Anda di halaman 1dari 8

HUBUNGAN SILA-SILA DALAM PANCASILA

A. Nilai Pancasila
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, nilai didefinisikan sebagai sifat atau hal
yang dianggap penting atau berguna bagi masyarakat. Rokeach (1973), mengatakan
bahwa nilai merupakan tujuan yang ingin dicapai (endstate of existence) dan juga sebagai
cara bertingkah laku. Bertens (2007), menyebutkan bahwa nilai merupakan hal-hal yang
diinginkan dan senantiasa berkonotasi baik. Dapat dikatakan nilai adalah pedoman
bertingkah laku yang keberadaannya diharapkan muncul pada anggota suatu kelompok.
Pancasila merupakan kumpulan lima nilai unidimensional yang dijadikan acuan tingkah
laku bangsa Indonesia. Kelima nilai yang terkandung dalam Pancasila adalah ketuhanan
(sila 1), kemanusiaan (sila 2), patriotisme (sila 3), demokrasi (sila 4), dan keadilan sosial
(sila 5). Merujuk pada sejarah jauh sebelum Soekarno menggali nilai Pancasila yang
dikenal saat ini, konsep Pancasila sudah lebih dahulu terdokumentasi dalam kitab
Sutasoma milik Mpu Tantular. Kitab tersebut merumuskan lima karma, yaitu tidak boleh
melakukan kekerasan, tidak boleh mencuri, tidak boleh berjiwa dengki, tidak boleh
berbohong, dan tidak boleh mabuk minuman keras (Daroeso, 1989).
Dijadikannya lima poin Pancasila sebagai landasan bernegara bukan tanpa alasan.
Kelima nilai tersebut dianggap sudah menjadi nilai yang berkembang di masyarakat sejak
dahulu. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Soetarto (2006) bahwa para
tokoh perumus Pancasila bukanlah pencipta, tetapi mereka adalah penggali nilai-nilai
yang ada dari bangsa Indonesia dan disarikan menjadi Pancasila (Latief, 2013). Oleh
karena itu, sudah tentu Pancasila merefleksikan nilai-nilai yang diharapkan muncul pada
masyarakat Indonesia. Suwartono dan Meinarno (2011) ketika melakukan penelitian
lanjutan tentang alat ukur Pancasila yang berhasil mengungkap bahwa Pancasila adalah
nilai-nilai yang berdiri mandiri atau unidimensional. Hasil ini sejalan dengan apa yang
dikatakan oleh Soekarno bahwa Pancasila adalah kumpulan nilai, bukan sebaliknya. Hasil
ini pula yang menempatkan pandangan Soeharto sebagai pemimpin Orde Baru yang
sering menegaskan Pancasila adalah satu kesatuan yang utuh tampaknya goyah secara
akademik. Penelitian yang dilakukan Juneman dan Meinarno (2013) juga menunjukkan
adanya pola khusus dari Pancasila terhadap isu identitas agama.
Sila pertama dalam Pancasila mencakup nilai ketuhanan. Pencantuman nilai
ketuhanan dalam landasan kehidupan bernegara bukanlah hal yang baru di dunia ini.
Negara di dunia seperti Perancis pun berdiri dengan mengenakan agama Katolik sebagai
identitas mereka. Meskipun tidak ada agama tertentu yang dijadikan sebagai identitas
bangsa Indonesia, poin keagamaan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan bernegara di
Indonesia. Nilai ketuhanan mengacu pada keyakinan terhadap Tuhan dan hidup dengan
menjalankan perintah-Nya tanpa mengganggu urusan agama lain (Meinarno, 2012).
Penelitian yang dilakukan oleh Juneman, Putra, & Meinarno (2012) menemukan adanya
korelasi positif antara nilai pertama Pancasila dengan karakter transedensi merupakan
kekuatan yang menempa hubungan individu dengan semesta yang lebih luas serta
menyediakan makna. Dalam transendensi terdapat apresiasi terhadap keindahan dan
keunggulan, rasa syukur (gratitude), harapan, humor, dan religiusitas; hal-hal yang
merupakan bagian dari sila pertama. Poin ketuhanan ini mengisyaratkan harus
dijunjungnya toleransi antarumat beragama. Keberadaan berbagai penganut agama
berbeda di Indonesia bukan tidak mungkin dapat menimbulkan adanya konflik. Oleh
sebab itu, nilai ketuhanan dianggap penting untuk dijadikan landasan kehidupan
bernegara, yaitu sebagai salah satu poin yang tercantum dalam Pancasila.
Nilai mengenai kemanusiaan diangkat menjadi poin yang tercakup pada sila
kedua Pancasila. Nilai kemanusiaan yang ini lebih menekankan pada perlakuan seorang
individu terhadap individu atau masyarakat lainnya. Berdasarkan sila ini, setiap orang
harus menghormati dan menghargai orang lain sebagai sesama manusia. Oleh karena itu,
dituntut pula adanya sikap adil dalam memperlakukan orang lain, tanpa melihat suku, ras,
ataupun perbedaan lainnya yang dimiliki orang lain tersebut. Penelitian secara empirik
yang dilakukan oleh Juneman, Putra, & Meinarno terhadap mahasiswa di PTN Jakarta
menunjukkan adanya hubungan positif antara nilai kedua dan karakter keadilan dan
transedensi. Contoh pengamalan nilai pada sila kedua ini adalah tidak adanya
diskriminasi masyarakat Indonesia terhadap warna kulit tertentu. Hal tersebut berbeda
dengan yang terjadi di Amerika Serikat yang sampai pada tahun 1960-an masih
melakukan segregasi kebijakan di segala aspek kehidupan karena adanya perbedaan
warna kulit (Meinarno, Widianto, dan Halida, 2011; 2015).
Poin mengenai persatuan dicantumkan pada sila ketiga Pancasila. Persatuan
sebagai nilai ini berusaha dicapai dengan dijadikannya Bahasa Indonesia sebagai bahasa
resmi nasional. Penggunaan Bahasa Indonesia di berbagai kegiatan, misalnya dalam
kegiatan akademis, perdagangan, pergaulan, diharapkan dapat menjadi pemersatu
masyarakat di Indonesia meskipun mereka berasal dari suku atau agama yang berbeda.
Dengan berbahasa Indonesia yang baik dan benar, akan terpupuk rasa persatuan bagi
masyarakat Indonesia karena adanya kebakuan yang dipahami secara bersama-sama
(Meinarno, 2013). Pada sila keempat, tercantum nilai mengenai tanggung jawab dan
harmoni. Nilai ini merupakan nilai yang kental bagi Indonesia yang menganut budaya
demokrasi. Nilai sila keempat lah yang mendasari warga negara untuk dapat memahami
keputusan yang diambil pemimpin (yang awalnya dipilih secara bersama pula) untuk
kemaslahatan bersama (Meinarno, 2013). Nilai keempat ini juga berhubungan dengan
keutamaan keadilan dan transedensi (Juneman, Putra, Meinarno, 2012). Penelitian lain
yang dilakukan oleh Juneman, Meinarno, & Rahardjo (2012) menemukan adanya
hubungan antara self esteem dan nilai keempat atau demokrasi. Temuan lainnya, bahwa
semakin tinggi nilai demokrasi individu, semakin rendah pemaknaan simbolik terhadap
uang (Juneman, Meinarno, & Rahardjo, 2012). Uang tidak dianggap sebagai hal yang
memberikan kebebasan untuk orang lain, karena segala kebebasan yang ada dibatasi oleh
kebebasan orang lain. Di sinilah kita dapat melihat tingginya penghayatan kehidupan
harmoni bagi bangsa Indonesia.
Sila terakhir Pancasila mengenai keadilan sosial yang harus diwujudkan di
Indonesia. Berdasarkan penelitian mengenai gambaran ikatan nilai-nilai cerita rakyat
Indonesia dengan nilai Pancasila, terlihat bahwa cerita rakyat yang berada di Sumatera
dan Jawa mengandung nilai yang senada dengan sila kelima Pancasila (Meinarno, 2010).
Hasil penelitian tersebut seakan mengisyaratkan bahwa keadilan sosial adalah sesuatu
yang memang diharapkan ada di masyarakat. Dalam hal ini, pemerintah pun menjadi
pihak yang diharapkan dapat membantu terwujudnya keadilan sosial di masyarakat.
Penelitian lainmenunjukkan bahwa nilai kelima ini mempunyai korelasi dengan
keutamaan keadilan dan transedensi.
Tampakya hal-hal di dalam nilai kelima ini erat dengan bagaimana rasa adil tidak
semata untuk diri, tapi untuk masyarakat tempat individu berada. Pembuatan kategori ini
merupakan dampak logis dari tidak terbentuknya satu konstruk Pancasila sebagaimana
yang diperkirakan sebelumnya (Suwartono & Meinarno, 2011; 2012). Justru hasil ini
seakan menegaskan bahwa ide dasar yang diajukan oleh Soekarno tepat adanya yakni
kumpulan nilai. Hal ini agak berseberangan dengan ide dari Soeharto yang lebih
menekankan bahwa Pancasila adalah satu kesatuan utuh yang masing-masing sila saling
menjiwai. Dengan cara pandang itu maka Pancasila sering disebut sebagai satu konstruk.
Implikasi lainnya adalah bahwa Pancasila merupakan sistem nilai. Sistem nilai terdiri dari
konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar masyarakat, mengenai
hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Dengan demikian suatu
sistem nilai biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia
(Koentjaraningrat, 1974). Ide ini sejalan dengan pernyataan Soekarno saat rapat pada
tanggal 1 Juni 1945.

Tabel 1. Nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila

B. Hubungan Antara Sila Pancasila


Sebagai suatu dasar filsafat negara maka sila-sila merupakan suatu sistem nilai, oleh
karena itu sila-sila pancasila pada hakikatnya merupakan satu kesatuan. Meskipun dalam
urain berikut ini menjelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila, namun
kesemuanya itu tidak dapat dilepaskan keterkaitannya dengan sila-sila lainnya.
1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa ini nilai-nilainya meliputi dan menjiwai keempat
sila lainnya. Dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa terkandung nilai bahwa negara
yang didirikan adalah sebagai pengejawantahan tujuan manusia sebagai makhluk
Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu segala hal yang berkaitan dengan
pelaksanaan dan penyelenggaraan negara bahkan moral negara, moral penyelenggara
negara, politik negara, pemerintahan negara hukum dan peraturan perundang-
undangan negara, kebebasan dan hak asasi warga negara harus dijiwai nilai-nilai
Ketuhanan Yang Maha Esa.
Jadi hubungan antara Negara dengan landasan sila pertama, yaitu hubungan yang
bersifat mutlak dan tidak langsung. Hal ini sesuai dengan asal mula pancasila yaitu
berupa nilai-nilai agama, nilai-nilai kebudayaan, yang telah ada pada bangsa
Indonesia sejak zaman dahulu kala yang konsekuensinya harus direalisasikan dalam
setiap aspek penyelenggaraan Negara.

2. Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab


Sila kemanusiaan yang adil dan beradab secara sistematis didasari dan dijiwai
oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa, serta mendasari dan menjwai ketiga sila
berikutnya. Sila kemanusiaan sebagai dasar fundamental dalam kehidupan
kewarganegaraan, kebangsaan, dan kemasyarakatan. Nilai kemanusiaan ini
bersumber pada dasar filosofis antropologis bahwa hakikat manusia asalah susunan
kodrat rohani (jiwa) dan raga, sifat kodrat individu dan makhluk sosial, kedudukan
kodrat makhluk pribadi berdiri sendiri dan sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
Inti sila kemanusiaan yang adil dan beradab adalah landasan manusia. Maka
konsekuensinya dalam setiap aspek penyelengaraan negara antara lain hakikat negara,
bentuk negara, tujuan negara, kekuasaan negara, moral negara dan para
penyelenggara negara dan lain-lainnya harus sesuai dengan sifat-sifat dan hakikat
manusia. Hal ini dapat dipahami karena negara adalah lembaga masyarakat yang
terdiri atas manusia-manusia, dibentuk oleh manusia untuk memanusia dan
mempunyai suatu tujuan bersama untuk manusia pula. Maka segala aspek
penyelenggaraan negara harus sesuai dengan hakikat dan sifat-sifat manusia
Indonesia yang monopluralis, terutama dalam pengertian yang lebih sentral
pendukung pokok negara berdasarkan sifat kodrat manusia monodualis yaitu manusia
sebagai individu dan makhluk sosial.
3. Sila Persatuan Indonesia
Jika masing-masing individu sudah beradab, baru naik ke level selanjutnya, sila 3,
bersatu sebagai sebuah bangsa yang besar. Karena kalau sudah beradab maka bangsa
menjadi bersatu. Sila ini mempunyai makna manusia sebagai makhluk sosial wajib
mengutamakan persatuan negara Indonesia yang setiap daerah memiliki kebudayaan
maupun agama yang berbeda. Dengan ini kemakmuran negara dapat terjamin dan
dapat mempertahankan negara secara bersama-sama,dengan tidak mengorbankan
nilai agama dan kemanusiaan.
Inti sila persatuan Indonesia yaitu hakikat dan sifat Negara dengan hakikat dan
sifat-sifat satu. Kesesuaian ini meliputi sifat-sifat dan keadaan Negara Indonesia yang
pada hakekatnya merupakan suatu kesatuan yang utuh, setiap bagiannya tidak berdiri
sendiri-sendiri. Jadi Negara merupakan suatu kesatuan yang utuh , setiap bagiannya
tidak berdiri sendiri-sendiri. Jadi Negara Indonesia ini merupakan suatu kesatuan
yang mutlak tidak terbagi-bagi , merupakan suatu Negara yang mempunyai eksistensi
sendiri, yang mempunyai bentuk dan susunan sendiri. Mempunyai suatu sifat-sifat
dankeadaan sendiri. Kesuaian Negara dengan hakikat satu tersebut meliputi semua
unsur-unsur kenegaraan baik yang bersifat jasmaniah maupun rohania, baik yang
bersifat kebendaan maupun kejiwaan. Hal itu antara lain meliputi rakyat yang
senantiasa merupakan suatu kesatuan bangsa Indonesia, wilayah yaitu satu tumpah
darah Indonesia, pemerintah yaitu satu pemerintahan Indonesia yang tidak bergantung
pada Negara lain, satu bahasa yaitu bahasa nasional indoneisa,satu nasib dalam
sejarah, satu jiwa atau satu asas kerokhanian pancasila. Kesatuan dan persatuan
Negara, bangsa dan wilayah Indonesia tersebut, membuat Negara dan bangsa
indoneisa mempunyai keberadaan sendiri di antara Negara-negara lain di dunia ini
Dalam kaitannya dengan sila persatuan Indonesia ini segala aspek
penyelenggaraan Negara secara mutlak harus sesuai dengan sifat-sifat dan hakikat
satu. Oleh karena itu dalamn realisasi penyelenggaraan negaranya, baik bentuk
Negara, penguasa Negara, lembaga Negara, tertib hukum, rakyat dan lain sebagainya
harus sesuai dengan hakikat satu serta konsekuensinya harus senantiasa merealisakan
kesatuan dan persatuan. Dalam pelaksanaannya realisasi persatuan dan kesatuan ini
bukan hanya sekedarberkaitan dengan hal persatuannya namun juga senantiasa
bersifat dinamis yaitu harus sebagaimana telah dipahami bahwa Negara pada
hakekatnya berkembang secara dinamis sejalan dengan perkembangan zaman, waktu
dan keadaan.

4. Sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam


Permusyawaratan Perwakilan.
Kalo semua sudah bersatu, maka barulah bisa digelar musyawarah dan tercapai
mufakat. Jika belum bersatu, tentu musyawarah tidak akan berjalan karena masing-
masing berada pemikiran kepentingan masing-masing. Sila ini menjelaskan bahwa
negara Indonesia ini ada karena rakyat maka dari itu rakyat berhak mengatur kemana
jalannya negeri ini. Jika terjadi perselisihan attau kepentingan tiap individu atau
kelompok maka musyawarah adalah hal mutlak untuk dilakukan. Musyawarah itu
dilakukan dengan tetap manjaga persatuan dan tanpa menciderai asas Ketuhanan dan
kemanusiaan. Inti sila keempat adalah kesesuaian sifat-sifat dan hakikat Negara
dengan sifat-sifat dan hakikat rakyat. Dalam kaitannya dengan sila keempat ini, maka
segala aspek penyelenggaraan Negara harus sesuai dengan sifat-sifat dan hakekat
rakyat, yang merupakan suatu keseluruhan penjumlahan semua warga Negara yaitu
Negara Indonesia. Maka dalam penyelenggaraan Negara bukanlah terletak pada suatu
orang dan semua golongan satu buat semua, semua buat satu. Dalam hal ini Negara
berdasarkan atas hakikat rakyat , tidak pada golongan atau individu. Negara
berdasarkan atas permusyawaratan dan kerjasama dan berdasarkan atas kekuasaan
rakyat. Negara pada hakikatnya didukung oleh rakyat oleh rakyat itu dalam
pelaksanaan dan penyelenggaraan. Negara dilakukan untuk kepentingan seluruh
rakyat, atau dengan lain perkataan kebahagian seluruh rakyat dijamain oleh Negara.
Dalam praktek pelaksanaannya pengertian kerakyatan bukan hanya sekedar
berkaitan dengan pengertian rakyata secara kongkrit saja namun mengandung suatu
asas kerokhanian , mengandung cita-cita kefilsafatan. Maka pengertian kesesuaian
dengan hakikat rakyat tersebut, juga menentukan sifat dan keadaan Negara, yaitu
untuk keperluan seluruh rakyat . maka bentuk dan sifat-sifat Negara mengandung
pengertian suatu cita-cita kefilsafatan yang demokrasi yang didalam pelaksanaannya
meliputi demokrasi politik dan demokrasi politik dan demokrasi sosial ekonomi
5. Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Kalo keempat diatas udah dijalankan, maka kita akan mencapai puncak dari
semua ini. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hal ini akan memicu negara
kita ini menjadi negara yang adil dan makmur.Sila kelima dijiwai oleh isi sila 1,2,3
dan 4. Sila ini mengandung .sila ini mengandung makna yang harus mengutamakan
keadilan bersosialisasi bagi rakyat Indonesia tanpa memandang perbedana yang
ada.Inti sila kelima yaitu keadilan yang mengandung makna sifat-sifat dan keadaan
Negara Indonesia harus sesuai dengan hakikat adil, yaitu pemenuhan hak dan wajib
pada kodrat manusia hakikat keadilan ini berkaitan dengan hidup manusia , yaitu
hubungan keadilan antara manusia satu dengan lainnya, dalam hubungan hidup
manusia dengan tuhannya, dan dalam hubungan hidup manusia dengan dirinya
sendiri (notonegoro). Keadilan ini sesuai dengan makna yang terkandung dalam
pengertian sila kedua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Selanjutnya hakikat
adil sebagaimana yang terkandung dalam sila kedua ini terjelma dalam sila kelima,
yaitu memberikan kepada siapapun juga apa yang telah menjadi haknya oleh karena
itu inti sila keadilan social adalah memenuhi hakikat adil.