Anda di halaman 1dari 6

Bab 2 Prinsip-Prinsip Etis dalam Bisnis

2.4 Etika Memberi Perhatian

Parsialitas dan Perhatian

Pandangan ini bahwa kita memiliki kewajiban untuk memberikan perhatian khusus pada
individu-individu tertentu yang menjalin hubungan baik dengan kita, khususnya
hubungan ketergantungan, merupakan konsep utama dalam etika memberi perhatian.
Moralitas dalam memberikan perhatian didasarkan pada pemahaman atas hubungan
sebagai tanggapan terhadap orang lain. Menurut pandangan etika perhatian, tugas moral
seseorang bukanlah mengikuti prinsip-prinsip moral universal dan imparsial, namun
menerima dan menanggapi tindakan dari orang-orang lain di mana dia menjalin
hubungan yang baik dan erat dengan mereka. Belas kasihan, pertimbangan, cinta,
persahabatan, dan kebaikan, semuanya merupakan perasaan atau sifat baik yang
umumnya mewujudkan dimensi moralitas. Dalam hal ini, etika perhatian menekankan
pada dua persyaratan moral:

1. Kita hidup dalam suatu rangkaian hubungan dan wajib mempertahankan serta
mengembangkan hubungan yang konkret dan bernilai dengan orang lain.
2. Kita memberikan perhatian khusus pada orang-orang yang menjalin hubungan baik
dengan kita dengan cara memerhatikan kebutuhan, nilai, keringanan, dan keberadaan
mereka dari perspektif pribadi mereka sendiri, dan dengan memberikan tanggapan
secara positif pada kebutuhan, nilai, keinginan, dan keberadaan orang-orang yang
membutuhkan dan bergantung pada perhatian kita.

Namun penting juga untuk tidak membatasi gagasan tentang hubungan konkret ini hanya
pada hubungan antara dua individu atau antara seseorang dengan kelompok individu
tertentu. Ada dua hal penting yang perlu diketahui. Pertama, tidak semua hubungan
memiliki nilai, dan tidak semuanya menciptakan kewajiban untuk memberi perhatian.
Kedua, perlu diketahui bahwa dalam memberikan perhatian kadang berkonflik. Dalam
hal ini perlu diperhatikan bahwa tidak ada aturan tetap yang mampu menyelesaikan
semua konflik.

Hambatan dalam Etika Perhatian

Pendekatan etika perhatian memperoleh sejumlah kritik berdasarkan beberapa alasan.


Pertama, dikatakan bahwa etika perhatian bisa berubah menjadi favoritisme yang tidak
adil atau bersikap parsial (berat sebelah). Kritik kedua mengklaim bahwa persyaratan
etika perhatian bisa menyebabkan kebosanan. Dalam mewajibkan orang-orang untuk
memberikan perhatian pada anak-anak orang tua, saudara, pasangan, kekasih, teman dan
anggota komunitas lain. Etika perhatian tampak mengharuskan semua orang
mengorbankan kebutuhan dan keinginan mereka demi kesejahteraan orang lain.

Keuntungan etika perhatian adalah mendorong untuk fokus pada nilai moral dari sikap
parsial terhadap orang dekat dan arti penting moral dalam memberikan tanggapan pada
mereka secara khusus yang tidak kita berikan pada orang lain.

2.5 Memadukan Utilitas, Hak, Keadilan, dan Perhatian

Standar utilitarian wajib digunakan saat kita tidak memiliki sumberdaya yang mampu
memenuhi tujuan atau kebutuhan semua orang sehingga mempertimbangkan keuntungan dan
biaya sosial dari suatu tindakan dalam mencapai tujuan tertentu. Penilaian moral sebagian juga
didasarkan pada standar-standar yang menunjukkan bagaimana individu harus diperlakukan
atau dihargai. Selain itu juga didasarkan pada standar-standar keadilan yang menunjukkan
bagaiman keuntungan dan beban didistribusikan di antara para anggota kelompok masyarakat.
Selanjutnya penilaian moral juga didasarkan pada standar-standar perhatian yang mengacu
pada jenis perhatian yang perlu kita berikan pada orang-orang yang memiliki hubungan khusus
dengan kita. Standar perhatian berperan penting bila muncul persoalan-persoalan moral yang
melibatkan individu dalam suatu jaringan hubungan, khususnya individu-individu yang
memilki hubungan erat.

2.6 Prinsip Moral Alternatif : Etika Kebaikan

Ivan F.Boesky dikenal sebagai seorang kaya yang jujur dan mencintai sesama manusia. Namun
pada tanggal 18 Desember 1987 dia dihukum 3 tahun penjara dan denda $100 juta karena
memperoleh keuntungan secara illegal dari insider information. Berdasarkan informasi yang
dia peroleh dari teman yang dibayarnya, sebelum diketahui publik, Boesky membeli saham-
saham perusahaan dari pemegang saham yang tidak tahu bahwa perusahaan mereka akan dibeli
oleh pihak lain dengan harga yang lebih tinggi. Cara yang demikian Boesky dapat memperoleh
keuntungan yang banyak, kemudian hal tersebut dianggap illegal di Amerika meskipun di
negara lain seperti Italia, Swiss dan Hongkong tindakan tersebut dilegalkan.
Berdasarkan cerita tentang Ivan F. Boesky, bahwa dia digambarkan sebagai seseorang yang
serakah, sakit, agresif, kejam, tidak punya integritas, munafik dan tidak jujur. Semua deskripsi
tersebut adalah penilaian atas karakter moral, bukan penilaian atas moralitas dari tindakannya.

Pendekatan etika yang telah dibahas sejauh ini semuanya difokuskan pada tindakan sebagai
pokok permasalahan etika dan mengabaikan karakter pelaku tindakan itu sendiri. Dalam kasus
Boesky maupun kasus-kasus yang lain, masalah utama yang muncul bukanlah baik buruknya
suatu tindakan, namun sifat karakter manusia yang tidak sempurna.

Banyak ahli etika yang mengkritik asumsi bahwa tindakan merupakan pokok permasalahan
utama dalam etika. Etika, menurut mereka, tidak boleh hanya melihat jenis tindakan pelakunya
(agen) namun juga perlu memperhatikan jenis karakternya. Fokus pada pelaku berbeda dengan
fokus pada tindakan (apa yang dia lakukan) akan lebih mampu menunjukan dengan cermat
karakter seseorang termasuk diantaranya apakah karakter tersebut lebih mengarah pada
keburukan atau kebaikan. Pendekatan etika lain yang lebih baik haruslah mempertimbangkan
aspek kebaikan dan keburukan sebagai awalan penting dalam penalaran kita.

Sifat Kebaikan

Kebaikan merupakan sebuah kecenderungan yang dinilai sebagai bagian dari karakter
manusia yang secara moral baik dan ditunjukan dalam perilaku dan kebiasaannya.
Seseorang dikatan memiliki kebaikan moral bila dia berperilaku dengan penalaran,
perasaan dan keinginan-keinginan yang menjadi karakteristik dari seseorang yang secara
moral baik.

Kebaikan Moral

Menurut Aristoteles, sebuah kebaikan moral merupakan kebiasaan manusia yang


memungkinkan bertindak sejalan dengan tujuan (nalar dan pemikiran) manusia,
kemudian daya nalar dan berfikir adalah yang membedakan manusia dan makhluk lain.
Seseorang dikatakan menjalani hidup sesuai dengan pemikirannya bila dia mengetahui
dan memilih jalan tengah antara melakukan sesuatu terlalu jauh dan tidak terlalu jauh
dalam hal tindakan, emosi dan keinginannya. Tokoh lain yaitu Aquinas seorang ahli
filosofi Kristen menyatakan sependapat dengan Aristoteles hanya saja dengan tambahan
kebaikan Theologis.
Seorang ahli filsafat Amerika, Alasdair Macyntire mengatakan bahwa yang termasuk
kebaikan adalah semua karakteristik yang dipuji karena memungkinkan seseorang
mencapai sesuatu yang baik dan menjadi tujuan hidup manusia.

Edmund L. Pincoffs mengkritik pendapat Macyntire karena mengklaim bahwa kebaikan


hanya mencakup karakteristik-karakteristik yang disyaratkan oleh serangkaian praktik
sosial tertentu. Sebaliknya Pincoffs menyatakan bahwa kebaikan mencakup semua
karakteristik dalam bertindak, merasakan, dan berfikir dalam cara-cara tertentu yang
digunakan sebagi dasar dalam memilih antara pribadi-pribadi atau keberadaan diri masa
depan. Kebaikan terdiri dari disposisi yang umumnya diinginkan atau dengan kata lain
diinginkan oleh orang-orang dalam menghadapi situasi atau kondisi dimana manusia
hidup. Karena situasi yang dihadapi manusia sering memerlukan usaha keras untuk
mampu menghadapinya, maka ketabahan dan keberanian dianggap sebagai disposisi
yang secara umum diinginkan. Dengan demikian kebaikan moral adalah disposisi yang
secara umum diinginkan oleh semua orang dalam situasi-situasi yang biasanya mereka
hadapi dalam kehidupan ini. Disposisi tersebut diinginkan karena bermanfaat bagi
semua orang pada umumnya ataupun orang-orang yang memilikinya.

Kebaikan, Tindakan, dan Institusi

Teori kebaikan mengatakan bahwa tujuan kehidupan moral adalah untuk


mengembangkan disposisi-disposisi umum yang kita sebut kebaikan moral dan
melaksanakan serta menerapkannya dalam berbagai situasi kehidupan manusia. Kunci
dari implikasi tindakan teori kebaikan dapat dinyatakan dalam klaim berikut sebuah
tindakan secara moral benar jika dalam pelaksanaannya pelaku menerapkan, menunjukan
atau mengembangkan karakter moral yang baik dan secara moral salah jika dalam
pelaksanaannya pelaku menerapkan, menunjukan atau mengembangkan karakter moral
yang buruk.

Jadi dari perspektif tersebut, baik buruknya tindakan dapat ditentukan dengan
mempelajari jenis karakter yang dihasilkan dari tindakan tersebut. Dalam hal ini, etika
tindakan bergantung pada hubungannya dengan karakter pelaku. Contohnya dikatakan
moralitas aborsi, perzinaan, atau tindakan lain haruslah dievaluasi dengan melihat
karakter orang-orang yang melaksanakannya. Jika keputusan untuk melakukan tindakan
tersebut cenderung mengembangkan karakter mereka menjadi lebih bertanggung jawab,
lebih perhatian, lebih berpendirian, jujur, terbuka, dan bersedia berkorban, maka
tindakan-tindakan itu secara moral adalah benar. Namun jika keputusan untuk
melaksanakannya cenderung menjadikan seseorang lebih egois, tidak bertanggung
jawab, ceroboh dan mementingkan diri sendiri maka tindakan tersebut secara moral
adalah salah.

Teori kebaikan tidak hanya memberikan kriteria dalam mengevaluasi tindakan, namun
juga memberikan kriteria penting dalam mengevaluasi lembaga dan praktik-praktik
sosial kita. Misalnya dikatakan sejumlah lembaga ekonomi membuat orang-orang
menjadi serakah dan tindakan pemerintah memberi BLT membuat malas dan sengketa
dalam masyarakat. Argumen ini pada dasarnya merupakan evaluasi atas lembaga dan
praktik-praktik sosial dengan berdasarkan pada teori kebaikan.

Kebaikan dan Prinsip

Bila kita melihat sekilas berbagai macam disposisi yang dianggap sebagai kebaikan,
tampak tidak ada satu hubungan yang sederhana antara kebaikan dan moralitas yang
didasarkan pada prinsip. Sebagian kebaikan memungkinkan orang-orang melakukan apa
yang disyaratkan oleh prinsip moral. Etika kebaikan tidak menyarankan tindakan-
tindakan yang berbeda dan yang disarankan etika prinsip (misalnya prinsip utilitarian
menyarankan tindakan yang berbeda dari yang disarankan prinsip keadilan). Demikian
juga etika prinsip tidak menyarankan disposisi moral yang berbeda dengan etika
kebaikan. Sebaliknya teori kebaikan berbeda dengan etika prinsip dalam cara pendekatan
evaluasi moral. Teori kebaikan misalnya, menilai tindakan dalam kaitannya dengan
disposisi atau karakteristik yang berhubungan dengan tindakan tersebut, sementara etika
prinsip menilai disposisi dalam kaitanya dengan tindakan-tindakan yang berhubungan
dengan disposisi tersebut. Bagi etika prinsip, tindakan sebagai aspek utama sedangkan
pada etika kebaikan, disposisi adalah aspek utama.

Etika kebaikan bukanlah semacam prinsip kelima yang sejajar dengan prinsip-prinsip
utilitarian, hak, keadilan, dan perhatian. Sebaliknya etika kebaikan menambah dan
melengkapi prinsip utilitarian, hak, keadilan dan perhatian bukan dengan melihat pada
tindakan yang harus dilakukan oleh orang-orang, namun pada karakter yang harus
mereka miliki. Etika kebaikan menangani jangkauan permasalahan yang sama dengan
masalah-masalah yang berkaitan dengan motivasi dan perasaan yang sebagian besar
diabaikan oleh etika-etika prinsip.

2.7 Moralitas dalam Konteks Internasional


Antara negara yang satu dengan negara lain dapat dipastikan memiliki aturan, adat dan
kebiasaan yang berbeda-beda meskipun tidak beda sepenuhnya. Terlebih lagi, perbedaan itu
akan terasa antara negara maju dan negara berkembang. Ada pendapat yang menyatakan, saat
melakukan operasi di negara kurang berkembang, perusahaan-perusahaan multinasional dari
negara-negara maju, wajib mengikuti aturan-aturan di negara yang lebih maju, yang dalam hal
ini otomatis menerapkan standar yang lebih tinggi dan ketat. Namun klaim ini mengabaikan
fakta bahwa menerapkan praktik-praktik yang dilaksanakan di negara maju ke negara yang
kurang maju memungkinkan akan lebih merugikan dibandingkan menguntungkan sebuah
pelanggaran standar etika utilitarian. Dengan demikian, jelas bahwa kondisi-kondisi lokal,
khususnya kondisi perkembangan, setidaknya perlu dipertimbangkan saat memutuskan apakah
suatu perusahaan perlu menerapkan standar dari negara yang lebih maju ke negara yang kurang
maju, dan salah jika kita harus menerima klaim bahwa kita harus menerapkan standar yang
lebih tinggi dari negara maju dimanapun berada. Ada pendapat menyatakan lebih lanjut bahwa
perusahaan multinasional haruslah mengikuti praktik-prakti lokal, apapun itu, atau bahwa
mereka harus mengikuti aturan pemerintah lokal, karena pemerintahan tersebut adalah
representasi dari warga mereka. Namun demikian pendapat ini juga tidak sepenuhnya benar,
sehingga dalam penerapannya juga harus ada pertimbangan-pertimbangan lebih lanjut.