Anda di halaman 1dari 4

Rangkuman Kode Etik Auditor

Dosen Akademik : DR. Payamta, SE, M.Si, Akt, CA. CPA, CPI

Nama:

1. Rohmawan Setiya Budi (F1316089)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI (TRANSFER)


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2017
KODE ETIK AUDITOR

Etika secara harfiah bermakna pengetahuan tentang azas-azas akhlak atau moral. Etika
secara terminologi kemudian berkembang menjadi suatu konsep yang menjelaskan tentang
batasan baik atau buruk, benar atau salah, dan bisa atau tidak bisa, akan suatu hal untuk
dilakukan dalam suatu pekerjaan tertentu. Istilah kode etik kemudian muncul untuk
menjelaskan tentang batasan yang perlu diperhatikan oleh seorang profesional ketika
menjalankan profesinya.
Etika merupakan ilmu yang menyelidiki tingkah laku moral dimana dalam
penyelidikan tersebut dilakukan dengan tiga pendekatan. Tiga pendekat tersebut adalah:
1) Etika Deskriftif. etika yang mencoba menggambarkan/ melukiskan tingkah laku
moral dalam arti luas, misalnya adat kebiasaan, anggapan tentang baik buruk.
2) Etika normatif. Etika ini dibagi menjadi dua etika normatif umum dan etika
normatif khusus. Etika normatif umum mencoba memandang tema-tema umum
sebagai obyek penyelidikannya. Sedangkan etika normatif khusus berusaha
menerapkan prinsip-prinsip etis yang umum atas wilayah perilaku manusia yang
khusus.
3) Metaetika. Etika ini mempelajari logika khusus dari ucapan-ucapan etis.
Auditor adalah seseorang yang menyatakan suatu pendapat atas suatu laporan
keuangan yang telah disusun oleh manajemen, dalam hal kewajaran pada seluruh hal yang
sifatnya material, posisi keuangan, Laporan laba/rugi, laporan perubahan stakeholder serta
arus kas yang sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
Jadi Kode Etik Auditor adalah batasan atau standar seorang auditor atau akuntan publik
dalam menjalankan profesinya. Prinsip etika akuntan atau kode etik akuntan itu sendiri
meliputi delapan butir pernyataan (IAI, 1998, dalam Ludigdo, 2007). Kedelapan butir
pernyataan tersebut merupakan hal-hal yang seharusnya dimiliki oleh seorang akuntan.
Delapan butir tersebut terdeskripsikan sebagai berikut :
1. Tanggung jawab profesi
Bahwa akuntan di dalam melaksanakan tanggungjawabnya sebagai profesional harus
senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan
yang dilakukannya.
2. Kepentingan publik
Akuntan sebagai anggota IAI berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam
kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepentingan publik, dan
menunjukkan komitmen atas profesionalisme.
3. Integritas
Akuntan sebagai seorang profesional, dalam memelihara dan meningkatkan
kepercayaan publik, harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya tersebut dengan
menjaga integritasnya setinggi mungkin.
4. Obyektifitas
Dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya, setiap akuntan sebagai anggota IAI
harus menjaga obyektifitasnya dan bebas dari benturan kepentingan.
5. Kompetensi dan kehati-hatian profesional
Akuntan dituntut harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan penuh kehati-
hatian, kompetensi, dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk
mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesionalnya pada tingkat yang
diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat
dari jasa profesional yang kompeten berdasarkan perkembangan praktik, legislasi, dan
teknik yang paling mutakhir.
6. Kerahasiaan
Akuntan harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan
jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut
tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk
mengungkapkannya.
7. Perilaku profesional
Akuntan sebagai seorang profesional dituntut untuk berperilaku konsisten selaras
dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan
profesinya.
8. Standar teknis
Akuntan dalam menjalankan tugas profesionalnya harus mengacu dan mematuhi
standar teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan
dengan berhati-hati, akuntan mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan
dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan
obyektifitas.
Sedangkan untuk audit internal juga memiliki standar dalam profesinya untuk
mencapai efektifitas dan efisiensi auditor. Standar audit internal merupakan suatu norma
yang harus dipenuhi dalam melaksanakan praktek profesional audit internal. Standar audit
internal tidak hanya menekankan terhadap pentingnya kualitas profesional auditor internal
tetapi juga terhadap bagaimana auditor mengambil pertimbangan dan keputusan saat
melakukan audit dan pelaporan baik kegiatan rutin maupun audit yang diminta oleh
pimpinan universitas/rektor.
Standar audit internal meliputi : (a) independensi, (b) kemampuan profesional, (c)
lingkup pekerjaan audit internal, (d) pelaksanaan kegiatan pemeriksaan/penilaaian sesuai
dengan SOP, dan (e) manajemen audit internal.