatu agama, dan masing-masing
memiliki ke-Aku-an sendiri-sendiri, sehingga manusia terkotak-kotak menjadi kelompok-kelompok
yang memuliakan kelompoknya sendiri dan menyalahkan / merendahkan, bahkan menghakimi
kelompok yang lain, walaupun masih dalam lingkup agama yang sama.

Agama dan kebatinan sebenarnya memiliki keterkaitan yang kuat. Tetapi seringkali orang
memandang dangkal hanya dari bungkusnya saja, bukan isinya. Orang sering mencampur-adukan 2
hal tersebut yang seharusnya memang berbeda.

Karena pemahaman tentang istilah kebatinan dan spiritual yang dangkal dan sempit yang sudah
menjauhkan manusia dari pengertian yang benar tentang kebatinan, seringkali orang tidak
menyadari bahwa sebenarnya ia sudah menjalankan suatu laku kebatinan / spiritual, karena tidak
hanya di dalam kelompok kebatinan dan spiritual, di dalam kehidupan beragama pun ada saja orang
yang mendalami agama, melakukan pengenalan yang lebih tentang Tuhan, pencarian spiritual
mengenai kebenaran sejati, kebenaran agama dan kebenaran Tuhan, ataupun tentang aspek
kebijaksanaan yang lain, yang itu sebenarnya di dalam ia beragama ia sudah menjalankan laku
kebatinan agama.

Dalam prakteknya, agama adalah jalan menuju spiritual. Ada juga yang mendapatkan pencerahan
dan memiliki pemahaman yang dalam atas agama setelah melakukan pencarian spiritual.
Pencapaian spiritual itulah yang menentukan kedalaman pengetahuan dan kebijaksanaan
keagamaan seseorang, tetapi jalan yang ditempuh untuk spiritualitas itulah yang seringkali
dipertentangkan orang.

Apakah spiritual berada di luar lingkup agama ?

Apakah kita harus mendalami agama saja untuk memahami kebenaran Tuhan ?

Apakah agama adalah satu-satunya jalan untuk memahami kebenaran Tuhan ?

Bagaimana kita tahu kebenaran Tuhan kalau tidak memiliki kebijaksanaan spiritual ?

Bagaimana kita tahu kebenaran agama kalau tidak memiliki kebijaksanaan spiritual ?

Mengerti tentang kegaiban yang dialami manusia saja tidak mampu, bagaimana dapat mengerti dan
mengenal Tuhan yang sejatinya adalah sumber dari segala kegaiban ? Itulah keterbatasan pikiran
dan akal budi manusia. Karena itulah Allah membekali manusia dengan roh, supaya dengan rohnya
manusia dapat mengerti kegaiban hidup dan mengenal Allah dan jalan yang benar menuju Allah,
supaya manusia tidak hanya berkeras diri kukuh membela ajaran-ajaran, dogma dan doktrin yang
membelenggu akal sehat, yang ia sendiripun tidak mengetahui kebenarannya (bisanya hanya
percaya saja pada ajaran agamanya), dan supaya manusia memiliki hikmat kebijaksanaan dalam
dirinya tentang Allah dan kebenaranNya.

Seharusnya segala macam agama dan ibadah mengantarkan manusia kepada pribadi dan akhlak
yang mulia.
Itulah tujuan diberikannya agama kepada manusia, yaitu supaya manusia mengenal Tuhan-nya, dan
hidup sebagai manusia yang sudah mengenal Tuhan, tidak lagi hidup seperti manusia yang tidak
mengenal Tuhan, dan untuk menjadi sarana dalam membina hubungan pribadi manusia dengan
Tuhan-nya.

Agama itu pada dasarnya mengajar manusia untuk mengenal Tuhan (Gusti Allah).

Agama adalah jalan.

Tujuannya adalah Tuhan.

Secara roh dan batinnya, manusia mengenal suatu Roh Agung yang disebut Tuhan. Tetapi manusia
tidak dapat mengenal Tuhan secara langsung dan tidak dapat mencapai-Nya secara langsung,
sehingga manusia tidak dapat mengenal Allah dengan benar. Manusia hanya bisa percaya saja,
sesuai panggilan batinnya, dan sesuai ajaran dalam kepercayaan / agama. Sesuai panggilan batinnya
manusia mencari Tuhan, tetapi karena ketidak-tahuan tentang Allah yang benar, banyak manusia
yang jatuh ke jalan ibadah dan penyembahan yang salah.

Semua suku dan semua kultur memiliki cara untuk mendekati Tuhannya. Mengapa harus
dipertentangkan ?

Tetapi karena manusia tidak dapat mengenal Tuhan secara langsung, karena ketidak-tahuan
manusia tentang Allah yang benar, maka jalan yang ditempuhnya juga sendiri-sendiri, tidak sama.

Orang yang memahami agama dengan baik pasti toleran, karena sama-sama tidak tahu Allah yang
benar (bisanya hanya percaya saja pada ajaran agamanya), tetapi sama-sama punya tujuan yang
sama : Tuhan.

Tetapi seringkali manusia salah dalam memahami agama, seolah-olah agama adalah tujuan,
sehingga banyak orang yang "memper-Tuhan-kan" agama. Seolah-olah agama adalah Tuhan yang
jika sudah menganut agama dianggap tujuannya kepada Tuhan sudah tercapai dan kemudian
memaksakan agamanya itu kepada orang lain dan meng-kafir-kan agama lain yang tidak
sejalan. Orang buta menuntun orang buta.

Banyak orang yang membuat agama menjadi tujuan, bukan menjadikan agama sebagai jalan menuju
Tuhan. Kesucian hati dan kepribadian yang mulia, yang menuntun dan mengarahkan manusia
menjadi mahluk mulia tidak diutamakan. Manusia lebih mengutamakan cinta diri, kesombongan dan
kehormatan diri, dan ke-Aku-an. Akibatnya banyak orang yang memaksakan agamanya kepada
orang lain, dan menghakimi agama yang lain sebagai sesat, menindas, menganiaya dan membunuh
dengan nama agama dan Tuhan, perbuatannya itu tidak memuliakan agama dan Tuhan, malah
menjadikan nama agama dan Tuhan menjadi hina dan nista. Bahkan ada juga yang tidak
mengutamakan kemuliaan, yang menghasut dan memfitnah agama dan kepercayaan lain untuk
menjadikan agamanya sendiri banyak pengikutnya.

Agamis vs Religius

Agamis dipahami sebagai sikap perilaku manusia yang (terlihat) menonjol sekali perilakunya sesuai
dengan ajaran agama yang dianutnya dan dalam kehidupannya sehari-hari tergambar juga
kerajinannya dalam beribadah formal.

Pada kalangan agamis, mereka menjaga benar semua perilaku, perbuatan, ucapan dan penampilan,
supaya sesuai dan tidak menyimpang dari ajaran agamanya dan banyak juga yang ucapan dan
penampilannya mengikuti tradisi budaya dalam agamanya, sehingga walaupun hanya sekilas saja,
orang lain akan dapat melihat / mengetahui jalan keagamaannya.

Sebagian besar kalangan agamis secara psikologis menganggap bahwa agama adalah perwujudan
dari Tuhan dan perintah-perintahNya, sehingga mereka akan melakukan apa saja untuk
"memuliakan" agamanya dan menyelaraskan dirinya dengan agamanya.

Tetapi sayangnya ada sebagian dari kalangan agamis ini yang hanya mengedepankan sisi formal
peribadatan saja dan menganggap keimanan hanya terkait dengan kerajinan beribadah formal dan
pemenuhan kewajiban agama yang formal. Sebagian dari mereka tidak
menjaga "kesucian" perbuatan-perbuatan mereka karena menganggap bahwa semua perbuatan
jeleknya akan dapat "ditebus" , dapat "dicuci", dengan "pahala" dari kerajinan beribadah dan
pemenuhan kewajiban formal. Tidak menjaga "kebersihan". Isi perutnya dari hasil perbuatan-
perbuatan haram dan sandang-nya barang-barang panas dan haram.
Religius dipahami sebagai sikap perilaku manusia yang tidak menonjolkan perilaku agamis dan
peribadatan formal, tetapi dalam kehidupannya sehari-hari mereka memegang teguh
kepercayaannya dan menjaga kesucian perbuatan sesuai dengan kepercayaan yang mereka anut.

Kalangan religius memandang bahwa agama, ibadah, kepercayaan dan juga akhlak adalah masalah
hati, batin, yang semuanya tidak harus selalu tercermin dalam peribadatan formal dan perbuatan-
perbuatan yang kelihatan mata. Mereka menganggap bahwa manusia tidak dinilai hanya dari amal
atau ibadahnya saja, tetapi juga dari akhlaknya dan dari pribadinya yang mulia. Karena itu ibadah
mereka tidak semua tercermin dalam peribadatan dan kepercayaan formal. Ibadah mereka yang
sesungguhnya ada di dalam hati.

Kalangan religius tidak mengedepankan kehidupan agamis dan peribadatan formal dan perbuatan-
perbuatan agamis lain yang kelihatan mata, tetapi lebih mengutamakan untuk memegang teguh
kepercayaannya dan menjaga kelurusan perbuatan-perbuatan mereka sesuai isi kepercayaan
mereka. Walaupun juga menjalankan peribadatan formal, tetapi mereka memiliki kebijaksanaan
sendiri mengenai keTuhanan, yaitu kehidupan kepercayaan yang didasari pada kepercayaan
ketuhanan dan nilai-nilai budi pekerti yang diajarkan dalam agamanya, yang semuanya menyatu di
dalam hati menjadi kepercayaan yang bersifat pribadi, yang mengisi hidup mereka dan dijalankan
sepenuh hati, walaupun sikap kepercayaannya itu tidak formal kelihatan orang lain.

Itulah cerminan dari sikap kebatinan dan perilaku manusia yang terkait dengan kehidupan
berkepercayaan, beragama dan berketuhanan.

Sebagian orang lebih cenderung mengedepankan kehidupan yang agamis.

Sebagian lagi lebih cenderung mengedepankan kehidupan yang tidak agamis, tetapi mereka religius.

Sebagian lainnya membina kehidupan yang agamis, sekaligus religius.

Sebagian lainnya tidak mementingkan urusan agama dan religi, lebih mengedepankan kepentingan
duniawinya.

Sebagian lainnya tidak mementingkan urusan agama dan religi, hidup dengan prinsip hidupnya
sendiri.

Sebagian lainnya tidak mau mengedepankan sikap percaya kepada Tuhan, juga tidak mau
berketuhanan, lebih mengedepankan kehidupan yang rasional dan mengedepankan kemampuan
manusia sendiri dalam hidupnya.

Sebagian lainnya berperilaku munafik, sok suci, sok agamis, sok religius, karena sebenarnya mereka
tidak suci, tidak agamis dan juga tidak religius, hanya supaya kelihatan baik saja di mata orang lain.
--------------------